LANDASAN TEORI
2.1 Deskripsi Teori .1 Return Saham
Brigham dan Houston (2006) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan return atau tingkat pengembalian adalah selisih antara jumlah yang diterima dengan jumlah yang diinvestasikan. Return saham merupakan penghasilan yang diperoleh selama periode investasi per sejumlah dana yang diinvestasikan dalam bentuk saham.
Menurut Jogiyanto (2014) faktor yang mempengaruhi return saham adalah variasi tingkat pengembalian saham disebabkan dari penilaian pada kinerja perusahaan. Semua persepsi yang positif terhadap kinerja perusahaan akan membawa harga saham ke tingkat yang lebih tinggi dari semula. Hal ini disebabkan karena saham tersebut memberikan return yang optimal. Sebaliknya jika ternyata membuat persepsi yang negatif bagi investor, maka harga saham akan bergerak ke arah yang lebih rendah dari sebelumnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa return saham adalah suatu bentuk pengembalian investasi yang diperoleh dari kegiatan jual beli saham. Untuk investasi pada saham, return (tingkat pengembalian) yang diperoleh dapat berupa capital gain atau dividen. Capital gain, yaitu selisih positif antara harga jual dengan harga beli saham. Dan apabila harga jual lebih rendah daripada harga beli saham, maka investor akan mengalami kerugian atau disebut capital loss.
2.1.2 Jenis-jenis Return Saham
Menurut Jogiyanto (2014) return saham dapat dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Return Realisasian (Realized Return)
Return Realisasian merupakan return yang sudah terjadi. Return realisasian dihitung dengan menggunakan data historis. Return realisasian ini penting karena banyak digunakan sebagai data untuk analisis investasi, termasuk digunakan sebagai data analisis portofolio.
2. Return Ekspektasian (Expected Return)
Return ekspektasian adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang. Return ekspektasian dapat dihitung dengan beberapa cara.
Return ekspektasian digunakan sebagai input dari analisis portofolio.
2.1.3 Komponen Return Saham
Rohmah (2012) menyebutkan bahwa komponen suatu return saham terdiri dari dua jenis yaitu:
1. Current Income (Keuntungan Lancar) adalah keuntungan yang diperoleh melalui pembayaran yang bersifat pembayaran yang bersifat periodic seperti pembayaran bunga deposito, bunga obligasi, deviden dan sebagainya.
2. Capital Gain yaitu keuntungan yang diterima karena adanya selisihantara harga jual dan harga beli suatu instrumen investasi, yang berarti bahwa instrumen investasi harus diperdagangkan di pasar. Besarnya capital gain dilakukan dengan analisis return historis yang terjadi pada periode sebelumnya, sehingga dapat ditentukan besarnya tingkat kembalian yang diinginkan.
14
2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Return Saham
Faktor-faktor yang mempengaruhi return saham antara lain faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yang mempengaruhi return saham di antaranya suku bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Sedangkan faktor internal yang mempengaruhi return saham adalah pengumuman laporan keuangan perusahaan, pengumuman investasi, pengumuman ketenagakerjaan, pengumuman pendanaan dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian-penelitian sebelumnya yang penulis baca, faktor-faktor yang mempengaruhi Return Saham antara lain Return On Assets, Return On Equity, Return On Investment,Current Ratio, firm size,Net Profit Margin, Economic Value Added, Earning Per Share, arus kas dan lain sebagainya.
2.1.5 Current Ratio
Menurut Kasmir (2016) “Rasio Lancar atau current ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat dirtagih secara keseluruhan.” Dalam praktiknya seringkali dipakai bahwa rasio lancar dengan standar 200% (2:1) yang terkadang sudah dianggap sebagai ukuran yang cukup baik atau memuaskan bagi suatu perusahaan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo. Menurut Fahmi (2012) "current ratio ( Rasio Lancar ) adalah ukuran yang umum digunakan atas solvensi jangka pendek, kemampuan suatu perusahaan memenuhi kebutuhan utang ketika jatuh tempo.
2.1.6 Return On Equity
Return On Equity adalah perbandingan antara laba yang tersedia bagi pemegang saham setelah pajak (dikurangi dividen saham biasa) dengan ekuitas yang telah diinvestasikan selama periode perhitungan dilakukan. Menurut Habib (2008) return on equity adalah Rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan kontribusi pemilik atau seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber-sumber lain untuk kepentingan pemilik.
Walaupun mengukur laba, rasio ini tidak menghitung deviden atau capital gain.
Alasannya, rasio ini bukan pengukur return pemegang saham yang sebenarnya.
Rasio pengembalian modal membandingkan antara laba bersih dengan modal pemilik, semakin besar berarti semakin bagus.
Menurut Werner R. Murhadi (2013) Return on Equity yaitu mencerminkan seberapa besar return yang dihasilkan bagi pemegang saham bagi setiap rupiah uang yang ditanamkan, Semakin tinggi Return on Equity maka maka akan menunjukkan semakin baik. Return on Equity (ROE) memberikan indikasi mengenai seberapa baik sebuah perusahaan akan menggunakan uang investasi para investor untuk menghasilkan keuntungan. Besarnya Return on Equity sangat dipengaruhi oleh besarnya laba yang diperoleh perusahaan, semakin tinggi laba yang diperoleh maka akan semakin meningkatnya Return on Equity. Sedangkan Return on Equity merupakan rasio antara laba sesudah pajak terhadap total modal sendiri (ekuitas) yang berasal dari setoran pemilik, laba tidak dibagi dan cadangan lain yang dimiliki oleh perusahaan
16
2.1.7 Komponen – Komponen Return On Equity (ROE) 1) Profit Margin
Profit margin merupakan nilai sisa dari jumlah dana yang digunakan untuk biaya operasional perusahaan. Apabila suatu perusahaan ingin menaikkan profit margin, maka yang dilakukan adalah mengendalikan biaya-biaya yang ditimbulkan dari kegiatan operasional perusahaan. Apabila profit margin suatu perusahaan naik (tinggi) menimbulkan return on equity perusahaan tersebut naik (tinggi) dan sebaliknya,
2) Assets Management
Assets Management didapatkan dari besarnya jumlah penjualan dibagi dengan total aset perusahaan. assets management menggambarkan penjualan yang dihasilkan dari setiap rupiah aset yang dimiliki oleh perusahaan.
3) Financial Leverage
Leverage merupakan besarnya rasio total aset dibagi dengan total aset perusahaan. leverage dapat menggambarkan besarnya jumlah utang dalam total aset suatu perusahaan. Perusahaan yang mempunyai leverage yang tinggi, tidak selalu perusahaan tersebut dalam keadaan tidak baik. Leverage pada tingkat tertentu dapat menaikkan return on equity (ROE).
Dari penjelasan tiga komponen Return On Equity (ROE) di atas dapat disimpulkan bahwa return on equity tidak hanya menentukan besarnya penjualan yang didapatkan dari investasi modal. Dengan mengetahui besarnya return on equity (ROE), dapat mengetahui lebih lanjut kualitas penghasilan yang didapatkan perusahaan.
2.1.8 Net Profit Margin
Net Profit Margin merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak (net income after tax) terhadap total penjualan (sales). Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan bersihnya terhadap total penjualan yang dicapai oleh perusahaan. Jadi kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih atas penjualan semakin meningkat maka hal ini akan berdampak pada meningkatnya pendapatan yang akan diterima oleh para pemegang saham. Net profit margin semakin meningkat menggambarkan kinerja perusahaan yang semakin baik dan keuntungan yang diperoleh pemegang saham akan meningkat pula.
Menurut Kasmir (2016) Net Profit Margin merupakan ukuran keuntungan yang membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan penjulan. Rasio ini menunjukkan pendapatan bersih perusahaan atas penjualan.
Rasio ini juga dibandingkan dengan rata-rata industri. Net Profit Margin merupakan rasio antara laba bersih setelah pajak (Net Income After Tax) terhadap total penjualan (sales) menunjukkan kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih atas total penjualan bersih yangdicapai oleh perusahaan.
Kinerja keuangan perusahaan di dalam menghasil kan laba bersih atas penjualan bersihnya semakin meningkat maka hal ini akan berdampak pada meningkatnya pendapatan yang akan diterima oleh para pemegang saham. Net profit margin yang semakin meningkat menggambarkan kinerja perusahaan yang semakin baik dan keuntungan yang diperoleh pemegang saham akan meningkat pula. Dengan semakin meningkatnya keuntungan (laba bersih sesudah pajak) akan
18
mencerminkan bagian laba dalam bentuk dividend gain maupun capital gain yang diterima oleh pemegang saham semakin besar. Dengan demikian para investor dan atau calon investor lain akan tertarik untuk menanamkan dananya ke dalam perusahaan tersebut. Jika permintaan atas saham perusahaan semakin banyak maka harga saham di pasar modal cenderung meningkat. Dengan meningkatnya harga saham, maka capital gain (actual return) dari saham tersebut juga meningkat. Hal ini disebabkan karena actual return merupakan selisih antara harga saham periode saat ini dengan harga saham sebelumnya.
2.1.9 Firm Size
Firm size adalah ukuran besar kecilnya suatu perusahaan. Berdasarkan firm size-nya, perusahaan dibedakan menjadi perusahaan big (besar) dan small (kecil). Dengan kata lain, firm size merupakan market value (nilai pasar) dari sebuah perusahaan. Market value dapat diperoleh dari perhitungan harga pasar saham dikalikan jumlah saham yang diterbitkan (outstanding shares). Market value inilah yang biasa disebut dengan kapitalisasi pasar (Fitriati, 2010). Menurut Muljono (2002), firm size merupakan ukuran besar kecilnya perusahaan yang diukur melalui logaritma natural dari total aset (Ln total asset). Suwito dan Herawati (2005) mengatakan firm size atau ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil perusahaan menurut berbagai cara, dimana ukuran perusahaan hanya terbagi dalam 3 kategori yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium size), dan perusahaan kecil (small firm). Total aset dijadikan sebagai indikator ukuran perusahaan karena sifatnya jangka panjang dibandingkan dengan penjualan
Menurut Bringham dan Houston (2006) menjelaskan bahwa ukuran perusahaan adalah: “Rata-rata total penjualan bersih untuk tahun yang bersangkutan sampai beberapa tahun. Dalam hal ini penjualan lebih besar dari pada biaya variable dan baiya tetap, maka akan diperoleh jumlah pendapatan sebelum pajak. Sebaliknya jika penjualan lebih kecil dari pada biaya variabel dan biaya tetap maka perusahaan akan menderita kerugian.”