• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS TADULAKO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS TADULAKO"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN FUNDAMENTAL

KAJIAN IDENTITAS KOTA DALAM HUBUNGAN DENGAN

TINGKAT KEBUTUHAN DAN KUALITAS LINGKUNGAN

Tahun ke 1 dari rencana 2 tahun

DR. A M A R, ST., MT. NIDN. 0014076808 AZIZ BUDIANTA., S.Si., MT.

NIDN 0003047002

UNIVERSITAS TADULAKO

(2)
(3)

RINGKASAN

Identitas kota terbentuk dari pemahaman dan pemaknaan image tentang sesuatu yang ada atau pernah ada/melekat pada kota atau pengenalan obyek-obyek fisik maupun obyek non fisik yang terbentuk dari waktu ke waktu. Identitas sebuah kota adalah salah satu tujuan yang esensial untuk memperbaiki kondisi lingkungan pada masa akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan identitas Kota Donggala berdasarkan aspek-aspek pembentuk identitas kota yang terintegrasi sebagai gambaran keuninkan dan ciri khas yang dimilikinya, serta melihat hubungannya dengan pningkatan kualitas lingkungan.

Studi ini menekankan pada desain penelitian deskriptif dan ekplanatif (descriptive and explanative research) melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang dilaksanakan dengan menggunakan metode studi kasus (case study) yakni memberikan gambaran secara menyeluruh tentang latar belakang, sifat-sifat, serta karakter-karakter yang khas dari kasus untuk dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Penelitian dilaksanakan di kota Donggala dengan unit analisis adalah warga kota Donggala yang memiliki pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang kota Donggala, terutama warga yang telah lama atau turun temurun berdomisili di kota tersebut.

Rencana penelitian terbagi atas dua tahap kegiatan, yaitu rencana kegiatan penelitian tahun pertama dan tahun kedua dengan uraian sebagai berikut :

Rencana Kegiatan Penelitian Tahun Pertama; melakukan kajian terhadap kronologis perkembangan Kota Donggala sebagai gambaran komprehensif dan pencerminan yang melatarbelakangi pengungkapan jati diri atau identitasnya sebagai dasar orientasi terhadap perencanaan dan pengembangannya melalui pendekatan analisis deskriptif. Serta mengemukakan aspek-aspek pembentuk identitas kota yang terintegrasi sebagai gambaran keunikan dan ciri khas yang dimiliki dalam pengembangan dasar teori pembentukan identitas suatu kota.

Rencana Kegiatan Penelitian Tahun Kedua; melakukan kajian tentang identitas kota Donggala dalam hubungannya dengan tingkat kebutuhan dan kualitas lingkungan perkotaan melalui pendekatan analisis korelasi untuk melihat gambaran keterkaitan dan signifikansi variable-variabel tersebut dalam mendukung arah pengembangan kota Donggala yang lebih kondusif, berkearifan lokal, lestari dan berkelanjutan.

(4)

PRAKATA

Puji syukur senantiasa dikhaturkan keharibaan Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayat-Nya sehingga penulisan laporan penelitian yang berjudul : Kajian Identitas Kota Dalam Hubungannya Dengan Tingkat Kebutuhan dan Kualitas Lingkungan ini dapat tersusun dan terselesaikan dengan baik.

Secara akademik penelitian ini merupakan tanggung jawab penuh tim peneliti. Namun tim peneliti menyadari bahwa penulisan laporan ini dapat tersusun berkat dukungan dan keterlibatan banyak pihak. Mereka memberikan bantuan, baik berupa moril maupun bantuan materiil yang tidak bisa terhitung nilainya. Oleh karena itu, tim peneliti menyampaikan ucapan terima kasih sedalam-dalamnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan sumbangsih pemikiran.Semoga partisipasi dan sumbangsih semua pihak ini menjadi amal baik yang mendapatkan ganjaran dari Allah SWT.

Selain itu, tim peneliti menyadari pula bahwasanya penelitian ini tidak luput dari kekhilafan dan masih jauh dari kesempurnaan, olehnya tim peneliti mengaharapkan masukan dan saran-saran yang konstruktif demi penyempurnaan penelitian ini.

Palu, 10 November 2015

(5)

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN SAMPUL 1 HALAMAN PENGESAHAN 2 RINGKASAN 3 PRAKATA 4 DAFTAR ISI 5 DAFTAR TABEL 7 DAFTAR GAMBAR 8 DAFTAR LAMPIRAN 9 BAB I. PENDAHULUAN 10 1.1. Latar Belakang 10 1.2. Rumusan Masalah 11 1.3. Urgensi Penelitian 14

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 16

2.1. Pemaknaan Identitas Kota 16

2.2. Kota dan Pembentukan Identitasnya 18

2.3. Kebutuhan Warga Kota 21

2.4. Kualitas Linkungan Kota 25

BAB III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 32

3.1. Tujuan Penelitian 32

3.2. Manfaat Penelitian 32

BAB IV. METODE PENELITIAN 34

4.1. Jenis dan Desain Penelitian 34

4.2. Lingkup dan Lokasi Penelitian 34

4.3. Populasi dan Sampel 35

4.4. Jenis dan Sumber Data 35

4.5. Teknik Pengumpulan Data 36

4.6. Hipotesis Penelitian 37

4.7. Validitas dan Realibilitas Data 37

4.8. Teknik Analisis Data 38

4.9. Bagan Alir Penelitian 42

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 44

5.1. Kronologis Perkembangan Kota Donggala 44

5.2. Deskriptif Profil Responden 61

5.3. Uji Validitas dan Realibilitas Instrumen Kuesioner 66

5.4. Analisis Deskriptif Pengungkapan Identitas Kota

(6)

BAB VI. PENUTUP 82

6.1. Kesimpulan 82

6.2. Saran dan Rekomendasi 84

DAFTAR PUSTAKA 85

LAMPIRAN-LAMPIRAN 89

Lembar Kuesioner Penelitian 89

Foto-Foto Kondisi Eksisiting Kota Donggala Dengan Berbagai

(7)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1 Profil Usia Responden di Kota Donggala 62

2 Profil Pendidikan Responden di Kota Donggala 63

3 Profil Pekerjaan Responden di Kota Donggala 64

4 Profil Status Domisili dan Asal Responden di Kota Donggala 65

5 Uji Validitas Kuesioner Pengungkapan Identitas Kota 67

6 Reliability Statistic Kuesioner Pengungkapan Identitas Kota 67 7 Tanggapan Responden Terhadap Gambaran Aspek Geografis

Dalam Pengungkapan Identitas Kota Donggala 71

8 Tanggapan Responden Terhadap Gambaran Aspek Historis

Dalam Pengungkapan Identitas Kota Donggala 73

9 Tanggapan Responden Terhadap Gambaran Aspek Aksesoris

Dalam Pengungkapan Identitas Kota Donggala 76

10 Tanggapan Responden Terhadap Gambaran Aspek Humanis

Dalam Pengungkapan Identitas Kota Donggala 78

11 Tanggapan Responden Terhadap Gambaran Aspek Strategis

(8)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1 Piramida Hirarki Kebutuhan Manusia Menurut Teori

Maslow 23

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1 Lembar Kuesioner Penelitian 89

2 Foto-Foto Kondisi Eksisting Kota Donggala Dengan Berbagai

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap kota memiliki jati diri atau cirinya masing-masing antara masyarakat dan lingkungan (fisik) kotanya. Kebudayaan masyarakatnyalah yang menjadi jiwa dan karakter kota itu, serta aspek lingkungan (fisik) akan menjadi raganya. Keduanya bagaikan sekeping mata uang dengan dua sisinya. Apabila karakter sebuah kota kuat, maka masyarakat pendatang biasanya akan lebur dalam jati diri kota yang dituju. Pengaruh dari luar akan sulit masuk, bahkan kota akan mempengaruhi daerah sekitarnya. Kemampuan kota mempertahankan karakter dan identitasnya, bahkan mempengaruhi daerah dan kota sekitarnya disebut memiliki local genius. Oleh karena itu, membangun kota (city) pada dasarnya membangun (jiwa) masyarakatnya. Apabila jiwa masyarakatnya rapuh maka kota itu lambat laun akan rapuh pula dan demikian pula sebaliknya (Hariyono, 2007).

Perkembangan suatu kota tidak akan pernah lepas dari identitasnya, untuk itu amatlah penting sebagai paradigma kota itu sendiri. Tentunya jika berkunjung kesuatu tempat atau kota pastinya akan mencari apa yang menjadi ciri khas dari tempat yang dikunjungi. Kota harus bisa memberikan kenyamanan bagi yang ingin tinggal ataupun yang datang dengan tujuan mencari nafkah atau sekedar berwisata. Kota harus bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh warganya (citizen) dan juga dapat memberikan keramahan bagi siapapun, termasuk lingkungannya (Dany, 2007).

Pembahasan tentang identitas kota telah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, namun penelitian-penelitian tersebut pada dasarnya lebih banyak menitiberatkan pada pengungkapan obyek-obyek atau elemen-elemen fisik kota yang memiliki nilai-nilai historis dan keunikan secara plural, seperti bangunan-bangunan, monumen-monumen atau tempat-tempat, yang dijadikan simbol atau landmark dari kota tersebut sebagai identitasnya. Sebut saja Monas, Istana Merdeka, Mesjid Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan beberapa obyek fisik lainnya dikenal sebagai identitas kota Jakarta; Gedung Sate, Gedung Konfrensi Asia Afrika dan Kawasan Braga sebagai identitas kota Bandung; Keraton, Pura Pakualaman, Kawasan Malioboro, dan Kota Gede

(11)

sebagai identitas kota Yogyakarta atau Lapangan Karebosi, Benteng Rotterdam dan Pantai Losari sebagai identitas kota Makassar (Tjahyoko, 2008).

Fenomena seperti ini mungkin ada benarnya, namun dengan demikian di suatu kota nantinya akan ditemukan banyak identitas yang melekat padanya yang sesungguhnya hanyalah penanda tempat kota tersebut. Selain itu, kecenderungan pengungkapan identitas kota yang lebih menekankan pada elemen-elemen fisik dikhawatirkan hanya memberikan pencitraan (image) terhadap simbolisasi dan visualisasi wajah kota, namun belum dapat memberikan nilai manfaat secara positif kepada kehidupan warga kota, terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan maupun perbaikan kualitas lingkungannya, sehingga lambat laun kehidupan kotanya akan semakin rapuh dan terdegredasi.

Untuk mengantisipasi agar kecenderungan pengungkapan fenomena identitas kota seperti itu tidak berlanjut, perlu kiranya dipelajari dan ditelusuri pemaknaan identitas suatu kota berdasarkan tatanan dan fungsi kehidupan kota secara lebih terintegrasi yang di dalamnya merupakan akumulasi dari nilai-nilai sosio-kultural warga kota sebagai ruh dan jati diri kota, serta elemen-elemen fisik lingkungan sebagai wadahnya. Hal ini bertujuan agar identitas suatu kota benar-benar dapat dijiwai dan dirasakan manfaatnya oleh warga kota maupun warga pendatang secara arif dan berkelanjutan, serta menjadikannya sebagai suatu kebanggaan dan rasa memiliki terhadap kota tersebut (sanse of place).

1.2. Perumusan Masalah

Kota-kota pada dasarnya mampu menciptakan keunikan atau ciri khas seperti pusat bisnis, budaya, seni, ataupun ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), yang diolah berdasar karakter atau identitas menonjol yang sejak semula telah dimiliki. Banyak kota akhirnya menjadi masyhur, karena memang memiliki jati diri dan identitas khusus yang dimilikinya, yang dibangun dari rangkaian sejarah yang lama, dan bukan karena sekedar akibat merek tempelan yang asal dilekatkan saja di belakang nama kota sebagai semacam sebuah slogan kosong belaka, dimana bahkan untuk itu tak terdapat partisipasi warga kotanya (Abiyoso, 2007).

Perkembangan kota-kota di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir justru mempunyai kecenderungan menghilangkan ciri “identitas”-nya, sehingga kota-kota tersebut kehilangan karakter spesifiknya yang memunculkan “ketunggalrupaan” bentuk

(12)

dan arsitektur kota (Budiharjo,1997). Senada dengan pendapat Budiarjo, Wikantioyoso (2007) juga menyatakan bahwa kota-kota di Indonesia saat ini telah kehilangan jatidiri atau identitas aslinya dikarenakan semakin menjamurnya design instan sebagai dampak globalisasi, sehingga bentuk arsitektur bangunan atau tata kawasan terasa ada kemiripan antara kota yang satu dan lainnya. Akibatnya masyarakat kehilangan pegangan untuk mengenali lingkungannya (Raksadjaja, 1999).

Donggala sebagai salah satu kota tertua di Propinsi Sulawesi Tengah merupakan kota yang berkembang dari cikal bakal kota kerajaan dan kolonial Belanda memiliki nilai-nilai historis, nilai-nilai-nilai-nilai sosial budaya dan bentukan-bentukan fisik arsitektur (tata lingkungan dan bangunan) yang dapat menjadi bukti pernah populer suatu bentuk tatanan dan fungsi kehidupan kota dengan mahzab tertentu yang dapat diangkat sebagai identitas spesifik Kota Donggala.

Secara umum dapat dikemukakan beberapa fenomena yang terkait dengan kondisi faktual terhadap fungsi dan tatanan kehidupan kota Donggala sebagai suatu keunikan dan karakteristik dalam pembentuk identitasnya yang menjadi fokus penelitian, antara lain : 1. Kota Donggala sebagai kota kerajaan dan kolonial Belanda yang sekaligus berperan

sebagai kota pelabuhan tertua dan tersohor di dunia pelayaran, mempunyai perkembangan yang sangat penting dalam perjalanan dan eksistensinya, serta memberikan nuansa tersendiri terhadap tatanan ruang dan visualisasi wajah kota; 2. Kota Donggala memiliki karakter fisik yang spesifik dengan bentang alam berupa

topografi pegunungan dan garis pantai yang berada disekitar Kota Donggala, serta aliran Sungai Donggala yang membelah Kota Donggala. Kondisi fisik ini turut berperan dalam proses pembentukan kota (city form) dan lingkungannya;

3. Keberadaan Pelabuhan Donggala dan aktivitasnya memberikan corak tersendiri terhadap pola kehidupan warga kota sebagai salah satu potensi dan keunikan dalam pembentuk identitas kota Donggala;

4. Kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang beragam juga turut memberikan nilai-nilai dan norma-norma tersendiri terhadap apresiasi dan aspirasi warga kota dalam pelaksanaan pembangunan di Kota Donggala.

Meskipun terjadi banyak perubahan di Kota Donggala, namun jejak-jejak perkembangan masa lalunya masih bisa dijumpai. Tatanan kehidupan, bentuk dan struktur kota di kawasan pusat kota, banyak dipengaruhi oleh konsep kota pemerintahan

(13)

kerajaan Banawa dan kolonial Belanda yang sudah mulai muncul sejak pembentukan awal kota pada pertengahan abad ke-17. Kondisi dualistis wajah kota (kerajaan-kolonial) dan terbentuknya sektor formal dan informal, merupakan transformasi dari masa lalu yang berakar dialektika antara penetrasi kolonial dan resistensi pribumi.

Selain itu, sistem sosial budaya dan politik sangat berpengaruh, seperti organisasi sosial dan kultur masyarkat yang berlandaskan pada Hukum Adat Kota Pitunggota di daerah pedalaman, dalam memberikan khazanah perkembangan kehidupan kota Donggala, meskipun telah mengalami modifikasi di daerah pesisir setelah berkembangnya pelabuhan (Junarti, 2001).

Fenomena ini semakin menarik untuk dikaji dengan melihat untaian sejarah perkembangan Donggala sebagai kota pemerintahan Kerajaan Banawa dan kolonial Belanda yang sekaligus berperan sebagai Kota Pelabuhan yang pernah tersohor di dalam peta dunia pelayaran. Akumulasi dari transformasi jalinan spasial masa lalu sampai sekarang tersebutlah yang membentuk dan memberikan karakter yang khas terhadap fungsi kehidupan kota Donggala dalam proses pemaknaan identitasnya.

Dalam kaitannya dengan pemaknaan identitas suatu kota, tuntutan terhadap pemenuhan tingkat kebutuhan warga kota dan peningkatan kualitas lingkungannya akan menjadi salah satu faktor penentu yang perlu untuk dipertimbangkan. Hal ini dikarenakan tingkat kebutuhan dan kualitas lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai kearifan lokal setempat sebagai cerminan jiwa dan raga suatu kota yang dapat dilihat dari proses perkembangan kehidupan kota tersebut. Atau dengan kata lain, proses perkembangan kehidupan suatu kota dapat dipandang sebagai sekumpulan data yang dapat dimanfaatkan sebagai titik awal dari setiap langkah pemaknaan identitas kota. Gambaran proses perkembangan kehidupan kota yang tepat akan membawa kepada konsep pemaknaan identitas kota yang dapat diterima masyarakat dan lingkungannya, sementara dalam penyusunan konsep pengembangan tersebut partisipasi masyarakat akan lebih intensif.

Bertitik tolak dari pokok-pokok pikiran latar belakang dan permasalahan yang telah dikemukakan, maka studi ini diarakan untuk menjawab dan mengungkapkan pemaknaan identitas kota Donggala sesuai keunikan dan karakteristik kehidupan kotanya berdasarkan kondisi faktual terhadap integrasi elemen-elemen identitas kota yang

(14)

dirumuskan pada kerangka konseptual, serta melihat bagaimana hubungannya dengan pemenuhan tingkat kebutuhan warga dan kualitas lingkungan kota tersebut.

Untuk lebih mengarahkan penelitian yang akan dilaksanakan, maka latar belakang dan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya akan dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian yang menjadi panduan (guideline) dan dasar kajian dalam penelitian ini, yaitu :

a. Bagaimana kronologis perkembangan kota Donggala sebagai gambaran komprehensif dan pencerminan yang melatarbelakangi pengungkapan identitasnya ?

b. Bagaimana pengungkapan identitas kota Donggala berdasarkan aspek-aspek pembentuk identitas kota yang terintegrasi sebagai gambaran keunikan dan ciri khas yang dimilikinya ?

c. Bagaimana hubungan tingkat kebutuhan warga kota dengan pengungkapan identitas kota Donggala ?

d. Bagaimana hubungan kualitas lingkungan kota dengan pengungkapan identitas kota Donggala ?

e. Bagaimana hubungan tingkat kebutuhan warga kota dan kualitas lingkungannya secara bersama-sama dengan pengungkapan identitas kota Donggala ?

1.3. Urgensi Penelitian

Penelitian tentang pemaknaan identitas kota merupakan salah satu cara untuk melihat fenomena sebuah kota, yang dapat dijelaskan melalui perkembangan fungsi kehidupan kota sejak awal terbentuknya sampai sekarang dalam mengungkapkan watak, karakter dan jati dirinya. Penelitian ini penting dilakukan, karena melalui perkembangan setiap tahapan fungsi kehidupan kota, maka gambaran faktual suatu kota beserta keunikan dan karakteristik yang dimilikinya dapat dijelaskan secara lebih terstruktur sesuai nilai-nilai historis dan sosio-kultural masyarakat berdasarkan kebutuhan hidup warga kota dan lingkungannya. Dengan demikian, nantinya dapat diungkapkan pemaknaan identitas kota yang lebih mengakar pada budaya masyarakatnya dan bukan hanya identitas yang bersifat artefak dan simbolik belaka.

Melalui penelitian ini juga akan ditelusuri konsep identitas suatu kota secara terintergrasi sesuai keunikan dan karakteristik kehidupan fungsi kotanya berdasarkan pertimbangan kondisi faktual dan nilai-nilai lokal setempat serta memadukannya dengan

(15)

teori dan penelitian terkait sebelumnya. Dengan demikian konsep tersebut dapat dirumuskan sebagai suatu bentuk kerangka konseptual dalam mengungkapkan dan menjelaskan identitas kota secara komprehensif.

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pemaknaan Identitas Kota

Akar kata identitas yaitu ident berasal dari bahasa latin idem yang bermakna “sama” atau “identik”. Identitas yang dalam bahasa inggerisnya identity sering disandingkan dengan nama atau karakter yang penting untuk menidentifikasi seseorang atau sesuatu. Identitas juga dapat diartikan sebagai karakteristik tertentu dari seseorang yang dikenal sebagai keunikan yang dimilikinya (Encarta Dictionary, 2007).

Dalam beberapa kamus, baik kamus berbahasa asing maupun kamus besar Bahasa Indonesia, kata identitas diartikan dengan ciri-ciri, tanda-tanda, atau jati diri. Menurut Tjahyoko (2008) identitas adalah ciri-ciri, tanda-tanda, jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang bisa membedakan dengan yang lain.

Trisutomo (2004) memberi batasan tentang identitas sebagai berikut “Identity in general term means something that specific or unique. The synonyms of identity are distinctiveness, individual, personality or character” (Identitas secara terminologi umum dapat diartikan sebagai sesuatu yang spesifik dan unik. Padanan kata identitas adalah sesuatu yang memiliki perbedaan yang bersifat individu, pribadi atau karakter).

Pemahaman lain tentang identitas dikemukakan oleh Charles Correa (dalam Budihardjo, 1997) bahwa : “Identity is a process, not a found object which can be fabricated”. Pendapat Correa dalam tulisannya “Quest for Identity” ini lebih menitiberatkan kepada bentuk identitas yang terkait dengan bidang perancangan arsitektur, dimana setiap upaya pintas untuk memproduksi suatu bentuk identitas tertentu dalam arsitektur akan berdampak negatif bagi perkembangan arsitektur dan bila identitas itu dibakukan dalam wujud fisik yang kaku maka akan hilanglah status arsitektur sebagai suatu disiplin ilmu dan hanya layak menyandang predikat sebagai sekolah tukang.

Senada dengan pendapat Correa tersebut, Budihardjo (1997) juga menjelaskan bahwa seorang pakar mengatakan “identity is a moving target”, identitas adalah target yang selalu berubah sejalan dengan perubahan waktu dan masyarakatnya, sebagai suatu proses yang tidak dapat difabrikasi. Identitas pada masyarakat tradisional lebih mewujud sebagai cerminan kemampuan kreatif masyarakat dalam mengejawantahkan perilaku

(17)

budayanya, dan bukan sekedar kekhasan produk atau artefak budaya yang identik sepanjang waktu.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka dapatlah dijelaskan bahwa pemahaman dan pengertian identitas sangatlah tergantung terhadap objek dan subjek yang akan diamati berdasarkan ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang dimiliki sebagai suatu karakter dan keunikan yang bisa membedakan dengan yang lain. Selain itu, identitas juga dapat berubah maupun permanen (berkelanjutan) bentuknya sesuai dengan perkembangan waktu, tempat, tujuan dan kebutuhannya.

Selanjutnya, dalam memberikan batasan mengenai pengertian kota para ahli perkotaan memberikan definisi yang berbeda-beda (Daljoeni 1998). Perbedaan ini dapat dilihat dari masing-masing negara atas fungsi dan peranan suatu wilayah yang didasarkan pada kondisi masa lampau yang dilihat dari sudut pandang sejarah. Munculnya kota dalam suatu negara (state) dan bangsa (nation) dapat dilihat juga dari perbedaan antara city dan town. Di Benua Amerika pengertian tersebut punya makna yang berbeda. City merupakan kota sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, organisasi sosial, dan pusat hubungan komunikasi sebagai kelompok masyarakat yang berlainan suku, agama, dan ras. Town diartikan sebagai kota kecil yang di dalamnya terdapat kegiatan terbatas sebagai pusat keagamaan yang telah berakar di desa sebagai tempat asal pendatang (Masri, 2003). Kota, menurut AS Hornby (1987) dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, dapat didefinisikan sebagai kumpulan tempat tinggal dan lainnya dengan ukuran lebih besar dibandingkan desa. Kota mengandung empat hal utama (Freeman, 1974), yaitu : (a) menyediakan fasilitas perdagangan bagi penduduk; (b) menyediakan lahan usaha bagi penduduk; (c) membuka kemungkinan munculnya usaha jasa, dan (d) mempunyai kegiatan industri.

Masih banyak lagi batasan-batasan pengertian tentang kota yang telah dikemukakan oleh peneliti dan pakar-pakar perkotaan, namun pengertian kota yang saat ini di gunakan, khusunya di Indonesia, lebih mengacu pada Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 (UUPR, 2007) yang mendefinisikan bahwa kota adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.

(18)

disimpulkan bahwa pengertian identitas kota adalah gambaran keunikan suatu kota sebagai pusat distribusi pelayanan jasa pemerintahan, sosial dan ekonomi yang mampu menampilkan watak, ciri khas, jati diri, dan karakteristik kebudayaan, sehingga mudah dikenal serta dapat menumbuhkan rasa cinta dan memperkuat rasa kebanggaan terhadap kota yang ditinggali dan ditempati, baik dalam bentuk yang berkelanjutan (sustainable) maupun yang dapat berubah sesuai perkembangan waktu, tempat, tujuan dan kebutuhannya.

2.2. Kota dan Pembentukan Identitasnya

Kota bukanlah lingkungan binaan yang dibangun dalam waktu singkat, tetapi dibentuk dalam waktu yang panjang dan merupakan akumulasi setiap tahap perkembangan sebelumnya. Setiap lapis tahapan tersebut merupakan keputusan banyak pihak dan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor (Alvares, 2002). Seperti yang dikatakan oleh Rossi (1982), bahwa kota adalah bentukan fisik buatan manusia (urban artefact) yang kolektif dan dibangun dalam waktu lama dan melalui prosesnya yang mengakar dalam budaya masyarakatnya.

Sebuah kota terbentuk dan berkembang secara bertahap sesuai dengan peningkatan kegiatan manusia di dalamnya, dimana manusia sebagai pelaku kegiatan saling berinteraksi, baik sesama maupun dengan lingkungan alam, yang akan mempengaruhi pada tingkah laku manusia dalam menjalani kehidupannya. Kota terbentuk sebagai fungsi dari aktifitas manusia (fungsi inhabitasi) yang luas, kompleks dan terakumulasi dari waktu ke waktu. Jadi, kota tidak tumbuh dalam bentuk fisik saja, tapi tumbuh bersamaan dengan masyarakatnya (Spreiregen, 1965).

Kota secara umum dapat diartikan sebagai tempat bagi kehidupan perkotaan, yaitu kehidupan dimana lingkungan alam didominasi oleh lingkungan buatan manusia. Fisik kota merupakan hasil aksi dinamika dan kekuatan yang lahir akibat kebutuhan dan tuntutan sesaat kehidupan perkotaan. Totalitas fisik kota adalah bentuk kolektif yang merupakan akumulasi komponen selama periode tertentu, yang terdiri : jalan, bangunan, sistem komunikasi, utilitas, tempat kerja, rekreasi dan berbagai kegiatan lainnya (Spreiregen, 1965). Kota secara fisik merupakan sistem yang terdiri dari daerah kegiatan, ruang, massa dan sistem komunikasi yang dari waktu ke waktu cenderung selalu berubah. Kota dapat berupa konsentrasi elemen-elemen fisik spasial yang intensitas kegiatan dan pembangunan fisik kota tumbuh dan berkembang dari bagian pusat kota

(19)

(sebagai bagian kota yang tertua) ke bagian pinggiran. Hal ini menunjukkan bahwa semakin ke arah bagian pusat kota semakin tinggi intensitasnya dan semakin beragam pula fungsi-fungsi kegiatannya.

Karakter bentuk fisik kota dapat pula dikenali melalui elemen dasar lingkungan, bentuk ruang dan kualitas nilai suatu tempat. Pemahaman makna tentang nilai-nilai kultural, keunikan-keunikan, dan karakteristik suatu tempat akan membentuk suatu identity. Identitas akan memberikan "arti" sebagai pembentukan image suatu tempat (place). (Lynch,1960).

Semua kota mempunyai identitas yang berbeda, baik yang positif maupun negatif. Identitas sebuah kota adalah keunikan kondisi dan karakteristik yang membedakannya dengan kota lainnya. Identitas kota adalah sebuah konsep yang kuat terhadap penciptaan citra (image) dalam pikiran seseorang yang sebelumnya tidak pernah dipahami (Fasli, 2003).

Identitas kota sebenarnya tidak dapat dibangun tetapi terbentuk dengan sendirinya. Identitas kota terbentuk dari pemahaman dan pemaknaan “image” tentang sesuatu yang ada atau pernah ada/melekat pada kota atau pengenalan obyek-obyek fisik (bangunan dan elemen fisik lain) maupun obyek non fisik (aktifitas sosial) yang yang terbentuk dari waktu ke waktu. Aspek historis dan pengenalan “image” yang diitangkap oleh warga kota menjadi penting dalam pemaknaan identitas kota atau citra kawasan (Wikantiyoso, 2006).

Kajian mengenai identitas kota ibarat membuka puluhan lembar halaman kisah lalu yang kemudian diperjuangkan untuk menemukan jati diri atau keunikan dan kekhasan lokal. Memang kajiannya akan membawa pada suatu masa yang sangat sederhana mengenai apa yang dimiliki oleh warga atau masyarakat lokal tersebut, namun itulah kekayaan yang sangat besar yang tidak dipunyai oleh kota lainnya (Eroldtan, 2008). Identitas suatu kota dapat berupa identitas fisik maupun identitas psikis. Identitas fisik adalah identitas kota yang dapat dilihat secara nyata (tangible) dalam bentuk fisik infrastruktur kota itu sendiri, baik berupa bangunan, lapangan, alun–laun, taman, terminal, pasar, rumah sakit, kawasan hunian, heritage, monumen dan berbagai bentuk sarana fisik lainnya yang dapat mewakili keberadaan dari kota itu sendiri. Sedangkan Identitas psikis kota dapat berarti identitas kehidupan masyarakat kota secara psikis (intangible) yang mempengaruhi wajah kota tersebut, baik berupa ritme kehidupan

(20)

masyarakatnya, spirit yang dimiliki masyarakat atau budaya yang hidup dalam keselarasan kota yang menjadi simbol dan corak terhadap suatu fungsi kehidupan kota, sehingga memberikan identitas tersendiri bagi kota tersebut (Tjahyoko, 2008).

Bila dibandingkan kedua bentuk identitas tersebut, kiranya identitas psikis merupakan bentuk identitas yang sebenarnya lebih realistik dan aplikatif untuk dipertimbangkan dan dikedepankan sebagai wacana identitas suatu kota karena lebih mengakar pada nilai budaya, fungsi dan tatanan kehidupan masyarakat, tanpa harus mengabaikan elemen-elemen kondisi fisik lingkungan kota secara terintegrasi dan saling melengkapi.

Kecenderungan pengungkapan betuk identitas suatu kota berdasarkan elemen-elemen fisik (tangible) kota lebih dilandasi pada hasil penilitian dan teori yang telah dikemukakan oleh Kevin Lynch (1960) dalam karyanya “The image of the city”. Lynch telah melakukan sebuah studi terhadap apa yang diserap secara mental oleh orang-orang dan realitas fisik sebuah kota. Dalam risetnya, Lynch menemukan betapa pentingnya citra mental itu karena citra yang jelas akan memberikan banyak hal yang sangat penting bagi masyarakatnya, seperti kemampuan untuk berorientasi dengan mudah dan cepat disertai perasaan nyaman karena tidak merasa tersesat, identitas yang kuat terhadap suatu tempat, dan keselarasan hubungan dengan tempat-tempat yang lain.

Selanjutnya, dalam beberapa tahun terakhir ini sebuah lembaga konsultasi dan pembuat ranking kota-kota dunia, Anholt-City Brands Index (2007), telah menyusun pedoman 6-“P” sebagai parameter untuk mengukur keunikan sebuah kota melalui beberapa gambaran dalam kota, yakni :

a. Gambaran tentang keberadaan sebuah kota (presence), adalah gambaran keunikan sebuah kota berdasarkan persepsi terhadap nilai-nilai historis kota dan kontribusi kota dalam konstelasi regional, nasional & internasional;

b. Lokasi sebuah kota (place), adalah gambaran keunikan sebuah kota berdasarkan persepsi terhadap aspek fisik kota, letak dan posisi geografis sebuah kota, serta kondisi iklim dan atribut kota;

c. Keunggulan sebuah kota (potentiality), adalah gambaran keunikan sebuah kota yang memiliki peluang dan keunggulan ekonomi yang dapat ditawarkan sebagai kontribusi nilai-nilai lokal setempat yang spesifik;

(21)

berdasarkan spirit dan gaya hidup warga kota, berbagai kegiatan atau atraksi yang tersedia, serta aktivitas perekonomian yang menonjol yang didukung keberadaan infrastruktur kota;

e. Sifat penduduk atau masyarakatnya (people), adalah gambaran keunikan sebuah kota berdasarkan apresiasi dan inspirasi warga kota, nilai-nilai sosial ekonomil dan budaya warga kota, serta keramahan dan kehangatan warga kota terhadap orang luar;

f. Kondisi dasar kualitas hidup kota yang bersangkutan (prerequisites), adalah gambaran keunikan sebuah kota berdasarkan ketersediaan dan akses pelayanan prasarana dan sarana kota, fasilitas akomodasi dan pendukungannya yang memadai, serta kejelasan peraturan dan kebijakan pemerintah setempat.

Meskipun penjelasan tersebut tidak secara eksplisit menguraikan tentang cara menentukan gambaran keunikan sebuah kota sebagai bentuk pemaknaan identitasnya, namun parameter yang disusun oleh oleh Anholt-City Brands Index kiranya menjadi suatu landasan yang sangat baik digunakan untuk mengukur gambaran keunikan sebuah kota dalam menentukan karakteristik identitas kota yang akan dikembangkan dan dapat memberikan pengayaan terhadap upaya pengungkapan identitas sebuah kota dengan menampilkan salah satu keunikannya. Walaupun demikian, parameter ini kiranya perlu disesuaikan dengan kondisi daerah penelitian. Oleh karena itu, parameter ini dapat dijadikan salah satu dasar pertimbangan dan landasan berpikir dalam merumuskan konsep identitas kota Donggala yang lebih terintegrasi sesuai fungsi kehidupan kotanya.

2.3. Kebutuhan Warga Kota

Kota merupakan tempat hidup dan memberikan kehidupan bagi warga kota, karenanya suatu kota selain dituntut dapat memberikan peluang lapangan pekerjaan dan menawarkan bermacam keuntungan lebih untuk kehidupan warga kota, juga harus dapat menyediakan berbagai kebutuhan bagi kelangsungan hidup warga kota dan lingkungannya, baik menyangkut gaya hidup maupun kemudahan-kemudahan dalam penyediaan kebutuhan fasilitas pelayanan kota.

Untuk menciptakan kebutuhan fasilitas kota yang tepat bagi warga penghuninya, perlu dikaji terlebih dahulu kebutuhan dasar apa yang diinginkan dan diperlukan oleh penghuni kota itu sendiri. Kebutuhan warga kota pada prinsipnya merupakan penjabaran dari hirarki kebutuhan dasar manusia sebagaimana yang telah dikemukakan oleh

(22)

Abraham Maslow dalam teorinya yang terkenal yaitu “teori hirarki kebutuhan Maslow” Menurut Maslow dalam As’ad (2000) bahwa ada lima tingkatan kebutuhan dasar (basic needs) manusia, yaitu :

a. Kebutuhan yang bersifat fisiologis (physiological needs); kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang amat primer karena kebutuhan ini merupakan pertahanan untuk kelangsungan hidup seseorang;

b. Kebutuhan akan rasa aman dan tentram (safety & security needs); Kebutuhan level kedua, yakni kebutuhan akan rasa aman dan kepastian (safety and security needs) muncul dan memainkan peranan dalam bentuk mencari tempat perlindungan, membangun kebebasan individu (privacy individual), mengusahakan keterjaminan finansial melalui asuransi atau dana pensiun, dan sebagainya. c. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi (bilongingness/love needs); Manusia

membutuhkan rasa diperhatikan dan dicintai, di mana seseorang mencari dan menginginkan sebuah persahabatan, menjadi bagian dari sebuah kelompok, dan yang lebih bersifat pribadi seperti mencari kekasih atau memiliki anak, hal ini adalah pengaruh setelah kebutuhan dasar dan rasa aman terpenuhi;

d. Kebutuhan harga diri secara penuh (esteem needs); Level keempat dalam hirarki adalah kebutuhan akan penghargaan atau pengakuan. Maslow membagi level ini lebih lanjut menjadi dua tipe, yakni tipe bawah dan tipe atas. Tipe bawah meliputi kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, perhatian, reputasi, kebanggaan diri, dan kemashyuran. Tipe atas terdiri atas penghargaan oleh diri sendiri, kebebasan, kecakapan, keterampilan, dan kemampuan khusus (spesialisasi). Apa yang membedakan kedua tipe adalah sumber dari rasa harga diri yang diperoleh. Pada self esteem tipe bawah, rasa harga diri dan pengakuan diberikan oleh orang lain. Akibatnya rasa harga diri hanya muncul selama orang lain mengatakan demikian, dan hilang saat orang mengabaikannya. Situasi tersebut tidak akan terjadi pada self esteem tipe atas. Pada tingkat ini perasaan berharga diperoleh secara mandiri dan tidak tergantung kepada penilaian orang lain. Dengan lain kata, sekali anda bisa menghargai diri anda sendiri sebagai apa adanya, anda akan tetap berdiri tegak, bahkan ketika orang lain mencampakkan anda;

(23)

harga diri telah terpenuhi, maka kebutuhan lainya yang sekarang menduduki tingkat teratas adalah aktualisasi diri. Inilah puncak sekaligus fokus perhatian Maslow dalam mengamati hirarki kebutuhan, di mana manusia membutuhkan pengembangan diri dan menyalurkan kapasitas kemampuannya. Terdapat beberapa istilah untuk menggambarkan level ini, antara lain growth motivation, being needs, dan self actualization.

Maslow mengemukakan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tersusun secara hirarki dari tingkat yang paling mendasar sampai pada tingkat yang paling tinggi. Setiap kali kebutuhan pada tingkatan paling bawah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan lain yang lebih tinggi. Pada tingkatan paling bawah, dicantumkan berbagai kebutuhan fisiologis (physiological needs). Kemudian pada tingkatan lebih tinggi dicantumkan kebutuhan akan rasa aman dan kepastian (safety and security needs). Lalu pada tingkatan berikutnya adalah berbagai kebutuhan akan cinta dan hubungan antar manusia (love and belonging needs). Kemudian kebutuhan akan penghargaan dan pengakuan (esteem needs), serta pada tingkatan yang paling tinggi dicantumkan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri (self actualization needs).

Gambar 1. Piramida Hirarki Kebutuhan Manusia Menurut Teori Maslow

Maslow sendiri dalam tahun-tahun terakhirnya merevisi teorinya tersebut (Stephen R.Covey dalam bukunya First Things First). Katanya, Maslow mengakui bahwa aktualisasi diri bukanlah kebutuhan tertinggi namun masih ada lagi yang lebih tinggi yaitu self transcendence yaitu hidup itu mempunyai suatu tujuan yang lebih tinggi dari dirinya. Mungkin yang dimaksud Maslow adalah kebutuhan mencapai tujuan hidup beragama, atau saat ini lebih dikenal sebagai kebutuhan spiritual (spiritual need).

Selanjutnya, Hildebrand Frey (1999) dalam karyanya “Designing The City, Toward a more sustainable Urban Form”, mengaitkan kebutuhan fasilitas kota dengan

(24)

kebutuhan dasar manusia dari hirarki Maslow, sebagai berikut :

a. Pada tingkat dasar (basic level), fasilitas kota yang disediakan adalah semua kebutuhan fisik masyarakat antara lain : tempat tinggal dan tempat kerja, pendapatan yang memadai, pendidikan dan kursus, transportasi dan memungkinkan untuk mengadakan komunikasi dengan fasilitas-fasilitas dan pelayanan-pelayanan kota;

b. Pada tingkatan kedua, hal-hal yang harus diperhatikan oleh kota adalah keselamatan (safety), keamanan (security) dan perlindungan (protection), unsur visual, fungsi, susunan dan kontrol terhadap lingkungan yang harus bebas dari polusi, kebisingan, kecelakaan, dan krimonologi;

c. Tingkatan yang ketiga adalah menciptakan lingkungan sosial yang kondusif. Suatu tempat yang penghuninya mempunyai pertumbuhan yang baik, anak-anak mereka bisa saling mengadakan sosialisasi, mereka merasa sebagai bagian dari komunitas dan merasa memiliki terhadap lingkungannya;

d. Tingkatan yang keempat, bahwa fasilitas kota harus memberikan kesan yang cocok (appropriate image), reputasi yang baik serta gengsi yang dapat menggambarkan penghuninya. Disamping dapat memberikan rasa percaya diri yang kuat, status dan martabat yang tinggi bagi mereka;

e. Pada tingkat di atasanya (kelima), fasilitas kota harus dapat memberi kesempatan penghuninya untuk berkreasi sendiri, membentuk ruang pribadi yang mengekspresikan pribadi mereka. Disamping itu secara bersama mereka juga dapat menciptakan daerah dan lingkungannya sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi mereka sendiri;

f. Tingkat yang terakhir, bahwa fasilitas kota harus berupa karya desain yang baik, sebagai tempat yang estetis, secara fisik dapat memberi kesan yang mendalam, merupakan suatu tempat budaya dan karya seni yang bermutu.

Dalam sejarah perkembangan kota menunjukkan bahwa kebutuhan fasilitas kota tersebut tidak pernah terpenuhi secara menyeluruh. Tuntutan kebutuhan kualitas hidup manusia senantiasa meningkat seiring dengan perubahan tingkat sosialnya. Semakin meningkat taraf hidup manusia semakin tinggi tuntutan kebutuhan kualitas hidupnya. Sementara itu, tingkat sosial dan taraf hidup manusia sangat ditentukan oleh eksistensi dan stabilitas aktivitas perekonominya yang dapat diperoleh melalui penciptaan

(25)

peluang-peluang lapangan kerja di suatu wilayah yang didasarkan pada kemampuan wilayah tersebut untuk menggali dan mengangkat ketertarikan dan keunggulan (potensi) yang dimiliki dalam orientasi pembangunannya.

Berdasarkan uraian tingkatan kebutuhan dasar tersebut, maka dapatlah dirumuskan tingkatan kebutuhan warga kota sebagai bentuk kelompok variabel-variabel yang menjadi dasar pertimbangan dalam pelaksanaan penelitian ini, dengan tingkatan sebagai berikut :

1. Kebutuhan Dasar Utama (Primer), adalah tingkat kebutuhan paling dasar bagi warga kota untuk pertahanan dan kelangsungan hidupnya dengan rasa aman, nyaman, serta mendapat jaminan kesalamatan dan perlindungan, yaitu: kebutuhan akan sandang pangan, tempat tinggal, tempat bekerja, pendidikan, dan pendapatan yang memadai, serta fasilitas-fasilitas pelayanan kota seperti transportasi, kesehatan, komunikasi dan bebas dari ancaman atau gangguan kriminal;

2. Kebutuhan Dasar Pendukung (Sekunder), adalah bentuk kebutuhan warga kota untuk mendapatkan fasilitas kota yang memberikan kesan cocok, reputasi yang baik dan bergengsi, sehingga warga kota merasa di perhatikan, dicintai dan dihargai, serta memberi kesempatan bagi warga kota hidup bersosialisasi dengan baik dan merasa sebagai bagian dari komunitas yang memiliki kepedulian terhadap lingkungannya;

Kebutuhan Dasar Pelengkap (Tersier), adalah bentuk kebutuhan warga kota untuk mendapatkan fasilitas kota yang memberikan rasa percaya diri yang kuat dalam upaya mengembangkan diri, berkarya, dan menyalurkan kapasitas kemampuan sesuai status, martabat dan pengalaman spiritual (peak experience) yang dimiliki.

2.4. Kualitas Lingkungan Kota

Kota merupakan pusat kreativitas, budaya, dan perjuangan keras manusia. Kota, selain merefleksikan vitalitas dan berbagai peluang umat manusia, juga melambangkan kemajuan sosial ekonomi. Kota juga merupakan tempat pemusatan atau cabang kekuatan politik dan ekonomi serta menjadi motor pembangunan dan pertumbuhan ekonomi (Inoguchi, et.al., 2003).

Pembangunan yang pesat di kota-kota yang sedang berkembang sering mengacu pada kota-kota besar di negara maju, serta tunduk pada kekuasaan ekonomi kuat. Sebagian besar masyarakat umum, penghuni kota, menjadi pelengkap penyerta yang

(26)

terbawa arus pembangunan. Perubahan akibat pembangunan cenderung membentuk lingkungan kota yang seragam dan tidak memiliki identitas khas. Akibatnya masyarakat kehilangan pegangan untuk mengenali lingkungan. Pengenalan lingkungan yang terbatas mengakibatkan keterbatasan dalam memanfaatkan lingkungan kota (Raksadjaja, 1999).

Kota yang sedang berkembang pada umumnya berusaha untuk mengembangkan dirinya dari suatu keadaan dan sifat masyarakat tradisional dengan keadaan ekonomi terbelakang, menuju ke arah keadaan yang lebih baik. Dalam hal ekonomi, ditujukan untuk mendapatkan kesejahteraan dan tingkat ekonomi yang lebih baik. Akan tetapi perhatian terhadap pembangunan ekonomi saja tidak akan memberikan jaminan untuk suatu proses pembangunan yang stabil dan berkelanjutan apabila mengabaikan aspek lain seperti lingkungan (Tjokroamidjojo, 1995).

Selain itu, perkembangan kota di negara kita juga dicirikan oleh semakin berperannya masyarakat dan dunia usaha dalam mengarahkan kegiatan pembangunan perkotaan. Hal ini merupakan salah satu penyebab di samping pengaruh globalisasi, mengapa dinamika perubahan pembangunan perkotaan begitu cepat, sehingga prasarana, sarana dan pelayanan kota yang ada tidak dapat memenuhi kebutuhan. Demikian juga pemanfaatan sumber daya alam seperti air, lahan dan energi cenderung dilakukan tanpa rencana yang menyeluruh dan kurang efisien sehingga dapat mengancam kelestarian lingkuangan dan keberlanjutan pembangunan (Budihardjo, 1997).

Tujuan yang ingin dicapai dengan pembangunan berkelanjutan adalah menggeser titik berat pembangunan dari hanya pembangunan ekonomi menjadi juga mencakup pembangunan sosial-budaya dan lingkungan (Keraf, 2002). Dalam konsep dasar pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan ada dua aspek penting yang menjadi perhatian utama yaitu lingkungan dan pembangunan. Oleh karena itu, pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan berarti pembangunan yang baik dari titik pandang ekologi atau lingkungan. Berwawasan lingkungan juga berarti adanya keharmonisan dalam hubungan manusia dan alam atau lebih spesifik antara manusia dan lingkungan fisiknya (Yakin, 1997).

Kota memang terbentuk dari perangkat keras lingkungan fisik seperti bangunan, jalan dan infrastruktur, tetapi yang menghidupkan kota itu sendiri adalah manusia dengan segenap perilakunya. Ada hubungan erat antara kota (city) dan warga kota (citizen) yang

(27)

sering kali terlupakan dalam proses perkembangan kota dan peningkatan kualitas lingkungannya (Budihardjo, 1993).

Pertumbuhan kota – kota berlangsung pesat karena pembangunan sarana dan prasarana di berbagai bidang serta fasilitas kota dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Di satu sisi, pertumbuhan ini cukup membanggakan jika keberhasilan pembangunan diukur dari segi fisik kota, namun hal ini diharapkan juga akan membawa dampak positif bagi kualitas lingkungan kota dan masyarakat kota itu sendiri, terutama dari aspek psikisnya.

Pemahaman tentang kualitas lingkungan dapat diartikan sebagai keadaan lingkungan yang dapat memberikan daya dukung yang optimal bagi kelangsungan hidup manusia di suatu wilayah. Kualitas lingkungan itu dicirikan antara lain dari suasana yang membuat orang betah/kerasan tinggal ditempatnya sendiri. Berbagai keperluan hidup terpenuhi dari kebutuhan dasar/fisik seperti makan minum, perumahan sampai kebutuhan rohani/spiritual seperti pendidikan, rasa aman, ibadah dan sebagainya (Pustekkom, 2005). Keberadaan suatu kota tidak dapat dilepaskan dari masalah-masalah lingkungan seperti keterbatasan lahan, polusi air, udara dan suara, sistem sanitasi yang buruk, dan kondisi perumahan yang tidak memadai serta masalah transportasi. Lebih lanjut, persoalan lingkungan kota juga mempunyai implikasi yang kompleks, terutama berkaitan dengan persoalan sosial ekonomi masyarakat kota. Lingkungan kota yang kurang baik dan sehat memicu berkembangnya berbagai persoalan sosial kota, baik menyangkut kriminalitas kota, persoalan psikologis penduduk kota, kemiskinan, serta konflik-konflik sosial lainnya.

Selain itu, pertumbuhan kegiatan ekonomi dan pembangunan yang terpusat pada daerah perkotaan, juga memacu arus urbanisasi sehingga berpengaruh terhadap penyebaran penduduk. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan luas lahan yang terbatas akan berakibat terhadap menurunnya kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Permasalahan lain yang timbul akibat adanya pertambahan jumlah penduduk diantaranya adalah terjadinya penurunan kualitas lingkungan yang diakibatkan dengan terjadinya penurunan kualitas udara oleh adanya kegiatan industri dan transportasi.

Bertambahnya tingkat pertumbuhan penduduk juga merupakan dampak dari suatu perubahan kota yang menunjukkan banyaknya aktivitas yang terjadi di dalam kota

(28)

tersebut yang pada akhirnya membutuhkan lahan yang banyak untuk pemukiman. Perkembangan kota juga akan mengakibatkan konversi terhadap lahan-lahan hijau, sehingga peran lahan hijau tersebut menjadi prioritas yang terakhir dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kota. Ketiga kelompok tersebut yaitu kegiatan industri, perdagangan dan jasa berpengaruh terhadap perekonomian, pemukiman serta konversi lahan-lahan hijau akan menimbulkan dampak-dampak perubahan yang negatif dari keadaan sebelumnya terhadap lingkungan, hal ini tentu akan menimbulkan masalah-masalah baru terhadap lingkungan yang akan berpengaruh terhadap kualitas lingkungan.

Penilaian terhadap kualitas lingkungan kota dapat dilihat dari beberapa pertimbangan berdasarkan perumusan terhadap Pedoman Umum Penyusunan Status Lingkungan Hidup (SLH) yang difokuskan pada aspek fisik lingkungan permukiman kota (2008), antara lain :

a. Terjadinya alih fungsi lahan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH);

b. Pola pertumbuhan dan penyebaran permukiman yang tidak teratur (sprawl), kumuh (slums settlements) dan liar (squatter settlements);

c. Akses penduduk terhadap infrastruktur permukiman (air, energi/ listrik, prasarana sanitasi seperti MCK, dan lain sebagainya.);

d. Timbulan sampah, persoalan produksi limbah B3, serta pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Fenomena tersebut dapat menjelaskan bahwasanya saat ini kualitas lingkungan kota cenderung menurun akibat pembangunan yang tidak terencana dengan baik serta tidak memperhatikan keberlangsungan lingkungan hidup. Selain itu, pembinaan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan masih sangat kurang, sehingga berpengaruh pada perilaku mereka terhadap lingkungan di sekitarnya. Sebagian masyarakat cenderung terlena dan dimanjakan oleh penyediaan fasilitas dan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Namun mereka tidak mempunyai rasa memiliki dan tanggung jawab (sanse of belongin & responsibility) terhadap lingkungan, sehingga tidak perduli untuk menjaga, memelihara dan merawat lingkungan.

Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya untuk menanggulangi kerusakan lingkungan akibat dari permasalahan-permasalahan lingkungan yang ditimbulkan. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi kerusakan lingkungan perkotaan adalah dengan meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dan segenap stakeholders

(29)

selaku warga kota yang tinggal dan hidup di kota tersebut. Dengan demikian, membangun kota tidak hanya dilakukan secara fisik, tapi juga membangun mental warganya untuk peduli pada kualitas lingkungan, minimal pada lingkungan di sekitar tempat tinggalnya atau tempatnya beraktivitas sehari-hari.

Tingkat kesadaran dan partisipasi warga kota akan sangat tergantung kepada seberapa besar kemampuan warga untuk dapat mengenal keberadaan suatu kota dalam memenuhi kebutuhan mereka secara laik dan berkelanjutan. Kemampuan ini sangat terkait dengan upaya pengungkapan identitas kota berdasarkan fungsi dan tatanan kehidupannya untuk memberikan peluang dan kemudahan kepada warganya dalam mengakses informasi dan inovasi lapangan kerja, serta meningkatkan ketersediaan pelayanan prasarana dan sarana kota secara merata agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Selain pertimbangan berdasarkan perumusan terhadap Pedoman Umum Penyusunan Status Lingkungan Hidup (SLH) tersebut, penilaian kualitas lingkungan suatu kota dapat pula dilihat dari aspek pembentukan lingkungan binaannya. Hal ini dikarenakan pembentukan lingkungan binaan akan sangat terkait dengan aktivitas warga kota dalam melakukan pengaturan terhadap lingkungan sesuai dengan pemahaman dan kebutuhannya.

Noberg-Schulz (1980) dalam bukunya Genius Loci mengemukakan bahwa ada tiga langkah utama yang dilakukan manusia untuk membentuk lingkungan binaannya, yaitu :

a. Pertama manusia ingin mewujudkan atau mengatur lingkungannya sesuai dengan pemahamannya terhadap lingkungan sekitarnya;

b. Kedua manusia terdorong untuk menyempurnakan bagian yang dianggap kurang sempurna, sehingga mencapai taraf yang memuaskan atau yang dianggapnya “sesuai”;

c. Ketiga manusia cenderung melakukan “simbolisasi” untuk mengangkat pemahamannya ke level yang lebih umum, melalui sarana (medium) yang baru. Melalui ketiga langkah inilah, makna suatu tempat itu tercipta. Jadi tujuan utama manusia dalam mengendalikan lingkungan binaannya adalah mengubah suatu lahan menjadi suatu tempat. “Tempat” semacam itulah yang melahirkan jatidiri atau mempunyai ciri tempat, atau tempat yang memiliki “roh”.

(30)

Pernyataan Noberg-Schulz tersebut memang menunjukkan suatu situasi yang ideal sekali. Tapi dalam kenyataannya tidak semua “tempat” di belahan bumi ini masyaraktnya bisa mengatur lingkungan sesuai dengan pemahamannya terhadap lingkungan sekitarnya. Sebab di sebagian besar kota-kota di Asia Tenggara pada umumnya dan Indonesia khususnya yang pernah mengalami masa penjajahan oleh bangsa Eropa (abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-20) mewujudkan lingkungannya pada masa penjajahan yang sesuai dengan pemahamannya, merupakan sesuatu yang mustahil. Donggala adalah salah satu contoh kota pelabuhan, dimana untuk monopoli kepentingan ekonomi, penjajah memakai cara politik dan militer untuk memaksakan kehendaknya. Sebagai akibatnya maka bentuk dan wajah kotanya sampai sekarang masih sangat dipengaruhi oleh kebijakan perencanaan dimasa lalu tersebut.

Oleh karena itu, untuk memahami identitas suatu kota dalam konteks peningkatan kualitas lingkungan kota perlu kiranya diketahui terlebih dahulu karakter yang melahirkan jatidiri atau mempunyai ciri tempat, atau tempat yang memiliki “roh” bagi kota tersebut. Karakter kota yang dimaksud disini adalah tampilan lingkungan binaan yang membedakan atau memberi ciri khas pada wujud “nuansa” lingkungan kotanya, yang dipengaruhi oleh faktor kondisi alami, budaya, sosial, ekonomi dan pengaturan elemen-elemen atribut kota, serta merupakan akumulasi produk-produk dari pengambilan keputusan banyak pihak dalam kurun waktu tertentu.

Karakter suatu kota dalam perancangan kota sebelumnya telah dijelaskan oleh Trancik (1986) dalam place theory bahwa pemahaman tentang kultur dan karakter suatu daerah yang ada dan telah menjadi ciri khas untuk dipakai sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menciptakan lingkungan, agar penghuni tidak merasa asing.

Karakter suatu kota diperlukan untuk memberikan pemahaman tentang identitas suatu kota, sesuai dengan potensi yang ada. Dalam hal ini, karakter merupakan jiwa, perwujudan watak baik secara fisik maupun non-fisik, yang memberikan suatu citra dan identitas suatu kota. (Budiharjo, 1991). Atau pertimbangan tentang locus solus oleh Norberg-Schulz (1980), bahwa untuk menghindarkan ketunggalrupaan, maka faktor lingkungan (milleu) dan sense of place suatu daerah harus dipertahankan.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dijelaskan bahwasanya faktor lingkungan (milleu) kota merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan identitas kota dan perilaku warga kota dalam menjalani aktivitas dan kelangsungan hidupnya. Untuk

(31)

memenuhi dan menjaga kelangsungan hidup manusia dan kualitas lingkungannya, maka upaya pelestarian dan pemanfaatan lingkungan, baik lingkungan alami, maupun lingkungan binaan, secara berkelanjutan menjadi mutlak adanya.

(32)

BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapatlah dikemukakan tujuan penelitian sebagai berikut :

a. Mendeskripsikan kronologis perkembangan kota Donggala sebagai gambaran komprehensif dan pencerminan yang melatarbelakangi pengungkapan identitasnya;

b. Mendeskripsikan pengungkapan identitas kota Donggala berdasarkan aspek-aspek pembentuk identitas kota yang terintegrasi sebagai gambaran keunikan dan ciri khas yang dimilikinya;

c. Mengetahui hubungan tingkat kebutuhan warga kota dengan pengungkapan identitas kota Donggala;

d. Mengetahui hubungan kualitas lingkungan kota dengan pengungkapan identitas kota Donggala;

e. Mengetahui hubungan tingkat kebutuhan warga kota dan kualitas lingkungannya secara bersama-sama dengan pengungkapan identitas kota Donggala.

3.2. Manfaatn Penelitian

Seiring dengan tujuan yang ingin dicapai, maka manfaat yang diharapkan dari penelitian ini mencakup dalam dua aspek yaitu :

3.2.1. Aspek Akademis

Secara akademis penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan sumber acuan (referensi), khususnya yang terkait dengan bidang arsitektur dan perencanaan kota. Selain itu, penelitian ini diharapkan juga dapat bermanfaat karena merupakan salah satu contoh pengembangan penelitian perkotaan dengan pendekatan gambaran tatanan kehidupan kota dalam pemaknaan elemen-elemen identitas kota, serta merupakan sebuah upaya penulisan proses perkembangan daerah perkotaan di Indonesia, sehingga dapat lebih memperkaya khazanah ilmu pengetahuan di bidangnya.

(33)

3.2.2. Aspek Praktis

Sebagai masukan bagi pemerintah daerah setempat dalam upaya memahami orientasi perencanaan, pembangunan dan pengembangan kota Donggala berdasarkan pengungkapan dan pemaknaan identitas kota sesuai dengan gambaran keunikan dan karakterisitik tatanan kehidupan kota yang dimilikinya secara terintegrasi.

Selain itu, penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi praktisi dan peneliti dalam upaya pengungkapan dan pemaknaan identitas kota dengan karakterisik wilayah yang berbeda.

(34)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis dan Desain Penelitian

Sesuai dengan permasalahan dan tujuan akhir penelitiannya, maka jenis studi ini lebih menekankan pada desain “penelitian deskriptif dan ekplanatif” yang lebih bersifat mengkaji, menjelaskan dan mengungkapkan fenomena (descriptive and explanative research) yang dilaksanakan dengan menggunakan metode studi kasus (case study) yakni memberikan gambaran secara menyeluruh tentang latar belakang, sifat-sifat, serta karakter-karakter yang khas dari kasus untuk dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Unit analisis adalah warga kota Donggala yang memiliki pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang kota Donggala, terutama warga yang telah lama atau turun temurun berdomisili di kota tersebut. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

4.2. Lingkup dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini lebih menitiberatkan pada pengkajian dan penjelasan fenomena (explanative research) untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana tanggapan dan pendapat responden di daerah penelitian dalam pengungkapan identitas kota Donggala berdasarkan gambaran ciri khas dan keunikan aspek-aspek yang membentuknya secara lebih terintegrasi, serta menjelaskan pula bagaimana hubungan tingkat kebutuhan warga kota dan kualitas lingkungannya dengan identitas kota Donggala yang terbentuk tersebut.

Dengan demikian, lingkup penelitian ini mencakup identifikasi tanggapan dan pendapat responden secara internal melalui bantuan lembar kuesioner tentang beberapa hal yang berkaitan dengan tingkat kebutuhan warga, kualitas lingkungan dan pemaknaan identitas kota yang dijadikan sebagai landasan variabel dan indikator bagi pembahasan dan analisis penelitian.

Wilayah penelitian dibatasi pada daerah Kota Donggala Tua meliputi 6 (enam) kelurahan yaitu : Kelurahan Boya, Kelurahan Maleni, Kelurahan Ganti, Kelurahan Labuan Bajo, Kelurahan Gunung Bale, dan Kelurahan Tanjung Batu, yang merupakan bagian dari daerah Kecamatan Banawa. Dipilihnya 6 (enam) kelurahan ini dikarenakan

(35)

eksistensi ruangnya mempunyai keterkaitan erat dengan perkembangan pembentukan Kota Donggala, terutama pada masa pemerintahan Kerajaan Banawa dan Kolonial Belanda, serta keberadaan Pelabuhan Donggala sebagai simpul dan pemicu perkembangan Kota Donggala.

4.3. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berdomisili di Kota Donggala meliputi enam kelurahan yang berjumlah ±18.380 jiwa berdasarkan data Kecamatan Banawa Dalam Angka Tahun 2013. Memperhatikan penyataan Arikunto tersebut, karena jumlah populasi di lokasi penelitian lebih dari 100 orang, maka penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampel acak (random sampling) yang didasarkan oleh pertimbangan dan kriteria unit analisis tertentu (purposive) sesuai dengan tujuan penelitian. Sedangkan teknik pengambilan sampel mengunakan rumus dari Taro Yamane atau Slovin (dalam Ridwan, 2007) sebagai berikut :

𝐧 =

𝐍

𝐍. 𝒅

𝟐

− 𝟏

Keterangan :

𝐧

= Jumlah Sampel

𝐍

= Jumlah Populasi = 18.380

𝒅

𝟐 = Presisi (ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 95%)

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel sebagai berikut :

𝐧 =

𝟏𝟖.𝟑𝟖𝟎

(𝟏𝟖.𝟑𝟖𝟎).𝟎,𝟏𝟐− 𝟏 =

𝟏𝟖.𝟑𝟖𝟎

𝟏𝟖𝟐,𝟖 = 100,54 ≈ 101 responden

Perhitungan selanjutnya yaitu membagi responden secara proporsional ke enam kawasan penelitian, yaitu Kelurahan Boya = 20 responden, Kelurahan Maleni = 14 responden, Kelurahan Ganti = 21 responden, Kelurahan Labuan Bajo = 14 responden, Kelurahan Gunung Bale = 16 responden, dan Kelurahan Tanjung Batu = 16 responden. 4.4. Jenis dan Sumber Data

Jenis data penelitian yang dikumpulkan dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang berbentuk kalimat, kata atau gambar (peta, foto, dan visualisasi lainnya). Sedangkan data

(36)

kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan (skoring) (Sugiyono, 2004).

Sesuai dengan desain dan analisis data penelitian yang telah dikemukan di atas, maka jenis data yang akan dikumpulkan dalam pelaksanaan penelitian ini terdiri atas data kuantitatif berupa data yang dihasilkan dari penyebaran kuesioner dengan menggunakan pengukuran skala likert, dan data kualitatif berupa informasi dari masyarakat, tokoh-tokoh kunci, instansi-instansi, dokumen-dokumen perencanaan dan peta-peta, gambar-gambar atau foto, serta didukung pula oleh literatur-literatur yang terkait dengan lingkup penelitian.

Selanjutnya, berdasarkan sumber datanya, pengumpulan data penelitian dapat dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer (primary data) merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari lapangan dengan alat bantu berupa lembar kuesioner. Sedangkan Data sekunder (secondary data) merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara, meliputi semua data yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti, yang telah ditulis dan telah dikumpulkan oleh para peneliti atau penulis dan instansi-instansi, baik secara langsung maupun tidak langsung (Indriantoro, 2002).

4.5. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dalam pelaksanaan penelitian ini akan menggunakan beberapa teknik atau metoda, yaitu : pengamatan langsung (observation), wawancara (interview), kuesioner dan teknik dokumentasi. Secara lebih rinci teknik-teknik pengumpulan data ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Pengamatan Langsung (Observation), ialah suatu teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian yang merupakan sumber data, sehingga data yang diperoleh benar-benar bersifat obyektif (Nazir, 1988). Selain itu, observasi lapangan ini juga untuk memperoleh tingkat akurasi dan validitas terhadap data-data hasil survey instansional.

Obsevasi langsung ke lapangan untuk melakukan pengecekan, pengontrolan, pengalokasian, penghitungan maupun pengukuran, guna memperoleh data yang lebih akurat.

(37)

peneliti melakukan wawancara langsung dengan obyek yang diteliti. Wawancara dilakukan untuk mendapat berbagai informasi menyangkut masalah yang diajukan dalam penelitian. Wawancara dilakukan kepada informan yang dianggap menguasai masalah (key person).

c. Kuesioner (Questionnaire), merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut “angket” berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan presepsinya.

d. Studi Dokumenter (documentary study), ialah suatu teknik pengumpulan data dengan mempergunakan data-data yang ada dalam dokumen instansi. Peneliti akan mengumpulkan data dengan cara dan mempelajari dokumen serta arsip ataupun catatan penting lainnya yang berkaitan erat dengan obyek penelitian. 4.6. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan dan kerangka pikir yang dikembangkan dalam penelitian ini, maka dapatlah dikemukakan hipotesis penelitian dengan dugaan : a. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemenuhan tingkat kebutuhan warga

kota dengan pengungkapan identitas kota;

b. Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas lingkungan kota dengan pengungkapan identitas kota;

c. Terdapat hubungan yang signifikan antara pemenuhan tingkat kebutuhan warga kota dan kualitas lingkungannya secara bersama-sama dengan pengungkapan identitas kota.

4.7. Validitas dan Reliabilitas Data

Dalam penelitian, keampuhan instrumen penelitian (valid dan reliabel) merupakan hal yang penting dalam pengumpulan data. Karena data yang benar sangat menentukan bermutu tidaknya hasil penelitian. Sedangkan benar tidaknya data tergantung dari benar tidaknya instrumen pengumpulan data (Riduwan, 2007).

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang benar mempunyai validitas tinggi dan sebaliknya bila

(38)

tingkat validitasnya rendah maka instrumen tersebut kurang benar. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang hendak diukur/diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti.

Sedangkan reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah dianggap baik. Instrumen yang baik tidak bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Reliabel artinya dapat dipercaya juga dapat diandalkan.

Uji validitas dan reliabilitas alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner tentang pengungkapan identitas kota, tingkat kebutuhan warga kota dan kualitas lingkungan kota. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen kuesioner, dan untuk memperoleh data yang valid dan reliabel dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen tersebut dengan bantuan program SPSS versi 15 for Windows.

Untuk mengetahui tingkat validitas dapat dilihat angka Correted Item-Total Correlation pada kotak Reliability Analysis dalam program SPSS versi 15 for Windows, yang merupakan korelasi antar skor item dengan skor total item (nilai r hitung) di

bandingkan dengan nilai r tabel. Jika nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel (r hitung > r tabel),

maka item tersebut adalah valid.

Sementara untuk pengujian realibilitas kita lihat dari nilai korelasi Gutman Split-Half Coefficient yang dibandingkan dengan nilai r tabel. Bila nilai Gutman Split-Half

Coefficient lebih besar dari r tabel, maka dapat disimpulkan bahwa angket atau kuesioner

tersebut reliabel.

4.8. Teknik Analisis Data

Dalam uraian analisis data ini akan dikemukakan langkah-langkah dan beberapa teknik analisis yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang telah dirumuskan. Secara lebih rinci langkah-langkah dan teknik analisis yang dilakukan dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif (descriptive analysis) digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian pada perumusan masalah penelitian point a dan b.

(39)

dibuat baik sendiri maupun kelompok. Analisis deskriptif bertujuan untuk membuat gambaran secara sistematis data yang faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar fenomena yang diselidiki atau diteliti. Selain itu, analisis deskriptif juga menjelaskan obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya dengan menggunakan teknik penyajian data sesuai kaidah-kaidah pada statistik deskriptif. Selain itu, teknik analisis deskriptif dalam penelitian ini digunakan pula untuk menjelaskan kronologis perkembangan kota sebagai suatu landasan yang melatarbelakangi pencerminan identitas kota berdasarkan keunikan dan ciri khas yang dimilikinya.

Sedangkan untuk mendapatkan hasil analisis deskripsi yang lebih baik diperlukan bahan-bahan dari studi literatur dan dokumenter yang nantinya dapat melengkapi data-data yang diperoleh dari data-data lapangan.

b. Analisis Korelasi

Analisis korelasi (correlation analysis) digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian pada perumusan masalah point c, d, dan e serta hipotesis penelitian point a, b, dan c.

Analisis korelasi bertujuan untuk menjelaskan ada tidaknya atau signifikansi hubungan antara variabel kuantitatif X dan Y, dan bukan untuk menaksir atau meramalkan nilai Y dari pengetahuan mengenai variabel bebas X seperti yang dilakukan pada analisis regresi (Tiro, 2002). Atau dengan kata lain, pada analisis korelasi tidak mengenal istilah variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variabel).

Analisis korelasi digunakan untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasinya. Dengan analisis ini maka akan dihasilkan antara lain : 1) identifikasi hubungan antara faktor satu dengan lainnya; 2) tinggi rendahnya saling keterkaitan hubungan tersebut, dan 3) menguji dan mengembangkan koefisien korelasi.

Teknik korelasi yang digunakan adalah analisis Korelasi Pearson Product Moment dan korelasi ganda (multiple correlation) yang mempunyai persyaratan yaitu : 1) sampel dipilih secara random; 2) mempunyai pasangan yang sama; 3) data berdistribusi normal; dan 4) data berpola linier. Terkait pula dengan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui tingkat signifikansi hubungan, maka analisis korelasi ini akan

Gambar

Gambar 1. Piramida Hirarki Kebutuhan Manusia Menurut Teori Maslow
Gambar 2.   Bagan Alir Kegiatan Penelitian Tahun Pertama dan Kedua

Referensi

Dokumen terkait

Aplikasi e-label batik mampu memberikan dukungan penerapan Peraturan Daerah Kota PekalonganNomor 6 Tahun 2014 di lapangan, dan label “Batik Pekalongan” yang

Dalam analisis SWOT dilakukan perbandingan antara.. faktor-faktor strategi internal maupun eksternal untuk memperoleh strategi terhadap masing-masing faktor

Kami menyimpulkan bahwa pelayanan pajak, sanksi pajak, dan kesadaran wajib pajak masing-masing juga berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Variabel

Instrumen pre test ini dikembangkan oleh peneliti dengan maksud untuk mengetahui tingkat implementasi layanan bimbingan dan konseling bagi peserta didik tentang

Namun, di sisi lainnya media dapat digunakan sebagai alat resistensi terhadap kekuasaan karena dapat menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi.14 Dalam penelitian ini,

Pada Tanggal Jatuh Tempo yaitu dimana seluruh Efek Bersifat Utang yang menjadi basis proteksi dalam portofolio investasi BATAVIA PROTEKSI MAXIMA 11 telah jatuh tempo,

Pada era Jaminan Kesehatan Nasional saat ini menjadikan Apotek sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih sering dikunjungi oleh masyarakat pada saat

• Input SELECT membuat cell dapat digunakan untuk reading atau writing • Read/write menentukan jenis operasi yang akan dilakukan oleh cell • Input digunakan untuk memasukkan