• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Kontrasepsi

2.3.3. Determinan Pemakaian Alat Kontrasepsi

Menurut Berthrand (1980), faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian

kontrasepsi adalah sebagai berikut:

1. Faktor sosio-demografi

Penerimaan KB lebih banyak pada mereka yang memiliki standard hidup

yang lebih tinggi. Indikator status sosio-ekonomi termasuk pendidikan yang dicapai,

pendapatan keluarga dan status pekerjaan, juga jenis rumah, gizi (di negara-negara

sedang berkembang) dan pengukuran pendapatan tidak langsung lainnya.

Beberapa faktor demografi tertentu juga mempengaruhi penerimaan KB di

beberapa negara, misalnya di banyak negara-negara sedang bekembang, penggunaan

kontrasepsi lebih banyak pada wanita yang berumur akhir 20-30 an yang sudah

memiliki anak tiga atau lebih. Faktor sosial lain yang juga mempengaruhi adalah

suku dan agama.

2. Faktor sosio-psikologi

Sikap dan keyakinan merupakan kunci penerimaan KB, banyak sikap yang

adalah ukuran keluarga ideal, pentingnya nilai anak laki, sikap terhadap KB,

komunikasi suami isteri, persepsi terhadap kematian anak. Sikap dan kepercayaan

tersebut perlu untuk mencegah isu yang berhubungan termasuk segi pelayanan dan

efek samping alat kontrasepsi.

3. Faktor yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan

Program komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) merupakan salah satu

faktor praktis yang dapat diukur bila pelayanan KB tidak tersedia. Beberapa faktor

yang berhubungan dengan pelayanan KB antara lain keterlibatan dalam kegiatan yang

berhubungan dengan KB, pengetahuan tentang sumber kontrasepsi, jarak ke pusat

pelayanan dan keterlibatan dengan media massa.

Secara ringkas faktor-faktor tersebut dapat dilihat seperti pada gambar

Faktor sosio-demografi a. Pendidikan b. Pendapatan c. Status pekerjaan d. Perumahan e. Status gizi f. Umur g. Suku h. Agama Faktor sosio-psikologi a. Ukuran keluarga ideal b. Pentingnya nilai anak laki c. Sikap terhadap KB d. Komunikasi suami-istri

e. Persepsi terhadap kematian anak

Faktor yang berhubungan dengan pelayanan a. Keterlibatan dalam kegiatan yang

berhubungan dengan KB

b. Pengetahuan tentang kontrasepsi c. Jarak ke pusat pelayanan

d. Paparan dengan media massa

Sumber : Bertrand, 1980

Gambar 2.1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi

Menurut WHO dalam Wiknjosastro (1999), faktor-faktor penting bagi

pasangan untuk memilih metode kontrasepsi adalah apakah metode tersebut:

a. permanen atau reversibel

b. efektif

c. murah

d. aman

e. mudah didapat

f. mudah digunakan dan tidak putus pakai

g. memiliki efek samping yang tidak diinginkan

h. dapat digunakan pada saat menyusui

i. melindungi terhadap penyakit hubungan seksual

j. membutuhkan kerjasama pasangan

k. harus digunakan setiap saat pasangan berhubungan seksual

Karakteristik pasangan seperti umur, jumlah dan jenis kelamin anak, dan

frekuensi hubungan seksual juga mungkin mempengaruhi. Kepentingan faktor-faktor

ini mungkin berubah dari waktu ke waktu karena keinginan pasangan untuk

mengganti metode kontrasepsi yang digunakan.

Tidak semua faktor ini sama pentingnya pada tiap pasangan. Sebagai contoh,

pasangan yang tidak menginginkan anak lagi mungkin menilai keefektifan metode

lebih dari kemudahan penggunaan. Sebaliknya, seorang wanita yang menginginkan

menunda kelahiran mungkin lebih menilai kenyamanan dan kemudahan penggunaan

daripada keefektifan metode.

Pemilihan metode kontrasepsi mungkin juga dipengaruhi oleh informasi yang

diterima dari teman atau kerabat. Kadang-kadang informasi yang diberikan tidak

benar sehingga menimbulkan kesalahan pengertian tentang penggunaan kontrasepsi.

Menurut Affandi dalam Mutiara (1998), faktor-faktor yang mempengaruhi

a. Faktor pola perencanaan keluarga.

Adalah mengenai penentuan besarnya jumlah keluarga yang menyangkut

waktu yang tepat untuk mengakhiri kesuburan. Dalam perencanaan keluarga harus

diketahui kapan kurun waktu reproduksi sehat, berapa sebaiknya jumlah anak sesuai

kondisi, berapa perbedaan jarak umur antara anak. Seorang wanita secara biologik

memasuki usia reproduksinya beberapa tahun sebelum mencapai umur dimana

kehamilan dan persalinan dapat berlangsung dengan aman dan kesuburan ini akan

berlangsung terus menerus sampai 10-15 tahun sesudah kurun waktu dimana

kehamilan dan persalinan itu berlangsung dengan aman. Kurun waktu yang paling

aman adalah umur 20-35 tahun dengan pengaturan:

1. anak pertama lahir sesudah ibunya berumur 20 tahun

2. anak kedua lahir sebelum ibunya berumur 30 tahun

3. jarak antara anak pertama dan kedua sekurang-kurangnya 2 tahun atau diusahakan

jangan ada 2 anak balita dalam kesempatan yang sama. Kemudian menyelesaikan

besarnya keluarga sewaktu istri berusia 30-35 tahun dengan kontrasepsi mantap

b. Faktor subyektif

Bagaimanapun baiknya suatu alat kontrasepsi baik dipandang dari sudut

kesehatan maupun rasionalitasnya namun belumlah tentu dirasakan cocok dan dipilih

oleh akseptor/calon akseptor. Pilihan ini sangat pula tergantung pada pengetahuannya

tentang kontrasepsi tersebut, baik yang didapat dari keluarga/kerabat maupun yang

c. Faktor obyektif

Pemilihan kontrasepsi yang digunakan disesuaikan dengan keadaan wanita

(kondisi fisik dan umur) serta disesuaikan dengan fase-fase menurut kurun waktu

reproduksinya. Biasanya pemilihan kontrasepsi juga disesuaikan dengan maksud

penggunaan kontrasepsi tersebut.

Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1. Konsep Pemilihan Alat Kontrasepsi yang Rasional

Fase Mencegah Kehamilan

Fase Menjarangkan

Kehamilan Fase Mengakhiri Kehamilan

a. Pil b. Suntikan c. IUD a. IUD b. Suntikan c. Pil d. Implant a. Kontap b. IUD c. Implant d. Suntikan e. Pil Umur 20-21 tahun 30-35 tahun

d. Faktor motivasi

Kelangsungan pemakaian kontrasepsi sangat tergantung dari motivasi dan

penerimaan pasangan suami istri. Motivasi akseptor KB untuk terus menggunakan

kontrasepsi yang lama, akan merubah metode, atau menghentikan sama sekali

penggunaan kontraspsi, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mereka yang menggunakan

kontrasepsi dengan tujuan untuk membatasi kelahiran mempunyai tingkat

kemantapan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang bertujuan untuk menunda

Menurut Soeradji, dkk. dalam Mutiara (1998), faktor-faktor yang

mempengaruhi kesertaan dalam program KB adalah:

1. Faktor demografi, meliputi:

a. rata-rata jumlah anak yang masih hidup

b. rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup

c. tingkat kematian bayi

d. tingkat harapan hidup saat lahir

e. angka fertilitas total

2. Faktor sosial, meliputi:

a. persentase rumah tangga yang memiliki radio

b. persentase rumah tangga yang memiliki televisi

c. persentase penduduk yang tinggal di daerah kota

d. kepadatan penduduk per km2

e. persentase penduduk yang dapat berbahasa Indonesia

f. persentase penduduk wanita berumur 20-24 tahun yang belum pernah kawin

g. persentase penduduk wanita berumur 15-24 tahun yang belum pernah kawin

h. jumlah guru SD per 10.000 penduduk usia sekolah

i. persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang sakit selama seminggu

j. persentase penduduk umur 10 tahun atau lebih yang mendapatkan perawatan

tenaga medis

l. persentase wanita yang pernah kawin umur 15-49 tahun

3. Faktor ekonomi, meliputi:

a. rasio ketergantungan antara penduduk umur 0-9 dan 55+ tahun terhadap yang

berumur 10-54 tahun

b. persentase wanita yang bekerja

c. partisipasi angkatan kerja wanita

d. persentase wanita yang bekerja pada pekerjaan tradisional

e. persentase petani yang tidak memiliki tanah

f. rata-rata luas sawah

4. Faktor infra struktur, meliputi :

a. persentase rumah tangga yang mendapatkan leding

b. jumlah gedung SD per 10.000 penduduk usia sekolah

c. jumlah gedung SMTP per 10.000 penduduk usia sekolah

d. persentase sawah dengan irigasi

e. persentase tanah sawah

5. Faktor input, meliputi :

a. jumlah dokter per 10.000 wanita umur 20-24 tahun

b. jumlah bidan per 10.000 wanita umur 20-24 tahun

c. jumlah pembantu bidan per 10.000 wanita umur 20-24 tahun

d. jumlah klinik KB per 10.000 wanita umur 20-24 tahun

f. jumlah pembantu pembina KB desa per 10.000 wanita umur 20-24 tahun

g. rata-rata hari kerja klinik per minggu

Kelima faktor-faktor tersebut dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini:

Sumber : Soeradji, dkk. dalam Mutiara (1998)

Gambar 2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesertaan Dalam Program KB

Menurut Utomo dalam Mutiara (1998), penggunaan kontrasepsi dipengaruhi

oleh umur, jumlah anak hidup, tingkat pendidikan dan frekuensi pemaparan terhadap

media massa. Umur mempengaruhi jumlah anak hidup dan tingkat pendidikan, dan

tingkat pendidikan mempengaruhi frekuensi pemaparan terhadap media massa.

Konsep tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: Faktor Demografi

Faktor Sosial

Faktor Ekonomi

Faktor Infra Struktur

Faktor Input Kesertaan dalam

Sumber : Utomo dalam Mutiara (1998)

Gambar 2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Kontrasepsi

Berdasarkan klasifikasi beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa

pemakaian alat kontrasepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:

A. Umur

Masa kehamilan reproduksi wanita pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga

periode, yakni kurun reproduksi muda (15-19 tahun), kurun reproduksi sehat (20-35

tahun), dan kurun reproduksi tua (36-45 tahun). Pembagian ini didasarkan atas data

epidemiologi bahwa risiko kehamilan dan persalinan baik bagi ibu maupun bagi anak

lebih tinggi pada usia kurang dari 20 tahun, paling rendah pada usia 20-35 tahun dan

meningkat lagi secara tajam setelah lebih dari 35 tahun. Jenis kontrasepsi yang

sebaiknya dipakai disesuaikan dengan tahap masa reproduksi tersebut

(Siswosudarmo, 2001).

Sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (1993) yang mengatakan bahwa umur

merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam Jumlah Anak Hidup

Frekuensi Pemaparan Terhadap Media

Massa

Tingkat Pendidikan Umur

pemakaian alat kontrasepsi. Mereka yang berumur tua mempunyai peluang lebih

kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang muda.

Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Dang di Vietnam dalam Mutiara

(1998) dilaporkan bahwa ada hubungan yang kuat antara umur dengan penggunaan

kontrasepsi. Wanita yang berumur < 20 tahun kemungkinan untuk menggunakan

kontrasepsi sebesar 0,73 kali dibandingkan dengan yang berumur 40 tahun atau lebih.

Sementara wanita yang berumur 30-34 tahun dan 35-39 tahun kemungkinannya

untuk menggunakan kontrasepsi hanya sekitar 0,15 dan 0,38. Ini mengisyaratkan

bahwa ada penurunan penggunaan kontrasepsi pada kelompok wanita yang lebih tua.

B. Pendidikan

Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk

bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Orang yang

berpendidikan lebih tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional. Oleh karena itu

orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. Demikian pula

halnya dengan menentukan pola perencanaan keluarga dan pola dasar penggunaan

kontrasepsi serta peningkatan kesejahteraan keluarga (Manuaba, 1998).

Pendidikan juga mempengaruhi pola berpikir pragmatis dan rasional terhadap

adat kebiasaan, dengan pendidikan yang tinggi seseorang dapat lebih mudah untuk

menerima ide atau masalah baru seperti penerimaan, pembatasan jumlah anak, dan

keinginan terhadap jenis kelamin tertentu. Pendidikan juga akan meningkatkan

anak sedikit. Wanita yang berpendidikan lebih tinggi cenderung membatasi jumlah

kelahiran dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah

(Soekanto, 2006).

Penelitian Dang dalam Mutiara (1998) menunjukkan bahwa pendidikan

berhubungan bermakna dengan penggunaan kontrasepsi. Wanita yang tidak sekolah

kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0,55 kali dibandingkan dengan

wanita yang berpendidikan menengah atau tinggi. Sementara wanita yang

berpendidikan dasar kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0,88 kali

dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan menengah atau tinggi. Pola yang

sama juga dijumpai dengan pendidikan suami.

C. Jumlah anak

Mantra (2006) mengatakan bahwa kemungkinan seorang istri untuk

menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya.

Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak

tertentu dan juga umur anak yang masih hidup. Semakin sering seorang wanita

melahirkan anak, maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan. Hal

ini berarti jumlah anak akan sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan dapat

meningkatkan taraf hidup keluarga secara maksimal.

Hasil penelitian Dang dalam Mutiara (1998) melaporkan ada hubungan yang

bermakna antara jumlah anak dengan penggunaan kontrasepsi. Wanita dengan jumlah

sebesar 1,73 kali dibandingkan dengan wanita yang memiliki 2 orang anak atau

kurang.

Soeradji, dkk. dalam Mutiara (1998) melaporkan bahwa pada awal progam

KB, penggunaan alat kontrasepsi adalah mereka yang telah mempunyai anak cukup

banyak. Dengan berjalannya waktu dan pelaksanaan program maka lebih banyak

wanita dengan paritas yang lebih kecil akan menggunakan alat kontrasepsi. Gejala ini

melandasi pengaruh jumlah anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi.

D. Pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam

membentuk tindakan seseorang (overt behavior), sebab dari pengalaman dan hasil

penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng

(long lasting) daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Gerungan,

1986).

E. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi

Menurut Manuaba (1998), faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan

metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi, pekerjaan dan tersedianya

layanan kesehatan yang terjangkau. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan

kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi, sedangkan

kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau

Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik, tersedia atau

tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). Untuk dapat

digunakan, pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat.

Promosi metode tersebut – melalui media, melalui kontak langsung oleh petugas

program KB, oleh dokter dan sebagainya – dapat meningkatkan secara nyata

pemilihan metode kontrasepsi. Memberikan konsultasi medis mungkin dapat

dipertimbangkan sebagai salah satu upaya promosi. Disamping itu daya beli individu

juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. Secara tidak langsung daya beli

individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah.

F. Dukungan petugas kesehatan

Untuk mengubah atau mendidik masyarakat seringkali diperlukan pengaruh

dari tokoh-tokoh atau pemimpin masyarakat (community leaders), misalnya dalam

masyarakat tertentu kata-kata kepala suku selalu diikuti; keberhasilan program KB di

Indonesia antara lain karena melibatkan ulama; iklan-iklan obat atau pasta gigi di

televisi menampilkan tokoh yang berpakaian dokter atau dokter gigi. Untuk

mengubah atau mendidik masyarakat diperlukan tokoh panutan yang dapat

merupakan pemimpin masyarakat, tetapi dapat juga tokoh-tokoh lain (professional,

pakar, ulama, seniman, ilmuwan, petugas kesehatan, dan sebagainya) tergantung pada

G. Pengambil keputusan

Program KB dapat terwujud dengan baik apabila ada dukungan dari

pihak-pihak tertentu. Menurut Friedman (1998) dan Sarwono (2007) ikatan suami isteri

yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah, karena suami/isteri

sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya. Hal itu disebabkan orang yang

paling bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri.

Dukungan tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik.

Masyarakat di Indonesia khususnya di daerah pedesaan sebagai peran penentu dalam

pengambilan keputusan dalam keluarga adalah suami, sedangkan isteri hanya bersifat

memberikan sumbang saran.

Hartanto (2004) mengatakan bahwa metoda kontrasepsi tidak dapat dipakai

istri tanpa kerjasama suami dan saling percaya. Keadaan ideal bahwa pasangan suami

istri harus bersama memilih metoda kontrasepsi yang terbaik, saling kerjasama dalam

pemakaian, membiayai pengeluaran kontrasepsi, dan memperhatikan tanda bahaya

pemakaian.

Dokumen terkait