• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DATA TENTANG KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA

A. Deskripsi Subyek, Obyek dan Lokasi Penelitian

BAB III

DATA TENTANG PENELITIAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL ORANG TUA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

A. Deskripsi Subyek, Obyek dan Lokasi Penelitian 1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian atau informan adalah seseorang yang memberikan informasi terkait tema penelitian. Informan tersebut memiliki kredibilitas untuk memberikan informasi mengenai komunikasi interpersonal orang tua dengan ABK. Informan-informan tersebut, antara lain :

1) Informan 1 : Ibu Nurani

Beliau memiliki ABK laki-laki dengan kriteria diagnosis Distrophy

Moscular Progressive (DMP), suatu keadaan dimana semakin dewasa

usia penderitanya maka otot-ototnya akan semakin lemah, dan kekhususan ini termasuk kondisi yang terhitung cukup langka.1

Saat awal kelahiran ABK sempat mengalami keterlambatan bicara dan hanya bisa mengucapkan suku kata terakhir ketika teman-teman seusianya sudah bisa bernyanyi. Tanda-tanda kelemahan otot ini tidak langsung menunjukkan gejala yang signifikan. Ini terbukti dengan penuturan Ibu Nurani, bahwa ABK nya dahulu bisa berjalan dan kini harus menggunakan kursi roda karena tidak mampu lagi berdiri. Meskipun demikian, dalam hal komunikasi verbal khususnya intonasi maupun artikulasi, ABK dari Ibu Nurani ini termasuk lancar dan jelas

59

dalam pengucapan, meski membutuhkan sedikit waktu yang lebih lama ketika hendak mengucapkan sesuatu.

Keluarga sudah dapat menerima dengan kondisi ABK yang demikian, namun pada awalnya, penolakan justru datang dari diri ABK itu sendiri. Dirinya merasa minder setiap hendak keluar dari rumah. Berkat dukungan keluarga, saat ini ABK tersebut sudah mengalami banyak kemajuan belajar yang pesat bahkan meraih beberapa penghargaan.

2) Informan 2 : Nama :Ibu Ayu

Beliau memiliki ABK laki-laki dengan kriteria diagnosis Tunagrahita.2 Ibu Ayu dulunya adalah ibu rumah tangga yang juga merupakan seorang pekerja, namun saat ini beliau fokus untuk menjadi ibu rumah tangga dan membuka toko kelontong yang menjual makanan ringan dan minuman. Beliau termasuk orang tua ABK yang aktif mengajak anaknya untuk melakukan terapi di beberapa tempat dan beliau mengaku ABK nya mengalami kemajuan dari waktu ke waktu.

Identifikasi bahwa anaknya memiliki kebutuhan kusus adalah dari dokter yang menangani sewaktu ABK tersebut diperiksa karena sering sekali jatuh sakit. sempat ada penolakan dari pihak keluarga, namun beliau kemudian mendapat support dari ayah kandung untuk terus mengupayakan kesembuhan bagi ABK nya.

60

3) Informan 3 : Nama : Ibu Ida

Beliau Memiliki dua anak berkebutuhan khusus laki-laki dengan kriteria diagnosis low lisiondanspeech and language disorder sertaslow

learner. Kedua karakter ABK nya ini berbeda jauh. ABK beliau yang

memiliki kekhususan low vision diakui lebih mudah bersosialisasi dari pada kakaknya.3

Ibu Ida mengakui bahwa memiliki anak dengan kebutuhan khusus bukanlah hal yang mudah, tetapi mindset beliau, jika bukan dirinya sebagai ibu yang mengupayakan kebaikan untuk anaknya, lalu siapa lagi. Beliau juga mengikutsertakan ABK nya dalam banyak kegiatan seperti melukis, lomba puisi, dan lain sebagainya.

4) Informan 4 : Nama : Ibu Fitri

Beliau seorang ibu rumah tangga sekaligus pengajar tari yang memiliki ABK perempuan dengan kriteria diagnosis Tunarungu dan Tunawicara (TRW). ABK nya termasuk salah satu ABK yang berprestasi terutama dalam bidang menari dan olahraga yang dipelajari secara otodidak.4

Peneliti sempat mendapatkan informasi bahwa ABK beliau memiliki kekhususan tunawicara akibat dari tunarungu yang ada pada dirinya.

ϯ Wawancara dengan Ibu Ida pada 10 April 2017.

61

Namun, saat peneliti melakukan observasi, Ibu Fitri tidak memerlukan alat bantu apapun untuk berkomunikasi dengan ABK nya.

2. Obyek penelitian

Obyek penelitian ini berfokus kepada komunikasi interpersonal, yaitu cara berkomunikasi orang tua dengan ABK. Misalnya, bagaimana cara orang tua menyampaikan pesan, bagaimana ABK memberikan feedback, apa saja hambatan komunikasi yang terjadi, dan lain sebagainya.

3. Lokasi Penelitian

Surabaya merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta. Dan menjadi Ibukota Jawa Timur. Dengan populasi penduduk sekitar 3 juta orang, Surabaya telah menjadi kota Metropolis dengan beberapa keanekaragaman yang kaya di dalamnya. Selain itu, Surabaya saat ini juga telah menjadi pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di Indonesia.5

Secara geografis Kota Surabaya berada di 7° 9’-7° 21’ Lintang Selatan dan 112° 36’-112° 57’ Bujur Timur, sebagian besar wilayah Kota Surabaya merupakan dataran rendah dengan ketinggian 3-6 meter di atas permukaan laut, sebagian lagi pada sebelah Selatan merupakan kondisi berbukit-bukit dengan ketinggian 25-50 meter di atas permukaan laut. Luas wilayah Kota Surabaya + 52.087 Ha, dengan 63,45 persen atau 33.048 Ha dari luas total wilayah merupakan daratan dan selebihnya sekitar 36,55

62

persen atau 19.039 Ha merupakan wilayah laut yang dikelola oleh Pemerintah Kota Surabaya. Secara administratif wilayah Kota Surabaya terbagi menjadi 5 wilayah kota, terdiri dari 31 Kecamatan dan 163 Kelurahan. Dengan batas-batas wilayah Kota Surabaya adalah sebagai berikut : Utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo, sebelah timur dibatasi Selat Madura dan sebelah barat dibatasi dengan Kabupaten Gresik.6

Kota ini dipilih peneliti sebagai lokasi penelitian adalah karena kasus

bullying yang beberapa waktu lalu sempat viral di dunia maya yang terjadi di kota besar. Hal itu menjadi gambaran bahwa di kota besar pun, masyarakat belum sepenuhnya bisa menganggap kehadiran ABK sebagai sesuatu yang wajar. Jika masyarakat masih berada pada kondisi demikian, maka peneliti ingin menggali bagaimana sebenarnya komunikasi antara ABK dan orang tuanya yang ada di kota kedua terbesar di Indonesia apalagi dengan keberagaman masyarakat yang ada.

Dokumen terkait