1. Pengkajian
Pasien didorong untuk mendiskusikan awal dan perjalanan gejala. Selama wawancara, perawat mencatat pemahaman pasien mengenai proses penyakit, bagaimana pasien dan keluarganya mengatasi masalah dan bagaimana pasien mengatasi nyeri yang dirasakannya.
Pada pemeriksaan fisik, massa dipalpasi dengan lembut, ukuran dan pembengkakan jaringan lunak yang diakibatkannya, dan nyeri tekan dicatat. Pengkajian status neurovaskuler dan tentang gerak ekstremitas merupakan data dasar sebagai pembanding kelak.
Mobilitas dan kemampuan pasien melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari dievaluasi.
A. Berdasar data pengkajian, diagnosis keperawatan utama meliputi berikut ini:
- Kurang pengetahuan mengenai proses penyakit dan program terapeutik
- Nyeri yang berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan
- Risiko terhadap cedera misalnya fraktur patologik yang berhubungan dengan tumor
- Koping tidak efektif yang berhubungan dengan rasa takut tentang ketidaktahuan, persepsi tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat
- Gangguan harga diri yang berhubngan dengan hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran
B. Sedangkan diagnosis keperawatan spesifiknya antara lain:
1. Diagnosa keperawatan esensial yang berhubungan dengan diagnosa sarkoma
Koping individu tidak efektif berhubungan dengan diagnosis kanker dan proognosis yang tidak pasti
Perubahan penampilan peran berhubungan dengan dampak diagnosis kanker pada peran pasien dalam keluarga dan komunitasnya
Berduka antisipasi berhubungan dengan kehilangan yang nyata dan/ atau dirasakan karena kanker seperti kehilangan kesehatan, hidup, pekerjaan, privasi, keintiman, dan hubungan
Perubahan proses keluarga berhubungan dengan dampak diagnosis kanker dan prognosis yang tidak pasti
2. Diagnosa keperawatan esensial yang berhubungan dengan kemoterapi
Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan penatalaksanaan kemoterapi karena destruksi pembelahan
sel-sel hematopoietik yang cepat dan mengakibatkan immunosupresi
Resiko terhadap cedera berhubungan dengan supresi sumsum tulang sebagai akibat dari trombositopenia
Perubahan Nutrisi yaitu kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, dan diare
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia, penurunan berat badan, dan/atau perubahan sekunder terhadap kemoterapi
Risiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ekstravasasi kemoterapio vesikan seperti adriamisin dan/atau vinkristin
Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan efek samping kemotrapi ifosfamid (IFEX) atau kemoterapi sitoksan dosis tinggi yang mengakibatkan hematuria dan/atau toksisitas ginjal
Perubahan persepsi/sensotik, kinestetik berhubungan dengan toksisitas SSP kerena Ifosfamide (IFEX)
3. Diagnosa keperawatan esensial yang berhubungan dengan pembedahan
• Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan pembedahan
Intervensi:
o Jelaskan prosedur bedah -Biopsi insisi
-Eksisi local
-Eksisi dengan batas luas
-Penggunaan implant dan pencangkokan khusus -Reseksi en bloc
-Amputasi
-Reseksi metastasis
o Jelaskan istilah-istilah dan prosedur umum yang berhubungan dengan bahan patologi
o Nahas kemungkinan hasil pembedahan -Perubahan bentuk tubuh
-Perubahan fungsi tubuh -Keterbatasan gerak -Kehilangan ekstremitas
o Jelaskan persiapan praoperasi
-Alat-alat persiapan pembedahan dan pembersihan usus -Pengangkatan prostesis dan alat lainnya
-Keterbatasan gerak -Kehilangan ekstremitas
o Sediakan bahan-bahan pengajaran/video pengetahuan tentang pembedahan
o Jelaskan kebiasaan rutin yang dilakukan setelah pembedahan
-Mekanisme pembersihan paru, pengelolaan gerak pasien, dan rasa nyeri
-Kemungkinan penggunaan alat-alat seperti drain, penutup luka, slang toraks, slang nasogastrik, kateter urine, dll.
• Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan amputasi ekstremitas
Agen kemoterapi osteosarkoma:
Dozorubisin, Sisplatin, Metotreksat, Siklofosfamid, Ifosfamid, Daktinomisin, Bleomisin
Intervensi:
o Kaji status emosi
o Tentukan dan evaluasi :
-Pertumbuhan dan perkembangan -Rentan gerak sendi, kekuatan otot
-Cara berjalan, keseimbangan, dan koordinasi -Status vascular (sirkulasi dan sensasi)
o Pengkajian pascaoperasi meliputi: -Status fisik umum, tanda vital
-Penempatan posisi tubuh yang benar
-Tanda dan gejala komplikasi pascabedah yang berhubungan dengan pembedahan (perdarahan, infeksi, sindrom kompartemen, emboli paru, pemecahan kulit)
-Tanda dan gejala komplikasi yang berhubungan dengan gangguan mobilitas (konstipasi, pemecahan kulit, pneumonia, retensi urine, anoreksia)
-Pengelolaan nyeri (nyeri fantom setelah amputasi)
-Kemampuan untuk melakukan latihan rentang gerak dan/atau penggunaan alat bantu (tongkat penyangga, prostesis, dll)
-Kemampuan untuk merawat puntung amputasi dan prostesis
o Koordinasikan terapi rehabilitasi dengan tim multidisiplin (terapis fisik, terapis pekerjaan, ahli prostesis, dll)
o Rancang pertemuan dengan pasien rehabilitasi jika memungkinkan
o Ajarkan pasien:
-Bahas pentingnya terapi fisik (latihan rentang gerak, kemampuan berjalan)
-Ajarkan pentingnya nutrisi yang baik dan hidrasi
-Bahas dengan pasien/keluarga kemungkinan komplikasi yang berhubungan dengan amputasi (iritasi kulit, perubahan penyangga, pembengkakan atau nyeri yang lebih hebat, demam, masalah mekanis dengan prostesis) -Tekankan pentingnya komunikasi yang terbuka
-Sediakan informasi untuk mendapatkan dukungan kelompok bagi pasien/keluarga
• Gangguan citra tubuh berhubngan dengan amputasi, reseksi luas terhadap jaringan lunak, atau pemendekan anggota badan karena sarcoma
• Risiko terhadap perubahan sensori/persepsi yakni taktil berhubungan dengan kemungkinan adanya kerusakan saraf karena pembedahan sebagian anggota gerak
• Risiko terhadap koping individu takefektif berhubungan dengan penggunaan donor mayat untuk tandur tulang
4. Diagnosa keperawatan esensial yang berhubungan dengan terapi radiasi
Risiko terhadap kerusakan kulit berhubungan dengan trauma jaringan dan terapi radiasi
Keletihan berhubungan dengan efek samping terapi radiasi
Kurang pengetahuan berhubungan dengan terapi radiasi pada daerah ekstremitas yang sakit
3. Perencanaan dan Implementasi
Sasaran. Sasaran utama pasien meliputi pemahaman mengenai proses penyakit dan program terapi, pengontrolan nyeri, tiadanya fraktur patologik, pola penyelesaian masalah yang efektif, peningkatan harga diri dan tiadanya komplikasi
Asuhan keperawatan pasien yang menjalani eksisi tumor tulang pada beberapa hal sama dengan pasien lain yang menjalani pembedahan skeletal. Tanda vital dipantau, kehilangan darah dikaji, dilakukan observasi untuk mengkaji timbulnya komplikasi seperti trombosis vena profunda, emboli paru, infeksi, kontraktur, dan atrofidisuse. Bagian yang dioperasi harus ditinggikan untuk mengontrol pembengkakan; status neurovaskuler ekstremitas harus dikaji. Biasanya daerah tersebut diimobilisasi dengan bidal, gibs, atau pembalut elastis sampai tulang menyembuh.
4. Intervensi Keperawataan
Memahami Proses Penyakit dan Terapi. Pendidikan pasien dan keluarganya mengenai proses dan diagnosis penyakit serta program penanganan sangat penting. Penjelasan mengenai uji diagnostik, penanganan (misal, perawatan luka), dan hasil yang mungkin terjadi (misal, penurunan rentang gerak, kebas, perubahan kontur tubuh) dapat membantu pasien menyesuaikan diri dengan prosedur dan perubahan yang terjadi. Kerja sama dan kepatuhan terhadap program terapi harus didorong melalui pemahaman. Perawat dapat menekankan dan menjelaskan informasi yang diberikan oleh dokter paling efektif bila perawat hadir selama diskusi antara dokter dan pasien. Pasien didorong agar bisa sedapat mungkin mandiri.
Pengontrolan Nyeri. Teknik penatalaksanaan nyeri psikologik dan farmakologik dapat digunakan untuk mengontrol nyeri dan meningkatkan tingkat kenyamanan pasien. Perawat bekerja sama dengan pasien dalam merancang program manajemen nyeri yang paling efektif, sehingga akan meningkatkan pengontrolan pasien terhadap nyeri. Perawat mempersiapkan pasien dan memberikan dukungan selama prosedur yang menyakitkan.
Setelah pembedahan, pasien akan merasakan nyeri baik di bagian yang dibedah maupun tempat donor. Analgetika opioid sesuai resep dapat digunakan selama periode pascaoperasi awal. Kemudian, setelah itu analgetika non-opioid oral sudah memadai untuk mengurangi nyeri.
Mencegah Fraktur Patologik . Tumor tulang akan melemahkan tulang sampai ke titik di mana aktivitas normal atau perubahan posisi dapat mengakibatkan fraktur. Selama asuhan keperawatan tulang yang sakit harus disangga dan ditangani dengan lembut. Penyangga luar (misal, bidai) dapat dipakai untuk perlindungan tambahan.
Pembatasan beban berat badan yang dianjurkan harus diikuti. Pasien diajar bagaimana mempergunakan alat Bantu dengan aman dan bagaimana memperkuat ekstremitas yang sehat.
Koping Efektif. Pasien dan keluarganya didorong untuk mengungkapkan rasa takut, keprihatinan, dan perasaan mereka. Mereka membutuhkan dukungan dan perasaan diterima agar mereka mampu menerima dampak tumor tulang maligna. Perasaan terkejut, putus asa, dan sedih pasti akan terjadi. Maka rujukan ke perawat psikiatri, ahli psikologi, konselor, atau rohaniawan perlu diindikasikan untuk bantuan psikologik khusus.
Meningkatkan Harga Diri. Kemandirian versus ketergantungan merupakan isu pada pasien yang menderita keganasan. Gaya hidup akan berubah secara dramatis, paling tidak sementara. Keluarga harus didukung dalam menjalankan penyesuaian yang harus dilakukan. Perubahan citra diri akibat pembedahan dan kemungkinan amputasi harus diketahui. Peyakinan yang masuk akal mengenai masa depan dan penyesuaian aktivitas yang berhubungan dengan peran harus dilakukan. Perawatan diri dan sosialisasi harus didorong. Pasien harus berpatisipasi dalam perencanaan aktivitas harian. Keterlibatan pasien dan keluarganya sepanjang terapi dapat mendorong kepercayaan diri, pengembalian konsep diri, dan perasaan dapat mengontrol hidupnya sendiri.
Penyembuhan Luka. Penyembuhan luka dapat terlambat karena trauma jaringan akibat pembadahan atau radiasi sebelumnya. Tekanan pada daerah luka harus dioptimalkan untuk memperbaiki
peredaran darah ke jaringan. Balutan luka nontraumatik dan aseptik akan mempercepat penyembuhan. Pemantauan dan pelaporan temuan laboratorium memungkinkan pemberian intervensi untuk memperbaiki homeostasis dan penyembuhan luka.
Mengubah posisi pasien sesering mungkin akan mengurangi insidensi kerusakan kulit akibat tekanan. Nyeri dan penghindaran gerakan menunjukan potensial terjadinya kerusakan kulit. Tempat tidur terapeutik khusus diperlukan untuk mencegah kerusakan kulit dan memperbaiki penyembuhan luka setelah pembedahan plastik konstruktif dan grafting ekstensif.
Nutrisi Adekuat. Karena kehilangan selera makan, mual, dan muntah sering terjadi sebagai efek samping kemoterapi dan radiasi, maka perlu diberikan nutrisi yang memadai untuk mempercepat penyembuhan dan kesehatan. Antiemetika dan teknik ralaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Stomatitis dapat dikontrol dengan obat cuci mulut anestetik atau antijamur. Hidrasi yang memadai sangat penting. Suplemen nutrisi atau parenteral total dapat diresepkan untuk mendapatkan nutrisi yang memadai.
Infeksi Luka Operasi. Antibiotik profilaksis dan teknik balutan aseptik ketat dilakukan untuk mengurangi terjadinya osteomielitis dan infeksi luka operasi. Selama penyembuhan, infeksi lain (misal: infeksi saluran napas atas) harus dihindari sehingga penyebaran hematogen tak akan berakibat osteomielitis.
Bila pasien mendapat kemoterapi, hitung jenis dan harus dipantau dan pasien harus diintruksikan untuk menghindari bertemu dengan orang yang sedang menderita demam atau infeksi.
Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan Rumah. Persiapan dan koordinasi untuk perawatan ksehatan berkelanjutan dimulai sejak dini sebagai suatu tindakan multidisiplin. Pendidikan pasien ditujukan pada pengobatan, pembalutan, dan program terapi, selain program terapi fisik dan okupasi. Penggunaan peralatan khusus secara aman harus dijelaskan. Pasien dan keluarga harus mempelajari tanda dan gejala kemungkinan komplikasi. Pasien diminta untuk mencatat nomor telepon orang yang dapat segera dihubungi bila sewaktu-waktu timbul masalah. Kadang, perjanjian dibuat bersama agen asuhan kesehatan untuk supervisi perawatan di rumah dan tindak lanjut. Perlunya supervisi kesehatan jangka panjang ditekankan untuk meyakinkan telah terjadi penyembuhan atau untuk mendeteksi kekambuhan tumor atau metastasis.
5. Evaluasi
1.Menerangkan proses penyakit dan program terapi a.Menerangkan proses patologik
b.Menentukan sasaraan program terapeutik c.Mencari penjelasan informasi
2. Mampu mengontrol nyeri
a. Memanfaatkan teknik pengontrolan nyeri, termasuk obat yang diresepkan
b.Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama menjalankan aktivitas sehari-hari, atau tempat operasi
3. Tidak mengalami patah tulang patologik a. Menghindari stres pada tulang yang lemah b. Mempergunakan alat bantu dengan aman c. Memperkuat ekstremitas yang sehat
4. Memperlihatkan pola penyelesaian masalah yang efektif a. Mengemukakan perasaannya dengan kata-kata
b. Mengidentifikasi kekakuan dan kemampuannya c. Membuat keputusan
d. Meminta bantuan bila perlu
5. Memperlihatkan konsep diri yang positif
a. Mengindentifikasi tanggung jawab rumah tangga dan keluarga yang mampu ditanggungnya
b. Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuannya c. Memperlihatkan penerimaan perubahan citra diri
d. Memperlihatkan kemandirian dalam aktivitas hidup sehari-hari
6. Memperlihatkan tiadanya komplikasi a. Memperlihatkan penyembuhan luka
b. Tidak mengalami kerusakan kulit
c. Mempertahankan atau meningkatkan berat badan d. Tidak mengalami infeksi
e. Mengatasi efek samping terapi
f. Melaporkan gejala toksisitas obat atau komplikasi pembedahan
7. Berpatisipasi dalam perawatan kesehatan berkelanjutan di rumah a. Mematuhi regimen yang ditentukan (mis, menelan setiap obat yang
diresepkan, tetap menjalankan program terapi fisik dan okupasi) b. Menyetujui perlunya supervisi kesehatan jangka panjang
c. Rajin memenuhi janji perawatan kesehatan tindak lanjut d. Melaporkan bila ada gejala atau komplikasi
PENUTUP
6.1 Simpulan
Sarkoma osteogenik atau osteosarkoma merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. Kasus sarkoma osteogenik paling banyak menyerang anak remaja dan mereka yang baru menginjak masa dewasa, tetapi dapat juga menyerang penderita penyakit Paget yang berusia lebih dari 50 tahun.
Penyebab utama masih misteri, tetapi faktor genetik, virus onkologi, dan terpapar radiasi disinyalir sebagai asal muasal timbul sarkoma osteogenik ini. Nyeri yang menyertai destruksi tulang dan erosi adalah gejala umum dari penyakit ini.
Beberapa jenis tumor primer seperti sarkoma osteogenik dapat dirawat paling baik dengan jalan amputasi atau melakukan pembedahan ablative secara menyeluruh. Meskipun kemoterapi dan imunoterapi agaknya juga mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan, tetapi sering kali perlu dilakukan pembedahan untuk membuang tumor dan semua jaringan di sekitarnya. Selain itu, juga dikembangkan terapi x-ray sinar tingkat tinggi.
6.2 Saran
Setelah penulis menjabarkan mengenai kasus osteosarkoma, diharapkan memberi suatu pencerahan dan tambahan ilmu pengetahuan mengenai kasus ini. Namun, dalam uraiannya, penulis sadar bahwa masih banyak hal yang dirasa kurang dan oleh karenanya penulis mengharapkan suatu masukan dan saran untuk kebaikan mendatang dalam segala bidang, terutama kasus osteosarkoma ini. Penelusuran lebih jauh dan dalam lagi mengenai perkembangan kasus
osteosarkoma ini merupakan jalan terbaik untuk mendapat informasi yang lebih relevan disamping makalah ini.