BAB III PUTUSAN PA BANGKALAN DAN PTA SURABAYA TENTANG
D. Deskripsi Perkara Dalam Putusan PTA Surabaya
1. Duduk Perkara
Perkara yang penulis analisis adalah putusan PTA Surabaya dengan nomor 0014/Pdt.G/2014/PTA.Sby yang disidangkan oleh majelis hakim berikut : Drs. H.M. Djamhuri Ramadhan, S.H., selaku Ketua Majelis; Dr.H.M. Sutomo, SH., MH. dan Drs H.A. Choiri, S.H., M.H. masing - masing selaku Hakim Anggota. Perkara ini terjadi antara dua pihak, yakni suami isteri. Pemohon adalah suami sah dari Termohon yang telah menikah pada tanggal 19 Februari 1993. Pemohon adalah seorang duda yang memiliki 7 orang anak perempuan hasil pernikahan sah dengan kakak kandung Termohon bernama, Sri Maryam. Sedangkan Termohon sebelum menikah adalah seorang perawan. Lalu menikah denan
10
45
Terbanding dikaruniai anak sejumlah 4 orang. Jadi, total anak pasangan ini adalah 11 orang anak.
Pada awalnya rumah tangga Pemohon/Terbanding dengan Termohon/ Pembanding rukun dan harmonis, namun kurang lebih sejak bulan Agustus 2013 ketenteraman rumah tangga Pemohon/Terbanding dengan Termohon/Pembanding mulai tidak harmonis dan sering terjadi pertengkaran dan percekcokan, disebabkan Termohon/Pembanding merasa kurang atas nafkah wajib yang diberikan oleh Pemohon/ Terbanding. Puncak keretakan hubungan tersebut terjadi kurang lebih pada bulan September 2013, yang akibatnya Pemohon/Terbanding dan Termohon/Pembanding pisah ranjang selama dua hari, dan selama itu antara Pemohon/Terbanding tidak ada lagi hubungan baik lahir maupun batin.11
Pengadilan tingkat pertama telah berusaha mendamaikan baik secara langsung maupun melalui proses mediasi sesuai dengan ketentuan Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009, Pasal 130 HIR dan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, namun usaha perdamaian tersebut tidak berhasil.12
11
Salinan Putusan PTA Surabaya nomor: 0014/Pdt.G/2014/PTA.Sby, 3.
12
46
Lalu, berdasarkan berita acara sidang tanggal 06 November 2013 para saksi yang diajukan oleh Pemohon/Terbanding menerangkan di bawah sumpah bahwa keluarga tersebut sering terjadi pertengkaran karena masalah ekonomi. Namun, kesaksian para saksi tersebut tidak sesuai dengan dalil Pemohon/Terbanding yang mendalilkan bahwa perselisihan dan pertengkarannya dengan Termohon/Pembanding baru terjadi pada bulan Agustus 2013 dan puncaknya terjadi pada bulan September 2013 yang berakibat pisah ranjang 2 (dua) hari. Dalam hal ini para saksi tidak menerangkan dari mana saksi mengetahui bahwa selama berumah tangga Pemohon/Terbanding dengan Termohon/Pembanding sering terjadi pertengkaran, padahal Pemohon/Terbanding menyatakan bahwa semula rumah tangganya rukun dan harmonis dan baru terjadi pertengkaran pada bulan Agustus 2013, kemudian terjadi pisah ranjang 2 (dua) hari dan selanjutnya Pemohon/Terbanding mengajukan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama pada tanggal 10 September 2013.
Setelah melalui proses beberapa kali persidangan, akhirnya dikeluarkanlah sebuah putusan Pengadilan Agama Bangkalan Nomor 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl. tanggal 06 November 2013. Putusan ini verstek karena Termohon hanya hadir sekali dan di persidangan awal saja.
2. Pertimbangan dan Dasar Hukum Hakim
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas maka Pengadilan tingkat banding berpendapat para saksi yang diajukan oleh
47
Pemohon/Terbanding tersebut tidak memenuhi syarat materiel sebagaimana ketentuan Pasal 171 ayat (1) HIR yang berbunyi :“Tiap-tiap kesaksian harus berisi segala sebab pengetahuan” Jo. Pasal 1907 ayat (1) KUH Perdata yang berbunyi : “Tiap kesaksian harus disertai keterangan tentang bagaimana saksi mengetahui kesaksiannya itu” dan dengan demikian maka segala kesaksiannya tidak sah sebagai alat bukti. Dengan demikian maka dalil Pemohon/Terbanding yang tidak dibantah oleh
Termohon/Pembanding harus dinyatakan benar.13
Pengadilan tingkat banding sependapat dengan pertimbangan Pengadilan tingkat pertama bahwa Pemohon/Terbanding telah dapat membuktikan dalil permohonannya, namun Pengadilan tingkat banding tidak sependapat dengan pertimbangan bahwa permohonan perceraian Pemohon/Terbanding telah mempunyai cukup alasan serta memenuhi ketentuan pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Jo. Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Jo. Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam.14
Berdasarkan riwayat rumah tangga Pemohon/Terbanding dengan Termohon/Pembanding yang sudah berjalan selama 20 (dua puluh) tahun dan memelihara anak sebanyak 11 Orang secara bersama-sama dan baru beberapa bulan saja terjadi perselisihan tersebut, makaPengadilan tingkat banding berpendapat bahwa alasan permohonan Pemohon/Terbanding belum memenuhi syarat sebagaimana ketentuan Pasal 19 huruf (f)
13
Ibid., 5
14
48
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam dan Pengadilan tingkat banding berpendapat bahwa perselisihan selama kurang lebih 1 (satu) bulan pada sekitar bulan Agustus 2013 sampai dengan tanggal 10 September 2013 saat Pemohon/Terbanding mengajukan permohonannya ke Pengadilan Agama yang berakibat pisah ranjang selama 2 (dua) hari tidak bisa dikategorikan sebagai perselisihan dan pertengkaran secara terus menerus. Dengan demikian maka permohonan Pemohon/Terbanding untuk menjatuhkan talak satu raj’i terhadap Termohon/Pembanding harus dinyatakan tidak dapat diterima.15
Pada perkara ini, jika dikaitkan dengan permasalahan syiqa>q, perkara ini masih ada kemungkinan untuk berdamai, dimana kedua belah pihak memiliki iktikad baik untuk kembali membangun rumah tangga yang lebih baik, terutama si istri yang awalnya dianggap tidak terima nafkah dan menjadi sumber pertengkaran, ternyata malah menolak untuk bercerai. Kemaslahatan dan perdamaian harus lebih diutamakan. Pada saat ada dua madharat yang muncul dalam satu masalah. Maka madharat
yang lebih sedikit atau lebih kecil yang harus diambil. Jadi, ketika perkawinan ini dilanjutkan. Akan ada pertengkaran lanjutan dimana kedua belah pihak masih memungkinkan untuk berdamai. Apalagi ada iktikad baik dari si istri. Lalu, ketika perkawinan ini harus dibubarkan melalui perceraian. Maka madharat yang datang adalah terpisahnya suatu
15
49
keluarga dengan anggota keluarga yang sangat besar, ditambah tali silaturahmi antara dua keluarga, antar anggota keluarga dan beberapa pihak terputus. Belum lagi masalah harta, nafkah iddah, psikologis anak, hak asuh anak dll.16
3. Putusan Pengadilan
Setelah majelis hakim melihat berbagai pertimbangan yang ada, berdiskusi dan juga mengingat segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan hukum syara’/ Hukum Islam yang berkaitan dengan perkara ini, maka majelis hakim memutuskan bahwa permohonan banding Pembanding dapat diterima dan Membatalkan Putusan Pengadilan Agama Bangkalan Nomor 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl tanggal 06 November 2013 Miladiyah, bertepatan dengan tanggal 02 Muharram 1435 Hijriyah.
Pada intinya, talak ba’in sugra Pemohon/Terbanding tidak jadi jatuh pada Termohon/Pembanding karena dianggap belum memenuhi ketentuan pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Jo. Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Jo. Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam tentang alasan perceraian dan ketentuan Pasal 171 ayat (1) HIR Jo. Pasal 1907 ayat (1) KUH Perdata tentang kesaksian.
16
BAB IV
ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBATALAN PUTUSAN PA BANGKALAN NOMOR: 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl OLEH PTA SURABAYA
NOMOR: 0014/Pdt.G/2014/PTA.Sby
A. Alasan-Alasan Yuridis Hakim PTA Surabaya membatalkan putusan Pengadilan Agama Bangkalan Nomor : 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl
Perkawinan yang di dalamnya dibangun oleh rasa cinta dan kasih sayang, apabila diterpa oleh suatu masalah, baik yang berhubungan dengan perkara keduniawian maupun akhirat, maka harus ada dialog. Dari dialog yang terjadi akan terbentuk pola-pola yang mampu untuk memunculkan suatu solusi. Kecuali, jika cinta dan kasih sayang dalam keluarga tersebut telah sirna. Sudah ada pengingkaran dari salah satu pihak. Maka lain lagi akibatnya.
Ketika suatu masalah memang sudah tidak bisa diselesaikan, rasa cinta sudah menghilang dan tiada lagi kasih sayang antara suami istri, maka Islam memberi jalan keluar dan ini adalah opsi terakhir, yakni Perceraian. Sebagai perkara halal yang paling dibenci oleh Allah SWT., perceraian tidak boleh sembarangan dilakukan.
Dalam Islam sudah disebutkan bahwa seorang lelaki harus menikahi, menggauli dan menceraikan istri mereka dengan cara-cara yang baik dan patut. Hal ini sesuai beberapa ayat Qur’an, salah satunya adalah :
ß,≈n=©Ü9$# Èβ$s?§÷s∆ ( 8 8$|¡øΒÎ*sù >∃ρá÷èoÿÏ3 ÷ρr& 7 xƒÎô£s? 9≈|¡ômÎ*Î/ 3 50
51
Artinya : “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik...” (QS. Al-Baqarah : 229)
Pada perkara perceraian nomor : 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl semestinya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, karena sesuatu hal dan terlalu gegabah, permohonan cerai tersebut sempat disetujui oleh Pengadilan Agama Bangkalan yang akhirnya dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi Agama Surabaya. Dimana ada dua alasan yuridis yang menjadi dasar dan pertimbangan dari PTA Surabaya.
Perkara nomor 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl yang diputus oleh majelis hakim Pengadilan Agama Bangkalan ini dibatalkan oleh putusan PTA Surabaya nomor 0014/Pdt.G/2014/PTA.Sby karena ada dua dasar hukum atau yang dianggap majelis hakim PTA Kurang tepat pertimbangan yang kurang tepat.
Dua hal tersebut adalah mengenai persaksian para saksi dan juga mengenai alasan perceraian yang tercantum dalam ketentuan pasal 39 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan jo Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam tentang perselisihan dan pertengkaran antara suami istri sebagai alasan bercerai.
Untuk pertimbangan yang pertama mengenai keterangan saksi memang tidak bisa dibantah secara yuridis. Karena memang dalam kesaksiannya di persidangan, para saksi tidak menyebutkan dari mana mereka mengerti permasalahan yang dihadapi pemohon dan termohon. Hal
52
ini jelas sudah tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 171 ayat (1) HIR yang berisi “tiap-tiap kesaksian harus berisi segala sebab pengetahuannya” dan Pasal 1907 ayat (1) KUH Perdata yang berbunyi “setiap kesaksi harus diberi keterangan tentang bagaimana saksi mengetahui kesaksiannya”.
Sedangkan untuk alasan kedua memang masih menjadi perdebatan, yaitu tentang ketentuan pada pasal 39 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan jo Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam mengenai alasan perceraian yang berupa perselisihan dan pertengkaran terus- menerus. Dimana dalam ketentuan tersebut tidak diperinci lagi. Pasal ini juga sangat multitafsir, sering terjadi divernsial antar hakim di pengadilan bahkan juga antara pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding. Namun, setidaknya dua pertimbangan tersebut menjadi alasan hakim PTA Surabaya membatalkan putusan PA Bangkalan nomor 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl.
Jadi, secara Yuridis, Pembatalan yang dilakukan hakim PTA Surabaya terhadap putusan PA Bangkalan nomor 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl tidak ada masalah. Kami alasan dan dasar pertimbangan hakim membatalkan putusan pengadilan tingkat di bawahnya sudah sesuai dengan prosedur undang- undang berserta peraturan penjelas. Semua sudah diatur dalam Kitab Undang-undang Acara Perdata, UU Peradilan Agama, Kekuasaan Kehakiman beserta undang-undang dan yurisprudensi terkait masalah perdata Islam.
53
B. Analisis Hukum Islam Terhadap Pembatalan Putusan PA Bangkalan Nomor: 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl Oleh Putusan PTA Surabaya Nomor: 0014/Pdt.G/2014/PTA.Sby
Memang, dalam perkara nomor : 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl terjadi suatu perselisihan antara suami istri karena masalah ekonomi. Namun, hal ini hanya sepihak dinyatakan oleh pihak suami. Suami merasa sudah tidak nyaman lagi karena si istri selalu protes terhadap nafkah yang diberikan. Akhirnya terjadi perdebatan diantara keduanya selama hampir satu bulan (bulan agustus 2013). Terakhir, pasangan yang sudah menikah selama 20 tahun lebih ini pisah ranjang selama dua hari. Setelah itu, si suami mendaftarkan permohonan perceraian ke PA Bangkalan. Oleh PA Bangkalan, permohonan tersebut disetujui dikarenakan verstek (termohon hanya hadir sekali), saksi yang dihadirkan juga dianggap sudah memenuhi peraturan.
Setelah beberapa hari, pihak termohon (istri) mengajukan banding ke PTA Surabaya. Setelah memeriksa dan menganalisis berkas dari PA Bangkalan, majelis hakim PTA Surabaya menganggap putusan tersebut cacat hukum karena persaksian belum memenuhi ketentuan Pasal 171 ayat (1) HIR dan Pasal 1907 ayat (1) KUH Perdata dan ketentuan pada pasal 39 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan jo Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam mengenai alasan perceraian yang berupa perselisihan dan pertengkaran terus-menerus.
54
Perselisihan dan Pertengkaran ini lah yang akan penulis bahas. Hakim melihat hal tersebut dengan dua hal, yaitu : kronologi alasan terjadinya perselisihan dan logika tentang lamanya perkawinan beserta akibat yang akan timbul dari dua kemungkinan.
Dalam Islam, perselisihan dan pertengkaran antara suami istri memang tidak diatur secara rinci. Namun, kata yang mewakili persilihan tersebut tercantum dalam Qur’an surat An-Nisa’ ayat 35 :
βÎ)uρ ó ΟçFø Åz s −$s)Ï© $uΚÍκÈ]÷t/ (#θèWyèö/$$sù $Vϑs3ym ô ÏiΒ Ï&Î#÷δr& $Vϑs3ymuρ ô ÏiΒ !$yγÎ=÷δr& βÎ) !#y‰ƒÌム$[s≈n=ô¹Î) È ,Ïjùuθムª!$# !$yϑåκs]øŠt/ 3 ¨ βÎ) ©!$# t β%x. $¸ϑŠÎ=tã #ZÎ7yz ∩⊂∈∪
Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud Mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS An-Nisa : 35)
Akhirnya, para ulama merumuskan syiqa>q sebagai suatu permasalahan yang timbul akibat perselisihan antara suami istri. Syiqa>q dalam Hukum Islam dan perselisihan yang terjadi dalam perkara nomor : 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl memang sangat mirip. Namun, hakim memandang sesuatu yang terjadi sebelum adanya syiqa>q diantara keduanya. Di dalam permohonannya, suami menyatakan bahwa istri selalu marah-marah karena nafkah yang diberikan suami terasa kurang. Jadi, jika dipandang dengan fiqh, apa yang dialami oleh suami istri ini adalah nusyuz. Si istri mencoba melawan dan protes terhadap keadaan yang menimpa si suami. Seharusnya,
55
suami melakukan cara-cara yang sudah dianjurkan oleh Al-Qur’an yang berbunyi : ÉL≈©9$#uρ t βθèù$sƒrB ∅èδy—θà±èΣ ∅èδθÝàÏèsù £ èδρãàf÷δ$#uρ ’Îû Æ ìÅ_$ŸÒyϑø9$# £ èδθç/ÎôÑ$#uρ ( ÷ βÎ*sù ö Νà6uΖ÷èsÛr& Ÿ ξsù (#θäóö7s? £ Íκön=tã ¸ ξ‹Î6y™ 3 ¨ βÎ) ©!$# š χ%x. $wŠÎ=tã #ZÎ6Ÿ2 ∩⊂⊆∪
Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya maka nasihatilah mereka, dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu maka janganlah kamu mencari- cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha besar. (QS. An-Nisa’ : 34)
Tetapi, dalam kenyataannya, suami tidak berusaha menasehati, pisah ranjang juga baru dua hari dan belum melakukan langkah yang ketiga. Padahal perkawinan yang mereka jalani sudah hampir 20 tahun dengan merawat 11 anak selama puluhan tahun. Hakim memandang suami tidak sabar menghadapi si istri. Walaupun akhirnya si istri menyadarinya setelah hakim PA Bangkalan menyetujui permohonan talak si suami.
Hakim PTA Surabaya akhirnya membatalkan putusan PA Bangkalan tersebut karena memandang si istri sudah menyadari perilakunya dan tidak ingin bercerai dengan suami yang sudah menikahinya selama puluhan tahun itu. Selain itu, hakim mempertimbangkan madharat yang akan dialami keluarga yang telah memiliki 11 orang anak ini. Tali silaturrahmi antar dua keluarga akan terputus, bisa menimbulkan permusuhan di dalam masyarakat dan tentunya psikologis anak akan tertekan.
56
Jika dipandang dengan konsep Maqashid Syari’ah, maka hal ini masuk pada kategori hifdz nasl, yang jika tetap dilakukan perceraian akan berdampak buruk pada anak-anak. Dimana keluarga yang sudah lama hidup bersama ini sebaiknya tidak tercerai berai hanya karena masalah sepele. Apalagi masalah ekonomi, bisa diatasi dengan saling bahu membahu. Pada realitanya, kondisi di zaman saat ini, satu keluarga tidak bisa memasrahkan nafkah hanya dari satu penghasilan, suami saja. Setidaknya ada dua orang yang bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Entah itu suami dan istri atau bapak dan anak laki-laki. Sebab, suami dalam perkara nomor 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl ini sehari-hari juga sudah bekerja memenuhi kebutuhan keluarga.
Keputusan hakim PTA Surabaya ini juga sesuai dengan kaidah
fiqhiyah yang berbunyi :
س ا ن د ا بِ َ ْر ِد ا ُم از هد و 1
Artinya: adapun jika bertabrakan antara mudharat satu dengan yang lainya maka diambil mudharat yang paling kecil dan ringan.
Ketika keluarga ini berselisih antara suami dan istri, karena alasan ekonomi saja, tanpa ada yang melakukan nusyuz yang berat, maka akan ada dua pilihan yang dimasing-masing pilihan tersebut ada konsekuensi serta
madaharat yang timbul. Maka dari itu, kemungkinan atau pilihan yang lebih kecil resikonya yang harus dipilih.
1
Abdullah bin Sa’id Muhammad ‘Abbadi, Idhaah al-Qawaid al-Fiqhiyah, (Surabaya, Al- Hidayah, 1410 H), 44.
57
Pilihan yang pertama adalah dilakukannya perceraian. Jika perceraian adalah jalan yang diambil oleh keduanya dan hakim menyetujuinya, kemungkinan madharat yang timbul adalah keluarga suami dan keluarga dari pihak istri akan bermusuhan. Minimal antara dua keluarga besar tersebut akan terputus tali silaturrahmi. Padahal memutus tali silaturrahmi itu adalah sesuatu yang diharamkan.
Untuk madharat yang lain yang akan timbul adalah keadaan keluarga yang berantakan dan tercerai-berai ini memaksa anak-anak untuk memilih salah satu orang tua asuh. Meski ibu adalah yang paling berhak mendapatkan hak asuh anak karena dianggap mumpuni serta pantas, belum tentu ibu bisa mengambil alih peran seorang bapak, begitupun sebaliknya. Sehingga kondisi psikologis anak akan tertekan dari internal keluarga. Belum lagi, ketika para teman-teman sebaya atau teman sepermainan mereka mengolok- olok, pasti akan lebih berbahaya lagi.
Sedangkan untuk pilihan yang kedua adalah memberikan kesempatan bagi keduanya untuk berpikir lebih lanjut, mengusahakan perdamaian dan jalan dialog. Memaksa kepada bapak dan ibu dari sebelas anak ini untuk berpikir kembali tentang apa yang sedang dilakukan. Kedewasaan sesorang memang tidak bisa dilihat dari usia. Akan tetapi, pemaksaan yang dilakukan demi kebaikan ini sangatlah perlu.
Hakim memang mengetahui apa yang akan terjadi jika suami istri yang sudah berselisih hampir satu bulan ini tetap disatukan. Namun, kesempatan yang lebih lama dan lebih luas perlu untuk diberikan kepada mereka.
58
Apalagi, si istri terlihat sudah menyadari kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk apabila dia bercerai dengan si suami. Istri memandang akan lebih buruk lagi daripada hanya sekedar nafkah untuk hidup sehari-hari kurang.
Jadi, dua alasan sosiologis dan logika dari majelis Hakim PTA Surabaya yang dipimpin oleh Drs H.M DJAMHURI RAMADHAN, S.H. ini sangatlah tepat serta sesuai dengan hukum Islam yang berlaku secara umum. Dua alasan yang dipakai oleh hakim PTA Surabaya adalah lamanya perkawinan antara suami dan istri yang sudah berlangsung hampir 20 tahun. Jelas kiranya tidak ditentukan oleh perselesihan dan pertengkaran yang baru sekali terjadi. Apalagi perselihan dan pertengkaran yang terjadi kurang dari satu bulan ditambah pisah ranjang selama dua hari.
Hal ini lah yang dianggap hakim PTA Surabaya belum memenuhi ketentuan pada Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam tentang alasan perceraian yang disebabkan oleh perselisihan dan pertengkaran terus- menerus yang sudah tidak ada lagi kemungkinan hidup bersama.
Padahal si suami merasa dibebani oleh si istri masalah nafkah. Sedangkan, si istri tidak mau diceraikan suami baik secara langsung maupun melalui mekanisme persidangan di pengadilan agama. Buktinya, si istri mengajukan banding pada masa kurang dari 14 hari kerja sebagai kesempatan untuk mengoreksi keputusan hakim PA Bangkalan. Itu
59
tandanya, si istri yang hanya hadir sekali pada persidangan tingkat pertama sudah menyadari dengan apa yang dilakukan.
Alasan lain dari Hakim PTA Surabaya untuk menganulir keputusan PA Bangkalan nomor 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl itu adalah alasan sosiologis dan psikologis demi kemaslahatan bersama. Meski ada sedikit resiko yang harus diterima oleh pihak keluarga pemohon maupun termohon. Setidaknya, kondisi sosial masyarakat di daerah para pihak yang ada dalam perkara nomor 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl ini tidak ditambahi satu masalah sosial lagi. Juga dampak bagi anak-anak mengenai psikologi maupun aspek yang lain seperti ekonomi, ikatan emosional dengan orang tua serta perilaku atau lingkungannya tidak bertambah buruk lagi.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dari analisis yang telah penulis paparkan pada bab sebelumnya, kiranya dapat ditarik sebuah kesimpulan sebagai berikut:
1. Putusan PA Bangkalan Nomor: 0774/Pdt.G/2013/PA.Bkl sudah tepat karena verstek. Dalam putusan tersebut ada dua dasar hukum yang dipermasalahkan oleh PTA Surabaya, yakni tentang persaksian pada ketentuan Pasal 1907 ayat (1) KUH Perdata dan juga alasan perceraian yang pakai oleh hakim PA Bangkalan. Hakim PTA Surabaya menganggap perkara permohonan cerai ini belum memenuhi ketentuan pasal 39 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan jo Pasal 19 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam.
2. Secara Hukum Islam, putusan PTA Surabaya dalam perkara nomor 0014/Pdt.G/2014/PTA.Sby bisa dihadapkan pada tiga dasar pertimbangan yang diakui oleh para ulama’ maupun fuqaha’. Pertama,
menurut Qur’an dan Hadits. Apa yang dilakukan oleh hakim adalah sudah sesuai Qur’an Hadits. Kemudian menurut maqasid syariah dari perkawinan serta perceraian, juga sangat sesuai. Terakhir, tentang
maslahah yang akan muncul dari dua kemungkinan (melanjutkan perkawinan atau bercerai), maka madharat yang datang memang lebih besar jika suami ini bercerai.
62
3. Perselisihan dan pertengkaran terus menerus sebagai alasan perceraian, dalam hukum Islam bisa dikaitkan dengan syiqa>q dan nusyuz. Di mana
nusyuz oleh istri maupun oleh suami. Jika keduanya tetap berseteru, maka bisa masuk pada masalah syiqa>q. Jika salah satu pihak mengingkari kewajibannya, maka masuk pada perkara nusyuz.
B. Saran
Pertengkaran dan perselisihan dalam keluarga memang sering ditemui, tetapi yang memenuhi ketentuan pasal 39 ayat (2) Undang-undang Nomor 1