• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diagnosa Keperawatan, Intervensi dan Rasional

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 25-38)

Diagnosa yang muncul dari Diabetes Mellitus antara lain :

1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.

a. Tujuan : Pemasukan nutrisi adekuat. b. Kriteria Hasil :

1) Mencerna jumlah kalori atau nutrisi yang tepat. 2) Menunjukkan tingkat energi biasanya.

3) Mendemostrasikan berat badan stabil atau penambahan kearah rentang yang diinginkan dengan nilai laboratorium normal.

c. Intervensi

1) Observasi tanda-tanda hipoglikemia, seperti : perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab / dingin, derajat nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala, pusing, sempoyongan.

Rasional : karena metabolisme karbohidrat mulai terjadi (gula darah berkurang, sementara tetap diberikan insulin maka hipoglikemi dapat terjadi).

2) Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.

Rasional :mengkaji pemasukan makanan yang adekuat.

3) Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdoment / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna.

Rasional : hiperglikemia dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan mobilitas / fungsi lambung.

4) Tentukan program diit dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.

Rasional :mengidentifikasi kekurangan dan penyimpanan dari kebutuhan therapeutik. 5) Indikasi makanan yang disukai / dikehendaki termasuk

kebutuhan etnik.

Rasional :jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam perencanaan makan.

6) Libatkan keluarga pada perencanaan makan sesuai indikasi.

Rasional :meningkatkan rasa keterlibatan, memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien.

7) Kolaborasi

a) Lakukan pemeriksaan gula darah dengan menggunakan “Finger stick”.

Rasional : analisa ditempat tidur terhadap GD lebih kuat.

b) Pantau pemeriksaan laboratorium, seperti glukosa darah, aseton, PH dan HCO3.

Rasional :gula darah akan menurun perlahan dengan penggantian cairan dan therapi insulin terkontrol.

c) Berikan insulin secara teratur.

Rasional :insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel.

2. Gangguan persepsi-sensori (penglihatan) berhubungan dengan perubahan kimia endogen, ketidakseimbangan glukosa atau insulin dan atau elektrolit.

b. Kriteria Hasil :

1) Mempertahankan tingkat mental biasanya

2) Mengenali dan mengkompensasi adanya kerusakan sensori c. Intervensi

1) Pantau tanda-tanda vital dan status mental

Rasional :sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnormal seperti suhuyang meningkat dapatdapat mempengaruhi fungsi mental

2) Panggil klien dengan nama, orientasikan kembali sesuai dengan kebutuhannya, misalnya terhadap tempat, orang dan waktu. Berikan penjelasan yang singkat dengan bicara perlahan dan jelas

Rasional :menurunkan kebingungan dan membantu untuk mempertahankankontak dengan realitas

3) Pelihara aktivitas rutin klien sekonsisten mungkin, dorong untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai kemampuannya

Rasional : membantu memelihara klien tetap berhubungan dengan realitas dan mempertahankan orientasi pada lingkungannya

4) Lindungi klien dari cedera (gunakan pengikat) ketika tingkat kesadaran klien terganggu. Berikan bantalan lunak pada pagar tempat tidur dan berikan jalan napas buatan yang lunak jika klien kemungkinan mengalami kejang Rasional : pasien mengalami disorientasi merupakan

awal kemungkinan timbulnya cedera, terutama malam hari dan perlu pencegahan sesuai indikasi.munculnya kejang perlu diantisipasi untuk mencegah trauma fisik 5) Berikan tempat tidur yang lembut, pelihara kehangatan

kaki atau tangan, hindari terpajan terhadap air panas, dingin dan penggunaan bantalan

Rasional : meningatkan rasa nyaman dan menurunkan kemungkinan kerusakan kulit karena panas. Munculnya dingin yang tiba-tiba pada tangan atau kaki menunjukan adanya hipoglikemi, yang perlu untuk melakukan pemeriksaan terhadap kadar gula darah 6) Kolaborasi

a) Berikan pengobatan sesuai dengan obat yang ditentukan untuk mengatasi DKA seuai indikasi

Rasional : gangguan dalam proses pikir terhadap aktivitas kejang biasanya hilang bila

keadaan hiperosmolalitas teratasi

b) Pantau hasil laboratorium, seperti glukosa darah, osmolalitas darah, hemoglobin, hematokrit, reum, creatinin

Rasional : ketidakseimbangan laboratorium ini dapat menurunkan status mental

3. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, insufisiensi insulin.

a. Tujuan : Pasien dapat mengungkapkan peningkatan tingkat energi.

b. Kriteria hasil : Pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.

c. Intervensi

1) Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas. Rasional :pendidikan dapat memberikan motivasi

untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah. 2) Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang

cukup.

Rasional :mencegah kelelahan yang berlebihan. 3) Pantau nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah

Rasional :mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis.

4) Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat ditoleransi.

Rasional :meningkatkan kepercayaan diri/harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien.

4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai prognosis penyakit.

a. Tujuan : Pasien menyatakan pemahaman tentang penyakit.

b. Kriteria Hasil :

1) Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab.

2) Dengan benar melakukan prosedur yang perlu dan menjelaskan rasional tindakan.

3) Melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.

c. Intervensi

1) Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian dan selalu ada untuk pasien.

Rasional :menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar. 2) Diskusikan topik-topik utama seperti apakah kaar glukosa

normal ibu dan bagaimana hal tersebut dibandingkan kekurangan insulin dengan kadar gula darah yang tinggi. Rasional :memberikan pengetahuan dasar dimana

pasien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup.

3) Menganjurkan klien untuk rutin melakukan pemeriksaan gula darah dan instruksikan pasien untuk pemeriksaan keton urinenya jika glukosa darah lebih tinggi dari 250 mg/dl.

Rasional :Melakukan pemeriksaan darah secara teratur dapat meningkatkan kontrol gula darah dengan lebih ketat (misal 60 – 150 mg/dl).

4) Diskusikan tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan di luar rumah.

Rasional :keadaan tentang pentingnya kontrol obat akan membantu pasien dalam merencanakan makan / mentaati program.

5) Diskusikan faktor-faktor yang memegang peranan dalam kontrol DM seperti latihan stres, pembedahan dan penyakit tertentu.

Rasional :informasi ini akan meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat menurunkan berulangnya kejadian ketoasidosis.

6) Buat jadwal latihan aktivitas yang teratur dan identifikasi hubungan dengan penggunaan insulin yang perlu menjadi perhatian.

Rasional :waktu latihan tidak boleh bersamaan waktunya kerja puncak insulin untuk mencegah percepatan ambilan insulin

7) Identifikasi gejala hipoglikemia (misal lemah, pusing, letargi, lapar, peka rangsang, diaforesis, pucat, takikardia, tremor, sakit kepala, dan perubahan mental).

Rasional :dapat meningkatkan deteksi dan pengobatan lebih awal dan mencegah / mengurangi kejadiannya. 5. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan adanya diuresis

osmotik.

b. Kriteria Hasil : Mendemostrasikan hidrasi adekuat yang dibuktikan oleh tanda vital stabil, haluaran urine secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.

c. Intervensi

1) Pantau tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik. Rasional : hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh

hipotensi dan takikardia. 2) Pantau suhu, warna kulit atau kelembabannya.

Rasional :demam dengan kulit kemerahan, kering mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi. 3) Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan

membran mukosa.

Rasional :merupakan indicator dari tingkat dehidrasi, atau volume sirkulasi yang adekuat.

4) Pantau masukan dan pengeluaran, catat Bj urine.

Rasional :memberikan perkiraan kebutuhan atau cairan pengganti, fungsi ginjal dan keefektifan dan terapi yang diberikan.

5) Pertahankan untuk memberi cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung jika pemasukan melalui oral sudah dapat diberikan.

Rasional : mempertahankan hidrasi / volume sirkulasi. 6) Pasang/pertahankan kateter urin tetap terpasang.

Rasional :memberi ukuran yang tepat/akurat terhadap pengukuran haluaran urine. 7) Kolaborasi

a) Berikan therapy cairan sesuai dengan indikasi Normal salin atau ½ NS atau tanpa dekstrose.

Rasional :tipe dan jumlah cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan.

b) Pantau pemeriksaan laboratorium, seperti :

(2) Hematokrit : mengkaji tingkat hidrasi dan sering kali meningkat akibat hemokonsentrasi yang terjadi setelah diuresis osmotik.

(3) BUN/kreatinin : peningkatan nilai dapat mencerminkan kerusakan sel karena dehidrasi atau tanda akibat kegagalan ginjal.

(4) Osmolalitas : meningkat dengan adanya hiperglikemia dan dehidrasi.

(5) Natrium : menurun yang mencerminkan diuresis osmotik, meningkat mencerminkan kehilangan cairan / dehidrasi berat.

6. Resti injury berhubungan dengan kelemahan umum a. Tujuan : tidak terjadi injury

b. Kriteria Hasil : Mendemostrasikan tidak ada cedera demham komplikasi minimal/ terkontrol.

c. Intervensi

1) Pantau tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh, takikardia (140-200/mnt).

Rasional :untuk mengetahui keadaan umum pasien yang dapat menentukan tindakan yang diberikan.

2) Pertahankan penghalang tempat tidur terpasang / diberi bantalan.

Rasional :untuk menentukan kemungkinan adanya trauma.

3) Kolaborasi

a) Pantau kadar kalsium darah : pasien dengan kadar kalsium kurang dari 7,5/100 ml secara umum membutuhkan terapi pengganti.

b) Berikan obat sesuai indikasi.

(1) Kalsium (glukosa, laktat) : untuk memperbaiki kekurangan yang biasanya sementara.

(2) Sedatif : meningkatkan istirahat, menurunkan stimulasi dari luar.

7. Resiko tinggi penyebaran infeksi (sepsis) berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, perubahan pada sirkulasi

a. Tujuan :

2) Tidak ada tanda-tanda terjadinya infeksi. b. Kriteria Hasil :

1) Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi.

2) Mendemostrasikan tehnik, perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi.

c. Intervensi

1) Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam, kemerahan, adanya pus pada luka, sputum purulent, urine warna merah keruh atau berkabut.

Rasional :pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya lebih lebih mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.

2) Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan denga pasien termasuk pasien sendiri.

Rasional : mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nsokomial).

3) Lakukan perawatan luka (ganti balut tiap hari) dengan menjaga tehnik septik dan aseptik.

Rasional : untuk mencegah terjadinya infeksi dan penyebaran infeksi lebih lanjut.

4) Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh, masase daerah tulang yang tertekan, jaga kulit tetap kering, lumen kering dan tetap kencang (tidak berkerut).

Rasional : sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada resiko terjadinya kerusakan pada kulit / iritasi kulit dan infeksi.

5) Bantu pasien untuk melakukan higiene oral.

Rasional : menurunkan resiko terjadinya penyakit kulit /gusi 6) Kolaborasi

a) Pemeriksaan kultur dan sensitivitas sesuai dengan indikasi. Rasional :untuk mengidentifikasi organisme sehingga

dapat memilih/memberikan therapy antibiotik yang terbaik.

b) Berikan antibiotik sesuai advise.

Rasional :penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis (Doenges, 2000).

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 25-38)

Dokumen terkait