TINJAUAN PUSTAKA
1. Gangguan sekresi insulin
2.1.8. Diagnosis DM Tipe 2
Secara epidemiologik diabetes seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onset atau mulai terjadinya diabetes adalah 7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan, sehingga morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi. Penelitian lain menyatakan bahwa dengan adanya urbanisasi, populasi diabetes tipe 2 akan meningkat 5 – 10 kali lipat karena terjadi perubahan rural – tradisional menjadi urban (Sudoyo, 2014).
Diagnosis klinis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang DM. Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan seperti:
a. Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
b. Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita (PERKENI, 2016).
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa cara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer (Purnamasari, 2014).
Tabel 2.2. Kriteria Diagnosis DM (PERKENI, 2015)
Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥126 mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam; atau
Pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl 2-jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram; atau
Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dl dengan keluhan klasik; atau Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP).
Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria DM digolongkan ke dalam kelompok prediabetes yang meliputi: toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa darah puasa terganggu (GDPT).
a. Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT):
Hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa antara 100-125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa plasma 2 jam <140 mg/dl;
b. Toleransi Glukosa Terganggu (TGT):
Hasil pemeriksaan glukosa plasma 2 jam setelah TTGO antara 140-199 mg/dl dan glukosa plasma puasa <100 mg/dl
c. Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT
d. Diagnosis prediabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan HbA1c yang menunjukkan angka 5,7-6,4% (PERKENI, 2015).
Tabel 2.3. Kadar tes laboratorium darah untuk diagnosis diabetes dan prediabetes
Diabetes >6,5 >126 mg/dL >200 mg/dL
Prediabetes 5,7 – 6,4 100 -125 140 - 199
Normal <5,7 <100 <140
Cara pelaksanaan TTGO :
1. Tiga hari sebelum pemeriksaan, pasien tetap makan (dengan karbohidrat yang cukup) dan melakukan kegiatan jasmani seperti kebiasaan sehari-hari.
2. Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan.
3. Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa.
4. Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa), atau 1,75 gram/kgBB (anak-anak), dilarutkan dalam air 250 mL dan diminum dalam waktu 5 menit.
5. Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai.
6. Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah 2 (dua) jam sesudah beban glukosa.
7. Selama proses pemeriksaan, subjek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok (PERKENI, 2015).
Banyak penelitian yang telah menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingginya kadar HbA1c ini dengan kadar gula darah (KGD). semakin tinggi KGD maka semakin tinggi pula kadar HbA1c nya. HbA1c ini dapat merefleksikan kadar rata-rata glukosa darah selama beberapa bulan sebelumnya (8-12 minggu) (WHO, 2016).
Pemeriksaan penyaring dilakukan untuk menegakkan diagnosis Diabetes Melitus Tipe-2 (DMT2) dan prediabetes pada kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan gejala klasik DM yaitu:
1. Kelompok dengan berat badan lebih (Indeks Massa Tubuh [IMT] >23 kg/m2) yang disertai dengan satu atau lebih faktor risiko sebagai berikut:
a. Aktivitas fisik yang kurang
b. First-degree relative DM (terdapat faktor keturunan DM dalam keluarga).
c. Kelompok ras/etnis tertentu.
d. Perempuan yang memiliki riwayat melahirkan bayi denganBBL >4 kg atau mempunyai riwayat diabetes melitus gestasional (DMG).
e. Hipertensi (≥140/90 mmHg atau sedang mendapat terapi untuk hipertensi).
f. HDL <35 mg/dL dan atau trigliserida >250 mg/dL.
g. Wanita dengan sindrom polikistik ovarium.
h. Riwayat prediabetes.
i. Obesitas berat, akantosis nigrikans.
j. Riwayat penyakit kardiovaskular.
2. Usia>45 tahun tanpa faktor risiko di atas.
Kelompok risiko tinggi dengan hasil pemeriksaan glukosa plasmanormal sebaiknya diulang setiap 3 tahun, kecuali padakelompok prediabetes pemeriksaan diulang tiap 1 tahun (PERKENI, 2015).
Pada keadaan yang tidak memungkinkan dan tidak tersediafasilitas pemeriksaan TTGO, maka pemeriksaan penyaring denganmengunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler, diperbolehkanuntuk patokan diagnosis DM. Dalam hal ini harus diperhatikanadanya perbedaan hasil pemeriksaan glukosa darah plasma venadan glukosa darah kapiler seperti pada tabel 2.4 di bawah ini (PERKENI, 2015).
Tabel 2.4 Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (PERKENI, 2015).
Bukan DM Belum pasti DM DM Kadar glukosa
darah sewaktu (mg/dL)
Plasma vena <100 100 – 199 >200
Darah kapiler <90 90 – 199 >200
Kadar glukosa darah puasa (mg/dL)
Plasma vena <100 100 – 125 >126
Darah kapiler <90 90 – 99 >100
Kejadian infeksi lebih sering terjadi pada pasien dengan diabetes akibat munculnya lingkungan hiperglikemik yang meningkatkan virulensi patogen, menurunkan produksi interleukin, menyebabkan terjadinya disfungsi kemotaksis dan aktifitas fagositik, serta kerusakan fungsi neutrofil, glukosuria, dan dismotilitas gastrointestinal dan saluran kemih. Sarana kultur dan tes resistensi antibiotik diperlukan. Infeksi yang sering terjadi pada DM:
Tuberkulosis pada Diabetes Melitus
Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Infeksi saluran nafas
Infeksi saluran cerna
Infeksi jaringan lunak dan kulit
Infeksi rongga mulut
Infeksi telinga
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) (PERKENI, 20150.
2.2. Infeksi Saluran Kemih (ISK) 2.2.1. Definisi
Menurut CDC (2015), Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi yang melibatkan bagian dari sistem urinarius, termasuk uretra, kandung kemih, ureter dan ginjal. Saluran kemih dalam keadaan normal adalah steril. ISK adalah penyakit infeksi dimana ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna di dalam urin. Infeksi yang terjadi berasal dari bakteri patogen yang terdapat pada flora usus, menyebar melalui daerah perineal, vaginal, dan periuretra ke saluran kemih bagian bawah membentuk koloni (Sudhana, 2011).
ISK merupakan suatu infeksi baik pada saluran kemih atas dan atau bawah, yang mana jumlah bakteri > 105 koloni perunit bakteri permililiter (cfu/ml) dalam satu spesimen urin (Hooton, 2010).
ISK adalah istilah umum yang menunjukkan keberadaan mikroorganisme dalam urin.
Bakteriuria bermakna (significant bacteriuria): Bakteriuria bermakna menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme (MO) murni lebih dari 105colony forming units(cfu/ml) pada biakan urin. Bakteriuria bermakna mungkin tanpa disertai presentasi klinis ISK dinamakan bakteriuria asimtomatik (covert bacteriuria). Sebaliknya bakteriuria bermakna disertai presentasi klinis ISK dinamakan bakteriuria bermakna simtomatik (Sukandar, 2014).