PEMBANGUNAN WILAYAH
C. Pendekatan Regional
Pendekatan regional sangat berbeda dengan pendekatan sektoral walaupun tujuan akhirnya adalah sama. Pendekatan sektoral adalah pendekatan yang pada mulanya mengabaikan faktor ruang (spasial).
Memang pendekatan sektoral dapat diperinci atas daerah yang lebih kecil, misalnya analisis sektoral per kabupaten, per kecamatan atau per desa, sehingga seakan-akan faktor ruang telah terpenuhi. Hal ini belum memenuhi pendekatan regional karena pendekatan regional memiliki segi-segi tersendiri.
Pendekatan sektoral lebih dahulu memperhatikan sektor/komo-diti yang kemudian setelah dianalisis, menghasilkan proyek-proyek yang diusulkan untuk dilaksanakan. Setelah proyeknya diketahui, barulah dipikirkan di mana lokasi proyek tersebut. Pendekatan region-nal dalam pengertian sempit adalah memperhatian ruang dengan se-gala kondisinya. Setelah melalui analisis diketahui bahwa masih ada ruang yang belum dimanfaatkan atau penggunaanya masih belum optimal, kemudian direncanakan kegiatan apa yang sebaiknya diada-kan pada lokasi tersebut. Dengan demikian penggunaan ruang menjadi serasi dan efisien agar memberi kemakmuran yang optimal bagi ma-syarakat. Dari uraian di atas diketahui bahwa sasaran akhir kedua pen-dekatan tersebut adalah sama, yaitu menentukan kegiatan apa pada lokasi mana. Perbedaannya hanya terletak pada cara memulai dan sifat analisisnya. Pendekatan regional dalam pengertian lebih luas, selain memperhatikan penggunaan ruang untuk kegiatan produksi/jasa juga memprediksi arah konsentrasi kegiatan dan memperkirakan kebutuhan
94 ANALISIS POTENSI WILAYAH (ANPOTWIL)
fasilitas untuk masing-masing konsentrasi serta merencanakan jarring-an-jaringan penghubung sehingga berbagai konsentrasi kegiatan dapat dihubungkan secara efisien.
Analisis regional adalah analisis atas penggunaan ruang untuk saat ini, analisis atas aktifitas yang akan mengubah penggunaan ruang dan perkiraan atas bentuk penggunaan ruang di masa yang akan datang. Analisis regional (spasial) didasarkan pada anggapan bahwa perpindahan orang dan barang dari satu daerah ke daerah lain adalah bebas dan bahwa orang (juga barang) akan berpindah berdasarkan daya tarik suatu daerah yang lebih kuat dari daerah lain. Pendekatan regional adalah pendekatan yang memandang wilayah sebagai kum-pulan dari bagian-bagian wilayah yang lebih kecil dengan potensi dan daya tariknya masing-masing. Hal inilah yang membuat mereka saling menjalin hubungan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besar-nya. Jadi perlu dilihat dan dianalisis dinamisme pergerakan dari faktor-faktor produksi (kecuali alam), yaitu bergerak dari suatu daerah ke daerah lain. Daya tarik itu sendiri berupa potensi dan peluang-peluang yang lebih tinggi di suatu daerah dibanding dengan daerah lain.
Memang analisis sektoral yang diperinci menurut satuan daerah yang lebih kecil diperlukan sebagai masukan dalam analisis regional untuk menentukan daya tarik masing-masing bagian wilayah tersebut. Dalam analisis regional misalnya, tidak diramalkan bahwa pertambahan pen-duduk secara alamiah di Kecamatan X akan tetap tinggal di situ sampai batas jangka perencanaan (misalnya sampai 5 tahun mendatang) dan tidak akan ada penduduk luar yang akan pindah ke Kecamatan terse-but.
Analisis regional berusaha meramalkan penduduk berdasarkan daya tarik setiap satuan wilayah. Pada dasarnya pergeseran penduduk sekaligus menggambarkan pergeseran faktor-faktor produksi karena pergeseran penduduk selalu disertai atau disebabkan oleh pergeseran
modal dan keahlian. Jadi, pertambahan riil suatu daerah adalah per-tumbuhan faktor-faktor produksi yang ada di daerah ditambah faktor produksi yang datang dari luar daerah dikurangi faktor produksi yang keluar dari daerah tersebut.
Dalam analisis regional sangat perlu diperhatikan kemungkinan munculnya proyek-proyek besar yang baru atau perluasan proyek yang sudah ada dan kemudian mengantisipasi perubahan yang ditim-bulkannya terhadap lingkungan maupun terhadap daerah tetangga di sekitarnya. Sebaliknya, perubahan besar di daerah tetangga dapat mempengaruhi perekonomian di daerah sekitarnya. Perubahan itu da-pat berakibat positif maupun negatif. Faktor daya tarik ini kadang-kadang mendorong pemerataan pertumbuhan antardaerah di satu wi-layah, tetapi di wilayah lain malah menimbulkan makin parahnya ke-pincangan pertumbuhan antardaerah. Dalam perencanaan pem-bangunan hal ini perlu dipertimbangkan sejak awal. Hal itu penting untuk menghindari makin pincangnya pertumbuhan antardaerah mau-pun untuk menghitung kebutuhan riil suatu fasilitas di daerah tertentu karena pertumbuhan penduduk bisa sangat jauh berbeda dengan per-tumbuhan di masa lalu.
Pendekatan regional adalah pendekatan ekonomi dan pende-katan ruang. Pendepende-katan ekonomi terutama untuk cabang ekonomi re-gional dan dapat dipakai berbagai peralatan analisis, baik dari ekonomi umum/ekonomi pembangunan, atau lebih khusus ekonomi regional untuk melihat arah perkembangan sesuatu daerah di masa yang akan datang. Berbagai model analisis yang bisa diterapkan, antara lain teori yang menyangkut pertumbuhan ekonomi daerah, analisis competitive-ness dari sektor-sektor yang ada di suatu wilayah, model gravitasi, hubungan kota dengan daerah belakangnya, berbagai teori lokasi, hu-bungan interregional, dan lain-lain. Analisis ekonomi regional dapat memberi jawaban atas sektor mana yang perlu dikembangkan serta
96 ANALISIS POTENSI WILAYAH (ANPOTWIL)
tingkat prioritas pengembangannya. Akan tetapi, belum mampu men-jawab pertanyaan, seperti lokasi di mana sektor itu dikembangkan, berapa luas lahan yang digunakan, serta besarnya prasarana atau fasi-litas sosial yang perlu dibangun dan berikut lokasinya.
Analisis ekonomi regional kemudian dikombinasikan dengan pendekatan tata ruang, sehingga harus dibarengi dengan peta-peta un-tuk mempermudah dan memantapkan analisis. Selain menggambarkan keadaan saat ini ada juga peta yang menggambarkan proyeksi arah perpindahan faktor-faktor produksi dan peta perkiraan kondisi di masa yang akan datang.
Pendekatan ruang adalah pendekatan dengan memperhatikan:
1. struktur ruang saat ini,
2. penggunaan lahan saat ini, dan
3. kaitan suatu wilayah terhadap wilayah tetangga.
Unsur-unsur struktur ruang yang utama terbagi 3 (tiga) yaitu : 1. orde-orde perkotaan, termasuk di dalamnya konsentrasi
permu-kiman;
2. sistemjaringan lalu lintas, termasuk penetapan jaringan jalan pri-mer, jaringan jalan sekunder, dan jaringan jalan lokal;
3. kegiatan ekonomi berskala besar yang terkonsentrasi, seperti ka-wasan industri, "kaka-wasan pariwisata, kaka-wasan pertambangan, dan kawasan perkebunan.
Struktur ruang adalah hierarki di antara ruang atau lokasi ber-bagai kegiatan ekonomi. Analog antara struktur organisasi dengan struktur ruang dapat dikemukakan pada bagan berikut ini.
Bagan 5.1 Analog Struktur Organisasi dengan Struktur Ruang