Salah satu aspek sosial budaya yang paling penting adalah ke-pendudukan. Aspek kependudukan dan interaksi kependudukan (mo-bilitas penduduk) merupakan informasi yang mendasar terkait dengan perkembangan suatu wilayah, Perkembangan suatu wilayah berim-plikasi terhadap pertumbuhan dan kepadatan penduduk. Faktor ke-pendudukan juga dijadikan sebagai indikator yang efektif dalam pem-bangunan suatu wilayah, seperti penduduk terkait dengan perkem-bangan ekonomi suatu wilayah dan migrasi ke luar maupun dalam wilayah. Di sisi lain faktor penduduk juga sering kali menjadi faktor utama dari berbagai masalah dalam pembangunan, terutama berkaitan dengan degradasi sumber daya alam dan lingkungan hidup. Di banyak kasus, kerusakan sumber daya alam dan lingkungan pada kenyataan-nya bakenyataan-nyak terkait dengan tekanan penduduk. Informasi tentang pro-yeksi kependudukan menjadi penting, terutama terkait dengan mem-proyeksi tingkat degradasi sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Data kependudukan juga sering dijadikan sebagai patokan kinerja pembangunan suatu wilayah. Seperti pertumbuhan ekonomi suatu wilayah, dinilai efektif jika pertumbuhannya berada di atas pertum-buhan penduduk, dan sebaliknya pertumpertum-buhan ekonomi dinilai ku-rang efektif jika berada di bawah pertumbuhan penduduk.
Secara agregat struktur demografi suatu wilayah dapat mem-pengaruhi pembangunan wilayah, seperti struktur usia penduduk da-pat berimplikasi terhadap pola dan struktur konsumsi, produktivitas, ketersediaan lapangan pekerjaan dan sebagainya. Struktur kependu-dukan berdasarkan status seperti penduduk kawasan perdesaan, per-kotaan, hingga suku/golongan, asli/pendatang, dan berdasarkan
kesejahteraan seperti miskin/kaya, serta berdasarkan pendidikan dan gender akan menentukan produktivitas, hingga preferensi sosial ma-syarakat di suatu wilayah. Dengan demikian maka informasi kepen-dudukan dan aspek-aspeknya menjadi penting untuk diperhatikan, karena dapat berimplikasi pada pembangunan.
Berbicara aspek kependudukan sama halnya dengan membahas aspek sumber daya manusia. Sumber daya manusia, indikator ope-rasionalnya antara lain pengetahuan, ketrampilan, kompetensi, etos kerja/sosial, pendapatan/produktivitas, kesehatan dan Indeks Pem-bangunan Manusia (IPM/IIDI). Sumber daya manusia merupakan fo-kus tujuan dari semua kegiatan yang ada; pembangunan ekonomi, pembangunan fisik dan sebagainya yang telah dilaksanakan, tanpa adanya kesiapan dari manusianya sendiri maka pembangunan tersebut akan berakhir sia-sia. Pembangunan manusia merupakan suatu proses untuk memperluas pilihan-pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people's choice). Pada konsep itu manusia ditempatkan sebagai tujuan akhir (the ultimate end), bukan alat, cara atau instrumen pembangunan sebagaimana yang dilihat oleh model formal modal manusia (human capital formation) sedangkan upaya pembangunan dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu. Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan manusia, ada empat hal yang perlu diperhatikan yaitu produktivitas, pemerataan, keberlanjutan dan pemberdayaan. Perhati-an pembPerhati-angunPerhati-an bukPerhati-an hPerhati-anya pada upaya untuk meningkatkPerhati-an kapa-bilitas manusia (melalui intervensi masyarakat) saja, tetapi juga pada upaya-upaya pemanfaatan kapabilitas tersebut secara penuh.
Sebenarnya paradigma pembangunan manusia tidak hanya pada empat hal tersebut. Pilihan-pilihan tambahan yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat luas seperti kebebasan politik, ekonomi, dan so-sial, sampai kepada kesempatan untuk menjadi kreatif dan produktif, serta menikmati kehidupan yang sesuai dengan harkat pribadi dan
24 ANALISIS POTENSI WILAYAH (ANPOTWIL)
jaminan hak-hak azasi manusia merupakan bagian dari paradigma ter-sebut. Dengan demikian, paradigma pembangunan manusia mem-punyai dua sisi. Sisi pertama berupa formasi kapabilitas manusia se-perti perbaikan taraf kesehatan, pendidikan, dan ketrampilan. Sisi yang lain adalah pemanfaatan kapabilitas mereka untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat produktif, kultural, sosial dan politik. Jika kedua sisi tidak seimbang maka hasilnya adalah masyarakat yang frustasi.
Pembangunan menghendaki terjadinya peningkatan kualitas hi-dup penduduk yang lebih baik secara fisik, mental maupun secara spiritual. Bahkan secara eksplisit disebutkan pembangunan .yang di-lakukan menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia secara fisik dan mental mengandung makna peningkatan kapasitas dasar penduduk yang kemudian akan memperbesar kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan yang berkelanjutan.
Azas pemerataan merupakan salah satu prinsip pembangunan, manu-sia. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi. peningkatan kualitas fisik dan mental penduduk dilakukan pemerintah melalui pembangunan di bidang pendidikan dan kesehatan yang program pembangunannya di-rancang untuk memperluas jangkauan pelayanan pendidikan dan kese-hatan dasar.
Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ma-nusia berlangsung melalui dua macam jalur. Jalur pertama melalui ke-bijaksanaan dan pengeluaran pemerintah. Dalam hal ini faktor yang menentukan adalah pengeluaran pemerintah untuk subsektor sosial yang merupakan prioritas seperti pendidikan dan kesehatan dasar.
Besarnya pengeluaran itu merupakan indikasi besarnya komitmen pe-merintah terhadap pembangunan manusia. Jalur kedua adalah melalui kegiatan pengeluaran rumah tangga. Dalam hal ini, faktor yang menen-tukan adalah besar dan komposisi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan dasar seperti pemenuhan nutrisi anggotanya, untuk biaya
pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar, serta untuk kegiatan lain yang serupa.
Selain pengeluaran pemerintah dan pengeluaran rumah tangga, hubungan antara kedua variabel itu berlangsung melalui penciptaan la-pangan kerja. Aspek ini penting, karena sesungguhnya, penciptaan lapangan kerja merupakan "jembatan utama" yang mengkaitkan antara keduanya.
Melalui upaya pembangunan manusia. kemampuan dasar dan ketrampilan tenaga kerja termasuk petani. pengusaha, dan manajer diharapkan akan meningkat. Mereka yang bekerja akan terlibat dalam proses produksi di mana hal itu ditentukan oleh banyaknya kesem-patan kerja yang tersedia (employment) sebagai hasil pembangunan eko-nomi. Jumlah tenaga kerja yang melakukan proses produksi me-nen-tukan besarnya volume Produk Domestik Bruto (PDB) dan PDRB.
Semakin tinggi pendidikan, kesehatan, dan keamanan pekerja dianggap mencerminkan kualitas modal manusia yang baik. Apabila kualitas modal manusia semakin baik, maka berpengaruh pada pening-katan produktivitas pekerja, semakin tinggi kualitas modal manusia akan semakin tinggi pula tingkat produksi. Jumlah dan kualitas pekerja yang meningkat dan jika terlibat sebagai faktor produksi dengan meng-hasilkan output yang baik akan mempercepat peningkatan pembangun-an.
Program Pembangunan PBB (UNDP, United Nations Development Program) yang fokus pada aspek-aspek "pembangunan manusia" (hu-man development) membuat klasifikasi yang mencakup variabel-variabel nonekonomi seperti usia harapan hidup, tingkat kematian bayi, dan capaian pendidikan, di samping variabel-variabel pokok ekonomi se-perti angka pendapatan per kapita. Maka disusunlah indeks baru yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (HDI, Human Developmen Index).
IPM ini mengukur pencapaian keseluruhan dari suatu daerah/negara
26 ANALISIS POTENSI WILAYAH (ANPOTWIL)
dalam tiga dimensi dasar pembangunan manusia, yaitu lamanya hidup, pengetahuan dan suatu standar hidup yang layak. Ketiganya diukur dengan angka harapan hidup, pencapaian pendidikan dan pendapatan per kapita yang telah disesuaikan menjadi paritas daya beli. IPM adalah suatu ringkasan dan bukan ukuran komprehensif dari pembangunan manusia.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indeks kom-posit yang digunakan untuk mengukur pencapaian rata-rata suatu negara/daerah dalam tiga hal mendasar pembangunan manusia, yaitu:
lama hidup yang diukur dengan angka harapan hidup ketika lahir;
pendidikan yang diukur berdasarkan rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas; dan standar hidupnya diukur dengan pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan menjadi paritas daya beli (PPP, Purchasing power parity) dari mata uang domes-tik di masing-masing negara guna lebih mencerminkan besar kecilnya biaya hidup dan juga untuk menyesuaikan dengan fakta menyusutnya utilitas marginal pendapatan di atas tingkat pendapatan dunia. Nilai indeks berkisar antara 0 - 1 di mana 0 (prestasi pembangunan manusia terendah) dan satu (kinerja pembangunan manusia tertinggi) (Todaro, 1998).