Tingginya stok modal sosial masyarakat dicirikan oleh adanya rasa percaya, tingginya kepadatan jaringan kerja, ikatan masyarakat yang kuat, pertukaran informasi, tingginya frekwensi kegiatan bersama, serta kepatuhan terhadap norma bersama untuk mewujudkan harapan bersama dan menghindari sifat oportunistik individu. Selain indikator tersebut, tingginya partisipasi masyarakat pada setiap kegiatan bersama, tingkat toleransi, tingkat heterogenitas etnis dan tingkat kriminalitas juga merupakan indikator modal sosial dalam suatu masyarakat (Stone,2001).
Meningkatnya konflik horisontal dan vertikal yang terjadi sekarang ini di Indonesia, yang ditunjukkan dengan meningkatnya intensitas dan frekwensi kerusuhan antar warga masyarakat dalam suatu wilayah baik antar etnis, suku, agama maupun antara masyarakat dengan aparat pemerintah mengindikasikan mulai terjadinya pelemahan sosial kapital di Indonesia. Ini dikonfirmasi oleh Dharmawan (2002) yang menyatakan bahwa reformasi di Indonesia diikuti oleh pemiskinan rasa percaya yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat perdesaan (97.10) persen di Gorontalo memiliki rasa percaya yang tinggi pada tetangga. Karakteristik masyarakat desa yang saling mengenal satu sama lain dan adanya budaya gotong royong “huyula” menjadi salah satu faktor pendorong tingginya kepercayaan masyarakat perdesaan Gorontalo. Interaksi yang tinggi dan kebiasaan saling sapa antar anggota masyarakat memungkinkan hal ini terjadi.
Rasa percaya merupakan bagian dari karakteristik individu, yang mencakup optimisme, keyakinan pada kerjasama, bahwasannya individu dapat menerima perbedaan dan hidup bersama dengan penuh kedamaian.
Gambar 14 Tingkat kepercayaan masyarakat perdesaan di Provinsi Gorontalo tahun 2014
Masyarakat Gorontalo sebagian besar beragama islam ( 96.82 persen ) dan sebagian besar merupakan etnis Gorontalo. Sebanyak 94.60 persen responden
menyatakan bahwa mereka percaya pada sesama etnis sedangkan kepercayaan kepada etnis lain hanya sebesar 84.80 persen. Rasa percaya yang tinggi ini disatu sisi sangat membantu masyarakat desa karena rasa percaya yang tinggi dapat mendorong interaksi yang lebih intensif antar anggota masyarakat sehingga dapat menekan biaya transaksi.
Rasa percaya masyarakat pada pemerintah dan tokoh agama relatif tinggi yaitu masing-masing 95.40 dan 95.60 persen namun rasa percaya pada aparat keamanan relatif lebih rendah hanya 92.40 persen. Keadaan keamanan dan banyaknya konflik horisontal dan vertikal yang terjadi selama ini menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan kurang tinggi dibandingkan pada tokoh agama.
Gambar 15 Jaringan kerja masyarakat perdesaan di Provinsi Gorontalo, tahun 2014
Komponen lain dari modal sosial yang diamati dalam penelitian ini adalah jaringan kerja yang dilihat melalui keterlibatan atau partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan baik untuk kepentingan umum, keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Pada umumnya masyarakat perdesaan Gorontalo aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan baik untuk kepentingan umum, keagamaan dan kemasyarakatan. Ini dibuktikan bahwa lebih 60 persen masyarakat terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut.
Keterbatasan organisasi yang tersedia di desa menyebabkan keterlibatan masyarakat menjadi sangat terbatas. Keterlibatan masyarakat dalam organisasi hanya sebatas pada organisasi keagamaan dan kelompok tani. Tidak berkembangnya organisasi disebabkan karena masyarakat perdesaan Gorontalo umumnya adalah petani sehingga keterlibatan masyarakat hanya terbatas pada kelompok tani sebagai wadah organisasi masyarakat dalam menerima dan berbagi informasi terkait dengan pertanian untuk mencapai tingkat ekonomi yang lebih baik.
Komponen ketiga dari modal sosial yang diamati dalam penelitian ini adalah norma saling bantu. Kehidupan sosial masyarakat Gorontalo dibatasi oleh
norma-norma yang tersusun dari aturan adat tertulis maupun tidak tertulis. Aturan
adat “Huyula” yang mengharuskan masyarakat saling tolong menolong dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan baik kehidupan sosial maupun dalam aspek ekonomi masih diterapkan oleh masyarakat Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat perdesaan Gorontalo memiliki rasa kepedulian yang tinggi dengan tetangga sekitarnya. Ini dibuktikan dengan kesiapan membantu orang yang memerlukan bantuan. Hal ini juga terkonfirmasi dimana sebanyak 84.00 persen masyarakat desa Gorontalo mudah mendapat pertolongan dari orang lain terutama dari orang disekitar mereka.
Gambar 16 Norma masyarakat perdesaan di Provinsi Gorontalo, tahun 2014
Modal Sosial Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato
Secara umum para ahli sepakat bahwa sumber utama pemupukan modal sosial dalam suatu masyarakat adalah faktor sosial dan budaya serta pengalaman masyarakat dalam berinteraksi dengan pihak lain, disamping faktor-faktor fisik dan ekonomi di mana masyarakat tersebut berada (Coleman, 2000; Lin 2001). Faktor-faktor sosial dan budaya ditunjukkan dengan nilai budaya, agama, tradisi dan keberadaan norma yang sama, hubungan kekeluargaan, kekerabatan dan bertetangga serta hubungan sosial dan ekonomi yang telah ada. Ekspansi kegiatan industri dalam suatu masyarakat petani dapat berpotensi memberikan pengalaman kurang baik bagi masyarakat petani dalam berinteraksi dengan pihak lain. Hal ini terkait dengan adanya perbedaan yang mencolok antara masyarakat industri yang lebih bersifat modern dengan masyarakat petani yang lebih bersifat tradisional. Keberadaan Kabupaten Gorontalo yang dekat dengan pusat Kota Gorontalo sebagai ibukota Provinsi Gorontalo dapat memungkinkan terjadinya perbedaan modal sosial dengan Kabupaten Pohuwato yang relatif lebih jauh jaraknya dengan ibukota provinsi sebagai pusat pendidikan dan pelayanan masyarakat.
Komponen Indikator rasa percaya antara Kabupaten Gorontalo dan Pohuwato relatif sama, yang berbeda adalah kepercayaan pada etnis yang lain dimana Kabupaten Pohuwato yang relatif jauh dari Pusat kota cenderung lebih
percaya kepada etnis lain dibandingkan Kabupaten Gorontalo. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat perdesaan di Kabupaten Pohuwato relatif sangat toleran, dibuktikan dengan membaurnya masyarakat lokal dengan masyarakat transmigran yang ada di kabupaten tersebut. Seperti diketahui bahwa Kabupaten Pohuwato merupakan Kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Boalemo yang terdiri dari multi etnis, karena banyak masyarakat pendatang yang berada di kabupaten ini baik masyarakat transmigrasi maupun penduduk Sulawesi Utara yang sudah menetap lama di kabupaten tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas interaksi antara penduduk lokal dengan pendatang tergolong tinggi.
Gambar 17 Tingkat Kepercayaan Masyarakat di Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato, tahun 2014
Hasil uji beda rata-rata antara indikator-indikator yang menyusun variabel jaringan di Kabupaten Pohuwato menunjukkan adanya perbedaan antara Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato.
Gambar 18 Jaringan kerja masyarakat perdesaan di Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato, tahun 2014
Masyarakat di Kabupaten Pohuwato relatif memiliki intensitas berinteraksi yang lebih tinggi di bandingkan dengan di Kabupaten Gorontalo baik partisipasi dalam kegiatan umum, partisipai dalam kegiatan keagamaan dan partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan maupun kehadiran dan partisipasi dalam pertemuan-pertemuan warga. Ini mengkonfirmasi temuan sebelumnya yang menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Pohuwato lebih toleran dengan masyarakat dengan pendatang karena interaksi masyarakat perdesaan di Kabupaten Pohuwato baik dengan penduduk lokal maupun pendatang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten Gorontalo.
Variabel Norma yang diukur dengan indikator kemudahan mendapat pertolongan dari orang lain, kesiapan membantu orang lain, kesiapan melakukan hal baik untuk kepentingan bersama dan keterlibatan dalam kegiatan huyula. Hasil uji beda rata-rata diperoleh output bahwa diantara keempat indikator tersebut hanya indikator kemudahan mendapat pertolongan yang tidak berbeda nyata sedangkan ketiga indikator lainnya signifikan berbeda nyata. Hal ini mengandung arti bahwa masyarakat perdesaan di Kabupaten Pohuwato relatif lebih taat pada norma yang berlaku dalam masyarakat dibanding masyarakat perdesaan pada Kabupaten Gorontalo. Kedekatan Kabupaten Gorontalo dengan ibukota provinsi yang lebih moderat dapat menyebabkan terjadinya pengikisan modal sosial dalam masyarakat perdesaan di Kabupaten Gorontalo.
Gambar 19 Norma masyarakat perdesaan di Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato tahun 2014
Modal Sosial Desa-desa pada Tahapan Industri Awal Primer dan Industri Lanjut Primer
Masyarakat Gorontalo mayoritas pemeluk agama Islam. Agama Islam sangat kuat diyakini oleh masyarakat suku Gorontalo. Beberapa tradisi adat suku Gorontalo terlihat banyak mengandung unsur islami. Hanya sebagian kecil saja yang memeluk agama lain di luar Islam. Kendati telah lama memeluk Islam, sisa- sisa corak keyakinan lokal masih bisa terasa dari kepercayaan sebagian kalangan terhadap mahluk-mahluk halus dan ritus-ritus upacara yang berbau adat.
Gambar 20 Pemetaan wilayah berdasarkan kepercayaan terhadap etnis Dalam konsep masyarakat Gorontalo, adat dipandang sebagai suatu kehormatan, norma, bahkan pedoman dalam pelaksanaan pemerintahan. Hal ini dinisbatkan dalam suatu ungkapan "Adat Bersendi Sara" dan "Sara Bersendi Kitabullah". Arti dari ungkapan ini adalah bahwa adat dilaksanakan berdasarkan sara (aturan), sedangkan aturan ini harus berdasarkan Al-Quran. Dengan demikian dapat dipahami bahwa sendi-sendi kehidupan masyarakat Gorontalo adalah sangat religius dan penuh tatanan nilai-nilai yang luhur. Etnis Gorontalo adalah masyarakat yang memiliki rasa sosial yang tinggi, sehingga jarang terjadi konflik di antara mereka sendiri. Sistem kekerabatan yang sangat erat tetap dipelihara, dan tradisi gotong royong tetap lestari dalam kehidupan masyarakat ini, terutama di daerah perdesaan.
Tabel 10 Uji beda rataan indikator modal sosial di desa-desa pada tahapan industri awal primer dan industri lanjut primer, 2014
Indikator
Tahapan perkembangan desa
P-Value (Mann-Whitney) Industri awal primer Industri lanjut primer
Rasa Percaya pada Tetangga 3,23 3,32 0,004
Rasa Percaya antar Sesama Etnis
3,24 3,24 0,279
Partisipasi untuk Kepentingan Umum
3,12 2,77 0,000*
Partisipasi dalam Kegiatan Keagamaan
3,07 2,81 0,000*
Partisipasi dalam Kegiatan Kemasyarakatan
2,70 2,67 0,687
Mudah Mendapat Pertolongan 2,97 3,15 0,032*
Kesiapan Membantu orang lain 3,23 3,04 0,000*
Sumber : Analisis Data Primer, 2014
Hasil uji beda rataan berbagai indikator modal sosial pada tahapan perkembangan desa industri awal primer dan industri lanjut primer menunjukkan bahwa rasa percaya antar sesama etnis (thick trust) pada tahapan perkembangan
desa industri awal primer tidak berbeda dengan industri lanjut primer, namun rasa percaya terhadap etnis lain pada tahapan perkembangan desa industri lanjut primer lebih rendah dibandingkan industri awal primer. Rendahnya rasa percaya pada etnis lain (thin trust) akan berpengaruh terhadap interaksi antar kelompok masyarakat lokal dengan kelompok masyarakat pendatang, investor maupun pencari kerja. Rendahnya rasa percaya terhadap etnis lain akan membatasi akses terhadap sumber-sumber ekonomi. Secara umum rasa percaya kepada tetangga pada tahapan perkembangan desa industri lanjut primer lebih tinggi dibandingkan pada industri awal primer. Tingginya rasa percaya merupakan indikasi awal kuatnya modal sosial.
Gambar 21 Pemetaan wilayah berdasarkan percaya pada tetangga dan partisipasi untuk kepentingan umum
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata antara partisipasi masyarakat dalam kegiatan untuk kepentingan umum dan partisipasi dalam kegiatan keagamaan pada tahapan perkembangan desa industri awal primer dan industri lanjut primer, namun partisipasi masyarakat untuk kegiatan kemasyarakatan relatif sama pada kedua tahapan perkembangan desa tersebut. Tahapan perkembangan desa industri awal primer memiliki tingkat partisipasi yang lebih tinggi dibandingkan industri lanjut primer. Tingginya rasa percaya pada tahapan perkembangan desa yang lebih maju tidak menjamin tingginya tingkat partisipasi masyarakatnya.
Gambar 22 Pemetaan wilayah berdasarkan kepercayaan pada tetangga dan kemudahan mendapat pertolongan
Ketaatan pada norma – norma yang berlaku mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang ada dalam masyarakat baik dalam kelompok maupun dalam komunitas sebagai masyarakat desa. Kehidupan sosial masyarakat tradisional di Gorontalo dibatasi oleh norma-norma yang tersusun dalam aturan adat tertulis dan tidak tertulis. Norma saling bantu dan gotong royong sudah melekat dalam kehidupan sosial masyarakat Gorontalo sebagai
bagian dari adat “huyula”. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
yang nyata antara sikap saling bantu di desa-desa pada tahapan industri awal primer dan tahapan industri lanjut primer. Desa-desa pada tahapan industri awal primer memiliki kesiapan lebih tinggi dalam membantu sesama anggota masyarakat dibandingkan tahapan industri lanjut primer.
7 FAKTOR-FAKTOR YANG BERKAITAN DENGAN
KEMISKINAN KAWASAN PERDESAAN DI PROVINSI
GORONTALO
Faktor-faktor yang berkaitan/berhubungan dengan kemiskinan di provinsi Gorontalo dilakukan dengan menggunakan metode regresi logistik dengan unit
analisis rumah tangga. Variabel tidak bebas dikelompokkan menjadi “Miskin” (kode 1) dan “Tidak Miskin” (kode 0). Pengaruh variabel bebas terhadap variabel
tidak bebas ditunjukkan oleh nilai , yang merupakan koefisien persaman regresi untuk masing-masing variabel bebas.
Hasil analisis faktor-faktor yang berkaitan dengan kemiskinan dengan menggunakan persamaan logit menunjukkan beberapa variabel yang signifikan secara statistik pada taraf nyata 1 % sampai 10 %. Faktor yang berkaitan dengan kemiskinan di Provinsi Gorontalo dikelompokan dalam lima kelompok yaitu modal manusia, modal fisik, modal finansial, modal alam serta modal sosial dan budaya. Modal manusia dilihat melalui jenis kelamin, umur, lama sekolah, tanggungan rumah tangga dan kesehatan kepala rumah tangga. Modal fisik diukur dengan indikator akses terhadap pln, akses terhadap telekomunikasi dalam hal ini penggunaan telephon dan akses terhadap air bersih. Modal Finansial didekati dengan akses terhadap lembaga keuangan, kepemilikan modal fisik dan penguasaan bangunan tempat tinggal. Selanjutnya modal alam diukur dari lokasi tempat tinggal rumah tangga apakah di pegunungan pesisir atau di sekitar hutan. Terakhir modal sosial dan budaya didekati melalui indikator partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan dan etos kerja yang dilihat melalui jumlah jam kerja. Kemiskinan dalam penelitian ini didekati dengan pengeluaran rumah tangga dengan menggunakan ukuran garis kemiskinan BPS dan standar pendapatan US$ 2 per hari.
Untuk melihat apakah model yang dibangun sudah sesuai dengan data atau fit dapat dilihat dengan nilai Omnibu Test of Model Coefficient.
Tabel 11 Pengujian Model Kemiskinan dengan menggunakan Ukuran BPS dan US$ 22 (Word Bank)
Kemiskinan Berdasarkan BPS Kemiskinan Berdasarkan US US$ 2
Chi -Square Df Sig Chi –Square Df Sig
Step 1 Step 146.704 15 0.000 262.071 15 0.000
Block 146.704 15 0.000 262.071 15 0.000
Model 146.704 15 0.000 262.071 15 0.000
Ho : tidak ada variabel X yang signifikan mempengaruhi variabel Y H1 : minimal ada satu variabel yang signifikan mempengaruhi variabel Y
Output uji omnibus menunjukkan bahwa signifikansi 0.000 lebih kecil dari 0.05 sehingga Ho ditolak. Hasil output memperlihatkan pada tingkat kepercayaan 95 persen, ada minimal satu variabel bebas yang berpengaruh pada variabel bebas, sehingga dapat disimpulkan model dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut. Kelayakan ataupun kesesuaian model dapat dilihat dari dua aspek yaitu secara substansi/materi dan secara statistik. Pada penelitian ini, pertanyaan yang ingin dijawab adalah apakah semakin rendah modal manusia, modal fisik,
modal finansial, modal alamiah dan modal sosial maka peluang rumah tangga menjadi miskin semakin besar. Kelayakan model secara statistik selain dari
overall test, uji lainnya yaitu dilihat dari pengujian Hosmer and Lemeshow test, Negelkerke R-Square dan Classification Plot. Adapun hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut :
Ho : Model telah cukup mampu menjelaskan data/sesuai H1 : Model tidak cukup mampu menjelaskan data Tolak Ho jika nilai sig < 0.05
Tabel 12 Kelayakan Model Kemiskinan dengan menggunakan Ukuran BPS dan US$ 22 (Word Bank)
Kemiskinan Berdasarkan GK BPS Kemiskinan Berdasarkan US$ 2 Chi- square R square Sig Chi-square R square Sig Hosmer dan Lemeshow 12.542 0.129 5.353 0.719
Cox dan Snell 0.182 0.303
Nagelkerke 0.322 0.417
Sumber : Olahan Data Primer (2015)
Tabel 10 menunjukkan bahwa nilai signifikansi model lebih besar dari 0.05 maka keputusan terima Ho. Artinya dengan tingkat kepercayaan 95 persen, dapat diyakini bahwa model regresi logistik yang digunakan telah cukup mampu menjelaskan data atau sesuai. Nilai statistik R-square Nagelkerke menjelaskan variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel bebas. Namun nilai ini hanya pendekatan saja karena pada regresi logistik koefisien determinasi tidak dapat dihitung seperti pada regresi linear. Hal yang perlu diperhatikan adalah seberapa banyak hasil ini dapat memprediksi dengan benar yang tercermin dari nilai Classification Plot.
Tabel 13 Klasifikasi 2 X 2 Model Kemiskinan dengan menggunakan Ukuran BPS dan US$ 22 (Word Bank)
Pengamatan Kemiskinan Berdasarkan GK BPS Kemiskinan Berdasarkan US$ 2 Prediksi Prediksi Tidak Miskin
Miskin Persentase Tidak Miskin Miskin Persentase Tidak Miskin 600 20 96.8 472 0 100 Miskin 80 26 24.5 254 0 0 Persentas Keseluruhan 86.2 65.0
Sumber : Olahan Data Primer (2015)
Tabel 13 menunjukkan bahwa model regresi logistik yang digunakan dalam penelitian ini telah cukup baik, karena mampu memprediksi dengan benar yaitu
sebesar 86.2 untuk ukuran kemiskinan GK BPS dan 65 persen ukuran kemiskinan bank dunia.
Hasil Analisis regresi logit secara parsial untuk kerentanan atau peluang masyarakat menjadi miskin ditampilkan pada tabel 14 dan tabel 15.
Tabel 14 Hasil pendugaan model persamaan logit faktor yang berkaitan dengan kemiskinan di Provinsi Gorontalo dengan ukuran Garis Kemiskinan BPS
Variabel Koef SE Wald Sig Exp
Jenis Kelamin /JK 1=Laki-laki)
0.040 0.365 0.012 0.912 1,041 Umur / UMR (tahun) -0.017 0.011 2.658 0.108 0,983 Lama Sekolah / LMSKLKRT
(tahun)
-0.136 0.061 4.948 0.026** 0,873 Tanggungan RT / TANGRT (org) 0.586 0.075 61.322 0.000*** 1.797 Kesehatan RT / KSTNKRT (1=sehat) 0.859 0.836 1.056 0.304 2.362 Akses PLN / AKSPLN (1=Ada Akses) -0.688 0.273 6.375 0.012** 0.503 Akses Telkom /AKSTLKM
(1=ada akses)
-0.896 0.283 10.017 0.002*** 0.408 Akses PAM / AKSPAM
(1=ada akses)
-0.044 0.268 0.027 0.869 0.957 Akses Lembaga Keuangan
/AKSLKEU (1=ada akses)
-0.208 0.354 0.345 0.557 0.812 Kepemilikan Modal Fisik /
KMDLFSK (1=memiliki)
-1.203 0.301 15.986 0.000*** 0.300 Penguasaan Bangunan Tempat
Tinggal / PBGNAN (1= menguasai)
-0.266 0.341 0.612 0.434 0.766
Dummy Wilayah (1=Pesisir) -0.407 0.321 1.603 0.436 0.666 Dummy Wilayah (1= Hutan) 0.306 0.319 0.922 0.337 0.736
Partisipasi -0.005 0.005 1.048 0.306 0.995
Jumlah Jam Kerja -0.021 0.006 12.650 0.000*** 0.979
Konstan -0.364 1.196 0.093 0.761 0.695
Sumber : Olahan Data Primer (2015)
Berdasarkan analisis logit diperoleh bahwa indikator kemiskinan yang menggunakan standar kemiskinan GK BPS ditemukaan ada 6 variabel yang signifikan berkaitan/berhubungan dengan kemiskinan perdesaan di Provinsi Gorontalo yaitu lama sekolah, tanggungan keluarga, akses pada PLN, akses pada telkom, kepemilikan modal fisik dan jumlah jam kerja. Sedangkan untuk standart bank dunia dengan GK US$ 2 per hari ditemukan ada 9 variabel yang berkaitan/berhubungan dengan kemiskinan perdesaan di Provinsi Gorontalo yaitu umur, lama sekolah, tanggungan keluarga, akses pada PLN, akses pada telkom, kepemilikan modal fisik, dummy tempat tinggal disekitar hutan, partisipasi daam kegiatan sosial kemasyarakatan (sebagai proxy dari modal sosial) dan jumlah jam kerja. Kedua ukuran Garis Kemiskinan pada dasar berusaha untuk menangkap fenomena kemiskinan di kawasan perdesaan di Provinsi Gorontalo dan masing- masing ukuran kemiskinan berhasil menangkap fenomena tersebut. Namun berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa ukuran Garis Kemiskinan Bank Dunia lebih responsif falam menangkap fenomena kemiskinan di perdesaan Gorontalo.
Lebih jelasnya hasil persamaan logit peluang masyarakat desa di Provinsi Gorontalo menjadi miskin menurut ukuran Garis Kemiskinan Bank dunia (US$ 2) dapat dilihat pada tabel 15.
Tabel 15 Hasil pendugaan model persamaan logit faktor yang berkaitan dengan kemiskinan Provinsi Gorontalo dengan ukuran kemiskinan US$ 2
Variabel Koef SE Wald Sig Exp
Jenis Kelamin /JK 1=Laki-laki)
0.307 0.335 1.076 0.299 1.360 Umur / UMR (tahun) -0.017 0.009 3.956 0.047* 0.983 Lama Sekolah / LMSKLKRT
(tahun)
-0.145 0.042 12.180 0.000*** 0.865 Tanggungan RT / TANGRT (org) 0.685 0.071 92.724 0.000*** 1.984 Kesehatan RT / KSTNKRT (1=sehat) 0.826 0.592 1.946 0.163 2.285 Akses PLN / AKSPLN (1=Ada Akses) -0.530 0.230 5.311 0.021** 0.589 Akses Telkom /AKSTLKM
(1=ada akses)
-1.325 0.252 17.741 0.000*** 0.266 Akses PAM / AKSPAM
(1=ada akses)
-0.325 0.219 1.100 0.138 0.722 Akses Lembaga Keuangan
/AKSLKEU (1=ada akses)
-0.168 0.262 0.408 0.523 0.846 Kepemilikan Modal Fisik /
KMDLFSK (1=memiliki)
-0.999 0.214 21.775 0.000*** 0.368 Penguasaan Bangunan Tempat
Tinggal / PBGNAN (1= menguasai)
-0.041 0.270 0.023 0.880 0.960
Dummy Wilayah (1=Pesisir) -0.055 0.254 0.047 0.829 0.947 Dummy Wilayah (1= Hutan) -0.487 0.262 3.447 0.063* 0.615
Partisipasi -0.009 0.004 4.936 0.026** 0.991
Jumlah Jam Kerja -0.016 0.005 11.783 0.001** 0.984
Konstan 0.892 0.884 1.020 0.313 2.441
***Signifikan pada level 1 % , ** Signifikan pada level 5 %, * Signifikan pada level 10%
Sumber : Olahan Data Primer (2015)
Faktor Modal manusia
Berdasarkan hasil estimasi diperlihatkan bahwa dari aspek uji statistik variabel jenis kelamin dan kesehatan kepala rumah tangga tidak signifikan pada taraf nyata 1 sampai 10 persen, sedangkan variabel umur, lama sekolah kepala rumah tangga dan tanggungan rumahtangga telah sesuai dengan hipotesis. Variabel umur berpengaruh negatif terhadap peluang rumah tangga menjadi miskin. Peningkatan umur akan meningkatkan peluang rumah tangga menjadi miskin karena pada batas umur tertentu (batas usia produktif) peningkatan umur akan menurunkan pendapatan sehingga meningkatkan kemungkinan rumah tangga menjadi miskin.
Variabel penting pada faktor modal manusia adalah tingkat pendidikan karena menjadi modal sumber daya manusia. Variabel yang mewakili tingkat pendidikan adalah lama sekolah kepala rumah tangga. Hasil pendugaan variabel pendidikan kepala rumah tangga menunjukkan bahwa peluang rumah tangga menjadi miskin lebih rendah untuk kepala rumah tangga yang memiliki
pendidikan tinggi. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga makin kecil peluang rumah tangga menjadi menjadi miskin. Besarnya peluang rumah tangga menjadi miskin sebagai akibat dari kenaikan lama sekolah dari kepala rumah tangga sebesar 0.86 kali dibandingkan dengan kepala rumah tangga yang memiliki pendidikan rendah.
Data survey rumah tangga susenas 2012 menunjukkan bahwa pendidikan kepala rumah tangga di Provinsi Gorontalo sebagian besar tidak tamat SD yaitu sebesar 36.80 persen. Sedangkan rumah tangga yang berpendidikan SD adalah sebesar 30.70 persen, SMP 112 persen, rumah tangga dengan tingkat pendidikan SMA sebesar 15.30 persen dan rumah tangga dengan kepala rumah tangga yang berpendidikan tinggi hanya sebesar 6.00 persen. Kondisi tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan pendapatan masyarakat menjadi terbatas sehingga berpengaruh pada status kemiskinan keluarga. Pendidikan yang rendah menyebabkan rumah tangga terjebak dalam pekerjaan pada sektor non formal seperti petani dengan lahan kecil dan buruh tani, nelayan atau buruh nelayan serta tidak memiliki pilihan lain dalam lapangan kerja dengan tingkat penghasilan yang tinggi.
Gambar 23 Tingkat pendidikan kepala rumah tangga di Provinsi Gorontalo tahun 2012
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendidikan sangat terkait dengan kemiskinan. Siregar dan Wahyuniarti (2007) menemukan bahwa pendidikan secara signifikan dan besar pengaruhnya dalam mereduksi kemiskinan di Indonesia. Hal ini ditunjang oleh kajian dari Sen (1999) yang melihat bahwa pendidikan berperan langsung menciptakan kemampuan manusia (human capability) dalam meningkatkan kesejahteraan manusia. Menurut Sen, pendidikan dan pelatihan akan membuat orang semakin efisien dalam proses produksi.
Selain pendidikan, variabel yang berpengaruh terhadap kemiskinan adalah jumlah tanggungan keluarga. Hasil pendugaan jumlah tanggungan keluarga menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga yang lebih besar memiliki peluang untuk menjadi miskin sebanyak 1.98 kali dibandingkan dengan rumah tangga dengan jumlah anggota keluarga atau tanggungan keluarga yang kecil,