BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Strategi Pemerintah Daerah dalam Pengendalian Kebakaran
Strategi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam hal ini Dinas Kehutanan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) adalah arah dan sasaran pergerakan Dinas Kehutanan dan BPBD dalam mewujudkan pascakebakaran hutan lindung. Maka hasil yang diperoleh dengan menggunakan analisis SWOT adalah sebagai berikut :
1. Kekuatan (Strength – S)
Kekuatan adalah kondisi organisasi yang mendukung tercapainya tujuan organisasi tersebut. Berikut kutipan wawancara dengan informan tentang kekuatan yang dimiliki oleh pemerintah daerah Kabupaten Luwu Timur dalam mewujudkan pengendalian kebakaran hutan lindung:
“Adanya institusi di tingkat Kabupaten seperti Badan Penangguangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kehutanan, dan Kantor Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) yang berperan dalam menjaga dan melestarikan hutan serta juga berperan memberikan pemahaman kepada
masyarakatakan pentingnya menjaga kelestarian hutan.” (Wawancara dengan AM, tanggal 19 Juli 2016)
Hasil wawancara diatas mengungkapkan bahwa dengan adanya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kehutanan, dan Kantor Pengelola Hutan Lindung (KPHL) dapat membangun kerjasama antar instansi dalam penanggulangan kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur.
Kemudian disisi lain instansi dari pemerintah tersebut dapat memberikan dan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam upaya penanggulangan kebakaran hutan.
Implementasi dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan Becana, Pemerintah Kabupaten melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat meningkatkan pelayaan kepada masyarakat dalam hal penanganan dan penanggulangan bencana yang terjadi di wilayah Kabupaten Luwu Timur terkhusus terhadap bencana kebakaran hutan lindung. Kepala Kantor Manggala Agni Kabupaten Luwu Timur juga menuturkan hal lain mengenai kekuatan yang dimiliki instansinya :
“Walaupun rekan-rekan kerja disini masih ada yang tergolong baru dan belum memiliki banyak pengalaman di bidang penanggulangan kebakaran hutan, saya yakin mereka adalah orang-orang yang cerdas dan terampil, sebab melihat dari semangat kerja mereka selama ini. Mereka hanya perlu diberikan pendidikan dan pelatihan khusus untuk meningkatkan kinerja mereka” (Hasil wawancara dengan SR, pada tanggal 14 Juli 2016)
Kemudian Anggota pemadam kebakaran juga mengungkapkan hal serupa tentang kondisi SDM aparatur di Manggala Agni :
“Memiliki teman-teman kerja seperti di Manggala Agni ini sangat memberikan semangat satu sama lain dalam bekerja dan saling membantu bila ada ada pekerjaan yang bisa diselesaikan bersama.”
(Wawancara AR, tanggal 20 Juli 2016)
Pegawai yang profesional dan berkompeten sangat mempengaruhi kapasitas yang dimiliki suatu organisasi dalam menjalankan kegiatannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Walaupun organisasi memiliki sistem yang baik, informasi yang berharga, dan teknologi yang canggih sekalipun akan menjadi sia-sia jika anggota-anggotan organisasi tidak memiliki skill dan kemampuan untuk memanfaatkan perangkat pendukung yang ada demi meningkatkan kinerja organisasi. Hal yang sama berlaku juga pada organisasi pemerintah seperti BPBD, Manggala Agni, KPHL, dan Dinas Kehutanan Kabupaten Luwu Timur. Skill dan kemampuan anggota organisasi atau pegawai pemerintah biasanya diperoleh dari penddikan formal dan non formal serta pengalaman-pengalaman yang pernah ditempuh oleh seseorang. Namun yang terpenting dari semua itu adalah semangat kerja yang ada pada diri tiap-tiap pegawai. Walaupun, seorang pegawai tidak memiliki latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan profesinya saat ini, jika dia adalah seseorang yang memiliki semangat kerja yang baik, maka tidak sulit baginya untuk meningkatkan skil dan kemampuan di bidang kerja atau profesinya melalui lembaga diklat atau lembaga yang ada.
Hasil penelitian penulis bahwa kekuatan BPBD Kabupaten Luwu Timur dan Dinas terkait dalam melakukan pengendalian pemadaman kebakaran hutan lindung adalah undng-undang dan peraturan pemerintah lainnya yang berkaitan
dengan perlindungan hutan dan pasca kebakaran hutan serta kesiapsiagaan para petugas dan semangat kerja yang sangat baik dari anggota tim pemadaman kebakaran hutan.
2. Kelemahan (Weakness – W)
Selain memiliki kekuatan, sebuah organisasi juga memiliki kelemahan.
Kelemahan ini harus disadari sepenuhnya oleh organisasi untuk bisa di atasi, sebab kelemahan tersebut dapat menjadi penghalang tercapainya tujuan organisasi. Kelemahan adalah terdapat kekurangan pada kondisi organisasi akibatnya kegiatan-kegiatan organisasi belum terlaksana dengan maksimal.
Kepala Pelaksana BPBD mengungkapkan kelemahan yang dimiliki BPBD Kabupaten Luwu Timur dalam upaya pemadaman kebakaran hutan lindung sebagaimana yang dikutip oleh sebagai berikut:
“Salah satu yang menjadi kelemahan dalam pengendalian kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur ini yakni adalah terbatasnya fasilitas pemadaman baik sarana peralatan pemadaman kebakaran maupun prasarana pendukungnya.” (Wawancara dengan SR, pada tanggal 14 Juli 2016)
Hal senada juga dikemukakan oleh IW sebagaimana kutipan berikut:
“Kelemahan kami dalam menghadapi kebakaran hutan yang terjadi karena akses menuju kelokasi kebakaran sulit dijangkau oleh mobil pemadam kebakaran dan lokasi kebakaran juga terpisah-pisah. Adapun pemadaman yang dilakukan hanya pada lahan dan hutan yang mampu dijangkau dengan tenaga dan kemampuan seadanya”. (Wawancara IW, pada tanggal 20 Juli 2016).
Dari kutipan wawancara diatas diketahui bahwa kelemahan pemerintah dalam pengendalian kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur adalah
terbatasnya fasilitas penanggulangan bencana kebakaran hutan baik sarana peralatan pemadaman kebakaran maupun prasarana pendukungnya.
Untuk mewujudkan berbagai upaya tersebut pemerintah sebagai regulator perlu mendorong usaha ekstra dengan memfasilitasi para pihak serta mengajak berbagai komponen daerah baik privat sector, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat untuk kreatif mengembangkan bentuk-bentuk kolaboratif pengelolaan kawasan-kawasan hutan lindung yang telah ditetapkan dalam PERDA tata ruang. Ini juga sekaligus merupakan wujud implementasi perda tata ruang serta lebih berpartisipatif dalam pengendalian kebakaran hutan lindung dalam mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
Kemudian adapun kelemahan lain dalam pengendalian kebakaran hutan ini yakni sebagaimana yang diungkapkan informan sebagai berikut :
“Dalam menjaga hutan sebagai dampak dari kebakaran hutan masih banyak dari sebagian masyarakat yang tidak mengetahui akan pentingnya menjaga kelestarian hutan khususnya terhadap hutan lindung yang memiliki banyak manfaat bagi ekosistem. Hal inilah yang membuat dan mendorong masyarakat dalam melakukan penebangan hutan serta membuka lahan dengan cara membakar” (Wawancara dengan MD, pada tanggal 18 Juli 2016)
Demikian pula penuturan SK selaku Bapak Kepala Desa yang menyatakan bahwa:
“Banyaknya masyarakat yang melakukan penebangan dan membuka lahan dengan cara membakar ini mungkin dikarenakan mereka belum mengetahui dan menyadari sepenuhnya penjelasan mengenai dampak dari kebakaran hutan serta kerusakan lingkungan” (Wawancara dengan SK, tanggal 23 Juli 2016)
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat ini dapat menimbulkan bencana yang berakibatkan pada kebakaran hutan termasuk terhadap kawasan hutan lindung. Adanya pengetahuan yang lebih masyarakat terhadap pelestarian hutan akan lebih membantu pemerintah dalam pengendalian kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur. Kurangnya pengawasan terhadap kegiatan pencegahan kebakaran hutan lindung yang dilakukan oleh pemerintah juga menjadi salah satu kelemahan, sebagai mana yang diungkapkan oleh informan sebagai berikut:
“Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Kehutanan, dan KPHL telah memasang papan tanda larangan di hutan agar tidak mengambil kayu dan membuka lahan dengan cara membakar, akan tetapi masih ada masyarakat yang tidak memperhatikan imbauan tersebut. Seandainya dilakukan pengawasan yang lebih dari pemda, tentunya kegiatan pencegahan agar mengurangi resiko kebakaran hutan ini bisa lebih mudah” (Wawancara dengan AR, pada tanggal 20 Juli 2016)
Lemahnya pengawasan terhadap kegiatan terhadap pengendalian kebakaran hutan lindung yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Luwu Timur dapat menimbulkan penyimpangan-penyimpangan yang berakibat pada tingginya tingkat kebakaran hutan. Adanya pengawasan akan lebih membantu untuk mengetahui kegiatan masyarakat yang melakukan penebangan pohon di hutan maupun aktivitas masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar. Dan jika terjadi hal seperti itu, akan lebih mudah untuk menindak lanjutinya. Dengan kata lain fungsi pengawasan dalam hal ini adalah meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan pengendalian kebakaran hutan lindung.
3. Peluang (Opportunity – O)
Peluang merupakan faktor-faktor di luar lingkungan organisasi yang dapat mendukung keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya.
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan peluang BPBD Kabupaten Luwu Timur dalam pengendalian kebakaran hutan lindung sebagai kutipan wawancara dengan informan :
“Masih banyaknya pihak yang perduli terhadap lingkungan sekitar, dimana ketika warga melihat ada yang melakukan penebangan atau membuka lahan dengan cara membakar sehingga mengakibatkan meluasnya api, mereka sigap dan langsung melapor ke BPBD atau instansi terkait sehingga kebakaran tersebut cepat di kendalikan”
(Wawancara dengan RE, pada tanggal 21 Juli 2016)
Pemberian informasi oleh masyarakat atau sukarelawan yang berada di tempat lokasi kejadian kebakaran hutan yang selanjutnya dilaporkan keposko terdekat ini sangat membantu pemerintah untuk tanggap cepat terhadap kebakaran hutan.
Oleh karena itu, pengelolaan di bidang kehutanan dalam rangka mensejahterakan masyarakat wajib menganut prinsip pembangunan berkelanjutan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dangenerasi masa depan. Implementasi dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pemerintah Kabupaten melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam hal penanganan dan penanggulangan bencana yang terjadi di wilayah Kabupaten
Luwu Timur khususnya bencana terhadap kebakaran hutan lindung. Sebagai mana kutipan wawancara dengan informan yang menyatakan bahwa :
“BPBD Luwu Timur kembali melatih puluhan relawan yang berasal dari relawan Kecamatan se-Kabupaten Luwu Timur untuk ikut menjadi bagian dari kegiatan penanggulangan bencana di daerah khususnya terhadap bencana kebakaran hutan lindung yang akhir-akhir ini terus meningkat di Kabupaten Luwu Timur” (Wawancara dengan AM, pada tanggal 19 Juli 2016)
Hal senada juga dikemukakan oleh HK sebagai mana kutipan berikut :
“Pelatihan yang dilakukan ini agar para relawan dapat memahami tugas dan fungsi relawan, memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penanggulangan tanggap darurat bencana, adanya kesamaan persepsi antar sesama relawan sekaligus perkenalan dan silaturahmi antar sesama relawan” (Wawancara dengan HK, tanggal 21 Juli 2016)
Peluang pemerintah dalam pengendalian kebakaran hutan lindung ini cukup baik dengan adanya pihak-pihak yang masih perduli terhadap lingkungan sehingga dapat memberikan informasi kepada pemerintah sehingga ketika ada yang melakukan aktivitas mengambil kayu di hutan dan melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar bisa langsung diketahui oleh pemerintah dan cepat ditindak lanjuti.
Mengingat dengan adanya kegiatan pelatihan terhadap relawan untuk memberikan dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan untuk penyiapan SDM dibidang penanggulangan bencana termasuk dalam bencana kebakaran hutan lindung. Menurut penulis, kegiatan pelatihan ini merupakan kesempatan besar bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas aparatnya melalui pelatihan yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabuaputen Luwu Timur.
4. Tantangan (Threats – T)
Banyaknya para penebang ilegal dan pembuka lahan dengan cara membakar di Kabupaten Luwu Timur ini terbukti dengan ditemukannya pembukaan lahan baru dengan membakar lahan hutan. Senada dengan hal tersebut keterangan dari Kepala Seksi Pengelolaan Hutan Lindung yang menyatakan bahwa:
“Kasus kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 2015 berada di hutan lindung yang dikarenakan oleh salah satu warga yang membuka lahan baru dengan membakar lahan hutan sehingga mengakibatkan meluasnya kebakaran hutan yang terjadi. ” (Wawancara SM, pada tanggal 13 Juli 2016)
Adapun hasil wawancara dengan Kepala Bidang Kedaruratan, Kesiapsiagaan, dan Pemadaman Kebakaran yang menyatakan bahwa :
“Penebangan liar ini tidak hanya terjadi pada kawasan hutan produksi saja, dan kawasan cagar alam melainkan telah menjarah kawasan hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur. Dinas Kehutanan Lutim menilai bahwa permasalahan illegal loging ini berawal dari penyebab sosial ekonomi. Sebagian para penebang liar merupakan orang yang produktif dan tidak memiliki peluang kerja. Sehingga salah satu cara yang paling cepat dan memungkinkan dilakukan mereka dengan masuk ke hutan dan mengambil kayu sebagai penebang liar” (Wawancara dengan AD, pada tanggal 20 Juli 2016)
Banyaknya para penebang dan pembuka lahan dengan cara membakar di Kabupaten Luwu Timur terbukti dengan ditemukannya sejumlah para penebang liar dan para pembuka lahan di hutan yang dilakukan oleh sebagian orang. Tidak tertutup kemungkinan masih banyak orang yang melakukan hal tersebut namun belum di ketahui oleh pemerintah daerah Kabupaten Luwu Timur. Evaluasi strategi terkini perlu dilakukan pemerintah daerah dalam hal
ini BPBD, Dinas Kehutanan dan KPHL untuk menemukan faktor-faktor penyebab lain dari kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur.
Threats atau tantangan-tantangan merupakan faktor yang dapat menghambat pergerakan organisasi untuk mencapai tujuannya. Tantangan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur saat ini merupakan implikasi dari kelemahan pemda sendiri. Dalam kondisi seperti ini Pemda Luwu Timur perlu melakukan konsolidasi untuk membangun kekuatan dan meminimalir kelemahan.
D. Faktor Penyebab Terjadinya Kebakaran Hutan Lindung di Kabupaten Luwu Timur
Secara garis besar penyebab kebakaran hutan adalah berasal dari kejadian alam dan kegiatan manusia. Di Kabupaten Luwu Timur kejadian alam yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan jarang terjadi. Kebakaran hutan oleh faktor manusia kasusnya akan menjadi lebih kompleks. Dalam hal ini faktor sosial ekonomi serta ketidaktahuan penduduk merupakan pendorong utama atas terjadinya kebakaran hutan.
1. Faktor Alam
Faktor cuaca merupakan salah satu penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan, meliputi: angin, suhu, curah hujan, keadaan air dan kelembapan relatif. Pada musim kemarau banyak bermunculan berita mengenai kebakaran hutan. Tapi, musim kemarau bisa diprediksi sebelumnya sehingga segala sesuatunya harus dipersiapkan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan pada saat musim kemarau panjang.
Sehubungan dengan hal tersebut penulis melakukan wawancara dengan Kepala Seksi Bidang Pengelolaan Hutan Lindung yang mengatakan bahwa :
“Salah satu faktor penyebab kebakaran hutan lindung yaitu tingginya cuaca panas yang ekstrim dan musim kemarau yang panjang. Seperti pada tahun 2013, 2014 dan 2015 kebakaran hutan cukup tinggi, utamanya pada bulan-bulan oktober sampai februari.” (hasil wawancara dengan SM, pada tanggal 13 Juli 2016)
Adapun wawancara dengan Personel Pemadaman Kebakaran yang menyatakan bahwa:
“Kejadian alam yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan di Luwu Timur ini jarang terjadi, akan tetapi faktor alam biasa terjadi pada musim kemarau ketika cuaca sangat panas. Namun, sebab utama dari kebakaran hutan di Kabupaten Luwu Timur ini adalah pembukaan lahan yang tidak terkendali sehingga merembet ke lahan lain” (Wawancara dengan IW, pada tanggal 20 Juli 2016)
Hasil wawancara dengan dua informan diatas menjelaskan bahwa faktor cuaca merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan yang meliputi curah yang ekstrim, dan datangnya musim kemarau yang panjang.
Akan tetapi faktor alam bukanlah faktor utama penyebab kebakaran hutan di Kabupaten Luwu Timur, melainkan dari faktor manusia yang melakukan pembukaan lahan yang tidak terkendali.
Kebakaran hutan selama musim kering dapat disebabkan atau dipicu oleh kejadian alamiah dan kegiatan atau kecerobohan manusia. Kejadian alamiah seperti terbakarnya ranting dan daun kering secara serta-merta (spontan) akibat panas yang ditimbulkan oleh batu dan benda lainnya yang dapat menghantar panas, dan pelepasan gas metana telah diketahui dapat memicu terjadinya kebakaran.
Tabel 4. Tingkat Kebakaran Hutan Lindung oleh Faktor Manusia
Tahun Faktor Jumlah (%)
2013 Faktor Alam 10
2014 Faktor Alam 10
2015 Faktor Alam 20
Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Luwu Timur
2. Faktor Manusia
Pada dasarnya sebagian besar kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur yang terjadi secara berulang setiap tahuannya, lebih banyak disebabkan oleh faktor manusia dibandingakan oleh faktor alam. Ini karena api dianggap sebagai alat yang paling efektif, murah dan cepat dalam membersihkan tapak penanaman, serta pembalakan hutan secara ilegal dan banyaknya perambahan hutan untuk kepentingan perkebunan seperti tanaman merica yang sangat ramai dilakukan oleh para petani.
Senada dengan hal tersebut penulis melakukan wawancara dengan Daops Manggala Agni yang menyatakan bahwa:
“Faktor lain dari kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur disebabkan oleh banyaknya pembalakan hutan secara ilegal yang dilakukan oleh sebagian masyarakat setempat yang selama ini tidak pernah sadar tentang apa dan bagaimana dampak dari kerusakan hutan itu sendiri.” (hasil wawancara dengan SR, pada tanggal 14 Juli 2016)
Adapun hasil wawancara dengan Kepala Dinas Kehutanan yang menyatakan bahwa:
“Perambahan hutan merupakan salah satu faktor terjadinya kerusakan ekosistem pelestarian alam. Hal ini sering terjadi akibat ketidak tahuan masyarakat dengan fungsi hutan yang sesungguhnya. Seperti yang terjadi
dibeberapa tempat di Luwu Timur ini, sekalipun hutan itu dijaga ekstra ketat namun persoalan perut penjaga selalu kecolongan. Mulai dari pengusaha hasil hutan seperti kayu, yang sampai saat ini masih saja terjadi meskipun tidak sedikit dari pada para cukong itu ditanggap dan diadili. Kemudian perambahan hutan untuk kepentingan perkebunan seperti tanaman merica yang sangat ramai dilakukan oleh para petani”(hasil wawancara dengan AM, pada tanggal 19 Juli 2016)
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur selain dikarenakan faktor alam, faktor lain dari kebakaran hutan lindung di Kabupaten Luwu Timur disebabkan oleh banyaknya pembalakan hutan secara ilegal yang dilakukan oleh sebagian masyarakat setempat mulai dari pengusaha hasil hutan seperti kayu, kemudian perambahan hutan untuk kepentingan perkebunan seperti tanaman merica.
Tabel 5. Tingkat Kebakaran Hutan Lindung oleh Faktor Manusia
Tahun Faktor Jumlah (%)
2013 Faktor Manusia 20
2014 Faktor Manusia 30
2015 Faktor Manusia 60
Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Luwu Timur
Adapun wawancara dengan Kepala Bidang Rehabilitasi dan Perlindungan Hutan yang menyatakan bahwa:
“Melihat kondisi hutan yang sangat memprihatinkan, kami dari pihak Dinas Kehutanan Kabupaten Luwu Timur menegaskan akan menindak tegas para perambah yang melakukan perambahan dikawasan hutan.
Namun selama ini setiap anggota yang melakukan patroli di kawasan hutan, mereka tidak pernah mendapati masyarakat secara langsung melakukan kegiatan tersebut, sehingga kami agak kesulitan untuk mendapatkan pelaku perambahan itu.”(hasil wawancara dengan RE, pada tanggal 21 Juli 2016)
Hasil wawancara diatas dengan kondisi tersebut, peristiwa kebakaran yang terjadi disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggungjawab dan saat itu didukung kondisi iklim yang cukup kering akibat perubahan cuaca.
Kebakaran hutan pada waktu itu juga menyebabkan kabut asap sehingga mengganggu kesehatan warga khususnya warga desa yang tak jauh dari lokasi hutan yang terbakar. Serta dari pihak Dinas Kehutanan Kabupaten Luwu Timur menegaskan akan menindak tegas para perambah yang melakukan perambahan dikawasan hutan.
Bencana kebakaran hutan telah dianggap masyarakat sebagai agenda tahunan. Kebakaran hutan tersebut sengaja dilakukan dengan tujuan untuk memperluas area perkebunan. Senada dengan hal tersebut, adapun wawancara penulis dengan Kepala Seksi Bidang Peralatan dan Logistik yang menyatakan bahwa:
“Hutan yang terbakar rata-rata adalah hutan produksi. Di areal hutan tersebut banyak warga yang memanfaatkan pada musim kemarau untuk membuka lahan baru dengan cara membakar sehingga api pada saat itu merambah dan tidak dapat mereka kendalikan. Padahal pemerintah sudah melarang membakar atau menyalakan api di hutan terlebih pada saatmusim kemarau. Peristiwa kebakaran hutan itu disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya api. Mereka kemudian membuka lahan dengan cara membakaruntuk pembersihan lahan yang akan dijadikan lahan baru untuk bertani dan berkebun” (hasil wawancara dengan HK, pada tanggal 21 Juli 2016)
Peneliti juga melakukan wawancara dengan Koordinator Pemadam Kebakaran yang menyatakan bahwa:
“Faktor lain yang tidak kalah penting penyebab kebakaran hutan adalah migrasi penduduk dalam kawasan hutan atau perambahan hutan. Disadari
atau tidak bahwa semakin lama, kebutuhan hidup mereka akan semakin meningkat seiring semakin bertambahnya jumlah keluarga dan semakin lengkapnya kebutuhan hidup, hal ini menuntut penduduk untuk menambah luasan lahan garapan mereka agar hasil pertanian mereka dapat mencukupi kebutuhan hidupnya” (hasil wawancara dengan AR, pada tanggal 20 Juli 2016)
Dari hasil wawancara dengan informan diatas menyatakan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat sekitar terhadap penggunaan api, kemudian warga yang ingin membuka dan menambah lahan mereka dengan cara membakar kemudian ketika api tersebut sudah merembet ke hutan maka mereka akan sulit untuk mematikan atau memadamkan kebakaran tersebut.
Padahal pemerintah daerah sudah melarang membakar atau menyalakan api ataupun membersihkan lahan dengan cara membakar tetapi masyarakat tetap tidak memperhatikan imbauan dari pemerintah.
Kebakaran hutan yang terjadi seperti setiap tahun ini menimbulkan dampak yang sangat luas disamping kerugian material kayu, non kayu dan hewan. Dampak lainnya adalah kerusakan hutan setelah terjadi kebakaran dan hilangnya margasatwa. Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan karena struktur tanahnya mengalami kerusakan. Hilangnya tumbuh-tumbuhan menyebabkan lahan terbuka sehingga mudah tererosi, dan tidak dapat lagi menahan banjir pada musim hujan di berbagai daerah yang hutannya terbakar.
Kerugian akibat banjir tersebut juga sulit diperhitungkan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kebakaran hutan menimbulkan dampak yang cukup besar bagi masyarakat sekitarnya. Senada dengan hal tersebut, penulis melakukan
wawancara dengan Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Pemadaman Kebakaran yang menyatakan bahwa:
“Kiranya dapat dijadikan contoh riil dari kejadian yang dialami alam saat ini, bahwa semenjak kemarau panjang masyarakat Luwu Timur
“Kiranya dapat dijadikan contoh riil dari kejadian yang dialami alam saat ini, bahwa semenjak kemarau panjang masyarakat Luwu Timur