• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Variabel Penelitian

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Variabel Penelitian

Analisis variabel penelitian dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan manajemen terkait dengan masing-masing variabel penelitian yang digunakan secara sendiri-sendiri. Penelitian ini menggunakan jumlah sampel sebanyak 158 orang satpol pp yang tersebar di 18 kecamatan di kabupaten gowa.

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2014 dan diperoleh data sesuai dengan banyaknya variabel yang akan diteliti yaitu dengan menggunakan empat variabel bebas dan satu variabel terikat adapun empat variabel bebas dalam penelitian ini masing-masing adalah pendidikan (X1), kemampuan (X2) pengalaman (X3), keahlian (X4), sedangkan variabel tidak bebasnya adalah prestasi kerja Satpol PP yang disimbolkan sebagai Y.

Jumlah Satpol PP yang diteliti seluruhnya adalah laki-laki yang berjumlah 158 orang dilaksanakan pada tahun 2014 sedangkan waktu pelaksanaan penelitian ini dilakukan selama 2 bulan lamanya yaitu bulan Mei dan Juni dengan menggunakan kuesioner yang didukung oleh data sekunder serta tetap melakukan wawancara kepada para Satpol PP terutama dalam lingkup satuan Polisi Pmong Praja pada dinas pendidikan Kabupaten Gowa.

Selain menyebarkan kuesioner, wawancara juga dilakukan dengan harapan untuk mempertemukan apakah data yang dikumpulkan secara primer sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya dilapangan. Data sekunder ini diharapkan juga dapat memperkuat analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, sehingga kesimpulan penelitian ini dapat digeneralisasi secara keseluruhan kepada Satpol PP yang bertugas disetiap sekolah di kabupaten gowa.

Berdasarkan hasil tabulasi data dengan menggunakan empat variabel bebas ( Pendidikan, Keahlian, Pengalaman dan Keahlian ) dan satu variabel terikat ( Prestasi Kerja ), maka untuk mengetahui tanggapan ke 158 responden, sampel terhadap ke empat variabel penelitian ini, secara deskriptif dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Pendidikan (X1)

Pendidikan merupakan suatu proses dari kegiatan penyelanggaraan system pendidikan dalam mencerdaskan dan menciptakan individu sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan organisasi. Pendidikan merupakan salah satu indikator utama pembangunan dan kualitas sumber daya manusia, sehingga kualitas sumber daya manusia sangat tergantung dari kualitas pendidikan. Indikator Pendidikan yaitu : a). Jenjang pendidikan, b). Latar belakang Pendidikan dan c). Disiplin ilmu. Pengukuran berdasarkan tingkat pendidikan Satpol PP dalam melaksanakan tugas pokoknya

Berdasarkan hasil penelitian melalui kuesioner diperoleh data untuk variabel Pendidikan (X1) berdasarkan jenjang pendidikan untuk tiap pertanyaan yang diberikan kepada Satpol PP dengan frekuensi dan persentasenya disajikan secara rinci dalam Tabel 6 sebagai berikut:

Tabel 6

Distribusi Frekuensi Untuk Variabel Pendidikan

N

o Indikator

Distribusi Tanggapan Responden Rata- rat a

SS S KS TS STS

A. Jenjang Pendidikan

1 Jenjang pendidikan mampu meningkatkan prestasi kerja

51 (32,3%)

107

(67,7%) - - - 4.32

2

Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat pengembangan

41 (25,9%)

117

(74,1%) - - - 4.26

3

Apakah anggota Satpol PP belum Merasa Puas dengan jenjang Pendidikan terakhir yang Satpol PP tamati 65 (41,1%) 89 (56,3%) 4 (2,5%) - - 4.39 4

Motivasi Satpol PP untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sangat besar

98 (62,0%) 59 (37,3%) 1 (0,6%) - - 4.61 5

Jenjang pendidikan yang dimiliki Satpol PP sangat sesuai dengan pekerjaan Satpol PP saat ini

60 (38,0%) 97 (61,4%) 1 (0,6%) - - 4.37 Jumlah 315 (39,86% ) 469 (59,36%) 6 (3,70%) - - 4,39

B. Latar Belakang Pendidikan

6 Apakah Latar belakang pendidikan mampu mengembangkan potensi SDM Satpol PP 46 (29,1%) 111 (73,1%) 1 (0,6%) - - 4.28 7

Latar belakang Pendidikan merupakan cerminan keahlian Satpol PP 65 (41,0%) 91 (57,6%) 2 (1,3%) - - 4.40 Jumlah 55,5 (35,05% ) 101 (65,35%) 3 (1,9%) - - 4,34 C. Disiplin Ilmu

8 Satpol PP dituntut untuk mampu menggunakan disiplin ilmu yang

94 (59,5%) 63 (39,9%) 1 (0,6%) - - 4.59

dimiliki tepat pada tempatnya, waktunya serta sasarannya

9

Satpol PP mempunyai disiplin ilmu yg pernah didalami dan merupakan keahlian utama sifatnya lebih detail bukan secara umum.

66 (41,8%) 88 (55,7%) 4 (2,5%) - - 4.39

10 Satpol PP yang Mempunyai Disiplin Ilmu yang khusus akan mampu melaksanakan tugas pokok secara berkualitas

93 (58,9%) 65 (41,1%) - - - 4.59 Jumlah 84,3 (80,12% ) 72 (45,56%) 5 (3,1%) - - 4,52 TOTAL 679 (42,97% ) 887 (56,14%) 14 (0,89%) - - 4.42 Sumber: Dianalisis dari Data Primer (Jumlah sampel menurut indikator adalah 10 x 158 =

1580. Proporsi dari jumlah dihitung dengan membagi total frekuensi dengan 4,42).

Dari Tabel 6 variabel yang dikembangkan dalam penelitian. Pada hasil analisis, dari 3 indikator masing-masing dipresentasikan yaitu indikator jenjang pendidikan sebanyak 39,86% yang sangat setuju, 59,36% yang setuju, 3,70% yang kurang setuju dengan rata-rata sebesar 4,39. Selanjutnya, berdasarkan 3 indikator tersebut maka dibagi dalam beberapa pernyataan dalam setiap indikatornya. Persentase yang paling banyak setuju dengan pernyataan yaitu motivasi Satpol PP untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sangat besar (62,0%) atau sebanyak 98 orang Satpol PP, 59 (37,3%) yang setuju dengan pernyataan tersebut dan 1 (0,6%) yang kurang setuju, selanjutnya pada indikator dituntut untuk mampu menggunakan ilmu yang dimiliki tepat pada tempatnya, waktunya serta sasarannya yaitu sebesar 94 (59,5%) yang menjawab sangat setuju, setuju sebanyak 63 orang (39,9%) dan kurang setuju sebanyak 1 orang (0,6%), kemudian indikator tertinggi ketiga,

yaitu mempunyai Disiplin Ilmu yang khusus akan mampu melaksanakan tugas pokok secara berkualitas sebanyak 93 orang (58,9%) yang setuju sekali, kemudian 65 orang (41,1%) yang setuju dengan pertanyaan yang diberikan.

Jika ditanyakan Satpol PP mempunyai ilmu/pengetahuan yg pernah didalami dan merupakan keahlian utama sifatnya lebih detail bukan secara umum. sebanyak 66 orang (41,8%) yang setuju sekali, 88 orang (55,7%) yang setuju dan 4 orang (2,5%) yang kurang setuju. Pendidikan merupakan suatu mekanisme dalam mengembangkan keahlian dan pengetahuan manusia sebanyak 65 orang (41,0%) yang setuju sekali, 91 orang (57,6%) yang setuju dengan hal tersebut, namun 2 orang (1,3%) yang kurang setuju. Satpol PP belum merasa puas dengan jenjang pendidikan terakhir yang Satpol PP tamati sebanyak 65 orang (41,1%) yang setuju 89 orang (56,3%) yang kurang setuju 4 orang (2,5%).

Tingkat pendidikan yang dimiliki Satpol PP sangat sesuai dengan pekerjaan Satpol PP saat ini, mereka menjawab setuju sekali sebanyak 60 orang (38,0%), setuju sebanyak 97 orang (61,4%) dan 1 orang (0,6%) kurang setuju. Latar belakang pendidikan mampu mengembangkan potensi SDM Satpol PP sebanyak 46 orang (29,1%) yang setuju sekali, 111 orang (73,1%) yang setuju, dan 1 orang (0,6%) yang kurang setuju.

Pada dasarnya Satpol PP Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa setuju pelaksanaan tugas dikaitkan dengan Jenjang pendidikan mampu meningkatkan prestasi kerja yakni sebanyak 51 orang (32,3%) yang setuju sekali sementara yang setuju saja sebanyak 107 orang (67,7%). Indikator yang paling persentase yang setuju sekali dengan pertanyaan/pernyataan yang diberikan oleh peneliti yaitu tentang Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan

berdasarkan tingkat pengembangan sebanyak 41 orang (25,9%), dan 117 orang (74,1%) yang setuju dengan hal tersebut.

Memperhatikan distribusi frekuensi setiap indikator pendidikan (X1) pada Tabel 6 terlihat bahwa indikator yang memiliki rata-rata paling tinggi adalah indikator keempat sebesar 4,61. Indikator yang dimaksud ialah pernyataan/pertanyaan tentang motivasi Satpol PP untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Rata-rata indikator yang paling kecil adalah 4,26 yakni indikator kedua. Rata-rata indikator secara keseluruhan adalah 4.42 dengan jumlah dari keseluruhan sampel (Satpol) yang menjawab sangat setuju sebanyak 43,0%, setuju sebanyak 56,1% dan kurang setuju sebanyak 0,9% responden. Ini berarti, dimasa yang akan datang, dalam usaha meningkatkan usaha prestasi kerja Satpol PP, manajemen harus mampu memotivasi anggota dengan alokasi tugas dan fungsi yang diamanahkan.

8. Kemampuan (X2)

Kemampuan merupakan bawaan kesanggupan sejak lahir atau merupakan hasil dari latihan yang digunakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan fisik dan kemampuan intelektual. Kemampuan didalam diri Satpol PP menyebabkan pengambilan keputusan dan bertindak secara cepat. Variabel Kemampuan diukur melalui kuesioner menunjukkan bahwa responden memberikan tanggapan jawaban terhadap pertanyaan – pertanyaan mengenai kemampuan yang dimiliki oleh responden. Indikator kemampuan yaitu sebagai berikut. Kemampuan mengemukakan pendapat, b). Kemampuan membuat Keputusan, c). Kemampuan menyusun skala Prioritas, d). melaksanakan pekerjaan dengan baik dan benar.

Berdasarkan hasil penelitian melalui kuesioner pada variabel kemampuan berdasarkan kemampuan (X2) mengemukakan pendapat disajikan pada Tabel 7 sebagai berikut:

Tabel 7

Distribusi Frekuensi Untuk Variabel Kemampuan

No

Indikator

Distribusi Tanggapan Responden Rata- rata

SS S KS TS STS

A. Kemamp

uan Mengemukan Pendapat

1

Apakah kemampuan mengemukakan

pendapat mampu melahirkan Konsep baru

75 (47,5%)

83

(52,5%) - - - 4.47

2

Kemampuan mengemukakan pendapat

sebagai potensi penggerak organisasi Satpol PP 65 (41,1%) 83 (52,5%) 10 (6,3%) - - 4.35 3

Kemampuan mengemukakan pendapat

mengcerminkan kecerdasan Satpol PP

48 (30,4%) 110 (69,6%) - - - 4.30 Jumlah 188 (39,7%) 276 (58,2%) 10 (6,3%) - - 4,37

B. Kemampuan Membuat Keputusan

4

Kemampuan membuat keputusan adalah suatu proses memilih antara berbagai macam cara untuk melaksanakan pekerjaan 53 (33,5%) 105 (66,5%) - - - 4.34 5

Kemampuan membuat keputusan adalah kecakapan dalam bertindak

45 (28,5%)

113

(71,5%) - - - 4.28

6

Satpol PP dalam membuat keputusan perlu memperhatikan dampak sebagai akibat dari keputusan tersebut

65 (41,1%) 91 (57,6%) 2 (1,3%) - - 4.40 Jumlah 163 (34,4%) 309 (62,5%) 2 (1,3%) - - 4,34

C. Kemampuan Menyusun Skala Prioritas

7

Mampukah bapak menyusun skala prioritas

dalam melaksanakan tupoksi Satpol 97

(61,4%)

61

(38,6%) - - - 4.61

8 Apakah bapak mampu mengatur prioritas kerja sebagai salah satu jenis keterampilan yang harus dimiliki oleh pekerja professional 67 (42,4%) 89 (56,3%) 2 (1,3%) - - 4.41 Jumlah 164 150 2 - - 4,51

(51,9%) (47,45%) (1,3%)

D. Melaksa

nakan Pekerjaan dengan Baik dan Benar

9

Kemampuan yang dimiliki Satpol PP mampu mengurangi tingkat kesalahan atau kekeliruan kedinasan Satpol PP

98 (62,0%)

60

(38,0%) - - - 4.62

10

Melaksanakan pekerjaan dengan baik dan benar dapat terlihat dari kurangnya kesalahan yang dikerjakan Satpol PP

120 (75,9%) 30 (19,0%) 8 (5.1%) - - 4.72 Jumlah 218 (68,9%) 90 (28,5%) 8 (5,1%) - - 4,67 Total 733 (46,4%) 825 (52,2%) 22 (1,4%) - - 4.45

Sumber: Dianalisis dari Data Primer (Jumlah sampel menurut indikator adalah 10 x 158 = 1580. Proporsi dari jumlah dihitung dengan membagi total frekuensi dengan 4,45).

Berdasarkan Tabel 7 di atas, variabel kemampuan memiliki 4 indikator yaitu persentase kemampuan mengemukan pendapat yang sangat setuju sebanyak 39,7%, setuju sebesar 58,2% dan kurang setuju 6,3% dengan rata- rata 4,37. Persentase kemampuan membuat keputusan yang sangat setuju sebanyak 34,4% dengan rata-rata 4,34, 62,5% yang setuju, dan 1,3% yang kurang setuju. Kemampuan menyusun skala prioritas sebanyak 51,9% yang sangat setuju, 47,45% yang setuju, 1,3% yang kurang setuju dengan rata-rata 4,51. Melaksanakan pekerjaan dengan baik dan benar sebanyak 68,9% yang sangat setuju, 28,5% yang setuju, 5,1% yang kurang setuju dengan rata-rata 4,67. Indikator tersebut diuraikan dalam beberapa pernyataan yakni persentase yang paling banyak sangat setuju yaitu Satpol PP melaksanakan pekerjaan baik dan benar terlihat dari kurangnya kesalahan sebanyak 120 orang (75,9%) yang sangat setuju, 30 orang (19,0%) yang setuju, dan 8 orang (5,1%) yang kurang setuju dengan rata-rata 4,72. Indikator kemampuan yang dimiliki Satpol PP mampu mengurangi tingkat kesalahan atau kekeliruan kedinasan sebanyak 98

orang (62,0%) yang sangat setuju, 60 orang (38,0%) yang setuju dengan rata- rata 4,62. Selanjutnya Satpol PP mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsi dengan penuh tanggung jawab sebanyak 97 orang (61,4%) yang sangat setuju, 61 orang (38,6%) yang setuju dengan rata-rata 4,61.

kemampuan mengemukakan pendapat mampu melahirkan Konsep baru sebanyak 75 orang (47,5%) yang sangat setuju, 83 orang (52,5%) yang setuju dengan rata-rata 4,47. Selanjutnya Satpol PP dituntut untuk mampu mengatur prioritas kerja sebagai salah satu jenis keterampilan yang harus dimiliki oleh pekerja profesional sebanyak 67 orang (42,4%) yang sangat setuju, 89 orang (56,3%) yang setuju, dan 2 orang (1,3%) yang kurang setuju dengan rata-rata 4,41.

Kemampuan mengemukakan pendapat sebagai potensi penggerak organisasi Satpol PP sebanyak 65 (41,1%) yang sangat setuju, 83 orang (52,5%) yang setuju dan 10 orang (6,3%) yang kurang setuju dengan rata-rata 4,35. sebanyak 65 orang (41,4%) yang sangat setuju, 91 orang (57,6%) yang setuju, dan 2 orang (1,3%) yang kurang setuju dengan rata-rata 4,40.

Pada penelitian ini, persentase Kemampuan membuat keputusan adalah kecakapan dalam bertindak sebanyak 45 orang (28,5%) yang sangat setuju, 113 orang (71,5%) yang setuju dengan rata-rata 4,28.

Memperhatikan distribusi frekuensi setiap indikator kemampuan (X2) pada Tabel 7 terlihat bahwa indikator yang memiliki rata-rata paling tinggi adalah indikator kesepuluh yaitu 4,72. Indikator yang dimaksud ialah pernyataan/pertanyaan tentang Melaksanakan pekerjaan dengan baik dan benar dapat terlihat dari kurangnya kesalahan yang dikerjakan Satpol PP. Dengan demikian, indikator ke-10 yang membentuk variabe X2 dan rata-rata indikator

yang paling kecil adalah 4,28 yakni indikator kelima tentang Kemampuan membuat keputusan adalah kecakapan dalam bertindak. Rata-rata indikator secara keseluruhan adalah 4,45 dengan jumlah dari keseluruhan sampel (Satpol) yang menjawab sangat setuju sebanyak 46,4%, setuju sebanyak 52,2% dan kurang setuju sebanyak 1,4% responden. Dengan demikian yang dimaksud tentang pengaruh kemampuan terhadap prestasi kerja Satpol PP pada Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa adalah Satpol PP melaksanakan pekerjaan dengan baik dan benar dengan tingkat kesalahan yang rendah.

9. Pengalaman (X3)

Pengalaman adalah lamanya seorang pegawai ( Satpol PP ) dalam suatu unit kerja menurut Siagian dalam Ponulele (2001:39) pengalaman secara implisit berarti pertumbuhan kapasitas kerja dalam arti kemampuan seperti frekwensi pendapatan tugas diluar bidang tugas yang diemban, pengalaman melalui mutasi yang dialami, melalui promosi jabatan, kerja seseorang telah lama. Pengalaman Kerja Satpol PP dapat memengaruhi kegiatan Satpol PP dalam melaksanakan tugas dan melahirkan prestasi kerja.

Berdasarkan hasil penelitian melalui kuesioner yang telah diproses melalui tabulasi data menunjukkan bahwa Pengalaman Kerja yang telah dilalui oleh Satpol PP khususnya yang bertugas di satuan Polisi Pamong Praja Pendidikan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa, juga memiliki variasi. Melalui hasil tabulasi data lapangan tersebut dengan menggunakan sampel penelitian sebanyak 158 orang anggota dapat ditunjukkan secara deskriptif dalam Tabel 8 sebagai berikut :

Tabel 8

N

o Indikator

Distribusi Tanggapan Responden Rata- rat a

SS S KS TS STS

Masal Kerja

1

Rasa Percaya diri semakin tinggi karena kemampuan dari pengalaman/masa kerja semakin berkembang 120 (75,9%) 35 (22,2%) 3 (1,9%) - - 4.74 2

Sikap dalam berinteraksi semakin baik melalui masa kerja yang lama

64 (40,5%)

94

(59,5%) - - - 4.41

3

Selama saya menjadi Satpol PP pengetahuan saya terhadap semua tugas yang saya hadapi semakin matang

92 (58,2%) 55 (34,8%) 11 (7,0%) - - 4.51 4

Masa kerja Kerja menjadikan Satpol PP semakin mampu mengunakan waktu dengan efisien 44 (27,8%) 114 (72,2%) - - - 4.28 5

Masa kerja Kerja Menjadikan pekerjaan semakin hari semakin baik 66 (41,8%) 89 (56,3%) 3 (1,9%) - - 4.40 6

Dengan Masa Kerja yang Lama Satpol PP mampu meningkatkan kompetensi professional 97 (61,4%) 60 (38,0%) 1 (0,6%) - - 4.61 7

Pengalaman mampu mengubah seseorang menjadi lebih berwawasan 66 (41,8%) 89 (56,3%) 3 (1,9%) - - 4.40 8

Pengalaman mampu mengubah Satpol PP lebih kreatif

97 (61,8%) 60 (38,0%) 1 (0,6%) - - 4.61 9

Kedisiplinan jauh lebih tinggi melalui masa yang cukup lama

97 (61,4%)

61

(38,6%) - - - 4.61

10

Senioritas Satpol PP mampu mengajarkan dan memberikan contoh yang

136 (86,1%) 22 (13,9%) 8 (5.1%) - - 4.86

Positif kepada Juniornya Total 879 (55,6%) 679 (43,0%) 22 (1,4%) - - 4.54 Sumber: Dianalisis dari Data Primer (Jumlah sampel menurut indikator adalah 10 x 158 =

1580. Proporsi dari jumlah dihitung dengan membagi total frekuensi dengan 4,45).

Berdasarkan Tabel 8 di atas, persentase indikator variabel kemampuan yang paling banyak sangat setuju yaitu Senioritas Satpol PP mampu mengajarkan dan memberikan contoh yang positif kepada Juniornya sebanyak 136 orang (86,1%) yang sangat setuju, 22 orang (13,9%) yang setuju, dan 8 orang (5,1%) yang kurang setuju dengan rata-rata 4,86. Selanjutnya pernyataan tentang rasa percaya diri semakin tinggi karena kemampuan dari pengalaman semakin berkembang sebanyak 120 orang (75,9%) yang sangat setuju, 35 orang (22,2%) yang setuju, dan 3 orang (1,9%) yang kurang setuju dengan rata- rata 4,74,

Masa kerja Kerja menjadikan Satpol PP semakin mampu mengunakan waktu dengan efisien sebanyak 92 orang (58,2%) yang sangat setuju, 55 orang (34,8%) yang setuju, 11 orang (7,0%) yang kurang setuju dengan rata – rata 4,51. Selanjutnya Kedisiplinan jauh lebih tinggi melalui masa kerja yang cukup lama sebanyak 97 orang (61,4%) yang sangat setuju, 61 orang (38,6%) yang setuju dengan rata – rata 4,61.

Dengan Masa Kerja yang Lama Satpol PP mampu meningkatkan kompetensi profesional sebanyak 97 orang (61,4%) yang sangat setuju, 60 orang (38,0%) yang setuju, 1 orang (0,6) yang kurang setuju dan Pengalaman mampu mengubah seseorang menjadi lebih berwawasan sebanyak 97 orang (61,8%) yang sangat setuju, 89 orang (56,3%) yang setuju, dan 3 orang (1,9%) yang kurang setuju dengan rata-rata 4,40.

Sikap dalam berinteraksi semakin baik melalui masa kerja yang lama sebanyak 64 orang (40,5%), 94 orang (59,5%) yang setuju dengan rata-rata 4,41, selanjutnya Pengalaman mampu mengubah seseorang menjadi lebih berwawasan sebanyak 66 orang (41,8%) yang sangat setuju, 89 orang (56,3%) yang setuju dan 3 orang (1,9%) dengan rata-rata 4,40.

Masa kerja Menjadikan pekerjaan semakin hari semakin baik merupakan persentase sangat setuju yang paling kecil sebanyak 44 orang (27,8%) dan 114 orang (72,2%) dengan rata-rata 4,28.

Memperhatikan distribusi frekuensi setiap pernyataan/ pertanyaan mengenai pengalaman (X3) pada Tabel 8 terlihat bahwa indikator yang memiliki rata-rata paling tinggi adalah indikator kesepuluh yaitu 4,86. Indikator yang dimaksud ialah pernyataan/pertanyaan tentang Senioritas Satpol PP mampu mengajarkan dan memberikan contoh yang Positif kepada Juniornya. Dengan demikian, indikator yang paling dominan kontribusinya dalam pembentukan variabel X3 ialah indikator ke-10 dan rata-rata yang paling kecil adalah 4,28 yaitu tentang pengalaman kerja menjadikan Satpol PP semakin mampu mengunakan waktu dengan efisien. Rata-rata indikator secara keseluruhan adalah 4,54 dengan jumlah dari keseluruhan sampel (Satpol) yang menjawab sangat setuju sebanyak 55,6%, setuju sebanyak 43,0% dan kurang setuju sebanyak 1,4% responden. Dengan demikian pengalaman adalah hal yang pernah dilalui sehingga tanggung jawab untuk memberikan contoh/tauladan penting untuk diterapkan.

10. Keahlian (X4)

Tabel 9

N

o Indikator

Distribusi Tanggapan Responden Rata- rat a

SS S KS TS STS

A. Terampil

1

Satpol PP dituntut untuk terampil dalam melaksanakan tugas dan fungsinya 45 (28,5%) 61 (38,6%) 50 (31,6%) 2 (1,3%) - 3,94 2

Terampil adalah kecakapan dalam

menyelesaikan tugas 34 (21,5%) 104 (65,8%) 11 (7,0%) 9 (5,7%) - 4,03 3

Melalui Keahlian satpol PP mampu menjaga wewenang yang telah diembangnya 53 (33,5%) 96 (60,8%) 9 (5,7%) - - 4,28 4 Keterampilan mampu mengarahkan Satpol PP melaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

98 (62,0%) 59 (37,3%) 1 (0,6%) - - 4,61 Jumlah 198 (36,4%) 320 (50,6%) 71 (11,2%) 11 (7%) - 4,22 B. Handal 5

Satpol PP yang handal membuat hasil kerja jauh lebih baik dari teman sesama satpol PP

49 (31,0%) 94 (59,5%) 15 (9,5%) - - 4,22 6

Satpol PP yang handal mampu menghasilkan prestasi kerja jauh

lebih bagus dari yang seharusnya 65 (41,1%) 90 (57,0%) 3 (1,9%) - - 4,39 7

Keahlian melahirkan kecepatan dalam melangkah dan bertindak lebih baik dari yang seharusnya 97 (61,4%) 61 (38,6%) - - - 4,61 Jumlah 211 (44,5%) 245 (51,7%) 18 (3,8%) - - 4,40 C. C akap 8

Satpol PP yang mempunyai kecakapan akan melahirkan hasil kerja yang baik

65 (41,1%) 90 (57,0%) 3 (1,9%) - - 4,39 9

Kemampuan kecakapan Satpol PP mampu memotivasi Satpol PP yang lain dalam menyelesaikan tugas yang diberikan pimpinan

97 (61,4%)

61

(38,6%) - - - 4,61

10

Keahlian kecakapan yang dimiliki oleh Satpol PP dapat mendukung inovasi pengambilan keputusan 96 (60,8%) 62 (39,2%) - - - 4,61 Jumlah 258 213 3 - - 4,53

(54,4%) (44,9%) (1,9%) Total 699 (44,2%) 790 (50,0%) 91 (5,8%) - - 4.37 Sumber: Dianalisis dari Data Primer (Jumlah sampel menurut indikator adalah 10 x 158 =

1580. Proporsi dari jumlah dihitung dengan membagi total frekuensi dengan 4,37).

Keahlian adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang sifatnya spesifik, fokus namun dinamis, contoh keahlian Karyawan ( Satpol PP ) harus memiliki keahlian yang di perlukan dalam tugasnya, keahlian ini meliputi: perencanaan program kerja, melaksanakan program kerja dan laporan program kerja ( Pratomo, 2002 ). Indikator keahlian yaitu sebagai berikut a). terampil, b). handal dan c). cakap. Berdasarkan hasil penelitian melalui kuesioner pada variabel keahlian (X4) berdasarkan keterampilan anggota Satpol PP

Berdasarkan Tabel 9 di atas, variabel keahlian terdiri atas 3 indikator yaitu terampil sebanyak 36,4% yang sangat setuju, 50,6% yang setuju, dan 11,2% yang kurang setuju, 7% yang tidak setuju dengan rata-rata 4,22. Satpol yang memiliki kehandalan sebanyak 44,5% yang sangat setuju, 51,7% yang setuju, dan 3,8% yang kurang setuju dengan rata-rata 4,40. Satpol PP yang memiliki kecakapan sebanyak 54,5% yang sangat setuju, 44,9% yang setuju, 1,9% yang kurang setuju dengan rata-rata 4,53. Persentase pernyataan dari variabel kemampuan yang paling banyak sangat setuju yaitu Keterampilan mampu mengarahkan Satpol PP melaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebanyak 98 orang (62,0%) yang sangat setuju, 59 orang (37,3%) yang setuju, dan 1 orang (0,6%) yang kurang setuju dengan rata-rata 4,61. Satpol PP yang handal mampu melahirkan kecepatan dalam bertindak lebih baik dari yang seharusnya Sebanyak 97 orang (61,4%) yang menanggapi sangat setuju, 61 orang (38,6%) yang setuju dengan rata-rata 4,61. Selanjutnya Kemampuan

kecakapan Satpol PP mampu memotivasi Satpol PP yang lain dalam menyelesaikan tugas yang diberikan pimpinan sebanyak 97 orang (61,4%) yang menanggapi sangat setuju, 61 orang (38,6%) yang menanggapi setuju dengan rata-rata 4,61.

Pernyataan tentang Satpol PP yang handal mampu menghasilkan prestasi kerja jauh lebih bagus dari yang seharusnya, 65 orang (41,1%) yang menanggapi sangat setuju, 90 orang (57%) yang menanggapi setuju, dan 3 orang (1,9%) yang menanggapi kurang setuju dengan rata-rata 4,39, dan Keahlian Satpol PP mampu menjaga wewenang yang telah diembangnya yang ditanggapi sebanyak 53 orang (33,5%), 96 orang (60,8) dan 9 orang (5,7%) yang menanggapi kurang setuju dengan rata-rata 4,28, Satpol PP dituntut untuk terampil dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebanyak 45 orang (28,5%) yang menanggapi setuju sekali, 61 orang (38,6%) yang menanggapi setuju dan 50 orang (31,6%) yang menanggapi kurang setuju dan 2 orang (1,3%) yang menanggapi tidak setuju dengan rata-rata 3,94.

Terampil adalah kecakapan dalam menyelesaikan tugas sebanyak 34 orang (21,5%) sangat setuju, 104 orang (65,8%) setuju, 11 orang (7,0%) kurang setuju dan 9 orang (5,7%) tidan setuju, dengan rata-rata 4,03, Satpol PP yang mempunyai kecakapan akan melahirkan hasil kerja yang baik sebanyak 65 orang (41,1%) sangat setuju, 90 orang (57,0%) setuju 3 orang (1,9%) kurang setuju dengan rata-rata 4,39, Keahlian kecakapan yang dimiliki oleh Satpol PP dapat mendukung inovasi pengambilan keputusan sebanyak 96 orang (60,8%) sangat setuju, 62 orang (39,2%) setuju dengan rata-rata 4,61.

Memperhatikan distribusi frekuensi setiap pernyataan/ pertanyaan mengenai keahlian (X4) pada Tabel 9 terlihat bahwa indikator yang memiliki rata-rata paling tinggi dengan rata-rata 4,61 dan rata-rata yang paling kecil adalah 3,94. Rata-rata indikator secara keseluruhan adalah 4,37 dengan jumlah

dari keseluruhan sampel (Satpol) yang menanggapi sangat setuju sebanyak 44,2%, setuju sebanyak 50,0% dan kurang setuju sebanyak 5,8% responden.

11. Prestasi Kerja

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data untuk variabel Prestasi Kerja menunjukkan adanya peningkatan prestasi kerja yang diperlihatkan oleh Satpol PP Pendidikan Kabupaten Gowa terutama dalam pelaksanaan tugas – tugas pokok dan fungsi khususnya seperti Mampu memelihara ketentraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah, Mampu menjaga dari segala bentuk gangguan fisik dan psikis, Mampu Mengawasi anak bolos, menjemput antar guru dan mengatur lalu lintas kepulangan anak-anak sekolah, Mampu membuka akses pengaduan bagi masyarakat yang ingin melaporkan daerah yang kerap dijadikan tempat membolos siswa.. peningkatan Prestasi Kerja Satpol PP dapat di tunjukkan melalui beberapa indikator yang mendukung yaitu adanya Kemampuan kerja yang tinggi dan kemampuan dalam pengambilan keputusan.

Tabel 10

Distribusi Frekuensi Untuk Variabel Prestasi Kerja

No. Indikator

Frekuensi Tanggapan Responden Rata- rat a

SS S KS TS STS

A. Mampu

Memelihara Ketentraman dan Ketertiban Umum Serta Menegakkan Peraturan Daerah

1 Satpol PP mampu Memelihara ketentraman 132

(83,54%)

26

(16,46%) - - - 4,84

2 Satpol PP mampu menjaga ketertiban 102

(64,56%)

56

(35,44%) - - - 4,65

3 Satpol PP mampu menegakkan peraturan daerah 133 (84,18%) 21 (13,29%) 4 (2,53%) - - 4,82 Jumlah 367 (77,42%) 103 (21,73%) 4 (2,53%) - - 4,77 B. Mampu

Menjaga Dari Segala Bentuk Gangguan Fisik dan Psikis

4 Mampu menjaga dari segala bentuk gangguan fisik 118 (74.68%) 33 (20.89%) 7 (4.43%) - - 4,70

5 Mampu menjaga dari segala bentuk gangguan

Psikis - 128 (81.01%) 30 18.99% - - 4,81 Jumlah 118 (37,34%) 161 (50,95%) 37 (11,71%) - - 4,75 C. Mampu Mengawasi Anak Bolos, Menjemput antar

guru dan Mengantur Lalu Lintas Kepulangan Anak- anak Sekolah

6 Satpol PP mampu mengawasi anak bolos 47

(29.75%)

84 (53.16%)

27

(17.09% - - 4,13

7 Satpol PP mampu menjemput antar guru 34

(21.52%) 105 (66.46%) 10 (6.33%) 9 (5.70%) - 4,04

8 Satpol PP mampu mengatur lalu lintas kepulangan anak-anak sekolah

53 (33.54%) 96 (60.76%) 9 (5.70%) - - 4,28 Jumlah 134 (28,27%) 285 (60,12%) 46 (9,70%) 9 (5,70%) - 4,15 D. Mampu

Membuka Akses Pengaduan Bagi Masyarakat yang Ingin Melaporkan Daerah yang Kerap dijadikan Tempat Membolos Siswa

9

Mampu membuka akses pengaduan bagi masyarakat yang ingin melaporkan daerah yang kerap dijadikan tempat membolos siswa 99 (62.66%) 59 (37.34%) - - - 4,63 E. Mampu

Menempatkan Masyarakat dan Guru Sebagai Mitra Satpol PP Untuk Terwujudnya PERDA Kab. Gowa

10

Mampu menempatkan masyarakat dan guru sebagai mitra satpol PP untuk terwujudnya perda Kab.Gowa. 102 (64.56%) 56 (35.44%) - - - 4,65 F. Mampu

Melaksanakan Kebijakan Satpol PP

11

Satpol PP mampu melaksanakan kebijakan dalam memberikan perlindungan terhadap masyarakat sekolah 113 71.52% 33 20.89% 12 7.59% - - 4,64 12

Satpol PP mampu melaksanakan kebijakan mengayomi, lingkungan sekolah

117 74.05%

41

25.95% - - - 4,74

13

Satpol PP mampu melaksanakan kebijakan

dapat memberikan pengamanan 104 (65.82%) 44 (27.85%) 10 (6.33%) - - 4,59 14

Kebijakan Satpol PP mampu memberikan kotribusi yang lebih baik

102 (64.56%) 56 (35.44%) - - - 4,65 Jumlah 436 (68,99%) 174 (27,53%) 22 (6,96%) - - 4,66 Total 1258 (56,78%) 836 (37,79%) 109 (4,92%) 9 (0,41%) 4,28

Sumber: Dianalisis dari Data Primer (Jumlah sampel menurut indikator adalah 10 x 158 =

Dokumen terkait