BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.2. Deskripsi Subjek Penelitian
1. Latar Belakang Informan 1
Pada tanggal 20 Oktober 2014 pukul 11.00 peneliti berhasil mewawancarai siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar selama 5 menit yang berbincang-bicang mengenai keluarga, pelajaran yang disukai dan tidak, kegiatan belajar pada saat dikelas, dan kegiatan belajar pada saat dirumah. Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti bahwa siswa tersebut berinisial (U) yang tinggal bersama dengan keluarganya yaitu kedua orangtuanya dan adik perempuannya. (U) mempunyai ibu yang berinisial (H) dan ayah yang berinisial (W) serta adik perempuannya yang berinisial (L). (U) hidup dari orangtua yang perekonomiannya menengah ke bawah. Sehari-harinya ayah (U) hanya bekerja
sebagai wiraswasta yaitu berjualan galon serta ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga. (U) adalah salah satu dari siswa kelas IV yang menyukai pelajaran IPA dikarenakan mudah untuk memahami tetapi tidak bisa untuk menghafalkan. Selain itu (U) tidak menyukai pelajaran bahasa inggris, karena menurutnya pelajaran bahasa Inggris tersebut sulit dipahami.
Pada saat belajar di rumah (U) diajarkan oleh ibunnya untuk memahami pelajaran dari sekolah karena pada saat di sekolah (U) terkadang belum jelas tentang materi yang diberikan oleh guru kelasnya. Ketika pada saat pembelajaran di kelas gurunya harus berkali-kali untuk menjelaskan materi tersebut, tapi terkadang di beri tugas apa yang sudah dijelaskan masih belum bisa mengerjakan sampai guru kelasnya harus berkali-kali untuk mengajarkannya.
2. Pokok Permasalahan
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap (U). Peneliti dapat menyimpulkan bahwa (U) adalah salah satu dari siswa kelas IV yang menyukai pelajaran IPA. (U) menyukai pelajaran IPA disebabkan mudah untuk memahaminya tetapi dalam menghafalkannya dia mengalami kesulitan. Setiap harinya ketika di rumah (U) belajar di damping oleh ibunya untuk memahami pelajaran dari sekolah.
4.1.2.2. Informan 2 (Guru kelas IV) 1. Latar Belakang Informan 2
Seorang guru yang berjenis kelamin laki-laki yang berinisial (S) adalah guru kelas IV di SD Negeri Alam Raya. Pak (S) merangkap menjadi kepala sekolah di SD tersebut Karena kekurangan guru. Pak (S) memulai pekerjaanya menjadi guru SD sejak 34 tahun yang lalu dimulai dari tahun 1978. Beliau menjadi kepala sekolah di SD ini sudah 2 tahun 6 bulan yang tadinya mutasi dari Sleman. Pak guru yang satu ini menjadi guru kelas IV baru dimulai semester ini biasanya beliau mengajarkan pelajaran Bahasa Jawa tetapi karena kekurangan guru beliau menggajar setiap hari full dari senin sampai sabtu. Dari pengalaman yang beliau rasakan ketika menjadi guru kelas IV dapat melihat bahwa prestasi siswa kelas IV ada empat tahapan yaitu grade 1, grade 2, grade 3, dan ada juga anak yang mengalami keterlambatan dalam belajar. Jika dilihat dari nilai UTS dan UH ada yang melebihi KKM dan masih ada yang kurang di bawah KKM.
Pak (S) menemukan dua orang anak yang mengalami keterlambatan sejumlah 2 anak salah satu diantaranya anak yang berinisial (U). Ciri-ciri anak tersebut tidak berbeda dengan teman yang lainnya tetapi jika dilihat dari tatapan matanya sering kosong, jika menangkap sesuatu lama, merespon lama apalagi ketika mengarjakan tugan siswa yang lain sudah selesai, (U) masih mengerjakan 2 atau 3 nomor. Pak (S) dapat mengatakan bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar ketika memberikan tugas, anak tersebut mengerjakan tetapi lama sekali, jika dipanggil atau ditegur anak tersebut baru mau mengerjakan nanti ketika ditinggal anak tersebut semaunya sendiri dalam mengerjakan. Pak (S) menyikapi anak tersebut dengan mengkomunikasikan kepada orangtuanya bahwa
perlu perhatian yang khusus untuk didampingi dalam belajar. Selain itu menambahkan waktu belajar di sekolah untuk menyelesaikan tugas.
Upaya – upaya yang dilakukan oleh beliau sangat maksimal tetapi perubahan sangat kecil. Beliau sampai membedakan bobot soal serta bobot nilai kepada anak yang mengalami keterlambatan dalam belajar misalnya nilai 6 di anak yang lain berbeda dengan nilai 6 di anak yang mengalami keterlambatan dalam belajar. Perbedaan kognitif anak tersebut dengan temannya sangat dratis terlihat dari nilai teman yang lain 8, 7, 9 untuk anak tersebut 2, 3 dan 4 sudah paling banyak. Sedangkan perbedaan secara afektif tidak begitu nampak karena lebih mencolok perbedaanya di aspek kognitif saja. Selain itu, aspek psikomotorik khusus (U) memang agak lambat karena postur tubuhnya yang agak gemuk sehingga mengalami keterlambatan dalam bergerak dibanding dengan siswa yang lain.
2. Pokok Permasalahan
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada informan kedua yaitu dengan guru kelas IV maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa beliau menemukan dua orang siswa kelas IV yang mengalami keterlambatan dalam belajar. Kedua orang siswa tersebut salah satunya adalah (U). (U) adalah siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar di kelas IV. Nilai-nilai yang diperoleh (U) di bawah teman-temannya. Kegiatan (U) di kelas pada saat guru menjelaskan hanya diam saja dengan tatapan yang kosong, dalam merespon penjelasan dari guru lama, dan ketika diberikan tugas untuk mengerjakan pasti
tertinggal dengan teman-temannya. Upaya yang dilakukan beliau sudah maksimal tetapi yang terjadi pada (U) hanya mendapatkan perubahan yang sedikit.
4.1.2.3. Informan 3 (Guru Agama Islam) 1. Latar Belakang Informan 3
Peneliti melakukan wawancara kepada guru Pendidikan Agama Islam untuk melengkapi datanya yang dilaksanakan pada tanggal 03 November 2014 di ruang kelas I yang berdurasi 8 menit 29 detik. Seorang perempuan yang berinisial (M) adalah guru agama Islam di SD Negeri Alam Raya Yogyakarta. Bu (M) mengajar dari tahun 1984 sampai sekarang sudah 30 tahun 7 bulan. Beliau menjadi guru Agama Islam di sekolah ini dari tahun 2003 sampai sekarang kurang lebih 11 tahun. Bu (M) mengajar Agama Islam dari kelas I sampai kelas VI. Setiap minggunya beliau masuk ke kelas 2 kali atau empat jam pelajaran. Prestasi yang beliau alami ketika mengajar di kelas empat baru terasa setengah prestasi saja yang terlihat dari tahun ajaran 2014/2015 rata-ratanya dari UTS 30% yang di bawah KKM. Beliau menemukan satu siswa laki-laki yang mengalami keterlambatan dalam belajar. Ciri-ciri siswa tersebut diantaranya tidak aktif ketika pelajaran, tidak mengerjakan jika ada tugas, kalau diterangkan hanya sibuk sendiri, tidak pernah menyelesaikan tugas, dan nilai di bawah KKM misalnya 3 atau 4. Secara kognitif sangat berbeda dengan yang lainnya terlihat nilai hasil pekerjaan rendah, sedangkan secara afektif siswa tersebut sama dengan siswa yang lain.
Bu (M) mengetahui bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar dalam kesehariannya contohnya saja jika tidak disebut namanya tidak
mengerjakan, temannya sudah selesai dia belum selesai bahkan ketika tes romawi III tidak pernah dikerjakan. Selain itu beliau mengalami sendiri dari kelas I sampai IV serta mendengar dari keluhan guru yang mengajar siswa tersebut. Beliau belum bisa menyikapi masalah tersebut secara spesifik masih secara klasikal hanya saja beliau sering mengingatkan untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Selain itu beliau mempunyai kesulitan dalam memberikan nilai karena (U) tidak mau mengerjakan. Reaksi yang muncul ketika diberi pertanyaan atau dipanggil hanya mengedipkan mata saja dan diam. Motivasi-motivasi sering dilontarkan oleh beliau misalnya saja mengingatkan untuk mengerjakan dan memanggil namanya.
2. Pokok Permasalahan
Wawancara yang dilakukan peneliti kepada guru agama Islam dapat disimpulkan bahwa beliau menemukan siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar di kelas IV. Menurut beliau anak tersebut tidak aktif di kelas, selalu sibuk sendiri ketika diterangkan dan nilai-nilai yang diperolehnya di bawah KKM yaitu 3 dan 4. Beliau kesulitan untuk memberikan nilai kepada (U) sebab dia tidak mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh beliau, terkadang tugas tersebut tidak dikerjakan. Upaya-upaya yang diberikan oleh beliau kepada (U) tidak membuahkan perubahan hal tersebut dapat dilihat dari kelas I sampai IV.
4.1.2.4. Informan 4 (Guru Olahraga) 1. Latar Belakang Informan 4
Pelaksanaan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada guru olah raga pada tanggal 03 November 2014 pukul 08.46 selama kurang lebih 6 menit 3 detik. Guru olahraga di SD Negeri Alam Raya Yogyakarta hanya satu orang saja yang berjenis kelamin laki-laki yang berinisial (Y). Beliau menjadi guru dari tahun 2003 sampai sekarang kira-kira sudah 11 tahun. Beliau dari awal mengajar sampai sekarang belum pernah berpindah sekolah. Selain menjadi guru Olahraga beliau menjadi guru kelas II karena kekurangan guru. Pak (Y) mengajar olahraga dari kelas I sampai VI setiap minggunya 2 kali pertemuan yaitu 4 jam pelajaran. Prestasi yang terlihat khususnya pada kelas IV ini lumayan bagus, tetapi beliau menemukan satu siswa laki-laki yang bernama (U). Siswa yang mengalami keterlambatan dalam bidang gerak karena beliau mengampu olahraga. Ciri-ciri yang mengalami keterlambatan dalam bidang gerak yaitu sulit untuk bergerak.
Beliau menemukan anak yang mengalami keterlambatan belajar itu dilihat ketika mengadakan evaluasi ternyata prestasinya lebih rendah daripada siswa yang lain. Selain itu beliau mendengar informasi dari guru kelas bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar. Upaya yang dilakukan oleh beliau mengulangi materi dengan remedial. Secara kognitif (U) sangat rendah tapi beliau lebih sering menilai secara psikomotorik. Sedangkan secara afektif anak tersebut jika dalam kelompok mau membaur dengan temannya kadang juga menyendiri ketika di lapangan.
2. Pokok Permasalahan
Informan yang keempat pada wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah guru olahraga yang berinisial (Y). Beliau menemukan satu anak yang bernama (U) yang mengalami keterlambatan di bidang gerak, dikarenakan beliau mengajar olahraga. Suatu hari beliau mengadakan evaluasi dan ternyata nilai (U) di bawah dengan teman-teman yang lain. Upaya yang dilakukan oleh beliau dengan cara remedial dilakukan.
4.1.2.5. Informan 5 (Guru Bahasa Inggris) 1. Latar belakang Informan 5
Pelaksanaan wawancara tersebut dilakukan pada tanggal 04 November 2014 pada pukul 08.45 yang berdurasi 7 menit 39 detik di ruang UKS. Seorang perempuan yang berinisial (N) adalah salah satu guru bidang studi Bahasa Inggris di SD Negeri Alam Raya Yogyakarta. Bu (N) meniti karirnya sebagai guru 10 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2005. Beliau mengampu bidang studi bahasa Inggris sudah 1,5 tahun yang lalu dari kelas I sampai kelas IV yang setiap minggunya hanya 1 kali masuk ke masing-masing kelas. Prestasi yang dikatakan oleh beliau pada kelas IV tahun ajaran 2014/2015 turun dratis sampai setengahnya. Selama beliau mengajar bidang studi di kelas IV beliau menemukan kira-kira 10 orang siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar. Salah satu diantaranya adalah siswa laki-laki yang berinisial (U) kalau dilihat anak tesebut secara fisik sama dengan anak yang lain tetapi jika diberikan tugas tidak mengerjakan bahkan beliau melihat anak tersebut ketika pemberian tugas, pertanyaan tidak bisa mengerjakan.
Beliau mengatakan bahwa nilai siswa (U) di bawah 65 bahkan 30. Upaya yang telah dilakukan beliau mulai dari memberikan tugas tambahan menulis, serta motivasi-motivasi pun perubahan nilai dari awal semester sampai sekarang pun hanya berubah beberapa digit angka saja. Dibalik semua itu beliau mengalami kesulitan diantaranya ketika memberikan tugas kepada anak tersebut tidak dikerjakan, jika disuruh mengumpulkan ada saja alasannya. Secara kognitif anak tersebut rendah dibanding dengan teman yang lain sedangkan afektifnya sama dengan siswa yang lain. Dalam hal psikomotrik anak tersebut berbeda dengan siswa yang lain terlihat dari tatapan yang fokus tetapi tidak mendapatkan apa-apa.
2. Pokok Masalah
Peneliti melakukan wawancara dengan guru bahasa inggris yang berinisial (N). Beliau menemukan 10 anak ketika belajaran Bahasa Inggri mengalami keterlambatan salah satu dari anak tersebut adalah (U). Beliau mengatakan bahwa (U) selalu mendapatkan nilai 30 dibawah KKM yaitu 65. Padahal menurut beliau ketika di dalam kelas (U) termasuk anak yang memperhatikan tetapi ketika diberi pertanyaan tidak dapat menjawab dan ketika diberikan pekerjaan tidak dikerjakan. 4.1.2.6. Informan 6 (Guru kelas I)
1. Latar Belakang Informan 6
Partisipan selanjutnya yang diwawancarai adalah guru kelas I yang dilaksanakan pada tanggal 03 November 2014 pukul 12.15 di ruang UKS dengan durasi 10 menit 31 detik. Guru kelas I di SD N Alam Raya Yogyakarta adalah seorang perempuan yang berinisial (T) yang sudah menjadi guru semenjak 35 tahun yang lalu. Beliau mengajar di SD Negeri Alam Raya Yogyakarta sudah
menginjak 25 tahun, sedangkan sebelumnya beliau menjadi guru di Sumatera Utara. Pengalaman beliau pada saat mengajarpun sangat banyak sehingga beliau sudah mengenal siswa-siswi sekolah tempat beliau mengajar. Pengalaman Beliau mengajar di kelas I pada tahun ajaran 2011/2012 menemukan adanya tiga orang anak yang menurut beliau mengalami keterlambatan dalam belajar. Beliau mengetahui bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar secara langsung terlihat ketika setiap harinnya siswa tersebut di kelas misalnya saja menulis, tanya jawab, atau perkenalan diri ketika di depan kelas.
Dalam hal ini bu (T) memberikan keterangan pada absen nama, setelah dua minggu berjalan beliau dapat menyimpulkan bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar. Salah satu dari anak yang mengalami belajar adalah siswa yang berinisial (U), karena hal yang terpenting pada saat kelas satu adalah membaca, menulis dan berhitung. Beliau melihat bahwa (U) tersebut tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung sehingga beliau memberikan cara atau upaya yaitu dengan mengelompokkan anak tersebut dengan siswa yang dalam belajar untuk diberikan perhatian khusus.
Setelah upaya itu dijalankan, beliau melihat nilainya masih dibawah rata-rata siswa yang lain, tulisannya tidak selesai, tetapi beliau sangat sabar sampai-sampai setiap kali menulis jika belum selesai diberikan catatan di buku siswa yang bernama (U) melanjutkan tugasnya untuk besok paginya di kumpulkan. Upaya tersebut berjalan sesuai dengan rencana karena sudah ada perubahan yang terjadi pada siswa tersebut dalam hal kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.
2. Pokok Masalah
Berdasarkan hasil wawancara kepada informan 6 yang berinisial (T) dapat disimpulkan bahwa seorang guru kelas I yang bernama (T) menemukan tiga orang siswa yang diduga mengalami keterlambatan dalam belajar. Selama 2 minggu bu (T) memperhatikannya ketika membaca, menulis, berhitung bahkan perkenalan di depan kelas terlihat berbeda dengan siswa yang lain. Salah satu dari ketiga siswa itu (U). Dia tidak bisa membaca ketika beliau menyuruhnya untuk membaca. Upaya yang dilakukan oleh bu (T) tidak mengalami perubahan. Nilai-nilai yang diperoleh (U) sampai akhir semester masih dibawah rata-rata siswa yang lain, bahkan sama dengan KKM.
4.1.2.7. Informan 7 (Guru Kelas II dan III) 1. Latar Belakang Informan 7
Wawancara tersebut dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober 2014 di kantin sekolah dengan durasi 8 menit 15 detik menghasilkan data sebagai berikut. Seorang guru kelas II dan III adalah seorang perempuan yang berinisial I di SD Negeri Alam Raya Yogyakarta. Pengalaman beliau mengajar sudah selama enam tahun yang lalu dimulai pada tahun 2008. Dua tahun awal mengajarnya beliau ditempatkan di SD Kalasan lalu pada tahun 2010 beliau ditempatkan di SD Negeri Alam Raya Yogyakarta. Pertama kali beliau masuk di SD Negeri Alam Raya Yogyakarta beliau menjadi wali kelas lima selama 1,5 tahun, karena ada guru definitife beliau pindah menjadi di kelas II selama dua tahun dan di kelas III juga dua tahun ini.
Dari pengalaman beliau menjadi guru di SD Negeri Alam Raya Yogyakarta, beliau menemukan 4 sampai 5 siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar khususnya siswa yang naik di kelas IV pada tahun ajaran 2014/2015. Beliau mengetahui bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar karena beliau melihat langsung dari siswa tersebut pada saat pelajaran aktif atau pasif, selain itu beliau melihat dari nilai harian siswa dan dari informasi orang tua dan guru-guru lain yang pernah menggajar anak yang bernama (U) tersebut. Beliau menyikapi bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar semampunya saja misalnya (U) belum bisa membaca dengan lancar, tidak berani maju kedepan dan mudah lupa, beliau melatih anak tersebut untuk setiap pagi membaca di depan ketika anak yang lain mengerjakan serta membantu memberikan pancingan-pancingan utuk menjawab pertanyaan.
Beliau sangat sabar sehingga beliau harus menerangkan materi 2 sampai 3 kali bahkan 5 kali untuk memudahkan siswa yang bernama (U) dapat memahami materi yang diberikan oleh guru. Beliau adalah seorang guru kelas bukan guru ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) sehingga beliau hanya bisa semampunya membantu semaksimal mungkin. Pada saat naik kelas III perubahan sudah terlihat dari kognitif afektif dan psikomotorik, hanya saja nilai rapot kelas II naik ke kelas III itu sangat sulit dikarenakan sama dengan KKM bahkan pada saat kelas III naik ke kelas IV ada yang di bawah KKM tetapi disisi lain anak tersebut ada positifnya ditunjukan dari aktif berbicara di depan walaupun kurang lancar. Hal yang dikhawatirkan muncul ketika anak tersebut tidak naik kelas, maka anak tersebut
tidak mau sekolah bahkan jika pindah sekolahpun tidak mau. Dari hal tersebut pihak sekolah mempunyai kebijakan untuk dinaikkan ke kelas yang atas.
2. Pokok Masalah
Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti terhadap bu (I), dapat disimpulkan bahwa beliau mengetahui bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar karena beliau melihat langsung dari siswa tersebut pada saat pelajaran aktif atau pasif, selain itu beliau melihat dari nilai harian siswa dan dari informasi orangtua dan guru-guru lain yang pernah menggajar U tersebut. Upaya-upaya yang dilakukan oleh bu (I) mengalami perubahan yang sedikit . Pada saat naik kelas III perubahan sudah terlihat dari kognitif afektif dan psikomotorik, hanya saja nilai rapot kelas II naik ke kelas III itu sangat sulit dikarenakan sama dengan KKM bahkan pada saat kelas III naik ke kelas IV ada yang di bawah KKM tetapi disisi lain anak tersebut ada positifnya ditunjukan dari aktif berbicara di depan walaupun kurang lancar. Hal yang dikhawatirkan muncul ketika anak tersebut tidak naik kelas, maka anak tersebut tidak mau sekolah bahkan jika pindah sekolahpun tidak mau. Dari hal tersebut pihak sekolah mempunyai kebijakan untuk dinaikkan ke kelas yang atas.
4.1.2.8. Informan 8 (Orangtua U) 1. Latar Belakang Informan 8
Peneliti langsung menuju rumahnya dan bertanya-tanya langsung dengan ibunnya pada tanggal 03 November 2014 pada pukul 13.30 selama kurang lebih 30 menit. Berdasarkan wawancara dengan orang tua siswa yang bernama bu (H) , bahwa (U) mengalami dugaan keterlambatan dari siswa tersebut di Taman
Kanak-Kanak semenjak suatu hari anak tersebut tidak mau masuk sekolah seusai diantar oleh ibunya di sekolah, ketika ibunya menanyakan anaknya kepada kepala sekolah di TK tersebut, guru menjelaskan bahwa anaknya bertengkar dengan siswa lain dikarenakan berebutan alat tulis, dari situlah anak tersebut menjadi pendiam di sekolah, daya ingat lemah, ketika diajak berkomunikasi sulit serta sistem motoriknya lemah dibandingkan dengan adiknya yang sekarang duduk di bangku TK. Selama (U) duduk di bangku Sekolah Dasar jika ada PR tidak mengerjakan nilainya selalu pas dengan KKM. Pada suatu hari guru kelas II anak tersebut memanggil orangtuanya dengan perantara anak tersebut tidak pernah datang karena anak tersebut tidak pernah menyampaikan kepada orangtuanya bahwa di ibunya di panggil untuk datang ke sekolah. Beberapa upaya yang dilakukan oleh ibunya untuk anak tersebut pulih seperti anak-anak yang lain diantaranya adalah ingin menggikutkan anak tersebut untuk terapi otak, menggikuti tambahan pelajaran di luar jam sekolah, mendampingi belajar pada saat di rumah, dan membawakan buku catatan agar PR atau tugas lainnya di catat.
Upaya yang dilakukan orangtuanya yang sudah dilakukan tidak membuahkan hasil yang maksimal, karena sampai kelas IV jika ada PR atau tugas lain lupa, nama bendapun juga lupa misalnnya di suruh guru untuk membawa raket dan kok tetapi anak tersebut hanya bilang di suruh raket dan putih-putih, ibunya pun kebingungan untuk menanggapinya serta jika belajarpun juga tidak mau diajarkan dengan ibunya sampai-sampai ibunyapun binggung dengan sikap anak tersebut. Herannya seperti yang di informasikan oleh ibunya bahwa anak tersebut dapat menggunakan alat elektronik yang canggih. Ketika anak tersebut
ditanyakan oleh ibunya tentang pelajaran apa yang di dapat serta nilai yang didapat saja hanya diam dan tidak mau memberikan nilainya kepada orangtuanya. Interaksi yang di bangun dengan orangtuanya pun sangat tertutup, anak tersebut tidak mau menceritakan apa yang sudah dilakukan di sekolahan. Hanya saja pernah satu kali tentang di suruh maju ke depan menyanyi dia lupa liriknya.
2. Pokok Masalah
Berdasarkan wawancara oleh ibu (U) dapat disimpulkan bahwa (U) mengalami dugaan keterlambatan dari siswa tersebut di Taman Kanak-Kanak. Beliau juga mengatakan bahwa sistem motorik (U) berbeda dengan adiknya pada saat seumuran TK. Beliau juga setiap hari mendampingi (U) belajar tetapi dia memilih untuk belajar sendiri. Beliau juga mengatakan bahwa (U) sering lupa jika ada PR dan jika ibunya ingin melihat nilai (U) bahkan tidak diperbolehkan olehnya. Upaya yang dilakukan beliau dari menggikutkan (U) untuk tambahan belajar dan ingin menggikutkan untuk terapi otak sampai saat ini masih sama saja. Kemajuan terlihat (U) dapat membaca walaupun belum lancar.