HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1.Letak, Luas dan Batas
a. Letak
Secara administratif Kawasan Kampung Batik Laweyan merupakan satu kawasan yang terdapat di Kelurahan Laweyan. Kelurahan Laweyan merupakan salah satu Kelurahan yang ada di Kecamatan Laweyanyang terletak antara 7°34’06” LS sampai 7°34’20” LS dan 110°47’25” BT sampai 110°47’52” BT. b. Luas
Luas Kelurahan Laweyan adalah 29,267 Ha dan jumlah penduduknya kurang lebih 2.615 jiwa. Secara administratif Kelurahan Laweyan terdiri atas 8 kampung, yaitu Kampung Kwanggan, Kampung Kramat, kampung Sayangan Kulon, Kampung Sayangan Wetan, Kampung Setono, Kampung Lor Pasar, Kampung Kidul Pasar, Kampung Klaseman. Kelurahan Laweyan terdiri dari 3 RW dan 12 Rukun Tetangga (RT).
c. Batas
Batas wilayah penelitian yaitu Kampung Batik Laweyan, berada di Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan kota Surakarta. Kampung Batik Laweyan adalah sebuah kampung dagang dan pusat industri batik, yang perkembangannya mulai sejak awal abad 20. Kampung tersebut terletak di sebelah barat, kurang lebih 4 kilometer dari pusat Kota Surakarta.
Kawasan Laweyan terletak pada pinggiran kota Surakarta, yang apabila ditinjau dari struktur kotanya merupakan suatu kantong (enclave), secara administrarif termasuk dalam Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan
Kelurahan Laweyan secara administratif berbatasan dengan: 1. Sebelah Utara : Kelurahan Sondakan
2. Sebelah Selatan : Kabupaten Sukoharjo 3. Sebelah Barat : Kelurahan Bumi
commit to user
2. Kampung Batik Laweyan a. Sejarah
Kampung Laweyan merupakan kawasan sentra industri batik yang unik, spesifik dan bersejarah. Berdasarkan sejarah yang ditulis oleh Mlayadipuro, desa Laweyan (kini wilayah Kalurahan / Kampung Laweyan) sudah ada sebelum munculnya kerajaan Pajang. Sejarah kawasan Laweyan barulah berarti setelah Kyai Ageng Anis bermukim di desa Laweyan pada tahun 1546 M, tepatnya di sebelah utara pasar Laweyan (sekarang Kampung Lor Pasar Mati) dan membelakangi jalan yang menghubungkan antara Mentaok dengan desa Sala (sekarang jalan Dr. Rajiman). Kyai Ageng Anis adalah putra dari Kyai Ageng Selo yang merupakan keturunan raja Brawijaya V. Kyai Ageng Anis atau Kyai Ageng Laweyan adalah juga manggala pinituwaning nagara kerajaan Pajang semasa Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang pada tahun 1546 M. Setelah Kyai Ageng Anis meninggal dan dimakamkan di pesarean Laweyan (tempat tetirah Sunan Kalijaga sewaktu berkunjung di desa Laweyan), rumah tempat tinggal Kyai Ageng Anis ditempati oleh cucunya yang bernama Bagus Danang atau Mas Ngabehi Sutowijaya. Sewaktu Pajang dibawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) pada tahun 1568 Sutowijaya lebih dikenal dengan sebutan Raden Ngabehi Loring Pasar (pasar Laweyan). Kemudian Sutowijaya pindah ke Mataram (Kota Gede) dan menjadi raja pertama Dinasti Mataram Islam dengan sebutan Panembahan Senapati yang kemudian menurunkan raja-raja Mataram. Masih menurut RT. Mlayadipuro pasar Laweyan dulunya merupakan pasar lawe (bahan baku tenun) yang sangat ramai. Bahan baku kapas pada saat itu banyak dihasilkan dari desa Pedan, Juwiring dan Gawok yang masih termasuk daerah kerajaan Pajang. Adapun lokasi pasar Laweyan terdapat di desa Laweyan (sekarang terletak diantara kampung Lor Pasar Mati dan Kidul Pasar Mati serta di sebelah timur kampung Setono). Di selatan pasar Laweyan, di tepi sungai Kabanaran, terdapat sebuah bandar besar yaitu bandar Kabanaran. Melalui bandar dan sungai Kabanaran tersebut pasar Laweyan terhubung ke bandar besar Nusupan di tepi sungai Bengawan Solo. Pada zaman sebelum kemerdekaan kampung Laweyan pernah memegang peranan penting dalam
commit to user
kehidupan politik terutama pada masa pertumbuhan pergerakan nasional. Sekitar tahun 1911 Serikat Dagang Islam (SDI) berdiri di kampung Laweyan dengan Kyai Haji Samanhudi sebagai pendirinya. Dalam bidang ekonomi para saudagar batik Laweyan juga merupakan perintis pergerakan koperasi dengan didirikannya “Persatoean Peroesahaan Batik Boemipoetra Soerakarta (PPBBS) pada tahun 1935 (Priyatmono :2004).
b. Sosial Budaya
Pada tanggal 8 Januari tahun 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir Jero Wacik, S.E menetapkan bahwa Kawasan Kampung Batik Laweyan yang berlokasi di wilayah Provinsi Jawa Tengah sebagai kawasan cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia no 5 tahun 1992 tentang cagar budaya.
Kelurahan Laweyan sebelum menjadi Kampung Batik Laweyan awalnya adalah pemukiman yang sebagian besar warganya menggeluti industri tenun, lalu menjadi industri Batik. Kampung Laweyan kembali tenar di awal abad ke 20, kala itu industri batik tumbuh pesat, hingga melahirkan para saudagar yang kekayaanya melebihi kaum bangsawan keraton. Di tahun 1930–an jumlah industri batik di solo mencapai 230an dan sebagian besar berada di Laweyan. Tiap tahun Laweyan memproduksi tidak kurang 60.400 potong batik.
Masyarakat Laweyan terdiri dari beberapa kelompok, Kelompok Saudagar (pedagang), wong cilik (orang kebanyakan), wong mutihan (muslim) dan priyayi (bangsawan). Saudagar yang paling dominan adalah saudagar Batik. Selain itu dikenal pula golongan saudagar atau juragan batik dengan pihak wanita sebagai pemegang peranan penting dalam menjalankan roda perdagangan batik yang biasa disebut dengan istilah mbok mase atau nyah nganten. Sedang untuk suami disebut mas Nganten sebagai pelengkap utuhnya keluarga (Priyatmono :2004).
commit to user
c. Karakteristik Bangunan Di Kampung Batik Laweyan
Masyarakat Laweyan bukanlah keturunan bangsawan, tetapi karena mempunyai hubungan yang erat dengan kraton melalui perdagangan batik serta didukung dengan kekayaan yang ada, maka corak pemukiman khususnya milik para saudagar batik banyak dipengaruhi oleh corak pemukiman bangsawan Jawa. Bangunan rumah saudagar terdiri dari pendopo, ndalem, senthong, gandok, pavilion, pabrik, regol dan halaman depan cukup luas dengan orientasi bangunan menghadap utara selatan. Hampir tiap rumah memiliki pintu kecil sebagai butulan. Pintu ini menghubungkan dengan lainnya untuk akses silaturahmi selalu terjaga. Selain pintu butulan beberapa rumah saudagar terdapat bunker bawah tanah, fungsinya untuk sembunyi dari serangan musuh. Rumah saudagar mempunyai dinding dari tembok setebal 2 batu (sebagai penyangga atap) sedang rumah buruh biasanya merupakan kombinasi batu bata dan papan (kotangan). Bangunan rumah saudagar mempunyai tata ruang Jawa tetapi tidak sepenuhnya diikuti, sedangkan bentuk bangunan sudah banyak dimodifikasi dengan bangunan dari luar negeri, baik yang bergaya Belanda maupun gaya Spanyol. Atap bangunan kebanyakan menggunakan atap limasan bukan joglo karena bukan keturunan bangsawan (Widayati dalam Priyatmono, 2004).
Dalam perkembangannya sebagai salah satu usaha untuk lebih mempertegas eksistensinya sebagai kawasan yang spesifik, arsitektur rumah tinggal di Kawasan Laweyan banyak dipengaruhi oleh corak permukimn bangsawan Jawa yang dipadu dengan pengruh arsitektur kolonial (Eropa) yang dikenal dengan arsitektur Indiesch dengan façade sederhana, berorientasi ke dalam, fleksibel, berpagar tinggi lengkap dengan lantai yang bermotif karpet khas Timur Tengah.
Keberadaan “benteng” tinggi yang banyak memunculkan gang-gang sempit dan
merupakan ciri khas Laweyan selain untuk keamanan juga merupakan salah satu usaha para saudagar untuk menjaga privacy dan memperoleh daerah “kekuasaan” di lingkungan komunitasnya. (Priyatmono :2004)
commit to user
Gambar 4. Denah Rumah Laweyan (Priyatmono,2004:2)
Untuk lebih jelasnya mengenai daerah administrasi Kelurahan Laweyan dapat dilihat pada peta 1.
commit to user
50 3. Keadaan Penduduk
Untuk memberikan gambaran umum mengenai keadaan penduduk di Kelurahan Laweyan, berikut ini dikemukakan data mengenai jumlah penduduk, kepadatan penduduk serta komposisi penduduk.
a. Jumlah Penduduk
Berdasarkan data monografi Kelurahan Laweyan, jumlah penduduk Laweyan bulan Mei tahun 2011 adalah 2615 jiwa, meliputi 1231 laki-laki dan 1384 perempuan.
b. Kepadatan Penduduk
Tingkat kepadatan penduduk suatu daerah merupakan perbandingan antara luas daerah secara keseluruhan dengan jumlah penduduk di daerah yang bersangkutan, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut :
Kepadatan Penduduk =
Kepadatan penduduk di Kecamatan Jebres sebagai berikut : Kepadatan penduduk =
= 9017 jiwa
Mantra (1985: 35) mengklasifikasikan kepadatan penduduk aritmatik pada suatu daerah sebagai berikut :
Tabel 4. Klasifikasi Tingkat Kepadatan Penduduk No Kepadatan Penduduk(Jiwa/Km2) Keterangan 1 <101 Sangat Rendah 2 101 – 500 Rendah 3 501 – 1000 Sedang 4 1001 – 2000 Tinggi 5 2001 – 3000 Sangat Tinggi 6 >3000 Tinggi Sekali
Sumber: Data Monografi Kelurahan Laweyan Bulan Mei Tahun 2011
Jumlah penduduk Luas Wilayah
2615 jiwa 0.2926 km2
commit to user
Berdasarkan rumus dan perhitungan kepadatan penduduk di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepadatan penduduk di Kelurahan laweyan termasuk dalam kriteria kepadatan penduduk kelompok 6 atau tinggi sekali dengan kepadatan penduduk yaitu sebesar 9017 Jiwa/Km2.
c. Komposisi Penduduk
Komposisi penduduk adalah gambaran susunan penduduk yang dibuat berdasarkan pengelompokan penduduk menurut karakteristik yang sama.
1) Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin adalah variabel yang penting dalam sebuah kependudukan untuk mengetahui jumlah penduduk belum produktif, produktif maupun yang sudah tidak produktif lagi. Untuk mengetahui secara rinci komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin di Kelurahan Laweyan dapat dilihat pada tabel
Tabel 5. Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin Di Kelurahan Laweyan Bulan Mei Tahun 2011
Sumber: Data Monografi Kelurahan Laweyan Bulan Mei Tahun 2011 Kel Umur
(Tahun)
Laki-laki Perempuan Jumlah
0 - 4 62 47 109 5 - 9 69 88 157 10 - 14 124 199 323 15 – 19 151 152 303 20 – 24 145 151 296 25 – 29 152 152 304 30 – 39 156 168 324 40 – 49 147 166 313 50 – 59 161 159 320 60 + 60 89 149 Jumlah 1231 1384 2615
commit to user
Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kelurahan Laweyan yang terbesar menurut umur adalah kelompok umur 30 - 39 tahun yaitu sebesar 324 jiwa dan terendah adalah kelompok umur 0 – 4 tahun yaitu sebesar 109 jiwa.
Jika dilihat dari jenis kelamin maka jumlah penduduk antara golongan laki-laki dan perempuan rata-rata hampir sama. Meskipun jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini:
Tabel 6. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Di Kelurahan Laweyan Tahun 2011
NO Jenis Kelamin Jumlah
Jiwa %
1 Laki-laki 1231 47,08
2 Perempuan 1384 52,92
Jumlah 2615 100.00
Sumber: Data Monografi Kelurahan Laweyan Bulan Mei Tahun 2011
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa penduduk di Kelurahan Laweyan antara laki-laki dan perempuan lebih banyak penduduk perempuan yaitu sebesar 1384 jiwa (52,92%), sedangkan penduduk laki-laki sebesar 1231 (47,08%). Dari data tersebut dapat diketahui pada besarnya jenis kelamin atau Sex Ratio (SR) yaitu perbandingan antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan. Perhitungan Sex Ratio dirumuskan sebagai berikut:
Sex Ratio (SR) = a/b x 100 Keterangan :
SR = Rasio Jenis Kelamin a = Jumlah Penduduk Laki-laki b = Jumlah Penduduk Perempuan
Dengan rumus di atas dapat dihitung besarnya rasio jenis kelamin penduduk di Kelurahan laweyan sebagai berikut :
commit to user Sex Ratio (SR) = 1231 / 1384 x100
= 88.9
Dari hasil perbandingan di atas, maka dapat diperoleh bahwa Sex Ratio 89, ini berarti bahwa untuk setiap 89 penduduk laki-laki sebanding dengan 100 penduduk perempuan. Apabila angka tersebut jauh di bawah 100, dapat menimbulkan masalah karena ini berarti di daerah tersebut kekurangan penduduk laki-laki, akibatnya antara lain kekurangan tenaga laki-laki untuk melaksanakan pembangunan.
Rasio jenis kelamin dapat pula dibuat berdasarkan kelompok umur. Berikut akan disajikan rasio jenis kelamin (sex ratio) penduduk Kelurahan Laweyan menurut kelompok umur tahun 2011.
Tabel 7. Rasio Jenis Kelamin Penduduk di Kelurahan Laweyan Tahun 2011
Sumber: Data Monografi Kelurahan Laweyan Bulan Mei Tahun 2011 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa untuk keseluruhan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding jumlah penduduk laki- laki, sehingga secara total SR (Sex Ratio) lebih kecil dari 100.
Kel Umur (Tahun) Laki-laki (jiwa) Perempuan (jiwa) Rasio Jenis Kelamin (%) 0 - 4 62 47 131.9 5 – 9 69 88 78.4 10 – 14 124 199 62.3 15 – 19 151 152 99.3 20 – 24 145 151 96 25 – 29 152 152 100 30 – 39 156 168 92.8 40 – 49 147 166 88.5 50 – 59 161 159 101.2 60 + 60 89 67.4 Jumlah 1231 1384 88.9
commit to user
2) Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan adalah pengelompokan penduduk berdasarkan pendidikannya, baik mereka yang belum sekolah maupun yang sudah lulus perguruan tinggi. Komposisi penduduk menurut pendidikan digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran penduduk terhadap dunia pendidikan. Berikut ini disajikan data komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan di Kelurahan Laweyan. Tabel 8. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2011
NO Pendidikan Jumlah 1 Tamat Akademi/Sarjana 394 2 Tamat SLTA 546 3 Tamat SLTP 438 4 Tamat SD 149 5 Tidak Tamat SD 277 6 Belum Tamat SD 282 7 Tidak Sekolah 229 Jumlah 2315
Sumber: Data Monografi Kelurahan Laweyan Bulan Mei Tahun 2011 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang tamat Perguruan tinggi yaitu 394 orang, walaupun jumlahnya tidak sebanyak penduduk yang tamat SLTA yaitu 546 orang dan SLTP yaitu 438 orang, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Laweyan berkembang serta tingkat perekonomian dan kesejahteraan cukup baik.
3) Komposisi Penduduk Menurut Mata Pancaharian
Komposisi penduduk menurut mata pencaharian dapat dilihat pada tabel 9 berikut:
commit to user
Tabel 9. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Tahun 2011 NO Mata Pencaharian Jumlah
1 Petani Sendiri - 2 Buruh Tani - 3 Nelayan - 4 Pengusaha 60 5 Buruh Industri 200 6 Buruh Bangunan 150 7 Pedagang 50 8 Pengangkutan 75 9 Pegawai Negeri (Sipil/ABRI) 20 10 Pensiunan 28 11 Lain-lain 1111 JUMLAH 1694
Sumber: Data Monografi Kelurahan Laweyan Bulan Mei Tahun 2011 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa buruh industri adalah mata pencaharian yang paling banyak digeluti masyarakat Laweyan yaitu sebagai buruh industri sebanyak 200 orang. Hal ini dikarenakan Laweyan sebagai sentra industri batik yang setiap harinya banyak memproduksi kain batik sehingga membutuhkan banyak tenaga buruh.
Mata pencaharian sebagai pengusaha sebanyak 60 orang, hal ini dikarnakan banyak masyarakat Laweyan mempunyai usaha industri batik, biasanya industri batik yang dipunyai merupakan usaha keluarga yang diturunkan ke anak-anaknya.
4) Komposisi Penduduk Menurut Agama
Komposisi penduduk menurut agama dapat dilihat pada tabel berikut:
commit to user
Tabel 10 Komposisi Penduduk Menurut Agama Tahun 2011
NO Agama Jumlah 1 Islam 2433 2 Kristen Katolik 99 3 Kristen Protestan 75 4 Budha 5 5 Hindu 3 Jumlah 2615
Sumber: Data Monografi Kelurahan Laweyan Bulan Mei Tahun 2011 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa agama Islam merupakan agama yang paling banyak dianut penduduk Laweyan, sedangkan agama Kristen Katolik di urutan kedua yaitu 99 orang, agama Kristen Protestan yaitu 75 orang, agama Budha yaitu 5 orang dan jumlah terkecil adalah agama Hindu yaitu 3 orang. Banyaknya masyarakat Laweyan yang beragama Islam tidak lepas dari sejarah Laweyan sendiri yang merupakan cikal bakal dari kerajaan Mataram.
commit to user