• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Teluk Palabuhanratu merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memiliki hubungan dengan Samudera Hindia dan tempat bermuaranya beberapa sungai seperti Sungai Cimandiri, Cikeueus, Citepus, Cimaja, Citiis, Sukawayana, Cidadap, Cipalabuhan dan Cibareno. Daerah muara sungai merupakan daerah yang sangat subur karena mengandung sejumlah besar zat-zat hara yang berasal dari darat, sehingga daerah ini dijadikan sebagai daerah asuhan (nursery ground) dan tempat mencari makan (feeding ground) bagi kehidupan larva dan juvenil ikan.

Pengambilan contoh larva dan juvenil ikan dilakukan di muara arah sungai dan laut sekitar muara sungai Cimaja, Citiis, Citepus dan Sukawayana. Pada awalnya, yaitu pada pengambilan contoh ke-1 (19 Maret 2011) dan pengambilan contoh ke-2 (1 April 2011) lokasi penelitian berada di Cimandiri, Cikeueus, Citepus dan Sukawayana, namun lokasi di Cimandiri dan Cikeueus dipindahkan ke daerah Cimaja dan Citiis pada pengambilan contoh ke-3 (30 April 2011), ke-4 (30 Mei 2011) dan ke-5 (3 Juli 2011). Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan teknis yang tidak mendukung untuk dilakukannya penelitian di daerah tersebut dan adanya pembangunan PLTU serta tidak didapatkannya contoh larva dan juvenil ikan di lokasi Cimandiri dan Cikeueus.

Ada sebuah tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat sekitar Teluk Palabuhanratu. Tradisi ini dikenal dengan sebutan “ngala impun/nyalawean”.

Ribuan warga baik anak-anak maupun orang tua membaur di hilir sungai Cimandiri, Citepus, Cimaja, Citiis, Sukawayana hingga sungai Cibareno yang berbatasan dengan Banten untuk melakukan penjaringan impun menggunakan alat tangkap berbentuk segiempat ataupun segitiga yang disebut dengan “sirib”. Impun merupakan sumberdaya hayati perairan yang sangat terkenal oleh masyarakat Palabuhanratu sebagai sumber pangan, dan memiliki rasa yang enak serta menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar. Tradisi tersebut ternyata bila dikaji lebih dalam dapat menyebabkan putusnya perkembangbiakan beberapa jenis ikan karena “impun” yang ditangkap merupakan sumberdaya ikan dalam stadia larva dan juvenil. Hasil tangkapan dari tradisi ini biasanya dikonsumsi pribadi atau dijual

dengan harga berkisar Rp 25000-45000/kg. Ngala impun/nyalawean biasa dilakukan di daerah muara sungai sekitar Teluk Palabuhanratu tanggal 25 setiap bulan yang mengikuti kalender hijriah dan biasanya melimpah pada bulan Juni- Juli.

Gambar 10. Tradisi ngala impun di muara sungai sekitar Teluk Palabuhanratu Selain adanya tradisi ngala impun/nyalawean yang menangkap larva dan juvenil ikan, nelayan di Teluk Palabuhanratu juga banyak mengoperasikan alat tangkap yang tidak selektif dengan ukuran mata jaring yang relatif kecil, seperti bagan yang juga memungkinkan tertangkapnya ikan pada stadia larva dan juvenil.

Penelitian ini juga meninjau lebih dalam komposisi larva ikan yang tertangkap dalam bagan.

4.1.1 Cimaja

Lokasi muara Sungai Cimaja terletak pada geografis 6˚56’56.90” LS” dan 106˚29’29.20’’BT. Muara Sungai Cimaja terletak di Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak. Muara Sungai Cimaja merupakan tempat bermuaranya aliran sungai Cimaja. Muara sungai ini akan berhulu di perairan Teluk Palabuhanratu yang akhirnya akan mengalir ke Samudera Hindia, karena perairan Teluk Palabuhanratu mempunyai hubungan bebas dengan Samudera Hindia. Lokasi di muara sungai ini didominasi oleh substrat pasir berbatu. Lebar mulut sungai sekitar 3-5 meter dan memiliki debit aliran yang cukup deras. Muara Cimaja arah sungai memiliki air yang cukup jernih dan kekeruhan yang retatif rendah yaitu berkisar 4.05-7.00 NTU dan di muara Cimaja arah laut 0.65-1.02 NTU. Muara Cimaja arah sungai memiliki salinitas 0-8.7‰ dan muara Cimaja arah laut berkisar 29-30‰. Di sekitar muara sungai Cimaja terdapat kegiatan penambangan pasir dan batu kali.

Gambar 11. Lokasi muara Sungai Cimaja 4.1.2 Citiis

Muara Sungai Citiis terletak pada geografis 6˚56’56.30 LS” dan 106˚28’28.50’’BT. Muara Sungai Citiis terletak di Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok. Muara sungai ini akan berhulu di perairan Teluk Palabuhanratu yang akhirnya mengalir ke Samudera Hindia. Lokasi ini memiliki karakter fisik yang hampir sama dengan lokasi yang berada di muara Sungai Cimaja yaitu didominasi oleh substrat pasir berbatu, lebar mulut sungai juga berkisar 3-5 meter dan memiliki debit aliran yang cukup deras. Di sekitar muara Sungai Citiis juga terdapat kegiatan penambangan pasir dan batu kali. Muara Citiis arah sungai memiliki salinitas 0.5-25‰ dan kekeruhan berkisar 2.55-12.5 NTU. Muara Citiis arah laut memiliki salinitas 30.5-30.65‰ dan kekeruhan berkisar 0.4-0.75 NTU. Muara arah sungai memiliki salinitas yang lebih rendah dan kekeruhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan muara arah laut yang bersalinitas lebih tinggi dan kekeruhan yang rendah.

Gambar 12. Lokasi muara Sungai Citiis

4.1.3 Citepus

Muara Sungai Citepus terletak pada geografis 6˚57’70.00 LS” dan 106˚32’00.00’’BT. Muara Sungai Citepus terletak di Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu. Wilayah pesisir daerah Citepus yaitu ± 1,351.49 Ha (Hartami 2008).

Aktivitas masyarakat di sekitar muara Sungai Citepus cukup tinggi, dimana kawasan ini dijadikan sebagai tempat wisata karena memiliki panorama yang cukup indah dan memiliki pantai yang cukup luas. Dari pantauan terhadap sekeliling di sekitar lokasi ini terdapat perhotelan dan pemukiman warga. Tingginya aktivitas wisata yang dilakukan di lokasi ini menyebabkan banyak terdapat sampah anorganik berupa plastik bungkusan makanan. Lokasi ini didominasi oleh substrat pasir berlumpur. Muara Sungai Citepus memiliki debit aliran yang tenang. Berdasarkan pengamatan muara Sungai Citepus sedikit berwarna kecoklatan dan memiliki tingkat kekeruhan yang cukup tinggi yaitu berkisar 16.5-18 NTU. Salinitas di muara arah sungai berkisar 3.8-5.4‰. Muara arah laut memiliki kekeruhan 0.48-1.7 NTU dan salinitas berkisar 30.5-31.5‰.

Gambar 13. Lokasi muara Sungai Citepus 4.1.4 Sukawayana

Muara Sungai Sukawayana terletak pada geografis 6˚57’48.24 LS” dan 106˚31’00.00’’BT. Muara Sungai Sukawayana terletak di Desa Sukawayana, Kecamatan Cikakak. Muara Sungai Sukawayana di dominasi oleh substrat pasir berbatu dan memiliki debit aliran yang cukup deras. Lebar mulut sungai berkisar 3-5 meter. Di samping muara sungai ini terdapat suatu pemukiman warga dan muara sungai ini dijadikan sebagai sumber air bersih untuk mandi dan mencuci (MCK). Di

sekitar muara Sungai Sukawayana juga terdapat pepohonan. Muara sungai ini memiliki salinitas berkisar 7.3-15.6‰ dan kekeruhan berkisar 3-14 NTU. Muara Sukawayana arah laut memiliki salinitas 30-31.5‰ dan kekeruhan 0.6-1 NTU.

Gambar 14. Lokasi muara Sungai Sukawayana

Dokumen terkait