DAKWAH DAN KESALEHAN SOSIAL:
KIPRAH DAKWAH ROOSTIEN ILYAS
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom. I)
Oleh :
EDY PRIYANTO NIM. 108051000035
JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
Assalamu’ alaikum Wr. Wb.
Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah penulis skripsi yang berjudul “Dakwah dan
Kesalehan Sosial : Kiprah Dakwah Roostein Ilyas”, dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan gelar sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan dalam
bentuk referensi, baik footnote, maupun daftar pustaka, sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan merupakan karya asli atau
duplikasi karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Demikian lembar pernyataan ini dibuat, sehingga dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Jakarta, 29 Juni 2015
Edy Priyanto
ii ABSTRAK Nama : Edy Priyanto
NIM : 108051000035
Dakwah dan Kesalehan Sosial : Kiprah Dakwah Roostien Ilyas
Rasullulah Saw telah berhasil mengembangkan agama Islam ke seluruh penjuru dunia. Beliau dalam mengembangkan agama Islam, mendapat tantangan yang amat keras. Kemudian dunia menyaksikan bahwa dalam waktu yang relatif singkat dunia telah melihat agama Islam merambah wilayah Arab, lalu menyusuri wilayah Asia, Afrika, bahkan Eropa. Tidak hanya laki-laki peran perempuanpun hadir pada setiap zaman dengan kecantikan, perjuangan, keperkasaan, dan kekuasaan. Abadi dalam ingatan khalayak. Khadijah istri Nabi contohnya, kontribusinya pada awal Islam sangatlah berpengaruh besar. Bukan hanya mengimani Islam, namun dia terjun langsung dalam membantu Rasul. Jiwa, raga, serta hartanya disumbangkan untuk Islam. Inilah bentuk kesalehan yang hakiki. Mengikuti jejak Nabi sosok Roostien Ilyas hadir. Perempuan yang bergerak di bidang sosial khususnya pendampingan anak-anak jalanan. Terfokus hanya pada acara Pesantren Ramadhan anak-anak jalanan. Ia bertahun-tahun mengelola Pesantren Ramadhan anak-anak jalanan.
Dari pernyataan di atas maka muncul pertanyaan : Bagaimana kiprah dakwah Roostien Ilyas melalui Pesantren Ramadhan anak jalanan? Bagaimana hasil dakwah Roostien Ilyas melalui Pesantren Ramadhan anak jalanan? Serta apa saja faktor pendukung dan penghambat dakwah Roostien Ilyas melalui Pesantren Ramadhan anak jalanan?
Di dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penulis menggambarkan secara faktual apa yang dilihat dan ditemukan dari objek penelitian dan menuangkannya ke dalam tulisan. Metode ini juga didukung dari hasil wawancara dan studi dokumentasi yang dilakukan penulis kepada objek penelitian beserta tulisan-tulisan yang menyangkut dengan judul skripsi.
Kiprah dakwah yang dilakukan Roostien Ilyas adalah sebuah peroses penyampaian nilai-nilai keIslaman dengan menampakkan bentuk kesalehan sosial. Menanamkan pemahaman bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin bagi seluruh umat. Menuangkan ajaran Islam kepada yang belum tahu menjadi tahu, dan yang sudah tahu agar lebih mendalaminya. Perubahan menuju kebaikan itu menjadi sinyal positif atas gerakannya ini. Dengan sosok yang demikian cukup kiranya dia berjuang. Pendanaan adalah penghambat terbesar saat kita berjuang di ranah sosial.
iii
Kalimat syukur serta pujian-pujian agung yang suci hanya ingin penulis
persembahkan kepada Allah SWT. Karena atas segala anugerah dan kesempatan
yang diberikan kepada penulis sehingga skripsi berjudul “Dakwah dan Kesalehan Sosial : Kiprah Dakwah Roostien Ilyas” dapat selesai sesuai harapan.
Membuat sebuah karya tulis tentu melewati banyak fase kerumitan.
Namun fase-fase tersebut dapat penulis lewati dengan perjuangan sepenuh hati.
Karya ini tercipta berkat dukungan dari banyak pihak yang telah memberikan
kontribusi maksimal kepada penulis. Dengan segala kelebihan dan
kekurangannya, semoga karya tulis ini bermanfaat di kemudian hari.
Beberapa pihak sudah seyogyanya penulis sebut sebagai bentuk terima
kasih dan rasa takzim atas segala yang mereka berikan. Mereka yang sangat
berjasa pada pengerjaan skripsi ini adalah:
1. Dr. H. Arief Subhan, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi beserta Suparto, M.Ed, Ph.D selaku Wakil Dekan I,
Dr. Roudhonah, MA selaku Wakil Dekan II, dan Dr. Suhaimi, M.Si
selaku Wakil Dekan III.
2. Rahmat Baihaky, MA dan Fita Fathurokhmah, M.Si selaku Ketua
Jurusan dan Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
3. Dr. H. Ilyas Ismail, MA, sebagai dosen pembimbing skripsi dan dosen
pembimbing akademik saya yang sangat banyak membantu proses
penyelesaian penulisan skripsi ini. Seorang dosen yang membuat
iv
4. Bapak/ibu Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah mengajarkan ilmu yang tidak
ternilai kepada penulis. Semoga ilmu yang telah diberikan dapat
bermanfaat, khususnya bagi saya pribadi.
5. Ibu Roostien Ilyas, sebagai objek sekaligus narasumber penelitian ini.
Mba Evi, Bang Sambul, dan tim yang memudahkan saya
berkomunikasi dengan Bu Roostien. Terima kasih atas segala budi
baik serta tulus ikhlas yang telah Anda berikan, sehingga terlahir
sebuah karya tulis akhir ini.
6. Ayahku Sukamdi dan Ibuku Suharti, orang tua penulis yang selalu
memberikan doa dalam sujudnya, semangat dalam nasihatnya dan
motivasi yang selalu diberikan. Terima kasih juga kepada Umi
Habibah, seorang adik yang ikhlas menunggu lama kakaknya menjadi
sarjana.
7. Sungguh saya ucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabatku
Abraham Zakky Zulhazmi, Adi Sucipto, Didiet Hadi Ruswanto, A.
Hafidh Adli, Hagian Sukarna, Muhammad Sabki, Lukman Nul Hakim,
Zidney Ilmannafi Amson, Mursalin Achzari, Diah Megowati, Risalatul
Muawanah, dan Alm. Gunawan Laksono. Sahabatku yang selalu sabar
menemani, memberikan kontribusi, memotivasi, perhatian, dan selalu
mendengarkan keluh kesah penulis selama proses penyelesaian skripsi
ini.
8. Ucapan terima kasih yang mendalam kepada para penghuni Kelas
mahasiswa-v
Menjalani susah senang bersama, menanggung beban bersama, seperti
keluarga sendiri yang saling mendukung satu sama lain untuk tetap
teguh mencapai cita-cita yang kita harapkan.
9. Teman-teman di KMPLHK RANITA (Kelompok Mahasiswa Pecinta
Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan Kembara Insani Ibnu Battutah).
Terutama kepada kelompok seangkatan saya di RANITA, yang biasa
disebut BBB.
10.PMII KOMFAKDA.
11.Sahabat-sahabat KKN BADUY 2011.
12.Dan akhirnya, semua pihak yang telah turut membantu dalam
penyelesaian skripsi ini namun tidak dapat disebutkan satu persatu,
terima kasih. Semoga segala kebaikan yang tulus dari semua pihak
dapat di terima oleh Allah, serta mendapat balasan yang berlimpah
dari-Nya.
Jakarta, 29 Juni 2015
vii
A. Setting Sosial...43
B. Karya...46
C. Profil Yayasan Nanda Dian Nusantara ...51
BAB IV ANALISA KIPRAH DAKWAH ROOSTIEN ILYAS DALAM MEWUJUDKAN KESALEHAN SOSIAL A. Konsep Dakwah Roostien Ilyas...53
B. Kiprah Dakwah...60
a. Dakwah Bi Al-Qalam (Kitabah)………...……….……60
b. Dakwah Bil Hal………...………..60
C. Muatan Dakwah (Materi Dakwah) ...69
D. Faktor Pendukung dan Penghambat...70
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan...74
B. Saran...75
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sebagaimana diketahui bersama bahwa Rasullullah telah berhasil
mengembangkan agama Islam ke seluruh penjuru dunia. Beliau dalam
mengembangkan agama Islam, mendapat tantangan yang amat keras. Pada
kenyataannya melalui dakwah yang dikembangkan oleh Rasullullah, dunia Arab
yang pada waktu itu dalam suasana jahiliah kemudian berubah menjadi
masyarakat yang beriman dan bertauhid kepada Allah.1 Dakwah Rasul berhasil
membuat perubahan yang besar. Maka dalam ajaran Islam tidak akan lepas dari
kegiatan dakwah. Pada perkembangannya ilmu ini disebut ilmu dakwah.
Dakwah adalah terma yang terambil dari Al-Qur’an. Ada banyak ayat
yang di antara kata-kata yang digunakannya adalah dakwah, atau bentuk lain yang
akar katanya sama dengan akar kata dakwah, yaitu dal, ain, wawu. Menurut hasil penelitian, Al-Qur’an menyebutkan kata da’wah dan derivasinya sebanyak 198
kali, tersebar dalam 55 surat dan bertempat dalam 176 ayat. Ayat-ayat tersebut
sebagian besar (sebanyak 141 ayat) turun di Makkah, 30 ayat turun di Madinah
sebagai tempat turunnya, karena ada perbedaan pendapat tentang tempat turunnya
Surat al-Hajj (QS 22).2
Dakwah adalah setiap usaha atau aktivitas dengan lisan atau tulisan dan
lainnya, yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk
beriman dan mentaati Allah SWT, sesuai dengan garis-garis aqidah dan syari’at
1
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah (Jakarta: Amzah, 2009), cet 1, h. 17-18. 2
2
serta akhlak Islamiyah.3 Dakwah menyerukan kepada umat untuk kembali pada
nilai-nilai agama Islam secara maksimal, sehingga bisa dilakukan oleh siapapun,
di manapun, dan apapun profesinya. Baik dia seorang presiden, pengusaha,
politik, pendidik, petani, buruh, dan tukang becak sekalipun. Dakwah yang
merupakan titik berat di sini adalah menyangkut keseimbangan manusia dalam
bertindak. Ada dua perkara yaitu hablun minallah (hubungan kepada Allah) dan
hablun minannas (hubungan kepada manusia).
Dalam menyampaikan dakwah para da’i harus memiliki metode. Metode
ini berguna untuk memudahkan penyampaian dakwah. Metode dakwah secara
umum dibagi menjadi tiga, yaitu: dakwah bil lisan, dakwah bi al qolam, dan dakwah bil hal.
1. Dakwah bil lisan: Secara bahasa dakwah bil lisan berarti dakwah dengan menggunakan ucapan. Adapaun secara istilah, dakwah bil lisan adalah
memanggil, menyeru ke jalan Allah. Dakwah jenis ini adalah penyampaian
informasi atau pesan dakwah melalui lisan. contohnya : ceramah, diskusi.
2. Dakwah bi al qalam: Metode dakwah ini menggunakan keterampilan tulis menulis. Dakwah dengan metode ini mempunyai kelebihan tersendiri.
Yaitu dapat dimanfaatkan dalam waktu yang lebih lama serta
jangkauannya lebih luas. Karena sebuah karya akan terus bermanfaat dan
tidak akan musnah sekalipun penulisnya telah wafat.
3. Dakwah bil hal: Istilah dakwah bil hal dipergunakan untuk merujuk kegiatan dakwah melalui aksi atau tindakan atau perbuatan nyata. Metode
ini merupakan sebuah kerangka kerja kongkret dalam melaksanakan setiap
3
kerja dakwah dalam masyarakat, sehingga akan lebih efektif jika ditunjang
dengan konsep yang matang. Dakwah ini lebih berorientasi pada
pengembangan masyarakat.
Pada beberapa titik, dakwah akan bersinggungan dengan kegiatan sosial
kemasyarakatan. Sehingga nantinya muncul terma kesalehan sosial. Iman
merupakan simbol dari hal-hal yang bersifat ritual, sedangkan amal saleh
merupakan simbol dari amal sosial yang bersifat sosiologis. Ironisnya, kesalehan
sosial sering dilupakan dan orang lebih mementingkan kesalehan ritual, atau
kesalehan ritual dianggap lebih tinggi derajatnya dari kesalehan sosial. Orang
yang beribadah biasa-biasa saja tetapi ia aktif dalam berbagai aktivitas sosial, dan
memiliki kepedulian yang tinggi dengan situasi yang terjadi, sering kali masih
dianggap orang yang tingkat religiusitasnya rendah. Hal yang lebih naif lagi,
kedua dimensi ini (kesalehan sosial dan kesalehan ritual) sering dianggap tidak
memiliki hubungan apa-apa. Karena itu, orang yang rajin ibadah, yang setiap
tahun mengerjakan ibadah haji, namun mereka tidak mempunyai kepedulian
terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya banyak kita temui.
Dari perpektif ini, kita bisa memahami, sekalipun tempat ibadah
berkembang di mana-mana, kuantitas orang yang mengerjakan haji semakin
meningkat, majelis taklim tumbuh pesat di kantor-kantor, namun pada saat yang
sama korupsi juga semakin meningkat, kebocoran anggaran terjadi di mana-mana.
Ternyata hal demikian juga dilakukan oleh orang-orang yang secara ritual
4
lain-lain. Selain itu, kekerasan yang bersifat kultural dan struktural, eksploitasi
yang kuat terhadap yang lemah juga berkembang di mana-mana.4
Di Indonesia, sosok pekerja sosial amat banyak jumlahnya. Bahkan nyaris
tak terhitung. Akan tetapi yang tetap konsisten dan berada di wilayah keislaman
bisa dihitung dengan jari. Roostien Ilyas, satu dari jutaan manusia Indonesia yang
dedikasinya dalam bidang sosial sangat layak untuk diapresiasi. Pada pundak
perempuan kelahiran Sumenep, 22 Januari 1950 itu tersemat sebuah label pekerja
sosial. Sejak tahun 1989 ia telah terjun dalam kerja-kerja sosial yang diawali
dengan „mengasuh’ para pelacur di Kramat Tunggak. Pada saat itu, di Kramat
Tunggak ada 1.800 pelacur, hampir semuanya Cuma pendidikan SD. Mereka
umumnya berasal dari desa-desa miskin di kawasan Pantura (Pantai Utara Jawa).
Pada saat itu belum ada penanganan pelacuran secara komprehensif, yang
ada hanya sebatas penyediaan lokalisasi. Juga, belum ada penelitian seperti yang
pernah dilakukan oleh seorang mahasiswa Unair tentang kompleks pelacuran
Dolly di Surabaya. Untuk sementara, Roostien menggunakan asumsi, bahwa
pelacuran itu akibat masalah perut, atau konsekuensi dari problem kemiskinan.
Melarat itu masalah perut, kalau sudah melarat, sebagian dari mereka menjadi
pelacur. Berdasarkan asumsi ini, ia mulai bekerja, dengan menemui dan mengenal
para pelacur di Kramat Tunggak.
Kemudian Roostien merasa menemukan suatu teknik pendekatan
pemecahan masalah yaitu memberikan masukan kepada mereka dan
mengembangkan wacana untuk mencari jawaban mengenai untung-ruginya
menjadi pelacur. Dengan pendekatan ini wacana tentang dimensi-dimensi negatif
4
pelacuran sangat mereka pahami. Tetapi, bila masalah perut sudah berbicara, anak
harus dihidupi, dan sebagainya, pada akhirnya melacur tetap menjadi satu-satunya
pilihan. Sangat sulit melakukan perubahan, karena budaya mereka sudah berubah.
Dari budaya kemiskinan, berubah menjadi budaya konsumeristik. Masalah
pelacuran ternyata jauh lebih kompleks dan sulit dipecahkan dari pada yang
dibayangkan semula. Penanganannya tidak bisa hanya dengan sekadar
membangun wacana supaya para pelacur itu sadar, atau bahkan membubarkan
sama sekali keberadaan lokalisasi.5
Masa kerja pelacur di Kramat Tunggak sangatlah singkat. Pada kategori 13
hingga 20 tahun adalah masa efektif bagi mereka. Sedangkan 25 tahun keatas
sudah sangat turun nilainya. Dari kenyataan itulah seharusnya titik awal solusi
dapat dilakukan bagi mereka. Seringkali Roostien mengingatkan mereka, “kamu
itu ibarat mobil. Bukan mobil pribadi, tapi mobil yang dipakai beramai-ramai dan
tidak pernah diperbaiki. Kalau sudah rusak, ya sudah, dilempar saja di situ, di
Cililitan, jadi rongsokan besi tua. Kalau sudah tidak laku, terus kamu mau apa?”
Dengan menanamkan kesadaran seperti itu, Roostien berharap supaya
mereka mau belajar menjahit, atau belajar ini dan belajar itu, apa saja. Tetapi, kita
tidak bisa menyetop mereka dari kegiatan menjadi pelacur. Mereka mendapat
uang dari menjual diri. Kesadaran akan kehidupan hanya untuk hari ini. Esok hari
mau jadi apa, tidak perlu dipikirkan. Jadi, yang dapat diberikan hanyalah sekadar
keterampilan alternatif saja, sebagai persiapan kalau suatu saat mereka sudah tidak
laku lagi jadi pelacur.
5
6
Pengalaman lain menyangkut urusan agama. Kalau menyangkut ritual
agama, pelacur-pelacur itu sangat rajin. Salat, dan kegiatan doa mereka justru
lebih aktif dibandingkan “orang biasa.” Itu karena di hati kecilnya, mereka sudah
merasa bersalah. Jadi, aktivitas keagamaan mereka berangkat dari perasaan
berdosa itu. Suatu kali, Roostien mengirim mereka untuk ikut MTQ (Musabaqoh
Tilawah Qur’an) tingkat DKI. Pada waktu itu yang menjabat sebagai Gubernur
ialah Wiyogo. Salah seorang pelacur itu akhirnya menjadi juara harapan satu
MTQ tahun 1989.6
Roostien termasuk salah seorang yang menentang keras penggusuran
komplek Kramat Tunggak. Sebab ia beranggapan bahwa sampah saja butuh
tempat agar tidak berhamburan. Dengan menutup Kramat Tunggak sama halnya
dengan membiarkan pelacur-pelacur itu berhamburan menyebar kemana-mana
dan tidak terlokalisir. Mereka cenderung „jemput bola’ dan itu lebih berbahaya.
Beranjak dari Kramat Tunggak, Roostien menuju Kramat Jati. Ia percaya
bahwa mencegah lebih baik, dari pada mengobati. Sekian lama ia berpikir dan
akhirnya menemukan kesimpulan bahwa para pelacur menjual dirinya karena
faktor kemiskinan. Mereka tahu jika melacur merupakan sebuah dosa dan akan
dikucilkan di masyarakat. Tapi mereka tak punya pilihan lain. Melihat kenyataan
itu Roostien lalu memilih mengambil langkah preventif edukatif. Sebab ia merasa
rehabilitasi dan tindakan kuratif seolah hanya menangani ekornya saja. Renungan
tersebut membawanya pada pemikiran, barangkali penanganan masalah sosial
harus dilakukan sedini mungkin, yakni pada anak-anak.
6
Berangkat dari kesadaran menangani masalah harus dari hulu baru ke hilir,
Roostien pun penuh mengabdikan diri untuk menangani anak-anak jalanan.
Difokuskan kepada mereka yang bekerja di sektor informal dan masih pada usia
sekolah. Seiring waktu, berdirilah Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN).
Sebuah satuan tim kerja sekaligus payung yang senantiasa menaungi kemanapun
Roostien bergerak. Dibantu oleh orang-orang yang penuh dedikasi, Roostien
melakukan kerja-kerja pendampingan anak jalanan. Perkembangan selanjutnya,
Roostien menggelar acara Pesantren Ramadhan anak-anak jalanan setiap bulan
Ramadhan yang berlangsung rutin sejak 1998 hingga sekarang. Adapun Pesantren
Ramadhan untuk anak jalanan ini sudah menjadi brand tersendiri dari YNDN.7
Selama mengurus anak-anak jalanan, Roostien mendapat
kesadaran-kesadaran baru. Di antaranya menyangkut hubungan agama dengan orang-orang
pinggiran. Kiranya siapapun sepakat jika nilai-nilai agama perlu ditanamkan
kepada anak sejak dini. Namun bagi anak-anak jalanan pelajaran dan nilai-nilai
agama justru mereka jauhi. Alasannya sederhana: Mereka merasa Tuhan yang
menjauhi mereka. Tuhan hanya berpihak kepada orang-orang kaya, yang dalam
kacamata anak-anak mempunyai kehidupan yang mapan dan nyaman.
Mengapa pikiran seperti itu timbul di benak mereka? Mereka bukan hanya
melihat, tapi mengalami sendiri. Sehari-hari mereka tinggal di rumah yang bisa
digusur kapan saja. Sekolah mereka juga bukan sekolah–sekolah permanen di
mana mereka bisa tenang belajar. Sekolah mereka adalah sekolah alternatif yang
sewaktu-waktu dibubarkan oleh aparat yang merasa berwenang.
7
8
Sementara itu, rumah-rumah ibadah berdiri mewah. Satu sama lain seakan
berlomba untuk menjadi yang paling megah. Akan tetapi saat anak-anak itu
datang ke rumah ibadah, mereka mendapat cibiran, bahkan dihalau, seakan-akan
mereka akan mengotori tempat ibadah nan suci. Mereka melihat, orang-orang
datang ke tempat ibadah dengan pakaian bersih dan rapi, bahkan mahal. Belum
lagi aromanya yang wangi dan menyegarkan. Pemandangan seperti itu membuat
mereka berkesimpulan bahwa Tuhan itu jauh, bahwa ibadah itu mahal. Kenyataan
itulah yang membuat mereka mencari „tuhan-tuhan’ yang lain. Hal itu pula yang
selalu menjadi kegelisahan Roostien dan terus dilawannya.8
Apa yang dilakukan Roostien Ilyas selama ini adalah cermin kesalehan
sosial. Berdakwah di „jalanan’ seperti yang dikerjakan Roostien Ilyas memang
tidak mudah. Lantaran segala persoalan ada di dalamnya. Dalam pengertian yang
luas inilah, dakwah bukan hanya berkaitan dengan persoalan menambah jumlah
pemeluk Islam, akan tetapi yang paling utama adalah bagaimana dakwah dapat
berpihak pada nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.9 Roostien Ilyas
mempraktikkan hal tersebut.
Berangkat dari latar belakang di atas, penulis bermaksud menulis skripsi
berjudul “DAKWAH DAN KESALEHAN SOSIAL: KIPRAH DAKWAH
ROOSTIEN ILYAS”.
8
A. Zakky Zulhazmi dan Nasihin Aziz Raharjo, Tuhan Kenapa Salat Itu Mahal Ya? (Jakarta: Pensil-324, 2014), cet 1, h. 155-157.
9
B. Batasan Dan Rumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Dakwah yang dilakukan di beberapa media begitu gencar. Namun semakin
maraknya korupsi di Indonesia. Justru dilakukan oleh orang yang secara nilai
keagamaannya cukup taat. Ini berakibat pada tidak tersalurkannya dana yang ada
ke banyak sektor. Salah satu sektor yang memperihatinkan adalah pendidikan. Di
mana masih banyak anak-anak di luar sana yang tidak dapat belajar di sekolah
hanya karena tidak memiliki biaya. Bahkan anak-anak itu bekerja apa saja demi
sesuap nasi dan menyambung hidup mereka. Kaum bawah negeri ini terlihat
sangat memperihatinkan.
2. Pembatasan Masalah
Banyak hal menarik yang dapat dikaji dari Roostien Ilyas. Dalam
perannanya bergerak di bidang sosial khususnya anak-anak. Agar penelitian ini
terarah dan menghindari melebarnya pembahasan, maka penelitian ini hanya
dibatasi pada kiprah dakwah Roostien Ilyas selama mengelola Pesantren
Ramadhan anak jalanan.
3. Rumusan Masalah
Dari pembatasan masalah tersebut, maka penulis merumuskan beberapa
permasalahan dalam bentuk pernyataan sebagai berikut :
a. Bagaimana kiprah dakwah Roostien Ilyas melalui Pesantren Ramadhan
anak jalanan?
b. Bagaimana hasil dakwah Roostien Ilyas melalui Pesantren Ramadhan anak
10
c. Faktor pendukung dan penghambat dakwah Roostien Ilyas melalui
Pesantren Ramadhan anak jalanan?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini penulis mempunyai tujuan yang ingin di capai, yaitu :
1. Untuk mengetahui sejauh mana kiprah dakwah Roostien Ilyas melalui
Pesantren Ramadhan anak jalanan.
2. Untuk mengetahui bagaimana hasil dakwah Roostien Ilyas melalui
Pesantren Ramadhan anak jalanan.
3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dakwah Roostien
Ilyas melalui Pesantren Ramadhan anak jalanan.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap
pengembangan ilmu komunikasi mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya
dalam bidang dakwah. Melalui kiprah dakwah Rooostien Ilyas.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi
mahasiswa komunikasi dan penyiaran Islam, kepada pembaca umumnya, dan juga
dapat bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. Serta bagi para praktisi
dakwah yang menjadikan dunia sosial sebagai sarana untuk menyebarkan arus
D. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian
Sesuai dengan permasalahan serta tujuan yang dikemukakan dalam
penelitian di atas mengenai kiprah dakwah Roostien Ilyas. Maka pendekatan yang
digunakan penulis adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis
adalah upaya pengolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas
dan tepat10
Ini bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat
tentang fakta-fakta dan objek tertentu.11 Pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara peneliti langsung terjun ke situasi yang sesungguhnya. Dalam hal ini
peneliti akan menjelaskan dan menjabarkan data-data sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya atau yang terjadi di lapangan.
2. Subjek dan objek penelitian
Subjek penelitiannya adalah Roostien Ilyas. Sedangkan untuk objek
penelitiannya adalah kiprah dakwah Roostien Ilyas.
3. Macam dan Sumber Data
Untuk memperoleh data-data yang lengkap dan akurat, peneliti
menggunakan data primer dan data sekunder.
a) Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari informan berupa hasil temuan penelitian observasi dan wawancara dengan Roostien Ilyas.
10
Jalaluddin Rahmat, Metodologi Penelitian Dakwah (Bandung: Remaja Rosdakarya,1996), h. 24.
11
12
b) Data sekunder akan diperoleh dari sumber-sumber tertulis yang terdapat dalam buku ataupun dokumentasi dan literatur lain yang berkaitan dengan
penelitian yang dilakukan.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data adalah :
a. Observasi, adalah pengamatan dan pengumpulan data di mana penulis melakukan pengamatan terhadap gejala dan objek yang akan diteliti.12
Dalam hal ini penulis melakukan pengamatan di lapangan dengan cara
berhadapan langsung dengan subjek yang akan diteliti yaitu Roostien
Ilyas. Dengan melakukan observasi tersebut maka dapat diketahui aktivitas
dakwah Roostien Ilyas.
b. Wawancara, adalah sebuah teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara kepada
responden dan jawaban yang dihasilkan akan di catat atau direkam dengan
alat perekam.13 Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan
mewawancarai langsung Roostien Ilyas. Juga mengumpulkan berbagai
informasi yang dapat menunjang data yang diperlukan.
c. Studi Dokumentasi, adalah penelitian pengumpulan, membaca, dan mempelajari berbagai bentuk data tertulis (buku, majalah, atau jurnal)
yang terdapat di perpustakaan, internet atau instansi lain yang dapat
dijadikan analisis dalam penelitian ini.14 Penulis mengumpulkan data-data
yang berkaitan dengan Roostien Ilyas. Selain itu penulis juga membaca
12
Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah (Bandung: Tarsito, 1980), h.102. 13
Irawan Suhartono, Metode Penelitian Sosial (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), cet 4, h. 67.
14
dan mempelajari berbagai bentuk data tertulis yang terdapat di buku,
website, foto-foto, serta rekaman video, sehingga dapat dijadikan analisis
dalam penelitian ini.
5. Teknik Analisa Data
Dari data yang sudah diperoleh, maka penulis mempelajari berkas yang
telah terkumpul kemudian peneliti melakukannya dengan cara editing, yaitu
mempelajari kembali berkas-berkas data yang terkumpul sehingga keseluruhan
berkas itu dapat di ketahui dan dapat dinyatakan baik agar dapat dipersiapkan
proses selanjutnya.
Penelitian deskriptif ditunjukan untuk: (1) mengumpulkan informasi
aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada, (2) mengidentifikasi masalah
atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku, (3) membuat
perbandingan dan evaluasi, (4) menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam
menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk
menetapkan rencana atau keputusan pada waktu yang akan datang.15
6. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Yayasan Nanda Dian Nusantara, yaitu Jalan
Masjid Raya No. 6 Cipayung, Jakarta Timur, DKI Jakarta. Penelitian ini
dilakukan dari bulan Maret 2014 sampai Maret 2015.
E. Kajian Teori
Dakwah, secara etimologis (lughatan) berasal dari kata da’a, yad’u,
da’watan. Kata da’a mengandung arti: menyeru, memanggil, dan mengajak.
Dakwah, artinya seruan, panggilan, dan ajakan. Dakwah Islam dapat dipahami
15
14
sebagai seruan, panggilan, dan ajakan kepada Islam. Penulis sendiri
mendefinisikan dakwah sebagai: kegiatan mengajak, mendorong dan memotivasi
orang lain berdasarkan bashirah untuk meniti jalan Allah dan istiqomah di
jalan-Nya, serta berjuang bersama meninggikan agama Allah.16
Untuk memahami beberapa diantaranya, berikut ini akan dikemukakan
sejumlah definisi dakwah :
Dakwah adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan
yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan
kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat
Dakwah adalah mendorong (memotivasi) umat manusia agar
melaksanakan kebaikan dan mengikuti petunjuk serta perintah berbuat
makruf dan mencegah dari perbuatan mungkar supaya mereka
memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dakwah adalah setiap usaha atau aktivitas dengan lisan atau tulisan
dan lainnya, yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia
lainnya untuk beriman dan mentaati Allah SWT, sesuai dengan
garis-garis aqidah dan syari’at serta akhlak Islamiyah.17
Akhir-akhir ini sering kita mendengar dari kalangan kaum Muslim,
sementara orang yang mempersoalkan secara dikotomis tentang kesalehan.
Seolah-olah dalam Islam memang ada dua macam kesalehan: “kesalehan ritual”
dan “kesalehan sosial”. Dengan “kesalehan ritual” mereka menunjuk perilaku
kelompok orang yang hanya mementingkan ibadat mahdlah, ibadat yang
16
Ilaihi Wahyu dan Hefni Harjani, Pengantar Sejarah Dakwah (Jakarta: Kencana, 2007), Cet 1, h. 1-2.
17
mata berhubungan dengan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Kelompok yang
sangat tekun melakukan salat, puasa, dan seterusnya; namun tidak peduli akan
keadaan sekelilingnya.
Dengan ungkapan lain, hanya mementingkan hablum minallah.Sedangkan
yang mereka maksud dengan “kesalehan sosial” adalah perilaku orang-orang yang
sangat peduli dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Suka memikirkan dan
santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya; meskipun orang-orang
ini tidak setekun kelompok pertama dalam melakukan ibadat seperti sembayang
dan sebagainya itu. Lebih mementingkan hablun minan naas.
Boleh jadi hal itu memang bermula dari fenomena kehidupan beragama
kaum Muslim itu sendiri, dimana memang sering kita jumpai sekelompok orang
yang tekun beribadat, bahkan berkali-kali haji misalnya, namun kelihatan sangat
bebal terhadap kepentingan masyarakat umum, tak tergerak melihat
saudara-saudaranya yang lemah tertindas, misalnya.18
F. Tinjauan Pustaka
Dalam menentukan judul ini penulis sudah mengadakan tinjauan pustaka.
Penulis menggunakan rujukan tersebut untuk mendapatkan informasi tentang
hal-hal yang terkait dengan penelitian. Hal ini dimaksudkan agar tidak adanya
kesalahan dalam mengolah data dan menganalisisnya. Adapun judul-judul yang
diteliti oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi sebelumnya, antara lain :
1. Kiprah Dakwah Ustadz Wahfiudin oleh Daseva Dwianti (104051001857) tahun 2009. Penelitiannya mengenai dakwah Ustadz Wahfiudin yang
18
16
menggunakan cara dzikir dan ruqyah. Format dalam penelitian ini juga
berbeda dengan apa yang akan penulis teliti.19
2. Kiprah Dakwah DR. Suryani Thahir Dalam Mengembangkan Majelis Mudzakarah As;Suryaniyah At-Thahiriyah di DKI Jakarta oleh Laila Fachriyah (104051001906) tahun 2008. Ustad dalam kegiatan dakwahnya
menggunakan metode dzikir. Perbedaannya terletak pada subjek dan objek
penelitiannya. Subjek penelitian ini Roostien Ilyas, sedangkan objeknya
penelitiannya mengulas bagaimana kiprah dakwah Roostien Ilyas dengan
format yang ingin penulis teliti.20
3. Kiprah Dakwah Al-Ustadz Taufik Setyaudin, MA di Pondok Pesantren Sabiluna oleh Okto Widodo (108051000031) tahun 2012. Ustad dalam kegiatan dakwahnya lebih dominan dakwah bil lisan dan dakwah bil hal. Yaitu melalui Lembaga Pendidikan, Khutbah Jumat, ceramah-ceramah di
Majlis Ta’lim, dan melalui pengajian rutin. Objek dan Subjeknya pun
berbeda dengan apa yang akan penulis teliti.21
G. Sistematika Penulisan
Untuk mengetahui bagaimana gambaran jelas tentang hal-hal yang akan
diuraikan dalam penulisan skripsi ini, maka penulis mengatur sistematika
penulisan dalam lima bab sebagai berikut :
19
Daseva Dwianti, Kiprah Dakwah Ustadz Wahfiudin (Jakarta: Fidkom UIN Jakarta, 2009).
20
Laila Fachriyah, Kiprah Dakwah DR. Suryani Thahir Dalam Mengembangkan Majelis Mudzakarah As-Suryaniyah At-Thahiriyah di DKI Jakarta (Jakarta: Fidkom UIN Jakarta, 2008).
21
BAB I : Bab ini berisi tentang pendahuluan, latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi
penelitian, kajian teoritis, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan.
BAB II : Pada bab ini memuat tentang pengertian kiprah dakwah, pengertian dakwah, unsur-unsur dakwah dan pengertian kesalehan sosial.
BAB III : Bab ini berisi profil atau biografi Roostien Ilyas. Karya tulis Roostien Ilyas. Hal-hal tersebut meliputi riwayat hidup dan karir dalam bidang
sosial.
BAB IV : Bab ini meliputi kiprah dakwah Roostien Ilyas di dalam Pesantren Ramadhan anak jalanan, hasil dakwah Roostien paska Pesantren Ramadhan,
faktor pendukung dan penghambat kiprah dakwah Roostien Ilyas.
BAB V : Dalam bab ini menjelaskan kesimpulan dari kiprah dakwah Roostien Ilyas dalam kesalehan sosial. Serta memberikan saran demi kemajuan dakwah
18
BAB II
LANDASAN TEORI A. Konsep Dakwah
1. Pengertian Dakwah
Konsep dakwah terdiri dari dua suku kata yaitu konsep dan dakwah.
Konsep menurut kamus besar bahasa Indonesia ialah gambaran mental dari objek,
proses, atau apapun yang ada diluar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk
memahami hal-hal lain.1 Sejalan dengan itu Muin Salim mendefinisikan konsep
sebagai ide pokok yang mendasari satu gagasan atau ide umum. Dengan demikian
konsep adalah suatu hal yang sangat mendasar yang dijadikan patokan dalam
melaksanakan sesuatu. 2
Dakwah memiliki dua arti dalam kamus besar bahasa Indonesia, yaitu : 1.
Penyiaran, propaganda; 2. Penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan
masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran
agama.3
Dakwah ditinjau dari segi bahasa berasal dari bahasa Arab dakwah dan kata da’a, yad’u yang berarti panggilan, ajakan, seruan. Seruan dan panggilan ini
dilakukan dengan suara, kata-kata, atau perbuatan. Adapun yang dimaksud
dengan ajakan atau seruan disini ialah usaha seorang da’i yang berusaha untuk
lebih dekat dan mengenal mad’unya untuk dituntun kepada jalan Allah SWT.4
1
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (Jakarta: PT.Gramedia, 2008), h. 725.
2
http://iics.nazuka.net/2013/04/konsep-dakwah-dalam-islam/, diakses tanggal 7 Mei 2014 pukul 19.40.
3
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT.Gramedia, 2008), h. 288.
4
Sedangkan menurut istilah, para ulama memberikan definisi yang
bermacam-macam, antara lain :
a. Menurut Prof. Toha Yahya Omar, M.A. dakwah adalah mengajak manusia
dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah
Tuhan, untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.5
b. Menurut M.Quraish Shihab dakwah adalah seruan atau ajakan kepada
keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan
sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Perwujudan dakwah
bukan sekedar usaha peningkatan pemahaman dalam tingkah laku dan
pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas. Apalagi
pada masa sekarang ini, ia harus lebih berperan menuju kepada
pelaksanaan ajaran Islam secara lebih menyeluruh dalam berbagai aspek. 6
c. Syaikh Ali Mahfudh dalam kitabnya Hidayah al-Mursyidin menerapkan definisi dakwah sebagai berikut : Mendorong (memotivasi) untuk berbuat
baik, mengikuti petunjuk (Allah), menyuruh orang mengerjakan kebaikan,
melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat.7
d. Moesa A. Machfoed dalam bukunya Filsafat Dakwah (Ilmu Dakwah dan Penerapannya) mendefinisikan dakwah yaitu sebagai panggilan. Tujuannya membangkitkan kesadaran manusia untuk kembali ke jalan
Allah SWT. Upaya memanggil atau mengajak kembali manusia ke jalan
5
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah (Jakarta: AMZAH, 2009), h. 3. 6
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah (Jakarta: AMZAH, 2009), h. 4-5. 7
20
Allah tersebut bersifat ekspansif, yaitu memperbanyak jumlah manusia
yang berada di jalan-Nya.8
Pada hakikatnya, dakwah Islam merupakan aktualisasi imani yang
dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman dalam bidang
kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara
merasa, berfikir, bersikap dan tindakan manusia pada dataran kenyataan
individual dan sosio-kultural dalam rangka mengusahakan terwujudnya ajaran
Islam dalam semua segi kehidupan dengan menggunakan cara tertentu.9
Dari penjelasan yang telah dipaparkan di atas maka dapat diambil
kesimpulan bahwa konsep dakwah merupakan ide atau gagasan yang bertujuan
untuk mengajak manusia menuju kepada jalan kebenaran tanpa adanya paksaan
dan sesuai dengan tuntunan Al- Qur’an dan As- Sunnah.
Setelah seseorang (da’i) melakukan sebuah aktivitas dakwah. Maka secara
tidak langsung dia memiliki peran dalam rangka memajukan umat. Minimal dari
sisi agama dan bisa berkembang ke berbagai sektor. Maka seorang da’i pasti
memiliki pandangan yang dilihat oleh orang banyak. Terutama adalah
kredibilitasnya sebagai seorang da’i. Maka penulis harus menjabarkan juga apa itu
kiprah dakwah, agar dapat dipahami secara jelas.
Kiprah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan kegiatan.
Sedangkan berkiprah adalah melakukan kegiatan dengan semangat tinggi ; atau
bergerak, berusaha giat dalam bidang tertentu10. Sedangkan menurut Djumhur,
8
A. Machfoed, Filsafat Dakwah “Ilmu Dakwah dan Penerapannya” (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2004), h. 15.
9
Amrullah Achmad, Dakwah Islam dan Perubaahan Sosial (Yogyakarta: Prima Duta Yogyakarta, 1983), Cet-1, h. 32.
10
kiprah dapat diartikan sebagai suatu pola tingkah laku tertentu yang merupakan
ciri khas petugas dari suatu pekerjaan atau jabatan tertentu.11
WJS. Purwodarminta mengartikan kata kiprah dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia sebagai tindakan, aktifitas, kemampuan kerja, reaksi, cara
pandang seseorang terhadap ideologi atau institusinya.12
Menurut pemaparan beberapa tokoh diatas berkiprah tidak jauh berbeda
dengan beraktifitas, namun bedanya di sini berkiprah adalah melakukan kegiatan
atau berpartisipasi dalam kegiatan dengan semangat tinggi dan lebih tinggi dari
hanya sekedar beraktifitas.
Sedangkan kiprah dakwah menurut Mahmud Yunus adalah melakukan
kegiatan dakwah (amar ma’ruf nahi munkar) atau berpartispasi dalam kegiatan
dakwah dengan semangat tinggi dalam bentuk sebuah perbuatan nyata untuk
memecahkan persoalan-persoalan masyarakat. Persoalan-persoalan tersebut
khususnya adalah dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan meningkatkan
kesejahtraan ummat.
Maka kiprah dakwah adalah melakukan aktifitas yang mengandung seruan
atau ajakan yang mengarah pada situasi yang lebih baik dan semua itu dilakukan
dengan semangat yang tinggi demi mengharap ridho Allah.
11
Djumhur. Moh. Surya, Bimbingaan dan Penyuluhan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1975), h. 12.
12
22
2. Tujuan Dakwah
Dakwah merupakan suatu rangkaian kegiatan atau proses, dalam rangka
mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan ini dimaksudkan untuk memberi arah atau
pedoman bagi gerak langkah kegiatan dakwah. Apalagi ditinjau dari segi
pendekatan sistem. Tujuan dakwah merupakan salah satu unsur dakwah. Di mana
antara unsur dakwah yang satu dengan yang lain saling membantu, saling
mempengaruhi, dan saling berhubungan.13
Dengan demikian tujuan dakwah sebagai bagian dari seluruh aktivitas
dakwah sama pentingnya dengan unsur-unsur lain, seperti subjek dan objek
dakwah, metode, dan sebagainya. Bahkan lebih dari itu tujuan dakwah sangat
menentukan dan berpengaruh terhadap penggunaan metode dan media dakwah,
sasaran dakwah sekaligus strategi dakwah juga berpengaruh olehnya (tujuan
dakwah). Ini disebabkan karena tujuan merupakan arah gerak yang hendak dituju
seluruh aktivitas dakwah.
Rasullullah bersabda: Sesungguhnya segala pekerjaan dengan niat, dan
bahwasanya setiap urusan (perkara) tergantung dengan apa yang diniatkannya.
Maka barang siapa yang hijrah menuju keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka
hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrah karena
dunia (harta atau kemegahan dunia) atau karena wanita yang dikawininya, maka
hijrahnya itu kea arah yang ditujunya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Secara umum tujuan dakwah adalah terwujudnya kebahagian dan
kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah Swt.
13
Adapun tujuan dakwah, pada dasarnya dapat dibedakan dalam dua macam tujuan,
yaitu :14
Tujuan Umum Dakwah (Mayor Objective)
Tujuan umum dakwah merupakan sesuatu yang hendak dicapai dalam
seluruh aktivitas dakwah. Ini berarti tujuan dakwah yang masih bersifat umum
dan utama, di mana seluruh gerak langkahnya proses dakwah harus ditujukan dan
diarahkan kepadanya.
Tujuan dakwah di atas masih bersifat global atau umum, oleh karenanya
itu masih memerlukan perumusan-perumusan secara terperinci.
Tujuan Khusus Dakwah (Minor Objective)
Tujuan khusus dakwah merupakan perumusan tujuan dan penjabaran dari
tujuan umum dakwah. Tujuan ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan seluruh
aktivitas dakwah dapat jelas diketahui kemana arahnya, ataupun jenis kegiatan apa
yang akan dikerjakan, kepada siapa berdakwah, dengan cara apa, bagaimana dan
sebagainya. Secara terperinci. Sehingga tidak terjadi overlapping antara juru dakwah yang satu dengan lainnya hanya karena masih umumnya tujuan yang
hendak dicapai.
Menurut Abdul Kadir Munsyi, dalam Metode Diskusi dalam Dakwah
bahwa tujuan dakwah dapat dikelompokan dalam tiga macam, yaitu :
Mengajak manusia seluruhnya agar menyembah Allah yang Maha Esa,
tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan tidak pula bertuhan
kepada selain Allah.
14
24
Mengajak kaum muslimin agar mereka ikhlas beragama karena Allah dan
mengajak supaya amal perbuatannya jangan bertentangan dengan iman.
Mengajak manusia untuk menerapkan hukum Allah yang akan
mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan bagi umat manusia
seluruhnya.15
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dakwah ialah
mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia yang diridhai Allah,
baik itu di dunia maupun di akhirat.
3. Metode Dakwah
Secara etimologi, metode berasal dari bahasa Yunani metodos yang artinya cara atau jalan. Jadi metode dakwah adalah jalan atau cara untuk mencapai tujuan
dakwah yang dilaksanakan secara effektif dan efisien.16 Dalam bahasa Jerman
metode berasal dari kata “methodica” artinya adalah ajaran tentang metode.
Sedangkan dalam bahasa Arab, metode berasal dari kata “thariq” yang artinya
jalan. Sehingga metode adalah cara yang telah diatur dan memulai proses untuk
mencapai suatu maksud.17
Metode adalah suatau cara yang bisa ditempuh atau cara yang ditentukan
secara jelas untuk mencapai dan menyelesaikan suatu tujuan. Sedangkan dakwah
adalah cara yang digunakan subjek dakwah untuk menyampaikan materi dakwah.
Metode dakwah dapat juga disebut sebagai alat yang dipergunakan oleh seorang
da’i untuk menyampaikan materi dakwahnya dengan serentetan kegiatan untuk
mencapai tujuan tertentu.
15
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah (Jakarta: AMZAH, 2009), h. 66. 16
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah (Jakarta: AMZAH, 2009), h. 95. 17
Setelah seorang da’i mengetahui apa itu metode dakwah secara umum.
Maka seorang da’i akan memperhatikan pula faktor-faktor yang mempengaruhi
pemilihan dan penggunaan suatu metode, agar metode yang dipilih dan digunakan
benar-benar fungsional. Faktor- faktor yang mempengaruhi pemilihan metode,
yaitu :
1) Tujuan, dengan berbagai jenis dan fungsinya.
2) Sasaran dakwah, baik masyarakat atau individual dengan segala
kebijakan/politik pemerintah, tingkat usia, pendidikan, peradaban
(kebudayaan), dan lain sebagainya.
3) Situasi dan kondisi yang beraneka ragam dengan keadaannya.
4) Media dan fasilitas (logistik) yang tersedia, dengan berbagai macam
kuantitas dan kualitasnya.
5) Kepribadian dan kemampuan seorang da’i atau muballigh.18
Landasan umum mengenai metode dakwah adalah Al-Qur’an Surah An
-Nahl ayat 125. Pada ayat tersebut terdapat metode dakwah yang akurat. Kerangka
dasar tentang metode dakwah yang terdapat pada ayat tersebut, berbunyi :
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Surah
An-Nahl 125).
18
26
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa metode dakwah ada tiga hal, yaitu:
hikmah, mau’izatul hasanah dan mujadallah. Semua metode yang ada dalam ilmu
dakwah merupakan cabang dari ketiga metode di atas.
a. Hikmah, yaitu berdakwah dengan memperhatikan situasi dan kondisi
sasaran dakwah dengan menitikberatkan pada kemampuan mereka,
sehingga dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam selanjutnya, mereka tidak
lagi merasa terpaksa atau keberatan.
b. Mau’izatul hasanah, yaitu berdakwah dengan memberikan nasihat-nasihat atau menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan rasa kasih sayang,
sehingga nasihat dan ajaran Islam yang disampaikan itu menyentuh hati
mereka.
c. Mujadalah, yaitu berdakwah dengan cara bertukar pikiran dan membantah
dengan cara yang sebaik-baiknya dengan memberikan argumentasi dan
bukti yang kuat dan tidak memberikan tekanan-tekanan kepada mad’unya
sehingga tidak melahirkan permusuhan nantinya.19
Namun dakwah secara umum dibagi menjadi tiga, yaitu : dakwah bil lisan, dakwah bil qolam, dan dakwah bil hal.
a. Dakwah bil lisan: Secara bahasa dakwah bil lisan berarti dakwah dengan menggunakan ucapan. Adapaun secara istilah, dakwah bil lisan adalah memanggil, menyeru ke jalan Allah Swt. Dakwah jenis ini adalah
penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan. contohnya :
19
1) Metode Ceramah: Ceramah adalah suatu teknik atau metode dakwah yang banyak diwarnai oleh karakteristik bicara seorang da’i pada suatu
aktifitas dakwah.
2) Percakapan antar pribadi: Percakapan pribadi atau individual conference adalah percakapan bebas antara seorang da’i dengan individu -individu sebagai sasaran dakwahnya.
3) Debat: Metode debat pada dasarnya adalah untuk mencari suatu kebenaran dari apa yang telah diajarkan Islam secara baik dan benar, dan
bukan untuk mencari kemenangan
4) Diskusi: Metode diskusi ini dimaksudkan untuk merangkai objek dakwah agar berpikir dan mengeluarkan pendapatnya serta ikut menyumbangkan
ide-ide dalam kemungkinan-kemungkinan jawaban dari pemecahan
masalah.
b. Dakwah bi al qalam: Metode dakwah ini menggunakan keterampilan tulis menulis. Dakwah dengan metode ini mempunyai kelebihan tersendiri.
Yaitu dapat dimanfaatkan dalam waktu yang lebih lama serta
jangkauannya lebih luas. Karena sebuah karya akan terus bermanfaat dan
tidak akan musnah sekalipun penulisnya telah wafat.
c. Dakwah bil hal: Istilah dakwah bil hal dipergunakan untuk merujuk kegiatan dakwah melalui aksi atau tindakan atau perbuatan nyata. Metode
ini merupakan sebuah kerangka kerja kongkret dalam melaksanakan setiap
28
dengan konsep yang matang. Dakwah ini lebih berorientasi pada
pengembangan masyarakat.20
B. Kesalehan Sosial
1. Pengertian Kesalehan Sosial
Menurut kamus besar bahasa Indonesia. Kesalehan berasal dari kata saleh
yang berarti taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Kesalehan adalah
ketaatan (kepatuhan) dalam menjalankan ibadah, kesungguhan menunaikan ajaran
agama, dan tercermin pada sikap hidupnya.21 Sedangkan sosial adalah suka
memperhatikan kepentingan umum.22
Seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang lain di depan Nabi.
"Mengapa ia kau sebut sangat saleh?" tanya Nabi Muhammad. "Soalnya, tiap saya
masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia
masih saja khusyuk berdoa."
"Lalu siapa yang memberinya makan dan minum?" tanya Kanjeng Nabi
lagi. "Kakaknya," sahut sahabat tersebut. "Kakaknya itulah yang layak disebut
saleh," sahut Kanjeng Nabi lebih lanjut. Sahabat itu diam. Sebuah pengertian baru
terbentuk dalam benaknya. Ukuran kesalehan, dengan begitu, menjadi lebih jelas
diletakkan pada tindakan nyata. Kesalehan, jadinya, lalu dilihat dampak
kongkretnya dalam kehidupan sosial.
Akhir-akhir ini sering kita mendengar dari kalangan kaum Muslim.
Sementara orang mempersoalkan secara dikotomis tentang kesalehan. Seolah-olah
20
M. Munir, Metode Dakwah (Jakarta: Prenada Media, 1997), Cet.II h. 34. 21
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (Jakarta: PT.Gramedia, 2008), h. 1209.
22
dalam Islam memang ada dua macam kesalehan: “kesalehan ritual” dan
“kesalehan sosial”.
Menurut KH A. Mustofa Bisri “kesalehan ritual” ialah perilaku orang yang
hanya mementingkan ibadah mahdlah, ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Kelompok yang sangat tekun
melakukan sholat, puasa, dan seterusnya; namun tidak peduli akan keadaan
sekelilingnya.
Dengan ungkapan lain, hanya mementingkan hablum minallah. Sedangkan yang mereka maksud dengan “kesalehan sosial” adalah perilaku orang-orang yang
sangat peduli dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Suka memikirkan dan
santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya; meskipun orang-orang
ini tidak setekun kelompok pertama dalam melakukan ibadah seperti sembayang
dan sebagainya itu. Lebih mementingkan hablun minan naas.
2. Indikator Kesalehan Sosial
Kesalehan adalah buah penghayatan dan pengamalan ajaran agama secara
sempurna. Ketika seorang muslim mengamalkan ajaran Islam berarti ia berada
dalam proses pencapaian kesalehan. Pengamalan yang terus-menerus terhadap
ajaran Islam menjadi awal tertanamnya kesalehan dalam jiwa setiap muslim.
Perintah menjalankan agama tujuan utamanya adalah mencetak hamba Allah yang
saleh yang tidak hanya berakibat positif bagi dirinya, tetapi juga bagi
lingkungannya.
Kesalehan menjadi motivator pembentukan sikap terpuji dalam kehidupan
nyata. Hal ini karena kesalehan menumbuhkan kesadaran dan keyakinan bahwa
30
gilirannya mendorong pemiliknya untuk mengajak orang lain menjadi saleh.
Dengan demikian, orang yang saleh mempunyai kepekaan tinggi terhadap
lingkungan sekitarnya.23
Ini berarti bahwa kesalehan bukan sekadar predikat yang kosong dari
makna, tetapi kesalehan adalah predikat yang membutuhkan bukti nyata dalam
kehidupan. Pertanyaannya, apa indikator seseorang layak dikatakan sebagai orang
saleh?
Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan dua kategori indikator kesalehan
manusia. Pertama, kesalehan individual. Indikatornya adalah kemampuan
bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepadanya atau orang-orang
yang dicintainya dan keteguhannya dalam berbuat amal saleh. Allah berfirman:
“Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa Karena (mendengar)
perkataan semut itu. Dan dia berdo’a, “Ya Tuhanku , anugerahkanlah aku ilham
untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan
23
kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau
ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan
hamba-hamba-Mu yang saleh.” Surat An-Naml (QS 27 : 19).
Dalam ayat lain, Al-Qur’an menegaskan bahwa indikator kesalehan
individual seseorang adalah kebiasaan bertobat atas maksiat dan dosa yang pernah
dilakukannya. Dengan kata lain, tobat menjadi persyaratan utama terwujudnya
kesalehan dalam diri seseorang. Allah berfirman:
”kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki iri dan berpegang
teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas menjalankan agama mereka
karena Allah. Maka, mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan
kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang
beriman.” Surat An-Nisa (QS 4 : 146).
Kesalehan individu itu lebih identik dengan hablum minallah. Hubungan antara manusia dan Tuhannya. Bisa kita ambil contoh: Ibadah shalat sunnah,
32
Kedua, kesalehan sosial. Indikatornya adalah mempunyai kepekaan sosial
yang tinggi yang berawal dari keinginannya untuk memberdayakan orang-orang
di sekelilingnya. Contohnya dengan memberi perhatian dan kasih sayang kepada
anak-anak yatim dan mencukupi kebutuhan orang-orang miskin. Pada hakikatnya,
kesalehan sosial ini, adalah buah dari kesalehan individual yang sempurna.
Berkaitan dengan kesalehan sosial, Allah berfirman:
“Tahukan kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang
yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang
miskin.” Surat Al-Ma’un (QS 107 : 1-3).
Setiap muslim tidak cukup dan jangan berbangga diri hanya dengan
kesalehan individual dan lalai terhadap kesalehan sosial. Keduanya adalah esensi
dari keberagamaan. Beragama tanpa kesalehan adalah sia-sia yang berarti tidak
memberikan pengaruh terhadap perubahan positif baik secara individual maupun
sosial.
3. Pandangan Islam Tentang Kesalehan Sosial
KH MA Sahal Mahfudh merupakan seorang ulama dari NU.24 Sejak santri,
Sahal Mahfudh menguasai ilmu Ushul Fiqih, Bahasa Arab, dan Ilmu
Kemasyarakatan yang memang digemarinya. Namun kepakaran Kiai Sahal diuji
24
oleh sebuah situasi sosial ekonomi local yang timpang. Kajen, Desa kecil di mana
lebih dari 15 pesantren berada di situ, merupakan desa yang tak tersedia
sejengkalpun sawah maupun lahan perkebunan, namun dijejali penduduk miskin
yang hidup dari kerajinan „kerupuk tayamum’. Sangat tidak menarik secara
ekonomis, namun di situ pula agama diuji untuk berekperimentasi, berdialog
dengan kenyataan yang timpang.
Maka sebuah perjumpaan dialektik antara agama dan kenyataan harus
terjadi. Penghindaran perjumpaan dengan semangat realitas sosial akan membuat
agama stagnan dan segera kehilangan relevansi kemanusiaannya. Dalam jagat
pesantren, ilmu fiqih yang dimiliki Kiai Sahal tak dapat dielakkan merupakan
bagian ilmu yang paling besar tantangannya. Pergulatan Kiai Sahal untuk
mengoperasionalkan fiqih, dilakukan antara lain melalui forum bahtsul masail di tingkat MWC NU Kecamatan Margoyoso. Forum itu sangat produktif dan
efektif., hampir-hampir menjadi pengadilan rakyat karena masalah yang digelar
tak hanya masalah keagamaan, tetapi masalah ekonomi, kebudayaan, bahkan
politik.25
Berawal dari bahtsul masail tingkat Kecamatan itu, sebuah keputusan penting tentang nasib petani pernah dihasilkan, ketika Muktamar NU ke-28 di
Krapyak memutuskan bahwa Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) merupakan
transaksi ekonomi yang tidak sah (mu’amalah fasidah), dank arena itu haram
diterapkan. Pencarian relevansi fiqih itu tidak berenti di dalam ruang bahtsul masail, melainkan bergulir menjadi program kemasyarakatan, seperti pada program pemanfaatan dana zakat untuk kegiatan produktif di Pati dan biro
25
34
pengembangan masyarakat dari pesantren di Kajen sendiri dan desa-desa di
sekitarnya. Di tingkat itu saja tampak, tugas seorang seperti Kiai Sahal lalu tidak
sekedar mengawal keberlangsungan pengajaran funun yang telah dikuasainya, tetapi juga dituntu untuk melakukan penyegaran atasnya. Dari ulasan tentang Kiai
Sahal terlihat bahwa kita semua dituntut untuk melakukan kesalehan sosial.
Karena kesalehan sosial adalah buah kesalehan individual yang tertanam mantap
dalam hati.
Islam secara luas memandang kesalehan sosial itu dalam banyak aspek.
Bahkan dari rukun islam saja dua diantaranya mengutamakan kesalehan sosial,
yaitu puasa dan zakat. Di luar itu ada lagi yang mengandung makna kesalehan
sosial yaitu sedekah, menyantuni anak yatim dan sebagainya.
Sedekah
Sedekah asal kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan
sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti suatu
pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap
ridho Allah SWT dan pahala semata. Sedekah dalam pengertian di atas oleh para
fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at-tatawwu' (sedekah secara spontan dan sukarela).26
Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum
Muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah. Di antara ayat yang dimaksud
adalah firman Allah SWT yang artinya :
26
''Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali
bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau
berbuat ma'ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa
yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan
memberi kepadanya pahala yang besar.'' (QS An Nisa 4 : 114).
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti dengan sebiji atau sebutir
benih yang menumbuhkan tujuh tangkai (bulir), pada tiap-tiap tangkai pula ada
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah 2 :
261).
''Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala)
sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.''
(QS Al Baqarah 2 : 264).
Zakat
Zakat mempunyai beberapa arti, diantaranya: Pertama, An-Nama (tumbuh dan berkembang), artinya bahwa harta yang dikeluarkan zakat darinya, tidaklah
akan berkurang, justru akan tumbuh dan berkembang lebih banyak. Faktanya
sudah sangat banyak. Kedua, Ath-Thaharah (suci), artinya bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya, akan menjadi bersih dan membersihkan jiwa yang
memilikinya dari kotoran hasad, dengki dan bakhil. Ketiga, Ash-Sholahu (baik), artinya bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya, akan menjadi baik dan zakat
sendiri akan memperbaiki kwalitas harta tersebut dan memperbaiki amal yang
36
Adapun zakat secara istilah adalah jenis harta tertentu yang pemiliknya
diwajibkan untuk memberikannya kepada orang-orang tertentu dengan
syarat-syarat tertentu juga.27
Zakat terdiri dari 2 macam :
1. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadan. Besar zakat ini setara dengan 3,5 liter (2,5
kilogram) makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.
2. Zakat maal (harta) adalah zakat hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak.
Masing-masing jenis memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.
Yang berhak menerima Zakat menurut kaidah Islam terdiri dari 8 macam :
1. Fakir: Orang yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.
2. Miskin: Orang yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup.
3. Amil: Orang yang mengumpulkan dan membagikan zakat.
4. Mu'allaf: Orang yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya.
5. Hamba sahaya: Orang yang ingin memerdekakan dirinya
6. Gharimin: Orang yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya
7. Fisabilillah: Orang yang berjuang di jalan Allah.
8. Ibnus Sabil: Orang yang kehabisan biaya di perjalanan.28
27
Penjelasan tentang zakat tertera pada firman Allah sebagai berikut :
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS At Taubah 103).
Puasa
Puasa secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Sedangkan secara
terminologi, adalah menahan diri pada siang hari dari berbuka dengan disertai niat
berpuasa bagi orang yang telah diwajibkan sejak terbit fajar hingga terbenam
matahari.
Detailnya, puasa adalah menjaga dari pekerjaan-pekerjaan yang dapat
membatalkan puasa seperti makan, minum, dan bersenggama pada sepanjang hari
tersebut (sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa diwajibkan atas
seorang muslim yang baligh, berakal, bersih dari haidl dan nifas, disertai niat
ikhlas semata-mata karena Allah ta'aala.29
Ada beberapa firman Allah Swt mengenai puasa, yaitu:
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan
isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian
bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu,
karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka
sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah
untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang
28
http://www.bamz.us/2011/12/pengertian-zakat-dan-macam-zakat.html, diakses tanggal 7 Juni 2014 pukul 19.55.
29
38
hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,
(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid.
Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS
Al-Baqarah 2: 187).
Ibn 'Abdul Bar dalam hadis Rasulullah saw "Sesungguhnya Bilal biasa
azan pada malam hari, maka makan dan minumlah kamu sampai terdengarnya
azan Ibn Ummi Maktum", menyatakan bahwa benang putih adalah waktu subuh
dan sahur hanya dikerjakan sebelum waktu fajar".
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS Al-Baqarah 2 : 183).
Meskipun puasa bersifat sangat pribadi, tetapi di dalamnya mengandung
ajaran-ajaran sosial yang