BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Deskripsi Variabel Penelitian
Penelitian ini mengamati satu variabel terikat (dependent variabel) yaitu variabel kinerja laporan keuangan pemerintah pusat (Y) dan empat variabel bebas (independent variabel) yaitu variabel rasio solvabilitas (X1), rasio Varians (X2), tingkat efisiensi penggunaan anggaran (X3) dan tingkat efektivitas pendapatan (X4).
4.2.1. Variabel Kinerja Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
Seperti disebutkan pada bab sebelumnya bahwa populasi dalam penelitian ini adalah seluruh laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) tahunan dari 11 (sebelas) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) lingkup Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara periode tahun 2006 sampai dengan 2009, sehingga diperoleh laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) dengan jumlah 44 buah laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) tahunan.
Dalam melihat kinerja laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) di wilayah Provinsi Sumatera Utara diperoleh dengan melakukan perhitungan-perhitungan dan diberikan skor terhadap indikator-indikator yang ditentukan, yaitu: rasio solvabilitas (X1), rasio Varians (X2), tingkat efisiensi penggunaan anggaran (X3), dan tingkat efektivitas pendapatan (X4). Selanjutnya jumlah skor indikator tersebut diberikan skor berskala interval mulai 1 sampai dengan 5.
60
Untuk nilai skor variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1. Nilai Kinerja Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara
KPPN Tahun Solvabilitas Varians Efisiensi Efektivitas Kinerja LKPP
(X1) (X2) (X3) (X4) (Y) Medan I 2006 1 4 1 5 3 (MDN1) 2007 1 4 1 5 3 2008 5 4 4 5 5 2009 5 4 4 5 5 Pematang 2006 1 5 1 5 3 Siantar 2007 1 5 1 5 3 (PSTR) 2008 5 4 2 5 5 2009 2 5 1 5 4 Padang 2006 1 5 1 5 3 Sidempuan 2007 1 5 1 5 3 (PSP) 2008 1 3 1 5 3 2009 1 5 1 5 3 Gunung Sitoli 2006 1 5 1 5 3 (GST) 2007 1 3 1 4 2 2008 1 3 1 3 2 2009 1 4 1 5 3 Rantau Prapat 2006 1 5 1 5 3 (RPT) 2007 1 5 1 5 3 2008 5 4 3 5 5 2009 4 5 2 5 4 Tanjung 2006 1 5 1 5 3 Balai 2007 1 5 1 5 3 (TBA) 2008 5 4 5 5 5 2009 5 5 5 5 5 Sibolga 2006 1 5 1 3 3 (SBLG) 2007 1 5 1 5 3 2008 1 2 1 5 2 2009 1 5 1 5 3
61 Lanjutan Tabel 4.1 Sidikalang 2006 1 5 1 5 3 (SDKL) 2007 1 5 1 5 3 2008 1 3 1 5 3 2009 1 5 1 5 3 Medan II 2006 1 5 1 4 3 (MDN2) 2007 5 3 2 5 4 2008 5 5 5 5 5 2009 5 4 4 5 5 Tebing Tinggi 2006 1 5 1 5 3 (TBG) 2007 1 5 1 5 3 2008 1 5 1 5 3 2009 1 5 1 5 3 Balige 2006 1 4 1 5 3 (BLG) 2007 1 5 1 5 3 2008 1 3 1 5 3 2009 1 4 1 5 3
Sumber: Hasil Penilaian
Berdasarkan hasil penjumlahan nilai kinerja seluruh indikator, dapat diketahui bahwa kinerja laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) lingkup Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara rata-rata cukup baik.
4.2.2. Variabel Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara mencerminkan kemampuan pemerintah membiayai aset tetapnya dari hutang dan seberapa besar membiayainya dari ekuitas dana pemerintah. Rasio Solvabilitas laporan keuangan
62
pemerintah pusat (LKPP) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara ditunjukkan pada Tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2. Rasio Solvabilitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara
Tahun
Anggaran Total Aset Total Hutang
Rasio Solvabilitas Skor 2006 -7.324.866.813.058 572.131.665.675 -12,80 1 2007 -6.096.337.078.667 764.162.169.899 -7,98 1 2008 9.595.783.072.777 947.607.578.604 10,13 5 2009 8.162.845.226.028 1.309.159.429.333 6,24 5 Total 12
Sumber: Kanwil Ditjen PBN Provinsi Sumut (data diolah)
Pada tahun 2006 nilai aset tetap negara di Provinsi Sumatera Utara nihil, sehingga total aset pemerintah hanya mencerminkan aset lancar dan rasio sovabilitas sebesar negatif 12,80. Hal ini disebabkan pada tahun ini pemerintah belum melakukan inventarisasi barang milik negara (aset tetap) dan belum melakukan pencatatan atas perolehan aset tetapnya yang dibiayai dari hutang dan ekuitas dana pemerintah. Keadaan ini menggambarkan bahwa barang milik negara (aset tetap negara) dan hutang yang diperoleh belum dikelola dengan baik.
Pada tahun 2007 pemerintah mulai melakukan inventarisasi barang milik negara (aset tetap negara) dan mulai menyajikannya dalam laporan keuangan pemerintah pusat. Tetapi inventarisasi barang milik negara ini selesai dilakukan sehingga barang milik negara hanya sebagian kecil saja yang dicatat dalam neraca.
63
Rasio solvabilitas tahun 2007 sebesar negatif 7,98. Nilai negatif tersebut berarti hutang pemerintah lebih besar dari total aset yang dimiliki. Hutang yang diperoleh juga masih diserap untuk membiayai kegiatan operasional.
Rasio Solvabilitas tahun 2008 meningkat menjadi 10,13, dan tahun 2009 menjadi sebesar 6,24. Hal ini mencerminkan hutang pemerintah lebih kecil dari total aset, dan pemerintah telah mampu membiayai perolehan aset dari ekuitas dana pemerintah. Hingga akhir tahun 2009, pelaksanaan inventarisasi barang milik negara masih belum selesai dilaksanakan.
Perkembangan rasio solvabilitas pada masing-masing laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) dapat dilihat pada Lampiran 1.
4.2.3. Variabel Rasio Varians (Selisih)
Salah satu indikator keuangan pemerintah adalah besarnya serapan realisasi anggaran belanja. Rasio varians laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) pada Kantor Wilayah Dirketorat Jenderal Provinsi Sumatera Utara mencerminkan konsolidasi pencapaian target realisasi anggaran belanja sebelas Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) selama satu tahun anggaran.
64
Tabel 4.3. Rasio Varians di Wilayah Provinsi Sumatera Utara Tahun
Anggaran Anggaran Belanja
Realisasi Anggaran Belanja Rasio Varians Skor 2006 16.700.273.548.804 15.922.047.138.079 0,95 5 2007 19.673.195.075.090 18.545.591.517.401 0,94 5 2008 9.627.355.804.364 8.867.926.665.217 0,92 5 2009 13.814.517.528.919 13.006.851.690.301 0,94 5 Total 20
Sumber: Kanwil Ditjen PBN Provinsi Sumut (data diolah)
Dari Tabel 4.3 tersebut dapat dilihat pencapaian kinerja pemerintah melalui indikator keuangannya yaitu realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada Provinsi Sumatera Utara yang disalurkan melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) lingkup Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara dan kinerja pelayanan atas pengelolaan anggaran di lingkungan kementerian negara/lembaga sangat baik.
Tahun 2006 rasio varians Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara sebesar 0,95. Hal ini berarti anggaran belanja negara yang diterima Provinsi Sumatera Utara yang dituangkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dapat diserap dan menghasilkan output sebesar 95 persen. Tahun 2007 penyerapan terhadap anggaran belanja sebesar 94 persen, tahun 2008 anggaran belanja terealisasi sebesar 92 persen dan tahun 2009 sebesar 94 persen.
65
Serapan realisasi anggaran belanja pada setiap Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) lingkup Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada Lampiran 2.
4.2.4. Variabel Tingkat Efisiensi Penggunaan Anggaran
Tingkat efisiensi penggunaan anggaran mencerminkan besarnya pengeluaran pemerintah di Provinsi Sumatera Utara yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan negara yang akan dipergunakan kembali untuk pembangunan. Kinerja keuangan pemerintah di Provinsi Sumatera Utara dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau di bawah 100 persen. Semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja keuangan pemerintah semakin baik.
Tingkat efisiensi penggunaan anggaran di Provinsi Sumatera Utara ditunjukkan pada Tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4. Tingkat Efisiensi Penggunaan Anggaran Wilayah Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran Realisasi Anggaran Pendapatan Realisasi Anggaran Belanja Rasio Efisiensi Skor 2006 7.111.861.604.082 15.922.047.138.079 2,23 1 2007 9.622.929.642.586 18.545.591.517.401 1,92 1 2008 15.712.504.615.733 8.867.926.665.217 0,56 4 2009 17.300.857.351.492 13.006.851.690.301 0,75 3 Total 9
66
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa tahun 2006 pengeluaran yang dikeluarkan pemerintah untuk pelaksanaan pembangunan terbilang tinggi, tetapi pendapatan yang diperoleh sangat rendah. Tingkat efisiensi sebesar 2,23 menunjukkan inefisiensi dari sarana dan prasarana yang ada, yang berarti kinerja keuangan pemerintah kurang baik.
Pada tahun 2007 kinerja keuangan pemerintah juga masih tidak efisien, di mana tingkat efisiensi penggunaan anggaran sebesar 1,92. Pendapatan negara yang diperoleh masih terlalu rendah dibandingkan dengan belanja yang direalisasikan untuk pembangunan.
Pada tahun 2008 pemerintah mengurangi belanjanya karena terjadi krisis ekonomi dan keuangan global (2007). Kiris tersebut tidak begitu mempengaruhi Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan besarnya pendapatan yang diperoleh (sebesar Rp. 15.712.504.615.733,-) sedangkan realisasi anggaran belanja sebesar Rp. 8.867.926.665.217,- (tingkat efisiensi sebesar 0,56), menunjukkan pengeluaran yang sangat efisien yang berarti kinerja keuangan pemerintah sangat baik. Tetapi pada tahun 2009 kinerja keuangan pemerintah masih baik walaupun mengalami penurunan, dengan tingkat efisiensi sebesar 0,75.
Perkembangan rasio tingkat efisiensi penggunaan anggaran pada masing-masing Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) dapat dilihat pada Lampiran 3.
67
4.2.5. Variabel Tingkat Efektivitas Pendapatan Negara
Tingkat efektivitas pendapatan menggambarkan kinerja keuangan maupun kinerja pelayanan pemerintah dalam menghasilkan pendapatan negara. Kemampuan pemerintah dalam menjalankan tugasnya dikategorikan efektif apabila tingkat efektivitas yang dicapai minimal 100 persen. Semakin tinggi rasio efektivitas menggambarkan kinerja pemerintah semakin baik.
Tabel 4.5. Tingkat Efektivitas Penggunaan Anggaran Wilayah Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran Anggaran Pendapatan Realisasi Anggaran Pendapatan Rasio Efektivitas Skor 2006 7.422.181.422.385 7.111.861.604.082 95,82 5 2007 8.324.855.049.677 9.622.929.642.586 115,59 5 2008 9.393.242.569.405 15.712.504.615.733 167,27 5 2009 11.933.907.605.193 17.300.857.351.492 144,97 5 Total 20
Sumber: Kanwil Ditjen PBN Provinsi Sumut (data diolah)
Dari tabel di atas diketahui bahwa tingkat efektivitas pendapatan rata-rata di atas 100 persen, di mana setiap tahunnya pemerintah mampu mencapai target penerimaan yang ditetapkan. Hal ini menggambarkan bahwa pemerintah sudah efektif dalam melakukan pemungutan pendapatan. Kinerja pemerintah dalam melakukan pemungutan pendapatan negara berupa penerimaan pajak dan penerimaan negara bukan pajak sangat baik. Hal ini juga menggambarkan bahwa kinerja pemerintah (Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sumatera
68
Utara) dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan lingkungan pemerintah sendiri (kementerian negara/lembaga) sangat baik.
Perkembangan tingkat efektivitas pendapatan pada masing-masing laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) dapat dilihat pada Lampiran 4.