• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Objek Penelitian

1. Letak Geografis dan Kondisi Kabupaten Enrekang

Gambar 4.1 Lokasi penelitian

Secara geografis Kabupaten Enrekang terletak pada posisi antara 3014’36” - 3050’0” Lintang Selatan dan 119040’53” - 12006’33” Bujur Timur. Posisi ini terletak tepat di Jantung Provinsi Sulawesi Selatan. Secara administratif

29

Kabupaten Enrekang juga terletak di poros tengah Trans Sulawesi melalui jalan Strategis Nasional untuk Pariwisata di Tana Toraja. Kabupaten Enrekang merupakan salah satu wilayah strategis di Sulawesi Selatan dengan penetapan menurut Rencana Tata Ruang Provinsi Sulawesi Selatan sebagai Kawasan Strategis untuk pengembangan Tanaman Hortikultura dan Kopi. Secara administratif, Kabupaten Enrekang terdiri dari 12 Kecamatan, 112 Desa dan 17 Kelurahan.

Kabupaten Enrekang secara geografis adalah Kabupaten yang terletak di sebelah utara Provinsi Sulawesi Selatan dengan jarak ± 240 Km yang berupa wilayah pegunungan dataran tinggi, dengan luas wilayah 1.786,01 Km2 (lebih kurang 2,86 % dari luas Provinsi Sulawesi Selatan). Batas wilayah Kabupaten Enrekang adalah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Kabupaten Tana Toraja b. Sebelah Timur : Kabupaten Luwu c. Sebelah Selatan : Kabupaten Sidrap d. Sebelah Barat : Kabupaten Pinrang

Luas lahan secara keseluruhan di Kabupaten Enrekang adalah sekitar 64.451,92 Ha atau 36% dari luas wilayah Kabupaten Enrekang, yang terdiri dari lahan untuk penggunaan tanaman perkebunan sekitar 45.221,85 Ha (25,31%), lahan untuk penggunaan tanaman Hortikultura sekitar 3.022,45 Ha (1,69%) dan lahan untuk penggunaan tanaman pangan sekitar 16.162,62 Ha (9,05%) yang mencakup lahan basah 5.123,70 Ha, lahan kering 11.038,92 Ha. Penggunaan tanah di Kabupaten

Enrekang untuk kawasan permukiman relatif kecil yaitu sekitar 3.005,34 Ha atau sekitar 1,68% dari luas wilayah.

2. Tipografi

Topografi Wilayah Kabupaten Enrekang ini pada umumnya mempunyai wilayah Topografi yang bervariasi berupa perbukitan, pegunungan, lembah dan sungai dengan ketinggian 47 - 3.293 m dari permukaan laut serta tidak mempunyai wilayah pantai. Secara umum keadaan Topografi Wilayah wilayah didominasi oleh bukit/gunung-gunung yaitu sekitar 84,96% dari luas wilayah Kabupaten Enrekang sedangkan yang datar hanya 15,04%.

Musim yang terjadi di Kabupaten Enrekang ini hampir sama dengan musim yang ada di daerah lain yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan yaitu musim hujan dan musim kemarau dimana musim hujan RPJMD Kabupaten Enrekang Tahun 2014-2018 II-3 terjadi pada bulan November - Juli sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Agustus - Oktober. Kabupaten Enrekang memiliki topografi wilayah bergunung dan berbukit serta memiliki beberapa puncak gunung seperti Gunung Bambapuang, Gunung Latimojong dan lain-lain Penggunaan lahannya didominasi oleh kawasan hutan dan sisanya berupa tanah bangunan, sawah, tegal/kebun, ladang/huma, padang rumput, rawa-rawa, kolam, perkebunan dan areal peruntukan lainnya.

Umumnya jenis tanahnya bervariasi, terdiri dari tanah podsolik coklat dan merah kuning dengan tekstur liat berpasir, struktur remuk, konsistensi gembur permeabilitas sedang. Keadaan tersebut menjadikan Enrekang sebagai daerah

yang subur dan menjadi pusat produksi hasil pertanian dataran tinggi di Provinsi Sulawesi Selatan dan Kawasan Indonesia Timur.

Topografi wilayah kabupaten Enrekang sebagian besar berada pada ketinggian > 1500 m dpl. Pada ketinggian tersebut relatif banyak kendala untuk berbagai kegiatan pembangunan. Khususnya pada ketinggian >2000 m dpl tidak dapat dikembangkan untuk budidaya yang bersifat ekonomi, hal ini dikarenakan daerah dengan ketinggian tersebut ditetapkan sebagai kawasan lindung.

3. Wilayah Rawan Bencana

Bentuk-bentuk bencana yang sering terjadi di Kabupaten Enrekang adalah bencana tanah longsor, namun sesekali terjadi Banjir dan Angin Puting. Beberapa kawasan rawan bencana di Kabupaten Enrekang sebagai berikut :

a. Kawasan rawan longsor

Kawasan rawan longsor di Kecamatan Masalle, Kecamatan Baroko, Kecamatan Bungin dan Kecamatan Enrekang. Pada dasarnya ada dua faktor penyebab terjadinya tanah longsor antara lain: faktor pengontrol (internal) dan faktor pemicu (eksternal). Faktor pengontrol meliputi jenis litologi, hidrologi, soil/tanah, struktur geologi dan bentukan morfologi, sedangkan faktor pemicunya terdiri dari kondisi tata guna lahan, curah hujan dan aktivitas manusia.

Kriteria kawasan rawan bencana longsor adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana longsoran.

Bencana tanah longsor merupakan melimpahnya volume air yang berlebih umumnya dari air hujan yang tidak bisa diserap oleh lapisan tanah dan

vegetasi di kawasan resapan air daerah (hulu) sehingga semakin lama air dapat mengikis tanah dan akhirnya terjadi longsor.

Gambar 4.2 Peta risiko Longsor b. Kawasan Rawan Banjir

Kawasan rawan banjir di Kecamatan Cendana dan Kecamatan Enrekang. Banjir besar terjadi apabila air hujan cukup tinggi dan jatuh tersebar merata di seluruh daerah tangkapan air, kemudian berubah menjadi limpasan permukaan yang terkumpul secara cepat pada suatu titik keluaran (outlet). Faktor alami daerah tangkapan air merupakan faktor yang mempengaruhi kecepatan limpasan permukaan dari seluruh daerah tangkapan air untuk bisa terkumpul secara bersama-sama di titik keluaran.

Gambar 4.3 Peta Risiko Banjir B. Dinas Pertanian

Merupakan kantor Dinas Pertanian daerah Kabupaten Enrekang, provinsi Sulawesi Selatan. Dinas Pertanian ini berfungsi untuk menyelenggarakan urusan kewenangan dan tugas pembantuan bidang pertanian daerah Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Selain itu, dinas pertanian juga memiliki beberapa tugas dan fungsi lain seperti penyuluhan pertanian, merumuskan kebijakan pertanian, memutus kebijakan bidang pangan, administrasi ketatausahaan pertanian, pembinaan teknis pada pihak-pihak bidang pertanian, memastikan ketersediaan pupuk pertanian, hingga penyaluran bantuan alat dan mesin pendukung pertanian.

Selain itu, dinas pertanian juga adalah penjamin kesejahteraan petani melalui program memastikan memberikan asuransi usaha tani padi (AUPT). Oleh karenanya, terkait dengan fungsi dan tugasnya, dinas pertanian memiliki

wewenang untuk mengeluarkan surat izin pertanian, izin alih fungsi, izin usaha pertanian, pembukaan lahan dan izin lainnya terkait pertanian.

1. Visi Misi Dinas Pertanian Kabupaten Enrekang a. Visi

Visi merupakan pandangan jauh ke depan, ke mana dan bagaimana instansi pemerintah harus dibawa dan berkarya agar konsisten dan dapat eksis, antisipatif, inovatif serta produktif. Visi tidak lain adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan oleh instansi pemerintah. Dengan mengacu pada batasan tersebut, visi Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Enrekang dijabarkan sebagai berikut:

“Mewujudkan Pertanian Tangguh, Berwawasan Agribisnis, Ramah Lingkungan, dan Religius”

b. Misi

Misi adalah suatu yang harus dilaksanakan oleh organisasi (Instansi Pemerintah) agar tujuan organisasi dapat tercapai dan berhasil dengan baik.

Dalam rangka mewujudkan visi pembangunan pertanian dan Perkebunan tersebut, maka perlu dirumuskan misi yang dapat menggerakkan dan mewujudkan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai melalui berbagai upaya dalam pelaksanaannya. Untuk itu disusunlah Misi Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab. Enrekang sebagai berikut :

1) Pemberdayaan instansi pertanian dan kelembagaan

2) Mengembangkan komoditas unggulan berorientasi agribisnis

3) Meningkatkan sarana dan prasarana pertanian

4) Pengelolaan sumber daya pertanian dengan teknologi tepat guna, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

2. Tujuan dan Sasaran Dinas Pertanian Kabupaten Enrekang a. Tujuan

Sesuai dengan tuntutan dan perkembangan perekonomian dan tuntutan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks, maka diperlukan manajemen pembangunan pertanian dan Perkebunan yang modern dan meningkatkan keberpihakan kepada petani yang tinggi dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada dengan menetapkan Visi dan Misi Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Enrekang, maka tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :

1) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia pertanian

2) Meningkatkan lapangan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat 3) Meningkatkan mutu dan jumlah produksi yang berdaya saing pada pasar

regional maupun pasar global

4) Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana pertanian 5) Mengembangkan sentra-sentra komoditas andalan / unggulan 6) Meningkatkan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat b. Sasaran

Setelah penetapan Visi, Misi dan Tujuan Dinas Pertanian dan Perkebunan dalam mengembangkan pembangunan di sektor Pertanian dan Perkebunan, maka sasaran yang dicapai adalah sebagai berikut :

1) Meningkatnya kualitas sumber daya manusia pertanian

2) Meningkatnya lapangan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat 3) Meningkatnya mutu dan produksi yang berdaya saing di pasar regional dan

pasar global

4) Meningkatnya sarana dan prasarana pertanian

5) Meningkatnya ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat 6) Berkembangnya sentra-sentra komoditas unggulan

7) Meningkatnya pendapatan petani dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari dan revolping dan retribusi dan hasil-hasil pertanian

3. Struktur Organisasi Dinas Pertanian Kabupaten Enrekang

a. Kepala Dinas;

b. Sekretariat :

1. Sub Bagian Perencanaan;

2. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian ; dan 3. Sub Bagian Keuangan.

c. Bidang Tanaman Pangan :

1. Kasi Perbenihan dan Perlindungan tanaman pangan 2. Kasi Produksi Tanaman Pangan; dan

3. Kasi Sarana dan Prasarana Tanam Pangan d. Bidang Holtikultura:

1. Kasi Pembenihan dan Perlindungan Tanaman Holtikultura;

2. Kasi Produksi Holtikultura; dan

3. Kasi Sarana dan Prasarana Holtikultura.

e. Bidang Perkebunan:

1. Kasi Pembenihan Perlindungan Tanaman Perkebunan;

2. Kasi Produksi Perkebunan; dan

3. Kasi Sarana dan Prasarana Perkebunan.

f. Bidang Penyuluhan Pertanian;

1. Kasi Kelembagaan Penyuluhan 2. Kasi Ketenagaan Penyuluhan;

3. Kasi Metode dan Informasi Penyuluhan

4. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pertanian Kabupaten Enrekang

Tugas Pokok dan Fungsi masing-masing Bidang pada Dinas Pertanian dan Perkebunan diuraikan sebagai berikut :

a. Kepala Dinas

Kepala Dinas mempunyai tugas pokok memimpin Dinas dalam menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian dalam penyelenggaraan kegiatan di bidang Pertanian dan Perkebunan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Kepala Dinas mempunyai fungsi :

1) Perumusan kebijaksanaan teknis bidang pertanian dan perkebunan;

2) Pembinaan perizinan dan pelaksanaan pelayanan umum lintas Kabupaten / Kota;

3) Penyelenggaraan pembinaan tekhnis di bidang Pertanian dan Perkebunan.

b. Sekretaris

Sekretaris mempunyai tugas merencanakan operasionalisasi, memberi tugas, memberi petunjuk, mengevaluasi dan melaporkan pelaksanaan tugas kesekretariatan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Sekretaris mempunyai fungsi:

1) Penyusunan kebijakan teknis administrasi umum dan kepegawaian, administrasi keuangan dan perencanaan dinas;

2) Penyelenggaraan kebijakan administrasi umum dan kepegawaian, keuangan dan perencanaan dinas;

3) Pembinaan, pengoordinasian, pengendalian, pengawasan program dan kegiatan Sub Bagian;

4) Penyelenggaraan evaluasi program dan kegiatan lingkup dinas.

c. Bidang Tanaman Pangan

Kepala Bidang Tanaman Pangan, mempunyai tugas mengkaji dan merumuskan Rancangan Rencana Strategis dan Rancangan Rencana Kerja Bidang Tanaman Pangan melalui hasil koordinasi dengan Kepala Dinas, Sekretaris dan para Kepala Bidang Lingkup Dinas Pertanian dan Perkebunan; membina dan mengkoordinir para Kepala Seksi Lingkup Bidang Tanaman Pangan;

menyelenggarakan program Kegiatan pembenihan, peningkatan produksi dan konservasi dan perlindungan tanaman pangan; menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan sistem di Bidang tanaman pangan; melaksanakan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan tugas, serta membuat laporan secara berkala. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Bidang Tanaman Pangan mempunyai fungsi : 1) Penyelenggaraan Kegiatan Perbenihan Tanaman Pangan;

2) Penyelenggaraan Kegiatan Peningkatan Produksi Tanaman Pangan;

3) Penyelenggaraan Kegiatan Konservasi dan Perlindungan Tanaman Pangan.

d. Kepala Bidang Hortikultura

Kepala Bidang Hortikultura, mempunyai tugas mengkaji dan merumuskan Rancangan Rencana Strategis dan Rancangan Rencana Kerja Bidang Hortikultura melalui hasil koordinasi dengan Kepala Dinas Sekretaris dan para Kepala Bidang lingkup Dinas Pertanian dan Perkebunan; membina dan mengkoordinir para Kepala Seksi lingkup Bidang Hortikultura; menyelenggarakan program kegiatan pembenihan, peningkatan produksi dan konservasi dan perlindungan tanaman hortikultura; menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan sistem di bidang Hortikultura; melaksanakan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan tugas, serta membuat laporan secara berkala. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Bidang Tanaman Pangan mempunyai fungsi :

1) Penyelenggaraan kegiatan Pembenihan;

2) Penyelenggaraan kegiatan Peningkatan produksi Hortikultura;

3) Penyelenggaraan kegiatan konservasi dan perlindungan tanaman pangan Hortikultura.

e. Kepala Bidang Perkebunan

Kepala Bidang Perkebunan, mempunyai tugas mengkaji dan merumuskan Rancangan Rencana Strategis dan Rancangan Rencana Kerja Bidang Perkebunan melalui hasil koordinasi dengan Kepala Dinas, Sekretaris dan para Kepala Bidang Lingkup Dinas Pertanian dan Perkebunan; membina dan mengkoordinir para Kepala Seksi Lingkup Bidang Perkebunan; menyelenggarakan program Kegiatan

pembenihan, peningkatan produksi, konservasi dan perlindungan tanaman Perkebunan; menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan sistem di Bidang Perkebunan; melaksanakan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan tugas, serta membuat laporan secara berkala. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut.

Bidang Perkebunan mempunyai fungsi :

1) Penyelenggaraan Kegiatan Perbenihan Perkebunan;

2) Penyelenggaraan Kegiatan Peningkatan Produksi Perkebunan;

3) Penyelenggaraan Kegiatan Konservasi dan Perlindungan Tanaman Perkebunan.

f. Kepala Bidang Bina Usaha dan Penyuluhan

Kepala Bidang Bina Usaha dan Penyuluhan, mempunyai tugas mengkaji dan merumuskan Rancangan Rencana Strategis dan Rancangan Rencana Kerja Bidang Bina Usaha dan Penyuluhan melalui hasil koordinasi dengan Kepala Dinas, Sekretaris dan Kepala Bidang lingkup Dinas Pertanian dan Perkebunan;

membina dan mengkoordinir para Kepala Seksi lingkup Bidang Bina Usaha dan Penyuluhan; menyelenggarakan program kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil; permodalan dan kelembagaan penyuluh; menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan sistem dibidang Bina Usaha dan Penyuluhan; melaksanakan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan tugas, serta membuat laporan secara berkala. Untuk melaksanakan Tugas Pokok tersebut Bidang Bina Usaha dan Penyuluh mempunyai fungsi :

1) Penyelenggaraan kegiatan Pengolahan dan pemasaran hasil pertanian dan perkebunan;

2) Penyelenggaraan kegiatan permodalan dan pemasaran pengembangan usaha pertanian dan perkebunan;

3) Penyelenggaraan kegiatan kelembagaan dan tata penyuluhan pertanian dan perkebunan.

C.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) 1. Visi Misi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

a. Visi

Berdasarkan hasil pembahasan dan musyawarah seluruh staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah maka disepakati untuk menetapkan Visi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Enrekang dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah, dan pemerintahan yang bersih dan berwibawa (Good Governance & Clean Governance yaitu :

“ Mewujudkan ketangguhan Masyarakat Kabupaten Enrekang Dalam Menghadapi Bencana”

b. Misi

Dalam mewujudkan pencapaian Visi yang telah dirumuskan tersebut, maka implementasinya dijabarkan melalui Misi dengan tujuan dan sasaran yang akan dicapai, yang selanjutnya akan dituangkan dalam rumusan program kegiatan nantinya. Sebagai arah tindak operasional organisasi, maka perumusan misi dilakukan dengan tetap mengacu dan mempertimbangkan tugas pokok dan fungsi organisasi.

Misi yang diemban Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Enrekang adalah :

1) Melindungi masyarakat kabupaten Enrekang dari Ancaman Bencana melalui Pengurangan risiko.

2) Membangun Sistem Penanggulangan Bencana yang handal

3) Menyelenggarakan Penanggulangan Bencana Secara Terencana, Terpadu dan Menyeluruh.

2. Tujuan dan sasaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) a. Tujuan

Misi tersebut merupakan pernyataan operasional yang dalam implementasinya perlu ditetapkan tujuan yang merupakan penjabaran dari pernyataan Misi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Enrekang.

Untuk mewujudkan Visi dan Misi ini, maka strategis yang dikembangkan adalah : 1) Memadukan upaya penanggulangan bencana dalam rencana pembangunan

daerah kabupaten Enrekang.

2) Melindungi masyarakat dari ancaman bencana dan dampak bencana melalui usaha pemberian informasi dan pengetahuan, pendidikan, pelatihan,

peningkatan keterampilan dan lain – lain;

3) Melaksanakan tanggap darurat sejak kaji cepat, menentukan tingkat bencana, penyelamatan dan evakuasi korban, penanganan kelompok rentang dan menjamin pemenuhan kebutuhan hak dasar kepada masyarakat korban bencana.

4) Memulihkan dan meningkatkan secara baik kehidupan sosial ekonomi, budaya dan lingkungan, serta keamanan dan ketertiban masyarakat, serta perbaikan infrastruktur/fasilitas umum, sosial yang rusak akibat bencana.

5) Mengalokasikan dan menyediakan dana untuk penanggulangan bencana secara memadai dalam setiap tahapan penyelenggaraan;

b. Sasaran :

Dari Uraian penjabaran tujuan yang akan dicapai Badan Penanggulangan Bencana Daerah kabupaten Enrekang untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), maka beberapa sasaran telah ditetapkan antara lain : 1) Menyediakan sarana dan prasarana aparatur BPBD yang memadai dalam

melaksanakan tugas dan fungsinya agar dapat berlangsung

2) Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan staff BPBD, stakholder terkait dan masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana;

3) Menyusun program dan kegiatan pencegahan dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana;

4) Menyusun program dan kegiatan kedaruratan dan logistik bencana, dan membentuk Satuan Tim Reaksi Cepat (TRC) dalam upaya kaji cepat penanggulangan bencana;

5) Membentuk Pusat Pengendalian Operasional Penanggulangan Bencana (Pusdalapos PB), yang berfungsi menerima data dan informasi kebencanaan, mencatat, mengolah dan mendistribusikan pada pihak yang terkait, yang pada kondisi tanggap darurat akan ditingkatkan fungsinya menjadi Pos Komando Tanggap Darurat Bencana.

6) Menyusun program kerja peningkatan peran serta dan kapasitas masyarakat dalam penanggulangan bencana;

7) Menyusun program kerja dan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

8) Meningkatkan kualitas kelembagaan, ketatalaksanaan, dan pelayanan publik dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana melalui penerapan prinsip-prinsip good governance.

3. Struktur Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) a. Kepala Pelaksana

b. Kepala Sekertariat 1) Subag Perencanaan 2) Subag Kepegawaian 3) Subag Keuangan

c. Bidang Perencanaan dan Kesiapsiagaan d. Bidang Kedaruratan dan Logistik e. Bidang Rehabilitas dan Rekontruksi

4. Tugas Pokok dan Fungsi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) a. Kepala Pelaksana

1) Membuat rencana strategis, rencana kerja, dan laporan akuntabilitas kinerja BPBD dalam rangka pelaksanaan tugas;

2) Merumuskan program kerja di lingkungan BPBD berdasarkan rencana strategis BPBD sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

3) Melaksanakan koordinasi dan komando penyelenggaraan pengenalan dan pengkajian potensi ancaman bencana;

4) Melaksanakan analisis dan pengurangan risiko bencana;

5) Melaksanakan pemanduan penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan Daerah;

6) Melaksanakan koordinasi dan komando penyelenggaraan kesiapsiagaan penanggulangan bencana;

7) Melaksanakan pengembangan peringatan dini dalam penanggulangan bencana;

8) Melaksanakan analisis dampak kerusakan bencana;

9) Mengoordinasikan dan melaksanakan rekonstruksi dampak kerusakan bencana;

10) Memimpin, mengoordinasikan, mengawasi, mengevaluasi dan mengendalikan kegiatan Unsur Pelaksana BPBD;

b. Kepala Sekertariat

1) Menyusun rencana operasional di lingkungan sekretariat unsur pelaksana berdasarkan program kerja BPBD serta petunjuk pimpinan sebagai pedoman pelaksanaan tugas;

2) Melaksanakan penyediaan dan pengolahan data untuk penyusunan rencana pembangunan jangka menengah Daerah bidang penanggulangan bencana, rencana strategis, rencana kerja BPBD;

3) Melaksanakan koordinasi dan menyiapkan bahan penyusunan laporan kinerja BPBD, laporan penyelenggaraan pemerintahan Daerah dan laporan keterangan pertanggungjawaban Wali Kota lingkup BPBD;

4) Melaksanakan koordinasi perencanaan, pelaksanaan, pemonitoran dan pelaporan standar pelayanan minimal bidang penanggulangan bencana;

5) Melaksanakan urusan administrasi umum, kepegawaian, pelayanan informasi, komunikasi, pengelolaan pengaduan publik, hubungan masyarakat dan rumah tangga BPBD;

6) Melaksanakan pengadaan, pemeliharaan, dan pengelolaan perlengkapan barang inventaris BPBD;

7) Melaksanakan administrasi surat menyurat dan pengelolaan kearsipan;

8) Menyiapkan bahan usulan kenaikan pangkat, kenaikan gaji berkala, cuti, mutasi, pensiun, dan penghargaan pegawai;

9) Melaksanakan penyusunan anggaran keuangan BPBD;

10) Melaksanakan pembinaan dan pelayanan administrasi keuangan serta pengendalian dan pengelolaan keuangan BPBD;

c. Bidang Perencanaan dan Kesiapsiagaan

1) Menyusun bahan kebijakan atau petunjuk teknis seksi pencegahan dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana;

2) Melaksanakan mitigasi bencana dan pemetaan daerah rawan bencana;

3) Melaksanakan pelatihan, sosialisasi, penyuluhan dan kegiatan pengurangan risiko bencana;

4) Melaksanakan dan mengelola sistem data dan informasi kebencanaan;

5) Mengoordinasikan, membina, mengendalikan dan mengevaluasi penetapan standar teknis dan prosedur tetap penanggulangan bencana;

6) Melaksanakan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana dan kegiatan peringatan dini terjadinya bencana;

7) Melaksanakan fasilitasi pencegahan dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana;

8) Melaksanakan pemonitoran, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kegiatan seksi pencegahan dan kesiapsiagaan; dan

Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

d. Bidang Kedaruratan dan Logistik

1) Merencanakan kegiatan seksi kedaruratan dan logistik berdasarkan program kerja BPBD;

2) Menyusun dan merumuskan kebijakan teknis penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat, penanganan pengungsi, evakuasi korban, harta benda dan dukungan logistik;

3) Melaksanakan fasilitasi kedaruratan kebencanaan dan logistik;

4) Mengoordinasikan, membina, mengendalikan dan mengevaluasi kegiatan pengkajian terhadap lokasi, kerusakan dan kerugian terjadinya bencana;

5) Menyusun program, mengoordinasikan, membina, mengendalikan dan mengevaluasi penentuan status keadaan darurat bencana;

6) Melaksanakan penanganan korban dan pengungsi pada saat terjadi bencana;

7) Melaksanakan, mengelola dan mengarahkan bantuan logistik dan dapur umum saat terjadinya bencana;

8) Mengoordinasikan dan melaksanakan penyelamatan evakuasi masyarakat terkena bencana;

9) Melaksanakan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terkena bencana;

10) Melaksanakan kegiatan perlindungan terhadap kelompok rentan;

e. Bidang Rehabilitas dan Rekontruksi

1) Merencanakan kegiatan seksi rehabilitasi dan rekonstruksi berdasarkan program kerja BPBD;

2) Merumuskan kebijakan teknis rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana;

3) Menyusun dan merumuskan bahan fasilitasi rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana;

4) Mengumpulkan dan mengolah data serta analisa data rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana;

5) Mengoordinasikan dan melaksanakan fasilitasi rekonstruksi pasca bencana meliputi sarana dan prasarana, sarana sosial masyarakat, dan kehidupan sosial budaya masyarakat;

6) Memfasilitasi partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat dalam pasca bencana;

7) Melaksanakan pemantauan, evaluasi dan pelaporan tentang pelaksanaan kegiatan rehabilitasi dan rekontruksi pada pasca bencana;

8) Melaksanakan penyusunan bahan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi;

9) Melaksanakan koordinasi dan hubungan kerja dengan unit kerja terkait, dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana;

10) Melaksanakan pemonitoran, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kegiatan seksi rehabilitasi dan rekonstruksi

D. Rencana kerja

Penyusunan Rencana Kerja (RENJA) merupakan pengimplementasian konsep perencanaan. Pentingnya perencanaan dan peran yang dimainkannya di dalam keseluruhan proses manajerial organisasi, telah menempatkan perencanaan sebagai faktor penentu keberhasilan pencapaian tujuan dan sasaran dari organisasi yang bersangkutan. Perencanaan perlu dilaksanakan mengingat adanya ketidakpastian akibat pengaruh dinamika lingkungan yang dihadapi.

Perencanaan merupakan suatu proses yang terus menerus dengan melibatkan keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan penggunaan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan tertentu dimasa yang akan datang.

Berdasarkan rencana kerja dalam Koordinasi Dinas Pertanian dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah terhadap pembukaan lahan tani bawang merah di Kabupaten Enrekang Sekertaris Dinas Pertanian mengatakan bahwa:

“…Pada dasarnya Dinas Pertanian dengan Badan Penanggulangan

Bencana Daerah pernah melakukan rencana kerja khususnya pada tahun 2020 dimana bentuk kerajasama yang dilakukan berupa pengadaan alat yang dapat digunakan petani bawang merah dalam pengelolahan pertanian. Hal ini dilakukan sehubungan dengan

Bencana Daerah pernah melakukan rencana kerja khususnya pada tahun 2020 dimana bentuk kerajasama yang dilakukan berupa pengadaan alat yang dapat digunakan petani bawang merah dalam pengelolahan pertanian. Hal ini dilakukan sehubungan dengan

Dokumen terkait