Tahap 3 : Penilaian Kelompok
K. Indikator Keberhasilan
1. Deskripsi Pembelajaran
Pembelajaran pada kelas eksperimen (X-5) menggunakan strategi pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) sedangkan pada kelas kontrol (X-4) menggunakan pembelajaran konvensional. Sebelum dikenakan pembelajaran, siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi pretest yang digunakan untuk mengukur kemampuan awal siswa. Pada pertemuan berikutnya dilaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kelas masing-masing seperti yang telah direncanakan pada RPP. Setelah
proses pembelajaran selesai, siswa diberi posttest untuk mengukur kemampuan komunikasi matematika siswa. Berikut deskripsi pembelajaran untuk kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
a. Pembelajaran Kelas Eksperimen
Kegiatan pembelajaran di kelas eksperimen menyesuaikan RPP yang telah direncanakan. Pada pembelajaran ini, peneliti bertindak sebagai guru yang diamati oleh seorang observer yang bertugas untuk memantau proses pembelajaran dan mengisi lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Secara umum, pembelajaran di kelas eksperimen terlaksana sesuai dengan RPP yang telah direncanakan. Hal ini terbukti dari hasil pengamatan yang dicantumkan dalam lembar observasi yang terlihat pada Lampiran 2.1 halaman 80 dengan hasil analisis lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang mencapai 94,7 % yang masuk dalam kategori tinggi. Rekap penilaian hasil pengamatan keterlaksanaan pembelajaran dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 3.1 halaman 137.
Pembelajaran matematika di kelas eksperimen menggunakan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang berisi kegiatan-kegiatan dan permasalahan matematika yang harus didiskusikan oleh siswa. LKS berisi tentang materi Konsep dan Kedudukan Titik, Garis, dan Bidang pada Dimensi Tiga yang secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 2.5 halaman 107. Kegiatan-kegiatan pada LKS dilaksanakan siswa secara berkelompok.
Setiap pertemuan, pembelajaran matematika selalu diawali dengan berdoa bersama yang kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran dan motivasi. Setelah itu, peneliti yang berperan sebagai guru memberikan apersepsi kepada siswa
sebelum memasuki materi yang akan dipelajari. Kemudian untuk pertemuan pertama, siswa dikelompokan menjadi 8 kelompok yang masing-masing terdiri atas 4 siswa heterogen. Pengelompokkan ini berlaku selama penelitian berlangsung. Daftar kelompok dapat dilihat pada Lampiran 5.1 halaman 149. Sebelum memasuki kegiatan inti, guru memberikan peraturan pembelajaran menggunakan strategi kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS).
Kegiatan inti diawali dengan pemberian tugas pada setiap kelompok yang telah diuraikan dalam Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang dibagi menjadi tiga kegiatan. LKS secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 2.5 halaman 107. Siswa melaksanakan kegiatan sesuai petunjuk pada LKS dan mendiskusikan permasalahan yang ada pada LKS yang kemudian mencari pemecahan atas masalah yang didapatkan. Tahap penugasan ini memaksa siswa untuk mengasah kemampuan dalam hal menganalisis masalah matematika dan menyelesaikan masalah matematika secara terorganisasi dengan baik. Selain itu, siswa harus menuliskan penyelesaian dalam LKS sehingga membutuhkan kemampuan menjelaskan ide-ide matematika secara tertulis. Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan aspek-aspek yang menandakan kemampuan komunikasi matematika siswa.
Kegiatan selanjutnya yaitu tinggal dan bertamu. Siswa dalam masing-masing kelompok berbagi peran, dua orang menjadi tuan rumah dan dua orang menjadi tamu. Dua orang tamu dalam tiap kelompok mengunjungi kelompok lain yang telah ditentukan oleh guru. Aturan bertamu dapat dilihat pada Lampiran 5.2 halaman 150. Dua orang tamu ini diterima oleh tuan rumah kelompok lain. Tuan rumah bertugas menjelaskan pemecahan masalah hasil dari diskusi kelompoknya kepada tamu. Tamu menyimak dan diperkenankan bertanya kepada tuan rumah apabila terdapat hal-hal yang belum jelas. Tahap ini berguna untuk mengasah kemampuan siswa dalam menjelaskan ide-ide matematika secara lisan.
Gambar 2 Tahap Tinggal dan Bertamu pada Pembelajaran TSTS
Dua orang tamu dipersilakan kembali ke kelompoknya apabila penjelasan dari tuan rumah dianggap cukup. Pada tahap ini, dua siswa yang berperan menjadi tamu bertugas menceritakan hasil diskusi yang didapatkan dari kelompok lain ke kelompoknya masing-masing. Pada tahap ini, siswa juga diuji dalam hal kemampuan menjelaskan ide-ide matematika secara lisan kepada siswa lainnya.
Tahap selanjutnya berpikir ulang yaitu setiap kelompok memikirkan dan mendiskusikan kembali hasil pemecahan masalah yang telah didiskusikan sebelumnya
dikolaborasikan dengan hasil dari bertamu ke kelompok lain. Pada tahap ini, kelompok menganalisis ulang permasalahan matematika yang diberikan dalam LKS dan menyempurnakan hasil diskusi sehingga menjadi kesimpulan untuk masing-masing kelompok.
Tahap terakhir pada kegiatan inti adalah presentasi kelompok. Setiap kelompok mengajukan perwakilan kelompoknya untuk menjelaskan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. Namun, karena terkendala waktu, tidak semua kelompok dapat mempresentasikan hasil diskusinya.
Gambar 3 Tahap Presentasi Kelompok pada Pembelajaran TSTS
Kegiatan penutup untuk setiap pertemuan dalam pembelajaran yaitu guru bersama siswa menyimpulkan dan merangkum materi hasil pembelajaran. Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya apabila terdapat hal-hal yang kurang jelas. Sebagai akhir pembelajaran, guru dan siswa mengakhiri pembelajaran dengan berdoa.
Peran guru selama proses pembelajaran berlangsung adalah sebagai fasilitator. Guru akan memberikan arahan ketika siswa membutuhkan, sehingga dalam proses ini
siswa dituntut aktif. Guru tidak memiliki kendali penuh selama proses pembelajaran berlangsung.
b. Pembelajaran Kelas Kontrol
Kegiatan pembelajaran di kelas kontrol menyesuaikan RPP dari guru pengampu yang menggunakan pembelajaran konvensional. Pada pembelajaran ini, peneliti bertindak sebagai guru yang diamati oleh seorang observer yang bertugas untuk memantau proses pembelajaran dan mengisi lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Secara umum, pembelajaran di kelas kontrol terlaksana sesuai dengan RPP Konvensional. Hal ini terbukti dari hasil pengamatan yang dicantumkan dalam lembar observasi yang terlihat pada Lampiran 2.2 halaman 86 dengan hasil analisis lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang mencapai 92,83 % yang termasuk dalam kategori tinggi. Rekap penilaian hasil pengamatan keterlaksanaan pembelajaran dapat dilihat secara lengkap pada Lampiran 3.2 halaman 138.
Pembelajaran matematika di kelas kontrol menggunakan metode ceramah dan diskusi dengan teman sebangku. Hal ini menyebabkan guru memegang kendali sepenuhnya selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, peran siswa menjadi kurang dan siswa menjadi kurang aktif dalam memecahkan masalah matematika.
Setiap pertemuan dalam pembelajaran matematika di kelas kontrol diawali dengan berdoa bersama. Selanjutnya guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan motivasi bagi siswa. Setelah itu, guru memasuki materi dengan diawali apersepsi tentang dimensi tiga yang telah dipelajari di jenjang sebelumnya.
Kegiatan inti pada kelas kontrol adalah ceramah. Guru menjelaskan materi tentang konsep kedudukan titik, garis, dan bidang pada dimensi tiga dan memberikan contoh-contoh. Setelah itu, siswa diberikan latihan soal yang dapat didiskusikan dengan teman sebangku. Kemudian guru bersama siswa membahas latihan soal yang telah diberikan. Sesekali siswa diberi kesempatan untuk menjelaskan di depan kelas atau menuliskan jawaban di papan tulis.
Gambar 4 Suasana Pembelajaran di Kelas Kontrol
Tahap akhir pada pembelajaran matematika di kelas kontrol, guru bersama siswa menyimpulkan materi pada tiap pertemuan. Guru memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya jika terdapat hal-hal yang kurang dimengerti. Pembelajaran diakhiri dengan doa bersama pada tiap pertemuannya.