• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Objek Penelitian

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Objek Penelitian

1. Letak Geografis dan Kondisi Wilayah Kabupaten Luwu Utara

Kabupaten Luwu Utara adalah merupakan salah satu Kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 420 Km dari ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan terletak diantara 01° 53’ 019” - 02° 55’ 36” Lintang Selatan (LS) dan 119° 47’ 46” - 120° 37’ 44” Bujur Timur (BT) dengan batas-batas administrasi: − Sebelah Utara : berbatas-batasan dengan Sulawesi Tengah − Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kab. Luwu & Teluk Bone − Sebelah Barat : berbatasan dengan Prov. Sulawesi Barat − Sebelah Timur : berbatasan dengan Luwu Timur Luas wilayah Kabupaten Luwu Utara sekitar 7.843,57 Km² terbagi dalam 12 kecamatan yang meliputi 173 desa/kelurahan yang terdiri dari 4 kelurahan dan 169 desa. Dan terdapat 8 sungai besar yang mengaliri wilayah Kabupaten Luwu Utara. Dan sungai terpanjang adalah Sungai Rongkong dengan panjang 108 Km. Serta curah hujan beragam rata-rata selama tahun 2010 Diantara 12 Kecamatan, Kecamatan seko kerupakan Kecamatan yang terluas dengan luas 2.109,19 Km² atau 28,11 % dari total wilayah Kabupaten Luwu Utara, sekaligus merupakan kecamatan yang terletak paling jauh dari Ibukota Kabupaten Luwu Utara , yakni berjarak 198 Km. Urutan kedua ádala Kecamatan Rampi dengan luas 1.565,65 Km² atau 20,87 % dan yang paling sempit wilayahnya adalah

Kecamatan Malangke Barat dengan luas wilayah 93,75Km² atau 1,25 % dan pada tahun 2012 di bentuk satu kecamatan baru yang pemekarannya dari kecamatan Bone-Bone berdasarkan Peraturan Daerah Kab. Luwu Utara Nomor : 01 tahun 2012 tanggal 05 April 2012 dan Peraturan Bupati Luwu Utara Nomor : 19 Tahun 2012 Tanggal 04 Juni 2012 tentang pembentukan Kecamatan Tana Lili dengan jumlah 10 Desa.

2. Gambaran Umum Kecamatan Bone-Bone

Kecamatan Bone-Bone terbentuk sejak tahun 1963, yang dulunya dikenal dengan distrik tamuku. Secara geografis berada pada bagian timur wilayah kabupaten Luwu Utara, dengan jarak sekitar 25 Km dari ibu kota kabupaten dan kecamatan bone-bone berada pada jalur jalan trans sulawesi, dengan batas wilayah:

- Sebelah Utara : Pegunungan Baliase - Sebelah Timur : Kecamatan Tanah Lili - Sebelah Selatan : Teluk Bone-Bone - Sebelah Barat : Kecamatan Sukamaju a) Adminitrasi Pemerintahan

Wilayah administrasi pemerintahan kecamatan bone-bone pasca pemekaran terdiri dari 10 desa dan 1 Kelurahan, yaitu:

- Desa Patoloan - Desa Muktisari - Desa Bantimurung

- Desa Sidomukti - Desa Banyuurip - Desa Sukaraya - Desa Tamuku - Desa Sadar

- Desa Batang Tongka - Desa Pongko dan - Kelurahan Bone-Bone

Sebanyak 41 Dusun/Lingkungan, secara akumulasi Luas wilayah Kecamatan bone-bone 125.67 Km2

b) Kependudukan

Jumlah penduduk Kecamatan Bone-Bone per 31 Desember 2014 sebanyak 31.005 jiwa dengan jumlah 8.485 KK. Masyarakat Bone-Bone adalah Masyarakat heterogen, yang terdiri dari suku Luwu, Jawa, Bugis, Toraja, Bali, Sunda dan Makassar.

c) Budaya

Salah satu atraksi budaya kesenian yang paling menonjol di kecamatan bone-bone adalah :

1. Atraksi budaya orang hitam dari desa sidomukti 2. Kesenian budaya kuda lumping dari desa sidomukti 3. Teater budaya pakkacaping dari gellarang tamuku dan 4. Kesenian wayang kulit dari desa sukaraya

d) Potensi Wilayah Bidang Pertanian

Hasil pertanian tanaman padi sawah merupakan komoditi andalan kecamatan Bone-Bone, dengan luas hamparan persawahan 2.155 Ha. Dengan hasil panen berkisar 6 ton perhektar tersebar di wilayah:

1. Kelurahan Bone-Bone : 125 Ha 2. Desa Patoloan : 140 Ha 3. Desa Muktisari : 450 Ha 4. Desa Bantimurung : 75 Ha 5. Desa Sidomukti : 505 Ha 6. Desa Banyuurip : 250 Ha 7. Desa Tamuku : 200 Ha 8. Desa Sukaraya : 190 Ha 9. Desa Sadar : 80 Ha 10. Desa Batang Tongka : 140 Ha

Hal ini membuktikan bahwa kecamatan Bone-Bone merupakan lumbung pangan kabupaten Luwu Utara.

e) Bidang Perikanan

Kecamatan Bone-Bone disamping sebagai lumbung pangan kabupaten Luwu Utara, juga sebagai penghasil ikan tambak terbesar di kabupaten Luwu Utara, dengan luas lahan tambak 3.565 Ha. Produksi 163,2 ton per tahun tersebar pada 3 desa yaitu :

1. Desa pongko

2. Desa Batang Tongka dan 3. Desa Tamuku

f) Bidang Perkebunan

Bidang perkebunan komoditi unggulan kecamatan Bone-Bone adalah kelapa sawit dengan luas lahan 897 Ha berada pada lahan tanah rata wilayah desa Tamuku, Sadar, Batang Tongka, Pongko, Sukaraya, Bone-Bone dan Desa Patoloan.

Selain ketiga bidang tersebut di atas, potensi yang ada pada kecamatan Bone-Bone adalah pengembangan usaha perdagangan dan usaha kecil menengah dengan kegiatan berbasis home Industri. Pusat bisnis terbesar berasa di desa Patoloan (kompleks pasar sentral Bone-Bone) dan pasar lama Bone-Bone, sedangkan untuk home industri ada di kelurahan Bone-Bone, Desa Patoloan, Sidomukti, Banyuurip, Sukaraya dan Desa Tamuku.

3. Gambaran Umum Desa Sukaraya a. Monografi

Desa Sukaraya merupakan salah satu Desa yang sebagian besar penduduknya mengelola lahan pertanian dan perkebunan . Desa sukaraya secara administrasi termasuk dalam wilayah Kecamatan Bone-Bone, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Desa Sukaraya memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

2) Seblah Utara : Desa Banyuurip 3) Seblah Timur : Desa Tamuku 4) Seblah Barat : Desa Rawamangun

Secara geografis Desa sukaraya memiliki data orbitrasi (jarak dari pusat pemerintahan) adalah sebagai berikut:

- Jarak dari pusat pemerintahan kecamatan : 5 Km - Jarak dari pusat pemerintahan kota : 35 Km - Jarak dari pusat pemerintahan provinsi : 487 Km

Berdasarkan data monografi Desa Sukaraya, luas Desa Sukaraya adalah 495,00 ha/m2 yang terbagi menjadi 3 Dusun meliputi : Dusun Sidodadi,Dusun Sumberjaya dan Dusun Cinta Mulya yang terdiri dari 11 Rt.

Luas tanah tersebut digunakan untuk berbagai keperluan baik Lahan sawah 190 ha, lahan perkebunan 199 dan Lahan lainnya 106 ha. Desa Sukaraya mempunyai keadaan tanah yang tergolong dalam dataran rendah diatas permukaan laut 2.5 km.

b. Kondisi Ekonomi

Jumlah total Penduduk Desa Sukaraya laki-laki dan perempuan sekitar 1.040 jiwa Penduduk Desa Sukaraya sebagian besar bekerja sebagai petani dan pekebun dan sebagian sebagai buruh tani, buruh kebun, tukang batu/kayu, buruh bangunan, usaha kios/warung (penjual Keliling), kerajinan,pabrik pengilingan padi dan usaha ternak. Sedangkan potensi desa yang paling menonjol adalah potensi persawahan (petani padi) dan perkebunan (kelapa sawit) .

Selain itu tanaman keras yang melalui proses adaptasi sebagian dapat berproduksi dengan baik pada tempat yang tergolong rendah dengan keadaan tanah kering dibeberapa wilayah dusun yang ada diDesa Sukaraya. Sedangkan tanaman perkebunan yang menjadi andalan penduduk setempat adalah Kelapa Sawit dan Untuk areal tanaman pertanian yaitu padi.

Dengan melihat gambaran potensi yang ada di Desa Sukaraya terutama sumber daya alamnya dan didukung sarana jalan dan jembatan penghubung antar desa ,maka pemerintah desa melaui usulan ke pemerintah kabupaten dan provinsi berusaha dan mencoba secara bertahap meningkatkan kualitas sarana dan prasarana yang ada maupun jalan terutama yang mengalami kerusakan sehinggai mampu memperlancar aktivitas warga maupun perekonomian Desa Sukaraya yang mayoritas masyarakatnya adalah petani dan Pekebun.

c. Visi Misi

- Visi

“Mewujudkan Desa Sukaraya yang Mandiri dan Sejahtera yang Bertumpu Pada Sektor Pertania, Perkebunan dan Peternakan.”

- Misi

1. Memberikan pelayanan yang baik dan mudah kepada masyarakat

kapanpun dan dimanapun tanpa didasari perbedaan suku, agama ataupun golongan serta tidak memposisikan Pemerintah Desa sebagai penguasa akan tetapi merupakan pelayan bagi semua masyarakat.

2. Meningkatkan kapasitas, Citra, Harkat dan Martabat Pemerintah Desa serta menjaga dan meningkatkan tolenrasi antar umat beragama.

3. Mengupayakan terwujudnya Sarana dan Prasarana untuk kegiatan generasi muda dalam menyalurkan bakat olah raga.

4. Melanjutkan beberapa Program yang belum terealisasi yang termuat dalam RPJMDes 2013-2019.

5. Menciptakan Pemerintah yang transparan Jujur dan Adil. d. Struktur Organisasi

B. Model Inovasi Kebijakan Program Desa Mandiri Terpadu di Kabupaten Luwu Utara.

Inovasi adalah merupakan ide, gagasan, atau suatu hal yang baru yang ada di lingkungan masyarakat, baik itu produk, pelayanan, teknologi yang baru ditemukan dan belum pernah ada sebelumnya dikatan sebagai inovasi, sedangkan kebijkan yakni sebuah wewenang yang dimiliki oleh pemerintah, baik itu dijalankan atau tidak dijalankan merupakan sebuah kebijakan. Secara konseptual inovasi kebijakan terbagi atas bebrapa (Sururi : 2017). Yang pertama a policy innovation : new policy direction and intiative yang berarti sebuah inisiatif dan arah kebijakan yang baru atau apapun yang akan dikeluarkan pada kebijakan selanjutnya harus bersifat baru dan belum digunakan sebelumnya. Dan yang kedua yakni innovation in the policy

making proses yang artinya inovasi menjadi sebuah fokus dan inovasi dapat

mempengaruhi proses pembuatan dan perumusan kebijakan. 1) Inovasi Proses

Proses keputusan inovasi ialah proses yang dilalui (dialami) individu (unit pengambil keputusan yang lain), mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menolak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya. Proses keputusan inovasi bukan kegiatan yang dapat berlangsung seketika, tetapi merupakan serangkaian kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu, sehingga individu atau organisasi dapat menilai gagasan yang baru

itu sebagai bahan pertimbangan untuk selanjutnya akan menolak atau menerima inovasi dan menerapkannya. Ciri pokok keputusan inovasi dan merupakan perbedaannya dengan tipe keputusan yang lain ialah dimulai dengan adanya ketidak tentuan (uncertainty) tentang sesuatu (inovasi).

Dengan indikator diatas adapun beberapa pertanyaan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada 3 narasumber yakni Bupati Luwu Utara, Camat Bone-Bone dan Kepala Desa Sukaraya

Berdasarkan dari indikator inovasi proses pada model inovasi kebijakan program desa mandiri terpadu yang di lakukan oleh pemerintah kabupaten Luwu Utara, mengenai standar operasional prosedur dan tata laksana dalam penerapan program tersebut yakni berdasarkan wawancara yang mengatakan bahwasannya :

“...Mengenai standar operasional dan tata laksana pasti ada perbedaan untuk penerapan program desa mandiri terpadu ini, karena diharapkan dalam penerapan jauh lebih baik dari sebelumnya dan kalau standar operasionalnya samaji dengan sebelumnya ya untuk apa program ini hadir kalau nyatanya tidak ada perbedaan dalam standar operasional dan tata laksananya tentunya standar operasional walaupun ada pesamaan tapi harus yang lebih lagi dari yang sebelumnya seperti mungkin kalau sebelumnya standar operasionalnya kunjungan ke desa yang masuk dalam daftar desa mandiri terpadu kunjungan biasa ji tapi setelah masuk ke daftar desa mandiri terpadu ada kunjangan-kunjungan khusus yang pemerintah lakukan saya kira itu..” (IPI selaku (Bupati Luwu Utara. hasil wawancara 17 Oktober 2019)

Namun sedikit berbeda dengan yang ditututurkan bahwasannya standar operasional dan tata laksana yakni:

“...ada memang pembaharuan pada kebijakan program desa mandiri terpadu ini, tapi untuk persoalan Standar operasional mungkin hampir ji sama dengan sebelum-sebelumnya Cuma bedanya disini lebih ke tata cara pelaksanaan yang sedikit

berbebeda...” SHD Carmat Bone-Bone, hasil wawancara 14 Oktober 2019)

Adapun berdasarkan wawancara diatas menjukkan bahwasannya pemerintah daerah khususnya sebagai steakholder Bupati Luwu utara dalam hal pencetusan gagasan menginginkan hasil yang signifikan berbeda dengan program sebelumnya baik itu secara standar operasional dan tata laksana sedangkan dalam menurut camat yang bertugas program ini tidak berbeda jauh dengan standar operasional yang sebelumnya. Wawancara SDH kemudian diperkuat oleh pernyataan:

“...kalau menurut saya si dek sama semua ji cuma programnya ini saja yang berbeda tapi sejauh ini standaar operasionalnya ya sama saja dengan yang sebelum-sebelumnya kalau saya bilang ini namanya saja yang beda disini...” (STO selaku Kepala Desa Sukaraya, hasil wawancara 15 Oktober)

Jadi berdasarkan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwasannya terkait dengan standar operasional dan tata pelaksana kebijakan program kebijakan desa mandiri terpadu ini tidak sesuai dengan yang seharusnya Bupati Luwu utara sebagai penggagas dari program tersebut tentu berharap lebih namun teknis antara daerah kecamatan hingga desa tidak sesuai sehingga tidak ada perbedaan standar operasional dengan program sebelumnya yang telah ada.

Berdasarkan dari indikator inovasi proses pada kebijakan desa mandiri terpadu yang di tetapkan oleh pemerintah Kabupaten Luwu utara, terkait dengan seperti apa standar operasional dan tata laksana yang dilakukan selama proses inovasi tersebut berlangsung berdasarkan wawancara yang

dilakukan bersama menjelaskan sedikit dari standar operasional dari kebijakan desa mandiri terpadu yakni:

“....Untuk standar operasionalnya ini cuma ada penambahan-penambahan sedikit karena ini program baru dan hanya berfokus ke tiga desa yang ditetapkan sebagai desa mandiri terpadu, semua intansi terlibat adapun standar operasionalnya sendiri seperti membuat rencana dengan seluruh perangkat pemerintah daerah, kemudian penyusunan-penyusunan agenda kegiatan, dan adanya kordinasi kordinasi antar semua instansi serta teknis pelaksanaannya, tata pelaksanannya juga seperti itu intensitas kordinasi yang lebih lanjut digerakkan untuk meningkatkan sinergitas dan mampu mengakomodasi seluruh aspirasi. Pada semua instansi pemerintah daerah untuk fokus membangun tiga desa tersebut dan tidak terlepas dengan tugasnya yang lain juga...” (IPI Bupati Luwu Utara, wawancara 17 Oktober 2019)

Selanjutnya berdasarkan wawancara yang dilakukan mengatakan :

“SOP ya kita mengikut saja dari pemerintah daerah kalau pemerintah daerah sudah menetapkan standar operasional dan tata pelaksanaannya seperti itu ya kami mengikut saja misalnya itu harus sering-sering mengunjungi desa yang ditunjuk sebagai desa mandiri terpadu, selama tidak menyalahi aturan dari SOP itu sendiri saya kira tidak ada masalah.” (SDH Camat Bone-Bone, hasil wawancara 14 Oktober 2019)

Berdasarkan wawancara tersebut dapat dilihat bahwasannya pemeritah daerah untuk standar operasional dan tata laksana itu sendiri melibatkan berbagai pihak instansi untuk bekerja, serta bersinergi untuk melaksanakan program tersebut dan pihak kecamatan bekerja sesuai dengan standar operasional yang telah ditetapkan oleh pihak pemerintah daerah, sedangkan berdasarkan wawancara yang dilakukan mengatakan bahwasannya;

“...Standar operasional dan tata laksana ya seperti biasa secara formal itu dek, seperti beberapa program yang lainnya, biasanya mereka ada kunjungan ke desa, liat-liat apa saja yang sudah dikerjakan, terus saya juga biasa dipanggil sama ibu bupati atau kepala dinas untuk rapat di kabupaten ya seperti itu saja

mungkin...” (STO selaku Kepala Desa Sukaraya, hasil wawancara 15 Oktober 2019)

Jadi berdasarkan wawancara diatas bahwasannya standar operasional selama proses inovasi ini yakni adalah perencanaan, penyusunan-penyusunan rencana program kerja itu sendiri dan teknis pelaksanaannya, kemudian kordinasi-kordinasi antar instansi dikarenakan semua pihak terlibat dalam berjalannya program desa mandiri terpadu, serta untuk teknisnya sendiri yakni seperti kunjungan-kunjungan serta sosialisasi yang dilakukan pemerintah kepada desa yang ditunjuk untuk mejalankan program desa mandiri terpadu.

Berdasarkan indikator inovasi proses pada kebijakan program desa mandiri terpadu yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Luwu Utara terkait dengan seperti apa penerapan inovasi telihat dari sisi penerapan standar operasional dan tata laksana yang telah ada, dan berdasarkan wawancara yanng telah di lakukan dengan demikian menyatakan bahwasannya :

“...kalau kita liat dari sisi tata laksana dan standar operasionalnya untuk menerapkan program tersebut kalau benar-benar diikuti dengan baik, saya kira itu semua insya allah tidak ada masalah karena kalau sudah jalan dengan sesuai rencana dan SOP yang ditetapkan pasti penrapan inovasinya juga akan mudah secara teknis dan sudah terkordinir semuanya. kemudian untuk menerapkan inovasinya pasti sudah aman kalau dilaksanakan secara betul-betul ya tata laksana dan sesuai SOP..” (IPI Bupati Luwu Utara, hasil wawancara 17 Oktober 2019)

Selanjutnya berdasarkan wawancara yang di lakukan juga demikian serupa dengan yang dikatakan oleh IPI, SDH mengatakan bahwasannya :

“...Proses penerapan memang harus melihat dari SOP dan tata laksana yang telah ditetapkan ahar tidak melenceng dari tujuan ada program desa mandiri terpadu itu sendiri, jadi kalau menerapkan sesuai dengan SOP dan tata laksana sudah aman mi semua penerapannya itu...” (SDH camat Bone-Bone, hasil wawacara 14 Oktober 2019)

Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh IPI (Bupati Luwu utara) dan SDH (Camat Bone-Bone) demikian mengatakan bahwasannya tata laksana dan Standar opersional merupakan hal penting dari penerapan inovasi tersebut, dengan standar operasional dan tata laksana yang baik tentunya akan membuat proses penerapan lebih menjadi mudah dan tingkat keberhasilannya menjadi lebih banyak, demikian juga diperkuat dengan wawancara yang dilakukan yang juga mengatakan:

“...kalau melihat penerapan inovasi dari standar operasional dan tata laksana sudah tidak masalah lagi dek, krn sudah bagus mi SOPnya kita tinggal liat saja tata laksananya ini bagaimana sudah bagus belum.” (STO Kepala Desa Sukaraya, hasil wawancara 15 Oktober 2019)

Jadi berdasarkan wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan inovasi program desa mandiri terpadu jika dilihat dari standar operasional dan tata laksananya yang sudah ditetapkan dengan baik maka penerapan inovasi tersebut tentunya tidak akan menjadi kendala yang berarti dalam penerapan program desa mandiri terpadu. Penerapan inovasi tersebut menjadi lebih mudah dikarenakan SOP dan tata laksana yang baik.

Berdasarkan indikator proses inovasi pada kebijakan desa mandiri terpadu yang dilakukan pemerintah di Kabupaten Luwu Utara terkait dengan faktor pendukung dan penghambat dalam inovasi proses sebagaimana dengan

Standar Operasional yang telah ditetapkan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan demikian mengatakan bahwa:

“...faktor pendukung mengenai dengan Standar operasional tentunya banyak keuntungan yang kita dapatkan seperti dengan kita menetapkan standar operasional yang seperti itu tentunya membuat kita pemerintah daerah lebih mudah dalam menjalankan karena sudah terkordinir dengan baik, tinggal dijalankan saja sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan, kalau untuk penghambatnya sendiri itu dari segi teknisi dan tata pelaksanaannya sendiri, misalnya dari teknisinya kinerja staf yang ditetapkan untuk bertanggung jawab sudah benar belum caranya bekerja tata pelaksanaanya biasanya mereka lakukan tidak sesuai dengan tata pelaksanaan yang kita telah sepakati, itu semua menjadi penghambat inovasi ini berjalan dengan baik dan lancar...” (IPI Bupati Luwu utara, hasil wawancara 17 Oktober 2019)

Selanjutnya berdasarkan wawancara yang dilakukan bersama mengatakan bahwa faktor pendukung dan penghambat mengenai standari operasionalnya yakni:

“...kalau menurut saya pendukungnya ini karena bagus standar operasional yang digunakan pada ini inovasi, kemudian kita hanya berdasarkan saja SOP tidak perlu lagi ada gerakan tambahan yang lain, kalau untuk penghambatnya sendiri untuk kami di kecamatan ini mungkin lebih ke sumber daya manusia untuk menerapkan ini standar operasional karena tidak semua SDM yang ada disini itu paham terkait dengan SOP yang ada, jadi bisa saja tata laksana yang seharusnya begini jadi seperti itu tidak sesuai lagi sama apa yang sudah ditetapkan jadi hasilnya lagi bisa lain inilah salah satu faktor penghambat yang harus kita perbaiki bersama dengan pemerintah daerah.” (SDH Camat Bone-Bone, hasil wawancara 14 Oktober 2019)

Berdasarkan wawancara diatas yang dilakukan peneliti bersama IPI (Bupati Luwu Utara) dan SDH (Camat Bone-Bone) yang mnyatakan bahwa pendukung inovasi yang berkaitan dengan Standar operasionalnya sendiri yakni adalah SOP itu sendiri karena dengan SOP yang sudah ditetapkan itu membuat pelaksanaan dari penerapan inovasi tersebut menjadi lebih mudah

dan hanya mengikuti SOP saja sudah bisa dilakukan penerapan, sedangkan kemudian untuk penghambatnya yakni menurut Bupati lebih berdasar pada pelaksanaan teknis lapangan apakah sudah sesuai dengan tata laksana yang digunakan atau melakukan tambahan maupun tidak melakukan pekerjaan secara maksimal, sedangkan untuk kecamatan sendiri menjadi penghambat yakni kurangnya SDM dan kemampuan staf yang mampu memahami sepenuhnya pelaksanaan dari Standar operasional tersebut. Hal ini juga demikian mengatakan:

“...faktor pendukung ya dek? Kalau faktor pendukungnya sendiri saya juga kurang paham seperti apa faktor pendukung mengenai SOPnya mungkin jadi lebih gampang ya kita tinggal ikut saja, kalau untuk faktor penghambatnya itu lebih ke kemampuannya kami aparat desa sih ini masih kurang belum sepenuhnya paham SOP dan tata laksana itu sendiri itu saja dek...” (STO selaku Kepala Desa Sukaraya, hasil wawancara 15 Oktober 2019)

Jadi berdasarkan hasil wawancara keseluruhan diatas dapat disimpulkan faktor pendukung dan penghambat seputar Standar Operasional ini adalah untuk faktor pendukungnya lebih mudah dijalankan hanya mendasark pada SOP yang telah ada, dengan demikian penerapan inovasi tersebut menjadi lebih mudah untuk diterapkan dan juga kemudian lebih mudah untuk di kordinasi antar pemerintah daerah, kecamatan dan pemerintah desa, sedangkan untuk faktor penghambatnya sendiri yakni berdasarkan penuturan Bupati Luwu utara lebih cenderung ke teknis lapangan yang kurang memahai secara keseluruhan SOP yang telah ada, kemudian selanjutnya adalah kurangnya kemampuan staf kecamatan dan desa itu sendiri sehingga SOP

yang telah ada tidak mampu di serap sepenuhnya dengan aparat pemerintah sehingga mengakibatkan kendala penerapan inovasi tersebut.

Berdasarkan indikator proses inovasi pada kebijakan program desa mandiri terpadu oleh pemerintah Kabupaten Luwu Utara mengenai pembaruan standar operasional dan prosedur yang dilakukan selama proses inovasi tersebut berlangsung, wawancara yang dilakukan oleh peneliti bersama mengenai hal tersebut mengatakan yakni:

“...begini untuk pembaharuan prosedural itu dilakukan kalau diperlukan selama proses penerapan inovasi tersebut, tapi sejauh ini yang dilakukan belum ada perubahan yang signifikan atau pembaharuan yang kami pemerintah daerah lakukan. Karena kami menganggap bahwa prosedur-prosedur yang ada sudah di rencanakan dengan sangat matang dan mempertimbangkan dengan segala kemungkinan dan aspek yang ada di masyarakat, sehingga untuk perubahan prosedural itu sampai saat ini tidak ada dikarenakan ya seperti itu semuana prosedur yang ada itu mudah

Dokumen terkait