HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
1.2 Deskripsi Penggunaan Bahan pada Perawatan Luka
1.2 Deskripsi Penggunaan Bahan pada Perawatan Luka
Deskripsi penggunaan bahan-bahan pada perawatan luka berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar diketahui bahwa seluruh perawat tidak menggunakan bahan perawatan luka yang sesuai dengan karakteristik luka pasien (100.00%), gambaran penggunaan bahan pada perawatan luka dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Penggunaan Bahan-Bahan pada Perawatan Luka
No. Karakteristik Frekuensi Persentase 1. Sesuai karakteristik luka 0.00 100.00
3. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 30 orang perawat, ditemukan bahwa seluruh perawat (100.00%) di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar tidak menggunakan bahan perawatan luka yang sesuai dengan karakteristik luka pasien. Walaupun penggunaan bahan perawatan luka mayoritas tidak sesuai dengan karakteristik luka, masih ada penggunaan bahan yang tepat yaitu pemakaian salin normal sebagai larutan pembersih luka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perawat (30 orang) menggunakan salin normal sebagai cairan pembersih pada perawatan luka akut seperti luka operasi, luka superfisial, dan luka kronik, termasuk luka kronik yang menghasilkan jaringan nekrotik. Menurut pedoman AHCPR 1994 menyatakan bahwa cairan pembersih yang dianjurkan adalah normal salin (Sodium klorida). Sodium klorida atau Natrium klorida tersusun atas Na dan Cl yang memiliki komposisi sama seperti plasma darah, dengan demikian aman bagi tubuh (Morrison, 2004).
Berdasarkan hasil penelitian ini seluruh perawat (100.00%) menggunakan povidone iodine sebagai larutanantiseptik pada luka bedah (akut) dan 23 perawat (76.60%) menggunakan povidone iodine sebagai larutan antiseptik pada luka kronik, termasuk juga pada luka kronik yang menghasilkan jaringan nekrotik.
Penggunaan povidone iodine di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar
belum tepat karena tidak sejalan dengan WHO yang tidak menyarankan penggunaan povidone iodine pada luka bersih seperti luka hasil pembedahan dan luka kronis. Hal ini disebabkan povidone iodine bersifat toksik yang dapat merusak perkembangan jaringan baru (WHO, 2010). Penelitian lain yang
dilakukan oleh Brena, et al., 1980 menunjukkan bahwa pengunaan antiseptik menunjukkan efek buruk terhadap fisiologi penyembuhan luka. Penggunaan povidone iodine pada luka bersih seperti luka operasi dapat menyebabkan berhentinya aliran pembuluh darah kecil. Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan penggunaan antiseptik pada perawatan luka di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar belum tepat.
Berdasarkan hasil penelitian ini penggunaan balutan di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar menunjukkan bahwa 30 perawat (100.00 %) menggunakan balutan basah kering untuk merawat semua jenis luka akut. Penggunaan balutan basah kering dapat menghambat proses penyembuhan luka. Hal ini disebabkan karena kasa konvensional terbuat dari material tekstil katun yang tersusun dari serabut-serabut anyaman yang akan menyebabkan kasa melekat pada permukaan luka. Hal ini akan menyebabkan luka kembali ke fase inflamasi. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Gates dan Holloway (2002) yang dilakukan pada 40 orang ibu yang menjalani operasi Caesar menunjukkan bahwa luka yang dirawat dengan balutan yang dapat mempertahankan kelembaban lebih cepat menutup (5 hari) jika dibandingkan dengan luka yang dibalut dirawat dengan balutan basa kering (8 hari). Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan balutan pada perawatan luka di RSUD Dr. Djasamen belum tepat.
Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa 93.38% (28 perawat) menggunakan balutan basah kering (wet to dry) pada luka kronik termasuk luka
kronik yang disertai dengan jaringan nekrotik. Penggunaan balutan basah kering dapat menyebabkan trauma pada jaringan yang akan sembuh dan menimbulkan nyeri pada pasien. Penelitian yang dilakukan Mwipatayi (2004) pada 10 orang pasien luka kronik dengan jaringan nekrotik, dua diantaranya dilakukan debridemen autolisis menggunakan balutan polyacrylate mengalami penurunan luas area luka dari 26,4 cm2 menjadi 21,4 cm2 dalam waktu 5 hari. Sedangkan delapan orang pasien lagi dirawat menggunakan balutan basah kering mengalami penurunan luas area luka dari 25 cm2 menjadi 23 cm2 dalam waktu 5 hari. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa debridemen autolisis dengan balutan polyacrylate sangat efektif pada semua jenis luka.
Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa manajemen luka modern tidak lagi menyarankan penggunaan debridemen mekanik sebagai pilihan utama. Peneliti lebih menyarankan penggunaan debridemen autolisis pada luka yang memiliki jaringan nekrotik. Penggunaan debridemen autolisis memberikan banyak manfaat seperti cara pemakaian yang efektif, lebih aman, karena debridemen ini menggunakan mekanisme pertahanan tubuh sendiri untuk membersihkan jaringan nekrotik, tidak menimbulkan nyeri.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa 100,00% (30 perawat) di RSUD. Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar tidak menggunakan balutan yang dapat mempertahankan kelembaban (moist wound healing) seperti balutan oklusif ataupun balutan yang menyerap cairan (absorben dressing). Penggunaan balutan oklusif dapat mempercepat proses penyembuhan luka karena balutan ini dapat menciptakan lingkungan luka yang lembab yang akan mempertahankan sel
makrofag tetap hidup dan penting untuk reaksi enzim yang tergantung terhadap air dan oksigen sehingga proses penyembuhan luka tidak terganggu (Novriansyah, 2008).
Manfaat lain yang didapatkan dari penggunaan balutan yang dapat mempertahankan kelembaban adalah frekuensi pergantian balutan yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan balutan basah kering (wet to dry). Berkurangnya frekuensi penggantian balutan di rumah sakit akan mengurangi waktu perawat dalam merawat luka, dengan demikian perawat bisa mengerjakan pekerjaan lagi lebih efektif. David (2010) menyatakan bahwa tidak banyak rumah sakit yang menerapkan metode perawatan luka modern. Di Indonesia sendiri hanya ada 25 rumah sakit atau 2.47% dari total 1012 rumah sakit yang ada dan RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar merupakan salah satu rumah sakit yang tidak menerapkan perawatan luka modern. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar belum menggunakan balutan yang sesuai dengan karakteristik luka.
Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa seluruh perawat (30 responden)
tidak menggunakan silastic foam untuk menutup luka kronik yang berbentuk
cawan. Silastic foam adalah balutan yang direkomendasikan untuk luka yang
berada di daerah yang sulit di mana proteksi dan immobilisasi sangat bermanfaat. Balutan ini juga dapat digunakan pada luka dengan jumlah eksudat sudah berkurang, khususnya pada luka dalam yang bersih berbentuk cawan, seperti sinus
pilonidal yang sudah dieksisi, atau dekubitus luas didaerah sakrum (Morrison, 2004).
RSUD Dr. Djasamen tidak menyediakan balutan silastic foam pada luka yang berbentuk cawan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan perawat, perawat biasanya menggunakan kasa deeper sebagai pengisi lukanya. Pengisian luka menggunakan kasa deeper bertujuan untuk menyerap cairan yang berlebih dan mengontrol perdarahan. Pengunaan kasa deeper pada perawatan luka menyebabkan pergantian balutan yang lebih sering, Pergantian balutan yang sering akan menyebabkan jaringan granulasi yang tumbuh menjadi rusak. Hal ini akan membuat penyembuhan luka menjadi terlambat.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh perawat (100.00%) di RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematang Siantar menggunakan plester cokelat sebagai perekat balutan pada perawatan luka akut dan kronik. Penelitian yang dilakukan Cutting (2007) menunjukkan bahwa luka yang dirawat menggunakan plester cokelat menyebabkan peningkatan pelapasan kulit secara paksa (peel force) selama dua minggu pertama periode perawatan, dan meningkat secara signifikan jika dibandingkan dengan luka yang dirawat menggunakan perekat hidrokoloid. Pada penggunaan perekat hidrokoloid pegangkatan kulit secara paksa dapat dicegah, karena perekat ini dapat mempertahankan kelembaban kulit secara konsisten. Plester cokelat lebih cocok digunakan sebagai fiksasi infus atau kateter. Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan penggunaan balutan sekunder jenis balutan perekat (adhesive dressing) lebih baik jika dibandingkan dengan pita
perekat (adhesive tape). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan penggunaan balutan sekunder di RSUD Dr. Djasmen Pematangsiantar belum tepat.
Pada luka yang megalami infeksi yang menghasilkan eksudat yang berbau busuk, dapat digunakan balutan arang aktif (activated charcoal dressing), sebagai penghilang bau (deodoriser) yang efektif (Morrison, 2004). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100.00% (30 responden) perawat tidak menggunakan balutan arang aktif sebagai penghilang rasa bau pada luka yang menghasilkan bau. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Hamptomp (2003) yang melakukan penelitian pada 20 orang pasien luka kronik yang menghasilkan bau, diperoleh bahwa 50.00% dari pasien menyatakan bau pada luka pasien hilang sama sekali, dan 35.00 % menyatakan bau pada luka bisa dikontrol.
Menurut peneliti, bau yang ditimbulkan oleh luka dapat mempengaruhi psikologi pasien. Pasien dapat mengalami perubahan citra diri, merasa malu, dan depresi. Perawatan luka yang holistik tidak hanya berpusat pada kesembuhan luka pasien tapi juga berusaha untuk mengatasi akibat dari luka yang dialami pasien. Dengan demikian peneliti menyarankan manajemen luka RSUD Dr. Djasamen Pematangsiantar sebaiknya menggunakan balutan arang aktif pada luka kronik.
BAB 6