• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskriptif Profil Responden

Dalam dokumen UNIVERSITAS TADULAKO (Halaman 61-66)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tanggal 9 September 1947 La Parenrengi Lamarauna (L. Lamarauna) dilantik sebagai Raja Banawa Donggala keduabelas dan merupakan raja terakhir sejalan dengan

5.2. Deskriptif Profil Responden

Sebelum masuk ketahapan uraian hasil analisis dan pembahasan hasil penelitian, maka perlu kiranya diuraikan profil respoden yang bertujuan untuk memberikan gambaran secara umum tentang karakteristik responden selaku unit analisis dalam penelitian ini berdasarkan usia responden, pendidikan, pekerjaan, serta karakteristik domisili responden yang terkait dengan waktu, status dan asal responden, agar dapat dijadikan dasar dan tolok ukur dalam pengungkapan hasil penelitian sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa responden yang dijadikan sebagai unit analisis penelitian ini adalah warga kota Donggala yang memiliki pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang kota Donggala, terutama warga yang memiliki pendidikan dan telah lama atau turun temurun berdomisili di kota tersebut.

Responden dalam penelitian ini berjumlah 101 orang sesuai dengan rencana penelitian yang telah dijelaskan pada bagian populasi dan sampel. Data yang berhasil dikumpulkan juga sebesar 101 orang yang terdistribusi ke enam wilayah kelurahan sebagai lokasi penelitian. Secara lebih jelasnya, uraian tentang profil responden dapat digambarkan sebagai berikut :

5.2.1. Usia Responden

Setelah melakukan pengelompokkan dan pengolahan data kuesioner, maka gambaran profil usia responden dalam penelitian ini dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu : kelompok usia 19 – 29 tahun, 30 – 59 tahun, dan kelompok usia 60 tahun ke atas.

Pengelompokkan usia responden ini lebih didasari pada tingkat kematangan berpikir dan pengalaman hidup responden selama berdomisili di kota Donggala dengan asumsi bahwa semakin tinggi usia seseorang maka semakin banyak pula pengalaman hidupnya sehingga membuatnya memiliki kematangan berpikir yang lebih baik berdasarkan pengalaman yang telah dilaluinya tersebut. Selian itu, kematangan usia responden merupakan refleksi dari pengalaman hidup dalam pengambilan keputusan dan sikap terhadap berbagai pilihan yang ditawarkan.

Berdasarkan uraian profil usia responden sebagaimana yang diperlihatkan pada Tabel 1, maka dapatlah dikemukakan bahwa usia responden yang ikut ambil bagian dalam

pengisian lembar kuesioner lebih didominasi pada interval 30 – 59 tahun dengan persentase sebesar 77,23%, selanjutnya diikuti oleh interval usia 19 – 29 tahun sebesar 14,85% dan usia 60 tahun ke atas sebesar 7,92%.

Tabel 1.

Profil Usia Responden di Kota Donggala

No. Usia Responden Frekuensi Persentase (%)

1. 19 – 29 Tahun 15 14,85

2. 30 – 59 Tahun 78 77,23

3. 60 Tahun ke atas 8 7,92

Jumlah 101 100,00

Sumber : Hasil Analisis Penelitian, Diolah dari data primer, 2015

Hal ini menunjukkan bahwa dominan usia responden berada pada interval usia 30 – 60 tahun ke atas (85,15%). Hal ini merefleksikan bahwa responden telah memiliki usia yang sudah matang dan berpengalaman untuk memberikan tanggapannya terhadap upaya pengungkapan identitas kota Donggala, sekaligus dapat melihat bagaimana hubunganya dengan tingkat kebutuhan dan perbaikan kualitas lingkungan kota apabila identitas kota tersebut dapat terwujud.

Disamping itu, kisaran usia 30 – 60 tahun ke atas juga mencerminkan usia yang penuh tanggung jawab. Tanggung jawab untuk berpikir dan bertindak dalam pengambilan keputusan yang berorientasi pada kepedulian bersama sebagai bagian dari komunitas hidupnya.

Adanya sekitar 14,85% responden berusia antara 19 – 29 tahun bukan berarti tidak memberikan kontribusi dalam penelitian ini, justru kehadiran responden berusia relatif muda akan memberikan nuansa tersendiri bagi pengungkapan identitas kota Donggala ke depan sesuai harapan dan kreatifitas yang dimilikinya.

5.2.2. Pendidikan Responden

Bila dilihat dari segi pendidikan yang pernah ditempuh responden ternyata 48,51% responden yang pendidikannya tamat pada jenjang pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), sementara sisanya yakni 51,49% merupakan responden yang pernah mengeyam pendidikan pada jenjang perguruan tinggi, mulai dari tingkat pendidikan diploma sampai dengan tingkat pendidikan Strata-2 (S2) atau program magister (lihat Tabel 2).

Tabel 2.

Profil Pendidikan Responden di Kota Donggala

No. Pendidikan Responden Frekuensi Persentase (%)

1. SLTP 4 3,96

2. SLTA 45 44,55

3. Diploma II dan III 9 8,91

4. Strata-1 (S1) 42 41,58

5. Strata-2 (S2) 1 0,99

Jumlah 101 100,00

Sumber : Hasil Analisis Penelitian, Diolah dari data primer, 2015

Secara lebih rinci tabel di atas menggambarkan bahwa responden yang berpendidikan SLTP sebanyak 4 orang (3,96%), berpendidikan SLTA sebanyak 45 orang (44,55%), jenjang pendidikan Diploma II dan III sebanyak 9 orang (8,91%), berpendidikan sarjana atau Strata-1 (S1) sebanyak 42 orang (41,58%), dan yang berpendidikan magister atau Strata-2 sebanyak 1 orang (0,99%).

Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat pendidikan responden memberikan kontribusi yang besar dalam pengambilan keputusan terhadap pengungkapan identitas kota Donggala dan hubungannya dengan tingkat kebutuhan warga dan kualitas lingkungan kota tersebut. Selain itu, dengan jenjang pendidikan tersebut juga merefleksikan sejauh mana tingkat pemahaman responden terhadap instrumen penelitian yang sajikan, sehingga jawaban pilihan yang diberikan responden dapat diyakini keabsahan dan tingkat kepercayaannya, karena responden dengan modal pendidikan yang dimilikinya akan memberikan tanggapan sesuai tingkat pemahaman terhadap pernyataan yang kemukakan pada kuesioner.

5.2.3. Pekerjaan Responden

Gambaran profil pekerjaan atau mata pencaharian responden dalam penelitian ini dapat dikelompokkan menjadi 7 (tujuh) kategori, yaitu : Guru sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), PNS yang bukan guru dan tenaga honorer, Pensiunan PNS, Wiraswasta, LSM dan Pekerja Sosial lainnya, Wartawan, dan Pekerjaan lain-lain, seperti sopir, petani, pegawai bank, mahasiswa dan pekerja seni, yang kesemuanya terekam pada kuesioner penelitian sebagaimana terlihat pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3.

Profil Pekerjaan Responden di Kota Donggala

No. Pekerjaan Responden Frekuensi Persentase (%)

1. Guru/PNS 26 26,00 2. PNS/Honorer 32 31,68 3. Pensiunan PNS 6 5,94 4. Wiraswasta 16 15,84 5. LSM/Pekerja Sosial 8 7,92 6. Wartawan 4 3,96

7. Lain-lain (Sopir, Tani, Pekerja Seni, Pegawai Bank, dan Mahasiswa)

9 8,91

Jumlah 101 100,00

Sumber : Hasil Analisis Penelitian, Diolah dari data primer, 2015

Bila dilihat dari segi profil pekerjaan atau mata pencaharian yang digeluti responden ternyata 57,68% responden bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), baik sebagai Guru maupun Staf dan Tenaga Honorer pada suatu instansi/departemen, sementara sisanya yakni 42,32% merupakan responden yang bekerja bukan sebagai PNS, termasuk pensiunan PNS.

Walaupun pekerjaan sebagai PNS cukup mendominasi jenis mata pencaharian responden, namun secara umum dapat dikemukakan bahwa sebaran pekerjaan sangat bervariasi, sehingga diharapkan tanggapan responden pun akan sangat beragam dalam upaya pengungkapan identitas kota Donggala. Atau dengan kata lain, responden dalam memberikan pilihan jawabannya diharapkan tidak hanya terkoptasi atau terpengaruh oleh latar belakang pekerjaan yang sedang digelutinya, akan tetapi responden lebih melihatnya secara lebih luas dan menyeluruh berdasarkan potensi dan karakteristik yang dimiliki kota Donggala saat ini dan manfaatnya untuk masa depan.

5.2.4. Domisili dan Kependudukan Responden

Gambaran profil domisili dan kependudukan responden dalam penelitian ini dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu : Rentang waktu berdomisili yang menggambarkan sejak kapan resonden berdomisili di kota Donggala, Status berdomisili yang menggambarkan bentuk domisili responden di kota Donggala, dan Status kependudukan responden yang menunjukkan dari mana asal responden sebelumnya.

Berdasarkan uraian pada Tabel 4 terlihat bahwa untuk rentang waktu berdomisili responden di kota Donggala terdapat 69,31% responden yang berdomisili sejak lahir dan

30,69% responden yang berdomisili tidak sejak lahir, ada responden yang sejak kecil berdomisili tapi tidak sejak lahir, dan ada pula yang berdomisili pada rentang waktu 1 – 5 tahun lalu. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sebagian besar responden adalah warga kota yang memiliki pengalaman dan sebagai pelaku hidup yang turut merasakan tahapan kehidupan dan pembangunan di kota Donggala. Hal ini merupakan modal utama untuk menggali informasi dari warga kota dalam upaya pengungkapan identitas kota berdasarkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal setempat (genius loci) secara lebih terintegrasi.

Tabel 4.

Profil Status Domisili dan Asal Responden di Kota Donggala

No. Distribusi Frekuensi Persentase (%)

1. Berdomisili Sejak Lahir 70 69,31

2. Berdomisili Tidak Sejak Lahir 31 30,69

Jumlah 101 100,00

1. Status Domisili Menetap 98 97,03

2. Status Domisi Sementara 3 3,97

Jumlah 101 100,00

1. Berasal dari Kota Donggala 76 75,25

2. Berasal dari Luar Kota Donggala 25 24,75

Jumlah 101 100,00

Sumber : Hasil Analisis Penelitian, Diolah dari data primer, 2015

Selain itu, dapat pula digambarkan tentang status domisili responden, di mana terdapat 97,03% responden yang berdomisili menetap di kota Donggala dan hanya 3,97% responden yang berdomisili sementara. Hal ini juga tentunya sangat mendukung upaya pengungkapan identitas kota Donggala serta melihat hubungannya dengan tingkat kebutuhan warga dan kualitas lingkungan kota, karena responden adalah pelaku hidup yang turut merasakan suasana kebatinan di kota Donggala dan secara aktif berperan dalam pergaulan dan norma-norma kehidupan.

Selanjutnya, bila dilihat dari status kependudukan responden yang menunjukkan dari mana asal responden, ternyata 75,25% responden berasal dari kota Donggala sendiri dan 24,75% responden berasal dari luar kota Donggala, seperti Kota Palu, Kota Luwuk, Toli-Toli, Sulawesi Selatan (Bugis, Soppeng, Bone, dan Toraja), Manado (Sulawesi Utara), Surabaya, dan beberapa desa di Kabupaten Donggala (Sirenja, Kaleke, dan Limboro). Hal ini memberikan gambaran bahwa kota Donggala memiliki kehidupan

interaksi sosial budaya yang majemuk, sehingga dalam memberikan tanggapannya responden mempunyai wawasan yang relatif luas.

Dalam dokumen UNIVERSITAS TADULAKO (Halaman 61-66)

Dokumen terkait