• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan dan Permasalahan Perkebunan Kelapa

IV. METODE PENELITIAN

6.3. Perkebunan Kelapa Sawit

6.3.3 Tantangan dan Permasalahan Perkebunan Kelapa

Tantangan dan permasalahan pengembangan perkebunan kelapa sawit masih cukup besar. Apabila hambatan dan permasalahan itu tidak dapat ditangani dengan baik akan sangat berdampak terhadap pengembangan komoditas ini ke depan. Permasalahan yang dihadapai itu seperti antara lain luas kepemilikan dan status hak tanah, produktivitas kebun, rendemen dan mutu produk, pabrik pengolahan pemasaran hasil dan pada era otonomi permasalahan ditambah dengan masalah konflik perusahaan dengan masyarakat setempat.

Permasalahan itu banyak dihadapi oleh perkebunan sawit yang dibangun secara swadaya oleh petani. Menurut data terakhir perkebunan yang dibangun secara swadaya merupakan luas perkebunan rakyat yang terbesar yaitu seluas 455243 ha atau 70.01 persen dari perkebunan rakyat dan 47.82 persen dari total luas perkebunan kelapa sawit di Riau. Jumlah petani yang membangun kebun secara swadaya juga cukup besar yaitu lebih kurang sebesar 179938 kepala keluarga. Dengan melihat dari kenyataan itu maka diperlukan peran pemerintah dan swasta untuk mengatasi permasalahan itu.

Permasalahan yang pertama yang dihadapi oleh petani swadaya berupa kepemilikan lahan dan status hak tanah. Permasalahan ini terlihat dari luas

kepemilikannya bervariasi, mulai yang terkecil 1 ha, sampai terluas 10-20 ha yang letaknya terpencar-pencar sehingga menyulitkan pembinaan maupun pengolahan aspek produksi lainnya. Disamping itu juga status tanahnya belum memiliki sertifikat sehingga sulit memperoleh pembiayaan dari perbankan ataupun bermitra dengan investor. Berbeda dengan petani plasma maupun KKPA dengan Luas kepemilikan lahan rata-rata 2 Ha/KK dan terletak pada satu hamparan yang kompak. dan memiliki sertifikat lahan merupakan bagian dari paket pembangunan kebun yang digunakan sebagai jaminan tambahan bank.

Produktifitas yang rendah merupakan permasalahan kedua yang dihadapi petani plasma. Hal ini terlihat dari produktifitas TBS yang dihasilkan petani plasma dan KKPA relatif lebih baik dibandingkan dengan petani swadaya. Rata- rata produktifitas kebun petani plasma PIR dan KKPA mencapai 20-22 ton TBS/ha/tahun, sedangkan petani swadaya rata-rata hanya mencapai lebih kurang 14 ton TBS/ha/tahun. Rendahnya produktifitas petani swadaya diduga akibat penggunaan bibit yang kurang baik mutunya dan tidak jelas asal usulnya serta kurangnya pemupukan.

Permasalah lain yang dihadapi berupa rendahnya rendemen dan mutu produk perkebunan rakyat. Hal ini terlihat dari rendemen yang dihasilkan dari TBS kelapa sawit rakyat, baik yang berasal petani PIR maupun KKPA rata-rata hanya 20-21 persen. Dilain pihak perkebunan kelapa sawit besar swasta bisa mencapai rendemen 22-23 persen. Hal ini disebabkan TBS yang dipanen dari kebun-kebun rakyat tidak disiplin menerapkan kriteria matang panen yang dianjurkan, bahkan adalakalanya dicampur dengan buah-buah muda Hal ini juga disebabkan oleh jauhnya letak perkebunan dengan dengan pabrik.

Permasalahan selanjutnya berupa pabrik pengolahan yang ada pada umumnya belum dapat menampung secara keseluruhan produksi dari petani, khususnya TBS yang berasal dari kebun-kebun swadaya yang letaknya terpencar- pencar yang saling berjauhan.Hal ini terjadi karena sebahagian besar pabrik yang ada telah memiliki kebun baik kebun inti maupun plasma yang diprioritaskan untuk diolah. Sebenarnya pada saat ini ada pabrik yang tidak mempunyai kebun

sebanyak 4 unit yang diharapkan bisa menampung produksi dari petani swadaya. Walaupun demikian, permasalahan lain muncul berupa jauhnya juga jarak areal kebun ke unit pengolahan baik milik BUMN maupun swasta relatif jauh, bahkan ada yang lebih dari 50 km sehingga berdampak terhadap tingginya biaya transportasi. Kondisi ini jelas tidak menguntungkan bagi petani kelapa sawit swadaya mengingat hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya angkutan TBS dari kebun ke PKS yang ekonomis maksimum hanya Rp 70/kg.

Permasalahan baru yang muncul pada era otonomi daerah berupa banyaknya terjadi konflik antara pihak perusahaan dan masyarakat setempat dalam merebut lahan perkebunan. Permasalahan ini muncul akibat banyak terjadi penyerobotan tanah ulayat yang diakui milik masyarakat oleh pihak swasta maupun pihak perkebunan negara pada masa lalu. Pada saat otonomi daerah dan sejalan dengan era reformasi banyak masyarakat menuntut dikembalikan tanah ulayat yang telah dimiliki perusahaan. Permasalahan itu harus segera diatasi karena sudah banyak berjatuhan korban.

Tantangan dan permasalahan yang dihadapi diatas harus segera dihadapi baik oleh petani sendiri dan juga oleh pemerintah, perusahan negara dan perusahaan swasta. Untuk mengatasi permasalahan itu diperlukan peran yang besar dari pihak swasta dan pemerintah baik melalui instansi terkait maupun perusahaan negara karena pihak ini merupakan aktor utama dari perkembangan perkebunan kelapa sawit. Pihak diatas berupakan aktor utama walaupun luas lahan yang dimiliki kecil dibandingkan perkebunan rakyat terlihat kepemilikan pabrik pengolalan sawit dan juga kemampuan besar dalam pendanaan sangat besar yang dimiliki pihak tersebut yang peranannya cukup besar dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit. Salah satu bentuknya nyata peran dari pihak pemerintah dan swasta dalam mengurangi permasalahan tersebut berupa kemauan pihak tersebut untuk menampung produksi TBS petani swadaya dengan harga yang sama dengan petani plasma mereka. Hal ini disebabkan karena selama ini petani swadaya memperoleh harga dibawah petani plasma apabila menjualnya di pabrik yang mempunyai perkebunan inti dan plasma.

6.3.4. Peran Pemerintah dalam Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit

Peran pemerintah dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit dapat dilihat dari penyediaan lahan dan penyedian dana untuk membangun lahan perkebunan di Provinsi Riau. Berdasarkan Peraturan Daerah No. 10 tahun 1994 Pemerintahan Riau menyediakan 3.1 juta Ha untuk kawasan pengembangan perkebunan. Menurut data terakhir luas areal perkebunan telah mencapai 2789521. Dari data itu dapat diketahui luas areal perkebunan yang bisa untuk membangun perkebunan dan juga kelapa sawit tinggal 310479 Ha

Makin kecil lahan yang bisa dialokasikan untuk lahan perkebunan menimbulkan permasalahan tersendiri di Provinsi Riau. Permasalahan yang muncul berupa terjadi konflik antara masyarakat dengan perusahan perkebunan yang berdampingan. Hal ini disebabkan makin besarnya antusias masyarakat Riau untuk membangun kebun dan program pemerintah sendiri untuk membangun kebun untuk mengentaskan kemiskinan di Provinsi Riau sedangkan lahan perkebunan makin sempit. Oleh karena itu diperlukan peran aktif pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut.

Untuk mengatasi hal itu pemerintah daerah perlu melakukan penataan secara proporsional penyediaan lahan untuk perkebunan melalui program restribusi aset produktif. Salah satu caranya adalah dengan menginventarisasi terhadap perusahaan maupun koperasi yang telah memperoleh izin dari Gubernur dan Bupati namun tidak melakukan aktivitas sama sekali. Apabila perusahaan perkebunan dan koperasi itu tidak mampu melakukan kewajibannya maka pemerintah daerah akan mencabut izinnya dan mengalokasikan lahan tersebut untuk membangun kebun untuk rakyak miskin.

Disamping penyedian lahan, pemerintah juga berperan besar dalam menyediakan modal untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit. Dalam era otonomi daerah dana pembangunan untuk perkebunan itu dikucurkan melalui peminjaman modal ekonomi rakyat (PEK). Pada tahun 2001 melalui APBD provinsi Riau telah mengucurkan dana sebesar Rp 22.8 milyar yang semua untuk membangun perkebunan untuk rakyat miskin. Pada tahun 2005 program PEK itu

termasuk dalam program K2I dengan anggaran dana sebesar Rp 83 milyar dari APBD Provinsi Riau ditambah sharing bugdet dengan 7 kabupaten di Riau sebagai bantuan modal bagi masyarakat miskin guna membangun kebun kelapa sawit di Provinsi Riau.

Dokumen terkait