• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Variabel Penelitian

Dalam dokumen YANIS KHOSNI AZIZAH_TESIS_UNAIR.pdf (Halaman 112-124)

BAB V ANALISIS HASIL STUDI

5.2 Deskripsi Variabel Penelitian

5.2 Deskripsi Variabel Penelitian 5.2.1 Suku Bunga di Indonesia 5.2.1 Suku Bunga di Indonesia

Kondisi suku bunga di Indonesia mengalami kenaikan dan penurunan yang fluktuatif, sudah 3 (tiga) kali Bank Indonesia terus memangkas suku bunga acuan (BI Rate) sepanjang satu kuartal pertama Tahun 2016. Keputusan Bank Indonesia untuk menurunkan acuan suku bunga (BI Rate) menjadi 6,75 persen, pada Maret 2016. Dengan harapan seluruhya bunga acuan ini diikuti dengan pengurangan suku bunga kredit perbankan serta likuiditas menyebar ke sektor riil guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan dana pihak ketiga akan mengalami kenaikan dan laju peningkatan ekspansi kredit perbankan yang sempat melemah pada tahun lalu akan kembali membaik ke posisi 15%-17% pada kwartal 1/2016.

92

Sumber: Bank Indonesia

Gambar 5.3 Gambar 5.3

Pergerakan BI Rate 2010-2016 Pergerakan BI Rate 2010-2016

Gambar 5.3 di atas menunjukkan perubahan BI rate yang fluktuatif di Indonesia. Perubahan suku bunga BI Rate tersebut mempengaruhi perekonomian makro melalui perubahan harga aset. Jika BI Rate turun dan menjadikan suku bunga perbankan menurun maka penurunan tersebut akan menaikkan harga asset, misalnya saham dan surat-surat berharga lainnya. Kondisi tersebut akan mendorong kemampuan pemilik asset untuk melakukan kegiatan investasi dan konsumsi. Selanjutnya kegiatan tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Upaya Bank Indonesia untuk menurunkan BI Rate dengan harapan agar suku bunga kredit turun dan pada gilirannya akan menggairahkan investasi merupakan hal yang diperlukan (necessarycondition). Hal tersebut tidak cukup, harus diikuti dengan

93

kebijakan-kebijakan lain yang dapat mendorong peningkatan investasi ( sufficient condition). Kebijakan yang dimaksud antara lain iklim investasi yang sehat dan kompetitif, birokrasi yang pro investasi, serta dukungan infrastruktur ekonomi baik dari aspek kuantitas dan kualitas. Dengan demikian kebijakan moneter melalui instrumen BI Rate harus dibarengi secara simultan dengan kebijakan fiskal dan kebijakan ekonomi yang lain oleh pemerintah agar dapat mencapai sasaran yang optimal

5.2.2 Nisbah Bagi Hasil di Indonesia 5.2.2 Nisbah Bagi Hasil di Indonesia

Nisbah bagi hasil merupakan instrumen keuangan yang menjadi pengganti suku bunga yang selalu digunakan dalam sistem keuangan konvensional. Nisbah bagi hasil merupakan alternatif, terutama dalam dunia perbankan. Sama halnya dengan suku bunga, nisbah bagi hasil di Indonesia juga mengalami kondisi yang naik turun karena tidak dipungkiri bahwa kondisi sistem moneter di Indonesia masih menganut dual sistem (Konvensional dan Syariah) sehingga nisbah bagi hasil dipengaruhi oleh banyak instrumen keuangan konvensional lainnya. Semisal dalam penetapan prosentase nisbah bagi hasil dalam dunia perbankan,benchmarkterhadap suku bunga

94

Sumber: Bank Indonesia

Gambar 5.4 Gambar 5.4

Rata-Rata Nisbah Bagi Hasil 2011-2016 Rata-Rata Nisbah Bagi Hasil 2011-2016

Gambar 5.4 di atas menunjukkan bahwa fluktuasi pada nisbah bagi hasil juga terjadi. Nisbah bagi hasil mencapai rata-rata tertinggi pada tahun 2013, hal ini sejalan dengan kondisi suku bunga di Indonesia yang mengalami kenaikan tajam pada tahun tersebut. Namun kondisi tersebut menurun pada tahun berikutnya dan mengalami nilai yang mendekati angka rata-rata pada tahun sebelumnya (2011 dan 2012).

Sama halnya dengan BI Rate, naik turunnya nisbah bagi hasil di Indonesia juga dapat mempengaruhi investasi masyarakat. Dengan turunnya prosentase nisbah bagi hasil maka diharapkan dapat menggairahkan investasi. Namun hal tersebut tidak cukup dan harus diikuti dengan kebijakan-kebijakan lain yang dapat mendorong peningkatan investasi ( sufficient condition). Kebijakan tersebut antara lain iklim

2.92 2.57 4.41 4.22 3.85 2.87 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 123456

95

investasi yang sehat dan kompetitif, birokrasi yang pro investasi, serta dukungan infrastruktur ekonomi baik dari aspek kuantitas dan kualitas.

5.2.3 Inflasi di Indonesia 5.2.3 Inflasi di Indonesia

Indikator yang biasanya digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang atau jasa di setiap kota.

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi, penguatan stimulus pertumbuhan, dan reformasi struktural sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia akan menurunkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan.

Target inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus dicapai oleh Bank Indonesia dengan berkoordinasi dengan Pemerintah. Penetapan sasaran inflasi berdasarkan UU mengenai Bank Indonesia dilakukan oleh Pemerintah. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke

96

depan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.66/PMK.011/2012 tentang Sasaran Inflasi tahun 2013, 2014, dan 2015 tanggal 30 April 2012 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2013

2015, masing-masing sebesar 4,5%, 4,5%, dan 4% masing-masing dengan deviasi ±1%.

Tabel 5.1

Inflation Report (Consumer Price Index)2014-2016

Bulan

Bulan TingkatTingkat Inflasi 2014 Inflasi 2014 Monthly Monthly Growth Growth 2014 2014 Tingkat Tingkat Inflasi 2015 Inflasi 2015 Monthly Monthly Growth Growth 2015 2015 Tingkat Tingkat Inflasi 2016 Inflasi 2016 Januari 8.22% 1.07% 6.96% -0.24% 4.14% Februari 7.75% 0.26% 6.29% -0.36% 4.42% Maret 7.32% 0.08% 6.38% 0.17% 4.45% April 7.25% -0.02% 6.79% 0.36% Mei 7.32% 0.16% 7.15% 0.50% Juni 6.70% 0.43% 7.26% 0.54% Juli 4.53% 0.93% 7.26% 0.93% Agustus 3.99% 0.47% 7.18% 0.39% September 4.53% 0.27% 6.83% -0.05% Oktober 4.83% 0.47% 6.25% -0.08% November 6.23% 1.50% 4.89% 0.21% Desember 8.36% 2.46% 3.35% 0.96% Total 8.36% 8.36% 3.35%3.35%

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat bahwa inflasi bulanan pada Desember 2015 sebesar 0,96 persen, yang merupakan inflasi tertinggi sepanjang

97

tahun lalu. Angka inflasi pada Desember lalu tersebut, bahkan lebih tinggi dari inflasi pada Juli 2015 yang sebesar 0,93 persen akibat efek kenaikan harga barang-barang

selama bulan puasa dan lebaran.

Penyebab tingginya inflasi dari komponen harga yang bergejolak pada Desember 2015 adalah harga cabai merah dan bawang merah yang melonjak masing-masing 43 persen dan 36 persen. Momen Natal dan Tahun Baru yang memicu peningkatan permintaan, turut mengerek harga daging dan telur ayam ras masing-masing 6,2 persen dan 9,17 persen. Begitu pula dengan tarif angkutan udara yang naik 10,3 persen lantaran meningkatnya arus penumpang selama musim liburan akhir tahun. Dari sisi komponen harga yang diatur pemerintah, inflasi Desember 2015 dipengaruhi oleh kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 1,8 persen. Meski kenaikannya kecil, bobotnya mencapai 3,44 persen. Harga beras yang naik 0,6 persen juga memiliki bobot 4 persen, sehingga memberi andil 0,03 persen terhadap inflasi Desember 2015.

5.2.4 Produksi industri di Indonesia 5.2.4 Produksi industri di Indonesia

Produksi industry di Indonesia beberapa kali mengalami kenaikan dan penurunan yang tajam. Pencapaian jumlah produksi industry tertinggi terjadi pada bulan Juli dengan jumlah sekitar 507 triliun rupiah dapat dilihat pada gambar di bawah. Nilai tersebut sekaligus menjadi capaian terbesar selama 6 tahun terakhir (2011-2016). Perbedaan jumlah produksi industri pada tahun 2016 ini mengalami perbedaan yang sangat signifikan antara bulan pertama hingga akhir. Hal tersebut dapat terlihat dari

98

grafik yang naik sangat tajam pada bulan ke-6 setelah sebelumnya berada pada kisaran nilai di bawah 485 triliun rupiah.

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia

Gambar 5.5 Gambar 5.5

Produksi Industri di Indonesia Tahun 2016 Produksi Industri di Indonesia Tahun 2016

Produksi industri yang merupakan output real yang dapat dihasilkan oleh industri di Indonesia ini dapat menjadi tolak ukur produktivitas masyarakat Indonesia. Semakin besar nilainya maka menunjukkan semakin produktif masyarakatnya. Dengan demikian, peningkatan jumlah produksi industri di Indonesia perlu ditingkatkan untuk meningkatkan pendapatan nasional masyarakat Indonesia. Namun hal tersebut juga perlu diimbangi dengan kebijakan-kebijakan makro lain guna meningkatkan produksi industri tersebut. Sebab, selain kenaikan produksi industri

465000000000000.00 470000000000000.00 475000000000000.00 480000000000000.00 485000000000000.00 490000000000000.00 495000000000000.00 500000000000000.00 505000000000000.00 510000000000000.00 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

99

mencerminkan kenaikan produktivitas dan pendapatan nasional masyarakat Indonesia, hal tersebut juga mencerminkan pertumbuhan ekonomi nasional yang meningkat.

5.2.5 Jumlah Zakat yang Diterima di Indonesia 5.2.5 Jumlah Zakat yang Diterima di Indonesia

Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim yaitu sejumlah 216,66 juta penduduk atau dengan persentase muslim sebesar 85 persen dari total populasi (BPS, 2015). Fakta tersebut secara tersirat menunjukkan bahwa zakat memiliki potensi besar dan dapat berkontribusi dalam mengurangi kemiskinan. Data zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat kenaikan jumlah penghimpunan zakat dari tahun 2002 hingga 2015 seperti yang terlihat pada

Tabel 5.2.

Berdasarkan Tabel 5.2, dapat dilihat bahwa dana ZIS yang terkumpul mengalami peningkatan sebesar 5310,15 persen dalam kurun waktu 13 tahun. Pada tahun 2005 dan tahun 2007, terjadi kenaikan penghimpunan ZIS hampir 100% yang diprediksi karena adanya bencana nasional di tanah air (tsunami Aceh dan gempa bumi Yogyakarta). Jika dirata-ratakan dari tahun 2002 sampai 2015, maka pertumbuhan penghimpunan ZIS mencapai angka rata-rata kenaikan sebesar 39,28%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat peningkatan kesadaran masyarakat yang cukup tinggi untuk berzakat melalui organisasi pengelola zakat (OPZ). Tren pertumbuhan ini juga mengindikasikan adanya peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja OPZ, baik BAZNAS maupun LAZ.

100

Tabel 5.2

Jumlah Penghimpunan ZIS di Indonesia (2002-2015)

Tahun

Tahun RupiahRupiah (miliar)

(miliar) USD (juta)USD (juta)

Pertumbuhan Pertumbuhan (%) (%) Pertumbuhan Pertumbuhan GDP GDP 2002 68.39 4.98 - 3.7 2003 85.28 6.21 24.70 4.1 2004 150.09 10.92 76.00 5.1 2005 295.52 21.51 96.90 5.7 2006 373.17 27.16 26.28 5.5 2007 740 53.86 98.30 6.3 2008 920 66.96 24.32 6.2 2009 1200 87.34 30.43 4.9 2010 1500 109.17 25.00 6.1 2011 1729 125.84 15.30 6.5 2012 2200 160.12 27.24 6.23 2013 2700 196.51 22.73 5.78 2014 3300 240.17 22.22 5.02 2015 3700 269.29 21.21 4.79

Sumber: Badan Amil Zakat Nasional (2016)

Hal penting lainnya yang dapat ditunjukkan oleh Tabel 5.1 adalah tingginya pertumbuhan penghimpunan ZIS jika dibandingkan dengan pertumbuhan PDB sebagai tolak ukur pertumbuhan ekonomi nasional. Pada tahun 2009, terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1,3 persen sebagai konsekuensi

dari krisis finansial global. Namun, pertumbuhan zakat di tahun yang sama justru meningkat sebesar 6,11 persen. Jika dilihat dari rata-ratanya, kenaikan rata-rata

101

pertumbuhan zakat dari tahun 2002 sampai 2015 (39,28 persen) juga lebih besar dibandingkan rata-rata pertumbuhan PDB yang hanya mencapai 5,42 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan zakat tidak terlalu dipengaruhi oleh krisis global sehingga ke depannya sangat berpotensi untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Perzakatan di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat dinamis seiring dengan perkembangan zaman. Hal tersebut dapat dilihat setidaknya dari tiga aspek.

Pertama, Indonesia telah memiliki regulasi mengenai pengelolaan zakat dalam UU No. 23/2011 dan regulasi turunannya yang terangkum dalam PP No. 14/2014 dan Inpres No. 3/2014. Regulasi-regulasi ini menandakan keseriusan pemerintah dalam upaya memajukan perzakatan nasional ke arah pembangunan ekonomi yang lebih merata. Kedua, adanya peningkatan jumlah ZIS di Indonesia dari tahun ke tahun. Secara umum, hal ini menandakan bahwa populasi Muslim Indonesia semakin sadar untuk berzakat dan menyalurkan zakatnya melalui lembaga amil zakat. Selain itu, peningkatan jumlah data ZIS ini juga menjadi salah satu tanda bahwa semakin banyak pegiat zakat di Indonesia. Ketiga, potensi zakat di Indonesia menunjukkan angka yang cukup besar yaitu 3,4% dari total PDB Indonesia atau sebesar Rp 217 triliun pada tahun 2010. Walaupun potensi ini belum didukung dengan realita penghimpunan zakatnya, hal ini dapat dijadikan tanda bahwa perzakatan Indonesia dapat berkembang lebih besar lagi ke depannya, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya.

102

Pada tingkat internasional, perzakatan Indonesia juga telah mendapat pengakuan dan apresiasi dari berbagai pihak. Dalam Muktamar Zakat Internasional ke -8 di Beirut pada tahun 2010, para peserta delegasi zakat dari negara-negara Timur Tengah mengakui kinerja pendayagunaan zakat Indonesia yang kreatif dan inovatif (IZDR, 2012). Islamic Development Bank (IDB) juga meminta Indonesia untuk melakukan

reverse linkage program’mengenai pengelolaan dana zakat yang telah dilakukan di berbagai pembiayaan usaha mikro dan kecil kepada seluruh negara-negara anggota IDB. Prestasi lainnya yaitu Indonesia berkontribusi sebagai salah satu tim penyusun dalam upaya standarisasi sistem zakat global yang terangkum pada dokumen Zakat Core Principles(Dokumen ini telah disahkan pada World Humanitarian Summit) di Istanbul, Turki pada 23-24 Mei 2016. Berbagai prestasi dan apresiasi tersebut menunjukkan bahwa kinerja perzakatan Indonesia semakin diakui di dunia internasional dan dapat memberikan kontribusi positif dalam perkembangan zakat global ke depan.

Pertumbuhan zakat dan prestasi di tingkat internasional yang luar biasa ini, pada kenyataannya belum diimbangi dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja amil zakat di dalamnya. Masih terdapat banyak permasalahan dan tantangan untuk membenahi perzakatan nasional, seperti lemahnya kualitas dan kuantitas SDM perzakatan, belum meratanya kinerja OPZ di seluruh daerah di Indonesia, kurangnya penataan sistem dan kelembagaan zakat, terbatasnya sinergi, integrasi, dan kerja sama pengelolaan zakat secara nasional, serta minimnya kajian, riset, dan integrasi data perzakatan nasional.

103

Dalam dokumen YANIS KHOSNI AZIZAH_TESIS_UNAIR.pdf (Halaman 112-124)

Dokumen terkait