• Tidak ada hasil yang ditemukan

D Dinda Praptiwi 80 Wakil Kelompok Eldin Janjani 60 Epa Farida 70 Eris Septiani 50 Haerudin 50 E Herlan 50

Ira Lil Hawa

70 Jayadi 60 M. Irfan. H.A 80 Mia Utari 90 Wakil Kelompok F Mita Agustin 90 Wakil Kelompok M. Rangga Permana 80 M. Rijal 70 M. Ripaldi 50 Nuriah 50

Kelompok Nama Skor Keterangan

A Nana Mulyana 70 Tim Hebat B Egi Dermawan 80 Tim Hebat C Delvi Ruhaeni. J 70 Tim Hebat

122

4. Deskripsi Uji Coba Model Secara Luas

Setelah model yang dikembangkan melalui uji coba terbatas dengan proses siklus teruji dengan baik, maka langkah selanjutnya yaitu dilakukan uji coba secara luas, hal ini dilakukan untuk menguji apakah model ini dapat dikembangkan atau tidak ditempat lain. Uji coba luas dilakukan setelah didapatkan model final sementara yang dihasilkan dari serangkaian kegiatan uji coba terbatas sebanyak tiga kali uji coba. Uji coba secara luas dilakukan pada tiga Sekolah Dasar yang ada di Kecamatan Cimarga yaitu 1). SDN 1 Margajaya, 2). SDN 1 Cimarga, dan 3). SDN 2 Cimarga.

Untuk mematangkan uji coba secara luas, dilakukan serangkaian pertemuan dengan guru-guru yang akan dijadikan lokasi penelitian. Dalam pertemuan tersebut dijelaskan tentang model pembelajaran yang akan dikembangkan, konsep, prinsip, karakter model, tujuan atau sasaran yang diinginkan, langkah-langkah, dan temuan-temuan dilapangan selama dilakukan uji coba terbatas baik menyangkut rencana pembelajaran maupun implementasi model, menyangkut guru sebagai pelaksana pembelajaran maupun siswa objek penelitian. Setelah benar-benar siap, ditetapkan kelas yang akan dijadikan uji coba dan ditentukan jadwal pelaksanaan uji coba.

D Dinda Praptiwi 80 Tim Hebat E Mia Utari 70 Tim Hebat F Mita Agustin 90 Tim Super

a. Uji Coba Model Di SDN 1 Margajaya

Sekolah yang dijadikan objek Uji coba secara luas adalah SDN 1 Margajaya, sekolah ini merupakan satu komplek dengan SDN 2 Margajaya yang dijadikan sebagai uji coba terbatas. Sekolah ini berdasarkan penilaian masyarakat termasuk ke dalam kategori sekolah baik, hal ini terlihat dari penunjukan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak bahwa SDN 1 Margajaya dijadikan sebagai sekolah Rintisan Sekolah Standar Nasional (RSSN).

Suasana sekolah yang nyaman dan asri karena di sekeliling halaman tumbuh pohon-pohon Angsana yang membuat sekolah ini sejuk dan nyaman. Lokasi yang berdekatan dengan kantor UPT (Unit Pelaksana Teknis) Dinas Pendidikan sangan memungkinkan sekolah ini ditata dengan rapi

Bangunan gedung sekolah tertata lebih rapi dan terencana serta memiliki areal yang cukup luas. Jumlah siswanya pun relative sesuai dengan Standar Nasional (SSN) yaitu berjumlah 28 orang

Guru yang juga sudah senior dengan masa kerja lebih dari 20 tahun menjadi kendala tersendiri bagi peneliti. Setelah dilakukan pertemuan dan dilakukan diskusi beberapa kali serta diberikan bahan-bahan tentang konsep pembelajaran kooperatif, guru dapat memahami tujuan penelitian yang diinginkan. Pada uji coba luas pertama, suasana pembelajaran belum sebagaimana yang diharapkan. Suasana gaduh terutama pada saat pembagian kelompok dan penyusunan meja belajar (pengkondisian kelas).

Proses pembelajaran pada pertemuan pertama belum berjalan dengan baik. Waktu yang tersedia belum dapat dikelola dengan baik. Sebagian anak berusaha untuk mengikuti setiap prosedur pembelajaran dengan baik, sedangkan sebagian

124

yang lain cenderung menunggu instruksi guru. Demikian juga pada saat dilaksanakan diskusi kelompok, siswa masih belum paham sepenuhnya tentang proses pembelajaran yang dikembangkan, walaupun sebelumnya guru kelas 5 telah diberikan pemahaman tentang pembelajaran kooperatif tipe TGT.

Diawali dengan pembagian kelompok, kemudian siswa diberikan materi diskusi dilanjutkan dengan presentasi hasil diskusi kelompok. Setelah itu siswa dilakukan pembahasan bersama guru. Setelah pembahasan selesai, guru memberikan 10 item pertanyaan dengan tujuan untuk mencari wakil kelompok.

Uji coba luas pertama diakhiri dengan diskusi antara peneliti dengan guru untuk mengevaluasi pelaksanaan pambelajaran yang sudah dilakukan. Beberapa masukan untuk perbaikan pada siklus berikutnya diberikan, diantaranya pemberian motivasi agar semua siswa dapat terlibat secara lebih aktif dalam pembelajaran, guru lebih intensif memberikan bimbingan kepada individu atau kelompok yang kesulitan, pengelolaan waktu dengan baik dan pemberian reward pada akhir pembelajaran kepada kelompok dan individu terbaik.

Pelaksanaan uji coba kedua sudah mengarah kepada pembelajaran kooperatif Yang diinginkan. Dalam proses belajar dalam kelompok, siswa sudah menampakkan kerjasamanya dengan baik, ditunjukan dengan saling membantu menguasai materi yang dipelajari dan mempersiapkan bahan presentasi dengan tanya jawab. Sebagian besar siswa merasa termotivasi untuk terlibat lebih aktif dengan mengajukan pertanyaan dan memberikan tanggapan dari presentasi kelompok lain pada saat diskusi kelas. Suasana belajar yang efektif dan menyenangkan mulai tercipta.

Pada uji coba luas siklus ketiga, siswa telah dapat mengikuti prosedur pembelajaran dengan baik. Aktifitas siswa dalam proses pembelajaran sudah sesuai dengan apa yang direncanakan dalam rencana pembelajaran. Pada saat diskusi kelompok, siswa secara aktif bekerjasama dan saling membantu mempelajari materi yang diberikan guru. Siswa mampu membangun kerjasama dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan guru. Siswa mulai mampu berpartisipasi dalam mengerjakan tugas kelompok dan tepat waktu dalam melaksanakannya. Siswa sudah mulai mampu mempresentasikan hasil kerja dengan baik. Guru secara intensif memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa yang membutuhkan atau siswa yang mengalami kesulitan. Secara umum pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TGT yang dikembangkan sudah berlangsung dengan baik.

b. Uji Coba Model Luas Di SDN 1 Cimarga

Sekolah Dasar Negeri I Cimarga terletak Kp. Jampang Desa Cimarga Kecamatan Cimarga Kabupaten Lebak merupakan Sekolah Dasar binaan UNICEF. Sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah ini lengkap, sementara jumlah siswa tiap kelas terbilang gemuk dibanding dengan SDN 1 Margajaya, di SDN 1 Cimarga berjumlah 35 orang perkelas.

Setelah penentuan jadwal, dilakukan untuk uji coba pertama. Guru pelaksana pembelajaran adalah guru yang juga sebagai guru pada uji coba terbatas, sehingga pada saat dilaksanakannya uji coba tidak mengalami hambatan. Pada uji coba pertama di sekolah yang dikategorikan sedang ini sebagaimana uji coba pertama di sekolah lain, rata-rata siswa masih dalam tarap adaptasi dengan model pembelajaran yang dikembangkan. Selama proses pembelajaran secara

126

kelompok kooperatif terutama pada saat diskusi kelompok, suasana pembelajaran yang dinamis mulai terlihat. Guru yang sudah memiliki pengalaman pada uji coba terbatas dengan mudah dapat mengarahkan pembelajaran sesuai dengan prosedur pembelajaran yang direncanakan. Penekanan sasaran pada pengembangan hasil belajar anak sudah dilakukan sejak awal pembelajaran.

Kelemahan uji coba luas pertama pada sekolah ini lebih banyak pada performance siswa yang masih menunggu (pasif), walaupun beberapa siswa telah dapat mengikuti setiap prosedur pembelajaran sebagaimana diinginkan. Beberapa siswa tersebut dari pandangan peneliti telah memiliki dasar-dasar keterampilan yang sudah cukup baik. Keterampilan bekerjasama, mengemukakan pendapat, menerima masukan dari orang lain, serta rasa kesetiakawanan dan kemampuan berkomunikasi tentu saja diharapkan akan lebih berkembang dengan menggunakan model pembelajaran ini. Sementara bagi mereka yang belum terlibat banyak dalam aktifitas diskusi, bertanya atau memberikan tanggapan diberikan masukan kembali supaya lebih aktif dan memanfaatkan pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan sosialnya.

Uji coba kedua diawali dengan pemberian motivasi kepada siswa agar lebih aktif dalam setiap langkah atau prosedur pembelajaran dan menekankan kembali tentang pentingnya hasil belajar bagi kehidupan siswa kelak. Usaha yang dilakukan guru ternyata memberikan pengaruh positif terhadap proses pembelajaran pada uji coba luas kedua ini. Sebagian besar siswa telah berani mencoba mengembangkan keterampilan sosialnya yang diperlihatkan dengan suasana diskusi kelompok dan diskusi kelas yang semakin hidup. Walaupun satu dua siswa pada saat mengajukan pertanyaan atau memberi tanggapan terlihat

gugup dan ragu-ragu. Pada uji coba kedua, sebagian besar siswa telah aktif dalam proses pembelajaran kooperatif tipe TGT yang dikembangkan.

Pelaksanaan uji coba ketiga telah berrjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Guru telah menjalankan perannya sebagai fasilitator dan motivator pembelajaran dengan baik dan kinerja guru tampak lebih profesional. Sementara siswa secara umum bahkan hampir merata telah berusaha memanfaatkan settiap prosedur pembelajaran terutama pada saat diskusi kelas untuk mengembangkan keterampilan sosialnya dengan bersama-sama dalam kelompok mendiskusikan pertanyaan apa yang akan diajukan dan siapa yang akan mewakili kelompok secara bergiliran. Sebagian yang lain disamping bersama-sama membuat pertanyaan juga menyiapkan jawaban atau tanggapan atas pertanyaan. Dari hasil pengamatan peneliti, masih ada satu dua siswa yang sepanjang pembelajaran terlihat pasif. Dari informasi yang disampaikan oleh guru, bahwa anak tersebut memang memiliki kebiasaan yang demikian.

c. Uji Coba Model Luas Di Sekolah Dasar Negeri 2 Cimarga

Letak sekolah yang tidak berjauhan dengan SDN 1 Cimarga memberikan efek negative terhadap jumlah siswa yang dimiliki. Sekolah ini relative memiliki siswa sedikit dibandingkan dengan SDN 1 Cimarga.

Suasana lingkungan di Sekolah Dasar Negeri 2 Cimarga terasa sangat berbeda dibandingkan dengan dua sekolah lainnya yang menjadi objek penelitian terutama menyangkut kelengkapan fasilitas sekolah didukung dengan gedung dan kenyamanan, sekolah ini relative kurang dalam kebersihan, terutama ketika hujan turun, genangan air terlihat di halaman sekolah, hal ini disebabkan sekolah ini dekat dengan pesawahan, sehingga terasa kurang nyaman, namun penataan

128

ruangan guru, ruang kepala sekolah dan ruang belajar siswa sudah nampak kerapihannya.

Jumlah siswa tiap kelas yang hanya 25 orang dengan ruangan kelas yang cukup luas membuat suasana belajar sangat kondusif. Pelaksanaan uji coba pertama berjalan dengan lancar, siswa dengan cepat dapat menyesuaikan diri, hanya saja guru sering mendominasi kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dimaklumkan karena merupakan pertemuan pertama dan tahap penyesuaian diri. Pada awalnya siswa masih tampak malu-malu untuk turut aktif dalam kegiatan diskusi kelompok. Setelah proses pembelajaran berjalan dari satu tahapan ketahapan berikutnya dan berkat motivasi dari guru, keberanian siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat mulai tampak.

Siswa dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan model pembelajaran yang dikembangkan. Pada uji coba luas pertama, sebagian siswa memang sempat tampak ragu untuk bertanya atau mengemukakan pendapat demikian halnya guru mata pelajaran yang sesekali mendominasi kegiatan pembelajaran dengan terlalu banyak memberikan penjelasan. Dari hasil pengamatan peneliti, secara umum uji coba luas pertama di sekolah dengan katagori baik ini telah berjalan dengan baik. Perbaikan dilakukan hanya pada implementasi pembelajarannya menyangkut kinerja guru dan siswa pada setiap prosedur pembelajaran. Begitu juga penekanan pada sasaran pembelajaran yaitu pengembangan hasil belajar siswa yang masih belum maksimal. Kelemahan-kelemahan tersebut didiskusikan pada akhir pertemuan dengan guru sebagai pelaksana pembelajaran. Beberapa catatan diberikan diantaranya penegasan kembali tentang prosedur pembelajaran, sasaran pembelajaran dan pengelolaan waktu sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia.

Pada uji coba luas kedua, suasana pembelajaran semakin baik. Siswa sudah mulai terbiasa dengan suasana pembelajaran kooperatif dan partisipasi siswa dalam diskusi baik diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Siswa yang pada pertama pasif mulai memberanikan diri untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan. Dominasi guru tidak lagi terjadi pada uji coba yang kedua ini. Dalam kegiatan diskusi kelas, setiap kelompok diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil kerjanya, masing-masing kelompok yang terdiri dari lima orang dan setiap individu anggota kelompok mendapat peran sebagaimana yang mereka sepakati yaitu sebagai pemandu, penyaji (presentasi), dan anggota yang lain bekerjasama saling membantu memberikan tanggapan atas pertanyaan dari kelompok lain.

Uji coba ketiga pada sekolah berkategori rendah telah mengalami perkembangan yang menggembirakan hampir semua siswa berpartisipasi dalam diskusi kelompok. Motivasi yang diberikan pada awal pembelajaran dan pemberian reward pada akhir pembelajaran telah berhasil menciptakan suasana yang dinamis selama proses pembelajaran pada uji coba luas ketiga ini. Peran guru sebagai fasilitator dan motivator sudah sangat dirasakan. Bimbingan dan bantuan guru hanya diberikan pada saat dibutuhkan baik kepada individu maupun kelompok.

d. Evaluasi Dan Refleksi Dari Uji Coba Luas

Pada uji coba luas siklus pertama, di ketiga sekolah umumnya proses pembelajaran belum berjalan sebagaimana yang direncanakan sesuai dengan prosedur pembelajaran kooperatif. Pada uji coba luas siklus pertama, guru belum terbiasa menciptakan suasana pembelajaran yang mengarah kepada model

130

pembelajaran kooperatif tipe TGT walaupun model ini dipandang sederhana. Sebagian siswa perlu menyesuaikan diri lebih lama dengan model yang dikembangkan, motivasi dan pengarahan guru sangat dibutuhkan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang diinginkan.

Pada siklus dan ketiga, aktifitas siswa dalam proses pembelajaran sudah terjadi peningkatan dan sudah mengarah pada suasana pembelajaran kooperatif. Sebagian besar siswa sudah mampu membangun kerjasama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan guru. Terjadi peningkatan aktifitas belajar siswa dari siklus pertama, kedua dan ketiga ditunjukkan dengan partisipasi sepanjang pelaksanaan pembelajaran terutama pada saat diskusi kelas dengan saling mempertahankan pendapat. Dalam uji coba luas siklus kedua dan ketiga, guru telah menunjukkan perannya sebagai fasilitator dan motivator. Secara bertahap guru telah mampu menciptakan suasana atau kondisi pembelajaran kooperatif dengan baik. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT yang dikembangkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa Sekolah Dasar sudah berjalan sebagaimana yang diharapkan.

BAB V

Dokumen terkait