• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

5.4. Deskripsi Perekonomian Riau

Pertumbuhan ekonomi tanpa migas Riau selama periode 1998-2002 memperlihatkan pertumbuhan ekonomi Riau pada kelompok pertumbuhan tinggi yaitu 4.67 persen sementara rata-rata Indonesia hanya 0.05 persen. Perekonomian Riau relatif cukup tangguh terhadap dampak krisis moneter, terbukti dengan pertumbuhan yang mengalami kontraksi hanya sebesar minus 1.81 persen di tahun 1998 kemudian bangkit untuk tumbuh dengan naik cukup tajam menjadi sebesar 5.59 persen pada tahun 2002 dan pernah secara fantastis mencapai 10.24 persen di tahun 2000. Pertumbuhan ekonomi Riau pada tahun 2001 yang merupakan awal diimplementasikanya otonomi daerah menunjukkan penurunan pertumbuhan ekonomi Riau dari tahun sebelumnya. Untuk lebih jelas lihat Gambar 3

-20.00 -15.00 -10.00 -5.00 0.00 5.00 10.00 15.00 1998 1999 2000 2001 2002

Riau Tampa Migas Indonesia Tampa Migas Riau Dengan Migas Indonesia Dengan Migas

Gambar 3. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Provinsi Riau tahun 1998-2002

Bentuk pertumbuhan ekonomi dengan migas menunjukkan hal yang sama. Pada Gambar 3 terlihat rata-rata pertumbuhan ekonomi Riau masih lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perekonomian Riau juga relatif tangguh apabila dibandingkan dengan Indonesia terhadap krisis moneter, terbukti pertumbuhan ekonomi Riau hanya mengalami kontraksi sebesar minus 3.86 persen sedangkan untuk Indonesia mengalami kontraksi lebih tinggi sebesar minus 13.13 persen. Pertumbuhan ekonomi Riau dengan migas setelah otonomi daerah menunjukkan hal yang sama dengan pertumbuhan ekonomi tampa migas dan kembali meningkat sejalan era otonomi daerah.

Dari Tabel 9 terlihat 5 sektor yang memiliki ketangguhan pada krisis monoter yang diperlihatkan dari pertumbuhan positif sektor ini pada krisis moneter sedangkan sektor lain mengalami pertumbuhan negatif. Kelima sektor itu adalah sektor pertanian dengan pertumbuhan 11.00 persen, sektor listrik dan air bersih dengan pertumbuhan 17.16 persen, sektor perdagangan dengan pertumbuhan 0.18 persen, sektor angkutan dan komunikasi dengan pertumbuhan 4.29, dan sektor jasa-jasa dengan pertumbuhan 2.65 persen. Dari pertumbuhan ekonomi Riau menurut sektor ekonomi pada periode 1998-2002 menunjukkan sektor pertanian dan sektor listrik dan air bersih menunjukkan penurunan laju pertumbuhan sedangkan sektor lain menunjukkan peningkatan laju pertumbuhan walaupun terjadi kontraksi setiap tahunnya

Tabel 9. Pertumbuhan Ekonomi Riau Tanpa Migas Tahun 1998-2002 (%) No. Sektor 1998 1999 2000 2001 2002 1. Pertanian 11.00 9.11 7.54 8.09 5,36 2. Pertambangan -2.02 1.85 7.42 6.20 6,48 3. Industri -4.21 1 1.86 12.46 12.22 4,72

4. Listrik, dan Air Bersih 17.16 5.71 4.66 7.47 5,30

5. Konstruksi -27.99 5.55 10.35 7.13 6,69

6. Perdagangan 0.81 4.77 5.27 5.53 6,06

7. Angkutan dan komunikasi 4.29 5.29 6.56 6.84 10,16

8. Keuangan -5.96 -28.03 34.01 -31.71 2,45

9. Jasa-jasa 2.65 3.25 2.79 4.87 5,96

Riau -1.81 4.16 10.24 5.15 5.59

Indonesia -14.22 1.09 5.29 3.98 4.12

Sumber : BPS Provinsi Riau, 2002

Khusus untuk sektor konstruksi dan keuangan memperlihatkan laju pertumbuhan rata-rata sangat rendah. Untuk sektor konstruksi dampak krisis moneter tahun 1998 mempengaruhi sektor ini cukup kuat dan memang secara umum ditingkat nasional pun demikian. Akibatnya sangat berpengaruh pada rata- rata laju pertumbuhannya, tetapi setelah tahun 1998 sektor konstruksi di Riau pulih kembali dengan cepat dan mencatat pertumbuhan rata-rata di atas 5 persen. Sementara pada sektor keuangan dampak krisis moneter tersebut membawa pengaruh pada perkembangan keuangan dan perbankan karena sikap berhati-hati kalangan perbankan, sehingga bank sebagai agent of development mempunyai keterbatasan dalam menyalurkan kredit. Keadaan ini selanjutnya berpengaruh pula terhadap peningkatan nilai tambah yang dapat diciptakan oleh sektor keuangan dan perbankan.

Tabe1 10. Pertumbuhan Ekonomi Riau Termasuk Migas Tahun 1998-2002

(%)

No. Sektor 1998 1999 2000 2001 2002

1. Pertanian 11.00 9.11 7.54 8.09 5,36

2. Pertambangan -6.72 2.83 3.94 3.59 3,56

3. Industri -0.68 8.95 9.52 9.88 4,24

4. Listrik, dan Air Bersih 17.16 5.71 4.66 7.47 5,30

5. Konstruksi -27.99 5.55 10.35 7.13 6,69

6. Perdagangan 0.81 4.77 5.27 5.53 6,06

7. Angkutan dan Komunikasi 4.29 5.29 6.56 6.84 10,16

8. Keuangan -5.96 -28.03 34.01 -31.71 2,45

9. Jasa-jasa 2.65 3.25 2.79 4.87 5,96

RIAU -3.86 3.38 6.52 4.25 4.40

Indonesia -13.13 0.79 4.90 3.32 3.80

Bentuk pertumbuhan masing-masing sektor ekonomi dengan migas mirip dengan bentuk tanpa migas, perbedaannya terjadi pada penurunan laju pertumbuhan sektor industri dan pertambangan. Oleh karena pada kedua sektor tersebut terdapat unsur migas sehingga bila terjadi perubahan produksi pada migas Riau maka nilai tambah kedua sektor tersebut akan mengalami perubahan pula. Hal ini diperkuat dengan adanya kecenderungan ekspor migas Riau yang semakin menurun sejak tahun 2000. Untuk jelas dapat dilihat pada Tabel 10

5.4.2. Struktur Perekonomian Riau

Berdasarkan struktur ekonomi Riau tanpa migas selama periode 1998- 2002 yang dapat dilihat pada Tabel 11 diketahui bahwa sektor pertanian yang banyak memiliki SDA, sektor industri dan sektor perdagangan sebagai sektor penunjang dari sektor pertanian, merupakan penopang utama dalam pembangunan ekonomi Riau. Ketiga sektor tersebut menyumbang sekitar 67.00 persen pada tahun 1998 dan meningkat menjadi sekitar 69.95 persen pada tahun 2002. Untuk sektor pertanian pada tahun 1998 menyumbang pada perekonomian sebesar 22.65 persen pada tahun 2002 naik menjadi 26.02 persen sehingga menjadi sektor terbesar sumbangannya dalam perekonomian pada tahun 2002. Sedangkan untuk sektor industri pada tahun 1998 menyumbang dalam perekonomian sebesar 26.86 pada tahun 2002 sumbangan sektor industri turun menjadi 25.99 persen. Sedangkan untuk sektor perdagangan pada tahun 1998 menyumbang pada perekonomian sebesar 17.58 persen dan pada tahun 2002 naik tipis menjadi 17.94 persen. Turunnya peranan sektor Industri dalam PDRB, sangat terkait dengan situasi dan kondisi nasional seperti menurunnya jumlah investasi secara nasional, terjadinya persaingan global dan kondisi di dalam negeri yang tidak kondusif persaingan global dan kondisi di dalam negeri yang tidak kondusif.

Tabel 11. Struktur Ekonomi Riau Tanpa MigasTahun 1998-2002 (%) No. Sektor 1998 1999 2000 2001 2002 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pertanian Pertambangan Industri

Listrik, dan Air Bersih Konstruksi

Perdagangan

Angkutan dan Komunikasi Keuangan Jasa-jasa 22.56 2.87 26.86 0.92 5.97 17.58 6.32 9.62 7.30 24.47 2.62 26.73 0.94 6.19 17.86 6.41 6.31 8.47 23.61 2.50 25.93 0.89 5.84 17.81 6.45 7.74 9.23 25.00 2.69 26.88 0.89 5.65 17.99 6.33 4.37 10.20 26,02 2,60 25,99 0,85 5,47 17,94 6,36 4,18 10,59 Riau 100,00 100.00 100.00 100.00 100.00

Sumber: BPS Provinsi Riau, Tahun 2002

Berbeda dengan struktur perekonomian Riau tanpa migas, maka struktur perekonomian Riau dengan migas selama periode 1998-2002 sangat bergantung pada sektor yang mengandung SDA migas yakni sektor pertambangan. Dalam perekonomian Riau sektor ini memberikan kontribusi sekitar 58.03 persen pada tahun 1998 yang kemudian menurun menjadi sekitar 52.01 persen pada tahun 2002. Hal ini sejalan dengan kecenderungan produksi dan ekspor migas yang juga menurun, walaupun terdapat efiseinsi. Sektor industri menempati posisi kedua pada struktur perekonomian Riau dengan migas. Pada tahun 1998 sektor ini menyumbang dalam perekonomian sebesar 15.26 persen dan meningkat pada tahun 2002 menjadi 16.45 persen. Sedangkan sektor pertanian menduduki posisi ketiga dengan sumbangan pada perekonomian pada tahun 1998 sebesar 8.58 persen dan naik pada tahun 2001 menjadi 11.49 persen. Naik sumbangan sektor pertanian dalam perekonimian Riau menunjukkan ketangguhan sektor pertanin dalam memfaatkan sumberdaya yang ada di Provinsi Riau.

Tabel 12. Struktur Perekonomian Riau Termasuk Migas Tahun 1998-2000. (%)

No. Sektor 1998 1999 2000 2001 2002

1. Pertanian 8.58 9.41 9.89 10.80 11,49

2. Pertambangan 58.03 57.14 54.09 52.85 52,01

3. Industri 15.26 15.69 15.95 16.72 16,45

4. Listrik, dan Air Bersih 0.35 0.36 0.37 0.39 0,38

5. Konstruksi 2.27 2.38 2.44 2.44 2,41

6. Perdagangan 6.68 6.87 7.45 7.77 7,92

7. Angkutan dan Komunikasi 2.40 2.46 2.70 2.73 2,81

8. Keuangan 3.66 2.43 3.24 1.89 1,85

9. Jasa-jasa 2.77 3.26 3.87 4.41 4,68

Riau 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

5.4.3. Produk Domestik Regional Bruto Perkapita

PDRB perkapita menjadi salah satu indikator kemakmuran penduduk disuatu wilayah dan bila ditampilkan secara berkala akan dapat diketahui perkembangan tingkat kemakmuran yang terjadi di daerah tersebut. Untuk Provinsi Riau, PDRB per kapita atas harga konstan selama periode 1998-2002 menunjukkan terjadinya peningkatan ditinjau dari PDRB tanpa migas dengan rata-rata peningkatan sebesar 0.99 persen. Sedangkan PDRB perkapita dengan migas menunjukkan terjadinya penurunan dengan rata-rata penurunan sebesar 0.61 persen. Peningkatan PDRB perkapita tampa migas terlihat dari tahun 1998 sebesar Rp 2.02 juta naik menjadi Rp 2.10 juta pada tahun 2002. Sementara Penurunan PDRB perkapita dengan terlihat pada tahun 1998 sebesar Rp 4.73 turun pada tahun 2002 menjadi sebesar 4.61 persen. Dengan nilai itu dapat diketahui pada periode 1998-2000 PDRB perkapita tampa migas menunjukkan peningkatan kesejakteraan sedangkan PDRB perkapita dengan migas menunjukkan penurunan kesejahteraan masyarakat Riau.

Sama trennya dengan pendapatan perkapita, pendapatan perkapita tanpa migas menunjukkan peningkatan dengan rata-rata peningkatan 0.93 persen sedangkan pendapatan perkapita dengan migas menunjukkan terjadi penurunan dengan rata-rata 0.66 persen. Dari nilai itu dapat diketahui pendapatan tampa migas provinsi Riau menunjukkan terjadinya peningkatan kesejahteraan sedang pendapatan dengan migas menunjukkan hal sebaliknya

0 1 2 3 4 5 6 1998 1999 2000 2001 2002

PDRB Perkapita Tanpa Migas PDRB Perkapita Dengan Migas Pendapatan PerkapitaTampa Migas Pendapatan Perkapita Dengan Migas

Gambar 4. PDRB Perkapita dan Pendapatan Perkapita Termasuk Migas dan Tampa Migas tahun 1998-2002

5.4.4. Ekspor dan Impor Provinsi Riau

Sistem perekonomian Provinsi Riau membuka peluang untuk melakukan perdagangan luar negeri melalui kegiatan ekspor-impor yang tentunya akan memberi dampak positif dan semakin meningkatkan roda perekonomian secara keseluruhan di Provinsi Riau. Ekspor Provinsi Riau pada periode 1998- 2002 memiliki kecenderungan yang meningkat yaitu tahun 1998 nilai ekspornya mencapai US$ 7,17 milyar dan pada tahun 2002 meningkat menjadi US$. 9,30 milyar. Dari komposisi ekspor kelihatan peranan ekspor non migas terus meningkat yaitu pada tahun 1998 sebesar US$ 4,81 milyar naik menjadi US$ 6,35 milyar pada tahun 2002. Sedangkan ekspor migas menunjukkan terjadinya penurunan yang hal ini disebabkan oleh makin turunnya produksi migas Provinsi Riau. Sementara impor Provinsi Riau pada periode yang sama tampak cenderung menurun, yakni di tahun 1998 US$ 1,03 milyar kemudian turun menjadi US$ 0,90 milyar pada tahun 2002. Turunnya nilai impor sedangkan ekspor Provinsi Riau terus meningkat tentu akan berdampak makin naik nilai surplus neraca perdagangan Provinsi Riau. Untuk lebih jelas lihat Tabel 13.

Tabel 13. Ekspor-Impor Riau Tahun 1998-2002

(Milyar US$) No. Rincian 1998 1999 2000 2001 2002 1 Ekspor: 17.17 8.81 11.01 8.97 9.30 a. Migas 2.36 3.03 4.02 3.52 2.95 b. Non Migas 4.81 5.78 6.99 5.45 6.35 2 Impor: 1.03 1.28 1.82 1.09 0.90 a. Migas 0.10 0.08 0.05 0.16 0.31 b. Non Migas 0.93 1.20 1.77 0.93 0.59 3 Surplus/defisit: 6.14 7.53 9.19 7.88 8.40 a. Migas 2.26 2.95 3.97 3.36 2.64 b. Non Migas 3.88 4.58 5.22 4.52 5.76 Sumber: BPS Provinsi Riau, Tahun 2002

5.4.5. Investasi di Provinsi Riau

Investasi di Provinsi Riau memegang peranan penting pada pertumbuhan ekonomi Riau. Pada Periode 1998-2002 nilai investasi dalam negeri menunjukkan terjadinya penurunan investasi yang ditanamkan di Provinsi Riau. Hal ini terlihat pada tahun 1998 nilai investasi PMDN sebesar Rp 4991737.03

juta dan turun pada tahun 2002 menjadi sebesar Rp 2799092.00 juta . Penurunan terbesar terjadi pada tahun 2001 yang merupakan awal diimplementasikanya otonomi daerah. Terjadinya penurunan investasi pada tahun 2001 menunjukkan Pemerintah provinsi Riau belum bisa memamfaatkan meningkatnya wewenang yang dimiliki pada era otonomi daerah. Untuk lebih jelas lihat Tabel 14.

Tabel 14. Nilai Investasi PMDN dan PMA di Provinsi Riau Tahun 1998-2002 Nilai Investasi PMDN (juta rupiah) PMA (ribu US$) 1998 1999 2000 2001 2002 4991737.03 9788092.88 8454421.39 5740533.00 2799092.00 1378.93 5145.33 689.66 1984179.00 1395558.00 Sumber: BPS Provinsi Riau, Tahun 2002

Nilai investasi luar negeri menunjukkan hal sebaliknya, pada periode 1998-2002 terjadi peningkatan investasi luar negeri. Hal ini terlihat nilai investasi PMA pada tahun 1998 sebesar US$ 1378.93 ribu dan naik sangat signifikan pada tahun 2002 menjadi US$ 1395558.00 ribu. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2001 hal ini menunjukkan provinsi Riau mampu memamfaatkan era otonomi daerah untuk menarik pemodal asing untuk menanamkan modalnya di Provinsi Riau.

VI. OTONOMI DAERAH DAN

PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

6.1. Otonomi Daerah

Era otonomi daerah yang dimulai dengan dikeluarkannya UU No. 25 Tahun 1999 dan direvisi dengan UU N0. 32 Tahun 2004, mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan berbagai aspek sesudah otonomi daerah di Provinsi Riau meliputi: (1) kegiatan dan program pembangunan daerah, dan (2) Keuangan daerah.

6.1.1. Kegiatan dan Program Pembangunan Daerah

Kegiatan pemerintah daerah tercermin dalam APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). APBD merupakan dokumen Perda (Peraturan Daerah) yang berisi kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah selama tahun yang bersangkutan, beserta jumlah dan sumber-sumber dana. Setiap tahun pihak eksekutif menyusun RAPBD (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) untuk dibahas dan syahkan bersama dengan pihak legislatif sebagai APBD yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah daerah.

6.1.1.1. Mekanisme Pelaksanaan Pembangunan Daerah

Kegiatan pembangunan dilaksanakan oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana dan DPRD sebagai pengawas. Pemerintah daerah melaksanakan kegiatan pembangunan yang rencana kegiatannya sudah disetujui oleh DPRD dan dituangkan dalam bentuk Perda (Peraturan daerah). Perda yang menyangkut rencana pembangunan meliputi

1. Perda Properda (Program Pembangunan Daerah). 2. Perda APBD.

Selain Properda dalam rangka perencanaan pembangunan daerah masih terdapat Renstra (Rencana Strategis) daerah, sedangkan APBD adalah rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah setiap tahun. Dengan demikian dalam pembangunan daerah terdapat rencanan pembangunan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Rencana pembangunan jangka pendek terdapat dalam APBD berupa program dan proyek untuk tahun yang bersangkutan.

6.1.1.2. Kebijaksanaan dan Usaha Pembangunan Daerah

Dalam membangun daerah Riau, Pemerintahan memantapkan visi dan misi pembangunan di Riau dengan tujuan agar arah dan tujuan pembangunan Riau lebih jelas dan terarah. Berdasarkan potensi dan kondisi yang terdapat dalam masyarakat probinsi Riau, maka Visi Pembangunan Daerah sebagai berikut

”Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam lingkungan Masayarakat yang agamis, sejahtera lahir bating di Asia Tenggara tahun 2020”

Guna mewujudkan dan merealisasikan Visi Pembangunan Daerah Provinsi Riau, maka ditetapkan misi Pembangunan Daerah sebagai berikut:

1. Mewujudkan masyarakat Riau yang beriman dan bertaqwa, berkaulitas, sehat dan cerdas serta mengusai Ilmu pengetahuan dan teknologi

2. Meningkatkan peran lembaga pendidikan sekolah maupun luar sekolah guna menbentuk karakter, moral, dan etika masyarakat yang agamis.

3. Meningkatkan pelaksanaan penegakan supremasi hukum dan hak azasi manusia serta kehidupan demokratis, guna tercipta masyarakat yang madani. 4. Mewujudkan dan meningkatkan pembangunan infrastruktur ekonomi, sosial,

politik dan budaya agar tercipta dan terlaksana pertumbuhan dan pemrataan pembangunan, pemberdayaan ekonomi rakyat, peningkatan kelembagaan masyarakat serta peningkatan pendapatan daerah.

5. Meningkatkan pembinaan industri, perdagangan dan jasa yang maju didukung oleh agroindustri dan agrobisnis.

6. Mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya alam untuk kesejahteraan rakyat melalui pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. 7. Meningkatkan hubungan kerjasama antar daerah Provinsi, antar kabupaten dan

kota dalam Provinsi Riau serta luar negeri dalam segala bidang.

8. Membina dan mengembangkan kebudayaan melayu yang mampu mengikuti perkembangan zaman dengan tidak menghilangkan jati diri, sehingga tercipta masyarakat masyarakat melayu yang maju, mandiri dan mampu bersaing. 9. Mewujudkan dan meningkatkan fungsi manajemen Pemerintah Daerah,

kewirausahaan sehingga tercipta Pemerintahan Daerah yang Bersih, Baik dan Berwibawa (Clean Goverment and Good Goverment)

Sasaran dari Pembangunan Daerah Provinsi Riau adalah: 1. Mewujudkan manajemen Pemerintahan Daerah yang baik

Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja aparatur pemerintahan yang profesional, produktif, efisein, transparan, dan akuntabel dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat baik lokal maupun internasional.

2. Mewujudkan landasan ketahanan kebudayaan melayu

Hai ini merupakan tujuan juga sarana untuk membangun kesejahteraan rakyat yang dilandasi Iman dan Taqwa.

3. Membangun kesejahteraan dan ketahanan ekonomi daerah yang berbasis ekonomi kerakyatan

Upaya pembangunan ketahanan ekonomi kerakyatan yang dapat menunjang komoditas unggulan Daerah Riau.

4. Memberdayakan masyarakat

Upaya meningkatkan kemampuan masyarakat guna mewujudkan pelaksanaan otonomi daerah dalam memasuki era globalisasi.

Untuk mewujukan visi dan misi pembangunan Provinsi Riau 2020 maka ditetapkan strategi jangka panjang yaitu:

1. Menumbuhkan semangat kemantapan keimanan dan ketaqwaan serta memperkokoh toleransi antar umat beragama.

2. Mengembangkan mutu pendidikan sebagai upaya meningkatkan kemampuan penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi

3. Meningkatkan mutu dan etos kerja sumberdaya manusia yang diandalkan dalam persaingan global

4. Melakukan penggalian, pengkajian dan memutahirkan nilai-nilai kebudayaan melayu secara terpadu dan berkesinambungan yang mendukung kemajuan pemberdayaan rakyat.

5. Meningkatkan kesadaran berbudaya melayu dalam upaya menangkal budaya luar (asing) yang negatif dalam rangka mewujudkan jati diri daerah dan bangsa.

6. Melaksanakan pembangunan ekonomi kerakyatan dengan menekankan sekor unggulan secara terpadu dan sinergi antar sektor maupun antar wilayah

7. Memantapkan otonomi daerah yang nyata, dinamis dan bertanggung jawab yang didukung aparatur pemerintah yang handal, profesional, transparan, dan akuntabel

8. Membangun infrastruktur untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan 9. Menegakkan hukum dan hak azasi manusia untuk menciptakan demokrasi dan

keadilan

10. Mewujudkan dan meningkatkan penyelesaian tata batas wilayah provinsi, kabupaten/kota sehingga tidak menimbulkan kerawanan sosial.

Pada tahap kurun waktu 5 (lima) tahun maka dibentuk strategi jangka pendek yang selanjutnya disebut 5 (lima) pilar:

1. Pembangunan dan rangka meningkatkan Iman dan Taqwa a. Meningkatkan pendidikan agama

b. Mewujudkan kehidupan beragama yang harmonis

c. Meningkatkan bantuan penyediaan sarana dan prasarana kehidupan beragama

d. Meningkatkan kerukunan umat agama

e. Pemberantasan penyakitkan masyarakat meliputi : kriminilitas, prostitusi, narkoba, miras, dan judi

2. Pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia

a. Meningkatkan mutu sumberdaya manusia, dengan pemerataan pendidikan yang bermutu

b. Mendorong masyarakat agar berperan aktif dalam bidang pendidikan c. Mendorong dunia usaha agar senantiasa meningkatkan keahliaan dan

ketrampilan tenaga kerja

d. Meningkatkan kaulitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat

e. Mengembangkan kebijakan kependudukan yang selaras dengan tuntutan nyata masyarakat dalam rangka peningkatan mutu SDM

f. Meningkatkan penelitian

g. Mendorong berkembangan lembaga pendidikan tinggi yang relevan dengan tuntutan pembangunan

h. Meningkatkan pemberdayaan perempuan 3. Pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan

a. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berperan aktif dalam proses pembangunan

b. Melakukan relokasi dan redistribusi secara bertahap terhadap sumberdaya dan aset-aset produksi yang dikuasai secara berlebihan oleh kekuatan ekonomi besar yang minoritas terhadap masyarakat sehingga terjadi pemerataan

c. Mengembangkan usaha kecil dan menengah serta koperasi

d. Mengembangkan sektor-sektor utama yang mempunyai keterkaitan dengan sektor lainnya.

e. Meningkatkan pembangunan infrastruktur

f. Memfungsikan jaringan transportasi dan struktur jaringan jalan

g. Meningkatkan pembangunan telekomunikasi, kelistrikan, penyediaan air baku dan air bersih

h. Meningkatkan upaya intensifikasi, diversifikasi ekstensifikasi dan berbagai potensi sumber keuangan daerah serta memperjuangkan keadilan perimbangan keuangan sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang i. Mengembangkan kebijakan ekonomi makro dan mikro secara terkoordinir,

untuk menciptakan iklim investasi yang konduksif guna memacu perkembangan ekonomi daerah

j. Memberdayakan lembaga dan organisasi sebagai wadah pengembangan kegiatan usaha produktif.

4. Pembinaan Kesehatan dan Olahraga

a. Peningkatan pembangunan kesehatan dengan prioritas pelayanan dasar kesehatan masyarakat, penanggulangan balita, penyakit menular dan narkoba.

b. Melalui program jaring pengaman sosial, meningkatkan kaulitas lingkungan keluarga, desa dan pemukiman kumuh serta di pulau-pulau terpencil

c. Peningkatan dan pembinaan olahraga beprestasi, melalui sekolah, organisasi pemuda dan perguruan tinggi

d. Meningkatkan kaulitas atlet cabang olahraga unggulan dalam PON, PERWIL, PORDA

e. Menunjang program olahraga rakyat seperti sepakbola, takraw, baladiri, dan lain-lain

5. Pembinaan dan pengembangan kebudayaan

a. Pembinaan dan pengembangan kebudayaan secara terpadu dan berkelanjutan

b. Membangun dan mengembangkan kebudayaan lokal

c. Mengembangkan potensi daerah seperti lembaga adat, sanggar perkumpulan sastra dan kesenian lainnya

d. Membangun pusat-pusat pengembangan kebudayaan melayu e. Mewujudkan program kebudayaan secara terpadu.

6.1.2. Keuangan Pemerintah

Kebijakan otonomi daerah menurut UU Nomor 25 tahun 1999 dan direvisi dengan UU Nomor 33 tahun 2004 pada intinya mengatur pemisahan kewenangan urusan keuangan antara pemerintah pusat dengan daerah yang tercermin dari anggaran penerimaan dan pengeluaran. Pada sisi penerimaan, pemerintahan daerah mempunyai wewenang yang lebih besar dalam menentukan kebijakan pajak, retribusi dan penerimaan daerah dari sumber lainnya. Kewenangan kebijakan pajak dan restribusi daerah berupa wewenang untuk menentukan jenis, basis, tarif pajak dan retribusi daerah serta alternatif sumber lainnya yang sesuai dengan UU. Bentuk penerimaan transfer pemerintah pusat ke daerah pada saat otonomi daerah berupa DAU (Dana Alokasi Umum) dan DAK (Dana Alokasi Khusus). Pemerintah daerah pada saat otonomi daerah juga memperoleh hasil dari sumberdaya yang dimiliki yang sabahagian dikembalikan kedaerah berupa dana perimbangan. Sedangkan disisi pengeluaran pemerintah daerah diberi wewenang yang besar dalam mengalokasikan dana melalui APBD sesuai yang dibutuhkan untuk membangun daerahnya.

6.1.2.1. Penerimaan Fiskal Daerah

Era otonomi daerah berdampak pada meningkatnya sisi penerimaan Riau. Hal ini disebabkan dikembalinya sebahagian hasil dari sumberdaya Riau yang pada sebelum era otonomi daerah hasil itu dikuasai seluruhnya oleh

Pemerintah Pusat. Peningkatan penerimaan itu dapat terlihat dari peneriman Riau sebelum otonomi daerah pada tahun 2000 sebesar Rp 675579.41 juta dan setelah otonomi daerah meningkat sebesar Rp 1592628.82 juta atau meningkat sebesar 135.74 persen. Sejalan dengan diimplementasikannya otonomi daerah penerimaan Provinsi Riau terus meningkat rata-rata setiap tahunnya sebesar 23.47 persen. Peningkatan penerimaan Riau setelah desentralisasi fiskal menunjukkan semakin besarnya kemampuan Provinsi Riau untuk membangun daerahnya. Untuk lebuh jelas lihat Tabel 15

Tabel 15. Penerimaan Fiskal Provinsi Riau Sebelum Otonomi Daerah dan Sesudah Otonomi Daerah

(Juta Rp)

Sebelum Otonomi

Daerah

Era Otonomi Daerah Jenis Penerimaan

2000 2001 2002 2003

1. Sisa Anggaran 54345.71 93571.87 455676.70 414776.20

2. Pendapatan Asli Daerah • Pajak daerah • Retribusi daerah • Usaha daerah • Pendapatan lain-lain 128635.74 101198.12 3166.74 12157.60 12133.28 299423.79 251951.23 1115.57 623845 40118.54 504384.56 394364.42 3306.14 37664.68 69049.34 658548.33 538504.70 5729.00.0 68102.48 46212.09 3. Dana Bagi Hasil

• Dana Pajak dan Bukan pajak

Bagi hasil pajak Bagi hasil bukan

pajak • Sumbangan dan Bantuan/DA &DAK 118616.86 245345.35 947688.61 134037.82 813650.78 251944.55 928691.22 164738.61 752881.61 11071.00 1150885.01 235998.45 840676.56 74210.00.0 5. Penerimaan Lain-lain 141240.00 187025.59 Total Penerimaan 675579.41 1592628.82 2129631.50 2411246.12

Apabila dilihat dari jenis penerimaan, penerimaan provinsi Riau yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada era otonomi daerah meningkat sangat signifikan yaitu sebesar 132.77 persen. Peningkatan PAD terus meningkat sejalan berjalannya era otonomi daerah rata-rata pertahun sebesar 49.51 persen. Dari sumber PAD, pajak daerah merupakan jenis penerimaan Provinsi Riau yang sangat besar peningkatannya setelah otonomi yaitu sebesar 148.97 persen dan sejalan dengan era itu penerimaan pajak daerah terus naik sebesar 46.54 persen. Peningkatan penerimaan pajak daerah berupakan implikasi dari diberikanya

wewenang kepada pemerintah daerah untuk menentukan obyek pajak sesuai dengan UU otonomi daerah..

Perkembangan dana bagi hasil yang terdiri bagi hasil pajak, bagi hasil bukan pajak, sumbangan dan bantunan. Dana bagi hasil pajak dan bukan pajak juga merupakan jenis penerimaan fiskal daerah yang meningkat sangat signifikan pada era otonomi. Sebelum otononomi tahun 2000 penerimaan ini hanya sebesar Rp. 118616.87 juta dan setelah otonomi daerah naik menjadi Rp 947688.61 juta atau naik sebesar 698.95 persen. Sejalan era otonomi daerah penerimaan ini tahun 2002 turun sebesar minus 3.17 tetapi apabila dirata-ratakan dana ini naik sebesar 7.08 persen setiap tahunnya. Jenis penerimaan lain dalam dana bagi perimbangan adalah dana dari bantuan dan sumbangan dari pemerintah pusat yang pada saat era otonomi daerah berbentuk DAU dan DAK. Penerimaan jenis ini dihitung berdasarkan celah fiskal dengan melihat kemampuan dan kebutuhan fiskal daerah. Penerimaan ini pada saat dimulainya otonomi daerah meningkat sebesar 2.69 persen dan sejalan era otonomi penerimaan dari jenis ini turun secara signifikan

Dokumen terkait