4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Kepadatan dan Kelimpahan Relatif Larva dan Juvenil Ikan
Lokasi muara arah sungai yang memiliki kepadatan relatif terbesar adalah muara Sungai Cimaja yaitu sebesar 70% sedangkan yang terendah yaitu muara
sungai Citiis sebesar 3% (Gambar 15). Muara arah laut yang memiliki kepadatan relatif tertinggi adalah Laut sekitar muara sungai Citiis sebesar 33% sedangkan yang terendah yaitu laut sekitar muara Sungai Citepus sebesar 18% (Gambar 16).
Gambar 15. Kepadatan relatif (%) di muara arah sungai
Gambar 15. Kepadatan relatif (%) di muara arah laut
Kepadatan populasi tertinggi pada lokasi di muara arah sungai yaitu dari spesies Sicyopterus sp. sebesar 747 ind/m² dan kepadatan populasi tertinggi pada lokasi muara arah laut adalah Secutor indicius sebanyak 24 ind/m². Secara keseluruhan lokasi yang berada di muara arah sungai memiliki kepadatan yang lebih besar (797 ind/m²) daripada lokasi muara arah laut (60 ind/m²). Hal ini dikarenakan, hamparan area muara arah laut itu sendiri lebih luas dibandingkan dengan muara arah sungai, sehingga penyebaran dari larva dan juvenil ikan di muara arah laut lebih menyebar secara luas. Hal ini pula yang menyebabkan jenis larva dan juvenil ikan yang memiliki kepadatan terendah di muara arah laut lebih banyak daripada lokasi yang berada di muara sungai. Kepadatan spesies di muara arah sungai lebih tinggi dibandingkan dengan di muara arah laut lebih dipengaruhi oleh kandungan nutrien.
70%
Menurut Effendi (2002) pergerakkan larva atau tingkah laku larva untuk mendapatkan makanan serta kepadatan persediaan makanan merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan hidup ikan. Tabel kepadatan populasi pada lokasi muara arah sungai dan muara arah laut dapat dilihat pada Lampiran 3.
Kepadatan dan kelimpahan memiliki hubungan yang berbanding lurus dimana kepadatan tinggi kelimpahannya pun juga tinggi. Kelimpahan larva dan juvenil ikan selama pengamatan di muara arah laut dan muara arah sungai Cimaja, Citiis, Citepus dan Sukawayana disajikan pada Gambar 17-24.
Gambar 17. Kelimpahan larva dan juvenil ikan di muara Cimaja arah laut
Gambar 18. Kelimpahan larva dan juvenil ikan di muara Citiis arah laut
0
Gambar 19. Kelimpahan larva dan juvenil ikan di muara Citepus arah laut
Gambar 20. Kelimpahan larva dan juvenil ikan di muara Sukawayana arah laut
Gambar 21. Kelimpahan larva dan juvenil ikan di muara Cimaja arah sungai
0 10 20 30 40
Sicyopterus sp. Caranx sp. Secutor indicius Cynoglosus sp. Serranidae
Kelimpahan relatif (%)
Jenis ikan
0 10 20 30 40
Kelimpahan relatif (%)
Jenis ikan
0 20 40 60 80 100
Sicyopterus sp.
Kelimpahan relatif (%)
Jenis ikan
Gambar 22. Kelimpahan larva dan juvenil ikan di muara Citiis arah sungai
Gambar 23. Kelimpahan larva dan juvenil ikan di muara Citepus arah sungai
Gambar 24. Kelimpahan larva dan juvenil ikan di muara Sukawayana arah sungai
0 20 40 60 80 100
Kelimpahan relatif (%)
Jenis ikan
0 20 40 60 80 100
Kelimpahan relatif (%)
Jenis ikan
0 20 40 60 80 100
Ambassis vachelli Sicyopterus sp. Mugilidae Gobiidae
Kelimpahan relatif (%)
Jenis ikan
Ikan pepetek dari spesies Secutor indicius memiliki kelimpahan relatif yang paling besar di lokasi muara Cimaja, Citepus dan Sukawayana arah laut masing-masing sebesar 25%,40%dan 36%. Pada lokasi muara Citiis arah laut ada beberapa jenis yang memiliki kelimpahan relatif tertinggi yaitu sebesar 11% antara lain, Polydactylus sp., Secutor indicius, Diodon dan Archamia fucata, sedangkan pada lokasi yang berada di muara Cimaja, Citiis dan Citepus arah sungai, spesies yang memiliki kelimpahan relatif terbesar adalah Sicyopterus sp. masing-masing sebesar 100%, 73% dan 94% dan di lokasi muara Sukawayana arah sungai spesies yang memiliki kelimpahan terbesar adalah Ambassis vachelli sebesar 53%.
Kelimpahan lokasi yang berada di muara arah laut berkisar antara 5-40%, memiliki nilai kelimpahan yang lebih tinggi karena pada lokasi tersebut memiliki kandungan nutrien yang cukup melimpah, dimana masih ada pengaruh masukan dari daratan serta menurut Anwar (2008) karakteristik lingkungan yang diduga berpengaruh terhadap populasi larva dan juvenil ikan adalah arus dan kandungan bahan organik, dimana pada lokasi muara arah sungai arus berdampak langsung terhadap struktur sedimen, pasokan nutrien dan pasokan oksigen. Gerlach et al.
(2006) mengemukakan pula bahwa arus laut akan mempengaruhi penyebaran dan kelimpahan larva ikan.
Menurut Anwar (2008) perbedaan habitat akan mempengaruhi jumlah kelimpahan spesiesnya karena setiap spesies berbeda frefensinya terhadap kebutuhan lingkungan. Menurut Negelkerken (1981) in Anwar (2008) habitat yang sesuai memegang peranan penting bagi keberadaan suatu jenis dan dikemukakan pula bahwa pada daerah terbuka atau yang terlindung mendapat masukan jenis dan jumlah larva yang sama, tetapi karena adanya perbedaan tipe habitat maka pada akhirnya jenis larva yang dapat bertahan menjadi berbeda.
Seperti diketahui pula bahwa estuari adalah suatu tempat pertemuan antara air tawar dan air laut. Habitat ini lebih subur dan produktif sehingga daerah ini
sering dijadikan sebagai daerah asuhan (nursery ground) bagi anak-anak ikan. Salah satu estuari adalah muara sungai yang selalu dipengaruhi oleh pasang surut dan salinitas yang berfluktuasi, yang mempengaruhi bentuk kehidupan biota di daerah tersebut, sehingga didasarkan pada pustaka Odum (1971) in Genisa (2000) biota yang hidup di daerah estuari adalah biota yang mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan, yang ditandai dengan jumlah jenis sedikit dan potensi yang tinggi. Hal ini dapat dilihat pada hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa jumlah jenis larva dan juvenil ikan yang ditemukan dimuara sungai lebih sedikit dengan kelimpahan yang tinggi sedangkan di muara arah laut/laut sekitar muara sungai memiliki jenis yang lebih banyak dan beragam dengan kelimpahan yang rendah.
Menurut Jenkins and Davis (2007) spesies dari genus Ambassis dan spesies Tetraroge barbata termasuk dalam kelompok freshwater migrants yang artinya ikan memijah dan keberadaannya berada di air tawar dan muara sepanjang tahun. Spesies dari famili Leiognathidae termasuk dalam kelompok estuarine migrants yang artinya memijah di estuari dengan fase larva di laut dan atau bermigrasi sekitar estuari.
Oleh sebab itu, larva dan juvenil dari spesies Secutor indicius yang termasuk dalam famili Leiognathidae banyak di temukan di sekitar lokasi pengamatan. Kelompok berikutnya yaitu freshwater stargglers yang artinya ikan memijah di air tawar dan masuk kedalam estuari hanya jika kondisi menguntungkan seperti kondisi lingkungan yang tenang dan bersalinitas rendah, contoh kelompok ini adalah jenis Mugilidae. Marine migrants yang berarti ikan memijah dilaut dan penyebaran secara luas dalam fase juvenil dan dewasa menggunakan estuari sebagai tempat perkembangannya. Selain itu, spesies-spesies yang termasuk dalam kategori marine migrant memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas (euryhaline) seperti ikan dari jenis Caranx. Hal ini dapat dilihat berdasarkan ditemukannya spesies Caranx sp. pada lokasi muara Citepus arah sungai dan arah laut. Anguilla sp. dan beberapa larva famili gobiidae termasuk dalam kelompok katadromus yang artinya, ikan memijah di laut dan juvenil atau dewasa harus mengakses ke air tawar, atau dengan kata lain kelompok ikan katadromus adalah kelompok ikan dari air tawar bermigrasi ke laut untuk memijah. Famili Kuhlidae bersifat euryhaline dan banyak ditemukan
di kawasan yang terkena pasang surut, batu karang, estuari dan perairan tawar.
(Heemstra 1984; Masuda et al.1984 in Leis and Ewart 2000).
Megalops cyprinoides cendrung memiliki sebaran yang merata, hal ini di lihat berdasarkan ditemukannya spesies ini pada lokasi baik di muara arah sungai, muara arah laut maupun bagan yang terletak di lebih jauh ke arah laut. Spesies ini dapat hidup pada salinitas antara 0-40 0/00. Fase dewasa dari spesies ini umumnya hidup di laut, tetapi pada fase larva dan juvenil banyak yang hidup di daerah estuari atau hutan mangrove karena Megalops cyprinoides termasuk dalam kelompok anadromus yang artinya ikan air laut bermigrasi ke air tawar untuk memijah (Jayaseelan 1998; Fishbase 2002 in Nursid 2002).
Muara sungai merupakan habitat yang penting untuk ikan-ikan dari jenis penetap sekaligus sebagai daerah asuhan penting untuk ikan-ikan peruaya. Contoh jenis ikan peruaya yaitu ikan dari famili Lutjanidae. Ikan penetap misalnya ikan famili Gobiidae. Ikan yang bermigrasi dari laut ke air tawar untuk bertelur (spesies anadromus) misalnya dari famili Serranidae dam Clupeidae (Kennish 1990 in Nursid M 2002).
Ditemukannya larva sidat (Anguilla sp.) yang bersifat katadrom dan beberapa larva dan juvenil ikan dari famili gobiidae yang juga banyak diantaranya bersifat katadrom yang artinya ikan beruaya atau bermigrasi dari air tawar ke laut hanya untuk memijah. Hal ini mengindikasikan bahwa ekosistem ini sangat berperan sebagai jalan keluar masuknya bagi beberapa ikan untuk melakukan ruaya pemijahan. Di samping itu, kehadiran larva ikan Megalops cyprinoides, Caranx sp.
dan Sardinella sp. yang merupakan jenis-jenis ikan laut yang ditemukan di daerah muara menunjukkan bahwa ekosistem ini memegang peranan penting dalam siklus hidup bagi ikan-ikan tersebut sebagai daerah asuhan (nursery ground) dan mencari makan (feeding ground).
Menurut Jenkins and Davis (2007) larva ikan dari jenis Gobiidae (Sicyopterus sp.), Terapontidae (Terapon theraps) dan Ophichtidae termasuk dalam kategori ikan amphidromus, yaitu ikan yang beruaya untuk mencari makan. Ikan-ikan ini memijah di air tawar, larva menetas hingga di laut, kemudian pada fase juvenil kembali ke air tawar untuk mencari makan. Oleh karena itu, pada lokasi yang berada di muara arah sungai larva dari spesies Sicyopterus sp. memiliki kepadatan
dan kelimpahan yang paling tinggi. Spesies ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas (euryhaline). Hal ini dapat dilihat berdasarkan lokasi yang mengarah ke laut dan bagan juga ditemukan spesies Sicyopterus sp dengan kepadatan sebesar 29 ind/m².