• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Lokasi Penelitian

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah lapangan sepak bola Desa Mulyo Rejo, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan yang rutin digunakan di lapangan tersebut adalah latihan sepak bola oleh SSB oleh karena itu dilakukan pemeriksaan tanah untuk melihat kontaminasi telur STH yang dapat menjadi sumber infeksi cacing pada anak-anak SSB tersebut.

5.1.2. Deskripsi Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah tanah di lapangan sepak bola di Desa Mulyo Rejo, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Sampel tanah berjumlah 9 sampel dan diambil dari beberapa titik di lapangan sepak bola. Dan tinja anak-anak SSB dengan kisaran umur 10 – 14 tahun dengan latihan setiap dua kali seminggu, sebanyak 10 sampel. Sampel tinja hanya terkumpul 10 sampel dikarenakan ada anak-anak yang tidak mendapat izin dari orang tua dan juga ada anak-anak yang tidak hadir pada hari pengumpulan sampel.

5.1.3. Kontaminasi STH

Berdasarkan hasil pemeriksaan di Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara, terhadap identifikasi kontaminasi tanah oleh STH yang dilakukan pada tanah lapangan sepak bola dan tinja anak-anak SSB adalah :

Tabel 1 sampel tanah lapangan bola

Sampel A. Lumbricoides Trichuris

Hookworm Toxocara sp Trichiura

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa ditemukan kontaminasi oleh STH sebesar 11,1% oleh toxocara sp

Keterangan sampel :

Sampel 1 dan 7 berasal dari pojok kanan bawah dan atas lapangan, sampel 3 dan 9 berasal dari pojok kiri bawah dan atas lapangan, sampel 2 dan 8 berasal dari tengah bawah dan atas lapangan, sampel 5 berasal dari tengah-tengah lapangan, sampel 4 dan 6 berasal dari tengah kanan dan kirik lapangan.

Tabel 2 : Sampel tinja anak SSB

Sampel A. Lumbricoides Trichuris

Hookworm Toxocara sp Trichiura

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa tidak satupun anak yang terinfeksi oleh STH 5.2. Pembahasan

Penelitian tersebut di atas membuktikan bahwa kontaminasi oleh STH ternyata tidak cukup tinggi di lapangan bola, Desa Mulyo Rejo, akan tetapi ditemukan telur Toxocara sp.

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan gambaran kontaminasi tanah oleh STH di Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung oleh Mardiana dengan Ascaris lumbricoides di desa

tersebut ternyata cukup tinggi18. Penelitian Tjitra E menyatakan prevalensi STH di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah ke daerah lain yaitu 1-100% dan prevalensi tertinggi adalah askariasis19. Penelitian Darlan yang dilakukan di Kelurahan Ladang Bambu, Kecamatan Medan Tuntungan menyatakan masih tingginya kontaminasi STH pada tanah dengan distribusi STH sebagai berikut : telur Ascaris lumbricoides (22 %), Telur dan larva cacing tambang (34 %)dan jenis lain yang tidak terinfeksi (14 % telur dan 14 % larva)12.

Kecacingan paling banyak menyerang anak balita dan anak usia sekolah dasar21. Hal ini dikarenakan infestasi cacing ditularkan melalui tanah yang tercemar telur cacing, tempat tinggal yang tidak bersih dan cara hidup yang tidak bersih20 22 dari hasil penelitian ini, ternyata tidak ada satupun anak yang terkena infeksi kecacingan. Kemungkinan hal ini disebabkan anak-anak yang bermain bola di lapangan tersebut menggunakan alas kaki ketika bermain bola, serta menjaga higienitas dengan baik.

Memakai alas kaki ketika bermain bola akan menyulitkan terkena infeksi STH terutama yang penularannya melalui larva yang dapat menembus kulit. Keadaan tanah di sekitar lapangan sepak bola tersebut yang sedikit kering. Begitu juga dengan warga sekitar yang sudah memiliki jamban di rumah masing-masing sehingga menyebabkan kecilnya kontaminasi tanah oleh STH.

Dengan ditemukannya telur Toxocara sp yang diperkirakan berasal dari kotoran kucing atau anjing, menandakan kemungkinan tanah tersebut tercemar oleh kotoran kucing. Dari pengamatan peneliti memang terlihat cukup banyak kucing dan anjing yang berkeliaran bebas di lapangan sepak bola tersebut.

Dari keterangan-keterangan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kontaminasi tanah oleh telur cacing maupun larva cacing yang dapat menginfeksi manusia tidak cukup tinggi oleh karena sudah tidak adanya warga sekitar yang buang air besar sembarangan pada lapangan tersebut dan kondisi tanah yang kurang mendukung untuk perkembangan STH.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Jumlah sample tanah yang diperiksa sebanyak 9 sample dengan hasil 11,1%

terkontaminasi oleh STH.

2. Jumlah sample tinja yang diperiksa sebanyak 10 sample dengan hasil 0% terinfeksi STH

6.2. Saran

1. Agar dilakukan penyuluhan kesehatan secara berkesinambungan kepada masyarakat terutama yang menyangkut kegiatan dan penyebab berjangkitnya infeksi cacing karena kebiasaan-kebiasaan tertentu.

2. Bagi pihak Puskesmas agar melakukan penyuluhan kepada masyarakat sehingga pencegahan infeksi kecacingan dapat dilakukan tidak hanya mempehatikan kontaminasi melalui tanah tetapi juga air, makanan dan minuman serta pentingnya penggunaan fasilitas sanitasi.

3. Agar dilakukan perhatian terhadap hewan - hewan seperti kucing yang dibiarkan bebas oleh dinasterkait. Karena dapat menjadi sumber infeksi dan menimbulkan penyakit pada manusia.

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organisation.Soil-transmitted helminth infection. World Health Organisation; 2016

2. World Health Organisation. Global Health Observatory (GHO) data Soil-transmitted Helminth. World Health Organisation; 2016

3. Winata R, Mulyati, et al. Upaya pemberantasan kecacingan di sekolah dasar. Makara Kesehatan. 2012 Desember:16(2):65-67

4. Mardiana, Djarismawati. Prevalensi cacing usus pada murid sekolah dasar wajib belajar pelayanan gerakan terpadu pengentasan kemiskinan daerah kumuh di wilayah DKI Jakarta. Jurnal Ekologi Kesehatan. 2008 Agustus:7(2):769-774

5. Chadijah, Sumolang, et al. Hubungan Pengetahuan, Prilaku, dan Sanitasi lingkungan dengan angka kecacingan pada anak sekolah dasar di kota Palu. Media Litbangkes. 2014 Maret:24(1):50-56

6. Riwayati. Prevalensi kecacingan Ascaris lumbricoides pada anak sekolah dasar di desa Nelayan Indah, Kecamatan Medan Labuhan. Jurnal Keluarga Sehat Sejahtera. 2013 Juni:11(21):29-34

7. Hairani B, Juhairiyah, et al. Prevalensi soil transmitted helminth (sth) pada anak sekolah dasardi Kecamatan Malinau Kota Kabupaten Malinau Provinsi KalimantanTimur. Jurnal Buski. 2014 Juni:5(1):43-48

8. Pulgundadi BU, Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kecacingan yang disebabkan oleh Soil-transmitted Helminth di Indonesia. 2010 Desember. Available from medline:

http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/jurnal/Vol%20Edisi%20Khusus%20Desember%2 02010/FAKTOR%20YANG%20MEMPENGRUHI%20KEJADIAN%20KECACINGAN .pdf

9. Yuliyanto E, Hubungan higinesanitasi dengan kejadian penyakit cacingan pada siswa sekolah Dasar negeri Rowosari 01 Kecamatan Tembelang kota Surabaya Tahun ajaran 2006-2007. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat UNNES. 2007

10. Ching CW. Kontaminasi Tanaholeh Soil Transmitted Helminthes di Dusun II, Desa Sidomulyo, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara Tahun 2010. Skripsi.

Fakultas Kedokteran USU. 2013

11. Sayono. Infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah pada anak sekolah dasar di perkotaan dan pedesaan di wilayah kerja puskesmas ungaran 1. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia. 2003 Maret:1(1):8-14

12. Darlan, Siahaan L, et al. Pencemaran tanah oleh soil-transmitted helminth di kelurahan Baru Ladang Bambu Kecamatan Medan Tuntungan. Karya ilmiah. Fakultas Kedokteran USU. 2003

13. Center of desease control and prevention. Parasites-Ascariasis. . Center of desease control and prevention; 2013

14. Suriptiastuti, Infeksi soil-transmitted helminth : Ascariasis, Trichiuriasis, dan cacing tambang. Universa medica, 2006 Juni. 25(2):85-93

15. Laula, Koesdarto S, Atik M. Karakterisasi protein excretory secretory larva stadium kedua dorman terhadap antibodianti-larva stadium kedua Toxocara canis dengan teknik Western blot. Jurnal online Fakultas Kedokteran Hewan Univeritas Airlangga. 2007. Juli Available Form :

16. Hubner, J., M. Leissova. 2001. Diagnosis of the early phase of larval toxocariasis using IgGavidity. Epidemol Mikrobiol Imunol. Apr; 50(2); 67-70

http://journal.unair.ac.id/filerPDF/16.%20Toxocara%20canis.pdf

17. Kemenkes RI direktorat jendral PP dan PL. Pedoman pengendalian kecacingan.

Kemenkes RI direktorat jendral PP dan PL; 2012

18. Mardiana L, Agustina, N. Riris, Djarismawati, et al.. Telur Ascaris lumbricoides pada Tinja dan Kuku Anak Balita serta Tanah di Kecamatan Paseh, Kabepaten Bandung, Jawa Barat. Maj. Parasitol Ind. 2000:13(1-2): 28-32.

19. Tjitra E., Penelitian-penelitian "Soil-Transmitted Helminth." di Indonesia. 1991.

Available from scribd:

http://www.scribd.com/doc/29835171/Cdk-072-Sanitasi-DanKesehatan

20. Fitri J, Saam, Hamidy, et al. Analisis faktor-faktor resiko infeksi kecacingan murid sekolah dasar di Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jurnal Ilmu Lingkungan. 2012:6 (2).

.

21. Sofiana L. Hubungan perilaku dengan infeksi soil-transmitted helminth pada anak sekolah dasarmi asas islam Kalibening , Salatiga. Jurnal Kesmas Uad. 2010 Juni 4(2):76 – 143

22. Andini A, Suarsini E, Rahayu SE. Pevalensi kecacingan soil transmitted helminth (sth) pada siswa sdn 1 kromengan, Kabupaten Malang. Jurnal online Universitas Negri Malang.

Available from :

.

http://jurnalonline.um.ac.id/data/artikel/artikel960DE0C44A7C9D5D0F24 CCD873D1268A.pdf

LAMPIRAN 1

CURRICULUM VITAE

Nama : Muhammad Rizqi Saleh

Tempat dan Tanggal Lahir : Medan, 19 September 1995

Agama : Islam

Alamat : Jalan Dolok Sanggul No 1, Medan Nomor Telepon : 081262947683

Nama Orang Tua 4. Sekolah Menengah Atas Swasta Shafiyyatul Amaliyyah Medan 2011-2013 5. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 2013- sekarang Riwayat Pelatihan :

1. Peserta PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) FK USU Tahun 2013 2. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) FK USU Tahun 2013

3. Peserta LKMM Lokal PEMA FK USU Tahun 2013

4. Peserta Seminar Dokter Keluarga dan Workshop Sirkumsisi

SCOPH PEMA FK USU Tahun 2013

Riwayat Organisasi :

1. Anggota Divisi Minat dan Bakat PEMA FK USU 2014

2. Anggota Divisi Infokom dan Eksternal PEMA FK USU 2015 3. Anggota Divisi Dana dan Usaha SCOPH PEMA FK USU 2015-2016 4. Anggota Divisi Wirausaha PEMA FK USU 2016

LAMPIRAN 2

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBYEK PENELITIAN

Assalamualaikum Wr Wb/Salam Sejahtera Dengan Hormat,

Nama Saya Muhammad Rizqi Saleh sedang menjalani pendidikan Kedokteran di Program S1 Ilmu Kedokteran FK USU. Saya sedang melakukan penelitian yang berjudul “Kontaminasi tanah oleh Soil-Transmitted Helminthes di lapangan Sei Semayang, Desa Mulyo Rejo, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Tahun 2016”.

Helmintiasis (kecacingan) menurut World Health Organization adalah infestasi satu atau lebih cacing parasit usus yang terdiri dari golongan nematoda usus. Nematoda usus yang ditularkan melalui tanah disebut juga soil transmitted helminths (STH) Berbagai jenis cacing usus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan sering dijumpai di Indonesia.

Di dunia lebih dari 1,5 miliyar orang, atau 24% penduduk dunia, telah terinfeksi oleh STH.

Infeksi tersebar di daerah tropis dan sub tropis. Angka terbesar terjadi di sub-Saharan Africa, Amerika, China dan Asia timur. Di Indonesia sendiri anak-anak yang terinfeksi soil transmited helminth (STH) menembus angka 59 juta kasus. Penelitian di daerah Medan marelan menemukan masih tingginya angka kecacingan khususnya Ascaris lumbricoides.

Ditemukan 94% telur cacing pada satu gram sample tinja anak, yang didominasi oleh telur Ascaris lumbricoides sebanyak 98%

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kontaminasi tanah oleh Soil-Transmitted Helminths di lapangan Sei Semayang, Desa Mulyo Rejo, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang tahun 2016. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah menambah pengetahuan masyarakat dalam usaha pencegahan infeksi cacing, sebagai informasi dan bahan masukan dalam usaha pencegahan cacingan bagi dinas kesehatan Kabupaten Deli Serdang, dan menambah pengetahuan dalam melaksanakan penelitian khususnya tentang hubungan factor-faktor dan kegiatan manusia sebagai penyebab terjadinya kontaminasi oleh Soil-Transsmited Helminth yang meningkatkan prevalensi infeksi cacing.

Saya akan melakukan pengambilan sample tinja pada anak-anak anggota SSB Sei Semayang.

Pengambilan sample akan dilakukan sekitar 1 hari. Petugas pengambilan sample adalah peneliti.

Partisipasi adik-adik bersifat sukarela dan tanpa paksaan dan dapat mengundurkan diri sewaktu-waktu. Setiap data yang ada dalam penelitian ini akan dirahasiakan dan digunakan untuk kepentingan penelitian. Untuk penelitian ini adik-adik tidak akan dikenakan biaya apapun. Bila adik-adik membutuhkan penjelasan, maka dapat menghubungi Saya:

Nama : Muhammad Rizqi Saleh Alamat: Jalan Dolok Sanggul No 1

No. HP.: 081262947683

Terima kasih saya ucapkan kepada adik-adik yang telah ikut berpartisipasi pada penelitian ini. Keikutsertaan adik-adik dalam penelitian ini akan menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi ilmu pengetahuan.

Setelah memahami berbagai hal yang menyangkut penelitian ini diharapkan adik-adik mengisi lembar persetujuan yang telah kami persiapkan.

Medan, 2016

Peneliti

(Muhammad Rizqi Saleh)

LAMPIRAN 3

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN

(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama :

Nama Orang Tua :

Umur :

Alamat :

Telp/HP :

Setelah mendapat penjelasan dari peneliti tentang Penelitian “Kontaminasi tanah oleh Soil-Transmitted Helminthes di lapangan Sei Semayang, Desa Mulyo Rejo, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Tahun 2016”, maka dengan ini saya secara sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bersedia ikut serta dalam penelitian tersebut. Dan dapat mengundurkan diri sewaktu-waktu.

Demikianlah surat pernyataan ini untuk dapat dipergunakan seperlunya.

Medan, ...2016

LAMPIRAN 4

Lampiran 5

Lampiran 6

Dokumen terkait