Kerangka Pemikiran
Perkembangan provinsi Gorontalo setelah memekarkan diri dari provinsi induknya Sulawesi Utara meningkat pesat. Dari tahun ke tahun terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan bahkan pertumbuhan ekonomi Gorontalo melebihi pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Utara. Disisi yang lain, tingkat kemiskinan di Gorontalo sejak masih bergabung dengan Sulawesi Utara sampai memisahkan diri menjadi provinsi baru tetap tinggi dan cenderung persisten, dalam arti Provinsi Gorontalo merupakan salah satu provinsi yang memiliki tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Fenomena ini menjadi sangat menarik karena Kota Gorontalo berdasarkan kajian dari Rustiadi et al. (2010) sangat potensial dan merupakan salah satu kota yang diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan baru yang melayani wilayah Sulawesi bagian Utara.
Frank Ellis (1999) selanjutnya menawarkan diversifikasi mata pencaharian sebagai strategi untuk kelangsungan hidup rumah tangga perdesaan di negara- negara berkembang. Menurut Ellis ada lima aset yang harus diperhatikan oleh masyarakat perdesaan untuk menjaga keberlanjutan hidup masyarakat di perdesaan yaitu: (1) modal manusia yang meliputi pendidikan, ketrampilan dan kesehatan anggota rumah tangga; (2) modal fisik yang meliputi infrastruktur publik; (3) modal sosial yang meliputi jaringan sosial dan asosiasi; (4) modal alamiah berupa sumber daya alam yang dimiliki; dan (5) modal finansial berupa tabungan yang dimiliki.
Aspek aspek yang berkaitan/berhubungan dengan kemiskinan dalam perspektif mikro yang akan dikaji adalah : (i) modal manusia yang meliputi : jenis kelamin kepala rumah tangga, umur kepala rumah tangga, tingkat pendidikan kepala rumah tangga dan jumlah tanggungan dalam keluarga serta kesehatan kepala rumah tangga (ii) modal fisik berupa aksesibilitas terhadap infrastruktur publik yang meliputi akses terhadap listrik, akses terhadap air bersih dan akses terhadap telekomunikasi; (iii) modal finansial (ekonomi) yang meliputi akses terhadap lembaga keuangan, kepemilikan modal fisik dan penguasaan bangunan tempat tinggal, (iv) modal alam yaitu karakteristik wilayah serta (v) modal sosial dan budaya yang meliputi keterlibatan atau partisipasi dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan dan etos kerja.
Faktor modal manusia merupakan faktor yang mempengaruhi mobilitas individu dalam rumah tangga untuk memperoleh pendapatan (mencari nafkah) dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Faktor jenis kelamin dinilai berpengaruh terhadap tingkat upah yang diperoleh oleh pencari nafkah dalam keluarga, sedangkan faktor umur dapat menggambarkan pengalaman kerja. Tingkat pendidikan diyakini menjadi salah satu faktor yang memiliki kekuatan pendorong (driving force) transformasi sosial sebagai daya gebrak memutus tali rantai kemiskinan (Departemen Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia 2008). Pendidikan menjadi driving force, artinya semakin tinggi pendidikan keluarga tersebut maka akan semakin tinggi kemungkinan keluarga tersebut bekerja di sektor formal dengan pendapatan yang lebih tinggi ( Usman et al. 2006; Smeru 2008). Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh terhadap kesejahteraan
rumahtangga, semakin banyak ketergantungan dalam keluarga semakin kecil kesejahteraan individu dalam keluarga tersebut. Faktor kesehatan kepala keluarga sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga. Pencari nafkah yang kurang sehat akan turun produktifitasnya sehingga berimbas pada penurunan pendapatan.
Modal fisik merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kemiskinan, terlebih aksesibilitas terhadap modal fisik berupa fasilitas-fasilitas publik. Kemiskinan tidak hanya terkait dengan aspek ekonomi saja tapi juga menyangkut aspek non ekonomi misalnya aksesibilitas terhadap infrastruktur publik. Seseorang dikategorikan miskin apabila tidak memiliki akses terhadap berbagai infrastuktur publik. Akses tehadap listrik terkait dengan peluang berusaha dimana akses terhadap listrik terkait dengan peluang ekonomi untuk berusaha di sektor non pertanian misalnya industri kecil. Aksesibilitas yang baik terhadap listrik juga menjadi salah satu faktor penarik investasi di desa. Peningkatan akses ke pelayanan publik bisa dilakukan melalui penyediaan infrastruktur yang baik dan memadai. Akses terhadap air bersih terkait dengan kualitas kesehatan dimana konsumsi dan penggunaan air bersih akan menjaga kesehatan masyarakat sehingga produktivitasnya dapat terjaga. Akses terhadap telekomunikasi berkaitan dengan informasi terhadap berbagai hal penting yang dapat membuka peluang usaha baru bagi rumahtangga di samping sebagai faktor penarik bagi investor di desa. Bank Dunia (2002) menjelaskan bahwa infrastruktur yang baik akan memudahkan masyarakat untuk melakukan aktivitas ekonomi dan sosial kemasyarakatan. Selain itu, memudahkan investor untuk melakukan investasi di daerah yang bersangkutan. Dengan meningkatnya infrastruktur secara otomatis dapat meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan publik.
Faktor Finansial meliputi keberadaan dan akses terhadap lembaga keuangan kepemilikan aset dan penguasaan bangunan tempat tinggal. Aksesibilitas pada lembaga keuangan sangat penting bagi rumah tangga desa karena terkait dengan tabungan dan modal usaha dalam menunjang kelangsungan kehidupan rumah tangga. Adanya akses yang baik pada lembaga keuangan dapat membantu rumah tangga dalam memperoleh modal usaha untuk produksi baik pertanian maupun non pertanian. Kepemilikan aset dan penguasaan bangunan tempat tinggal dapat dicerminkan sebagai kepemilikan faktor produksi maupun kekayaan oleh suatu rumah tangga yang pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat pendapatan dan konsumsi rumah tangga. Semakin besar kepemilikan aset oleh suatu rumah tangga akan memperbesar kesempatan rumah tangga tersebut untuk memperoleh tingkat pendapatan yang semakin besar dan rumah tangga tersebut akan mencapai tingkat kesejahteraan. Sedangkan semakin rendah kepemilikan aset suatu rumah tangga akan memperkecil kesempatan rumah tangga untuk dapat mengakses pasar dan akan berakibat pada rendahnya tingkat pendapatan rumah tangga.
Modal alam sangat terkait dengan mata pencaharian masyarakat desa yang pada umumnya bertumpu pada ketersediaan sumberdaya alam. Hal ini sangat berhubungan dengan karakteristik dimana wilayah atau kawasan tersebut berada apakah di daerah pesisir, pegunungan atau daerah sekitar hutan. Berdasarkan beberapa kajian, desa-desa yang terletak di daerah pesisir dan sekitar hutan pada umumnya memiliki intensitas kemiskinan yang tinggi.
Variabel modal sosial terkait dengan jaringan atau konektivitas dengan orang disekitar kita. Dalam penelitian ini modal sosial diproxy dengan
keterlibatan dalam organisasi sosial dan kemasyarakatan. Faktor sosial budaya juga merupakan variabel yang tidak terlepas dari kemiskinan. Kecenderungan stigma yang melekat pada masyarakat perdesaan selalu identik dengan perilaku dan sikap yang dianggap kolot dan tradisional, dibandingkan dengan sikap dan perilaku orang kota yang maju dan modern. Terjadinya keterbelakangan sosial masyarakat desa dalam pembangunan disebabkan karena sulitnya masyarakat desa menerima budaya modernisasi, sulit untuk menerima teknologi baru, malas, dan tidak mempunyai motivasi yang kuat, merasa cukup puas dengan pemenuhan kebutuhan subsisten dan budaya shared poverty (berbagi kemiskinan bersama) (Prakoso, 2008). Agar dapat terlepas dari jerat kemiskinan dan agar supaya usaha pembangunan yang dilakukan berhasil para ahli ilmu sosial berpendapat bahwa negara berkembang harus memiliki etos kerja yang tinggi yang dimanivestasikan dalam kerja keras dan pola hidup sederhana serta hemat (Weber 1958 dalam Muharam, 2000). Myrdal (1968) mengemukakan bahwa salah satu indikator dari perilaku yang mencerminkan etos kerja adalah kerajinan. Dalam penelitian ini proxy etos kerja didekati dengan variabel jumlah jam kerja.
Masalah kemiskinan tidak saja disebabkan karena masalah ekonomi tapi juga disebabkan karena masalah ketidakberdayaan dalam mengakses terhadap fasilitas publik dan aspek sosial. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa selain modal tradisional (sumberdaya alam, manusia dan fisik), modal sosial juga berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi termasuk didalamnya aspek kemiskinan. Keberadaan modal sosial menjadi penting dalam penanggulangan kemiskinan karena perluasan akses sumberdaya-sumberdaya kehidupan sangat ditentukan oleh ketersediaan jejaring dan rasa saling percaya serta norma di kalangan masyarakat. Ketiga komponen ini berpengaruh terhadap kemiskinan dengan besaran yang berbeda-beda baik secara langsung maupun tidak langsung. Keberadaan modal sosial dapat menurunkan biaya transaksi dalam mengakses sumberdaya termasuk didalamnya sumberdaya modal atau mengakses berbagai bantuan untuk masyarakat sehingga mencegah masyarakat untuk terjebak dalam kemiskinan.
Keberadaan rasa percaya dan norma yang disepakati bersama membuat individu yakin untuk berkontribusi atau berinvestasi pada kegiatan-kegiatan bersama sehingga sangat membantu masyarakat miskin karena kerjasama dapat meringankan beban masyarakat miskin. Demikian halnya dengan komponen rasa percaya dan jaringan kerja, dimana rasa percaya akan membangun kerjasama yang dapat menekan biaya transaksi serta keberadaan jaringan kerja dapat membuat masyarakat miskin memperoleh informasi terhadap akses modal dan bantuan. Selanjutnya norma sumberdaya sosial dalam bentuk jaringan kerja yang erat antara kelompok miskin dengan komunitasnya maupun dengan komunitas yang lain. Hal ini dapat membuka peluang-peluang usaha bagi masyarakat miskin sehingga dapat membantu masyarakat untuk tidak rentan terhadap kemiskinan.
Pada tingkat mikro modal sosial dapat membantu dalam mengurangi kemiskinan melalui 3 jalur utama yaitu pertama, rasa percaya antar masyarakat menyebabkan terjadinya interaksi yang diwujudkan dalam jaringan sosial informal dan tetangga yang merupakan wadah untuk membangun mekanisme saling membantu dan menopang sebagai strategi untuk bertahan hidup. Kedua modal sosial dapat meningkatkan kemampuan masyarakat miskin, terutama di daerah terbelakang dimana lembaga-lembaga pasar gagal dan peran negara sangat
terbatas. Ikatan sosial bridging atau akses ke kredit formal akan mendorong difusi informasi dan kepercayaan, penegakan kontrak dan penciptaan jaringan kredit informal, sehingga modal sosial merupakan faktor penting bagi berkembangnya usaha kecil. Ketiga, modal sosial dapat membantu masyarakat miskin untuk memperbaiki kondisi hidup mereka melalui tindakan kolektif, sehingga memungkinkan orang untuk melakukan tindakan advokasi dan lobi.
Pembangunan perdesaan adalah strategi yang direncanakan untuk meningkatkan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat miskin. Sepanjang pembangunan perdesaan dimaksudkan untuk mengurangi tingkat kemiskinan di perdesaan maka strateginya harus jelas untuk meningkatkan produksi dan produktivitas. Rondinelli (1985) melihat bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi perdesaan yang berkelanjutan adalah melalui spesialisasi pada komoditas-komoditas unggulan dimana daerah tersebut memiliki keunggulan komparatif. Spesialisasi akan meningkatkan kemampuan kompetitif, namun hal ini baru bermanfaat apabila terdapat aktivitas perdagangan. Oleh karena itu daerah perdesaan harus meningkatkan konektivitas dengan pasar untuk memperoleh manfaat spesialisasi. Ini mengindikaskan bahwa perlu diupayakan agar proses penciptaan nilai tambah terjadi di perdesaan. Dengan demikian kawasan perdesaan tidak hanya menghasilkan bahan primer pangan dan serat, melainkan juga mampu menghasilkan bahan olahan atau industri hasil pertanian (Rustiadi, et al. 2006). Jadi, perdesaan dikatakan berkembang jika tidak hanya aktivitas pertanian yang berkembang tapi aktivitas non pertanian juga berkembang. Dalam konteks ini, pembangunan perdesaan tidak hanya diarahkan pada aspek usaha tani namun pengembangan agribisnis secara utuh.
Pengembangan agribisnis terdiri dari mata rantai produksi, pengolahan (agroindustri), pemasaran hasil pertanian dan kelembagaan penunjang kegiatan. Mata rantai kegiatan Agribisnis selanjutnya dapat bagi menjadi empat subsistem yaitu : subsistem produksi (usaha tani), subsistem pengolahan (agroindustri hulu dan hilir), subsistem pemasaran/perdagangan dan subsistem lembaga penunjang.
Keberhasilan dalam subsistem produksi akan menarik berkembangnya kegiatan-kegiatan industri pengolahan dihulu berupa pengadaan dan penyaluran sarana produksi, serta mendorong berkembangnya pemasaran dan perdagangan input produksi serta lembaga-lembaga penunjang agribisnis seperti angkutan dan lembaga keuangan. Disamping itu dapat menjadi pendorong berkembangnya usaha-usaha pengolahan hasil pertanian. Dengan semakin meningkatnya pendapatan akan semakin mendorong permintaan terhadap produk produk yang lebih berkualitas dan diversifikasi produk olahan.
Konsep sistem agribisnis tercakup dalam hipotesis stadia perkembangan desa transmigrasi yang dikemukakan oleh Rustiadi et al. (2009). Dalam hipotesis tersebut dijelaskan bahwa dengan keberhasilan sistem usaha tani, maka terdapat kelebihan/ surplus yang dapat dijual sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Peningkatan pendapatan akan meningkatkan permintaan barang sekunder dan tersier sehingga akan mendorong aktivitas non pertanian.
Berkembangnya aktivitas non pertanian diindikasikan dengan semakin beragamnya industri pertanian di perdesaan. Junaidi (2012) menjelaskan bahwa berkembangnya aktivitas non pertanian baik pada sektor sekunder (industri) maupun pada sektor tersier (jasa) tidak identik dengan kemunduran sektor pertanian. Berkembangnya aktivitas pertanian justru semakin mendorong
berkembangnya aktivitas non pertanian sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat. Berkembangnya aktivitas non pertanian akan menambah kesempatan kerja di diluar sektor pertanian yang akan menampung kelebihan tenaga kerja disektor pertanian sehingga dapat menurunkan tingkat penggangguran dan kemiskinan di perdesaan (Himanshu 2011).
Gambar 6 Kerangka pemikiran penelitian
Empat tahapan perkembangan desa yang diadopsi dari Junaidi 2012 dan Rustiadi et al. (2009 ) yaitu marketable surplus, stadia awal industri primer, stadia lanjut industri primer dan stadia industri sekunder mencirikan perkembangan desa yang ditandai dengan aktivitas-aktivitas kegiatan ekonomi yang terjadi dalam setiap perkembangan desa. Tahap marketables surplus dan stadia awal industri primer mencirikan kegiatan ekonomi yang bertumpu pada aktivitas pertanian sedangkan tahapan perkembangan stadia industri lanjut dan stadia industri sekunder mencirikan aktivitas ekonomi yang mulai berkembang ke arah non pertanian. Tahapan perkembangan desa selanjutnya di bagi berdasarkan ciri aktivitas ekonomi yang berbasis pertanian yang dikategorikan sebagai industri awal primer dan aktivitas ekonomi non pertanian yang dikategorikan sebagai industri lanjut primer.
Industri Awal Primer
Industri Lanjut Primer
Modal sosial : Trust Network Norm Tujuan 3 Tujuan 4 Tujuan 1 Tujuan 2 Kemiskinan Perdesaan Pembangunan Perdesaan Stadia Awal Industri Primer Marketable Surplus Stadia Lanjut Industri Primer Stadia Industri Sekunder/ Tersier P E R K E M B A N G A N D E S A
Industri Awal Primer
Industri Lanjut Primer Urbanisasi Kota Kecil/Menengah
Faktor-faktor yang berkaitan dengan kemiskinan
Modal Fisik : -Akses Listrik -Akses Air bersih -AksesTelkom Modal Manusia : -Jenis kelamin KRT -Umur KRT -Jlh tanggungan -Pendidikan KRT -Kesehatan KRT Modal Finansial : - Akses lembaga keuangan - Kepemilikan modal fisik - Penguasaan bangunan tempat
tinggal
Modal Sosial dan Budaya : - Partipasi dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan
- Etos Kerja Modal Alamiah :
- Karakteristik wilayah (dekat hutan dan pesisir )
Hipotesis
1. Faktor yang berkaitan dengan kemiskinan di perdesaan Gorontalo adalah modal manusia, modal fisik, modal finansial, modal alam dan modal sosial yang rendah. Secara spesifik, dugaan faktor-faktor yang berkaitan dengan kemiskinan perdesaan di Provinsi Gorontalo adalah:
a. Rumah tangga dengan kepala rumah tangga laki-laki memiliki peluang lebih kecil untuk menjadi miskin.
b. Umur kepala rumah tangga berpengaruh secara nyata terhadap peluang keluarga menjadi miskin.
c. Rumah tangga dengan kepala rumah tangga yang memiliki pendidikan dan kesehatan yang baik memiliki peluang yang kecil untuk menjadi miskin. d. Rumah tangga dengan jumlah tanggungan keluarga yang banyak memiliki
peluang yang besar untuk menjadi miskin.
e. Rumah tangga yang memiliki akses terhadap lembaga keuangan, listrik, telekomunikasi dan air bersih memiliki peluang menjadi miskin yang lebih kecil dibandingkan rumah tangga yang tidak memiliki akses.
f. Rumah tangga yang memiliki aset produktif yang banyak memiliki peluang yang kecil untuk menjadi miskin.
g. Rumah tangga yang memiliki nilai asset produktif yang tinggi memiliki peluang yang kecil untuk menjadi miskin.
h. Rumah tangga yang berdomisili di daerah pesisir dan berada di dekat hutan memiliki peluang miskin yang lebih besar.
i. Rumah tangga yang sering terlibat dalam kegiatan sosial memiliki peluang yang kecil untuk menjadi miskin.
j. Rumah tangga yang memiki etos kerja yang tinggi memiliki peluang miskin yang kecil dibandingkan rumah tangga dengan etos kerja yang rendah. 2. Diduga modal sosial yang diwujudkan dalam dimensi percaya, jaringan dan
norma memiliki keterkaitan positif dengan kesejahteraan sehingga mengurangi kemiskinan. Secara spesifik hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H1: Dimensi rasa percaya berhubungan positif dengan kesejahteraan rumah tangga karenanya menurunkan kemiskinan.
H2: Dimensi jaringan berhubungan positif dengan kesejahteraan rumah tangga karenanya menurunkan kemiskinan.
H3: Dimensi norma berhubungan positif dengan kesejahteraan rumah tangga karenanya menurunkan kemiskinan.
H4: Interaksi dimensi rasa percaya dan jaringan berhubungan positif dengan kesejahteraan rumah tangga karenanya menurunkan kemiskinan.
H5: Interaksi dimensi jaringan dan norma berhubungan positif dengan kesejahteraan rumah tangga karenanya menurunkan kemiskinan.
H6: Interaksi dimensi rasa percaya dan norma berhubungan positif dengan kesejahteraan rumah tangga karenanya menurunkan kemiskinan.
3. Masing - masing tingkat perkembangan desa memiliki tingkat modal sosial yang berbeda.
4 METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Gorontalo, yaitu Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato. Penelitian ini dilaksanakan pada Juli 2014 sampai Juli 2015, dimulai dengan penyusunan proposal, pengambilan data, pengolahan data dan penyusunan laporan.
Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang diuraikan sebagai berikut :
1. Data Primer
Data primer diperoleh melalui observasi langsung di lapang dan wawancara langsung dengan responden dengan menggunakan kuesioner.
2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu data Susenas dan Podes yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia serta data penunjang yang diperoleh dari instansi- instansi terkait seperti Dinas Pertanian, Bappeda dan instansi-instansi terkait lainnya yang telah tersedia dalam bentuk dokumen dan studi literatur.
Metode Penentuan Sampel
Untuk melihat pengaruh modal sosial terhadap kemiskinan, dipilih dua kabupaten secara sengaja (purposive) yaitu Kabupaten Gorontalo yang relatif dekat dengan ibukota provinsi dan Kabupaten Pohuwato yang relatif jauh dari ibukota provinsi. Disamping itu Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato
merupakan kabupaten dengan tingkat kemiskinan yang tinggi di Provinsi Gorontalo.
Tabel 4 Tahapan perkembangan desa (Rustiadi 2009 dan Junaidi 2012)
No Tahapan Kriteria Indikator Desa/Kecamatan
1. Marketable Surplus
Mulai ada kelebihan produksi dari hasil pertanian masyarakat untuk dipertukarkan atau diperjualbelikan
-Sumber penghasilan utama masyarakat berasal dari pertanian - luas lahan yg
digunakan untuk pertanian terhadap total luas lahan (% lahan pertanian) -Reksonegoro (Tibawa) - Makmur Abadi (Tolangohula) - Omayuwa (Randangan) - Torsiaje Jaya (Popayato) 2. Stadia Awal Industri Primer Mulai berkembangnya industri hulu pertanian yaitu industri yang bersifat mengolah hasil pertanian untuk bahan makanan atau industri.
- Sumber penghasilan utama masyarakat berasal dari pertanian - Jumlah industri
gerabah, keramik anyaman dan industi penggilingan serta pengolahan minyak sayur - Molowahu (Tibawa) - Tamaila (Tolangohula) - Manunggal Karya (Randangan) - Popayato (Popayato) 3. Stadia Lanjut Industri Primer Aktivitas perdagangan dan jasa masih bertumpu pada perdagangan dan jasa yang ditujukan untuk alat dan bahan pertanian. Mulai berkembang aktivitas perdagangan dan jasa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer penduduk -Sumber penghasilan utama masyarakat adalah pertanian -Jumlah unit warung/toko
kelontong, pasar dan minimarket - Datahu (Tibawa) - Suka Makmur (Tolangohula) - Sari Murni (Randangan) - Bukit Tingki (Popayato) 4. Stadia Industri Sekunder /Tersier Tumbuhnya industri hilir pertanian dan industri non-pertanian sekunder/tersier
- Sumber penghasilan utama masyarakat berasal dari pertanian dan non pertaniann - Jumlah industri
makanan dan minuman, restoran , industri kerajinan dari kulit, kayu dan kain.
- Isimu Raya (Tibawa) - Gandaria (Tolangohula) - Motolohu (Randangan) - Telaga Biru (Popayato) Sumber : Junaidi, 2012
Selanjutnya di pilih dua kecamatan di masing-masing kabupaten secara sengaja yaitu Kecamatan Tibawa dan Kecamatan Tolangohula untuk Kabupaten
Gorontalo serta Kecamatan Randangan dan Kecamatan Popayato untuk Kabupaten Pohuwato yang memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak serta memiliki jarak terdekat dan terjauh dari ibukota kabupaten. Penggunaan faktor jarak sebagai dasar penentuan kabupaten dan kecamatan sesuai dengan tujuan penelitian untuk mempertimbangkan aspek perkembangan desa, dimana aksesibilitas terhadap pusat pemerintahan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kegiatan ekonomi desa.
Pemilihan desa kemudian dilakukan dimasing-masing kecamatan sebanyak empat desa dan masing-masing desa ditetapkan jumlah sampel sebanyak 40 responden yang terdiri dari 20 responden rumah tangga miskin dan 20 rumah tangga tidak miskin. Pemilihan desa didasarkan pada tahap perkembangan desa yang dikemukakan oleh Rustiadi dan diperbaharui oleh Junaidi (2012). Masing-masing desa mewakili tahapan perkembangan desa seperti ditunjukkan pada tabel 4.
Karena populasi penelitian ini mengandung perbedaan dalam aktifitas ekonominya, sampel selanjutnya dibagi 2 kategori sesuai dengan perkembangan aktivitas ekonominya. Tahapan marketable surplus dan stadia awal industri primer dikelompokkan menjadi tahapan industri awal primer yang dicirikan oleh aktivitas ekonomi belum berkembang dan masih bergantung pada pertanian. Selanjutnya stadia lanjut industri primer dan stadia industri sekunder/tersier dikelompokkan sebagai tahapan industri lanjut primer yang dicirikan dengan semakin berkembangnya aktivitas ekonomi tidak hanya sektor pertanian tapi juga sektor perdagangan dan industri hilir pertanian dan non pertanian.
Ket : Simple R. S = Simple random sampling
Gambar 8 Kerangka pemilihan sampel
Purposive Simple R.S Rumah Tangga Miskin Rumah Tangga Tidak Miskin Desa Desa Desa Desa Desa Desa Desa
Desa Desa Desa Desa Kecamatan Tibawa Kecamatan Tolangohula Kecamatan Randangan Desa Kecamatan Popayato
Desa Desa Desa Desa
Kabupaten Gorontalo
Kabupaten Pohuwato
Responden yang diteliti untuk aspek modal sosial dan kemiskinan adalah rumah tangga yang berada di daerah penelitian yang mewakili rumah tangga miskin dan tidak miskin dan merupakan anggota dari lembaga-lembaga atau kelompok yang ada dalam masyarakat serta semua stakeholder (responden kunci) yang terkait di tingkat kabupaten yaitu tokoh masyarakat, dan pemerintah. Responden dipilih secara acak (simple random sampling ).
Variabel Indikator Modal Sosial dan Kemiskinan
Tabel 5 Variabel, indikator modal sosial dan kemiskinan
Variabel Laten Indikator/Manifest Kode Referensi *
Rasa Percaya
(Trust)
Percaya pada tetangga
Percaya pada sesama etnis
Percaya kepada orang luar/asing (etnis lain)
Percaya pada Pemerintah
Percaya kepada tokoh agama
Percaya pada aparat keamanan
X11 X12 X13 X14 X15 X16 [1], [2], [3],[4] [2], [3], [4] [1], [2],[3],[4] [1], [2],[3],[4] [2], [3], [4] [1], [3], [4] Jaringan (Network)
Banyaknya organisasi yg diikuti
Partisipasi dalam kegiatan untuk kepentingan umum
Partisipasi dalam kegiatan keagamaan
Partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan
Kehadiran dan memberi saran dalam pertemuan warga
X21 X22 X23 X24 X25 [1], [2], [3],[4] [4] [1], [4] [1], [4] [1], [3] Norma (Norm)
Mudah mendapat pertolongan dari