HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2. Deskripsi Statistik Data Penelitian
Berdasarkan data penelitian yang diperoleh selama 7 tahun pengamatan, maka diperoleh deskriptif statistik data penelitian. Dari data deskriptif statistik data penelitian diperoleh data hasil yang mencakup n (banyaknya data yang diperoleh), rata-rata (mean), standar deviasi, nilai minimum, dan nilai maksimum atas variable-variabel penelitian. Variabel-variabel tersebut meliputi pertumbuhan ekonomi, desentralisasi fiskal dan belanja modal yang dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Deskriptif Statistik Data Pertumbuhan Ekonomi, Desentralisasi Fiskal (%) dan Pendapatan Perkapita (Rp. Jutaan)
Pertumbuhan Ekonomi (%) Desentralisasi Fiskal (%) Pendapatan Perkapita (Rp. Jutaan) N Valid 49 49 49 Missing 0 0 0 Mean Median Mode Std. Deviation Range Minimum Maximum 5,58 5,70 3,54 1,125 5,67 2,50 8,17 6,71 4,27 3,45 6,013 23,12 2,47 25,68 7,77 7,44 7,35 2,418 11,22 3,89 15,11 Sumber : Pemerintah Kota Dalam Angka diolah, 2012
Hasil deskriptif statitik data pertumbuhan ekonomi, desentralisasi fiskal dan pendapatan perkapita dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pertumbuhan Ekonomi
Hasil observasi data selama periode tahun 2004-2010 terhadap variable pertumbuhan ekonomi Pemerintah Kota Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa rata-rata (mean) pertumbuhan ekonomi Pemerintah Kota yang diteliti adalah sebesar 5,58%. Tingkat pertumbuhan ekonomi Pemerintah Kota terendah
yang dicapai adalah 2,50% dan tingkat pertumbuhan ekonomi Pemerintah Kota tertinggi yang dicapai adalah 8,17%. sehingga jarak (range) antara capaian maksimum pertumbuhan ekonomi Pemerintah Kota dengan capaian minimum pertumbuhan ekonomi Pemerintah Kota adalah 5,67% (8,17% - 2,50%). Hasil ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi selama periode tahun pengamatan 2004-2010 terdapat range yang cukup besar di antara Pemerintah Kota Provinsi Sumatera Utara, sehingga mengakibatkan pembangunan daerah di antara Pemerintah Kota tersebut ada yang tumbuh lambat dan ada yang tumbuh cepat.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan salah satu prasyarat pembangunan yang harus dipenuhi sebagai landasan pembangunan baik dalam bidang ekonomi, politik sosial dan kebudayaan. Adanya pertumbuhan ekonomi yang mantap akan mendukung kepada kemajuan bidang-bidang lain sehingga suatu daerah khususnya daerah Pemerintah Kota Provinsi Sumatera Utara tidak terpaku dalam orientasi pada tujuan jangka pendek dan ruang lingkup pemikiran yang sempit. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kinerja pembangunan yang dilaksanakan khussunya dalam bidang ekonomi.
b. Desentralisasi Fiskal
Hasil observasi data selama periode tahun 2004-2010 terhadap variable desentralisasi fiskal Pemerintah Kota Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa rata-rata (mean) desentralisasi fiskal Pemerintah Kota yang diteliti adalah sebesar 6,72%. Tingkat desentralisasi fiskal Pemerintah Kota terendah yang dicapai adalah 2,47% dan tingkat desentralisasi fiskal Pemerintah Kota tertinggi yang dicapai adalah 25,68%, sehingga jarak (range) antara capaian maksimum
desentralisasi fiskal Pemerintah Kota dengan capaian minimum desentralisasi fiskal Pemerintah Kota adalah 23,21% (25,68% - 2,47%). Hasil ini menunjukkan desentralisasi fiskal selama periode tahun pengamatan 2004-2010 terdapat range yang cukup besar di antara Pemerintah Kota Provinsi Sumatera Utara, sehingga mengakibatkan pembangunan daerah di Pemerintah Kota tersebut berjalan lambat. Perbedaan range yang cukup besar menunjukkan bahwa salah satu Pemerintah Kota di Provinsi Sumatera Utara memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat rendah sedangkan pengeluaran pemerintahnya cukup besar, yang membuktikan bahwa PAD Pemerintah Kota tersebut dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) belum mampu membiayai pengeluaran pemerintah dalam pembangunan di wilayah Pemerintah Kota tersebut.
c. Pendapatan Perkapita
Hasil observasi data selama periode tahun 2004-2010 terhadap variable pendapatan perkapita Pemerintah Kota Provinsi Sumatera Utara menunjukkan bahwa rata-rata (mean) pendapatan perkapita Pemerintah Kota yang diteliti adalah sebesar Rp. 7,77 juta. Tingkat pendapatan perkapita Pemerintah Kota terendah yang dicapai adalah Rp. 3,69 juta dan tingkat pendapatan perkapita Pemerintah Kota tertinggi yang dicapai adalah Rp. 15,11 juta sehingga jarak (range) antara capaian maksimum pendapatan perkapita Pemerintah Kota dengan capaian minimum pendapatan perkapita Pemerintah Kota adalah Rp. 11,22 juta (Rp. 15,11 juta – Rp. 3,89 juta). Hasil ini menunjukkan pendapatan perkapita selama periode tahun pengamatan 2004-2010 terdapat range yang cukup besar di antara Pemerintah Kota Provinsi Sumatera Utara. Hasil ini dapat terjadi disebabkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang merupakan produk barang dan
jasa yang dihasilkan salah satu Pemerintah Kota cukup rendah sedangkan jumlah penduduk cukup tinggi sehingga pendapatan perkapita menjadi rendah yang konsekuensinya kesejahteraan masyarakat juga rendah.
Berdasarkan data kuantitatif yang diperoleh di 7 Pemerintah Kota Provinsi Sumatera Utara menunjukkan adanya perbedaan rataan pertumbuhan ekonomi, desentralisasi fiskal dan pendapatan perkapita selama periode tahun 2004-2010, seperti yang tertera pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Rataan Pertumbuhan Ekonomi, Desentralisasi Fiskal dan Pendapatan
Perkapita 7 Pemerintah Kota Provinsi Sumatera Utara Periode Tahun 2004-2010 No. Kabupaten/Kota Pertumbuhan Ekonomi (%) Desentralisasi Fiskal (%) Pendapatan Perkapita (Rp. Jutaan) 1 Sibolga 5.26 3.63 7.39 2 Tanjung Balai 4.32 4.70 8.19 3 Pematangsiantar 5.30 5.85 7.62 4 Tebing Tinggi 5.52 4.51 7.07 5 Medan 7.24 20.62 12.54 6 Binjai 5.94 4.68 7.17 7 Padangsidempuan 5.45 3.05 4.40 Rataan 5,58 6,72 7,77
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Utara
Berdasarkan Tabel 4.2. di atas menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Medan memiliki pertumbuhan rata-rata tertinggi selama periode tahun 2004-2010 yaitu sebesar 7,24%, diikuti Pemerintah Kota Binjai sebesar 5,94%, Pemerintah Kota Tebing Tinggi sebesar 5,52%, Pemerintah Kota Padangsidempuan sebesar 5,45%, Pemerintah Kota Pematangsiantar sebesar 5,30%, Pemerintah Kota Sibolga sebesar 5,26% dan Pemerintah Kota Tanjung Balai sebesar 4,32%. Hasil rataan di atas menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Medan memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi dan Pemerintah Kota Tanjung Balai memiliki
pertumbuhan ekonomi terendah, yang menunjukkan tingkat pembangunan di Kota Medan lebih tinggi dibanding Kota Tanjung Balai, sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi lebih memungkinkan dilaksanakan di Kota Medan seperti adanya investor yang menginvestasikan dananya dalam sektor hotel, restoran dan perdaganagn, sektor industri pengolahan, sektor bangunan, dan sektor jasa-jasa.
Hasil rataan desentralisasi fiskal selama periode tahun 2004-2010 menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Medan memiliki desentralisasi fiscal tertinggi yaitu 20,62% diikuti dengan Pemerintah Kota Pematangsiantar sebesar 5,85%, Pemerintah Kota Tanjung Balai sebesar 4,70%, Pemerintah Kota Binjai sebesar 4,68%, Pemerintah Kota Tebing Tinggi sebesar 4,51%, Pemerintah Kota Sibolga sebesar 3,63% dan Pemerintah Kota Padangsidempuan sebesar 3,05%. Hasil ini menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal Pemerintah Kota Medan memiliki range yang cukup besar terhadap Pemerintah Kota lain di Provinsi Sumatera Utara, hal ini disebabkan Pemerintah Kota Medan merupakan ibu kota Provinsi Sumatera Utara sehingga PAD Kota Medan cukup banyak diperoleh dan pengeluaran pemerintah juga cukup banyak untuk melaksanakan pembangunan.
Hasil rataan pendapatan perkapita selama periode tahun 2004-2010 menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Medan memiliki pendapatan perkapita tertinggi yaitu sebesar Rp. 12,54 juta, diikuti Pemerintah Kota Tanjung Balai sebesar Rp. 8,19 juta, Pemerintah Kota Pematangsiantar sebesar Rp. 7,62 juta, Pemerintah Kota Sibolga sebesar Rp. 7,39 juta, Pemerintah Kota Binjai sebesar Rp. 7,17 juta, Pemerintah Kota Tebing Tinggi sebesar Rp. 7,07 juta dan Pemerintah Kota Padangsidempaun sebesar Rp. 4,40 juta. Hasil ini menunjukkan
selama periode tahun 2004-2010 Pemerintah Kota Medan memiliki pendapatan perkapita tertinggi sedangkan Pemerintah Kota Padangsidempuan memiliki pendapatan perkapita terendah.
Berdasarkan indikator pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atau pendapatan per kapita Pemerintah Kota berdasarkan atas dasar harga konstan 2000 dapat dilakukan klasifikasi Pemerintah Kota Provinsi Sumatera Utara berdasarkan analisis Tipologi Klassen.
Alat analisis Tipologi Klassen digunakan untuk mengetahui klasifikasi daerah berdasarkan dua indikator utama, yaitu pertumbuhan ekonomi dan pendapatan atau produk domestik regional konstan tahun 2000 per kapita daerah. Dengan menentukan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertical dan rata-rata produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita sebagai sumbu horizontal, daerah dalam hal ini Pemerintah Kota yang diamati dapat dibagi menjadi empat klasifikasi/golongan, yaitu: daerah yang cepat maju dan cepat tumbuh (high growth and high income), daerah maju tapi tertekan (high income but low growth), daerah yang berkembang cepat (high growth but low income), dan daerah yang relatif tertinggal (low growth and low income) (Syafrizal, 1997; Kuncoro dan Aswandi, 2002).
Menurut Syafrizal (1997) dan Kuncoro dan Aswandi, (2002) analisis Tipologi Klassen menghasilkan empat klasifikasi sektor dengan karakteristik yang berbeda sebagai berikut :
1. Pemerintah Kota yang maju dan tumbuh dengan pesat (high growth and high income) (Kuadran I). Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan pemerintah kota yang lebih besar dibandingkan terhadap laju
pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi referensi dan memilki PDRB perkapita yang lebih besar dibandingkan PDRB perkapita tersebut terhadap PDRB perkapita daerah yang menjadi referensi.
2. Pemerintah Kota maju tapi tertekan (high income but low growth) (Kuadran II). Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan pemerintah kota yang lebih kecil dibandingkan laju pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi referensi, tetapi memilki PDRB perkapita yang lebih besar dibandingkan PDRB perkapita tersebut terhadap PDRB perkapita daerah yang menjadi referensi
3. Pemerintah Kota potensial atau masih dapat berkembang (high growth but low income) (Kuadran III). Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan pemerintah dalam PDRB yang lebih besar dibandingkan terhadap laju pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi referensi, tetapi memilki PDRB perkapita yang lebih kecil dibandingkan terhadap PDRB perkapita daerah yang menjadi referensi.
4. Pemerintah Kota relatif tertinggal (low growth ang low income) (Kuadran IV). Kuadran ini merupakan kuadran yang laju pertumbuhan pemerintah kota yang lebih kecil dibandingkan terhadap laju pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi referensi dan sekaligus memilki PDRB perkapita yang lebih kecil dibandingkan PDRB perkapita daerah yang menjadi referensi
Klasifikasi Pemerintah Kota di Provinsi Sumatera Utara berdasarkan pendapatan per kapita dan pertumbuhan menggunakan analisis tipologi Klassen, dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Analisis Tipologi Klassen Klasifikasi Daerah berdasarkan Pertumbuhan Ekonomi dan PDRB Perkapita Pemerintah Kota Tahun 2004-2010
Kuadran I Kuadran II
Pemerintah Kota yang maju dan tumbuh dengan pesat (high growth and high income)
Pemerintah Kota maju tapi tertekan (high income but low growth)
Kota Medan Kota Tanjung Balai
Kuadran III Kuadran IV
Pemerintah Kota potensial atau masih dapat berkembang (high growth but low income)
Pemerintah Kota tertinggal (low growth and low income)
Kota Binjai Kota Sibolga
Kota Pematngsiantar Kota Tebing Tinggi Kota Padangsidempuan Sumber : Tabel 4.2.
Berdasarkan tipologi Klassen, Pemerintah Kota di Provinsi Sumatera Utara dibagi menjadi empat (4) klasifikasi, yaitu Pemerintah Kota Medan termasuk pemerintah kota yang cepat maju dan cepat tumbuh. Kecamatan yang termasuk katagori kecamatan yang maju dan tumbuh cepat ini pada umumnya daerah yang maju baik dari segi pembangunan atau kecepatan pertumbuhan. Pemerintah Kota Tanjung Balai termasuk pemerintah kota yang maju tapi tertekan. Pemerintah Kota Binjai termasuk pemerintah kota potensial atau masih dapat berkembang. Pemerintah Kota Sibolga, Kota Pematangsiantar, Kota Tebing Tinggi dan Kota Padangsidempuan termasuk pemerintah kota relatif tertinggal.