BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
D. Pembahasan
1. Nrimo dengan Penyerahan Diri Sepenuhnya
Nrimo sering disalah artikan sebagai kesediaan untuk menrima segala-galanya secara apatis. Sebenarnya, nrimo merupakan penyerahan diri sepenuhnya terhadap kehadiran Yang Maha Kuasa yang meliputi segala sesuatu. Penyerahan diri terhadap Tuhan tergambar dari pernyataan subjek. Melalui nrimo, manusia pasrah kepada Tuhan dengan bersikap apa adanya, karena semua sudah digariskan oleh Tuhan, jadi bukan orang yang malas bekerja, melainkan orang mempunyai rasa tenang dan bersyukur menerima apapun yang menjadi bagiannya. Nrimo juga menerima sesuatu apa adanya dan tidak menginginkan lebih. Seperti yang dijelaskan oleh Suseno (1984) nrimo yaitu manusia diberi daya tahan untuk juga menanggung nasib buruk., bagi yang memiliki sikap itu, suatu malapetaka akan kehilangan sengsaranya. Melalui nrimo, dengan rela manusia menyerahkan wewenang dan semua hasil karyanya kepada Tuhan, sebab Tuhan lah yang empunya kuasa, dari sini manusia dituntut untuk tidak melekat pada keduniawian, bukan berarti tidak boleh mencari kekayaan. Kekayaan hanya akan menjadi batu sandungan dalam pengolahan diri apabila manusia lekat padanya, maka orang nrimo ialah orang percaya atau memiliki pegangan terhadap Tuhan.
a. Penghayatan terhadap Tuhan
Penghayatan terhadap kehadiran Tuhan tergambar bahwa manusia harus rela dan tabah dalam menghadapi musibah yang mereka alami. Ungkapan subjek yang menyatakan musibah gempa yang terjadi silam sudah merupakan kehendak Tuhan, maka manusia harus sadar dan maklum. Kematian putra-putri ataupun kehancuran rumah mereka memang sudah merupakan kehendakNya dan diri tidak bisa mengelak,
karena itu diri harus tabah dan rela didalam menghadapi cobaan seperti ini. Konsep yang diutarakan subjek sama dengan ajaran sangkan paraning dumadi yaitu Tuhan merupakan sumber hidup dari segala yang hidup di alam semesta ini, dan pada akhirnya manusia akan kembali kepada-Nya tergambar dalam kehidupan subjek.
Penderitaan hidup atau musibah dihadapi oleh subjek saat ini, dipercayai sebagai cobaan agar diri semakin mendekat kepada Tuhan. Manusia di-eling-kan kembali supaya selalu sadar terhadap Yang Maha Tunggal atau diperingatkan kembali akan adanya Tuhan. Bersikap tawakal dan percaya kepada Tuhan, diyakini Tuhan akan memberikan kemudahan untuk menghadapinya.
Salah satu bentuk penghayatan kepada Tuhan ialah bersyukur karena mereka masih diberi keselamatan, serta diperbolehkan untuk melanjutkan hidup. Konsep penghayatan kepada Tuhan tergambar jelas dalam nrimo, karena nrimomenekankan “apa yang ada”, faktualitas hidup manusia, menerima segala sesuatu yang masuk dalam hidup. Maka,
nrimo cenderung kepada ketenteraman hati, dengan nrimo perasaan akan lebih ayem
atau damai, dengan begitu dapat membantu merubah sikap dalam menghadapi penderitaan yang mereka alami saat ini.
b. Ketentraman Hati
Watak nrimo cenderung kepada ketenteraman hati, jadi bukan orang yang malas bekerja, melainkan orang yang mampu menempatkan dirinya dalam rasa tenang dan puas dalam menerima apapun yang menjadi bagiannya. Melalui nrimo, subjek menjadi merasa lebih ayem atau dikatakan merasakan ketenangan lahir dan batin. Dengan nrimo, pikiran merasakan kedamaian, nafsu-nafsu merasakan kepuasan, dan perasaan merasakan ketenteraman. Hal tersebut yang disebut sebagai perasaan yang netral atau
tidak merasakan gejolak perasaan negatif dan positif. Maka, subjek menyatakan dalam dirinya tidak merasakan apapun seperti yang diutarakan oleh subjek Sa.
Dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang muncul menurut subjek ialah tidak mudah marah, dalam mengerjakan sesuatu pun dengan tenang atau tidak tergesa-gesa. Hati yang tidak tentram menurut subjek, hanya akan mengundang penderitaan bagi dirinya, sekaligus dikaitkan dengan kesabaran, supaya menghindari iri pada diri yang dapat mengganggu keharmonisan dengan lingkungan. Beberapa subjek menyebutkan jika hati tidak tentram, maka akan menimbulkan stres atau depresi. Sekaligus dinyatakan jika hati tidak tentram maka, yang timbul hanya amarah. Walaupun, secara eksplisit tidak disebutkan oleh subjek, rasa amarah lebih cenderung dikatakan sebagai
meri atau rasa iri terhadap tetangganya. Orang yang selalu merasa iri atau kurang puas tersebut ialah orang yang ora nrimo dengan keadaannya.
Dapat dikatakan budaya dan agama membentuk individu. Dalam menghadapi rintangan hidupnya subjek yang nrimo, maka dalam dirinya terdapat rasa percaya, tawakal dan menerima apa adanya atas kehendak Tuhan, sehingga menghasilkan penyerahan diri kepada Tuhan. Nrimo, menurut subjek digunakan sebagai usaha untuk mencapai ketentraman hati. Ketentraman hati sering dikaitkan dengan kesabaran bagi subjek. Menurut subjek orang yang memiliki dasar sabar maka, emosinya akan terus terkendali, sehingga menimbulkan pikiran yang jernih. Hati yang tentram akan membuat subjek lebih mudah dalam memusatkan hidup pada Tuhan, sebab perasaan yang negatif merupakan penghambat untuk menuju pada Tuhan.
Budaya Agama Gusti/Tuhan
Individu Tentram
Rintangan Hidup Percaya
Nrimo Tawakal Menyerahkan Diri
Apa adanya
Bagan Orang yang mengalami ketentraman hati
c. Ora Nrimo
Ora nrimo dikatakan sebagai orang selalu berambisi untuk mencari kekayaan, apabila diberi selalu merasa kurang. Menurut subjek ora nrimo, merupakan orang yang selalu menuntut lebih, orang yang tidak pernah puas dengan hidupnya. menurut subjek jika tidak nrimo maka, dapat mengganggu keharmonisan dengan lingkungan.
Bila orang ora nrimo maka hidupnya selalu tidak tenang, karena selalu merasa kurang didalam hidupnya., maka yang akan timbul perasaan meri atau iri terhadap tetangganya. Perasaan itulah yang mampu membawa ketidakrukunan dan ketidak harmonisan, sehingga menimbulkan kerah atau pertengkaran. Dalam kaitannya dengan mengusahakan kerukunan atau keharmonisan, diri dapat menempatkan dirinya di dalam masyarakat, melakukan perilaku yang wajar. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, diri harus sadar dan menghargai orang lain sebagai subjek seperti dirinya dan dengan dunianya sendiri untuk mencapai keharmonisan.
d. Keharmonisan
Rukun sangat erat dengan keharmonisan, tujuan dari kerukunan adalah mempertahankan keadaan masyarakat yang harmonis dan selaras. Keadaan rukun dapat tercapai ketika semua pihak dalam damai satu sama lain, suka bekerja sama, saling menerima, terdapat suasana tenang dan sepakat tanpa perselisihan dan pertentangan (Suseno, 1984). Menjaga keharmonisan dengan lingkungan, merupakan salah satu bentuk usaha untuk selalu mengembangkan kerukunan dalam lingkungannya.
Melalui kerukunan, maka konflik dengan lingkungan dapat dicegah. Dalam antisipasi terjadinya konflik dengan lingkungan serta menjaga keharmonisan, maka perlu pengontrolan diri atau pengendalian diri. Oleh karena itu diri diharapkan rela untuk mengalah dan melepaskan kepentingan pribadi atau ambisi-ambisi pribadi untuk mewujudkan kerukunan sosial. Salah satu bentuknya ialah bertindak sareh yang artinya sabar Bastomi (1992; dalam Wijayanti, 2005). Maka dari itu, orang yang tidak memiliki pengontrolan diri atau pengendalian diri menurut subjek dikatakan sebagai orang yang
ora nrimo.
Agama dan budaya yang membentuk individu dalam menghadapi rintangan hidup. Subjek dikatakan ora nrimo karena dirinya terlalu berambisi, selalu merasa kurang ataupun selalu menuntut. Orang itu tidak pernah merasa puas terhadap hidupnya dan orang tersebut dianggap kurang baik. Individu tersebut menurut subjek tidak memiliki kontrol terhadap hidupnya, sehingga dapat menganggu ketentraman. Hal itu menyebabkan keharmonisan dan kerukunan lingkungan menjadi terganggu, maka diharapkan menurut subjek orang mampu mawas diri, mempunyai kontrol diri dan kontrol emosi.
Budaya Agama Tidak Tidak
Rukun Harmonis
Individu Tidak Tentram
Rintangan Hidup
Terlalu Berambisi Tidak ada
Ora Nrimo Tidak Puas kontrol
Bagan Orang yang mengalami yang tidak ketentraman hati
2. Nrimo dengan Berusaha
Seperti yang telah dideskripsikan bahwa nrimo tidak hanya diam, menerima segala sesuatu ataupun mengeluh yang terjadi pada dirinya. Nrimo juga harus disertai dengan usaha, agar mendapatkan rejeki. Dengan mendapatkan rejeki atau pendapatan, diharapkan akan mampu mencukupi kebutuhan hidup mereka. Mengusahakan rejeki identik dengan kemuan untuk berusaha. Dengan berusaha, maka diri akan mampu memberikan suatu pedoman dalam mengusahakan perkembangan pribadinya untuk mengatasi permasalahan hidupnya. Dengan berusaha, diri juga menuju pada suatu bentuk kepribadian yang ideal, yaitu tangguh dalam menghadapi segala permasalahan hidup, untuk itu dibutuhkan kesadaran diri akan tujuan yang ingin dicapai oleh diri. a. Kesadaran Diri
Melalui gempa 27 mei 2006 silam, orang harus secara sadar mengikuti takdirnya, betapapun tidak dapat dihindari dengan kesadaran bahwa semuanya telah ditetapkan. Secara sadar subjek melihat kebebasan pada dirinya dengan bertangung-jawab membuat keputusan-keputusan atas hidupnya yaitu seperti ungkapan mereka untuk menerima apa
adanya dan mereka menyadari bahwa setelah gempa kehidupan mereka harus tetap berlanjut, walaupun mereka telah kehilangan milik mereka. Dengan menyadari kehidupannya saat ini yaitu diri sadar dan maklum terhadap musibah yang sedang dialami, para subjek berusaha tetap tenang menjalani hidup sehari-hari.
Seperti telah dideskripsikan di atas, subjek menyadari jika tidak nrimo maka bisa terjadi emosi yang dapat mengakibatkan hal-hal kurang baik, seperti pikiran bisa kacau dan dapat mengakibatkan stres. Dalam pandangan subjek stres terjadi akibat dari mereka yang tidak menyadari keadaan yang terjadi di lingkungan mereka saat ini., maka diri harus nrimo. Terlihat melalui nrimo dengan kesadaran diri, sebenarnya manusia tetap mempunyai nilai tawar dan berkewajiban untuk tetap aktif yaitu secara sadar mewujudkan suatu kebahagiaan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Dari uraian di atas terlihat bahwa kesadaran itu selalu mengarah kepada sesuatu, khususnya objek.
b. Tujuan Hidup
Menurut budaya Jawa jika orang hanya mengejar kenikmatan, maka dirinya akan lupa tujuan hidup, perjuangan dan kewajibannnya. Kesadaran pada musibah yang mereka alami menuntut kesediaan diri untuk melibatkan diri kepada realitasnya. Melalui tujuan yang telah ditetapkan oleh diri, subjek memilih dan memikul tangung jawab atas pilihannya. Seperti yang diungkapkan beberapa subjek dengan jalan nrimo, mereka berdoa dan berusaha agar sehat supaya dapat menghidupi keluarga, itu dilakukan karena dirinya masih memiliki tanggung jawab pada keluarga, yaitu mendidik dan membahagiakan keluarga. Hal itu tidak eksplisit dikatakan oleh subjek, tetapi dari ungkapan subjek bahwa mereka masih mempunyai arah dan tujuan yaitu keluarga dan anak-anak untuk dihidupi.
dalam mmenhadapi musibah gempa subjek mempunyai arah dan tujuan untuk mengembangkan dan membangun dunianya, dalam hal ini keluarganya. Subjek mekalum, menyadari dan menerima, hingga terwujud nrimo. Melalui nrimo mental menjadi stabil dan berusaha bangkit untuk menghadapi musibah ini dan mencoba berkembang di dalam keterbatasan. Tujuan hidup merupakan suatu pedoman diri dalam mengusahakan perkembangan pribadi untuk mengatasi permasalahan hidup, sekaligus mampu menjaga stabilitas hidupnya. Menjaga stabilitas hidup atau lingkungan dalam budaya Jawa sering dikatakan sebagai memayu hayuning bawana (menjaga, menciptakan keindahan dunia ketentraman dunia). Memayu hayuning bawana bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan lahir dan batin. Maka, melalui nrimo diri harus berusaha bangkit, agar dapat bekerja untuk menghidupi keluarganya ataupun menjaga, menciptakan keindahan dunia ketentraman dunia.
Maklum Mental
Stabil
Musibah Gempa Menyadari nrimo Tujuan
Menerima Bangkit
Masyarakat keluarga
1. Makna Nrimo Bagi Subjek
a. Pemenuhan Makna Melalui Nrimo
Setelah makna telah muncul dalam diri, maka dapat terjadi pemenuhan melalui
nrimo. Frankl juga memandang manusia sebagai totalitas yang terdiri dari dimensi fisik dan dimensi spiritual. Untuk memahami diri dan kesehatan, kita harus memperhitungkan keduanya (dalam Koeswara, 1992). Makna merupakan keinginan dan motivasi utama dari manusia untuk memenuhi tujuan dan kewajiban hidupnya.
Menurut subjek makna akan terpenuhi jika mereka mampu mencapai tujuan yang diharapkan seperti yang telah diungkapkan untuk memperoleh kebahagiaan lahir dan batin. Kedua dimensi dalam Frankl dapat terpenuhi melalui nrimo. Seperti dimensi fisik yakni meliputi keinginan subjek untuk tetap bertahan dalam penderitaan musibah gempa, sehingga sadar akan keadaanya sekarang dan menciptakan mental yang stabil.
Dimensi spiritual lebih banyak digunakan oleh subjek sebagai pegangan untuk mengatasi penderitaannya, seperti penghayatan akan kehadiran Tuhan dengan jalan
nrimo, seperti yang diutarakan Frankl (dalam Koeswara, 1992) dalam dimensi spirtual manusia sanggup berefleksi dan bahkan menolak dirinya sendirinya sendiri. Melalui kesadaran dan hati nurani, subjek dapat menentukan sikap terhadap fakta, keadaan atau situasi yang dihadapinya dan melalui sikapnya itu dia pada gilirannya subjek mampu mengubah dirinya sendiri. Melalui kesadaran diri, serta pernyataan subjek bahwa mereka menyadari atau tidak mengingkari keberadannya atas penderitaan yang mereka alami saat ini maka, diri akan menjadi tenang. Dalam budaya jawa biasa disebut dengan rasa tentrem,, rasa dalam diri yang mampu menghantarkan diri pada hidupnya yang sejati.
Fisik
Nrimo RasaTentram Hidup Sejati
Spritual
Bagan dimensi terpenuhi melalui nrimo
Selanjutnya telah dijelaskan ada tiga pilar filosofis dalam logoterapi yang satu dengan lainnya erat hubungannya dan saling menunjang hal untuk melandasi makna, tiga pilar tersebut yaitu:
1). Kebebasan berkehendak ( Freedom of Will )
Seperti yang telah dijelaskan kebebasan yang dimaksud bebas kebebasan yang bukan kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab. Subjek secara bebas memilih tujuan hidupnya terlepas dari kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosiokultural untuk mengambil sikap atas kondisi-kondisi yang mereka alami tersebut. Hal itu dibuktikan dengan keinginan subjek menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya, sehingga subjek tetap berusaha tetap hidup dan sehat tanpa dihalangi oleh penderitaan yang terjadi akibat gempa silam.
Agar subjek tetap mampu untuk berpikir jernih dalam menentukan tujuan hidupnya, maka subjek perlu berusaha untuk mengenal dan memaknai dirinya sendiri. Dalam istilah Jong (dalam Herdiyanto, 2005) menyebutnya sebagai distansi, yaitu merupakan alat agar manusia bisa menjadi sadar. Segala sesuatu yang mengacaukan kesadaran yang sejati. Jika manusia ingin mempunyai arti dalam dunia, maka terlebih dahulu ia harus menerangkan tentang dunia itu, maka manusia mengambil distansi (jarak) terhadap
dunia sekitarnya, baik dalam aspek material maupun dalam aspek spiritual. Distansi dianggap perlu sebagai suatu jalan sementara agar manusia dapat menemukan dirinya sendiri. Tidak dijelaskan secara spesifik bentuk distansi menurut subjek, tapi tampaknya subjek mengambil jarak dengan merenungkan hidupnya kembali dan mengambil hikmah atas kejadian yang menerima, sehingga mereka mampu menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam tujuan hidupnya.
2). Kehendak Hidup Bermakna ( The Will to Meaning )
Subjek meyakini bahwa musibah gempa yang mereka alami merupakan kehendak yang Maha Kuasa, sehingga mereka hanya tinggal menjalankan nasib yang telah digariskan oleh-Nya. Subjek mencoba menemukan kehendak hidupnya dengan mengambil hikmah atas kejadian yang menimpanya. Hal itu diwujudkan dengan mengalami dan menemukan dalam setiap pengalaman yang ia lalui dan diwujudkan dengan memaknai kehidupan yang berada di sekitarnya. Hal ini terwujud dalam ungkapan subjek bahwa mereka mengambil hikmah atas musibah yang menimpa mereka. Subjek berusaha memaknai dan mengambil pengalaman atas musibah gempa ini. Makna, sesuai dengan sifatnya menarik itu maka subjek termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi manusia yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan makna. Subjek termotivasi untuk melanjutkan hidupnya, karena mereka memiliki kehendak atau memiliki tujuan untuk hidup yang lebih baik dari sekarang ini, selanjutnya subjek yakin bahwa hidup yang lebih baik itu tidak di dapat dengan bersikap pasif atau diam saja, namun juga harus mampu bersikap aktif dan berusaha bekerja.
3). Makna Hidup ( The Meaning Of Life )
Yang terakhir makan hidup muncul dari dalam diri subjek. Telah dijelaskan makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Manusia makna khusus dari hidupnya dan ia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus, dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Subjek menyadari bahwa merka memiliki tujuan tertentu dalam hidupnya setelah gempa terjadi, tujuan tersebut ialah untuk memperoleh kebahagiaan lahir dan batin. Hal itu tampak seperti subjek yang memilih untuk berhasil dalam mendidik anak menjadi mandiri serta membahagiakan keluarga.
Kemudian makna muncul melalui tiga sistem nilai yang memberikan cara memberi arti dalam kehidupan dapat terpenuhi melalui nrimo, yaitu Nilai daya cipta yang terwujud melalui keinginan subjek untuk berusaha tetap hidup dan sehat. Diri kreatif terlihat dengan sikap subjek yang bertindak dan berkerja semampunya di dalam menghadapi penderitaan yang sedang meraka alami. Jadi subjek tidak hanya diam dan merenungi nasibnya, namun mereka berusaha untuk tetap bekerja sesuai dengan kondisi diri mereka saat ini. Selanjutnya mengambil nilai-nilai dari pengalaman terlihat dalam diri subjek dengan mengambil sikap menerima atau menyerahkan diri kepada dunia, dengan cara menerima apapun yang terjadi di dalam hidupnya, termasuk penderitaan yang mereka alami saat ini.
Nilai-nilai sikap terbentuk dari keberanian subjek untuk menghadapi keadaannya dan berusaha tidak mengeluh akan apa yang terjadi pada dirinya, subjek berkerja sepenuh hati untuk memenuhi tujuannnya, walaupun dalam pandangan subjek hasil
akhir dari perkerjaanya tersebut diserahkan kepada Tuhan. Penderitaan membuat diri menjadi lebih kuat, selanjutnya mengungkapan penderitan itu membentuk karakter sekaligus membentuk kekuatan dan ketahan diri.
Setelah terjadi gempa subjek melakukan intropeksi atau mengambil hikamh atas musibah yang mereka alami. Dari hasil intropeksi tersebut subjek kemudian memilih untuk menetapkan misi atau tujuan hidupnya. Subjek bertanggung jawab secara pribadi untuk menetapkan pilihan-pilihannya, tanpa terhambat oleh musibah yang mereka alami saat ini. Subjek memiliki upaya menemukan makna hidup, subjek menerima hidupnya, serta berusaha menghadapi keadaannya dan berusaha mengatasi keadaan dan penderitaan yang tidak mungkin terelakkan saat ini.
Makna hidup tercapai jika ketiga unsur di atas terpenuhi dan saling melengkapi. Walapun makna bersifat personal, namun pemahaman mengenai makna membantu subjek untuk memotivasi diri mereka menghadapi musibah gempa dalam melanjutkan hidupnya kembali serta mencapai kebahagiaan lahir dan batin. Kebahagiaan lahir dan batin tercapai menurut subjek jika mereka, seperti jika berhasil dalam mendidik anak serta membahagiakan keluarga. Kebahagiaan lahir dan batin yang tercapai menghasilkan ketenangan hati (rasa tentrem,). Ketenangan hati menciptakan kejernihan berpikir sehingga mendapatkan rasa sejati. Rasa sejati adalah sari dari segala sari kehidupan. Akhirnya melalui rasa sejati manusia mengenal keberadaannya kembali, sehingga diperoleh kemanunggalan dengan Tuhan, manunggaling kawulo lan Gusti
Bagan berikut ini sekiranya dapat menjadi gambaran yang memudahkan untuk memahami terpenuhinya makna oleh subjek penelitian
Gempa intropeksi Rasa sejati
Memilih Rasa tentrem
Misi atau tujuan Bahagia lahir dan batin
menerima hidupnya Misi atau tujuan tercapai
menghadapi keadaannya Termotivasi
berusaha/bekerja
Makna Hidup
Bagan terpenuhinya makna Dapat disimpulkan melalui nrimo makna hidup dicapai oleh subjek, karena ketiga unsur di atas terpenuhi, sekaligus ketiga dimensi makna juga dapat terpenuhi oleh subjek dengan nrimo. Ketiga bagian tersebut dalam budaya jawa memang tidak bisa dipisahkan dan saling mempengaruhi dalam nrimo, karena dalam budaya Jawa manusia mamapu mencapai keseimbangan antara jiwa dan raga. Pemahaman makna lebih bersifat personal seperti halnya pemahaman rasa bagi manusia Jawa. Namun, yang tampak melalui musibah gempa ini, dengan jalan nrimo subjek semakin mendekat kepada Tuhan untuk menemukan makna hidupnya.
c. Perbandingan Nrimo dengan Konsep Kebermaknaan Hidup.
Perbandingan konsep nrimo dengan konsep kebermaknaan hidup telah dijelaskan secara lengkap pada pembahasan di atas. Melalui tiga sistem nilai yang memberikan cara memberi arti dalam kehidupan dapat terpenuhi kebermaknaan hidup manusia. Dalam penderitaan akibat gempa subjek berusaha menemukan maknanya, maka dapat
disebut juga subjek berusaha mengatasi-diri dengan jalan nrimo. Konsep individu yang mengatasi-diri dalam Logotherapy yang dikemukakan oleh Frankl dapat dibandingkan dengan nrimo. Untuk lebih jelas dapat dilihat di dalam tabel berikut ini:
Penemuan Makna Nrimo
Nilai daya cipta Bangkit, berusaha berkreasi dan tetap aktif dalam menghadapi musibah,
Nilai-nilai dari pengalaman
bersyukur dan cara menerima apapun yang terjadi di dalam hidupnya
Nilai-nilai sikap keberanian subjek untuk menghadapi keadaannya dan berkerja sepenuh hati
Terdapat persamaan yang terdapat dalam konsep nrimo dengan konsep kebermaknaan hidup. Persamaan itu ialah dalam nrimo menurut budaya Jawa terdapat kepercayaan atau penghayatan akan kehadiran Tuhan. Penekanan akan keberadaan Tuhan di dalam kehidupan manusia terlihat jelas dalam nrimo, sedangkan konsep logoterapi memandang sutau dimensi tempat kebebasan manusia terletak dan dialami (dalam Koeswara,1992). Dalam budaya Jawa manusia mempunyai pegangan dalam perilaku yaitu ajaran Tuhan yang diinternalisasi melalui budaya, sedangkan pandangan Frankl dimensi spiritual adalah hati nurani tempat untuk berefleksi, bahkan tempat kebebasan manusia terletak dan dialami. Tentu saja cara pandang budaya barat mengenai keberadaan manusia tidak langsung dapat disamakan pada budaya timur, khususnya Jawa, yang memandang Tuhan merupakan asal dan tujuan dari hidup atau
sangkan paraning dumadi.
Dalam budaya Jawa, secara kosmologis kehidupan merupakan kesatuan yang meliputi didalamnya. Dalam kesatuan itu semua saling melengkapi dan terkoordinasi satu dengan lainnya. Manusia dipandang mencapai titik puncaknya pada pusat dari