SARANA PRASARANA PEMBELAJARAN IPS
2. Deskripsi Pengembangan Draft Model
Berdasarkan analisis kondisi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di atas, maka dilakukan proses pemberian perlakuan terhadap kondisi yang ada, dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar. Langkah pertama yang dilakukan
10
11
evaluasi yang sering digunakan oleh Bapak/ ibu guru kamu adalah
Cara yang paling tepat dalam pembelajaran IPS di sekolah kamu adalah dengan
Selama ini metode yang biasa digunakan oleh guru dalam mengajarkan IPS adalah
b. Tes tertulis bentuk pilihan ganda
c. Tes lisan d. Pengamatan
a. Dengan ceramah dan tanya jawab.
b. Pemberian keteladanan dari
guru disamping
pembelajaran langsung di kelas.
c. Pembiasaan melalui belajar bersama dalam kelompok. d. Terserah kepada guru saja.
a. Ceramah b. Tanya jawab c. Diskusi kelompok
d. Mencatat dari buku yang ada
e. Disuruh menulis yang ada dipapan tulis 48 21 39 32 59 20 29 12 32 10 56 32
untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah dengan memulai langkah-langkah sebagai berikut :
a. Perencanaan Model
Untuk dapat mencapai hasil yang maksimal dalam pengembangan draft model ini, maka prencanaan merupakan bagian yang terpenting. Perencanaan yang dipersiapkan adalah berupa Dokumen Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi yang berisi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, Silabus dan rencana pembelajaran. Perencanaan yang dipersiapkan tentu saja bepedoman pada kurikulum yang berlaku yaitu Kurikulum 2006 yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Analisis terhadap kurikulum dilakukan untuk menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) yang rencananya akan dikembangkan. Perencanaan model selalu berkaitan dengan tujuan, materi, metode, media atau sumber dan evaluasi, oleh karena itu beberapa hal tersebut harus diperhatikan bahkan karakteristik siswa sesuai dengan perkembangan siswa sebagai subjek belajarpun harus juga menjadi perhatian guru.
Berbeda dengan model pembelajaran pada umumnya, dari sisi tujuan pembelajaran, model ini tidak hanya memperhatikan aspek kognitif siswa tetapi juga aspek afektif dan psikomotor. Guru sebagai perencana pembelajaran sedapat mungkin harus memperhatikan ketiga aspek tujuan pembelajaran tersebut. Di antara tujuan dari pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri,
memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu penggunaan model pembelajaran yang dikembangkan dipandang sangat tepat yakni membiasakan anak-anak dengan berkompetisi, saling menghargai pendapat orang lain, bekerjasama, hal ini sangat sesuai dengan tujuan pemerintah tentang karakter bangsa.
Seperti telah dikemukakan bahwa setelah tujuan, materi merupakan aspek yang juga harus menjadi fokus guru. Materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sarat dengan nilai-nilai yang dikembangkan pada diri siswa untuk selanjutnya diyakini dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dapat dikaitkan dengan kehidupan sosial siswa, sehingga menjadi sangat penting menanmkan nilai-nilai ini melalui proses pembelajaran. Guru sebagai perencana pembelajaran tidak akan mengalami kesulitan dalam menghubungkan materi pelajaran yang harus diberikan dengan hasil belajar sebagai bagian cara untuk mengukur keberhasilan siswa dalam belajar.
Dalam model pembelajaran kooperatif dengan teknik Team Games Tournament (TGT) dapat digunakan beberapa metode pembelajaran sekaligus secara bervariasi misalnya ceramah, diskusi, kerja kelompok, tanya jawab dan lain-lain. Dari studi pendahuluan yang telah dilakukan, mayoritas siswa menginginkan agar guru tidak hanya menggunakan satu metode saja tetapi menggunakan metode yang berariasi (multi method) dalam setiap pertemuan. Hal ini dapat dipahami karena penggunaan metode tertentu saja oleh guru dapat menimbulkan kejenuhan apalagi dalam jangka waktu yang panjang. Guru dituntut untuk benar-benar kreatif dan tanggap terhadap situasi data berlangsungnya proses
pembelajaran. Peran guru adalah bagaimana membelajarkan siswa, guru adalah motivator, fasilitator dan manager serta perencana pembelajaran. Pada pembelajaran konvensional sering terlihat dominasi guru pada proses pembelajaran dan ini harus menjadi perhatian guru pada model pembelajaran yang dikembangkan.
Model pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa ini adalah model pembelajaran kooperatif dengan teknik team games tournament (TGT). Menurut Lie (2006: 60-69), merekomendasikan beberapa tehnik pembelajaran kooperatif seperti jigsaw, STAD bercerita berpasangan, lingkaran kecil lingkaran besar, kepala bernomor dan lain-lain untuk digunakan pada semua mata pelajaran termasuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan cocok untuk semua kelas (tingkatan). Dipilihnya pembelajaran kooperatif Tipe TGT karena model ini dipandang sangat meningkatkan aktivitas, kreativitas, kompetisi, memunculkan sikap demokratis, saling menghargai, dengan ukuran hasil belajar siswa, karena hasil belajar ini dijadikan sebagai ukuran kognitif, afektif dan psikomotorik siswa, sehingga pembelajaran ini menjadi sangat mudah untuk dilaksanakan.
Untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran, dalam model yang dikembangkan ini guru dituntut untuk dapat memanfaatkan waktu, sarana dan fasilitas yang tersedia di sekolah baik menyangkut media maupun sumber pembelajaran. Umumnya setiap sekolah memiliki ruang kelas dengan fasilitas standar dan didukung dengan perpustakaan yang menyediakan buku-buku bacaan dan buku-buku sumber mata pelajaran. Di beberapa sekolah bahkan siswa
memiliki beberapa buku pegangan dan ditunjang dengan LKS sangat mendukung pembelajaran yang dikembangkan ini.
Berkaitan dengan evaluasi, penelitian ini hanya melihat dari sisi hasil belajar siswa karena dalam hasil belajar telah mencakup tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Evaluasi terhadap hasil siswa lebih menitik beratkan pada evaluasi hasil. Pelaksanaan pembelajaran dengan kerja sama dalam kelompok heterogen, akan membiasakan siswa untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi dengan saling menghargai dan berbagi peran dengan peserta lain yang sangat dibutuhkan siswa dalam kehidupan di masyarakat kelak. Selama proses pembelajaran, disamping menjadi fasilitator dan motivator yang selalu siap memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa terutama yang mengalami kesulitan, guru melakukan melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa. Evaluasi juga bisa dilakukan dengan cheklist atau skala sikap yang telah dipersiapkan guru.
b. Implementasi
Sebelum dilaksanakannya proses pembelajaran seperti model pembelajaran pada umumnya, pembelajaran kooperatif yang dikembangkan juga membutuhkan persiapan matang sebelum diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dengan persiapan yang baik diharapkan pelaksanaan pembelajaran dapat berlangsung sebagaimana yang diharapkan. Beberapa persiapan yang harus dilakuka oleh guru tersebut antara lain ; perangkat pembelajaran, pembentukan kelompok kooperatif, pengaturan tempat duduk dan kerja kelompok.
Sebelum pelaksanaan kegiatan pembelajaran, guru harus mempersiapkan perangkat pembelajaran meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), buku
pegangan siswa dan kartu soal beserta lembar jawabannya. Rencana Pembelajaran merupakan penjabaran dari silabus, dimana di dalam silabus tersebut telah terdapat rumusan tentang standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok pembelajaran, indikator, media serta evaluasi secara umum.
Persiapan berikutnya adalah pembentukan kelompok. Pembentukan kelompok harus memperhatikan heterogenitas siswa bahkan bila memungkinkan pembagian kelompok memperhatikan kemampuan akademis, ras, agama, jenis kelamin, latar belakang ekonomi serta sosial budayanya. Apabila ternyata dalam kelas terdiri atas ras dan latar belakang yang relatif sama maka pembentukan kelompok didasarkan pada kemampuan akademis siswa. Hal ini menjadi perhatian guru dan peneliti sebelum pelaksanaan pembelajaran supaya pada pelaksanaan pembelajaran sesungguhnya waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan pembelajaran.
Hal lain yang juga penting untuk dipersiapkan adalah pengaturan tempat duduk. Dalam pembelajaran kooperatif tempat duduk harus diatur sedemikian rupa, pengaturan tempat duduk yang baik akan menunjang tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pengaturan tempat duduk hendaknya dilakukan seefektif mungkin dan guru harus mempersiapkan sebelumnya bagaimana posisi tempat duduk siswa tersebut sehingga pada saat pelaksanaan terutama pada tahap awal pengenalan model, waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan baik.
Untuk menghindari terjadinya kendala atau hambatan pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran kooperatif yang dikembangkan ini, perlu terlebih dahulu diadakan latihan kerja sama dalam kelompok. Latihan ini dilakukan dengan tujuan agar masing-masing anggota kelompok lebih mengenal antara individu yang satu
dengan yang lainnya dan lebih familiar dengan model pembelajaran yang dikembangkan sehingga proses pembelajaran akan berjalan sebagaimana mestinya.
Setelah beberapa hal tersebut diatas dipersiapkan dengan baik, pelaksanaan pembelajaran yang sesungguhnya dapat dilaksanakan. Dalam proses pembelajaran yang dilangsungkan, sekalipun peran guru hanya sebagai fasilitator dan motivator tetapi sangat menentukan keberhasilan dalam pembelajaran. Guru harus selalu melakukan pengamatan terhadap proses kerjasama siswa dalam kelompok dan selalu siap memberikan bantuan dan bimbingan baik kepada individu ataupun kelompok yang membutuhkan. Selain memberikan bantuan dan bimbingan, guru juga melakukan observasi terutama terhadap aktivitas siswa.
Sebagaimana pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada umumnya, model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan ini terdiri atas tiga langkah pokok yaitu ; a) kegiatan pembukaan, b) kegiatan Inti dan, c) kegiatan penutup. Kegiatan pembukaan didahului dengan penyampaian tujuan pembelajaran bahwa pembelajaran yang dilakukan tidak semata-mata mentransfer pengetahuan Ilmu Pengetahuan, tetapi hal penting yang harus dikembangkan selama proses kooperatif adalah bagaimana keberhasilan dalam proses pembelajaran yang merupakan bagian terpenting yang harus dimiliki oleh setiap anak. Diantara keterampilan tersebut adalah ketermpilan bekerjasama dan komunikasi. Pengembangan materi ini sangat sesuai dengan materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang sedang mereka pelajari saat dilaksanakannya pengembangan model. Sebagai motivasi siswa, guru juga perlu menyampaikan bahwa pada akhir pertemuan akan ada reward kepada individu atau kelompok
terbaik. Dengan penyampaian tujuan pembelajaran dan pemberian motivasi tahap pembukaan ini siswa akan lebih siap dan terkondisi untuk belajar.
Kegiatan inti yaitu proses pembelajaran kooperatif dengan menggunakan berbagai metode yang dipandang dapat mengaktifkan individu dan kelompok. metode pembelajaran yang digunakan antara lain; kerja kelompok, diskusi kelompok, presentasi, tanya jawab dan lain-lain.
Kegiatan akhir atau penutup merupakan kegiatan guru untuk membuat kesimpulan atau rangkuman dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Guru membuat kesimpulan materi pelajaran yang telah dipelajari secara kooperatif dan pemberian reward kepada siswa dan kelompok yang telah mendapat nilai terbaik, reward atau penghargaan ini akan sangat mendorong siswa untuk terus berprestasi.
c. Evaluasi dan Revisi Model
Kegiatan ini merupakan kegiatan akhir dari pengembangan model. Evaluasi dilakukan dari setiap kali ujicoba melalui observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran oleh peneliti sebagia observer untuk selanjutnya didiskusikan dengan guru. Melalui diskusi secara intensif dengan guru sebagai pelaksana pembelajaran akan ditemukan kendala-kendala atau masalah-masalah. Kendala atau masalah ini menjadi masukan penting untuk memperbaiki model yang akan dikembangkan.
Evaluasi dilakukan tidak hanya pada implementasi saja tetapi juga pada rencana pembelajaran. RPP yang telah diperbaiki dan disempurnakan dipersiapkan untuk diimplementasikan pada pertemuan berikutnya. Dari satu
ujicoba ke ujicoba lainnya selalu diadakan evaluasi dan revisi model sehingga diperoleh model final.
Didasarkan pada hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan terhadap 14 sekolah dengan memperhatikan kajian literature yang mendukung dikembangkannya model ini yaitu konsep pembelajaran kooperatif, karakteristik dengan tujuan akhir yaitu meningkatkan hasil pembelajaran.