• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

F. DeskripsiFokusPenelitian

1. Strength (Kekuatan) adalah kondisi internal pemerintah daerah Luwu Timuryang mendukung tercapainya tujuan dalam mewujudkan pengendalian kebakaran hutan lindung.

2. Weakness (Kelemahan) adalah kondisi internal pemerintah daerah Luwu Timur yang dapat menghambat tercapainya tujuan.

3. Oppurtunity (Peluang) adalah kondisi eksternal pemerintah daerah Luwu Timur yang mendukung tercapainya tujuan.

4. Threat (Ancaman) merupakan faktor-faktor di luar lingkungan yang dapat menjadikan kendala terhadap upaya pencapaian tujuan pemerintah daerah Luwu Timur

5. Kebakaran hutan lindung yang terjadi di Kabupaten Luwu Timur yang disebabkan oleh faktor alam yakni disebabkan oleh cuaca seperti angin, suhu, curah hujan, keadaan air dan kelembapan relatif serta musim kemarau.

6. Kebakaran hutan lindung yang terjadi di Kabupaten Luwu Timur yang disebabkan oleh faktor manusia yakni banyaknya oknum yang membuka lahan baru dengan cara membakar.

7. Dengan diketahuinya faktor penyebab kebakaran hutan dan adanya strategi pemerintah daerah ini dapat mengurasi tingkat kebakaran hutan lindung dan dapat menjaga kelestarian hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakansejak tanggal 27 Juni sampai 18 Agustus 2016.

Adapun yang menjadi lokasi penelitian ini adalah di Dinas Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Timur. Alasan pemilihan lokasi ini berdasarkan pada keinginan penulis untuk mengetahui dan melihat sejauh mana Strategi Pemerintah Daerah Dalam Pengendalian Kebakaran Hutan Lindung serta faktor-faktor penyebab kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur.

B. Jenis Dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif yaitu data dalam bentuk kata, kalimat dan gambar atau untuk memberikan gambaran secara jelas mengenai masalah-masalah yang diteliti dan menjelaskan data yang ada secara sistematis.

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif yang berkaitan dengan objek penelitian tentang bagaimana membuat, menggambarkan, meringkas berbagai kondisi dan situasi yang timbul di lapangan. Dengan menetapkan fokus pada masalah Strategi Pemerintah Daerah dalam Pengendalian Kebakaran Hutan Lindung di Kabupaten Luwu Timur.

C.

Sumber Data 1. Data Primer

Data ini adalah datayang diperoleh secara langsung dari sumbernya yaitu para informan yang menjadi objek penelitian peneliti. Dengan memakai teknik pengumpulan data berupa in-depth interview (wawancara mendalam), Peneliti melakukan wawancara langsung untuk mendapatkan hasil atau data yang valid dari informan secara langsung agar dalam menggambarkan hasil penelitian lebih mudah. Selain melakukan wawancara peneliti juga melakukan observasi dan pengamatan mengenai Strategi Pemerintah Daerah dalam Pengendalian Kebakaran Hutan Lindung.

2. Data sekunder

Data ini adalah data pendukung bagi data primer yang dikumpulkan peneliti yang sumbernya dari data-data sebelumnya menjadi seperangkat informasi dalam bentuk dokumen, laporan-laporan, dan informasi tertulis lainnya yang berkaitan dengan ojek penelitian.

D. Informan Penelitian

37

Informan penelitian diambil dari instansi pemerintah dalam hal ini dari Dinas Kehutanan dan beberapa badan-badan yang terkait di Kabupaten Luwu Timur. Dengan menggunakan teknik prosedur yaitu dengan cara pemilihan secara purposive, informan dipilih berdasarkan pada tujuan penelitian dan pertimbangan

tertentu yang berpotensi berpartisipasi atau berkontribusi dan mempelajari atau memberi informasi kepada peneliti terhadap pengendalian kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur.

Adapun yang dijadikan informan pada penelitian ini, adalah sebagai berikut:

Tabel 1 Daftar Informan Penelitian

No Nama Informan Inisial Jabatan Jumlah

1 Drs. Andi Makkaraka,

M.Si AM Kepala Pelaksana BPBD 1

2 Hj. Risna Erawati,

S.Hut.MM RE Kepala Bidang Rehabilitasi dan

Perlindungan Hutan 1

3 Mandar, S.Sos. M.M MD Kepala Kantor Pengelolaan

Hutan Lindung 1

4 Syarifuddin Mustafa,

S.Hut SM Kepala Seksi Pengelolaan Hutan

Lindung 1

M.Si HK Kepala Seksi Bidang Peralatan

dan Logistik 1

7 Syakriruddin, S.Hut SR Kepala Kantor Daops Manggala

Agni 1

8 Irwan AR Anggota Pemadam Kebakaran/

Danru I 1

9 Anang Ma’ruf IW Anggota Pemadam Kebakaran/

Danru II 1

10 Syakkir SK Kepala Desa 1

Total Informan 10

E.

TeknikPengumpulan Data

Dalam melakukan pengumpulan data, penulis melakukan pencarian data : 1. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian yaitu pada Kantor Dinas Kehutanan serta badan-badan yang terkait dalam pengendalian pasca kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur.

2. Wawancara

Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dan informasi secara langsung dengan informan dari pihak Dinas Kehutanan dan badan-badan pemerintah yang terkait mengacu pada pedoman wawancara yang telah dipersiapkan.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mengumpulkan dokumen dan data-data yangdiperlukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah secara intens sehingga dapat mendukung, menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian.

F. Teknik Analisa Data

Analisis data adalah langkah selanjutnya untuk mengelolah data dimana data yang diperoleh di kerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menyimpulkan persoalan yang diajukan dalam penyusunan hasil penelitian.

Teknisk analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa interaktif. Menurut Miles dan Huberman dalam (Sugiyono, 2012: 19) mengemukakan bahwa dalam model ini terdapat tiga komponen pokok yaitu sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka penelitian tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.

2. Reduksi Kata

Reduksi data merupakan komponen pertama analisis data yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuat hasil yang tidak penting dan mengatur data sedemikian rupa sehingga simpulan peneliti data dilakukan.

3. Sajian Data

Sajian data merupakan suatu rangkaian informasi yang memungkinkan kesimpulan secara singkat dapat berarti cerita sistematis dan logis makna peristiwanya dapat dipahami.

4. Penarikan Kesimpulan

Dalam awal pengumpulan data, peneliti sudah harus mengerti apa arti dari hal-hal yang ditemui dengan mencatat peraturan-peraturan sebab akibat dan berbagai proporsi sehingga penarikan simpulan dapat dipertanggung jawabkan.

G. Pengabsahan Data

Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari kesahihan (validasi) dan keterandalan (kredibilitas). Penelitian merupakan kerja ilmiah, untuk melakukan ini maka mutlak dituntut secara objektivitas, untuk memenuhi kriteria ini dalam penelitian maka kesahihan (validasi) dan keterandalan (kredibilitas) harus di penuhi (Iskandar, 2009:151). Adapun teknik penjamin keabsahan data yang digunakan oleh peneliti, yaitu triangulasi.

Lexi J Moleong (2002:178) berpendapat bahwa “Trianggulasi adalah teknik

pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data itu untuk pengecekan atau sebagai bahan pembanding terhaap data itu”.

Menurut William Wiersma dalam Sugiyono (2012), membedakan tiga macam trianggulasi yaitu:

1. Trianggulasi dengan Sumber

Trianggulasi sumberyaitu menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber suatu informasi. Data yang telah dianalisis oleh peneliti tersebut menghasilkan suatu kesimpulan, selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dari sumber data tersebut.

2. Trianggulasi dengan Teknik

Trianggulasidengan teknik yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber data yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan dokumentasi.

3. Trianggulasi dengan Waktu

Trianggulasi dengan waktu yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, dan pada sore hari saat narasumber sudah merasa jenuh dan dipenuhi oleh banyak masalah. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang hingga ditemukan kepastian datanya.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian

Pada sub bab ini menyajikan gambaran umum lokasi penelitian yang mencakup Administrasi pemerintahan, letak, batas, luas wilayah, demografi, dan potensi sumber daya kehutanan di Kabupaten Luwu Timur yang diuraikan sebagai berikut :

1. Administrasi Pemerintahan

Kabupaten Luwu Timur merupakan Kabupaten baru sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Luwu Utara. Secara definitif Kabupaten luwu Timur terbentuk pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No 7 Tahun 2003 dan diresmikan oleh Menteri dalam Negeri pada tanggal 3 Maret 2003, memberikan gambaran tentang potensi yang dimiliki Kabupaten Luwu Timur terdiri dari 11 Kecamatan, dengan jumlah keseluruhan 124 desa, 3 kelurahan dan 2 UPT.

2. Wilayah

Kabupaten Luwu Timur yang sebagian besar wilayahnya berada pada kawasan Pegunungan Verbeck merupakan daerah yang bertopografi pegunungan. Namun di beberapa tempat merupakan daerah pedataran hingga rawa-rawa dengan ibukotanya Malili. Kedudukannya yang berada pada jalur lintas trans Sulawesi dan wilayah perbatasan seperti ini, sesungguhnya membawa peluang dan tantangan kepada daerah ini menjadi kawasan industry dan perdagangan strategis di masa depan. Posisinya yang berada direlung Teluk Bone, dapat menjadikan Kabupaten Luwu Timur sebagai pusat distribusi dan akomodasi barang dan jasa dengan membuka aksebilitas dan mengembangkan kerjasama fungsional dengan wilayah-wilayah sekitar, terutama dengan daerah-daerah yang memiliki bahan baku dan komoditi ekonomis sumber daya alam yang tersedia pada daerah dan wilayah tersebut.

Kabupaten Luwu Timur memiliki luas wilayah adalah 694.488 ha atau 6.944,88 km² yang posisinya berada direlung Teluk Bone. Dari luas wilayah tersebut tersebar 11 kecamatan yaitu:

Tabel 1. Luas Wilayah Berdasarkan Jumlah Desa/Kelurahan

No Kecamatan Desa/Kelurahan Luas (km²)

1 Burau 14 256,23

2 Wotu 10 130,52

3 Tomoni Timur 12 168,09

4 Tomoni 7 105,91

5 Kalaena 5 41,98

6 Mangkutana 8 1.300,96

7 Angkona 8 147,24

43

8 Malili 13 921,20

9 Nuha 5 808,27

10 Towuti 11 1.820,46

11 Wasuponda 6 1.244,00

Sumber: Kantor Statistik Kabupaten Luwu Timur

Secara geografis Kabupaten Luwu Timur terletak antara 2º 15’00” - 3º Lintang Selatan dan 120º 30’00” sampai 121º 30’00” Bujur Timur, berbatasan dengan:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Poso – Provinsi Sulawesi Tengah

b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Morowali – Provinsi Sulawesi Tengah

c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Bone Kabupaten Kolaka – Provinsi Sulawesi Tenggara

d. Sebelah Barat Berbatasan dengan Kabupaten Luwu Utara – Provinsi Sulawesi Selatan

Luas wilayah Kabupaten Luwu Timur adalah 6.944,88 km² atau sekitar 10.82 % dari luas Provinsi Sulawesi Selatan dan berada diketinggian 0-1.230 m diatas permukaan laut (dpl). Curah hujan berkisar antara 2.800 s/d 3.980 mm/tahun dengan distribusi bulanan yang cukup merata. Dengan demikian dari segi agroklimatologi, Kabupaten Luwu Timur sangat potensial untuk pembangunan berbagai jenis komoditas pertanian.

Keadaan permukaan wilayah di beberapa tempat merupakan daerah pedataran hingga rawa-rawa. Wilayah-wilayah yang bergunung adalah bagian

utara dan barat sedangkan wilayah pedataran adalah bagian selatan dan barat.

Kondisi datar sampai landai terdapat pada semua wilayah kecamatan dengan yang terluas di Kecamatan Angkona, Burau, Wotu, Malili dan Mangkutana.

Sedangkan kondisi bergelombang dan bergunung yang terluas di Kecamatan Nuha, Mangkutana dan Towuti.Hasil analisis kelerengan serta analisis peta topografi menunjukkan bahwa Kabupaten Luwu Timur dapat dibagi menjadi 4 wilayah lereng dan satu danau. Penggolongan tersebut adalah pegunungan, perbukitan, bergelombang dan pedataran. Luas wilayah dengan kemiringan

>40 persen mencapai 459.946,81 Ha (69,20 persen), kemiringan 8-15 persen mencapai 11.846,62 Ha, kemiringan 15-40 persen mencapai 11.446,05 Ha dan danau mencapai luas 74.875,05 Ha dan danau mencapai luas 74.875,50 Ha.

3. Demografi

Penduduk merupakan aset pembangunan bila mereka dapat diberdayakan secara optimal. Mereka juga bisa menjadi beban pembangunan jika pemberdayaannya tidak dibarengi dengan kualitas penduduk (SDM) yang memadai pada wilayah/daerah bersangkutan, demikian pula bagi Kabupaten Luwu Timur. Penduduk merupakan aspek penting dalam berbagai indikator pembangunan karena selain sebagai subjek juga sebagai objek dalammenentukan keberhasilan pembangunan.

Penduduk Kabupaten Luwu Timur berdasarkan data desa tahun 2012 mencapai jumlah 269.734 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 63. 068 rumah tangga. Rata-rata jumlah jiwa setiap rumah tangga sebanyak 4 jiwa.

Kecamatan yang paling banyak jumlah penduduknya adalah kecamatan Malili

sebesar 37.656 jiwa kemudian Kecamatan Burau dengan 34.050 jiwa dan Kecamatan Towuti sebanyak 31.425 jiwa.

4. Potensi Sumber Daya Kehutanan di Kabupaten Luwu Timur

Kabupaten Luwu Timur merupakan salah satu kabupaten dengan luas lahan hutan yang terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan. Luas lahan hutan alam dan hutan bakau mencapai 474.373 Ha atau mencapai 68,30 persen. Hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur memiliki luas kawasan 243,324.68 Ha yang tersebar di 9 (sembilan) Kecamatan dari 11 (sebelas) Kecamatan, yakni : Tabel 2. Data Kawasan Hutan Lindung Kabupaten Luwu Timur

No Kecamatan Jumlah

1 Burau 8,497.48

2 Wotu 3,133.04

3 Tomoni 16,228.24

4 Tomoni Timur 0,00

5 Mangkutana 57,874.04

6 Kalaena 0,00

7 Angkona 3,360.92

8 Malili 15,088.23

9 Wasponda 12,148.28

10 Nuha 32,527.53

11 Towuti 94,446.92

Jumlah 243,324.68

Sumber: Kantor Dinas Kehutanan Kabupaten Luwu Timur

Kawasan lindung di Kabupaten Luwu Timur ditujukan untuk mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup, meningkatkan daya dukung lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem antar wilayah guna mendukung proses

pembangunan berkelanjutan. Serta dari fungsinya, meliputi kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya yakni kawasan hutan lindung.

Penetapan kawasan lindung merupakan perwujudan dari pengembangan struktur ruang wilayah Kabupaten Luwu Timur yang berlandaskan pada prinsip pembangunan berkelanjutan. Setelah kawasan lindung ini ditetapkan sebagai wilayah limitasi atau kendala bagi pengembangan kawasan budidaya, selanjutnya dapat ditentukan kawasan budidaya. Kawasan lindung termasuk kekayaan flora dan fauna atau biota yang ada didarat dan perairan pesisir.Pertimbangan yang digunakan untuk penetapan kawasan lindung di Kabupaten Luwu Timur adalah : 1. Kriteria kawasan lindung menurut Kepres Nomor 32 Tahun 1990 didasarkan

pada klasifikasi kriteria serta urutan prioritas penerapannya.

2. Hasil analisis kesesuaian lahan.

Pemetaan Potensi Ancaman Bencana Kebakaran Kabupaten Luwu Timur

Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) B. Karakteristik Profil Informan

Dalam pembahasan ini penulis akan membahas data-data yang diperoleh dari lokasi penelitian dilapangan yang terdiri dari beberapa pernyataan informan yang dihasilkan setelah melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi yang akan dibahas secara berurutan. Pada bagian pertama penulismembahas mengenai karakteristik atau identitas dari informan yang masing-masing informan antara lain : Dinas Kehutanan Kabuaten Luwu Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabuaten Luwu Timur, Kantor Pengelola Hutan Lindung (KPHL) Kabuaten Luwu Timur, Tim Pemadam Kabuaten Luwu Timur, dan Bapak Kepala Desa. Dilanjutkan penulis akan membahas bagaimana strategi Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kantor Pengelola Hutan Lindung (KPHL) dan Tim Pemadaman dalam pengendalian kebakaran hutan lindung serta apa saja faktor penyebab kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Karakteristik Informan Penelitian di Kabupaten Luwu Timur

No Nama Jenis

L 52. Thn S2 Kepala Pelaksana

BPBD

PNS

2 Andarias Miding, SE L 56. Thn S1 Kepala Bidang

Kedaruratan,

L 50. Thn S2 Kepala Seksi Logistik PNS

4 Irwan L 27. Thn SMA Anggota Pemadam

Kebakaran/ Danru I

Honorer

5 Anang Ma’ruf L 26. Thn SMA Anggota Pemadam

Kebakaran/ Danru II

Honorer

6 Mandar, S.Sos. M.M L 53. Thn S2 Kepala Kantor

L 47. Thn S1 Kepala Seksi

Pengelolaan Hutan Lindung

PNS

8 Syakriruddin, S.Hut L 52. Thn S1

9 Hj. Risna Erawati,

10 Syakkir L 44. Thn SMA Kepala Desa

Sumber: Data Primer Profil Informan Penelitian

C. Strategi Pemerintah Daerah dalam Pengendalian Kebakaran Hutan Lindung di Kabupaten Luwu Timur

Strategi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam hal ini Dinas Kehutanan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) adalah arah dan sasaran pergerakan Dinas Kehutanan dan BPBD dalam mewujudkan pascakebakaran hutan lindung. Maka hasil yang diperoleh dengan menggunakan analisis SWOT adalah sebagai berikut :

1. Kekuatan (Strength – S)

Kekuatan adalah kondisi organisasi yang mendukung tercapainya tujuan organisasi tersebut. Berikut kutipan wawancara dengan informan tentang kekuatan yang dimiliki oleh pemerintah daerah Kabupaten Luwu Timur dalam mewujudkan pengendalian kebakaran hutan lindung:

“Adanya institusi di tingkat Kabupaten seperti Badan Penangguangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kehutanan, dan Kantor Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) yang berperan dalam menjaga dan melestarikan hutan serta juga berperan memberikan pemahaman kepada

masyarakatakan pentingnya menjaga kelestarian hutan.” (Wawancara dengan AM, tanggal 19 Juli 2016)

Hasil wawancara diatas mengungkapkan bahwa dengan adanya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kehutanan, dan Kantor Pengelola Hutan Lindung (KPHL) dapat membangun kerjasama antar instansi dalam penanggulangan kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur.

Kemudian disisi lain instansi dari pemerintah tersebut dapat memberikan dan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan.

Implementasi dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan Becana, Pemerintah Kabupaten melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat meningkatkan pelayaan kepada masyarakat dalam hal penanganan dan penanggulangan bencana yang terjadi di wilayah Kabupaten Luwu Timur terkhusus terhadap bencana kebakaran hutan lindung. Kepala Kantor Manggala Agni Kabupaten Luwu Timur juga menuturkan hal lain mengenai kekuatan yang dimiliki instansinya :

“Walaupun rekan-rekan kerja disini masih ada yang tergolong baru dan belum memiliki banyak pengalaman di bidang penanggulangan kebakaran hutan, saya yakin mereka adalah orang-orang yang cerdas dan terampil, sebab melihat dari semangat kerja mereka selama ini. Mereka hanya perlu diberikan pendidikan dan pelatihan khusus untuk meningkatkan kinerja mereka” (Hasil wawancara dengan SR, pada tanggal 14 Juli 2016)

Kemudian Anggota pemadam kebakaran juga mengungkapkan hal serupa tentang kondisi SDM aparatur di Manggala Agni :

“Memiliki teman-teman kerja seperti di Manggala Agni ini sangat memberikan semangat satu sama lain dalam bekerja dan saling membantu bila ada ada pekerjaan yang bisa diselesaikan bersama.”

(Wawancara AR, tanggal 20 Juli 2016)

Pegawai yang profesional dan berkompeten sangat mempengaruhi kapasitas yang dimiliki suatu organisasi dalam menjalankan kegiatannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Walaupun organisasi memiliki sistem yang baik, informasi yang berharga, dan teknologi yang canggih sekalipun akan menjadi sia-sia jika anggota-anggotan organisasi tidak memiliki skill dan kemampuan untuk memanfaatkan perangkat pendukung yang ada demi meningkatkan kinerja organisasi. Hal yang sama berlaku juga pada organisasi pemerintah seperti BPBD, Manggala Agni, KPHL, dan Dinas Kehutanan Kabupaten Luwu Timur. Skill dan kemampuan anggota organisasi atau pegawai pemerintah biasanya diperoleh dari penddikan formal dan non formal serta pengalaman-pengalaman yang pernah ditempuh oleh seseorang. Namun yang terpenting dari semua itu adalah semangat kerja yang ada pada diri tiap-tiap pegawai. Walaupun, seorang pegawai tidak memiliki latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan profesinya saat ini, jika dia adalah seseorang yang memiliki semangat kerja yang baik, maka tidak sulit baginya untuk meningkatkan skil dan kemampuan di bidang kerja atau profesinya melalui lembaga diklat atau lembaga yang ada.

Hasil penelitian penulis bahwa kekuatan BPBD Kabupaten Luwu Timur dan Dinas terkait dalam melakukan pengendalian pemadaman kebakaran hutan lindung adalah undng-undang dan peraturan pemerintah lainnya yang berkaitan

dengan perlindungan hutan dan pasca kebakaran hutan serta kesiapsiagaan para petugas dan semangat kerja yang sangat baik dari anggota tim pemadaman kebakaran hutan.

2. Kelemahan (Weakness – W)

Selain memiliki kekuatan, sebuah organisasi juga memiliki kelemahan.

Kelemahan ini harus disadari sepenuhnya oleh organisasi untuk bisa di atasi, sebab kelemahan tersebut dapat menjadi penghalang tercapainya tujuan organisasi. Kelemahan adalah terdapat kekurangan pada kondisi organisasi akibatnya kegiatan-kegiatan organisasi belum terlaksana dengan maksimal.

Kepala Pelaksana BPBD mengungkapkan kelemahan yang dimiliki BPBD Kabupaten Luwu Timur dalam upaya pemadaman kebakaran hutan lindung sebagaimana yang dikutip oleh sebagai berikut:

“Salah satu yang menjadi kelemahan dalam pengendalian kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur ini yakni adalah terbatasnya fasilitas pemadaman baik sarana peralatan pemadaman kebakaran maupun prasarana pendukungnya.” (Wawancara dengan SR, pada tanggal 14 Juli 2016)

Hal senada juga dikemukakan oleh IW sebagaimana kutipan berikut:

“Kelemahan kami dalam menghadapi kebakaran hutan yang terjadi karena akses menuju kelokasi kebakaran sulit dijangkau oleh mobil pemadam kebakaran dan lokasi kebakaran juga terpisah-pisah. Adapun pemadaman yang dilakukan hanya pada lahan dan hutan yang mampu dijangkau dengan tenaga dan kemampuan seadanya”. (Wawancara IW, pada tanggal 20 Juli 2016).

Dari kutipan wawancara diatas diketahui bahwa kelemahan pemerintah dalam pengendalian kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur adalah

terbatasnya fasilitas penanggulangan bencana kebakaran hutan baik sarana peralatan pemadaman kebakaran maupun prasarana pendukungnya.

Untuk mewujudkan berbagai upaya tersebut pemerintah sebagai regulator perlu mendorong usaha ekstra dengan memfasilitasi para pihak serta mengajak berbagai komponen daerah baik privat sector, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat untuk kreatif mengembangkan bentuk-bentuk kolaboratif pengelolaan kawasan-kawasan hutan lindung yang telah ditetapkan dalam PERDA tata ruang. Ini juga sekaligus merupakan wujud implementasi perda tata ruang serta lebih berpartisipatif dalam pengendalian kebakaran hutan lindung dalam mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

Kemudian adapun kelemahan lain dalam pengendalian kebakaran hutan ini yakni sebagaimana yang diungkapkan informan sebagai berikut :

“Dalam menjaga hutan sebagai dampak dari kebakaran hutan masih banyak dari sebagian masyarakat yang tidak mengetahui akan pentingnya menjaga kelestarian hutan khususnya terhadap hutan lindung yang memiliki banyak manfaat bagi ekosistem. Hal inilah yang membuat dan mendorong masyarakat dalam melakukan penebangan hutan serta membuka lahan dengan cara membakar” (Wawancara dengan MD, pada tanggal 18 Juli 2016)

Demikian pula penuturan SK selaku Bapak Kepala Desa yang menyatakan bahwa:

“Banyaknya masyarakat yang melakukan penebangan dan membuka lahan dengan cara membakar ini mungkin dikarenakan mereka belum mengetahui dan menyadari sepenuhnya penjelasan mengenai dampak dari kebakaran hutan serta kerusakan lingkungan” (Wawancara dengan SK, tanggal 23 Juli 2016)

Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat ini dapat menimbulkan bencana yang berakibatkan pada kebakaran hutan termasuk terhadap kawasan hutan lindung. Adanya pengetahuan yang lebih masyarakat terhadap pelestarian hutan akan lebih membantu pemerintah dalam

Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat ini dapat menimbulkan bencana yang berakibatkan pada kebakaran hutan termasuk terhadap kawasan hutan lindung. Adanya pengetahuan yang lebih masyarakat terhadap pelestarian hutan akan lebih membantu pemerintah dalam

Dokumen terkait