METODE PENELITIAN
3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di SMA Swasta Taman Siswa, Jl. Deblod Sundoro No 9, Kelurahan Rambung, Kecamatan Tebing Tinggi Kota, Tebing Tinggi.
3.1.1 Sejarah Singkat Perguruan Taman Siswa
Taman siswa merupakan sebuah perguruan yang bercorak nasional yang pertama kali berdiri di Indonesia, perguruan ini berdiri pada tanggal 3 juli 1922 dan didirikan oleh seorang keturunan kraton Yogyakarta yang bernama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang kemudian saat genap berumur 40 tahun beliau mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, pergantian nama ini dimaksudkan agar beliau lebih dekat dengan rakyatnya.
Pendidikan Taman Siswa dilaksanakan berdasar Sistem Among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Dalam sistem ini setiap pendidik harus meluangkan waktu
sebanyak 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan kepada anak didik sebagaimana orang tua yang memberikan pelayanan kepada anaknya.
Sistem Among tersebut berdasarkan cara berlakunya disebut Sistem Tut Wuri Handayani. Dalam sistem ini orientasi pendidikan adalah pada anak didik, yang dalam terminologi baru disebut Student Centered. Di dalam sistem ini pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan potensi apa yang perlu dikembangkan pada anak didik, bukan pada minat dan kemampuan apa yang dimiliki oleh pendidik. Apabila minat anak didik ternyata akan ke luar “rel” atau pengembangan potensi anak didik di jalan yang salah maka pendidik berhak untuk meluruskannya.
Untuk mencapai tujuan pendidikannya, Taman Siswa menyelanggarakan kerja sama yang selaras antar tiga pusat pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Pusat pendidikan yang satu dengan yang lain hendaknya saling berkoordinasi dan saling mengisi kekurangan yang ada. Penerapan sistem pendidikan seperti ini yang dinamakan Sistem Trisentra Pendidikan atau Sistem Tripusat Pendidikan.
Pendidikan Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu Kodrat Alam (memperhatikan sunatullah), Kebudayaan (menerapkan teori Trikon), Kemerdekaan (memperhatikan potensi dan minat maing-masing indi-vidu dan kelompok), Kebangsaan (berorientasi pada keutuhan bangsa dengan berbagai ragam suku), dan Kemanusiaan (menjunjung harkat dan martabat setiap orang).
3.1.2 Sejarah Singkat SMA Taman Siswa Tebing Tinggi
Sebelum tahun 1932, Taman Siswa Tebing Tinggi dibawah naungan pergrakan nasional Budi Utomo. Namun dengan keyakinan penuh terhadap figure pemimpin Taman Siswa pada ketika itu di Tebing Tinggi, maka diserahkanlah Budi Utomo ke Yayasan Perguruan Taman Siswa Pada tanggal 5 Januari 1932. Sejak itu diangkat dan dipilih ketua perguruan pertama yang bernama Ki Kartijan. Pada masa bakti periode ini terlihat bahwa terjadi peralihan dari organisasi pergerakan berubah menjadi kegiatan pendidikan yang mendasar, akhirnya perguruan Taman Siswa Tebing Tinggi semakin dikenal sebagai lembaga pendidikan rakyat.
Pada tahun 1939 terjadi peralihan pimpinan kedua kepada Ki Sudarminto yang melewati periode selama lima tahun (1939-1943) artinya secara organisasi kecukupan masa periode terpenuhi setelah Jepang masuk ke Indonesia tampuk pimpinan dilarikan kepada pemuda potensi pada ketika itu yang bernama Ki Deblod Sundoro, namun sayang pada tanggal 13 Desember 1945 Ki Deblod Sundoro terbunuh oleh Jepang bersama teman pemuda lainnya. Masa kekelaman di Tebing Tinggi berlangsung cukup lama sehingga terjadi kekosongan pucuk pimpinan. Melalui kebijakan organisasi dilakukan pemilihan dan mengangkat Ki Rasyid Syafii pada tahun 1947. Selama dua periode sampai 1957 dan terjadi kekisruhan organisasi dan akhirnya diambil alih oleh pembimbing Subariah yaitu Ki Sugondo Kartoprdjo dari Medan selama 2 tahun (1957-1959) selanjutnya periode 1960-1971 dipimpin oleh Ki Mugiono dan terjadi perkembangan pesat dengan didirikan bagian STM, SMEA, TK, sebagai pelengkap.
Melalui kegiatan pendidikan dapatlah dirasakan oleh masyarakat bahwa Taman Siswa adalah satu-satunya perguruan Nasional yang dapat memenuhi tuntutan pendidikan di Tebing Tinggi. Selanjutnya Ki Mugiono dipromosikan sebagai pengurus majelis Luhur di Yogyakarta maka terjadi peralihan pimpinan kepada Ki Syahlan selama satu periode 1992-1997. Pimpinan berikutnya beralih kepada Ki Djalmardi selama 5 tahun (1997-2001). Pada masa peride ini Perguruan Taman Siswa Tebing Tinggi menjadi perguruan terbesar di seluruh cabang Taman Siswa Di Indonesia dengan jumlah siswa kurang lebih 6000 orang. Jumlah siswa terbesar selanjutnya pada periode zaman pimpinan Ki Muhammad Ardi (2001-2006) yang didominasi oleh siswa SMA Taman Madya dengan jumlah kelas 33. Artinya kedua masa periode diatas dianggap sebagai masa kejayaan perguruan Taman siswa Tebing Tinggi.
Pada akhir tahun periode selanjutnya masa staknan dan menjadi pertukaran pimpinan baru kepada Ki Darman (2006-2013) dengan adanya regulasi pemerintah maka berdampak kepada perjalanan Perguruan Swasta di Seluruh Indonesia dan Perguruan Taman Siswa mendapat akibatnya . Sekarang, selama 2012 pucuk pimpinan kembali dipegang alih oleh Ki Mhd Ardi sampai saat ini dengan kegiatan pendidikan yang bersahaja. Mudah-mudahan dengan
keinginan keras untuk menyumbangkan andil pendidikan kepada masyarakat Perguruan Taman Siswa dapat bertahan melalui visi misinya.
3.1.3 Visi SMA Swasta Taman Siswa Tebing Tinggi
SMA Swasta Taman Siswa Tebing Tinggi memiliki visi, yaitu “Unggul dalam prestasi akademik (Intelligence Quotent), keterampilan emosional (Emotional Quotent), dan berakhlak mulia”.
3.1.4 Misi SMA Swasta Taman Siswa Tebing Tinggi
Misi SMA Swasta Taman Siswa Tebing Tinggi ialah, sebagai berikut : - Meningkatkan pembelajaran dan bimbingan secara terus menerus serta
mendorong dan membantu siswa berbakat berdasarkan kemampuan dan bakat pribadi.
- Menumbuhi kembangkan semangat dibidang olahraga, kesenian, ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
- Menerapkan manajemen parsiatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah, komite sekolah, alumni dan masyarakat.
- Meningkatkan pendidikan kecakapan vokasional, keterampilan mengetik, computer, agronomi, tata boga dan administrasi.
- Mengembangkan sikap untuk mampu berjuan dalam persaingan IPTEK secara nasional/ internasinal dengan mempedomani budaya bangsa beriman serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Mempersiapkan tenaga yang terampil dan berkompetensi siap dalam berkompetisi di era globalisasi
- Menjadikan rintisan sekolah yang berstandard nasional (SSN).