TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kanker Payudara
2.1.3 Diagnosis dan Skrining
Sekitar 30% kasus, pasien mengetahui adanya benjolan di payudaranya. Gejala dan tanda klinis lainnya yang kurang sering dikeluhkan pada kasus kanker payudara adalah (1) pembesaran payudara atau asimetris; (2) perubahan di puting, retraksi atau adanya discharge; (3) Ulkus atau eritema pad kulit payudara; (4) adanya massa di ketiak; (5) ketidaknyamanan otot dan tulang di sekitar dada.
(Brunicardi et al., 2010)
payudara dicatat, begitu juga jika ditemukan adanya edema (peaud’ orange), retraksi puting atau kulit, dan eritema. Pasien dengan posisi supine palpasi payudara dilakukan dengan hati-hati dan gentle, memastikan semua kuadran payudara diperiksa dari sternum ke lateral menuju otot lattismus dorsi dan dari kalvikula ke bawah menuju upper rectus sheath. Palpasi dilakukan dengan bagian palmar jari-jari tangan, hindari gerakan memeras atau mencubit. Kemudian setelah itu, pemeriksaan sistematis limfadenopati dilakukan. Dengan menyokong lengan atas dan siku, pemeriksa menstabilkan bahu. Dengan lembut, palpasi dilakukan di ketiga level dari kelenjar getah bening pada ketiak yang mungkin.
Palpasi dengan perhatian di daerah suprakalvikular dan daerah parasternal juga dilakukan. Sebuah diagram mengenai payudara dan kelenjar getah bening yang terlibat berguna untuk mencatat lokasi, ukuran, konsistensi, bentuk, mobilitas, dan karakter lainnya dari massa payudara ataupun kelenjar getah bening yang dijumpai.
Pemeriksaan radiologi payudara dilakukan untuk mendeteksi massa yang kecil, kelainan yang tidak dapat dipalpasi, evaluasi temuan klinis, dan membantu unuk mendiagnosis. Pencitraan utama yang dilakukan untuk skrining adalah mammografi. Screening mamografi dilakukan pada pasien yang asimptomatis, dengan tujuan untuk mendeteksi kelainan payudara walaupun secara klinis belum terjadi. Sekarang ini, American Cancer Society terus merekomendasikan skrining mamografi setiap tahuunnya pada perempuan dengan usia lebh dari 40 tahun dan terus dilakukan selama perempuan tersebut masih dalam kondisi sehat. Pada pasien dengan riwayat kanker payudara sebelumnya, riwayat keluarga dengan kanker payudara, atau memiliki faktor resiko secara histologi terhadap kanker payudara juga baik dilakukan skrining dengan MRI. (Townsend, Beauchamp, Evers & Mattox, 2017)
Mammografi talah digunakan di Amerika Utara sejak tahun 1960an, dan pemeriksaan tersebut terus dimodifikasi dan berkembang untuk meghasilkan kualitas pencitraan yang baik. Pada mamografi dilakukan 2 potongan gambar
10 payudara, potongan kraniocaudal dan potongan mediolateral. Potongan mediolateral memiliki volume jaringan payudara yang terbesar, termasuk kuadaran luar atas dan tail of spence. Pada potongan kraniokaudal lebih jelas menampilkan aspek medial dan memberikan kompresi payudara lebih besar.
Sensitivitas mammografi terbatas dengan densitas payudara, dan 10-15%
kasus kanker payudara tidak ada hubungannya dengan kelainan dari mammografi.
Mamografi pada wanita lebih muda dari usia 30 tahun, dimana jaringan payudaranya padat dengan stroma dan epitel, menghasilkan gambaran yang tidak baik. Seiring perembuat bertambah tua, jaringan payudara berinvolusi dan digantikan oleh jaringan lemak. Pada mammografi, lemak secara relatif menyerap radiasi yang sedikit dan memberikan latar belakang yang kontras sehingga lesi yang kecil dapat terdeteksi. (Townsend, Beauchamp, Evers & Mattox, 2017) Sensitivitas mamografi meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan berkurangnya kepadatan jaringan payudara. (Williams, Bulstrode, & O’Connel, 2013)
Gambar 2.1 Mamografi pada payudara perempuan pra-menopause dengan densitas fibroglandular yang padat. (Brunicardi et al., 2010)
Gambar 2.3 Pada pemeriksaan mamografi menemukan lesi kecil, massa bersipkulasi pada payudara kanan.
Ultrasonografi (USG) berguna untuk menentukan apakah ini massa padat atau kistik. Dan USG baik dalam membeda-bedakan lesi di payudara yang jaringannya padat. Namun, usg masih belum cukup berguna baik dalam skrining, karena sangat bergantung dengan operator dan tidak ada protokol standar untuk skrining. (Townsend, Beauchamp, Evers & Mattox, 2017) Usg sangat berguna untuk perempuan muda dengan jaringan payudara yang padat, dimana hasil mamografi yang sulit diinterpretasikan. (Williams, Bulstrode, & O’Connel, 2013)
Pada kelainan jinak payudara, umumnya tampilan pada usg berupa kontur yang licin, berbentuk bulat ataupun oval, internal ekho yang lemah, dan batas anterior dan posterior berbatas tegas. Pada kanker payudara, gambaran usg berupa iregulernya dinding tumor, mungkin dijumpai batas yang reguler namun dengan acoustic enhancement. (Brunicardi et al., 2010)
Terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian dalam penggunaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) sebagai alat untuk skrining payudara pada
12 kelompok perempuan dengan resiko tinggi dan perempuan yang baru saja didiagnosis dengan kanker payudara. Kasus pertama, pada perempuan dengan riwayat keluarga kanker payudara dan terbukti memiliki mutasi gen membutuhkan skrining di usia dini, dan penggunaan mamografi terbatas karena peningkatan densitas payudara pada perempuan muda. Kasus lainnya, pada penderita kanker payudara, penggunaan MRI pada payudara kontralateral, terbukti memiliki kanker payudara pada 5.7% kasus. MRI juga dapat mendeteksi tumor tambahan yang mungkin terlewatkan pada pemeriksaan radiologis rutin dan mungkin dapat mengubah keputusan dalam pembedahan.
Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) merupakan penunjang yang sering digunakan untuk diagnosis pada benjolan payudara. BAJAH dapat dilakukan dengan jarung kecil, 22G, dan kassa alkohol. Jarum dimasukkan ke massa berulang kali, sekalian tekanan negatif diberikan. Kemudian jarum dilepaskan, kemudian isi difiksasi ke slide dengan alkohol 95%. Slide tersebut di kirim untuk evaluasi sitologi. Kelemahan pada pemeriksaan BAJAH adalah evaluasi sitologi pada tidak dapat mendifferensiasi lesi noninvasif dengan lesi invasif jika sel kanker teridentifikasi. Jika sel kanker teridentifikasi, pemeriksaan biopsi tetap dibutuhkan untuk diagnostik definitif sebelum dilakukan intervansi operasi.
(Townsend, Beauchamp, Evers & Mattox, 2017)
2.1.4 Staging
American Joint Committee of Cancer (AJCC) pada tahun 2017 mengeluarkan TNM System terbaru dengan beberapa revisi dari AJCC sebelulmnya. Sistem ini digunakan dengan mengklasifikasikan perluasan dari tumor (T), kelenjar getah bening regional (N), dan metastasis jauh (M).
Pembagian kategori T, N dan M dapat dilihat di tabel berikut.
14 Lanjutan...
Tabel 2.1 TNM Sistem pada kanker payudara (AJCC 8th)
Stage T N M
0 Tis N0 M0
IA T1 N0 M0
IB T0 N1mi M0
T1 N1mi M0
IIA T0 N1 M0
T1 N1 M0
T2 N0 M0
IIB T2 N1 M0
T3 N0 M0
IIIA T0 N2 M0
T1 N2 M0
T2 N2 M0
T3 N1 M0
T3 N2 M0
IIIB T4 N0 M0
T4 N1 M0
T4 N2 M0
IIIC Any T N3 M0
IV Any T Any N M1
Tabel 2.2 Staging berdasarkan sistem TNM (AJCC 8)