BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN SARAN
5.3. Saran
Peneliti memberikan saran kepada peneliti selanjutnya agar memperbanyak informasi dari penelitian yang menggunakan metode yang sama misalnya dengan cara membaca buku referensi tentang metode penelitian yang akan diteliti. Hal ini berguna agar peneliti pada saat melaksanakan penelitian ini dengan metode yang sama tidak terjadi kebinggungan dalam tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh peneliti untuk penelitian tersebut. Peneliti mendekatkan diri kepada anak agar anak mudah untuk terbuka serta membuat janji terlebih dahulu kepada informan.
Pembaca lain, disarankan untuk memperbanyak informasi sebelum melakukan sebuah penelitian seperti yang dilakukan peneliti sekaligus mengetahui cara penanganan yang tepat bagi anak yang mengalami keterlambatan dalam belajar dan perlu adanya tindak lanjut bagi anak yang mengalami keterlambatan dalam belajar.
Saran bagi para guru di sekolah dasar, perlu adanya training bagi guru-guru di sekolah untuk menyikapi dan menangani anak yang mengalami keterlambatan dalam belajar dengan baik. Butuh kesabaran yang ekstra dan pengetahuan yang luas, bahwa tidak semua anak itu memiliki kemampuan yang sama. Selain itu, guru mempelajari tentang kemampuan belajar siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar.
Bagi orangtua siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar, diharapkan tetap selalu memberikan semangat, dukungan dan motivasi kepada anak. Tetap mendampingi dalam kemajuan proses belajarnya sehingga anak dapat mengikuti pelajaran dan mengejar ketinggalannya, serta Orang tua harus peka terhadap masalah belajar pada anaknya. Periksakanlah kepada ahli ketika anak mengalami masalah dalam belajar.
69
DAFTAR REFERENSI
Aditomo, Anindito. (2008). Pengantar Psikologi Lintas Budaya: Buku Teks Utama dalam Kelas Psikologi Lintas Budaya Tingkat Awal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Amir, Nani Triani. (2013). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Lamban Belajar (Slow Learner) . Jakarta: PT. Luxima Metro Media.
Atiek, Rugaiyah. (2011). Profesi kependidikan. Bogor: Ghalia Indonesia.
Dahar, Ratna Wilis. (2011). Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.
Hamalik, O. (2007). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Moleong, Lexy. J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Moleong, Lexy. J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nara, E. Siregar. (2011). Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia.
Purwakania Hasan, Aliah B.(2009).Kode Etik Psikologi dan Ilmuwan Psikologi.Yogyakarta:Graha Ilmu.
Rimang.2011.Meraih Predikat Guru dan Dosen Paripurna.Bandung: Alfabetha.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D . Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D . Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Sumanto. (2014). Psikologi Umum. Yogyakarta: CPAS (Center of Academic Publishing servis).
Sunaryo. (2013). Psikologi Untuk Keperawatan, Ed.2. Jakarta: Kedokteran EGC.
Suryosubrata, B. (2002). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Tohirin. (2012). Metode Penelitian Kualitatif Dalam Pendidikan dan Bimbingan Konseling. Rajawali Pers.
Tim Penyusun Pusat kamus. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kelompok Kerja Inklusi.(2009).Salinan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009. Jawa Timur.
Walgito, B. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: CV. Andi Offest.
Wijaya, C. (2010). PENDIDIKAN REMIDIAL: Sarana Pengembangan Mutu Sumber Daya Manusia. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Winarsih. (2013). Panduan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus Bagi Pendamping (Orang Tua, Keluarga, dan Masyarakat). Jakarta: Kementerian dan Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
Abdurrahman, Maman dan Hayatin Nufus.(2009).Penggunaan Media Manik-Manik untuk Meningkatkan Kemampuan Belajar Siswa Tunagrahita Ringan
dalam Pelajaran Matematika.Diunduh dari :
http://file.upi/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR._BIASA/1957061319850 31MAMAN_ABDURRAHMAN_SAEPUL_R/ARTIKELJURNAL_9_MA MAN.pdf. Pada tanggal 3 September.
Anggraini. (2013). Persepsi Orangtua Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus. Deskriptif Kualitatif di SDLB N.20 Nan Balimo Kota Solok. Diunduh dari : http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu
Astati. (2011). Sikap Kepala Sekolah dan Guru Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang Belajardi SD Inklusi Puterako Bandung. Diunduh dari : http://www.search-document.com/pdf/5/1/jurnal-keterampilan-mengajar-guru.html. Pada tanggal 3 September 2014.
Kurniawati. (2011). Persepsi Guru Kelas Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di SD Pakuyumbuh.Diunduh:http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jupekhu.
72
73 Lampiran 3.4.a Teks Anekdot Nama : Umur : Lokasi : Observer :
Aspek yang diamati :
No. Kejadian Catatan
1. Sebelum masuk ke kelas untuk memulai pelajaran.
Kognitif : Afektif : Psikomotorik: 2. Pada saat mengikuti
pelajaran di kelas.
Kognitif : Afektif : Psikomotorik: 3. Perilaku guru
terhadap siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar. Kognitif : Afektif : Psikomotorik:
74 Lampiran 3.4.b Pedoman Wawancara Siswa
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut :
1. Tanya jawab dengan informan tentang kemampuan belajar siswa yang mengalami kesulitan membedakan huruf. Wawancara dilakukan satu hari untuk satu informan, dan peneliti mendapatkan jawaban yang mendalam sesuai dengan tujuan penelitian
2. Menggunakan perekam suara melalui MP3 digital record
3. Membuat transkrip wawancara dari hasil rekaman dalam bentuk tulisan atau verbatim.
Hal yang akan dibahas oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Riwayat Keluarga - Orang Tua - Adik 2. Kegiatan Belajar - Di rumah - Di sekolah 3. Mata Pelajaran
- Pelajaran yang disukai - Pelajaran yang tidak disukai 4. Nilai yang diperoleh
- Nilai pada saat kelas I, II, III - Nilai Pelajaran pada saat kelas IV
75 Lampiran 3.4.c
Pedoman Wawancara Guru Kelas IV, Bahasa Inggris, Olahraga dan Pendidikan Agama Islam
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut :
1. Tanya jawab dengan informan tentang kemampuan belajar siswa yang mengalami kesulitan membedakan huruf. Wawancara dilakukan satu hari untuk satu informan, dan peneliti mendapatkan jawaban yang mendalam sesuai dengan tujuan penelitian
2. Menggunakan perekam suara melalui MP3 digital record
3. Membuat transkrip wawancara dari hasil rekaman dalam bentuk tulisan atau verbatim.
Hal yang akan dibahas oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Identitas Guru
- Pengalaman guru mengajar
2. Ciri-ciri yang dimiliki siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar - Secara Fisik
- Secara kognitif - Secara afektif - Secara psikomotorik 3. Persepsi guru
- Cara mengetahui bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar - Cara menyikapi - Upaya 4. Kemampuan Belajar - Aspek Kognitif - Aspek Afektif - Aspek Psikomotorik 5. Nilai - Nilai awal
- Perubahan nilai sampai saat ini - Kesulitan dalam pemberian nilai 6. Interaksi
- Interaksi di dalam kelas dengan guru - Interaksi di dalam kelas dengan siswa lain
76
Lampiran 3.4.d
Pedoman Wawancara dengan Guru Kelas I, II, dan III
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut :
1. Tanya jawab dengan informan tentang kemampuan belajar siswa yang mengalami kesulitan membedakan huruf. Wawancara dilakukan satu hari untuk satu informan, dan peneliti mendapatkan jawaban yang mendalam sesuai dengan tujuan penelitian
2. Menggunakan perekam suara melalui MP3 digital record
3. Membuat transkrip wawancara dari hasil rekaman dalam bentuk tulisan atau verbatim.
Hal yang akan dibahas oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1. Identitas Guru
- Pengalaman guru mengajar 2. Persepsi Guru
- Cara mengetahui bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar.
- Cara menyikapi - Upaya yang dilakukan 3. Nilai
- Nilai awal - Perubahan nilai
77 Lampiran 3.4.e
Pedoman Wawancara dengan Orang Tua
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode wawancara dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut :
1. Tanya jawab dengan informan tentang kemampuan belajar siswa yang mengalami kesulitan membedakan huruf. Wawancara dilakukan satu hari untuk satu informan, dan peneliti mendapatkan jawaban yang mendalam sesuai dengan tujuan penelitian
2. Menggunakan perekam suara melalui MP3 digital record
3. Membuat transkrip wawancara dari hasil rekaman dalam bentuk tulisan atau verbatim.
Hal yang akan dibahas oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Identitas Keluarga
- Pekerjaan ortu - Jumlah anak 2. Kebiasaan Anak
- Ketika akan pergi ke sekolah - Ketika pulang sekolah - Ketika belajar di rumah 3. Nilai
- Keseringan orang tua memperhatikan nilai anak - Nilai dari kelas 1-IV
- Perubahan nilai dari kelas I-IV 4. Usaha yang dilakukan orang tua
78
Lampiran 3.4.f Studi Dokumen (Nilai Rapor) Deskripsi Studi Dokumen (Nilai Rapor)
Pada penelitian ini selain menggunakan observasi dan wawancara untuk melengkapi data tersebut peneliti juga menggunakan dokumen. Dokumen disini yang digunakan adalah nilai rapor dari siswa yang mengalami keterlambatan dalam belajar yang berinisial (U) dari kelas I semester 1 sampai kelas III semester 2. Dari nilai rapor yang diperoleh oleh (U) terlihat bahwa kelas I semester 1 masih mepet dengan KKM pada semua mata pelajaran, misalnya saja KKM yang ditentukan 65 maka (U) mendapatkan nilai 65 sehingga rata-rata nilainya pun sama dengan rata-rata nilai KKM. Sehingga pada rata-rata nilai akhirnya mendapatkan nilai cukup yaitu berada di rentang 56 sampai 70. Setelah usai kelas I akan naik ke kelas II pun nilai rapornya masih mepet dengan KKM dan hanya berubah 0,3 saja pada nilai rata-rata akhir. Perubahan nilai tersebut terlihat ketika (U) kelas I sampai kelas II, terlihat dari kenaikan beberapa digit angka. Setelah (U) kelas III nilai rapornya pun berubah menjadi menurun.
Penurunan nilai yang terjadi pada (U) juga bertahap. Hal tersebut terbukti dari nilai rapor kelas II semester 2 nilai rata-ratanya sudah menjadi 70,3 sedangkan pada kelas III dari semester 1 sudah mulai turun 1 digit angka menjadi 69 sampai 68. Perubahan tersebut merupakan aspek kogntitif yang dicapai oleh (U) mulai dari kelas I sampai III. Aspek yang lainnya di nilai di dalam rapor yaitu aspek afektif dan psikomotorik. Aspek-aspek tersebut tertulis bahwa di rapot mendapatkan nilai B, dalam artian bahwa siswa tersebut hanya rendah di aspek kognitifnya saja sedangkan di aspek afektif dan psikomotorik tidak begitu terlihat.
79
Hal tersebut dibuktikan bahwa aspek kognitif mengalami perubahan sedangkan secara afektif dan psikomotorik siswa tersebut tidak mengalami perubahan.
80 Lampiran 3.6.a Hasil Triangulasi Data
a. Latar Belakang Siswa dan Keluarga (Wawancara Orang Tua dan Anak) b. Ciri-Ciri Siswa yang Mengalami Keterlambatan dalam Belajar (Observasi
dan Wawancara dengan Guru kelas I, II, III, IV, B. Inggris, Agama dan Olahraga )
c. Kebiasaan Di Rumah (Wawancara dengan Orang Tua dan Anak) d. Kebiasaan Di Sekolah (Wawancara Guru kelas I, II, III, IV, B. Inggris,
Agama dan Olahraga dengan dan Observasi)
e. Aspek Kognitif Anak (Wawancara dengan Orang Tua, Wawancara Guru kelas I, II, III, IV, B. Inggris, Agama dan Olahraga, observasi dan dokumen. )
f. Aspek Afektif (Wawancara dengan Orang Tua, Wawancara Guru kelas I, II, III, IV, B. Inggris, Agama dan Olahraga, observasi dan dokumen.) g. Aspek Psikomotoriknya (Wawancara dengan Orang Tua, Wawancara
dengan Orang Tua, Wawancara Guru kelas I, II, III, IV, B. Inggris, Agama dan Olahraga, observasi dan dokumen.)
h. Interaksi dengan lingkungan sekitar pada saat di sekolah dan di rumah (wawancara dengan orang tua, guru dan observasi)
i. Perubahan dari Kelas I sampai dengan kelas IV (Wawancara guru kelas I, II, dan III, dan Guru Agama)
81 Lampiran 3.7.a Reduksi Data Teks Anekdot Nama : U Umur : 9 tahun
Lokasi : SD N Alam Raya Yogyakarta Tanggal : 21 Juli 2014
Observer : Hani Suci Risnawati
Aspek yang diamati : Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
No. Kejadian Catatan
1. Sebelum masuk ke kelas untuk memulai pelajaran.
Kognitif :
- Ketika sebelum masuk kelas guru kelas memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan perhitungan matematika, anak tersebut menjawab terakhir sendiri dengan soal 5 x 5 tidak menjawab dan pemikiran terlalu lama sehingga guru kelas memberikan soal 5 + 5.
Afektifnya :
- Interaksi dengan teman sebelum masuk kedalam kelas terlihat jahil pada saat baris berbaris.
Psikomotoriknya :
- Anak tersebut mengalami keterlambatan dalam gerak pada saat masuk ke dalam kelas.
2. Pada saat mengikuti pelajaran di kelas.
Kognitifnya :
- Pada saat guru menjelaskan anak tersebut memperhatikan guru akan tetapi raut mukanya melamun dan mukanya di letakkan di atas meja.
- Semaunya dalam menggikuti pelajaran. - Pada saat guru menyuruh untuk
membaca suatu bacaan anak tersebut hanya diam sampai gurunya menyuruh untuk membaca dan berkata “tidak bisa membaca”.
- Anak tersebut mencontek pekerjaan teman pada saat mengerjakan tugas - Lama dalam mengerjakan tugas.
- Tidak mau mengerjakan tugas sampai guru yang berada di dalam kelas memanggilnya.
82 Afektif :
- Usil dengan teman sebelahnya saat guru menjelaskan.
- Rasa takut dan tidak percaya diri ketika maju untuk membaca sebuah cerita. - Tidak aktif pada saat pembelajaran di
kelas.
- Malu-malu ketika menyampaikan pendapat.
Psikomotorik :
- Pada saat maju ke depan kelas lama, sampai guru memangil-manggil berkali-kali.
- Lama untuk masuk ke dalam kelompok. - Kedipan mata ketika disuruh maju ke
depan kelas. 3. Perilaku guru
terhadap siswa yang mengalami
keterlambatan dalam belajar.
- Awal pembelajaran di kelas tatapan siswa masih menghadap keluar guru belum menegurnya sehingga anak tersebut tidak fokus untuk menggikuti pembelajaran di kelas.
- Pada saat pembelajaran di kelas guru hanya memanggil namanya terus menerus agar anak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
- Setelah selesai membaca di depan kelas guru memberikan apresiasi dengan bertepuk tangan.
83 Teks Anekdot
Nama : U
Umur : 9 tahun
Lokasi : SD N Alam Raya Yogyakarta Tanggal : 03 November 2014
Observer : Hani Suci Risnawati
Aspek yang diamati : Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
No. Kejadian Catatan
1. Sebelum masuk ke kelas untuk memulai pelajaran.
Kognitif :
- Ketika sebelum masuk kelas guru kelas memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan perhitungan matematika, anak tersebut menjawab terkahir sendiri dengan soal 4 x 5 tidak menjawab dan pemikiran terlalu lama sehingga guru kelas memberikan soal 5+5+5+5.
Afektifnya :
- Interaksi dengan teman saat berbaris sangat aktif sehingga sulit diatur untuk baris berbaris.
Psikomotoriknya :
- Anak tersebut mengalami keterlambatan dalam gerak juga contohnya pada saat dia masuk berjalan ke kelas lama sekali mungkin diakibatkan oleh faktor postur tubuh yang gemuk sehingga sulit untuk bergerak.
2. Pada saat mengikuti
pelajaran di kelas.
Kognitifnya :
- Pada saat guru menjelaskan anak tersebut tatapannya kosong, ketika di tanyakan dia hanya diam saja.
- Semaunya dalam menggikuti pelajaran. - Pada saat guru menyuruh untuk
mengerjakan tugas dengan cara berkelompok dia belum jelas disuruh untuk apa, dibuktikan dengan anak tidak langsung mengerjakan.
- Anak tersebut mencontek pekerjaan teman yang satu kelompok.
Afektif :
- Usil dengan teman sebelahnya saat guru menjelaskan.
- Rasa takut dan tidak percaya diri ketika maju untuk presentasi di depan kelas.
84
- Tidak aktif pada saat pembelajaran di kelas.
- Malu-malu ketika menyampaikan pendapat.
- Mempunyai keberanian untuk tunjuk jari ketika permainan berlangsung.
Psikomotorik :
- Pada saat mempresentasikan berbicara dengan teman sekelompoknya terlebih dahulu tidak langsung berbicara di depan. - Lama untuk masuk ke dalam kelompok. 3. Perilaku guru
terhadap siswa yang mengalami
keterlambatan dalam belajar.
- Awal pembelajaran di kelas tatapan siswa masih menghadap keluar guru belum menegurnya sehingga anak tersebut tidak fokus untuk menggikuti pembelajaran di kelas.
- Pada saat permainan di kelas guru memberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari permainan tersebut.
- Guru memberikan komentar pada saat anak tersebut mempresentasikan pekerjaanya bersama kelompok di depan kelas, karena belum sesuai dengan yang diinginkan oleh guru.
- Setelah selesai menyampaikan pendapatnya di depan guru memberikan apresiasi dengan cara tepuk tangan.
85
Transkip Wawancara Guru Kelas IV
Pertanyaan Jawaban
“Siapa nama anda?” “Nama saya S (nama inisial)”
“Sudah berapa lama anda menjadi guru?”
“Dari pertama 1978 berarti sekarang sudah 34 tahun.” “Sudah berapa lama anda menjadi
guru di sekolah ini?”
“Saya di sekolah ini mutasi dari sleman ke depok sudah 2 tahun 6 bulan.”
“Mata pelajaran apa saja yang anda ampu?”
“Kebetulan saya disini kepala sekolah, karena di sini kekurangan guru jadi saya juga mengampu di kelas. Di SD berlaku guru kelas mengampu semua mata pelajaran khusus tugas kepala sekolah hanya di tambahkan 6 jam dulu mengajar bahasa jawa. Tapi kekurangan guru jadi saya menggantikan di kelas full.”
“ Berapa kali mengajar anda masuk
ke dalam kelas empat setiap
minggunya?”
“Setiap minggu masuk kelas. Mulai dari 07.00-12.10 sampai hari kamis, jumat 07.00-10.10, sedangkan sabtu sampai jam 11.00 untuk pelajaran di kelas tapi kita pulang menurut jam efektif 12.30 kalau hari sabtu, sedangkan hari biasa jam 14.00. jam kerja PNS.”
“Menurut anda bagaimana prestasi di kelas empat pada tahun ajaran 2014/2015 ini?”
“Untuk prestasi anak-anak bermacam-macam, ada yang bagus, ada yang sedengan, ada yang kurang. Jadi di kelas itu ada beberapa tahap anak ada anak yang grade 1, grade 2 , grade 3 ada juga ada anak yang mengalami kelambatan. Kemudian prestasi yang di capai dalam UH, UTS ada yang bagus da nada yang kurang.”
86 “Bagusnya di sini sudah melebihi
KKM atau bagaimana?”
“Bagus sudah melebihi KKM, sedangkan yang kurang masih di bawah KKM.”
“Apakah anda menemukan di kelas
ada siswa yang mengalami
keterlambatan dalam belajar?”
“Di kelas 4 ada dua anak yaitu firdaus dan Udin. Memang agak lambat disbanding yang lain.”
“Ciri-ciri siswa yang mengalamu keterlambatan dalam belajar seperti apa?”
“Kalau dari fisik tatapan mata sering kosong, kemudian menangkap sesuatu lama, merespon lama, apalagi mengerjakan tugas teman selesai anak itu masih mendapatkan dua atau tiga nomor missal 10 nomor anak tersebut masih mendapatkan 3 nomor.”
“Bagaimana anda dapat mengetahui bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar? ( Melihat, Mendegar atau Mengalami sendiri)? Jelaskan?”
“Dari setiap hari memberikan tugas, Nampak sekali ketika kami mengeliling mengecek itu kelihatannya mengerjakan tapi lama sekali anak itu, lambat sekali, di panggil terus di tinggal nanti juga kembali seperti semaunnya kadang sudah berkali-kali kita damping diberi pendampingan ditegur tetap seperti itu.”
““Bagaimana anda menyikapi
masalah bahwa ada siswa yang
mengalami keterlambatan dalam
belajar di kelas empat?”
“Kami mengkomunikasikan dengan orang tuannya bahwa putra-putra bapak ibu memerlukan perhatian khusus di rumah didampingi belajarnya karena kalau di sekolah tertinggal dengan teman-temannya, kemudian di sekolah juga di tambahkan waktu untuk menyelesaikan tugas itupun tertinggal dengan teman yang lain.”
“Apakah ada perubahan nilai dari awal mengajar sampai saat ini?”
“Perubahan sangat kecil, sudah diberi materi yang sama juga tidak bisa mengerjakan sehingga butuh penanganan yang khusus, kadang kita tugasnya juga harus mencukupkan semua anak sedangkan mereka yang mengalami keterlambatan iya tetap kita perlakukan sama dengan yang lain tidak di anak tirikan tetapi tetap diberikan layanan, layanannya berbeda dengan anak-anak yang lain terutama untuk nilai sudah kami bedakan bobot soal juga berusaha kami bedakan. Nilai 6 di anak yang lain itu beda dengan nilai 6 di anak-anak tertentu.”
87
“Bagaimana perbedaan secara
kognitif anatara siswa tersebut dengan siswa yang lain?”
“Yang lain nilainya 8,, 7, 9 untuk anak tersebut iya 3, 4 sudah paling banyak bahkan 3,2 itu nilainya seperti itu kemampuan kognitifnya.”
“Bagaimana perbedaan secara afektif anatara siswa tersebut dengan siswa yang lain?”
“Kalau dari segi afektif tidak berbeda dengan anak yang lainnya, yang lebih mencolok ada di kemampuan kognitifnya.”
“Bagaimana perbedaan secara
psikomotorik anatara siswa tersebut dengan siswa yang lain?”
“Kalau psikomotorik khusus dimas memang agak lambat mungkin karena postur tubuhnya yang agak gemuk atau bagaimana itu juga mengalami keterlambatan dalam bergerak di banding dengan teman yang lain.”
“Bagaimana interaksi siswa tersebut dengan anda?”
“Untuk interaksi tidak ada hambatan, lancar-lancar saja dan anak itu klau ada apa-apa memang mau bertanya misalnya belum paham, hal berapa-apa, mau bertanya anak itu, jadi dengan guru tidak ada rasa takut, biasannya kalau ada apa-apa ngomong duluan.”
“Bagaimana interaksi siswa tersebut dengan siswa yang lain?”
“Tidak Nampak beda dengan yang lain hanya ketika mengerjakan tugas menerima pelajaran mengalami keterlambatan jadi seperti santai terus tanpa beban iya lambanlah, kalu istilahnya anak yang slow learner itu disbanding yang lain.”
“Terima kasih atas waktu yang diberikan oleh bapak jika ada sesuatu yang tidak berkenan saya mohon maaf. “
88
Transkrip Wawancara Guru Kelas II dan III
Pertanyaan Jawaban
“Siapa nama ibu?” “Bu I (nama inisial).”
“Sudah berapa lama anda menjadi guru?” “Sekitar enam tahun.”
“Pada tahun berapa anda mengajar di SD ini?” “Sejak tahun 2010.”
“Di sini anda telah mengampu berapa kelas?” “Yang pertama kelas 5 1, 5 tahun atau 1 periode dan setengah tahun, karena ada guru definitive saya pindah di kelas II selama 2 tahun dan di kelas III saya 2 tahun ini.”
“Selama anda mengajar ini khususnya yang kelas IV ini apakah anda menemukan anak yang mengalami keterlambatan dalam belajar?”
“Banyak kira-kira 4 atau 5 lupa.”
“Bagaimana anda dapat mengetahui bahwa anak
tersebut mengalami keterlambatan dalam
belajar?”
“Dari proses pembelajaran siswa aktif atau tidak itu yang pertama, yang kedua dari nilai harian siswa, dan yang ketiga dari informasi dari orang tua dan guru-guru yang mengampu.”
“Bagaimana anda menyikapi bahwa anak tersebut mengalami keterlambatan dalam belajar?”
“Menyikapinya ya saya mampu saja”
“Contohnya?” “Contohnya karunia putri utami, dia sulit membaca, setiap pagi
ketika anak-anak mengerjakan tak suuruh dia membaca, terus ada juga yang namanya dimas berbicara di depan tidak berani, grogi, dan mudah lupa. Tak suruh ke depan dan memancing jika menjawab pertanyaan biar dia mengeluarkan pendapatnya dengan bantuan pancingan-pancingan itu.”