PROSES KOMUNIKASI PELAKSANAAN PROGRAM SATU
MILYAR SATU KECAMATAN PADA KEGIATAN
BEDAH RUMAH DI PROVINSI JAMBI
SITI KURNIASIH
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul “Proses Komunikasi Pelaksanaan Program Satu Milyar Satu Kecamatan pada Kegiatan Bedah Rumah di Provinsi Jambi” adalah benar karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulisan ini telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juli 2014
Siti Kurniasih
RINGKASAN
SITI KURNIASIH. Proses Komunikasi Program Satu Milyar Satu Kecamatan pada Kegiatan Bedah Rumah di Provinsi Jambi. Dibimbing oleh DJUARA P LUBIS dan BASITA GINTING SUGIHEN.
Program Samisake merupakan program pemerintah daerah dalam rangka percepatan dan pemerataan pembangunan di kabupaten atau kota dalam mengurangi angka kemiskinan, melalui dana transfer Samisake. Salah satu kegiatan Samisake adalah bedah rumah, tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat melalui peningkatan kualitas tempat tinggal, membantu masyarakat miskin mewujudkan rumah sehat sejahtera dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam Program Samisake di Provinsi Jambi sangat ditentukan oleh proses komunikasi yang terjadi dalam program tersebut. Penelitian ini menghasilkan (1) deskripsi proses komunikasi Program Samisake dari tingkat provinsi hingga tingkat desa, dan (2) analisis proses komunikasi Program Samisake di tingkat desa, meliputi a. analisis hubungan karakteristik individu, kredibilitas fasilitator dengan proses komunikasi pada program Samisake. b. analisis hubungan proses komunikasi dengan prasyarat partisipasi pada program Samisake. c. analisis hubungan proses komunikasi dan prasyarat komunikasi dengan partisipasi masyarakat dalam program Samisake.
Penelitian ini dilaksanakan di dua Kecamatan yakni Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung yang ditentukan secara sengaja (purposive) yaitu masyarakat yang menerima bedah rumah. Jumlah responden adalah 65 responden yang diperoleh dari 25 responden di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan 40 responden dari Kecamatan Jelutung secara sensus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi Samisake dari tingkat provinsi ke tingkat desa adalah mengadakan rapat koordinasi antara Bappeda dan Kecamatan yang dipimpin langsung oleh Gubernur. Rapat koordinasi tingkat Kecamatan menghadirkan perwakilan Desa. Proses komunikasi masih bersifat top down. Proses komunikasi melalui media massa digunakan seperti RRI Jambi, TVRI Jambi, SMS 24 Jam, Layanan Telefon, film dukomenter dan kios data.
Kredibilitas fasilitator, proses komunikasi, prasyarat partisipasi dan partisipasi di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung tergolong tinggi. Namun berbeda nyata antara Kecamatan maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung pada aspek karakteristik peserta bedah rumah, proses komunikasi, prasyarat partisipasi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan bedah rumah. Karakteristik peserta bedah rumah berhubungan nyata dengan proses komunikasi dan prasyarat partisipasi. Kredibilitas fasilitator berhubungan sangat nyata dengan proses komunikasi dan prasyarat partisipasi. Proses komunikasi berhubungan sangat nyata dengan prasyarat partisispasi.
SUMMARY
SITI KURNIASIH. Communication Process in the Implementation of One Million one district Program on house improvement Activity at Jambi Province. Supervised by DJUARA P LUBIS and BASITA GINTING SUGIHEN.
Samisake Program is a local government program for acceleration and development equity at District or City in order to reduce poverty, through Samisake funds transfer. One of Samisake program activities is house improvement. The goal of this activity is to improve the prosperity and through improving the housing quality, helping poor people to make healthy and well-being and increacing life quality of people homes. Public participation in Samisake Program in Jambi Province was determined by the communication process that occured in that program. The purposes of this study were (1) to describe the communication process in Samisake program of village level up to the provincial level, and (2) to analyze the communication process in Samisake program from village level, including a. analysis of house improvement participant characteristics, relationship credibility analysis of facilitator with communication process of Samisake program. b. relationship analysis of communication process with the participation requirements of Samisake program. c. relationship analysis of communication process and communication requirements with public participation in Samisake program.
This research was conducted in two districts, namely the Muaro Sebo Ulu district and Jelutung district, every person who accepted house improvement program. Total respondents were 65 people which was obtained from 25 respondents in Maro Sebo Ulu District and 40 respondents in Jelutung District.
The results showed that the communication process in Samisake program from province level to village level was conducted by holding meetings of coordination between Regional and District, that were led directly by the Governor. Coordination meeting in the district level was attended by village representative and the communication model was still ‘Top Down’. Communication process through mass media which was used such as RRI Jambi, TVRI Jambi, 24 hours SMS, Telephone Service, documenter movie and data kiosk. Credibility of facilitator, communication process, participation requirement and participation in Maro Sebo Ulut and Jelutung was high. However, significantly different between Maro Sebo Ulu and Jelutung on house improvement participants characteristics, communication processes, participation requirement and community participation in the house improvement implementation. House improvement participants characteristics significantly correlated with communication process and participation requirement. Credibility of facilitators really associated with communication process and participation requirements. Communication process really associated with participation requirements.
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya, pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB.
PROSES KOMUNIKASI PELAKSANAAN PROGRAM SATU
MILYAR SATU KECAMATAN PADA KEGIATAN
BEDAH RUMAH DI PROVINSI JAMBI
SITI KURNIASIH
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis: Proses Komunikasi Pelaksanaan Program Satu Milyar Satu Kecamatan pada Kegiatan Bedah Rumah di Provinsi Jambi
Nama : Siti Kurniasih NRP : I352114021
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Dr Ir Djuara P Lubis, MS Dr Ir Basita Ginting Sugihen, MA
Ketua Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana
Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan
Dr Ir Djuara P Lubis, MS Dr Ir Dahrul Syah, MscAgr
PRAKATA
Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa apa yang telah dilimpahkan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan penelitian ini dengan judul “Proses Komunikasi Pelaksanaan Program Satu Milyar Satu Kecamatan pada Kegiatan Bedah Rumah di Provinsi Jambi” yang mana penulisan ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih dan penghargaan penulis sampaikan kerpada Dr Ir Djuara Lubis, MS dan Dr Ir Basita Ginting Sugihen MA selaku komisi pembimbing atas segala arahan, saran, dan bimbingannya. Penulis sampaikan penghargaan kepada masyarakat penerima program Samisake dan aparatur daerah terkait yang bertanggungjawab pada kegiatan Samisake di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung, yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada suami tercinta Dediasnyah, SE, kedua orang tua dan kedua mertua atas doa dan dukungannya.
Semoga karya ini bermanfaat.
Bogor, Agustus 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xv
DAFTAR GAMBAR xvi
DAFTAR LAMPIRAN xvi
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 3
Tujuan Penelitian 3
Manfaat Penelitian 4
2 TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi Pembangunan 5
Konsep Komunikasi, Komunikasi Massa dan Komunikasi
Organisasi 6
Kredibilitas Fasilitator 8
Proses Komunikasi 10
Komunikasi Partisipatif 12
Program Samisake 15
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan 16
Karakteristik Peserta Bedah Rumah 18
Kerangka Pemikiran 20
Hipotesis 21
3 METODE PENELITIAN
Desain Penelitian 23
Lokasi dan Waktu Penelitian 23
Peserta bedah rumah Penelitian 23
Sumber Data Penelitian 24
Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data 24
Definisi Operasional 25
Uji Validitas dan Reliabilitas 28
Analisis Data 29
4 DESKRIPSI PELAKSANAAN DAN PROSES KOMUNIKASI KEGIATAN BEDAH RUMAH TINGKAT PROVINSI
Program Satu Milyar Satu Kecamatan 31
Bedah Rumah 33
Kinerja Program 36
5 DESKRIPSI KECAMATAN DAN PESERTA BEDAH RUMAH
Kondisi Geografis Lokasi Penelitian 43
Kependudukan 44
Karakteristik Peserta Bedah Rumah 44
Kredibilitas Fasilitator Kegiatan Bedah Rumah 49
6 PROSES KOMUNIKASI TINGKAT DESA
Proses Komunikasi 53
Hubungan Karakteristik Peserta Bedah Rumah dengan Proses
Komunikasi pada Kegiatan Bedah Rumah 56
Hubungan Kredibilitas Fasilitator dengan Proses Komunikasi
Kegiatan Bedah Rumah 58
7 PRASYARAT PARTISIPASI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT
Prasyarat Partisipasi 61
Hubungan Karakteristik Peserta Bedah Rumah dengan Prasyarat
Partisipasi pada Kegiatan Bedah Rumah 63
Hubungan Kredibilitas Fasilitator dengan Prasyarat Partisipasi
pada Kegiatan Bedah Rumah 64
Hubungan Proses Komunikasi dengan Prasyarat Partisipasi
pada Kegiatan Bedah Rumah 65
Partisipasi Masyarakat pada Kegiatan Bedah Rumah 66 Hubungan Proses Komunikasi dengan Partisipasi Masyarakat
pada Kegiatan Bedah Rumah 69
Hubungan Prasyarat Partisipasi dengan Partisipasi Masyarakat
pada Kegiatan Bedah Rumah 69
8 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan 71
Saran 71
DAFTAR PUSTAKA 73
LAMPIRAN 77
DAFTAR TABEL
1 Data instrumen dan teknik pengumpulan data 25
2 Nilai uji reabilitas instrumen penelitian 29
3 Jumlah kecamatan dan desa di Provinsi Jambi tahun 2011 32
4 Alokasi dana program Samisake tahun 2012 36
5 Realisasi kegiatan program Samisake Tahun 2012 37 6 Realisasi penyaluran dana program Samisake dan bedah rumah
Tahun 2012 37
7 Alokasi dana program Samisake Tahun 2013 38
8 Penyaluran dana transfer Samisake 2013 38
9 Kondisi geografis lokasi Kecamatan Maro Sebo Ulu dan
Kecamatan Jelutung tahun 2013 43
10 Jumlah penduduk Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan
Jelutung berdasarkan jenis kelamin tahun 2013 44 11 Distribusi peserta bedah rumah dan nilai koefisien uji t berdasarkan
karakteristik peserta bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan
Kecamatan Jelutung tahun 2013 45
12 Sebaran persentase peserta bedah rumah menurut penilaiannya terhadap kredibilitas fasilitator dan nilai koefisien uji t antara Kecamatan
Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung tahun 2013 49 13 Sebaran persentase peserta bedah rumah menurut penilaiannya terhadap
proses Komunikasi dan nilai koefisien uji t antara Kecamatan Maro
Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung tahun 2013 53
14 Nilai korelasi karakteristik peserta bedah rumah dengan proses
komunikasi pada kegiatan Bedah Rumah Tahun 2013 57 15 Nilai korelasi kredibilitas fasilitator dengan proses komunikasi pada
kegiatan bedah rumah tahun 2013 59
16 Sebaran persentase peserta bedah rumah menurut penilaiannya terhadap prasyarat partisipasi dan nilai koefisien uji t antara Kecamatan Maro
Ulu dan Kecamatan Jelutung tahun 2013 61
17 Nilai korelasi karakteristik peserta bedah rumah dengan prasyarat
partisipasi pada pada kegiatan bedah rumah tahun 2013 63 18 Nilai korelasi kredibilitas fasilitator dengan prasyarat partisipasi pada
kegiatan bedah rumah tahun 2013 64
19 Nilai korelasi proses komunikasi dengan prasyarat partisipasi pada
pada kegiatan bedah rumah tahun 2013 65
20 Dukungan bedah rumah dana CSR dan BAZDA Tahun 2013 66 21 Sebaran persentase peserta bedah rumah menurut penilaiannya terhadap
Partisipasi dan nilai koefisien uji t antara Kecamatan Maro Sebo Ulu
dan Kecamatan Jelutung tahun 2013 67
22 Nilai korelasi proses komunikasi dengan partisipasi masyarakat
pada pada kegiatan bedah rumah Tahun 2013 69
23 Nilai korelasi prasyarat partisipasi dengan partisipasi masyarakat
DAFTAR GAMBAR
1 Kerangka berfikir penelitian proses komunikasi pada pelaksanaan
kegiatan bedah rumah 21
2 Wawancara dengan beberapa pegawai di Kantor Bappeda 78 3 Rumah penduduk yang mendapat bantuan bedah rumah 78
4 Kios data Bappeda Provinsi Jambi 79
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Program Satu Milyar Satu Kecamatan (Samisake) merupakan kebijakan Pemerintah Provinsi Jambi berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2011-2015 yang dilatarbelakangi oleh terbatasnya sarana dan prasarana infrastruktur, belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam, belum berkembangnya agro industri dan belum meratanya pembangunan serta hasil-hasilnya. Pelaksanaan Program Samisake setiap tahunnya diserahkan kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berbeda, dalam pelaksanaan sesuai dengan jenis kegiatan. Sasaran peserta bedah rumah Samisake adalah kepala keluarga sangat miskin beserta anggota keluarganya sesuai dengan data base hasil verifikasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jambi.
Program Samisake meliputi kegiatan bedah rumah, sertifikat tanah gratis, beasiswa pendidikan mulai jenjang tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT), penguatan modal bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), bantuan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) dan kendaraan-kendaraan roda tiga untuk angkutan sampah di seluruh wilayah kabupaten dan kota se-Provinsi Jambi, program Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah Provinsi (Jamkesmasdaprov), pelatihan tenaga kerja, sambungan listrik, bantuan honorarium bagi 356 petugas Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), serta kegiatan prioritas lainnya dalam rangka meningkatkan sosial ekonomi masyarakat yang ada di Provinsi Jambi. Diharapkan melalui kegiatan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan menambah kesejahteraan masyarakat di Provinsi Jambi.
Secara umum pelaksanaan program Samisake berjalan berdasarkan tujuannya antara lain aman, bermutu, beragam serta tersebar merata ke masyarakat melalui alokasi dana transfer Samisake selama tiga tahun pelaksanaanya yaitu tahun 2011 dan 2013. Namun di lain sisi masih ada masalah di lapangan yang ditemui, misalnya rendahnya serapan anggaran Program Samisake pada tahun 2012 di beberapa kabupaten terutama rendahnya realisasi bedah rumah.
2
ditunjukkan oleh perluasan cakupan lokasi tanpa dibarengi dengan proses peningkatan kualitas perangkat pelaku program termasuk fasilitator. Pemahaman pelaku termasuk fasilitator terhadap konsep PNPM MPd menjadi kurang utuh sehingga implementasi program hanya dipahami sebatas penyebaran informasi proyek, dan bukan sebagai proses penyadaran masyarakat guna memecahkan masalah yang dihadapinya secara mandiri sehingga menjadikan program tidak berhasil membawa misi pemberdayaan. Artinya komunikasi partisipasi efektif di beberapa program pembangunan dan tidak efektif di beberapa program yang lain.
Permasalahan yang masih dimiliki oleh Provinsi Jambi adalah banyaknya penduduk yang tidak memiliki rumah yang layak huni, hal ini terjadi baik di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan. Pemerintah Provinsi Jambi dalam hal ini Gubernur melaksanakan kegiatan bedah rumah Samisake, untuk memperbaiki rumah-rumah penduduk yang tidak layak huni. Hal ini tentu saja untuk penduduk yang benar-benar memenuhi syarat mendapatkan bantuan bedah rumah Samisake. kegiatan bedah rumah sendiri melibatkab banyak pihak, sehingga terjadi proses komunikasi pada kegiatannya.
Proses-proses komunikasi Program Samisake dapat teramati dalam event
komunikasi di setiap kegiatan, khususnya kegiatan bedah rumah yang menjadi obyek kajian dalam penelitian ini. Proses komunikasi ini melibatkan peran fasilitator sebagai pemimpin sangat menentukan apakah partisipasi masyarakat berjalan dengan baik atau sebaliknya. Fasilitator merupakan komunikator yang dimiliki pemerintah sebagai penghubung terhadap masyarakat, dengan adanya kredibilitas fasilitator yang baik maka diharapkan mampu menciptakan proses-proses komunikasi dengan baik. Komunikasi dipandang sebagai hal penting dalam pelaksanaan bedah rumah yang melibatkan fasilitator sebagai penghubung Gubernur serta Bappeda dengan peserta bedah rumah.
Kegiatan bedah rumah mencakup seluruh kecamatan yang ada di Provinsi Jambi yaitu 113 kecamatan yang tersebar baik di kota maupun di daerah setiap kabupaten. Kecamatan Muaro Sebo Ulu yang berada di Kabupaten Batanghari dan Kecamatan Jelutung yang berada di Kota Jambi menjadi lokasi penelitian karena memiliki karakteristik lokasi yang berbeda, dimana penelitian ini membandingkan proses komunikasi dan pelaksanaan bedah rumah antara Kabupaten dan Kota.
3
Perumusan Masalah
Kegiatan bedah rumah di beberapa kabupaten di Provinsi Jambi masih rendah serapan anggarannya. Proses komunikasi partisipasi pada pelaksanaan kegiatan bedah rumah masih belum sepenuhnya melibatkan masyarakat dan pihak-pihak yang terkait, meski masih sedikit melibatkan peserta bedah rumah, ketua rukun tetangga, kepala desa dan pihak kecamatan selaku penanggungjawab kegiatan bedah rumah. Adanya partisipasi yang rendah dari masyarakat, kredibilitas fasilitator dan peran perangkat daerah maka kegiatan bedah rumah tidak berjalan sesuai dengan pedoman yang sudah ditetapkan.
Pelaksanaan kegiatan bedah rumah akan berjalan efektif apabila mendapat dukungan dari pendamping, masyarakat dan perangkat daerah mulai dari tingkat provinsi hingga tingkat desa yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang berkaitan dengan pengelolaan dan pelaksanaan kegiatan bedah rumah, mulai dari pengajuan peserta bedah rumah, pemenuhan syarat-syarat mendapatkan bantuan, mengadakan rapat, pelaksanaan kegiatan bedah rumah hingga evaluasi. Keberhasilan kegiatan bedah rumah bisa terukur dengan adanya hasil kesuaian pelaksanaan dan ketepatan sasaran program sesuai dengan pedoman pelaksana kegiatan bedah rumah serta adanya perubahan dari kehidupan masyarakat lebih baik yaitu peserta bedah rumah memiliki rumah yang layak huni.
Berdasarkan pemikiran di atas, masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana proses komunikasi pada program Samisake. Secara lebih rinci masalah penelitian tersebut sebagai berikut:
1. Bagaimana proses komunikasi yang terjadi pada kegiatan bedah rumah di tingkat provinsi?
2. Bagaimana proses komunikasi yang terjadi pada kegiatan bedah rumah di tingkat desa, meliputi:
a. Bagaimana hubungan karakteristik individu, kredibilitas fasilitator dengan proses komunikasi pada kegiatan bedah rumah?
b. Bagaimana hubungan proses komunikasi dengan prasyarat partisipasi pada kegiatan bedah rumah?
c. Bagaimana hubungan proses komunikasi dan prasyarat komunikasi dengan partisipasi masyarakat dalam kegiatan bedah rumah?
d. Bagaimana perbedaan pelaksanaan kegiatan bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian utama dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses komunikasi pada program Samisake. Secara lebih rinci tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Deskripsi proses komunikasi yang terjadi pada kegiatan bedah rumah di tingkat provinsi.
2. Analisis proses komunikasi yang terjadi pada kegiatan bedah rumah kegiatan bedah rumah di tingkat desa, yaitu :
4
b. Analisis hubungan proses komunikasi dengan prasyarat partisipasi pada kegiatan bedah rumah.
c. Analisis hubungan proses komunikasi dan prasyarat komunikasi dengan partisipasi masyarakat dalam kegiatan bedah rumah.
d. Analisis perbedaan pelaksanaan kegiatan bedah rumah di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung.
Manfaat Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Kegunaan Akademis
Memperkaya khasanah penelitian komunikasi dengan bidang kajian komunikasi pembangunan, kemudian hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu komunikasi pembangunan, khususnya proses komunikasi dan kepuasan masyarakat dalam bidang kajian komunikasi pembangunan.
2. Kegunaan Praktis
5
2
TINJAUAN PUSTAKA
Komunikasi Pembangunan
Pembangunan merupakan suatu proses, yang penekanannya pada keselarasan antara aspek kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah. Namun, dilihat dari segi ilmu komunikasi yang juga mempelajari masalah proses, pembangunan merupakan proses penyampaian pesan seseorang kepada orang lain untuk merubah sikap, pendapat dan prilaku. Sehingga pada dasarnya pembangunan tidak bisa terlepas dari tiga komponen dasar yaitu komunikator pembangunan dalam hal ini bisa aparat pemerintah ataupun masyarakat, pesan pembangunan atau program-program pembangunan dan komunikan pembangunan yaitu masyarakat luas baik penduduk desa atau penduduk kota yang menjadi sasaran pembangunan. Tujuan komunikasi pembangunan menurut Harun dan Ardianto (2011) adalah untuk memajukan pembangunan. Pembangunan diperlukan agar rakyat yang mempunyai kadar kenal huruf serta pendapatan yang rendah dan ciri sosio ekonomi yang berkaitan dengannya, mesti diberitahu tentang adanya teknologi dan ide-ide baru yang patut diterapkan oleh mereka.
Hal ini beriringan dengan pentingnya komunikasi pembangunan dalam pembangunan itu sendiri. Menurut McPhail (2009), “development communication is the process of intervening in a systematic or strategic manner with either media (print, radio, telephony, video, and the internet), or education (training, literacy, schooling) for the purpose of positive social change. The change could be economic, personal, as in spiritual, social, cultural, or political. Maka dari itu dalam komunikasi pembangunan membutuhkan strategi komunikasi agar tujuan pembangunan bisa tercapai sesuai yang diharapkan.
Peran komunikasi dalam perubahan masyarakat adalah sebagai penggugah, pengarah, dan pengendali perubahan agar perubahan tersebut tetap bermanfaat dan berlangsung secara teratur (Dilla, 2007). Perubahan yang akan terjadi membutuhkan strategi jitu guna mencapai tujuan pembangunan. Strategi pembangunan menentukan strategi komunikasi, maka makna komunikasi pembangunan pun bergantung pada modal atau paradigma pembangunan yang telah dipilih. Pembangunan adalah rangka pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat harus bersifat pragmatik yaitu suatu pola yang membangkitkan inovasi bagi masa kini dan yang akan datang. Hal ini tentunya fungsi komunikasi harus berada di garis depan untuk merubah sikap dan perilaku manusia sebagai pemeran utama pembangunan, baik sebagai subyek maupun sebagai objek pembangunan (Sitompul, 2002). Pengertian ini diperkuat oleh Effendy (2009) yang menyatakan bahwa strategi komunikasi bersifat makro yang dalam prosesnya berlangsung secara vertikal piramida.
6
bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, dalam arti bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda tergantung pada situasi dan kondisi.
Pelaksanaan Program Samisake melibatkan berbagai perangkat daerah mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan maupun tingkat desa. Sehingga dalam proses penyampain pesan pembangunan pun melibatkan komunikator pembangunan dalam hal ini perangkat daerah, Program Samisake sebagai program pembangunan yang telah dicanangkan pemerintah Provinsi Jambi dan komunikan pembangunan dalam hal ini merupakan sasaran peserta bedah rumah Samisake dengan kriteria kepala keluarga (KK) sangat miskin beserta anggota keluarganya sesuai dengan data base hasil verifikasi Bappeda Provinsi Jambi tahun 2011 serta KK di luar data base namun mengacu pada data Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2011 untuk kriteria penduduk sangat miskin (Bappeda Provinsi Jambi, 2012).
Konsep Komunikasi, Komunikasi Massa dan Komunikasi Organisasi
Komunikasi adalah bentuk hubungan yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja (Tubbs dan Moss, 2000). Menurut Effendy (2003) komunikasi merupakan proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan agar komunikan bersedia menerima suatu paham atau keyakinan sehingga mau melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan lain-lain. Sebagai sebuah proses, komunikasi bersifat kontinu, berkesinambungan dan tidak memiliki akhir. Komunikasi juga dinamis, kompleks dan senantiasa berubah (West dan Turner, 2010). Pawito dan Sardjono (1994) mencoba mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dengan mana suatu pesan dipindahkan atau dioperkan (lewat suatu saluran) dari suatu sumber kepada penerima dengan maksud mengubah perilaku, perubahan dalam pengetahuan, sikap dan atau perilaku overt lainnya. Sekurang-kurangnya didapati empat unsur utama dalam model komunikasi yaitu sumber (the source), pesan (the message), saluran (the channel) dan penerima (the receiver).
7
dalam konseptualisasi kedua ini umpan balik, yakni apa yang disampaikan penerima pesan kepada sumber pesan.
Komunikasi massa. Komunikasi massa tidak lebih dari sekedar proses perluasan tingkat kedua dari komunikasi interpersonal, karena yang membangun pesan-pesan untuk saluran dengan khalayak banyak, didukung oleh organisasi tertentu yang mengumpulkan informasi-informasi, membantu dalam proses informasi tersebut sampai ke pengirim, dan berpartisipasi dalam pemelihan materi yang akan dikomunikasikan dengan publik. Menurut Soekartawi (2005) media massa yaitu komunikasi melalui media massa seperti koran, majalah, radio, televisi dan film. Media umum adalah komunikasi yang isi pesan dikomunikasikan kepada semua pihak, secara bebas, umum dan tidak rahasia, hanya saja sifatnya tidak massal. Dengan demikian semua anggota masyarakat dapat memperoleh pesan tersebut dengan porsi yang sama dengan anggota masyarakat yang lain.
Menurut Effendy (2009) para komunikator yang berada di puncak kelembagaan menggunakan media, baik media massa maupun media nirmassa melalui jejaring hierarki menurun ke bawah dalam menyampaikan informasi apapun yang dapat diterima oleh masyarakat.
Komunikasi Organisasi. Komunikasi organisasi merupakan perilaku pengorganisasian yang terjadi dan bagaimana mereka yang terlibat dalam proses itu bertransaksi dan memberi makna atas apa yang terjadi (Wayne dan Faules 2010). Menurut Muhammad (2009) menyatakan meskipun bermacam-macam persepsi dari para ahli mengenai komunikasi organisasi tetapi terdapat beberapa hal yang umum yang disimpulkan sebagai berikut: (1) Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu sistem terbuka yang kompleks yang dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri baik internal maupun eksternal; (2) Komunikasi organisasi meliputi pesan dan arusnya, tujuan, arah dan media, dan (3) Komunikasi organisasi meliputi orang dan sikapnya, perasaannya, hubungannya, dan keterampilan.
Menurut Masmuh (2008) dalam komunikasi organisasi terdapat tiga arah komunikasi organisasi yaitu komunikasi ke atas, komunikasi ke bawah dan komunikasi lateral. Komunikasi ke atas merupakan pesan yang dikirim dari tingkat hierarki yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Misalnya para pelaksana ke manajernya. Jenis komunikasi ini biasanya mencakup (1) kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan, (2) masalah yang berkaitan dengan pekerjaan dan pertanyaan yang belum terjawab, (3) berbagai gagasan untuk perubahan dan saran-saran perbaikan, dan (4) perasaan yang berkaitan dengan pekerjaan mengenai organisasi, pekerjaan itu sendiri, pekerja lainnya, dan masalah lain yang serupa.
8
distorsi karena keterbatasan daya tangkap dari bawahan, dan (4) Timing atau ketepatan waktu penyampaian pesan dari atasan ke bawahan akan sangat menentukan efektivitas pelaksanaan tugas dalam organisasi.
Komunikasi lateral adalah pesan antara sesame manajer ke manajer, karyawan ke karyawan. Pesan semacam ini bisa bergerak di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antar bagian. Komunikasi lateral merupakan komunikasi yang terjadi antara dua dosen sejarah di perguruan tinggi yang sama. Juga bisa merupakan komunikasi antara dua dosen psikologi di dua universitas yang berbeda. Wayne dan Faules (2010) menyebutkan komunikasi lateral sebagai komunikasi horisontal. Disebutkan bahwa komunikasi horisontal muncul paling sedikit karena enam alasan sebagai berikut: (1) Untuk mengkoordinasikan penugasan kerja, (2) Berbagi informasi mengenai rencana dan kegiatan, (3) Untuk memecahkan masalah, (4) Untuk memperoleh pemahaman bersama, (5) Untuk mendamaikan, berunding, dan menengahi perbedaan, dan (6) Untuk menumbuhkan dukungan antarpersonal.
Kredibilitas Fasilitator
Menurut pendapat Rakhmat (2004) kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikasi tentang sifat-sifat komunikator. Terdapat dua hal dalam definisi tersebut yaitu kredibilitas adalah persepsi komunikasi, jadi tidak inheren dalam diri komunikator dan kredibilitas adalah berkenaan dengan sifat-sifat komunikator yang selanjutnya akan kita sebut sebagai komponen-komponen kredibilitas, sehingga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk dapat dipercaya atas pertanyaan, sikap atau menjadi sumber dan kemampuan untuk menelaah sikap-sikap. Sedangkan Susanto (2004) berpendapat bahwa kredibilitas adalah dugaan orang akan tidak atau kurang adanya kepentingan akan hal yang disebut sepintas lalu, membuat orang lebih yakin akan kesungguhan dan kemurnian pernyataannya, hal ini selanjutnya akan memperlihatkan apakah ada peningkatan atau penurunan nilai kepercayaan yang dinyatakannya.
Teori kredibilitas fasilitator (komunikator) menurut Hovland dan Weiss (dalam Hamidi 2007) menunjukkan adanya keahlian (expertise) dan dapat dipercaya (trustworthness), dua hal ini menimbulkan kredibilitas fasilitator sehingga menciptakan iklim efektivitas komunikasi.
1. Keahlian
Diartikan sebagai kemahiran di suatu ilmu dan bidang pekerjaan. Setiap individu harus memiliki modal dasar dalam menjalani pekerjaannya berupa ilmu, informasi, kemampuan kerja, penguasaan terhadap bidangnya sehingga ia dapat melaksanakan tugas yang diberikan dengan baik dan dianggap cakap dan profesional oleh atasan, klien, lingkungan kerja dan masyarakat. Anggapan tersebut merupakan ukuran suatu keahlian.
2. Dapat dipercaya
9
Kedua faktor tersebut saling terkait dengan membangun persepsi kredibel sehingga dapat diartikan bahwa sejauh mana komunikator memiliki keahlian dan sifat dapat dipercaya sehingga ia dapat dikatakan kredibel.
Komunikasi akan efektif bila komunikan mengalami proses internalisasi, jika komunikan menerima pesan yang sesuai dengan sistem nilai yang di anut. Komunikan merasa memperoleh sesuatu yang bermanfaat jika pesan yang disampaikan memiliki rasionalitas yang dapat diterima. Hamidi (2007) menyatakan, identifikasi terjadi pada diri komunikan, jika komunikan merasa puas dengan meniru atau mengambil pikiran atau perilaku dari orang atau kelompok lain (komunikator) dan jika komunikator memiliki daya tarik (attractiveness).
Ketaatan pada diri komunikan akan terjadi, jika komunikan yakin akan mengalami kepuasan, mengalami reaksi yang menyenangkan, memperoleh reward dan terhindar dari punishment dari komunikator jika menerima atau menggunakan isi pesannya. Kredibilitas diartikan sebagai suatu tingkat sampai sejauh mana sumber pesan dapat dipercaya oleh penerima. Tingkat kepercayaan ini penting karena pada kenyataannya orang terlebih dahulu akan memperhatikan siapa yang membawa pesan, sebelum ia mau menerima pesan yang dibawanya. Apabila kredibilitas sumber rendah, maka bagaimanapun baiknya pesan yang disampaikan, penerima tidak akan menerimanya. DeVito (1997) memahami kredibilitas komunikator sebagai hal penting untuk menjadikan orang lain (komunikan) percaya atau tidak percaya terhadap apa yang disampaikan komunikator.
Kredibilitas penting bagi fasilitator karena akan mempengaruhi anggota komunitas untuk menjalankan program-program pemberdayaan. Tidak ada situasi komunikasi dimana kredibilitas tidak mempunyai pengaruh atau efek bagi komunikan. Lebih lanjut DeVito (1997) mengidentifikasi tiga aspek kualitas utama dari kredibilitas. (1) Kompetensi, mengacu pada pengetahuan dan kepakaran yang menurut khalayak dimiliki oleh komunikator; (2) Karakter, mengacu pada i’tikad dan perhatian komunikator kepada khalayak dan (3) Karisma, mengacu pada kepribadian dan kedinamisan komunikator. Belch dan Belch (2001) mengatakan bahwa seorang komunikator atau sumber yang kredibel sangat penting bila audien memiliki sikap yang negatif terhadap produk, jasa, perusahaan atau isu yang tengah diangkat. Hal ini dikarenakan komunikator atau sumber yang kredibel dapat menghambat konter argumen dari audien.
1. Keahlian
Seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman disebut sebagai orang yang memiliki keahlian. Menurut Belch dan Belch (2001), keahlian adalah tingkatan dimana seorang komunikator dipersepsikan sebagai orang yang dapat memberikan penilaian yang benar dan tegas.
2. Kejujuran
10
3. Daya tarik
Daya tarik buka dilihat dari kecantikan fisik saja melainkan juga berbagai sifat dan karakter yang dimiliki oleh endorser, misalnya kemampuan intelektual, kepribadian, gaya hidup dan sebagainya. Seorang endorser
memiliki nilai tambah berupa kekaguman dari banyak orang. Penampilan seseorang dalam berkomunikasi akan mempengaruhi proses komunikasi yang dilakukannya. Kaitan dengan kredibilitas sumber pesan, pengaruh penampilan terutama pada kontak pertama antara sumber dan penerima pesan.
4. Keakraban
Aspek ini merujuk pada pengetahuan tentang sumber yang dimiliki audien melalui terpaan media massa. Keakraban sering diabaikan oleh institusi karena mereka lebih memperhatikan aspek kesamaan dan daya tarik sumber (Belch dan Belch, 2001).
Menurut Aristoteles (yang dikutip oleh Hamidi 2007) komunikator yang efektif memiliki karakter :
1. Good Sense (Pikiran yang baik)
Seorang komunikator harus memiliki daya pikir yang baik guna menunjang ketepatan dalam pengambilan keputusan atau langkah kerja. Sikap-sikap yang berkiatan dengan good sense meliputi bertindak rasional, bertindak cepat dan wawasan yang luas di bidangnya.
2. Good Moral Character (Akhlak yang baik)
Akhlak dapat digambarkan sebagai sikap, sifat, perilaku dan karakter. Akhlak yang baik adalah segala sikap, sifat, perilaku dan karakter yang bernilai positif. Ilmu komunikasi menerapkan konsep yang cukup penting. Perilaku yang baik dapat diwujudkan dalam empati, simpati, dapat dipercaya, memiliki keahlian dalam bidangnya dan jujur.
3. Good Will (Maksud yang baik)
Maksud yang baik dalam artian memberikan solusi yang baik yang berguna bagi kedua belah pihak sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.
Berdasarkan hasil penelitian Susanty (2013) menyatakan bahwa kejujuran fasilitator tidak berhubungan nyata dengan komunikasi partisipatif, sedangkan keahlian dan daya tarik berhubungan nyata dengan arah komunikasi, serta keakraban fasilitator berhubungan nyata dengan dengan saluran komunikasi dan partisipasi. Sejalan dengan pernyataan Effendy (2009) bahwa orang yang menyampaikan pesan yaitu komunikator ikut menentukan berhasilnya komunikasi, hal ini berhubungan dengan faktor source credibility komunikator memegang peranan yang sangat penting.
Proses Komunikasi
11
bagaimana melakukan komunikasi tersebut, sehingga kita akan melihat bagaimana orang memperlakukan pesan-pesan yang mereka komunikasikan (Berlo, 1960).
Formula Lasswell ini sangat populer dan banyak digunakan dalam riset-riset komunikasi, dan jawaban dari pertanyaan paradigmatik Lasswell tersebut menurut Effendy (2003) merupakan unsur-unsur dalam proses komunikasi, yaitu
Communicator (komunikator), message (pesan), media (media), receiver
(komunikan/penerima) dan effect (efek). Penelitian ini mengutamakan proses komunikasi dengan tiga unsur pendukunganya, yang meliputi :
1. Frekuensi
Berkaitan dengan dinamika receiver dalam mendapatkan informasi (pesan komunikasi), menurut Roger dan Shoemaker (1971), kecenderungan individu menginterpretasikan pesan menurut kebutuhan dan lain-lain, diantaranya sangat dipengaruhi oleh kontak interpersonal dan kekosmopolitan individu yang bersangkutan. Penelitian ini akan melihat sejauh mana dinamika proses komunikasi pada pelaksanaan Program Samisake melakukan kontak interpesonal atau frekuensi komunikasi mereka dalam menerima informasi yang berkaitan dengan Program Samisake dengan berbagai pihak. 2. Arah Komunikasi
Arah komunikasi yang terjadi dalam organisasi ada tiga jenis, yaitu: komunikasi vertikal adalah arah arus komunikasi yang terjadi dari atas ke bawah (downward communication) dan berlangsung di antara orang-orang yang berada pada tatanan manajemen atau atasan yang menyampaikan pesan dari atasan ke bawahan. Upward communication adalah arah komunikasi yang terjadi dari bawahan ke atasan yang mempunyai beberapa fungsi diantaranya penyampaian informasi mengenai pekerjaan yang sudah dilaksanakan dan penyampaian saran-saran perbaikan. Komunikasi horizontal adalah arah komunikasi yang terjadi secara mendatar atau sejajar di antara para pekerja dalam suatu unit dimana terjadi pertukaran informasi antara orang-orang yang memiliki hubungan dekat dalam unit kerja yang sama.
Cross channel communication adalah komunikasi yang terjadi di dalam sebuah organisasi di antara seseorang dengan orang lain yang satu sama lain berbeda dalam kedudukan dan bagian.
3. Isi Pesan
12
Komunikasi Partisipatif
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan menurut Slamet (2003) adalah ikut sertanya masyarakat dalam perencanaan pembangunan, ikut serta dalam kegiatan-kegiatan pembangunan, ikut serta memanfaatkan dan menikmati hasil-hasil pembangunan. Secara rinci Slamet (2003) mengklasifikasikan macam-macam partisipasi dalam pembangunan dibagi menjadi lima, diantaranya adalah :
1. Ikut memberi input proses pembangunan, menerima imbalan atas input tersebut dan ikut menikmati hasilnya.
2. Ikut memberi input dan menikmati hasilnya.
3. Ikut memberi input dan menerima imbalan tanpa ikut menikmati hasil pembangunan secara langsung.
4. Menikmati atau memanfaatkan hasil pembangunan tanpa ikut memberi input. 5. Memberi input tanpa menerima imbalan dan tidak menikmati hasilnya.
Sedangkan menurut Sumodiningrat (2000) menyatakan bahwa partisipasi adalah kemauan rakyat untuk mendukung secara mutlak program atau proyek pemerintah yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh pemerintah. Sebelum membahas kesempatan berpartisipasi terlebih dahulu dilihat beberapa definisi partisipasi menurut Gaventa dan Valderrama (2001) mengatakan bahwa definisi partisipasi dalam pembangunan sering ditemukan dalam proyek dan program pembangunan, sebagai sarana penguatan relevansi, kualitas serta kesinambungannya. Pembangunan akan berjalan dengan baik jika adanya keterlibatan masyarakat sebagai obyek pembangunan maupun sebagai subyek
pembangunan. Slamet (2003) dalam bukunya yang berjudul “ Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan” dikatakan bahwa setelah menyadari betapa
pentingnya partisipasi, maka perlu kita memikirkan lebih lanjut syarat-syarat yang diperlukan agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembangunan. Adapun syarat-syarat tersebut digolongkan sebagai berikut: (1) adanya kesempatan untuk membangun, (2) adanya kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan, dan (3) adanya kemauan untuk berpartisipasi.
Pendapat yang lebih luas dikemukakan oleh Davis dalam Huneryager
(1992) yang memberikan definisi partisipasi sebagai berikut: ”Participation is defined as an individuals mental and emotional involvement in a group situation that encourrager him to contribute to group goals and to share responsibility for
them”. Definisi ini mengemukakan tiga hal pokok yang menjadi perhatian partisipasi, yakni: (1) titik berat keterlibatan partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional, ini berarti bahwa kehadiran secara fisik semata-mata di dalam suatu kelompok, tanpa keterlibatan mental dan emosional bukanlah partisipasi, (2) sumbangan yang diberikan demi tercapainya tujuan kelompok itu sangat beragam, (3) kesediaan untuk bertanggung jawab diantara sesama anggota kelompok tersebut terbangkitkan. Menurut Uphoff (1979) mendefinisikan empat jenis, dimulai dari partisipasi dalam pembuatan keputusan, partisipasi dalam penerapan keputusan, partisipasi dalam pencapaian hasil, serta yang perlu ditambahkan partisipasi dalam evaluasi.
13
kredit), tersedianya sarana dan prasarana, terbukanya lapangan kerja pembangunan dan lain sebagainya. Kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang terbuka adalah pengertian, pengetahuan, keterampilan, sikap mental yang menunjang dan kesehatan tubuh yang memadai. Kecuali sumberdaya alam, kesempatan-kesempatan yang lain tentunya harus dapat diusahakan oleh pengelola-pengelola pembangunan untuk diadakan, dibuka, disediakan atau dikembangkan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang merasa memerlukannya. Kemampuan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, keterampilan dan juga sikap mental. Pengetahuan dan pengertian tentang pembangunan sesuatu sampai pada seluk beluk pelaksanaannya sangat perlu bagi masyarakat sehingga mereka dapat cepat tanggap terhadap kesempatan yang ada. Pengetahuan tentang adanya potensi dilingkungannya yang dapat dikembangkan atau dibangun sangat penting artinya. Pengetahuan dan keterampilan tentang teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sumber daya alam yang ada untuk dipadukan dengan berbagai sarana produksi lain sangat penting bagi keberhasilan masyarakat yang membangun.
Kesempatan berpartisipasi dalam Program Samisake pada kegiatan bedah rumah dan sertifikat tanah gratis meliputi partisipasi pada tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Hal ini diperlukan diduga agar sasaran program bisa tepat serta tingkat kepuasan masyarakat terhadap program tersebut bisa tinggi.
Menurut Slamet (2003) ada tiga faktor yang berhubungan atau mendukung partisipasi yaitu : (1) kemauan, (2) kemampuan dan (3) kesempatan. Keberadaan kemauan, kemampuan dan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan dipengaruhi oleh berbagai faktor seputar kehidupan manusia yang saling berinteraksi satu dengan yang lain, terutama faktor-faktor psikologis individu (needs, harapan, motif, reward), terpaan informasi, pendidikan (formal dan nonformal), keterampilan, kondisi permodalan yang dimiliki, teknologi (sarana dan prasarana), kelembagaan (formal dan informal), kepemimpinan (formal dan informal), dan struktur dan stratifikasi sosial, budaya lokal (norma, tradisi dan adat istiadat serta pengaturan dan pelayanan pemerintah.
Pada pelaksanaan Program Samisake, kelembagaan formal dipegang oleh Bappeda selaku penanggungjawab Program atas nama Gubernur Jambi, kemudian beberapa lembaga pemerintahan tingkat kabupaten, kecamatan dan desa. Secara praktik yang sudah dilakukan diberbagai kegiatan Samisake, kepemimpinan bersifat formal dan terstuktur dan memiliki hierarki organisasi (Lampiran 2). Pada hierarki tersebut terlihat bahwa Gubernur sebagai pucuk pimpinan tertinggi memegang kendali meski dengan bantuan Bappeda sebagai penanggungjawab.
1. Kemauan Partisipasi
Faktor partisipasi bersumber pada faktor psikologis individu yang menyangkut emosi dan perasaan yang melekat pada diri manusia. Faktor-faktor yang menyangkut emosi dan perasaan ini sangat kompleks sifatnya, sulit diamati, dan diketahui dengan pasti, dan tidak mudah dikomunikasikan akan tetapi selalu ada pada setiap individu dan merupakan motor penggerak perilaku manusia.
14
psikologis kemauan berpartisipasi muncul oleh adanya motif instrinsik (dari dalam sendiri) maupun ekstrinsik (karena rangsangan, dorongan atau tekanan dari pihak luar). Tumbuh dan berkembangnya kemauan berpartisipasi sedikitnya diperlukan sikap-sikap sebagai berikut (1) sikap untuk meninggalkan nilai-nilai yang menghambat pembangunan, (2) sikap terhadap penguasa atau pelaksana pembangunan pada umumnya, (3) sikap kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah, dan tercapainya tujuan pembangunan dan (4) sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki mutu hidupnya.
2. Kemampuan Partisipasi
Tingkat kemampuan partisipasi masyarakat tergantung pada banyak faktor, utamanya faktor pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal, keterampilan, dan pengalaman. Kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan harus didahului oleh proses belajar untuk memperoleh dan memahami informasi, kemudian memproses menjadi pengetahuan tentang adanya kesempatan-kesempatan bagi dirinya, melatih dirinya agar mampu berbuat dan termotivasi agar benar-benar bertindak. Kemampuan yang dituntut untuk berpartisipasi dengan baik antara lain adalah (1) kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, (2) kemampaun untuk memahami kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia dan (3) kemampuan untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan serta sumber daya lain yang dimiliki. 3. Kesempatan Partisipasi
Kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi, terutama faktor ketersediaan sarana dan prasarana fisik yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pembangunan, kelembagaan yang mengatur interaksi warga dalam proses pembangunan, birokrasi yang mengatur rambu-rambu serta menyediakan kemudahan-kemudahan dan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan, serta faktor sosial budaya masyarakat yang akan sangat menentukan corak perilaku masyarakat dalam proses pembangunan. Menurut Slamet (2003) menyatakan bahwa partisipasi rakyat dalam pembangunan bukan hanya berarti pengerahan tenaga kerja rakyat secara sukarela, tetapi justru yang lebih penting adalah tergeraknya rakyat untuk mau memanfaatkan kesempatan memperbaiki kualitas hidup sendiri. Kesempatan untuk berpartisipasi ini sangat dipengaruhi oleh : (1) kesempatan memperoleh informasi, (2) kesempatan untuk memobilisasi dan menggunakan tekhnologi tepat guna, (3) kesempatan untuk berorganisasi, termasuk memperoleh dan mempergunakan peraturan, perizinan dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan. Kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan, menggerakkan dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
15
kelompok secara potensial akan dipengaruhi program pembangunan harus diberikan hal untuk berpartisipasi secara penuh dalam membuat keputusan, 2) harus menjamin terwujudnya kerjasama timbal balik pada seluruh tingkatan partisipasi, 3) harus mampu menempatkan semua pihak sebagai partisipan yang setara sehingga tidak ada dominasi dalam arus informasi dari salah satu pihak, 4) keputusan-keputusan dihasilkan secara demokratis melalui proses interaksi secara terus-menerus sehingga komitmen bersama dapat dipertahankan, dan 5) harus mampu membuka akses dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan semua media komunikasi yang tersedia.
Program Samisake
Program Samisake merupakan program pemerintah daerah dalam rangka percepatan dan pemerataan pembangunan di kabupaten atau kota dalam mengurangi angka kemiskinan, melalui alokasi dana transfer untuk kabupaten atau kota. Dasar pemikiran Program Samisake yaitu mendorong pemerataan pembangunan maupun hasil-hasilnya, mendorong percepatan pembangunan infrastruktur baik pembangunan jalan dan jembatan yang mampu memperpendek jarak dari daerah produksi ke daerah pusat-pusat distribusi serta pembangunan jaringan listrik, irigasi dan air bersih, memajukan pendidikan sebagai modal dasar dalam pembangunan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta meningkatkan kapasitas sumber daya aparatur.
Bappeda Provinsi Jambi ditunjukkan sebagai koordinator pelaksanaan Samisake, bersama dengan pemangku kepentingan yaitu Dinas/Bandan/lembaga Pemerintah kabupaten/kota yang mempunyai tugas pokok dan fungsi berkaitan pengelolaan Samisake. Dana transfer adalah dana bantuan keuangan yang bersifat khusus dari provinsi. Penganggaran dan pelaksanaan kegiatan Samisake mengacu pada peraturan perundang-undangan yang pelaksanaannya tetap pada SKPD kecamatan.
Tahapan RPJMD berproses melalui empat tahapan sesuai dengan tingkat atau kondisi sosial ekonomi masyarakat yang telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah (Perda) nomor 6 tahun 2009 tentang RPJP 2005-2025. RPJMD tahap pertama untuk alokasi tahun 2005-2010 yaitu peningkatan daya saing ekonomi, kemampuan dan pemerataan pembangunan, kesejahteraan dan kehidupan masyarakat yang berkualitas, serta pembangunan hukum dan tata pemerintahan yang baik. RPJMD tahap kedua untuk alokasi tahun 2011-2015 dengan indikator peningkatan kualitas pelayanan dasar, pertumbuhan ekonomi, serta kualitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. RPJMD tahap ketiga untuk alokasi tahun 2016-2020 dengan indikator pencapaian daya saing wilayah dan ekonomi rakyat, terwujudnya insfrastruktur yang berkualitas, serta perkembangan penerapan. RPJMD tahap keempat untuk alokasi tahun 2021-2025 dengan indikator terbangunnya struktur kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat Jambi yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah, peningkatan kualitas kelembagaan pemerintah, serta penguatan sektor industri.
Kriteria kecamatan penerima Samisake antara lain tersediannya data pendukung yang akurat, program atau kegiatan yang diusulkan mempunyai
16
masyarakat, program yang diusulkan, sesuai dengan potensi yang dimiliki daerah tersebut, serta hasil atau output dari program dapat dipertanggungjawabkan. Kecamatan yang telah terpilih dalam Program Samisake kemudian dipilih keluarga miskin penerima Samisake dengan kriteria antara lain kepala keluarga sangat miskin beserta anggota keluarganya sesuai dengan data base hasil verifikasi Bappeda Provinsi Jambi tahun 2011, di luar data base hasil verifikasi Bappeda akan mengacu pada data Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2011 untuk kriteria penduduk sangat miskin, dengan ketentuan apabila semua KK sangat miskin hasil verifikasi Bappeda telah terakomodir (Bappeda, 2012).
Program Samisake meliputi kegiatan bedah rumah, sertifikat tanah gratis, beasiswa pendidikan mulai jenjang tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT), penguatan modal bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), bantuan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) dan kendaraan-kendaraan roda tiga untuk angkutan sampah di seluruh wilayah kabupaten dan kota se-Provinsi Jambi, program Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah Provinsi (Jamkesmasdaprov), pelatihan tenaga kerja, sambungan listrik, bantuan honorarium bagi 356 petugas PPL (Petugas Penyuluh Lapangan), serta kegiatan prioritas lainnya dalam rangka meningkatkan sosial ekonomi masyarakat yang ada di Provinsi Jambi. Diharapkan melalui kegiatan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan menambah kesejahteraan masyarakat di Provinsi Jambi.
Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan
Pembangunan merupakan suatu proses perubahan sosial dengan partisipatori yang luas dalam suatu masyarakat yang dimaksudkan untuk kemajuan sosial dan material (termasuk bertambah besarnya keadilan, kebebasan dan kualitas lainnya yang dihargai) untuk mayoritas rakyat melalui kontrol yang lebih besar yang mereka peroleh terhadap lingkungan mereka (Rogers, 1983) Dalam pembangunan, kepedulian dominan pada partisipasi telah dikaitkan dengan sektor
”masyarakat” atau sosial. Sebuah kajian yang sangat berpengaruh pada akhir
tahun 1970-an, mendefinisikan partisipasi sebagai ”upaya terorganisasi untuk meningkatkan pengawasan terhadap sumberdaya dan lembaga pengatur dalam keadaan sosial tertentu, oleh berbagai kelompok dan gerakan yang sampai sekarang dikesampingkan dari fungsi pengawasan semacam itu” (Stiefel dan Wolfe, 1994 dalam Gaventa dan Valderrama, 2001).
Gaventa dan Valderrama (2001) mengatakan bahwa belakangan ini, definisi partisipasi dalam pembangunan sering ditemukaan dalam proyek dan program pembangunan, sebagai sarana penguatan relevansi, kualitas serta kesinambungan. Dalam sebuah pernyataan yang berpengaruh, kelompok kajian Bank Dunia
mengenai partisipasi mendefinisikan ”partisipasi sebagai proses dimana pemilik
17
dipandang tidak terkait pada masalah-masalah politik atau pemerintahan yang lebih luas, namun sebagai cara untuk mendorong tindakan di luar lingkup pemerintah. Lagi pula, fokusnya lebih pada partisipasi langsung para pemilik kepentingan utama, dan bukan pada partisipasi tak langsung melalui para wakil yang dipilih.
Aktivitas pembangunan selalu menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Yusri (1993) mengemukakan keberhasilan aparatur pemerintah dalam menghidupkan partisipasi masyarakat akan ditentukan oleh nilai efektivitas kepemimpinan aparatur pemerintah tersebut. Makin tinggi nilai efektivitasnya, akan besar pula peranannya dalam pembangunan. Hal ini dapat ditafsirkan, bahwa aparatur pemerintah/kepala desa dapat memikirkan peranannya yang lebih besar dalam melaksanakan program pembangunan yang sudah mendapat simpati masyarakatnya dengan melekatkan simpati mereka. Kemampuan yang tinggi akan tercapai efektivitas yang tinggi pula. Kebijaksanaan dan kemampuan serta keterampilan kepala desa menjadi pokok masalah dalam hubungan kerja sama dalam pembangunan yang menjadi kunci keberhasilan dalam menghidupkan partisipasi masyarakat, sebab efektivitas itu suatu bentuk perpaduan nilai.
Konteks yang sangat luas pengertian partisipasi dapat diacu dari pendapat Davis dalam Huneryager (1992) yang memberikan definisi partisipasi sebagai
berikut: ”Participation is defined as an individuals mental and emotional involvement in a group situation that encourrager him to contribute to group
goals and to share responsibility for them”. Definisi ini mengemukakan tiga hal pokok yang menjadi perhatian partisipasi, yakni: (1) titik berat keterlibatan partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional, ini berarti bahwa kehadiran secara fisik semata-mata di dalam suatu kelompok, tanpa keterlibatan mental dan emosional bukanlah partisipasi, (2) sumbangan yang diberikan demi tercapainya tujuan kelompok itu sangat beragam, (3) kesediaan untuk bertanggung jawab diantara sesama anggota kelompok tersebut terbangkitkan. Gaffar (1986) menyatakan hakekat partisipasi adalah kemandirian, artinya setiap individu yang melakukan kegiatan partisipasi harus berasal dari dirinya sendiri, atas inisiatif atau kemauan sendiri, kalau seorang individu melakukan kegiatan karena didorong atau digerakkan orang lain, atau karena merasa khawatir akan konsekuensi kalau tidak melakukan partisipasi, maka apa yang sebenarnya terjadi adalah mobilisasi, atau istilah populernya partisipasi yang digerakkan.
18
diri dalam suatu kelompok/organisasi yang memiliki kekuasaan maupun sosial dalam suatu program.
Evaluasi, untuk berperan serta dalam evaluasi program dapat dilakukan melalui dua kegiatan pokok yakni: (1) evaluasi formal terhadap proyek, (2) pendapat umum. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan biasanya dilakukan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat. Adapun keuntungan yang diperoleh dengan adanya partisipasi dalam pelaksanaan-pelaksanaan program pembangunan ini antara lain sebagai berikut: 1. Banyak proyek pembangunan tidak bisa keluar dari lilitan persoalan, jika rakyat yang dikenai proyek tidak terlibat. Sumber daya lokal merupakan sumber daya yang mengetahui kondisi dan potensi daerah. Jika timbul masalah hanya orang-orang lokal yang memahaminya. 2. Dengan partisipasi, planner dilengkapi dengan informasi amat berharga, yang tidak bisa diperoleh dengan cara lain. Partisipasi informasi yang sangat berharga akan diperoleh planner dan para birokrat, sedangkan cara -cara lain barangkali tidak seberharga partispasi, 3. Rakyat akan sangat menerima perubahan yang diadakan jika mereka diajak berperan serta di dalam merancang, mengkonstruksi, melaksanakan, sampai pada saat mengevaluasi. Beberapa pendapat yang telah dirangkum diatas, dapat dikatakan bahwa partisipasi telah menjadi mitos pembangunan, meskipun dalam prakteknya setiap strategi pembangunan yang menampilkan peranan khas birokrasi pembangunannya, telah pula memberikan variasi dalam mengambil konsep partisipasi itu, nampaknya pendekatan top-down
dan blue print praktis mengabaikan partisipasi masyarakat, karena pendekatan ini, seluruh kegiatan pembangunan diprakarsai, diarahkan dan dikontrol oleh pengaruh birokrasi, sedang masyarakat hanya dimobilisasikan untuk melaksanakan pembangunan.
Karakteristik Peserta Bedah Rumah
Kepribadian merupakan kesatuan organisasi, seluruh isi sifat-sifat dari seseorang individu yang dinyatakan dalam bentuk yang berbeda dengan yang lain. Lionberger dan Gwin (1982) mengungkapkan bahwa peubah-peubah yang penting dalam mengkaji masyarakat lokal diantaranya adalah peubah karakteristik individu. Hal ini kemudian dirincikan menjadi 32 sifat-sifat individu yang meliputi karakter sosial ekonomi, kepribadian dan perilaku komunikasinya. Sifat-sifat meliputi : umur, tingkat skala usaha, pendidikan, tingkat melek huruf, status sosial, tingkat mobilitas vertikal ke atas, tingkat orientasi ekonomi komersial, derajat kesukaan terhadap kredit, spesialisasi usaha, tingkat kemampuan berempati, tingkat kemampuan, tingkat kerpercayaan terhadap dogma, tingkat mengabstraksi, tingkat rasionalitas, tingkat intelegensia, derajat kesukaan terhadap perubahan, keberanian mengambil resiko, sikap terhadap pendidikan, tingkat keterdedahan terhadap media massa, tingkat keterdedahan terhadap komunikasi antar pribadi, tingkat kemampuan menjadi anggota masyarakat dan lain-lain.
19
pengalaman mendapat bantuan dan hubungan sosial dengan perangkat desa, yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Umur individu akan dipengaruhi pertumbuhan baik aspek biologis maupun psikis. Pertumbuhan psikis akan tampak pada aspek kejiwaan (kedewasaan). Berdasarkan hasil penelitian Kurniawati (2010) umur berhubungan negatif dengan partisipasi dalam bidang ekonomi artinya umur sebagian peserta bedah rumah masuk kategori sedang maka partisipasinya dalam bidang ekonomi posdaya rendah baik dalam perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil dan mengevaluasi kegiatan. Menurut Akbar (2013) pada petani yang lebih tua memiliki tingkat pengalaman lebih tinggi dibandingkan dengan petani yang berusia lebih muda.
2. Tingkat Pendidikan, Menurut Slamet (2003) pendidikan adalah usaha untuk menghasilkan perubahan-perubahan pada perilaku manusia. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia terutama dalam membuka cakrawala/pikiran dan dalam menerima hal-hal baru dan bagaimana cara berfikir secara ilmiah. Berdasarkan penyelenggaraan pendidikan dibedakan menjadi dua yaitu pendidikan formal dan pendidikan nonformal.
3. Pekerjaan secara umum didefinisikan sebagai sebuah kegiatan aktif yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan sebuah karya bernilai imbalan dalam bentuk uang bagi seseorang. Pembicaraan sehari-hari istilah pekerjaan dianggap sama dengan profesi.
4. Jumlah tanggungan keluarga adalah orang yang tinggal dalam satu keluarga dan secara langsung menjadi tanggungan kepala keluarga, ataupun yang berada di luar rumah akan tetapi kehidupan masih merupakan tanggung jawab kepala keluarga. Jumlah tanggungan keluarga berhubungan dengan kemampuan keluarga akan penyediaan tenaga kerja dan menghidupinya. Menurut Adriana (2006) peserta bedah rumah yang tidak memiliki tanggungan keluarga atau hanya memiliki satu tanggungan keluarga biasanya berusia muda.
5. Status kepemilikan rumah yaitu yaitu keberadaan rumah yang dimiliki oleh peserta bedah rumah, rumah milik sendiri dan milik orang lain (dipinjamkan, sewa).
6. Status kependudukan yaitu masyarakat yang memiliki status penduduk asli maupun pendatang, yang dimaksud penduduk asli adalah masyarakat yang memiliki silsilah keluarga dua turunan yang lahir di Provinsi Jambi, sedangkan penduduk pendatang merupakan masyarakat yang berasal dari luar Provinsi Jambi.
7. Pengalaman menerima bantuan yaitu jenis-jenis bantuan pembangunan yang diterima oleh masyarakat. Baik dalam waktu dekat atau jangka panjang. 8. Hubungan sosial dengan perangkat desa yaitu adanya keterlibatan hubungan
20
Kerangka Pemikiran
Samisake adalah program pemerintah daerah dalam rangka percepatan dan pemerataan pembangunan di kabupaten atau kota dalam mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. Sasaran peserta bedah rumah Samisake adalah kepala keluarga sangat miskin beserta anggota keluarganya sesuai dengan data base hasil verifikasi Bappeda Provinsi Jambi. Pelaksanaan program Samisake dilakukan terlebih dahulu melalui serangkai proses komunikasi oleh fasilitator tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa-desa sasaran program.
Sebagai kebijakan pemerintah Provinsi Jambi maka dibutuhkan peran SKPD, peran camat, tim pelaksana/tim fasilitator dan peran kepala desa sangat penting dalam pelaksanaan kegiatan Samisake ini. Masyarakat sebagai sasaran Program Samisake diharapkan berpartipasi mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi agar kegiatan Samisake berjalan sesuai pedoman dan tepat sasaran. Sehingga anggaran dana transfer satu milyar dapat diproses secara transparan. Serangkaian proses komunikasi dilakukan dengan tujuan agar dana transfer Samisake bisa terdistribusi tepat sasaran sesuai dengan petunjuk teknis yang telah ada, sehingga ada kejelasan dalam pelaksanaannya.
Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam Program Samisake salah satunya adalah kegiatan bedah rumah yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Permasalahan yang masih dimiliki oleh Provinsi Jambi adalah banyaknya penduduk yang tidak memiliki rumah yang layak huni, hal ini terjadi baik di daerah perkotaan maupun daerah pedesaan. Pemerintah Provinsi Jambi dalam hal ini Gubernur melaksanakan kegiatan bedah rumah Samisake, untuk memperbaiki rumah-rumah penduduk yang tidak layak huni. Hal ini tentu saja untuk penduduk yang benar-benar memenuhi syarat mendapatkan bantuan bedah rumah Samisake. kegiatan bedah rumah sendiri melibatkan banyak pihak, sehingga terjadi proses komunikasi pada kegiatannya.
Rogers (1983) menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana peserta menciptakan dan membagikan informasi kepada yang lain untuk mencapai saling pengertian. Sedangkan menurut Tuft & Mefalopulos (2009) mengungkapkan bahwa fokus komunikasi partisipasi adalah dialog, suara, aksi-refleksi. Proses komunikasi dalam pelaksanaan kegiatan bedah rumah ini dapat dilihat dari frekuensi, arah komunikasi, dan isi pesan. Baik melalui media massa maupun antarpribadi yang digunakan dan arah komunikasi dan kesempatan berpartisipasi oleh masyarakat dan peran fasilitator meliputi peran teknik dan peran fasilitasi. Sehingga keterlibatan masyarakat dan pendamping dalam setiap tahap kegiatan sangat menentukan keberhasilan program. Pelaksanaan kegiatan bedah rumah juga tidak luput dari kredibilitas fasilitator meliputi kejujuran, keahlian, daya tarik dan keakraban sehingga mempengaruhi proses komunikasi dan partisipasi.
21
dengan baik, sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan. Dilihat dari keefektifan komunikasi pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi maka pelaksanaan kegiatan bedah rumah bisa berjalan optimal. Berdasarkan hal ini maka untuk menilai kegiatan bedah rumah dilakukan melalui penelitian terhadap pelaksanaan bedah rumah. Uraian mengenai kerangka pemikiran tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Proses Komunikasi Pada Pelaksanaan Kegiatan Bedah Rumah
Hipotesis Penelitian
Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa bahwa proses komunikasi dan komunikasi partisipasi berhubungan dengan karakteristik peserta bedah rumah dan kredibilitas fasilitator. Penelitian ini melihat partisipasi pelaksanan kegiatan bedah rumah sebagai dampak adanya proses komunikasi dan komunikasi partisipasi pada pelaksanaan kegiatan bedah rumah. Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Terdapat perbedaan nyata antara karakteristik peserta bedah rumah, kredibilitas fasilitator, proses komunikasi, prasyarat partisipasi, dan partisipasi masyarakat di Kecamatan Maro Sebo Ulu dan Kecamatan Jelutung.
2. Terdapat hubungan nyata antara karakteristik peserta bedah rumah dengan proses komunikasi dan prasyarat partisipasi pada pelaksanaan kegiatan bedah rumah.
3. Terdapat hubungan nyata antara kredibilitas fasilitator dengan proses komunikasi dan prasyarat partisipasi pada pelaksanaan kegiatan bedah rumah.
Y1 Proses Komunikasi :
X2 Perilaku Kredibilitas Fasilitator :
22
4. Terdapat hubungan nyata antara proses komunikasi dengan prasyarat partisipasi pada pelaksanaan kegiatan bedah rumah.