• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

3.9. Analisa Data

Data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan program komputer SPSS (Statistical Package for Social Sciences), kemudian dideskripsikan dalam bentuk tabel.

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

Pada penelitian ini, diperoleh 107 orang penderita tumor nasofaring yang didiagnosa secara histopatologi, di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013. Berikut ini adalah gambaran umum data yang diperoleh:

 Dari 107 orang penderita tumor nasofaring, 69 orang penderita

diantaranya diperoleh dari Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Haji Adam Malik Medan dan 38 orang penderita lainnya diperoleh dari Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU.

 Dari keseluruhan jumlah penderita, hanya 105 orang penderita yang

memiliki data yang lengkap (mencantumkan usia dan jenis kelamin), sedangkan 2 orang penderita lainnya memiliki data yang tidak lengkap.

 Dari 105 orang penderita yang memiliki data yang lengkap, hanya 95

orang penderita yang slaidnya tersedia, sedangkan 10 orang penderita lainnya dieksklusi oleh karena slaid hilang atau rusak, dan tidak dapat dipotong ulang oleh karena blok parafin hilang.

Berdasarkan gambaran umum data di atas, maka pada penelitian ini hanya diperoleh 95 orang penderita yang dapat dijadikan sebagai sampel penelitian.

v

Gambar 4.1. Gambaran umum data kasus tumor nasofaring tahun 2011-2013. Dari 107 orang penderita yang diperoleh, hanya 95 orang yang dapat dijadikan sebagai sampel penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penderita tumor nasofaring di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013. Telah diperoleh 95 sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan akan disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan tahun diagnosis, usia, jenis kelamin dan tipe histopatologi.

RSUP Haji Adam

4.1.1. Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan tahun diagnosis Tabel 4.1. Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan tahun diagnosis

Tahun diagnosis Jumlah (n) Persentase (%) 2011

2012 2013

39 32 24

41,1 33,7 25,2

Jumlah 95 100

Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan tahun diagnosis di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013 (Tabel 4.1), memperlihatkan bahwa tumor nasofaring paling tinggi insidensinya pada tahun 2011 yaitu sebanyak 39 orang penderita (41,1%), diikuti dengan tahun 2012 yaitu sebanyak 32 orang penderita (33,7%), sedangkan insidensi paling rendah pada tahun 2013 yaitu sebanyak 24 orang penderita (25,2%).

4.1.2. Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan usia

Tabel distribusi frekuensi ditentukan dengan menghitung jumlah kelas interval, rentang data, panjang kelas, dan interval kelas.31

Tabel 4. 2. Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan usia Usia (tahun) Jumlah (n) Persentase (%)

8-17 18-27

7 7

7,4

7,4

28-37 7 7,4

38-47 23 24,2

48-57 24 25,3

58-67 20 21,0

68-77 6 6,3

78-87 1 1,0

Jumlah 95 100

Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan usia di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013 (Tabel 4.2), memperlihatkan bahwa pada kelompok usia 48-57 tahun merupakan usia paling tinggi insidensi tumor nasofaring yaitu sebanyak 24 orang penderita (25,3%), diikuti kelompok usia 38-47 tahun sebanyak 23 orang penderita (24,2%), kelompok usia 58-67 tahun sebanyak 20 orang penderita (21,0%), kelompok usia 28-37 tahun, 18-27 tahun serta 8-17 tahun masing-masing sebanyak 7 orang penderita (7,4%), dan kelompok usia 68-77 tahun sebanyak 6 orang penderita (6,3%), sedangkan kelompok usia 78-87 tahun merupakan usia paling rendah insidensi tumor nasofaring yaitu sebanyak 1 orang penderita (1,0%).

Usia rata-rata penderita tumor nasofaring yaitu 47,4 tahun, dengan simpangan baku 15,8 tahun. Berdasarkan distribusi usia penderita diketahui penderita termuda dengan usia 8 tahun sedangkan penderita tertua berusia 86 tahun.

4.1.3. Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan jenis kelamin Tabel 4.3. Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan jenis kelamin

Jenis kelamin Jumlah (n) Persentase (%)

Laki-laki Perempuan

65 30

68,4 31,6

Jumlah 95 100

Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan jenis kelamin di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013 (Tabel 4.3), memperlihatkan bahwa insidensi tumor nasofaring lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan, yakni jumlah penderita nasofaring pada laki-laki sebanyak 65 orang penderita (68,4%) sedangkan jumlah penderita nasofaring pada perempuan sebanyak 30 orang penderita (31,6%).

4.1.4. Distribusi penderita tumor nasofaring pada laki-laki berdasarkan kelompok usia

Tabel 4.4. Distribusi penderita tumor nasofaring pada laki-laki berdasarkan kelompok usia

Usia (tahun) Jumlah (n) Persentase (%)

8-17 18-27

7 4

10,7

6,2

28-37 4 6,2

38-47 16 24,6

48-57 17 26,1

58-67 13 20,0

68-77 4 6,2

78-87 0 0,0

Jumlah 65 100

Distribusi penderita tumor nasofaring pada laki-laki berdasarkan kelompok usia di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013 (Tabel 4.4), memperlihatkan bahwa pada kelompok usia 48-57 tahun merupakan usia paling tinggi insidensi tumor nasofaring pada laki-laki yaitu sebanyak 17 orang penderita (26,1%), diikuti kelompok usia 38-47 tahun sebanyak 16 orang penderita (24,6%), kelompok usia 58-67 tahun sebanyak 13 orang penderita (20,0%), dan kelompok usia 8-17 tahun sebanyak 7 orang penderita (10,7%), sedangkan pada kelompok usia 18-27 tahun, 28-37 tahun serta

68-77 tahun merupakan kelompok usia paling rendah insidensi tumor nasofaring pada laki-laki yaitu masing-masing sebanyak 4 orang penderita (6,2%)

4.1.5. Distribusi penderita tumor nasofaring pada perempuan berdasarkan kelompok usia

Tabel 4.5. Distribusi penderita tumor nasofaring pada perempuan berdasarkan kelompok usia

Usia (tahun) Jumlah (n) Persentase (%)

8-17 18-27

0 3

0,0

10,0

28-37 4 13,4

38-47 6 20,0

48-57 7 23,3

58-67 7 23,3

68-77 2 6,7

78-87 1 3,3

Jumlah 30 100

Distribusi penderita tumor nasofaring pada perempuan berdasarkan kelompok usia di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013 (Tabel 4.5), memperlihatkan bahwa pada kelompok usia 48-57 tahun dan 58-67 tahun merupakan kelompok usia paling tinggi insidensi tumor nasofaring pada perempuan yaitu masing-masing sebanyak 7 orang penderita (23,3%), diikuti kelompok usia 38-47 tahun sebanyak 6 orang penderita

(20,0%), kelompok usia 28-37 tahun sebanyak 4 orang penderita (13,4%), kelompok usia 18-27 tahun yaitu sebanyak 3 orang penderita (10,0%), dan kelompok usia 68-77 yaitu sebanyak 2 orang penderita (6,7%), sedangkan pada kelompok usia 78-87 tahun, merupakan usia paling rendah insidensi tumor nasofaring pada perempuan yaitu sebanyak 1 orang penderita (3,3%).

4.1.6. Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan tipe histopatologi Tabel 4.6. Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan tipe histopatologi

Tipe histopatologi Jumlah (n) Persentase (%) NKSCC differentiated type

NKSCC undifferentiated type KSCC

Angiofibroma

43 31

12 9

45,3

32,6 12,6

9,5

Jumlah 95 100

Distribusi penderita tumor nasofaring berdasarkan tipe histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013 (Tabel 4.6), memperlihatkan bahwa NKSCC differentiated type merupakan tipe histopatologi yang paling banyak dijumpai yaitu sebanyak 43 orang penderita (45,3%), diikuti dengan NKSCC undifferentiated type sebanyak 31 orang penderita (32,6%), dan KSCC sebanyak 12 orang penderita (12,6%), sedangkan Angiofibroma merupakan tipe

histopatologi yang paling sedikit dijumpai yaitu sebanyak 9 orang penderita (9,5%).

4.1.7. Distribusi tipe histopatologi tumor nasofaring berdasarkan jenis kelamin

Tabel 4.7. Distribusi tipe histopatologi tumor nasofaring berdasarkan jenis kelamin

Jenis Tumor Laki-Laki Perempuan

N % N %

NKSCC differentiated type 30 69,8 13 30,2 NKSCC undifferentiated type 20 64,5 11 65,5

KSCC 7 58,3 5 41,7

Angiofibroma 8 88,9 1 11,1

Jumlah 65 100 30 100

Distribusi tipe histopatologi tumor nasofaring berdasarkan jenis kelamin di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013 (Tabel 4.7), memperlihatkan bahwa pada laki-laki NKSCC differentiated type merupakan tipe histopatologi yang paling banyak dijumpai yaitu sebanyak 30 orang penderita (69,8%), diikuti NKSCC undifferentiated type yaitu sebanyak 20 orang penderita (64,5%), dan Angiofibroma yaitu sebanyak 8 orang penderita (88,9%), sedangkan KSCC merupakan tipe histopatologi yang paling sedikit dijumpai pada laki-laki yaitu

sebanyak 7 orang penderita (58,3%). Pada perempuan NKSCC differentiated type merupakan tipe histopatologi yang paling banyak dijumpai yaitu sebanyak 13 orang penderita (30,2%), diikuti NKSCC undifferentiated type yaitu sebanyak 11 orang penderita (65,5%), dan KSCC yaitu sebanyak 5 orang penderita (41,7%), sedangkan Angiofibroma merupakan tipe histopatologi yang paling sedikit dijumpai pada perempuan yaitu sebanyak 1 orang penderita (11,1%).

4.2. Pembahasan

Pada penelitian yang dilakukan dari tahun 2011-2013 di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan ini, diperoleh 107 orang penderita yang didiagnosis secara histopatologi sebagai tumor nasofaring. Namun dari keseluruhan jumlah tersebut, hanya 95 orang penderita yang dapat digunakan sebagai sampel penelitian. Hal ini disebabkan karena adanya data penderita yang tidak lengkap (tidak mencantumkan usia).

Selain itu, kendala lain yang dijumpai adalah slaid pemeriksaan yang hilang atau rusak dan tidak dapat dipotong ulang oleh karena blok parafin hilang.

Pada penelitian ini diketahui bahwa insidensi tumor nasofaring paling tinggi pada tahun 2011 (Tabel 4.1), yakni sebanyak 39 orang penderita (41,1%) dan paling rendah pada tahun 2013, yakni sebanyak 24 orang penderita (25,2%).

Belum ditemukan literatur yang menyebutkan distribusi tumor nasofaring pada tahun 2011-2013, sehingga peneliti tidak dapat membandingkan hasil penelitian ini dengan literatur.

Pada penelitian ini diketahui bahwa jumlah insidensi tumor nasofaring

sebanyak 24 orang penderita (25,3%) dan dijumpai usia penderita termuda 8 tahun sedangkan usia tertua 86 tahun, dengan usia rata-rata 47,4 tahun. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hutagalung dan Siahaan yang menyebutkan bahwa tumor nasofaring paling banyak dijumpai pada usia dibawah 50 tahun. Meskipun penelitian Piasiska menyebutkan bahwa tumor nasofaring paling banyak dijumpai pada kelompok usia 38-46 tahun. Penelitian Munir juga menemukan usia rata-rata penderita karsinoma nasofaring adalah 48,8 tahun.

Kecenderungan penderita tumor nasofaring terjadi pada usia yang lebih tua mungkin berhubungan dengan sistem imunitas yang menurun pada usia tersebut, sehingga baik antigen EBV sebagai penyebab maupun antigen tumor sendiri tidak dapat dieliminasi secara baik oleh sistem imun tubuh. Namun hal ini tidak berlaku untuk penderita Angiofibroma, yang biasa dijumpai pada anak laki-laki dan remaja sampai laki-laki dewasa muda dengan puncak usia pada dekade kedua.

1,2,5,6,8,10,19,20

Pada penelitian ini diperoleh insidensi tumor nasofaring lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan, yakni pada laki-laki sebanyak 65 orang penderita (68,4%) (Tabel 4.3). Hal ini sesuai dengan pernyataan dari beberapa literatur yang menyebutkan bahwa angka kejadan tumor nasofaring pada laki-laki lebih sering daripada perempuan, yakni penelitian yang dilakukan oleh Hutagalung yang menyebutkan sebanyak 69,5%, penelitian Siahaan yang menyebutkan 65,27%, dan penelitian Piasiska yang menyebutkan 65,36%. Pada penelitian ini didapatkan bahwa insidensi tumor nasofaring pada 65 orang penderita yang berjenis kelamin laki-laki insidensinya paling tinggi dijumpai pada kelompok usia 48-57 tahun yaitu sebanyak 17 orang penderita (26,1%) (Tabel 4.4.), sedangkan distribusi

penderita tumor nasofaring pada 30 orang penderita yang berjenis kelamin perempuan insidensinya paling tinggi dijumpai pada kelompok usia 48-57 tahun serta 58-67 tahun, yaitu masing-masing sebanyak 7 orang penderita (23,3%) (Tabel 4.5.). Kecenderungan penderita tumor nasofaring laki-laki lebih banyak daripada perempuan dimungkinkan akibat laki-laki lebih sering beraktifitas di luar rumah sehingga lebih banyak terpapar bahan karsinogenik. 1,2,5,6,8,10,19,20

Pada penelitian ini diperoleh tipe histopatologi paling banyak dijumpai adalah NKSCC differentiated type (Tabel 4.6), yakni sebanyak 43 orang penderita (45,3%), NKSCC undifferentiated type sebanyak 31 orang penderita (32,6%), dan KSCC sebanyak 12 orang penderita (12,6%) sedangkan Angiofibroma sebanyak 9 orang penderita (9,5%). Hal ini berbeda dengan yang disebutkan oleh literatur dan penelitian Piasiska bahwa tipe histopatologi yang paling sering dijumpai adalah tipe NKSCC undiffentiated type yakni sebanyak 51,63% sedangkan tipe NKSCC differentiated type sebanyak 46,41%.1,2,8,10,19,20

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Setelah dilakukan penelitian terhadap penderita tumor nasofaring di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2011-2013, dapat diambil kesimpulan:

1. Berdasarkan usia, jumlah penderita tumor nasofaring paling tinggi insidensinya pada kelompok usia 48-57 tahun, dengan usia temuda 8 tahun dan tertua 86 tahun, sedangkan usia rerata 47,4 tahun.

2. Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penderita tumor nasofaring pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan.

3. Berdasarkan tipe histopatologi, tumor nasofaring yang paling banyak dijumpai adalah NKSCC differentiated type.

5.2. Saran

1. Memperbaiki sistem pencatatan pasien agar data pasien dapat digunakan dalam penelitian-penelitian selanjutnya.

2. Memperbaiki sistem penyimpanan slaid dan blok parafin agar dapat digunakan dalam penelitian-penelitian selanjutnya.

3. Membentuk team work dalam pembacaan slaid untuk menghindari kekeliruan dalam mendiagnosa sediaan histopatologi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Chan JKC, Bray F, McCarron. Nasopharyngeal Carcinoma. In: Barnes L.

Eveson JW, Reichart P, Sidransky D. Pathology and Genetic Head and Neck Tumours. 2005. IARC Press. Lyon. p.82-106.

2. Rosai J. Nasal Cavity, Paranasal Sinuses, and Nasopharynx. In: Rosai and Ackerman’s Surgical Pathology 10th ed. Elsevier. Philadelphia; 2011.

3. Kumar V, Abbas AK, Fausto N, Aster JC. Robbins and Cotran-Pathologic Basis of Disease 8th ed. Saunders. Philadelphia; 2010. p.785-7.

4. Hutagalung M. Tinjauan Lima Besar Tumor THT di RSUP Dr. Sardjito Selama Lima Tahun (1991-1995). Dalam: Kumpulan Naskah Ilmiah Pertemuan Ilmiah Tahunan PERHATI. Edisi ke-1. Immanuel Press. Malang.

p.952-63.

5. Muzakkir M. Karakteristik Tumor Ganas Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher di SMF THT-KL RSUP H. Adam Malik Medan Periode Januari 2006-Desember 2010. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera

Utara; 2012. Available from:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31042

6. Siahaan L. Tinjauan Lima Besar Tumor THT di RSUP Dr. Kariadi Selama Lima Tahun (1991-1995). Dalam: Kumpulan Naskah Ilmiah Pertemuan Ilmiah Tahunan PERHATI. Edisi ke-1. Immanuel Press. Malang. p.952-63.

7. Lutan R. Diagnosis dan Penatalaksanaan Karsinoma Nasofaring. KONAS XII PERHATI Bali; 2003. p.16.

8. Munir D. Beberapa Aspek Karsinoma Nasofaring pada Suku Batak di Medan dan Sekitarnya. Suplemen Majalah Kedokteran Nusantara. Vol.39.

September 2006. Available from:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/20661

9. Munir D. Peran Gen HLA-DRB1 dan HLA-DQB1 Sebagai Penyebab Kerentanan Timbulnya Karsinoma Nasofaring pada Suku Batak. ORLI.

Vol.38 no.3,4. p.15-23. Available from:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18625/1/mkn-sep2008-41%20%283%29.pdf

10. Piasiska H. Profil Penderita Karsinoma Nasofaring di Laboratorium Patologi Anatomi kota Medan. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera

Utara; 2010. Available from:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/16912

11. Mills SE. Larynx and Pharynx. In: Mills SE, ed. Histology for Pathologists.

3rd. Lippincott Wiliiams & Wilkins; 2007.

12. Mills SE, Carter D, Greenson JK, Oberman HA, Reuter VE, Stoler MH.

The Nose, Paranasal Sinuses, and Nasopharynx. In: Stenberg’s Diagnostic Surgical Pathology 4th ed. Lippincott Williams & Wilkins; 2004.

13. Ganguly NK, Satyanarayana K, Srivastava VK, et al. Epidemiological and Etiological Factors Associated with Nasopharyngeal Carcinoma. ICMR Bulletin 2003; 33(9). [cited 2014 Aug 8]. Available from:

http//icmr.nic.in/BUSEPT03.pdf

14. Hidayat B. Hubungan Antara Gambaran Timpanometri Dengan Letak dan

KL RSUP H. Adam Malik Medan. Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara; 2009. Available from:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/6424

15. Adham M, Roezin A. Karsinoma Nasofaring. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-enam. Balai Penerbit FK-UI.

Jakarta; 2007. p.182-7.

16. Munir M. Keganasan di Bidang Telinga Hidung Tenggorok. Dalam:

Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-enam.

Balai Penerbit FK-UI. Jakarta; 2007. p.162-73

17. Tambunan, WG. Sepuluh Jenis Kanker Terbanyak di Indonesia. EGC.

Jakarta; 1991. p.67-87.

18. Singh D, Daharwai A, Banjara H, Sarkar S. Hairy Polyp of Nasopharynx.

International Scientific Journals from Jaypee. September-December 2011;4(3);149-51. [cited 2014 Aug 8]. Available from:

http://www.jaypeejournals.com/eJournals/ShowText.aspx?ID=2607&Type=

FREE&TYP=TOP&IN=~/eJournals/images/JPLOGO.gif&IID=207&isPDF

=NO

19. Barnes L. Disease of the Nasal Cavity, Paranasal Sinuses, and Nasopharynx.

In : Barnes L, ed. Surgical Pathology of The Head and Neck. 3rd. New York:

Informa Helathcare; 2009. p.360-401.

20. Wenig BM, Richardson M. Nasal Cavity, Paranasal Sinuses, and Nasopharynx. In: Weidner, Cote, Suster, Weiss,ed. Modern Surgical Pathology. 2nd ed.Philadelphia : Saunders Elsevier; 2009. p.14-192.

21. Girija R, Schneiderian Papilloma of the Nasopharynx. The Free Library.

May 1, 2002. [cited 2014 Oct 3].

22. Probst R, Grevers G, Iro H. Basic Otorhinolaryngology a Step by Step Learning Guide.2006. Thieme.New York. p.108-11.

23. American Cancer Society. Nasopharyngeal Cancer. [cited 2014 Aug 8].

Available from:

http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/webcontent/003124-pdf 24. Dsouza C, Jabeen M, Pai P.K. Human Papilloma Virus Detection by

Immunohistochemistry on Sinonasal Papillomas and Nasopharyngeal Carcinomas: Report on 26 Cases. DOI; 10.4103/2321-4848.113552. [cited 2014 Aug 8].

25. Dabbs D. Diagnostic Immunohistochemistry. 2nd ed. Churcill Livingstone.

New York; 2006. p.270-1.

26. Zahara D. Ekspresi Epidermal Growth Factor Receptor pada Karsinoma Nasofaring. Tesis. 2007. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Medan.

27. Gupta N, Jain RK, Kumar M. Nasopharyngeal Angiofibroma In an Elderly Male: A Rare Case Report. Asian Journal of Modern and Ayurvedic Medical Science. Vol.2, no.1, January 2013. [cited 2014 Feb 3]. Available from: http://ajmams.com/papers.aspx

28. Nicolai P, Schreiber A, Villaret A.B. Juvenile Angiofibroma : Evolution of Management. International Journal of Pediatrics. Vol.2012 [cited 2014 Oct 5]. Available from: http://dx.doi.org/10.1155/2012/412915

29. Lee AWM. Contribution of Radiotherapy to Function Preservation and Cancer Outcome in Primary Treatment of Nasopharyngeal Carcinoma.

World Journal of Surgery 2003; 27: 838-40. [cited 2014 Feb 3]. Available from: http://www.researchgate.net/publication/9079615

30. Sastroasmoro S, Aminullah A, Rukman Y, Munasir N. Variabel dan Hubungan Antar Variabel. Dalam: Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi ke-4. Sagung Seto. Jakarta; 2013. p.298.

31. Sugiyono. Statistik Deskriptif. Dalam: Statistika untuk Penelitian. Afabeta.

Bandung; 2011. p.29-40.

Lampiran 1

TABEL REVIEW SLAID PENDERITA TUMOR NASOFARING DI

LABORATORIUM PATOLOGI ANATOMI FAKULTAS KEDOKTERAN USU DAN RSUP HAJI ADAM MALIK

MEDAN TAHUN 2011-2013

NPC (Kesan: Lymphoepithelial Ca) NKSCC

28. NKSCC (Differentiated type) Angiofibroma

NKSCC (Undifferentiated type) NKSCC (Differentiated type)

63.

NKSCC with papillary architecture NKSCC with papillary architecture Undifferentiated carcinoma

LAMPIRAN 2

30. NKSCC (Differentiated type) Angiofibroma

NKSCC (Undifferentiated type) NKSCC (Differentiated type) KSCC

NKSCC (Undifferentiated type)

65.

LAMPIRAN 3. ANALISA STATISTIK

Tabel 1. Rerata Umur Penderita Tumor Nasofaring di PA FK USU dan RSUP HAM No Karakteristik Rerata (tahun) Simpangan baku (tahun)

1. Umur 47,4 15,8

Tabel 2. Distribusi Penderita Tumor Nasofaring berdasarkan Jenis Kelamin di PA FK USU dan RSUP HAM

No. Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase

(%)

1. Laki-laki 65 68,4

2. Perempuan 30 31,6

Tabel 3. Distribusi Tumor Nasofaring berdasarkan Tahun Diagnosis di PA FK USU dan RSUP HAM

No. Tahun Diagnosis Jumlah (n) Persentase (%)

1. 2011 39 41,1

2. 2012 32 33,7

3. 2013 24 25,2

Tabel 4. Distribusi Tumor Nasofaring berdasarkan Tipe Histopatologi di PA FK USU dan RSUP HAM

No. Jenis Tumor Jumlah (n) Persentase (%)

1. NKSCC differentiated 43 45,3

2. NKSCC undifferentiated 31 32,6

3. KSCC 12 12,6

4. Angiofibroma 9 9,5

Tabel 5. Distribusi Jenis Tumor Nasofaring berdasarkan Jenis Kelamin di PA FK USU dan RSUP HAM

No Jenis Tumor Laki-Laki Perempuan

n % N %

1. NKSCC differentiated 30 69,8 13 30,2

2. NKSCC undifferentiated 20 64,5 11 65,5

3. KSCC 7 58,3 5 41,7

4. Angiofibroma 8 88,9 1 11,1

LAMPIRAN 4

SURAT TANDA BUKTI

TELAH DILAKUKAN PEMBACAAN ULANG SLAID

Judul Penelitian : Profil Penderita Tumor Nasofaring di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas K\edokteran USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2011-2013 Nama : Nancy Sartika Tambunan

NIM : 107108003

Program Studi : Program Magister Kedokteran Klinik Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Telah dilakukan pembacaan ulang slaid pada : Hari/Tanggal : Rabu / 21 Oktober 2015 Didampingi oleh : dr. H. Soekimin, Sp.PA(K)

dr. H. Delyuzar, M.Ked(PA), Sp.PA(K)

LAMPIRAN 5

LAMPIRAN 6

LAMPIRAN 7

GAMBAR-GAMBAR MIKROSKOPIK SAMPEL

Angiofibroma

Keratinizing Squamous Cell Carcinoma

HE , 40x

HE , 100x

HE , 100x

HE , 100x

Non Keratinizing Squamous Cell Carcinoma, Differentiated Type

Non Keratinizing Squamous Cell Carcinoma, Undifferentiated Type

HE , 100x

HE , 40x

HE , 200x

HE , 100x

Dokumen terkait