MAKALAH
“DAKWAH DAN PERUBAHAN SOSIAL”
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah:
“Sosiologi Dakwah”
Dosen Pengampu : Suprihatiningsih, S. Ag., M.S.I.
Disusun Oleh :
Itsnan Muhammad Irsyad (23010360047) Raivaldi Hidayat (23010160087) M. Fatkhul Muin (23010160072)
BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2025
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, dakwah Islam hadir bukan hanya sebagai penyampai pesan spiritual, tetapi juga sebagai kekuatan yang mampu merespons tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dakwah, dalam arti luas, tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya. Inilah yang membuat dakwah memiliki peran penting dalam mendorong perubahan sosial ke arah yang lebih baik.
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk melihat lebih dekat bagaimana dakwah bisa menjadi alat yang efektif dalam menciptakan perubahan sosial. Selain itu, makalah ini juga ingin mengidentifikasi tantangan yang muncul, termasuk polarisasi atau perbedaan pandangan yang sering terjadi dalam praktik dakwah. Dengan memahami hal ini, diharapkan kita bisa menemukan cara agar dakwah tidak hanya membawa perubahan positif, tetapi juga bisa menyatukan umat, bukan memecah belah.
Beberapa contoh gerakan dakwah, seperti Gerakan Dakwah Majelis Tafsir Al-Quran di Kota Semarang, menunjukkan bahwa dakwah yang terorganisir bisa memengaruhi cara berpikir dan bertindak masyarakat. Gerakan ini tidak hanya fokus pada ibadah, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesadaran sosial. Begitu pula dengan Gerakan Dakwah Mahasiswa melalui organisasi seperti PMII dan HMI, yang menggunakan dakwah sebagai alat untuk mendorong reformasi sosial dan keadilan. Sementara itu, Gerakan Green Deen membuktikan bahwa dakwah bisa menjawab isu global seperti lingkungan, dengan mengintegrasikan nilai- nilai Islam dalam upaya pelestarian alam.
Namun, di balik keberhasilan tersebut, dakwah juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah polarisasi, atau perbedaan pandangan di antara masyarakat. Misalnya, ada yang mendukung gerakan dakwah tertentu karena dianggap membawa pencerahan, sementara ada yang menolak karena perbedaan metode atau pendekatan. Hal ini seringkali menimbulkan ketegangan, bahkan perpecahan, di tengah masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana polarisasi ini terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap efektivitas dakwah.
Melalui makalah ini, kami berharap bisa memberikan gambaran yang lebih jelas tentang peran dakwah dalam perubahan sosial, sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana dakwah bisa dilakukan dengan cara yang lebih inklusif dan moderat.
Dengan begitu, dakwah tidak hanya menjadi alat untuk menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga menjadi kekuatan yang menyatukan dan membawa kebaikan bagi semua.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang imdaksud Dakwah dan Perubahan Sosial?
2. Bagaimana Perubahan Sosial mempengaruhi Fakta Sosial?
3. Bagaimana Realisasi Dakwah terhadap Perubahan dan Polarisasi Dakwah?
C. Tujuan Pembahasan
1. Mengetahui Pengertian Dakwah dan Perubahan Sosial.
2. Mengetahui Penjelasan Mengapa Perubahan Sosial dapat Mempengaruhi Perubahan Sosial.
3. Mengetahui Realisasi Dakwah terhadap Perubahan Polarisasi Dakwah.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Dakwah dan Perubahan Sosial a) Pengertian Dakwah
“Da’wah” ditinjau dari segi bahasa berarti: panggilan, seruan atau ajakan. Bentuk perkataan tersebut dalam bahasa Arab disebut mashdar. Sedangkan bentuk kata kerja (fi’il) dari kata ini antara lain adalah: memanggil, menyeru atau mengajak (Da’a Yad’u, Da’watan).
Orang yang berdakwah biasa disebut dengan Da’i dan orang yang menerima dakwah atau orang yang didakwahi disebut dengan Mad’u. Makna “dakwah” juga berdekatan dengan konsep ta’lim, tadzkir, dan tashwir. Oleh karena itu, setiap konsep tersebut mempunyai makna, tujuan, sifat, dan objek yang berbeda, namun substansinya sama yaitu menyampaikan ajaran Islam kepada manusia, baik yang berkaitan dengan ajaran Islam maupun sejarahnya. Ta’lim berarti mengajar, tujuannya menambah pengetahuan orang yang diajar, kegiatannya bersifat promotif yaitu meningkatkan pengetahuan, sedangkan objeknya adalah orang yang masih kurang pengetahuannya.
Sedangkan Tadzkir berarti mengingatkan dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan pada orang yang lupa terhadap tugasnya sebagai seorang muslim. Oleh karena itu, kegiatan ini bersifat reparatif atau memperbaiki sikap, dan perilaku yang rusak akibat pengaruh lingkungan keluarga dan sosial budaya yang kurang baik, objeknya adalah mereka yang sedang lupa akan tugas dan perannya sebagai muslim. Dengan demikian, dakwah merupakan proses peningkatan iman dalam diri manusia sesuai syariat Islam. “Proses“
menunjukkan kegiatan yang terus-menerus, berkesinambungan, dan bertahap. Peningkatan adalah perubahan kualitas yang positif; dari buruk menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik. Peningkatan iman termanifestasi dalam peningkatan pemahaman, kesadaran, dan perbuatan.
Dakwah dapat menggunakan berbagai metode dan strategi yang telah ada, namun dalam menghadapi sebuah perubahan tentu perlu ada inovasi dalam menentukan metode yang tepat dan sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan masyarakat secara komprehensif.
Memahami metode dakwah yang tepat maka rujukannya pada Al-Qur’an dan Sunnah serta mengemas dengan konteks perubahan sosial yang terjadi. Penerapan konsep semacam ini akan berpengaruh terhadap keberhasilan seorang juru dakwah dalam mengemban tugas muliannya.
Selain memudahkan Mubaligh, juga akan memberikan kemudahan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi dan menjadi solusi bersama dalam mewujudkan tujuan umat Islam. Tujuan dakwah jika dipahami secara komprehensif sangat mulia, yaitu membumikan wahyu melalui berbagai aspek kehidupan manusia, sehingga mereka mampu mentransformasikan diri menuju kehidupan yang bertauhid dan memiliki bekal pengetahuan dalam menghadapi perkembangan dan perubahan sosial. Perubahan secara periodikal sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, dalam tahap awal dimulai dengan pembentukan pribadi Islami, rumah tangga Islami, bangsa Islami sampai membentuk pemerintahan Islami. Tahapan tersebut menjadi target mubaligh dalam melakukan kegiatan tabligh untuk kebangkitan Islam dalam menghadapi perubahan sosial yang terjadi.1
Untuk memperoleh pengertian yang lebih lengkap tentang dakwah, dapat ditelaah sejumlah pengertian yang dikemukakan oleh Abdul Munir Mulkhan dalam bukunya yang berjudul Paradigma Intelektual Muslim, bahwa dakwah sebagai suatu kegiatan sosialisasi Islam memiliki berbagai pengertian sebagai berikut:
i. Mendorong manusia agar melakukan kebajikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh berbuat kebajikan dan meninggalkan kemungkaran agar memperoleh kebahagiaan dunia-akhirat.
ii. Mengadakan seruan kepada semua manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar, dilakukan dengan penuh kebijaksanaan dan nasehat yang baik.
iii. Mengubah umat dari satu situasi kepada situasi yang lebih baik di dalam segala segi kehidupan dengan tujuan merealisasikan ajaran Islam di dalam kenyataan hidup sehari- hari, baik bagi kehidupan seorang pribadi, kehidupan keluarga maupun masyarakat sebagai keseluruhan tata hidup bersama.
iv. Menyampaikan panggilan Allah dan Rasul kepada apa yang menghidupkan umat manusia sesuai dengan martabat, fungsi dan tujuan hidupnya (1993:100).
Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa salah satu substansi dakwah adalah tindakan yang menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan aktifitas yang dilakukan manusia.
1 Budi Ariyanto and Mochammad Irfan Achfandhy, “Dakwah Dan Perubahan Sosial Pada Masyarakat Multikultur,” Tamaddun Journal of Islamic Studies, 2022, 212–20.
Namun perlu dipahami bahwa perbuatan atau tindakan yang bermakna dakwah adalah jika perbuatan tersebut mampu menciptakan peluang kepada orang lain, sehingga orang lain tersebut terdorong untuk mengerti, memahami, meyakini dan hidup secara Islam. Inti dari tindakan dakwah adalah perubahan kepribadian seseorang dan masyarakat, oleh sebab itu maka rumusan tujuan dakwah harus bersifat dinamis dan progresif yaitu sebagai suatu proses yang tidak hanya dilakukan secara parsial dan temporal, tetapi dilakukan secara sistematis, berwawasan luas, berpandangan jauh ke depan, dan terrencana.
b) Pengertian Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur-unsur budaya dan sistem-sistem sosial, di mana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal meninggalkan pola- pola kehidupan, budaya, dan sistem sosial lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola-pola kehidupan, budaya, dan sistem sosial baru. Perubahan sosial dapat dikatakan sebagai suatu perubahan dari gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat; dimulai dari yang bersifat individual hingga yang lebih kompleks. Juga perubahan sosial dapat dilihat dari segi gejala-gejala terganggungnya kesinambungan di antara kesatuan sosial, walaupun keadaannya relatif kecil. Perubahan ini, meliputi: struktur, fungsi, nilai, norma, pranata, dan semua aspek yang dihasilkan dari interaksi antarmanusia, organisasi atau komunitas, termasuk perubahan dalam hal budaya. Dengan demikian, perubahan sosial merupakan suatu perubahan menuju keadaan baru yang berbeda dari keadaan sebelumnya.2
c) Perubahan Sosial Sebagai Salah Satu Tujuan Utama Dakwah
Perspektif pembangunan nasional disebutkan bahwa tujuan utama pembangunan adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya, meliputi aspek spiritual dan materil, itu berarti pembangunan sumber daya manusia sebagai makhluk sosial merupakan hal yang penting dan utama karena disamping menjadi target utama pembangunan tetapi juga berkaitan dengan peran manusia dalam melaksanakan serta menjamin kelangsungan atau kesinambungan pembangunan bangsa yang lebih baik secara keseluruhan di masa depan. Secara umum, persoalan bangsa terkait dengan ekonomi dan kesejahteraan sosial, seperti kemiskinan, kebodohan, dan semua yang berhubungan dengan kelemahan atau ketidakberdayaan yang
2 O Anlar MY Ağargün H Kara, “Dakwah Dan Perubahan Sosial: Studi Terhadap Peran Manusia Sebagai Khalifah Di Muka Bumi Abubakar,” Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents 7, no.
2 (2014): 107–15.
dialami oleh masyarakat. Memahami kesejahteraan sosial dapat dilihat pendapat yang dikemukakan oleh Michael Sherraden, yakni upaya menciptakan keadaan yang lebih baik, seperti memperoeh hak, kebahagiaan, tempat tinggal, kesehatan, tercukupinya kebutuhan, kenyamanan, dan lain sebagainya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, disamping melalui pendekatan kebijakan yang dirumuskan dan dijalankan oleh pemerintah tetapi juga dapat ditempuh dengan pendekatan sosial keagamaan melalui kegiatan dakwah dalam luas, seperti bidang ekonomi, sosial, kebudayaan, dan politik. Melalui kegiatan dakwah semacam itu diharapkan memberikan dampak positif, diantaranya perbaikan atau peruabahan khususnya dalam bidang sosial, misalnya perbaikan tingkat kesejahteraan, pendidikan, dan juga kesehatan sehingga dengan kondisi sosial yang lebih baik akan ikut memperbaiki kualitas keimanan dan ketaqwaan umat, sebagaimana yang diungkapkan dalam kalimat hikmah bahwa kefaqiran amat dekat dengan kekufuran (Kaadal Faqru Anyakuuna Kufra).3
B. Bagaimana Perubahan Sosial dapat Mempengaruhi Fakta Sosial?
Perubahan sosial adalah hal yang wajar terjadi seiring berjalannya waktu. Perubahan ini bisa dilihat dari berbagai sisi, seperti struktur masyarakat, norma dan nilai yang dianut, kesenjangan sosial, serta kebiasaan konsumsi masyarakat. Selain itu, faktor seperti globalisasi juga turut memicu perubahan sosial. Berikut penjelasan yang lebih sederhana tentang materi ini.
Struktur Sosial: Perubahan Pola Interaksi
Perubahan dalam struktur sosial, seperti urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota) dan industrialisasi (perkembangan industri), telah mengubah cara orang berinteraksi.
Dulu, di masyarakat agraris, hubungan antarindividu lebih dekat dan bersifat kekeluargaan.
Namun, dengan adanya industrialisasi, interaksi menjadi lebih formal dan kurang personal. Di satu sisi, hal ini membuka peluang bagi orang untuk naik kelas sosial melalui pendidikan atau pekerjaan. Namun, di sisi lain, ikatan sosial yang dulunya kuat bisa menjadi longgar.4
Norma dan Nilai: Perubahan Pandangan Masyarakat
3 Dakwah Dan et al., “Abubakar Madani Dakwah Dan Perubahan Sosial…” I, no. I (n.d.): 1–15.
4 Smith, J. (2020). Urbanization and Social Change: A Comparative Study. Journal of Social Sciences, 45(3), 123-145.
Perubahan sosial juga memengaruhi norma dan nilai yang dipegang oleh masyarakat.
Misalnya, dengan meningkatnya pendidikan dan akses informasi, pandangan masyarakat tentang isu-isu seperti kesetaraan gender dan hak asasi manusia mulai berubah. Dulu, peran laki-laki dan perempuan sering dibatasi oleh norma-norma tradisional. Sekarang, banyak masyarakat yang mulai menerima nilai-nilai baru yang lebih inklusif dan adil. Perubahan ini tidak hanya terjadi di tingkat individu, tetapi juga di tingkat pemerintah dan perusahaan.5 Kesenjangan Sosial: Dampak Ketimpangan
Perubahan sosial, terutama karena kemajuan teknologi, bisa menimbulkan kesenjangan antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Misalnya, revolusi industri dan digitalisasi menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga menghilangkan pekerjaan tradisional. Akibatnya, ketimpangan ekonomi semakin terasa. Kelompok yang mampu mengikuti perubahan akan diuntungkan, sementara yang tidak bisa mengikuti akan tertinggal. Hal ini bisa memicu konflik dan perpecahan dalam masyarakat. Kesenjangan ini tidak hanya soal uang, tetapi juga menyangkut akses ke pendidikan, kesehatan, dan sumber daya lainnya.6
Perilaku Konsumtif: Pengaruh Gaya Hidup Modern
Perubahan sosial juga memengaruhi kebiasaan belanja masyarakat. Dengan adanya globalisasi dan pengaruh media, gaya hidup materialistis semakin populer. Iklan dan budaya populer membuat orang merasa perlu memiliki barang-barang tertentu untuk dianggap sukses atau modern. Hal ini mendorong perilaku konsumtif, di mana orang membeli barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin diakui secara sosial. Dampaknya, masalah seperti hutang dan stres karena tekanan sosial pun meningkat.7
Faktor Penyebab Perubahan Sosial: Globalisasi
Globalisasi adalah salah satu faktor utama yang mendorong perubahan sosial. Dengan globalisasi, budaya dari berbagai negara saling bertemu dan memengaruhi satu sama lain.
Misalnya, budaya Barat yang dianggap modern sering diadopsi oleh masyarakat di negara berkembang. Hal ini bisa terlihat dari gaya hidup, pola konsumsi, dan nilai-nilai yang dianut.
5 Johnson, L. (2019). The Impact of Education on Social Norms and Values. International Journal of Sociology, 34(2), 89-102.
6 Brown, A. (2021). Technological Change and Social Inequality: A Global Perspective. Social Forces, 56(4), 234-250.
7 Davis, M. (2018). Consumerism and Social Change: The Role of Media in Shaping Behavior. Journal of Consumer Culture, 22(1), 45-60.
Namun, globalisasi juga bisa menimbulkan penolakan dari kelompok yang ingin mempertahankan budaya asli mereka. Akibatnya, masyarakat harus mencari keseimbangan antara tradisi dan modernitas.8
C. Bagaimana Realisasi Dakwah terhadap Perubahan dan Polarisasi Dakwah?
Dakwah, atau usaha menyebarkan ajaran Islam, memang sudah jadi kegiatan yang bisa mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat. Akan tetapi, di balik manfaatnya yang besar untuk membawa perubahan positif, dakwah juga sering menjadi penyebab masyarakat terpecah, terutama jika ada perbedaan penyampaiannya baik itu dari segi cara, metode, dan tujuan antara para pendakwah. Dari berbagai penelitian yang ada, kita bisa melihat bagaimana dakwah berperan dalam pembentukan masyarakat, sekaligus menjadi solusi dari masalah- masalah yang muncul akibat perpecahan yang ditimbulkannya.
a) Dakwah sebagai Katalisator Perubahan Sosial dan Spiritual
Dakwah telah membuktikan dirinya sebagai alat yang efektif dalam mendorong perubahan sosial dan spiritual. Misalnya, Gerakan Dakwah Majelis Tafsir Al-Quran di Kota Semarang menjadi contoh nyata bagaimana dakwah yang terorganisir dan sistematis mampu memengaruhi pola pikir dan perilaku keagamaan masyarakat. Gerakan ini tidak hanya fokus pada aspek ritual keagamaan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesadaran sosial.
Masyarakat yang terlibat dalam gerakan ini menunjukkan peningkatan pemahaman keagamaan dan partisipasi dalam kegiatan sosial, seperti yang diungkapkan oleh Suprihatiningsih dalam penelitiannya pada tahun 2017.9 Gerakan ini berhasil menciptakan ruang di mana masyarakat tidak hanya memahami ajaran Islam secara tekstual, tetapi juga mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya mengubah individu secara spiritual, tetapi juga membawa dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat.
Selain itu, peran mahasiswa dalam gerakan dakwah melalui organisasi seperti PMII dan HMI juga patut diapresiasi. Mahasiswa, sebagai agen perubahan, menggunakan dakwah sebagai medium untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman sekaligus mendorong reformasi sosial. Gerakan ini tidak hanya terbatas pada kegiatan keagamaan, tetapi juga melibatkan isu- isu sosial seperti keadilan, demokrasi, dan hak asasi manusia. Suprihatiningsih dalam
8 Thompson, R. (2017). Globalization and Cultural Change: A Sociological Perspective. Annual Review of Sociology, 43, 78-95.
9Suprihatiningsih, Respon Masyarakat terhadap Gerakan Dakwah Majelis Tafsir Al-Quran di Kota Semarang (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2017).
penelitiannya tahun 2016 mencatat bahwa gerakan dakwah mahasiswa ini berhasil menciptakan ruang dialog antara nilai-nilai keislaman dan tantangan sosial kontemporer.10 Dengan demikian, dakwah tidak hanya menjadi alat transformasi spiritual, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran kritis di kalangan pemuda. Mahasiswa yang terlibat dalam gerakan ini tidak hanya aktif dalam kajian keagamaan, tetapi juga turut serta dalam aksi-aksi sosial yang bertujuan untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan.
Tidak hanya itu, dakwah juga mampu menjawab tantangan global, seperti isu lingkungan. Gerakan Green Deen adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai keislaman dapat diintegrasikan dengan upaya pelestarian lingkungan. Gerakan ini tidak hanya mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap alam, tetapi juga menawarkan solusi praktis berbasis ajaran Islam. Suprihatiningsih dalam karyanya tahun 2016 menegaskan bahwa gerakan ini merupakan alternatif penyelesaian masalah lingkungan melalui pendekatan keagamaan.11 Gerakan ini berhasil mengajak masyarakat untuk melihat isu lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan, sehingga menciptakan kesadaran baru tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Dengan demikian, dakwah tidak hanya berbicara tentang akhirat, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan dunia.
b) Dakwah sebagai Sarana Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial
Dakwah juga memiliki peran strategis dalam pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat. Pemberdayaan Berbasis Masjid adalah salah satu contoh bagaimana masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan ekonomi.
Program-program seperti pelatihan keterampilan, pendirian koperasi, dan pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat, terutama di tingkat akar rumput. Suprihatiningsih dalam karyanya tahun 2022 menjelaskan bahwa pemberdayaan berbasis masjid ini berhasil menciptakan kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat solidaritas sosial di antara jamaah.12 Masjid, yang selama ini hanya dikenal sebagai tempat ibadah, kini menjadi pusat kegiatan yang memberdayakan masyarakat secara ekonomi dan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya membawa berkah spiritual, tetapi juga berkah ekonomi.
10 Suprihatiningsih, Mahasiswa dan Gerakan Perubahan (Studi pada Gerakan Dakwah PMII dan HMI Mahasiswa IAIN Walisongo) (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2016).
11 Suprihatiningsih, Green Deen: Gerakan Keagamaan Sebagai Alternatif Penyelesaian Problem Lingkungan (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2016).
12 Suprihatiningsih, Pemberdayaan Berbasis Masjid (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2022).
Selain itu, Pengembangan Ekonomi Islam Berbasis Kependudukan di Perdesaan juga menunjukkan bahwa dakwah dapat menjadi alat untuk menciptakan perubahan ekonomi yang berkelanjutan. Melalui pendekatan ekonomi syariah, seperti pembentukan Baitul Mal wat Tamwil (BMT) dan pengembangan usaha berbasis syariah, masyarakat desa diberdayakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Thohir Yuli Kusmanto dalam penelitiannya tahun 2014 menegaskan bahwa integrasi nilai-nilai ekonomi Islam dalam dakwah berhasil menciptakan perubahan pola ekonomi masyarakat, terutama di daerah perdesaan.13 Program ini tidak hanya membantu masyarakat untuk meningkatkan pendapatan, tetapi juga menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan. Dengan demikian, dakwah tidak hanya membawa perubahan spiritual, tetapi juga perubahan ekonomi yang signifikan.
c) Polarisasi Dakwah: Dampak dan Tantangan
Meskipun dakwah membawa banyak perubahan positif, realisasinya tidak lepas dari tantangan, salah satunya adalah polarisasi. Gerakan Dakwah Majelis Tafsir Al-Quran misalnya, meskipun berhasil menciptakan perubahan positif, juga menimbulkan polarisasi di antara masyarakat. Ada kelompok yang mendukung gerakan ini karena dianggap membawa pencerahan, sementara ada juga yang menolak karena perbedaan pandangan tentang metode dan pendekatan dakwah yang digunakan. Suprihatiningsih dalam penelitiannya tahun 2017 mencatat bahwa polarisasi ini terjadi karena perbedaan interpretasi terhadap ajaran Islam.14 Hal ini menunjukkan bahwa dakwah, meskipun bertujuan untuk menyatukan, justru dapat menciptakan perpecahan jika tidak dikelola dengan bijak.
Polarisasi juga terlihat dalam Gerakan Dakwah Mahasiswa, di mana terdapat perbedaan pendekatan antara organisasi seperti PMII dan HMI. Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menyebarkan nilai-nilai keislaman, perbedaan strategi dan metode dakwah yang digunakan menciptakan polarisasi di kalangan mahasiswa.15 Misalnya, PMII cenderung menggunakan pendekatan yang lebih inklusif dan berbasis pada nilai-nilai keadilan sosial, sementara HMI lebih fokus pada pendekatan keagamaan yang tekstual. Perbedaan ini
13 Thohir Yuli Kusmanto, Pengembangan Ekonomi Islam Berbasis Kependudukan di Perdesaan, Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 34, No. 2 (2014).
14 Suprihatiningsih, Respon Masyarakat terhadap Gerakan Dakwah Majelis Tafsir Al-Quran di Kota Semarang (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2017).
15 Suprihatiningsih, Mahasiswa dan Gerakan Perubahan (Studi pada Gerakan Dakwah PMII dan HMI Mahasiswa IAIN Walisongo) (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2016).
seringkali menimbulkan ketegangan di antara kedua kelompok, meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama.
Tidak hanya itu, Gerakan Green Deen juga menimbulkan polarisasi, terutama antara kelompok yang mendukung integrasi dakwah dengan isu lingkungan dan kelompok yang menganggap bahwa dakwah seharusnya fokus pada aspek spiritual saja.16 Polaritas ini menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu diterima secara universal, dan seringkali menimbulkan perdebatan di antara berbagai kelompok masyarakat. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku dakwah untuk menemukan keseimbangan antara menyebarkan ajaran Islam dan merespons isu-isu kontemporer.
d) Dakwah dan Upaya Mencegah Radikalisme
Di tengah kompleksitas tantangan yang dihadapi, dakwah juga memiliki peran penting dalam mencegah radikalisme. Dakwah Islam dan Pencegahan Radikalisme melalui Ketahanan Masyarakat menunjukkan bahwa dakwah yang menekankan nilai-nilai moderasi dan toleransi dapat membangun ketahanan masyarakat terhadap paham radikal. Najahan Musyafak dan Lulu Khoirin Nisa dalam penelitiannya tahun 2021 menjelaskan bahwa dakwah yang inklusif dan berbasis pada nilai-nilai perdamaian dapat menjadi alat efektif untuk mencegah penyebaran paham radikal.17 Dakwah yang moderat dan inklusif mampu menciptakan kesadaran baru di masyarakat tentang pentingnya menjaga persatuan dan menghindari paham-paham yang dapat memecah belah umat.
Namun, dakwah juga dapat menjadi alat untuk menyebarkan paham radikal jika tidak dikelola dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah memiliki dua sisi: sebagai alat untuk mencegah radikalisme dan sebagai alat untuk menyebarkan paham radikal. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa dakwah dilaksanakan dengan pendekatan yang moderat dan inklusif, sehingga dapat menjadi kekuatan pemersatu, bukan pemecah belah.
16 Suprihatiningsih, Green Deen: Gerakan Keagamaan Sebagai Alternatif Penyelesaian Problem Lingkungan (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2016).
17 Najahan Musyafak dan Lulu Khoirin Nisa, Dakwah Islam dan Pencegahan Radikalisme melalui Ketahanan Masyarakat, Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 41, No. 1 (2021).
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dakwah dan perubahan sosial merupakan dua aspek yang saling terkait dan memiliki pengaruh signifikan dalam dinamika kehidupan masyarakat. Dakwah, yang secara bahasa berarti seruan atau ajakan, tidak hanya berperan dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan individu, tetapi juga menjadi katalisator bagi perubahan sosial yang positif. Melalui berbagai metode dan strategi yang adaptif, dakwah mampu mengubah pola pikir, norma, nilai, dan perilaku masyarakat, sehingga menciptakan kehidupan yang lebih seimbang antara aspek spiritual dan material.
Perubahan sosial, sebagai proses alami yang terjadi seiring perkembangan zaman, dapat diamati melalui berbagai indikator seperti perubahan struktur sosial, norma dan nilai, kesenjangan sosial, serta perilaku konsumtif. Faktor-faktor seperti globalisasi, urbanisasi, dan industrialisasi menjadi pendorong utama terjadinya perubahan ini. Namun, perubahan sosial juga membawa tantangan, seperti meningkatnya kesenjangan ekonomi, polarisasi, dan konflik sosial, yang perlu diatasi secara bijaksana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan perubahan sosial. Sebagai katalisator perubahan, dakwah tidak hanya membawa transformasi spiritual, tetapi juga berkontribusi dalam pemberdayaan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Contoh nyata dapat dilihat dari gerakan dakwah berbasis masjid yang berhasil memberdayakan masyarakat secara ekonomi melalui pendirian koperasi dan pelatihan keterampilan. Selain itu, gerakan dakwah mahasiswa dan Green Deen menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diintegrasikan dengan isu-isu sosial dan lingkungan, menciptakan kesadaran baru tentang pentingnya keadilan sosial dan pelestarian alam.
Namun, penelitian ini juga mengungkap bahwa dakwah tidak lepas dari tantangan, terutama dalam hal polarisasi. Perbedaan metode, pendekatan, dan interpretasi ajaran Islam dapat menimbulkan perpecahan di antara masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi para da’i (juru dakwah) untuk menggunakan pendekatan yang inklusif, moderat, dan berbasis pada nilai-
nilai perdamaian. Dengan demikian, dakwah dapat menjadi alat pemersatu, bukan pemecah belah, serta mampu mencegah penyebaran paham radikal.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa dakwah dan perubahan sosial adalah dua elemen yang saling melengkapi. Dakwah tidak hanya bertujuan untuk membawa perubahan spiritual, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk masyarakat yang adil, sejahtera, dan berkelanjutan. Dengan memahami dinamika perubahan sosial dan menerapkan metode dakwah yang tepat, para da’i dapat memainkan peran strategis dalam membawa kemajuan bagi umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Penelitian ini juga membuka ruang untuk kajian lebih lanjut tentang bagaimana dakwah dapat terus beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensi dan tujuannya yang mulia.
DAFTAR PUSTAKA
Budi Ariyanto and Mochammad Irfan Achfandhy, “Dakwah Dan Perubahan Sosial Pada Masyarakat Multikultur,” Tamaddun Journal of Islamic Studies, 2022.
O Anlar MY Ağargün H Kara, “Dakwah Dan Perubahan Sosial: Studi Terhadap Peran Manusia Sebagai Khalifah Di Muka Bumi Abubakar,” Paper Knowledge. Toward a Media History of Documents 7, no. 2 (2014).
Dakwah Dan et al., “Abubakar Madani Dakwah Dan Perubahan Sosial…” I, no. I (n.d.).
Suprihatiningsih, Respon Masyarakat terhadap Gerakan Dakwah Majelis Tafsir Al-Quran di Kota Semarang (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2017).
Suprihatiningsih, Mahasiswa dan Gerakan Perubahan (Studi pada Gerakan Dakwah PMII dan HMI Mahasiswa IAIN Walisongo) (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2016).
Suprihatiningsih, Green Deen: Gerakan Keagamaan Sebagai Alternatif Penyelesaian Problem Lingkungan (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2016).
Suprihatiningsih, Pemberdayaan Berbasis Masjid (Semarang: LP2M UIN Walisongo, 2022).
Thohir Yuli Kusmanto, Pengembangan Ekonomi Islam Berbasis Kependudukan di Perdesaan, Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 34, No. 2 (2014).
Najahan Musyafak dan Lulu Khoirin Nisa, Dakwah Islam dan Pencegahan Radikalisme melalui Ketahanan Masyarakat, Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 41, No. 1 (2021).
Smith, J. (2020). Urbanization and Social Change: A Comparative Study. Journal of Social Sciences, 45(3).
Johnson, L. (2019). The Impact of Education on Social Norms and Values. International Journal of Sociology, 34(2).
Brown, A. (2021). Technological Change and Social Inequality: A Global Perspective.
Social Forces, 56(4).
Davis, M. (2018). Consumerism and Social Change: The Role of Media in Shaping Behavior.
Journal of Consumer Culture, 22(1).
Thompson, R. (2017). Globalization and Cultural Change: A Sociological Perspective.
Annual Review of Sociology, 43.