BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Deskripsi Hasil Penelitian
4.2.7. Deskripsi Variabel Minat Beli
4.2.8.3. Deteksi Multicoloniarity dan Singularity
Dengan mengamati Determinant Matriks covarians. Dengan ketentuan apabila determinant sampel matrix mendekati angka (0) kecil, maka terjadi multikoloniaritas dan singularitas ( Tabacnick dan Fidell, 1998).
Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan program AMOS 4.0 diperoleh hasil determinant sample covariance matrix
multikoloniaritas dan singuliritas dalam data ini sehingga asumsi terpenuhi.
4.2.8.4. Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas menyangkut tingkat akurasi yang ingin dicapai oleh sebuah indikator dalam menilai sesuatu atau akuratnya pengukuran atas apa yang seharusnya diukur. Sedangkan reliabilitas adalah ukuran mengenai konsistensi internal dari indikator - indikator sebuah konstruk yang menunjukkan derajat sampai dimana masing- masing indicator itu mengidikasikan sebuah konstruk yang umum.
Karena indikator multidimensi, maka uji validitas dari setiap
latent variabel construct akan diuji dengan melihat factor loading
factor dari setiap hubungan antara setiap observed variabel dan
latent variabel.
Sedangkan reliabilitas diuji dengan construct reliability dan
variance extracted Dari hasil pengolahan data didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.13.
Faktor loading dan Konstruk dengan Comfirmatory Factor Analisis
Faktor Loading Konstrak Indikator 1 2 3 4 X11 0,477 Credibility X12 0,540 X21 0,523 X22 0,533 Attraction X23 0,214 Y11 0,214 Y12 0,326 Purchase Intention Y13 -0,114 Y21 0,425 Y22 0,293 Recognition Y23 0,183 Y31 0,232 Y32 0,718 Reputation Y33 0,473 Y41 0,041 Y42 0,424 Propinquity Y43 0,993
Sumber : Hasil Pengolahan Data
Berdasarkan hasil confirmatory factor analysis terlihat bahwa factor loadings masing - masing butir pertanyaan yang membentuk setiap construct belum seluruhnya ≥ 0,5 sehingga butir- butir instrumentasi setiap konstruk tersebut dapat dikatakan validitasnya cukup baik.
Koefisien Cronach’s Alpha dihitung untuk mengestimasi reliabilitas setiap skala (variabel atau indikator observarian). Sementara itu item to total correlation digunakan untuk memperbaiki ukuran - ukuran dan mengeliminasikan butir-butir yang kehadirannya akan memperkecil koefisien Cronbach's Alpha
yang dihasilkan.
Hasil pengujian reliabilitas Coefisien Internal dalam penelitian in, dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 4.14.
Pengujian Reliability Consistency Internal Konstrak Indikator Item to Total
Correlation Koefisien Cronbach's Alpha X11 0,762 Credibility X12 0,817 0,396 X21 0,698 X22 0,679 Attraction X23 0,626 0,365 Y11 0,594 Y12 0,532 Purchase Intention Y13 0,604 0,002 Y21 0,591 Y22 0,628 Recognition Y23 0,605 0,134 Y31 0,614 Y32 0,728 Reputation Y33 0,694 0,410 Y41 0,576 Y42 0,780 Propinquity Y43 0,741 0,481 Y6 : tereliminasi sumber : Hasil Pengolahan Data
Proses eliminasi diperlakukan pada item to total correlation pada indikator yang nilainya < 0,5 [ Purwanto,2003 ]. Tidak
terjadi eliminasi karena nilai item to total correlation pada
indicator seluruhnya 0,5. Indikator yang tereliminasi tidak diikutsertakan pada perhitungan cronbach's alpha.
Hasil pengujian reliabilitas konsistensi internal untuk setiap
construct diatas menunjukkan hasil cukup baik dimana koefisien
Cronbach’s Alpha yang diperoleh belum seluruhnya memenuhi rules of thumb yang disyaratkan yaitu 0,7 ( Hair et.a1,1998 ).
Selain melakukan pengujian konsistensi internal cronbach'.s Alpha, perlu juga dilakukan pengujian construct reliability dan
variance extracted. Kedua pengujian tersebut masih dalam koridor uji konsistensi internal yang akan memberikan peneliti kepercayaan
diri yang lebih besar bahwa indikator-indikator individual mengukur suatu pengukuran yang sama. Construct reliability dan
Variance-extraced dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Construct Reliability =
j 2 2 loading eed Standardiz loading ed Standardiz Variance Reliability =
j 2 2 loading eed Standardiz loading ed StandardizSementara €j dapat dihitung dengan formula €j = 1-
[Standardize loading] secara umum, nilai construct reliability yang dapat diterima adalah ≥ 0,5 ( Hair at, 1998). Standardize loading
dapat diperoleh dari output AMOS 4.01, dengan melihat estimasi setiap construct standardize regression weight terhadap setiap butir sebagai indikatornya
€j = 1 - [Standardize loading2]
Hasil pengujian Construct Reliability dan Variance Extraced dalam penelitian ini akan ditampilkan pada table berikut :
Tabel 4.15.
Construct Reliability & Variance Extrated
Construct Reliability & Variance Extrated Konstrak Indikator Standardize
Factor Loading SFL Kuadrat Error [εj] Construct Reliability Variance Extrated X11 0,477 0,228 0,772 Credibility X12 0,540 0,292 0,708 0,411 0,260 X21 0,236 0,056 0,944 X22 0,523 0,274 0,726 Attraction X23 0,533 0,284 0,716 0,412 0,204 Y11 0,214 0,046 0,954 Y12 0,326 0,106 0,894 Purchase Intention Y13 -0,114 0,013 0,987 0,060 0,055 Y21 0,425 0,181 0,819 Y22 0,293 0,086 0,914 Recognition Y23 0,183 0,033 0,967 0,231 0,100 Y31 0,232 0,054 0,946 Y32 0,718 0,516 0,484 Reputation Y33 0,473 0,224 0,776 0,478 0,264 Y41 0,041 0,002 0,998 Y42 0,424 0,180 0,820 Propinquity Y43 0,993 0,986 0,014 0,537 0,389
Batas Dapat Diterima ≥ 0,7 ≥ 0,5 sumber : Hasil Pengolahan Data
Hasil pengujian reliabilitas instrumen dengan construct reliability dan variance extracted menunjukkan instrumen cukup
reliabel, yang ditunjukkan dengan nilai construct reliability
belum seluruhnya 0,7. Meskipun demikian angka tersebut bukanlah sebuah ukuran "mati" artinya bila penelitian yang dilakukan bersifat exploratory, maka nilai di bawah 0,70 pun masih dapat diterima sepanjang disertai alasan-alasan empirik yang terlihat dalam proses eksplorasi. Dan variance extracted direkomendasikan pada tingkat 0,50.
4.2.9. Uji Hipotesis
4.2.9.1. Pengujian Model Dengan One-Step Approach
Dalam model SEM, model pengukuran dan model structural parameter-parameternya diestimasi secara bersama-sama. Cara ini agak mengalami kesulitan dalam memenuhi tuntutan fit model. Kemungkinan terbesar disebabkan oleh terjadinya interaksi antara
measurement model dan structural model yang diestimasi secara bersama-sama [ One Step Approach to SEM ]. One step approach to
SEM digunakan apabila model diyakini bahwa dilandasi teori yang kuat serta validitas & reliabilitas data sangat baik [Hair et,a1.1998].
Hasil estimasi dan fit model one step approach to SEM dengan menggunakan program aplikasi AMOS 4.01 terlihat pada gambar dan Tabel Goodness of Fit dibawah ini.
Tabel 4.16. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices
Kriteria Hasil Nilai Kritis Evaluasi Model Cmin/DF 1,039 ≤ 2,00 baik Probability 0,370 ≥ 0,05 baik RMSEA 0,020 ≤ 0,08 baik
GFI 0,887 ≥ 0,90 kurang baik AGFI 0,845 ≥ 0,90 kurang baik TLI 0,932 ≥ 0,95 kurang baik CFI 0,944 ≥ 0,94 kurang baik Sumber : Hasil Pengolahan Data
Dari hasil evaluasi terhadap model one step basemodel ternyata dari
semua kriteria goodness of fit yang digunakan, belum seluruhnya menunjukkan hasil evaluasi model yang baik, berarti model belum sesuai dengan data. Artinya, model konseptual yang dikembangkan dan dilandasi oleh teori belum sepenuhnya didukung oleh fakta. Dengan demikian model ini masih perlu dimodifikasi sebagaimana terdapat di bawah ini.
M od if ik a si : Estimate Prob. er_15 <-- > er_8 -0,102 0,008 er_3 <-- > er_2 0,122 0,008 er_11 <-- > er_12 0,116 0,017 er_13 <-- > er_8 0,121 0,015 er_15 <-- > d_at 0,029 0,126 Y42 <-- Attraction 1,091 0,134 Y33 <-- Attraction 1,529 0,139
Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices
Kriteria Hasil Nilai Kritis Evaluasi
Model Cmin/DF 0,679 ≤ 2,00 baik Probability 0,996 ≥ 0,05 baik RMSEA 0,000 ≤ 0,08 baik GFI 0,928 ≥ 0,90 baik AGFI 0,900 ≥ 0,90 baik TLI 1,559 ≥ 0,95 baik CFI 1,000 ≥ 0,94 baik
Dari hasil evaluasi terhadap model one step modifikasi ternyata dari
semua kriteria goodness of fit yang digunakan, seluruhnya menunjukkan hasil evaluasi model yang baik, berarti model telah sesuai dengan data. Artinya, model konseptual yang dikembangkan dan dilandasi oleh teori telah sepenuhnya didukung oleh fakta. Dengan demikian model ini adalah model yang terbaik untuk menjelaskan keterkaitan antar variabel dalam model sebagaimana terdapat di bawah ini.
Dilihat dari angka determinant of sample covariance matrix : 17,52 > 0 mengindikasikan tidak terjadi multicolinierity atau singularity dalam data ini sehingga asumsi terpenuhi. Dengan demikian besaran koefisien regresi masing- masing faktor dapat dipercaya sebagaimana terlihat pada uji kausalitas di bawah ini.
4.2.10.Uji Unidimensionalitas dan Kausalitas
Dilihat dari angka determinant of sample covariance matrix : 17,52 > 0 mengindikasikan tidak terjadi multicolinierity atau singularity dalam data ini sehingga asumsi terpenuhi. Dengan demikian besaran koefisien regresi masing- masing faktor dapat dipercaya sebagaimana terlihat pada uji kausalitas di bawah ini.
Uji Unidimensionalitas faktor-faktor yang membetuk kualitas layanan (X) dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.17. Uji Unidimensionalitas
Faktor Faktor Ustd Estimate Std Estimate Prob Credibility <-- Celebrity_Endoser 0,308 0,975 0,001 Attraction <-- Celebrity_Endoser 0,009 0,056 0,771 Recognition <-- Brand_Image 22,124 0,955 0,674 Propinquity <-- Brand_Image 1,000 0,482 0,000 Reputation <-- Brand_Image 9,829 0,568 0,681 Batas Signifikansi 0,10 Sumber : Lampiran 3
Berdasarkan tabel 4.16 dapat diketahui bahwa untuk faktor Credibility dengan nilai loading sebesar 0,975 dan probabilitas (p) sebesar 0,001, faktor Attraction dengan nilai loading sebesar 0,056dan probabilitas (p) sebesar 0,771, faktor Reputation dengan nilai loading sebesar 0,955 dengan probabilitas (p) sebesar 0,674, faktor Recognition dengan nilai loading sebesar 0,482 dan probabilitas (p) sebesar 0,000,
dan faktor Propinquity dengan nilai loading sebesar 0,568 dengan probabilitas (p) sebesar 0,681.
Faktor Credibility mampu membentuk Celebrity Endoser (X)
karena memiliki probabilitas (p) ≤ 0,10, dan dimensi Attraction, Relationship, Reputation, dan Recognition tidak mampu membentuk
Celebrity Endoser (X) karena memiliki probabilitas (p) > 0,10.
Uji Kausalitas antar faktor yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.18.
Uji Kausalitas Antar Faktor
Ustd Std
Faktor Faktor Estimate Estimate Prob. Brand_Image Celebrity_Endoser 0,008 0,819 0,671 Purchase_Intention Celebrity_Endoser -0,140 -0,893 0,154
Batas Signifikansi ≤ 0,10
Sumber : Lampiran 3
Dilihat dari tingkat Prob. arah hubungan kausal, maka hipotesis yang menyatakan bahwa :
a. Faktor Celebrity Endoser berpengaruh positif terhadap Faktor Brand Image, tidak dapat diterima [Prob. kausalnya 0,671 > 0,10 [tidak signifikan [positif]. b. Faktor Celebrity Endoser berpengaruh positif terhadap Faktor Purchase Intention, tidak dapat diterima [Prob. kausalnya 0,154 > 0,10 [tidak signifikan [negatif].
4.3. Pembahasan
Berdasarkan tabel 4.17 dapat diketahui bahwa Selebritis endoser
(Celebrity Endorser) tidak berpengaruh signifikan [positif] terhadap Citra merek (Brand Image) produk Shampo Clear. Hasil pengujian menunjukan bahwa celebrity endoser tingkat probability kasualnya sebesar 0,671 > 0,10 yang digunakan. Sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa diduga terdapat pengaruh positif Selebritis endoser terhadap Citra merekproduk Shampo Clear, tidak dapat diterima. Hal ini dapat diartikan bahwa Selebritis endoser yang meliputi Kredibilitas
(credibility) dan Daya Tarik (Attraktiveness) belum mampu
mempengaruhi Citra merek (Brand Image) produk Shampo Clear
Pendapat Royan (2005:7) yang menyatakan bahwa selebritis yang tepat akan mengikat erat brand produk menjadi brand seperti yang diwakili oleh selebritis, Hal ini dikarenakan selebritis sebagai endorser adalah wujud nyata dari berbagai image atau asosiasi yang dipikirkan oleh khalayak sasaran pada suatu merek Royan (2005:10), tidak terbukti dalam penelitian ini, begitu juga dengan hasil penelitian Ajeng, P.H 2008, yang menyimpulkan bahwa celebrity endorser memiliki hubungan yang erat terhadap brand image.
Para konsumen Shampo Clear pada umumnya tidak melihat dari Endosernya, tetapi mereka lebih cenderung memilih merek Shampo Clear dari kualitas Shampo Yang mereka rasakan dari pada melihat Endoser.
Hasil analisis menunjukkan bahwa brand image Shampo Clear tidak terpengaruh dengan menggunakan endorser atau tidak menggunakan endorser.
Hipotesis kedua dalam penelitian ini menduga bahwa celebrity endoser berpengaroh positif terhadap Minat Beli terhadap produk Shampo Clear setelah dilakukan pengujian tidak terbukti kebenarannya. Hasil pengujian menunjukan bahwa celebrity endoser tingkat probability kasualnya sebesar 0,154 > 0,10.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan endorser tidak mempengaruhi Minat Beli konsumen Shampo Clear
Hal ini tidak sesuai dengan teori yang di kemukakan Darmawan dan Ferrinadewi (2003:29), yang menyatakan bahwa Perusahaan-perusahaan dapat memanfaatkan pengaruh pribadi seseorang demi keuntungan mereka. Dengan menggunakan orang yang berpengaruh atau dipercaya dalam iklan berusaha menarik perhatian publik terhadap pesan yang ingin disampaikan. Para pemasar cenderung menggunakan kaum celebrity dan athlete untuk mendukung produk mereka dan sesuai untuk memperkuat positioning produk.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian dengan mengunakan analisis SEM untuk menguji pengaruh Celebrity Endoser terhadap Brand Image dan Celebrity Endoser terhadap minat beli, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Faktor Celebrity Endoser indikator Kredibilitas (X1), Daya Tarik
(X2) Berpengaruh Positif terhadap Faktor Citra Merek Indikator
Pengenalan (Y2.1), Nama Baik (Y2.2), Hubungan Dekat (Y2.3).
Tidak dapat diterima [positif]. Hal ini di karenakan Para konsumen Shampo Clear pada umumnya tidak melihat dari Endosernya, tetapi mereka lebih cenderung memilih merek Shampo Clear dari kualitas Shampo Yang mereka rasakan dari pada melihat Endoser.Hasil analisis menunjukkan bahwa brand image Shampo Clear tidak terpengaruh dengan menggunakan endorser atau tidak menggunakan endorser.
2. Faktor Celebrity Endoser indikator Kredibilitas (X1), Daya Tarik (X2) Berpengaruh positif Terhadap Minat Beli Indikator Intensitas
Pencarian Informasi (Y1.1), Keinginan Segera Membeli (Y1.2),
Keinginan Preferensial (Y1.3). Tidak dapat diterima [negatif]. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan endorser tidak mempengaruhi Minat Beli konsumen Shampo Clear
Saran
Sebagai implikasi dan hasil penelitian ini dapat di kemukakan beberapa saran yang dapat di pertimbangkan atau dimanfaatkan sebagai bahan pengambilan keputusan, antara lain sebagai berikut:
1. Pihak Shampo Clear selalu melakukan perbaikan terhadap sesuatu yang berhubungan dengan Citra Merek dan Minat Beli.
2. Pihak Shampo Clear selalu memberikan Informasi yang menarik mengenai produk yang ditawarkan
3. Lebih mengerti dan mengetahui apa yang menjadi kebutuhan pelanggan, selain itu harus lebih meningkatkan kinerja dari karyawan dalam hal pelayanan yaitu memberi bantuan pada pelanggan pada saat mengalami kesulitan dalam berbelanja sehingga pelanggan merasa puas dan datang kembali untuk melakukan pembelian.
Teks Book :
Alma, Buchari, 2004, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, CV Alfabeta. Anggoro, M. Linggar. 2001. Teori dan Profesi Kehumasan serta aplikasinya di
indonesia. Terjemahan .jakarta : Bumi Aksara.
Dhamerstha, Basu S. and T. Hani Handoko.1987. Manajemen Pemasaran:
Analisa Perilaku Konsumen. Yogyakarta : Liberty Press.
Frans M. Royan. 2005. Marketing Celebrities. Jakarta ; Penerbit PT Elex Media Komputindo.
Jefkins, Frank.1997. Periklanan. Edisi Ketiga. Terjemahan .Jakarta : Penerbit Erlangga.
Kartajaya Hermawan. SWA 18 XII 12 DESEMBER 1996 – 1 JANUARI 1997. Keegan, Warren J.1996. Manajemen pemasaran Global. New Jersey : Prectice –
Hall,Inc
Kotler, Philip and Gary Amstrong. 1997. Dasar – Dasar Pemasaran. Jilid 1. Terjemahan . Jakarta : Prenhalindo.
Kotler, Philip. 2005. Manajemen Pemasaran . Jilid Satu. Terjemahan. Jakarta : Indeks.
Lee Monle and Carla Johnson. 1999. Prinsip – Prinsip Pokok Periklanan dalam
Glabal. Terjemahan .Jakarta : Prenada Media.
dan Pemasaran Startegis. Edisi Keempat. Terjemahan . Jakarta : Penerbit
Erlangga.
Riduwan, M.B.A. 2004. Metode dan Teknik Menyusun Skripsi. Penerbit Alphabeta Bandung.
Russell, J. Thomas and W. Ronald Lane.1992. Seri Pemasaran dan Promosi :
Tata Cara Periklanan Klepper. Terjemahan. Jakarta : Elex Media
Kompetindo.
Shimp A, Terrence, 2000, Periklanan, Promosi, Edisi ke 5, Erlangga, Jakarta Simamora, Henry, 2000, Manajemen Pemasaran Internasional, Salemba empat,
Jakarta.
Sustiana. 2003. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Tjiptono, Fandy, 2005, Brand Management Strategy, ANDI, Yogyakarta.
Well, William.,Sandra Moraty and John Burnet. 2006. Advertising Prisiples and
Practices.New Jersey. Prentice- Hall.
Widyatama, Rendra. 2006. Bias Gender dalam iklan televisi. Yogyakarta : Penerbit Media Pressindo.
Majalah MARKETING No. 02/IX/FEBRUARI 2009. www.kapanlagi.com
www.kontan.com www.swa.com
Product Endorser Terhadap Minat Beli Konsumen, Jurnal media
MAHARDIKA Vol. 2 No. 1.
Darmawan, Didit, setyaningsih, 2005, Pengaruh Citra Merek Terhadap Efektivitas Iklan, Jurnal media MAHARDIKA Vol. 2 No. 3, Hal 41-49
Hapsari, P, Ajeng, 2008, CELEBRITY ENDORSER, TYPICAL-PERSON
ENDORSER IKLAN TELEVISI DAN BRAND IMAGE PRODUK (Studi
Kasus Pada Pond’s Age Miracle), Jurnal Ekomomi Manajemen, Fakultas
Ekonomi - Universitas Padjadjaran Bandung.
Kussujaniatun, Sri, 2007, Analisis Pengaruh Dead Endorser Terhadap Brand
Personality Pada Iklan di Televisi, Juranl Bisnis dan Ekonomi Vol. 14.