Dari hasil analisis data yang telah dilakukan, kemampuan problem solving siswa menurut John A. Malone dalam pokok bahasan pecahan secara ringkas dapat disajikan sebagai berikut.
Tabel 4.8. Kemampuan Problem Solving Subyek dengan Kemampuan Awal Tinggi
Subyek ke- Nomor soal Tingkat kemampuan problem solving
subyek 1 1 substance 2 completion 3 result 4 subtance subyek 2 1 completion 2 completion 3 subtance 4 result
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pada kedua subyek di atas, dapat diperoleh hasil bahwa kemampuan problem solving subyek dengan kemampuan awal tinggi dapat berada pada rentang tingkat subtance – completion.
Tabel 4.9. Kemampuan Problem Solving Subyek dengan Kemampuan Awal Sedang
Subyek ke- Nomor soal Tingkat kemampuan problem solving
subyek 3 1 subtance - completion
2 completion
3 subtance - completion 4 subtance - completion
subyek 4 1 approach
2 completion
3 tidak diperoleh informasi apapun
4 subtance
subyek 5 1 approach
2 completion
3 result
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pada ketiga subyek di atas, dapat diperoleh hasil bahwa kemampuan problem solving subyek dengan kemampuan awal sedang dapat berada pada rentang tingkat approach – completion.
Tabel 4.10. Kemampuan Problem Solving Subyek dengan Kemampuan Awal Rendah
Subyek ke- Nomor soal Tingkat kemampuan problem solving
subyek 6 1 subtance
2 completion
3 noncommencement - subtance
4 subtance – result
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan pada subyek di atas, dapat diperoleh hasil bahwa kemampuan problem solving subyek dengan kemampuan awal rendah dapat berada pada rentang tingkat noncommencement – subtance untuk soal-soal tipe problem solving sederhana yang melibatkan sedikit operasi dengan tingkat pemahaman yang mudah, kemampuan problem solving subyek dapat mencapai tingkat completion. Akan tetapi jika diberikan pertanyaan bantuan terhadap subyek maka terjadi peningkatan tingkat kemampuan problem solving matematika yaitu pada rentang tingkat approach – result. Dan untuk soal-soal tipe problem solving sederhana yang melibatkan sedikit operasi dengan tingkat pemahaman yang mudah, kemampuan problem solving subyek dapat mencapai tingkat completion.
Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa pemecahan masalah merupakan tujuan yang penting dalam pembelajaran matematika, dimana dalam pemecahan masalah bukan hanya menggunakan dan mengaplikasikan konsep, definisi, teorema-teorema yang telah dipelajari tetapi memerlukan aspek-aspek lain seperti penalaran, analisis, dan sintesa. Dalam pemecahan masalah siswa didorong dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berinisiatif dan berpikir sistematis dalam menghadapi suatu masalah dengan menerapkan pengetahuan commit to user
yang didapat sebelumnya. Sedangkan keberhasilan siswa dalam memecahkan setiap masalah tidak terlepas dari faktor kebiasaan belajar siswa, terutama dalam proses pembelajaran di kelas. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan problem solving siswa yaitu metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Berkaitan dengan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas dan hasil analisis data yang telah dilakukan, maka dapat dipaparkan pula hal-hal sebagai berikut:
1. Tingkat kemampuan problem solving subyek dengan kemampuan awal tinggi hampir sama dengan tingkat kemampuan problem solving subyek dengan kemampuan awal sedang. Dalam arti tingkat kemampuan problem solving subyek dengan kemampuan sedang tidak terpaut jauh dengan subyek dengan kemampuan awal tinggi. Sedangkan untuk subyek dengan tingkat kemampuan awal rendah, terjadi perbedaan pencapaian kemampuan yang signifikan bila dibandingkan dengan subyek dengan kemampuan awal tinggi dan sedang. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, guru menggunakan metode ceramah dan penugasan. Guru tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga memberikan contoh disertai pembahasan dan latihan soal. Guru juga memberikan tugas pada setiap akhir pertemuan untuk kemudian dikoreksi bersama pada pertemuan selanjutnya. Akan tetapi karena metode pembelajaran yang digunakan guru cenderung monoton dan kurang merangsang kemampuan siswa dalam berpikir, akibatnya kemampuan siswa untuk berpikir kritis, penalaran serta menganalisis suatu permasalahan menjadi kurang terlatih. Siswa menjadi kurang peka terhadap suatu masalah. Siswa juga masih sering bingung bagaimana mengintegrasikan pengetahuan yang dimiliki untuk kemudian disusun menjadi sebuah rangkaian penyelesaian yang sistematis. Soal-soal latihan yang diberikan guru merupakan soal-soal operasi pecahan bentuk sederhana, sesekali guru memberikan soal-soal konstektual yang berkaitan dengan operasi pecahan dan desimal akan tetapi biasanya siswa hanya diberikan instruksi untuk mengerjakan dan jarang diberikan pembahasan. Kurangnya penguatan yang diberikan mengakibatkan siswa commit to user
masih sering bingung harus menggunakan konsep operasi pecahan yang mana yang sesuai untuk menyelesaikan suatu permasalahan bahkan tidak jarang siswa hanya menggunakan konsep operasi tanpa jelas mengidentifikasi kesesuaiannya dengan permasalahan. Untuk siswa dengan kemampuan awal tinggi dan sedang biasanya memilih tempat duduk di barisan depan, sedangkan siswa dengan kemampuan awal rendah biasanya memilih tempat duduk di barisan belakang. Maka berkaitan dengan metode ceramah yang diterapkan guru di kelas, siswa yang duduk di barisan depan biasanya mampu mengakses informasi yang diberikan guru dengan lebih baik dibandingkan dengan siswa yang duduk di barisan belakang. Ditambah lagi kurangnya fokus guru pada siswa yang notabene belum mengerti betul tentang materi yang diajarkan mengakibatkan siswa merasa tidak diperhatikan. Keadaan seperti inilah yang menyebabkan tingkat pemahaman siswa dengan kemampuan awal tinggi dan sedang lebih dominan dibandingkan siswa dengan kemampuan awal rendah.
2. Pada dasarnya baik siswa dengan kemampuan awal tinggi atau sedang, kemampuan siswa dalam menelaah dan memahami permasalahan sudah cukup baik, siswa mampu mengidentifikasi informasi yang berkaitan dengan pemecahan masalah. Siswa juga mampu memahami tujuan permasalahan serta ide pemecahan masalah yang akan dilakukan. Akan tetapi siswa sering melakukan kesalahan terhadap pemilihan, pengaplikasian dan pengkombinasian konsep yang akan digunakan dalam pemecahan masalah. Siswa juga masih sering terkecoh atau kurang teliti dalam mengintegrasikan informasi yang telah dipahami sebelumnya ke dalam pemecahan masalah sehingga penyelesaian yang diperoleh menjadi kurang valid. Akan tetapi beberapa dari subyek telah mampu mencapai tingkat kemampuan problem solving tertinggi berdasarkan John A. Malone yakni tingkat completion baik saat mengerjakan tes mandiri maupun peningkatan tingkat kemampuan setelah dilakukan wawancara disertai pertanyaan bantuan. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan guru memang tidak membiasakan siswa bekerja dalam kelompok besar, biasanya mereka diperbolehkan berdiskusi dengan teman sebangkunya dalam memecahkan suatu permasalahan. Hal ini menyebabkan siswa tidak terbiasa bekerjasama secara heterogen. Selain itu soal-soal kontektual yang digunakan sebagai latihan merupakan soal kontekstual sederhana yang tidak membutuhkan banyak penalaran. Akibatnya siswa menjadi kurang terbiasa dengan soal-soal kontekstual dengan penalaran yang kompleks. Minimnya diskusi yang terjadi di dalam kelas mengakibatkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan berperan aktif dalam memilih serta menemukan konsep yang tepat dalam pemecahan masalah menjadi kurang berkembang. Kurangnya evaluasi pembelajaran dan pembahasan yang dilakukan guru menyebabkan siswa enggan bertanya jika mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Siswa juga kurang antusias untuk mengklarifikasi jika pengetahuan yang diperoleh tidak sesuai. Hal ini juga berdampak pada guru, guru menjadi enggan memberikan penguatan karena siswa jarang mengeluhkan kesulitan belajar. Akan tetapi untuk siswa yang memiliki penalaran, imajinasi dan kemampuan mengkonstruksi yang baik biasanya akan berinisiatif untuk menggunakan ilustrasi gambar guna membantu memahami masalah. Hal ini menjadi sangat efektif ketika siswa bingung dalam menentukan konsep yang akan digunakan dalam pemecahan masalah. Dengan adanya ilustrasi yang telah dibuat akan membantu membentuk pola pengerjaan yang sesuai dengan alur pemecahan masalah sehingga kemampuan problem solving yang dicapai menjadi optimal.
Berdasarkan data yang diperoleh selain mengetahui bagaimana kemampuan problem solving siswa kelas VII-F SMP Negeri 16 Surakarta, juga dapat diketahui pula faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan problem solving siswa. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pemahaman siswa dalam mencermati, menelaah dan memahami setiap
masalah yang diberikan.
2. Tingkat pemahaman dan penguasaan siswa terhadap konsep, sifat atau aturan berkaitan dengan materi operasi pada pecahan dan pecahan desimal. Masih commit to user
banyak siswa yang kurang paham mengenai sifat pengoperasian terutama pada pecahan desimal.
3. Kemampuan merelasikan konsep materi dengan alur pemecahan masalah yang akan dilakukan.
4. Inisiatif dalam memunculkan ide-ide pemecahan masalah dan mengintegrasikan informasi yang telah dipahami serta mengkombinasikan konsep ke dalam pemecahan masalah. Hal ini sangat dipengaruhi oleh banyaknya latihan soal yang dilakukan siswa. Dengan banyaknya latihan mengerjakan soal yang memiliki tingkat kesulitan bervariasi, diharapkan dapat mengasah kemampuan siswa dalam menemukan ide, mengintegrasikan informasi serta mengkombinasikan konsep ke dalam pemecahan masalah. 5. Kemampuan berpikir kritis siswa terhadap berbagai kemungkinan pemecahan
masalah serta kemampuan komunikasi matematis siswa dalam mengkomunikasikan ide ke dalam penyelesaian permasalahan. Kebanyakan dari siswa belajar dari contoh sehingga ketika dihadapkan dengan masalah baru siswa sering merasa kesulitan. Selain itu kebanyakan dari mereka mengerjakan soal tanpa identifikasi pengerjaan yang jelas sehingga tidak jarang siswa menjadi bingung sendiri dengan apa yang ia kerjakan.
6. Ketelitian dan pemahaman siswa terhadap sifat operasi pada pecahan dan desimal. Masih banyak dijumpai siswa melakukan kesalahan dalam perhitungan pengoperasian terutama pada pecahan desimal.
7. Keefektifan metode dan media pembelajaran yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar dengan menyesuaikan kemampuan awal siswa.