BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
B. Identitas dan Deskripsi Subjek
2. Deskripsi Subjek Sesaat Setelah Terjadi Gempa
Pada saat terjadi gempa, Pak Ng berada di depan pasar Bantul, mengantar istrinya berbelanja. Baru saja Pak Ng akan duduk di trotoar membaca koran Merapi tiba-tiba bagian atas kanan kiri, termasuk genteng pasar Bantul rontok. Pak Ng bermaksud memegangi motornya, namun terasa seperti orang yang dilempar kesana-kemari hingga ke tengah jalan. Menurutnya orang-orang yang berada di dalam pasar bermaksud keluar namun tidak bisa karena dicegah orang lain. Semua orang yang sedang berada di dalam pasar panik dan berhamburan keluar, namun tidak ada yang bisa menolong mereka. Pada saat di pasar Bantul subjek pertama dipegangi oleh tukang parkir karena tukang pakirnya juga merasa ketakutan.
Pada saat dirinya pulang, ditengah jalan dirinya bertemu dengan para korban bencana. Menurut ceritanya di jalan dirinya melihat satu sepeda bisa untuk mengangkut 3 hingga 4 orang, bahkan ada tangannya yang putus dan
rambutnya terlihat mengeluarkan banyak darah. Saat Pak Ng tiba di rumah ternyata rumahnya sudah hancur. Pak Ng mengakhwatirkan keadaan ayahnya, karena ayah Pak Ng sudah sakit dan tidak bisa berjalan.
Pada saat Pak Ng sampai di rumah, ternyata ayahnya selamat karena terlindungi oleh molo yang jatuh. Ayahnya sudah ditolong dan dibawa ketempatnya pak Dukuh. Pak Ng berserta keluarganya kemudian berlindung di gardu di dekat lapangan badminton. Pak Ng juga membangun tenda seadanya di lapangan badminton, bahkan karung-karung pupuk digunakan sebagai atapnya. Kemudian datang bantuan-bantuan dan hingga sekarang dirinya tidak merasa kekurangan.
Pak Mo
Pada saat terjadi gempa Ibu Mo sedang berada di dapur memasak, tiba-tiba dirinya jatuh dan tertimpa batu bata, sedangkan anaknya masih tidur di dalam. Dirinya bercerita pada gempa silam salah satu anaknya sudah berada di luar dan menyebabkan salah satu anaknya meninggal. Ayah dan kedua anaknya yang lain masih berada di dalam, bahkan genteng rumahnya berjatuhan menimpa kepala mereka. Menurut Ibu Mo anaknya terlihat sudah keluar dan sudah di depan pintu, namun setelah gempa anaknya itu tidak nampak. Pada saat pencarian jenazah anaknya, warga tampak kesulitan mencari jenazah anaknya, karena banyaknya tumpukan batu bata tembok rumahnya yang roboh. Teman-teman juga mencari anaknya tetapi tidak menemukannya. Menurut ceritanya pada saat gempa silam tanah sekitar rumahnya terlihat berputar sehingga ketika dirinya akan berjalan pasti terjatuh.
Pak Wa
Pada saat terjadi gempa Pak Wa baru saja selesai sholat subuh, kemudian menuju ke dapur. Di dapur istrinya meminta Pak Wa untuk tidur lagi, supaya dirinya tidak mengantuk. Tiba-tiba bumi bergoncang, Pak Wa bergegas membuka pintu, tetapi pintunya tidak bisa terbuka, kemudian dirinya berputar hendak membuka pintu lainnya, namun pintu tersebut juga tidak bisa dibuka, sehingga menyebabkan Pak Wa tertimpa tembok rumahnya. Paska gempa Pak Wa mencari-cari anaknya, kemudian anaknya keluar dari reruntuhan rumahnya dengan punggung yang teluka dan mengeluarkan darah. Istri Pak Wa sedang berada di dapur dan tidak merasakan gempa, sehingga ketika gelas dan piring berjatuhan istri Pak Wa mengambil dan mengembalikan ke tempat semula. Paska gempa istrinya akan keluar, tetapi bingung karena tidak menemukan jalan keluar. Setelah seluruh keluarga berkumpul kemudian, Pak Wa berlari ke rumah ayahnya. Tiba di rumah ayahnya, ayahnya meminta tolong pada dirinya, Pak Wa mengangkat sendiri bahan-bahan bangun seperti reng ataupun usuk kayu bangunan sepanjang 2 meter untuk mengeluarkan ayahnya. Setelah ayahnya berhasil dikeluarkan, Pak Wa berjalan ke selatan rumah adiknya dan mendapati istri adiknya beserta anaknya di bawah terkubur reruntuhan rumahnya dan tidak terlihat lagi, Subjek 4 melanjutkan ceritanya bahkan ketika penduduk di desanya saling berpapasan hanya terdiam karena masih shock dengan gempa yang terjadi.
Pak Ru
Pada saat terjadi gempa Pak Ru berada di rumah untuk membantu memasak. Karena ada suara berteriak-teriak “pada rubuh, lindu”, maka Pak Ru lari dari rumah hingga sampai ke jalan di depan rumahnya. Menurut ceritanya pada saat itu rumahnya dihuni sekitar 50 orang. Pak Ru lari paling belakang hingga tubuhnya tertimpa trait. Setelah gempa rumah di sisi timurnya beserta rumahnya roboh, bahkan rumah tetangganya juga ikut roboh. Beberapa saat setelah terjadi gempa pergi Pak Ru keliling dukuhnya untuk mencari tetangganya yang sudah tua untuk dibantu.
Pak Su
Pada saat terjadi gempa Pak Su masih berada didapur menemani Ibunya untuk menggoreng lauk bagi tukang yang sedang bekerja dirumahnya. saat akan menyalakan kompor tiba-tiba terjadi getaran dan membuat Pak Su terkejut. Pak Su kemudian memegang Ibunya untuk berlari keluar, namun rasanya seperti tersandung sehingga menyebabkan dirinya tidak bisa keluar, namun setelah mendorong dirinya maka Pak Su berhasil keluar. Sesaat setelah terjadi gempa anka-anak kecil mengungsi di mobil boks, sedangkan orang tua mengungsi di teras rumahnya. Setiap kali terjadi gempa susulan orang-orang tua yang sedang mengungsi di teras rumahnya berhamburan keluar, paalagi setelah gempa listrik tidak menyala dan hujan. Menurut ceritanya hari sabtu silam, sebenarnya meruapkan hari terakhir tukang-tukang bekerja membenahi genting di rumahnya, namun karena ada gempa maka pekerjaan tersebut tidak jadi dilaksanakan. Pak
Su merasa terhambat selama dua minggu untuk membenahi genting dapur rumahnya.
Bu Sy
Sewaktu terjadi gempa Bu Si sesudah Sholat kemudian memasak di dapur, kemudian terjadi goncangan yang menyebabkan Bu Si berlari keluar. Pada waktu itu anak-anaknya masih tertidur, kemudian berlari keluar, hanya rumah bagian belakang saja yang rusak parah akibat gempa silam. Bu Si bersyukur karena seluruh kelurarganya selamat dari musibah itu.
Pak Bu
Sebelum terjadi gempa Pak Bu mengikuti istrinya di dapur untuk memasak. Dirinya berencana berangkat ke pasar Pundong membeli alat untuk membersihkan sawahnya. Sebelum berangkat Pak Bu menyapu halaman rumahnya, tiba-tiba terjadi angin besar, Pak Bu terjatuh berkali-kali, tetapi dirinya tidak merasa telah tejadi gempa, menurutnya tiba-tiba rumahnya roboh dan gelap. Ketiga anak Pak Su masih tertidur semua, karena khawatir terhadap ketiga anaknya Pak Bu kemudian berlari ke rumah. Tetangga kiri rumahnya sudah tertimbun rumahnya dan minta tolong. Pak Bu merasa bingung karena dirinya juga harus menolong anaknya, kemudian Pak Bu tidak menolong tetangganya karena akan menolong anaknya. Setelah dicari-cari kedua anaknya putrinya masih hidup sedangkan anak laki-lakinya walaupun sudah dicar-cari selama dua jam tetap tidak diketemukan. Setelah dicari bersama-sama dengan warga lainnya putra Pak Bu baru diketemukan. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi ketika jenazah anaknya diketemukan. Baru saja jenazah anaknya diletakkan
di depan rumahnya tiba-tiba ada isu Tsunami, seluruh keluarga Pak Bu melarikan diri. Pak Bu tidak ikut lari karena masih menunggui jenazah anaknya, rencananya jika terjadi Tsunami maka dirinya akan naik ke pohon, sedangkan semua tetangganya berlarian hingga melangkahi jenazah lainnya.
Pak Ha
Sebelum terjadi gempa pak Ha berada di depan rumahmenggendong anaknya, sedangkan anak perempuannya masih berada di dalam, istrinya sedang berada di jalan untuk mengantar Ibunya ke pasar Pondong. Pada saat terjadi gempa pak Ha memanggil anaknya, maka anaknya berlari keluar hingga ke jalan depan rumahnya. Pak Ha melihat rumah-rumah yang ada di dusunnya sudah roboh semua, kemudian pak Ha bersama dengan tetangganya berkumpul. Sesudah gempa pak Ha menjenguk rumah orang tuanya, melihat apakah orang tuanya terluka. Pak Ha bersyukur ternyata orang tuanya tidak terluka akibat gempa itu. Pak Ha kemudian berkumpul bersama keluarganya dan mendirikan tenda, namun ketika dirinya sedang akan mendirikan tenda, tiba-tiba muncul kabar Tsunami hingga dirinya membuang tenda dan berlari menyelamatkan diri. Lima hari paska gempa pak Ha masih berteduh di bawah tenda di lapangan, sekaligus berusaha membersihkan puing-puing rumahnya dan membuat jalan menuju sumur rumahnya, karena banyak batu bata yang berserakan. Sesudah itu pak Ha mengunpulkan kayu-kayu rumahnya dan mencoba membangun kembali rumah, hingga ke atapnya.
Pak Ti
Pada saat sebelum gempa pak Ti masih di kamar mandi rumahnya, namun ketika terjadi goncangan pak Ti masih belum terasa, namun istrinya yang memberitahu bahwa terjadi gempa. Setelah goncangan keras selesai pak Ti baru bisa keluar dari kamar mandi dan langsung mencari istri beserta anaknya. Istri dan anaknya masih berada di dalam rumah, beruntung rumahnya tidak roboh tetapi miring dan mengalami rusak berat. Setelah itu cepat-cepat pak Ti mengamankan istri berserta anaknya melalui tembok yang telah hancur, karena pintu rumahnya sudah rusak. Setelah seluruh keluarganya selamat pak Ti kemudian menolong tetangga kiri rumahnya yang mengalami luka di kepala akibat gempa, kemudian pak Ti berusaha mengevakuasi keluarga kakaknya karena rumahnya roboh total dan berhasil menyelamatkan kakak beserta keponakannya. Pak Ti kemudian menengok warganya, sekaligus mendata korban gempa. Laporan sementara menyebutkan 19 orang meninggal dunia di desanya, namun ternyata terdapat 27 korban jiwa, baru setelah itu pak Ti meminta warganya yang meninggal dunia untuk dikumpulkan di depan masjid.
Pak Lp
Pagi hari sebelum terjadi gempa, Pak Lp baru saja bangun dari tidurnya dan akan minum. Setelah minum Pak Lp pergi ke halaman rumahnya. Tiba-tiba terjadi gempa, maka pak Lp kembali ke rumahnya, karena gempa membesar maka dirinya berlari keluar dari rumahnya. Seluruh rumah pak Lp roboh, namun keluarganya masih berada di dalam rumah. Keluarga pak Lp setiap pagi berjualan makanan. Dirinya merasa beruntung karena seluruh makanannya sudah
dikeluarkan dan sudah ada orang yang membelinya. Setelah terjadi gempa tidak ada orang yang menolong keluarganya yang tertimbun genteng, bahkan anaknya yang bernama Endu tergencet buffet. Menurut pendapatnya rumah miliknya tersebut rumah yang kuat, tetapi dapat hancur karena gempa silam.
Pak Po
Sebelum terjadi gempa pak Po baru saja selesai Sholat subuh, kemudian dirinya bermaksud untuk mengisi bak mandinya, sedangkan istrinya masih menggunakan rukuh. Pagi itu anaknya sudah bangun dan menonton TV, sedangkan neneknya masih tidur. Pada saat dirinya akan mandi, tiba-tiba terjadi goyangan yang besar, Pak Po berlari untuk menolong keluarganya, namun tidak mampu karena setiap berdiri pasti terjatuh. Tahu-tahu seluruh rumahnya langsung roboh, sedangkan ketiga anggota keluarganya masih berada di dalam rumah. Seluruh keluarganya tidak terlihat karena tertimbun reuntuhan rumah, pak Po berusaha untuk mencari anaknya. Beberapa saat kemudian anaknya berhasil diketemukan, istri pak Po juga berhasil keluar dari reruntuhan genteng rumahnya. Pak Po lega karena istrinya sudah berhasil ditemukan, sedangkan nafas anaknya sudah tersenggal-senggal. Pak Po kemudian berusaha membawa anaknya ke tempat tetangganya yang merupakan seorang dokter. Dokter menyarankan agar anaknya dibawa ke rumah sakit. Pak Po merasa bingung karena dirinya tidak memiliki kendaraan, dalam kondisi kalut pak Po berlari ke jalan. Tiba di jalan pak Po langsung menghadang motor yang melintas dari arah selatan dan meminta untuk mengantarkan menuju rumah sakit, tetapi darah anak pak Po terus keluar dari hidung dan kupingnya. Rumah sakit Panembahan
Senopati menyarankan agar anak pak Po dibawa ke rumah sakit Sardjito, namun sebelum sampai di rumah sakit Sardjito anak pak Po sudah meninggal.
Pak Sa
Sebelum terjadi gempa pak Sa sedang berada di rumah memasak untuk naka-anaknya. Ketika sedang mengaduk telur tiba-tiba terjadi getaran yang sangat keras, spontan pak Sa berteriak dan langsung berlari keluar, istrinya juga berlari keluar dari rumah. Kemudian pak Sa berlari untuk mencari anaknya. Dirinya bersyukur karena istri dan anaknya selamat. Pak Sa bercerita, jika biasanya anaknya jam 7 baru bangun, jam 5 pagi anaknya sudah bangun. Pada saat terjadi gempa anak bungsu pak Sa memegangi pohon pisang, sedangkan anak pertamanya berlari mengikuti pak Sa. Setelah gempa berakhir pak Sa memegangi anaknya dan melihat ke kanan kiri rumahnya, tetapi tidak terlihat yang ada hanya debu yang berada disekitar rumahnya.
Ibu MH
Sebelum terjadi gempa ibu MH berada di pinggir jalan untuk menanti orang yang akan membeli berasnya, yang rencananya untuk membeli televisi yang diinginkan oleh anaknya. Kemudian lewat neneknya, ibu MH memperbolehkan kedua anaknya untuk ikut dengan neneknya untuk meminta minum. Pada saat itu kakeknya sedang bekerja di teras, sedangkan neneknya sedang berada di dalam rumah untuk memasak, mbah kakungnya menyuruh kedua anaknya untuk meminta air kepada neneknya. Ibu MH bercerita jika gelas yang diminum anaknya masih utuh, padahal kedua anaknya berserta neneknya meninggal dunia. Setelah terjadi gempa ibu MH berusaha membawa anaknya ke rumah sakit
Njebukan, namun sesampainya di rumah sakit Njebukan perawat meminta ibu Mh untuk mengihklaskan anaknya. Sedangkan anak laki-lakinya yang dibawa ke rumah sakit Wirosaban oleh suami ibu MH juga meninggal dunia.
Ibu PW
Pada saat terjadi gempa ibu PW sedang berada di sawah. Ibu Pw bercerita pada saat terjadi gempa berkali-kali dirinya terjatuh, bahkan untuk berdiri saja menurutnya tidak bisa. Menurut ceritanya ibu Pw juga tidak mengetahui keadaan dirumahnya, setelah selesai gempa ibu MH pulang yang menuju rumahnya melihat rumah-rumah di sepanjang jalan menuju rumahnya sudah roboh, bahkan rumahnya sendiri sudah rata dengan tanah.
Pak SM
Sebelum terjadi pak SM sudah bangun dari tidurnya, tetapi ketika akan Sholat subuh dirinya merasa malas. Pak SM sudah bangun tetapi masih tidur-tiduran di ranjang bersama istrinya. Sebagian anggota keluarganya sudah terbangun semua dan sudah berada diluar. Pada saat terjadi goncangan yang dahsyat kebetulan, yang roboh tersebut hanya dapur, tembok rumahnya retak-retak dan gunung-gunung penyangga rumah anjlok semuanya. Cucunya yang masih berada di kamar kemudian dicari oleh ayahnya (putra pak SM), pak SM merasa beruntung karena gunung-gunung rumahnya jatuh ke utara sehingga tidak menimpa dirinya. Ketika pak SM keluar, rumah-rumah di sekitarnya sudah roboh semua. Pak SM bercerita jika rumah di sebelah utaranya anjlok dan rumah yang berada di sisi timurnya sudah hancur, kemudian dirinya pergi untuk menolong tetangganya yang tertimpa musibah. Pak SM membawa para korban
gempa memakai mobil seadanya. Akibat gempa silam rumah pak SM mengalami retak-retak dan berantakan..
Pak Nd
Sebelum terjadi gempa Pak Nd sudah berada di sawah sektar pukul 5.30 WIB untuk menyiram bawang merah dan cabe. Setelah bekerja di sawah, kemudian Pak Nd kembali ke rumah untuk Sholat. Sewaktu kembali ke rumah Pak Nd mendapati anaknya masih tertidur. Pada saat Sholat terjadi gempa, Pak Nd masih berada di dalam rumah dan bersembunyi di longkangan, kemudian Pak Nd tiarap di tanah ditengah-tengah rumah. Dirinya bercerita bahwa dirinya mengurungkan niatnya untuk keluar, jika keluar maka dirinya pasti kerobohan tembok rumahnya.. Pak Nd juga bercerita ketika terjadi gempa istrinya sedang makan pagi untuk berangkat kerja, karena goncangan yang terlalu kuat mengakibatkan istri Pak Nd jatuh dan tidak bisa keluar, kemudian putra Pak Nd keluar rumah dengan menggendong ibunya.
Pak Si
Sebelum terjadi gempa Pak Si sedang tidur-tiduran dan merokok di kamarnya dengan mendengarkan berita di radio, tiba-tiba dirinya terlempar dari tempat tidurnya. Pak si mencoba berlari, namun dirinya sempat terjatuh dua kali. Pak Si kemudian berusaha keluar dengan merangkak dan akhirnya berhasil keluar dengan menendang pintu rumahnya. Setelah dirinya berhasil keluar rumahnya roboh ke arah selatan dan utara. Dirinya bersyukur karena keluar kearah timur, jika dirinya keluar kearah arah selatan dan utara, dirinya pasti akan kerobohan tembok rumahnya.
Mbak Sh
Sebelum terjadi gempa mbak Sh bersama dengan kakak perempuannya berada di dapur untuk memasak. Pada saat terjadi gempa kakak perempuannya bersama dengan Ibunya berlari ke selatan, sedangkan dirinya berlari ke utara. Setelah gempa mbak Sh berusaha mencari Ibu dan kakak perempuannya, namun tidak ditemukan, ternyata Ibu dan kakak perempuannya meninggal karena tertimpa tembok rumah neneknya. Mbak Sh bercerita pada saat berlari dirinya tertimpa pintu rumah dan tidak bisa berlari, namun akhirnya dirinya selamat. Pak Sn
Pada saat terjadi gempa sekitar pukul 5.30 WIB Pak Sn sudah berada di pasar untuk berdagang. Pak Sn mengira bahwa gunung merapi sedang meletus, sehingga daerah yang paling parah terkena dampak gempa daerah jogja ke utara. Pak Sn melihat bus dan kendaraan lainnya bergerak keutara, sedangkan daerah selatan sudah berkabut, kemudian Pak Sn mecoba menelepon istrinya yang sedang berada di rumah tetapi tidak tersambung. Pak Sn bercerita bahwa seluruh keluarga selamat, walaupun anak-anaknya sedikit terluka akibat gempa silam. Pak Ba
Pada saat terjadi gempa Pak Ba sedang berada di tengah jalan untuk menengok istrinya yang sedang berada di Rumah Sakit Njebukan. Menurut ceritanya baru saja sampai di perempatan Bakulan, tiba-tiba terdengar suara “gler”, namun dirinya tetap ke Rumah Sakit Njebukan. Sekitar pukul 11 Pak Ba pulang kerumahnya dan langsung ke muka Masjid tempat jenazah dikumpulkan. Pak Ba membuka tenda dan mendapati jenazah putrinya di depan Masjid.
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang terdapat dalam pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Nrimo menurut subyek adalah tidak memaksakan dirinya, menerima keadaan yang menimpa pada dirinya, semua hal diterima sabar dan menerima apa adanya semua yang terjadi pada dirinya kerena sudah menjadi kehendak Tuhan.
2. Nrimo menurut subyek juga tidak hanya berdiam diri ataupun mengeluh yang terjadi pada dirinya, sebab nrimo juga harus disertai dengan usaha, untuk mendapatkan rejeki bagi kehidupannya
3. Manfaat yang dapat dipetik dari nrimo ialah, subyek mampu penghayati kehadiran Tuhan, sekaligus nrimo digunakan agar pikiran atau hati menjadi lebih lebih tentram, pikiran tidak kacau dan menghindarkan diri dari stres.
4. Hasil dari pembahasan menunjukkan bahwa melalui nrimo, subyek dapat melakukan pengontrolan diri atau pengendalian diri yang berguna untuk menciptakan kerukunan dan keharmonisan bagi lingkungannya.
5. Nrimo bagi subyek dikaitkan dengan kesadaran dan tujuan, agar mampu memberikan suatu pedoman diri dalam mengusahakan perkembangan pribadinya untuk mencapai tujuan hidupnya.
6. Pemenuhan makna terjadi pada subyek melalui nrimo, karena dalam nrimo
terdapat kesatuan antara fisik dan spritual, sekaligus melalui nrimo subyek berusaha menyadari atau tidak mengingkari keberadannya atas penderitaan yang mereka alami saat ini.
7. Jika dibandingkan, terdapat perbedaan antar nrimo dengan makan hidup Frankl. Persamaan tersebut lebih dalam hal penghayatan akan kehadiran Tuhan. Penghayatan akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan manusia terlihat jelas dalam nrimo, sedangkan dalam logoterapi dimensi spiritual adalah hati nurani tempat untuk berefleksi, bahkan tempat kebebasan manusia terletak dan dialami.
8. Nrimo dapat dimasukkan ke dalam coping sebagai usaha untuk menyelesaikan masalah, maka bentuk coping yang dilakukan oleh subyek paska terjadi gempa merupakan emotional focus coping.
9. Nrimo memadukan unsur kognitif dan konatif, sehingga mampu menimbulkan rasa optimis dalam diri dan memacu diri untuk bangkit menghadapi hidupnya kembali. Nrimo secara tidak langsung terlihat nrimo
mampu mengubah distress (stress yang buruk) menjadi eustress (stress yang baik), yaitu mampu membuat diri menjadi sadar dan berkeinginan untuk mengurangi penderitaan hidupnya.
10.Nrimo dapat digunakan untuk membantu diri mengatasi permasalahan hidup dan mencapai suatu keseimbangan kejiwaan, karena nrimo memadukan rasioanalitas dan emosional manusia yaitu manusia lebih menyadari keadaanya dan semakin mendekat ke Tuhan
B. Saran
Dari hasil penelitian, maka dapat diberikan beberapa saran yaitu:
1. Agar subyek mempertahankan, atau bahkan meningkatkan nrimo untuk pencapaian diri yang ideal, yakni pencapaian tujuan diri dan keharmonisan dengan lingkungan, supaya dapat mewujudkan bersatunya manusia dengan Tuhan.
2. Melalui nrimo dapat digunakan membantu diri untuk menyeimbangkan gejolak kejiwaan dan dapat membantu individu dalam mengatasi permasalahan hidup, serta dapat membentuk pribadi yang mampu mengatasi setiap permasalah hidup.
3. Penghayatan terhadap kehadiran Tuhan dalam diri subjek perlu ditingkatkan lagi agar dapat membantu merubah sikap dalam menghadapi penderitaan yang mereka alami saat ini, sehingga menghasilkan ketentraman hati. Dengan penghayatan terhadap kehadiran Tuhan, maka individu lebih mampu bertahan dan menghadapi permasalahan hidup, sebab di dalamnya terdapat terdapat rasa percaya, tawakal dan menerima