METODE PENELITIAN
3.4 Diagram Alir Penelitian
Adapun representasi Algorithm Bee Colony dalam penentuan titik interkoneksi dapat dijelaskan sebagai berikut ini :
26 1. Menentukan bus generator awal yang akan ditentukan titik interkoneksi
maksimumnya.
2. Menghitung nilai rugi – rugi jaringan serta aliran daya pada jaringan awal 3. Menyimpan data hasil perhitungan.
4. Mencari titik bus terdekat dari sumber bus awal yangmerupakan jalur penyulang utama
5. Menempatkan titik interkoneksi ke bus yang baru diperoleh
6. Menghitung nilai rugi – rugi jaringan serta aliran daya pada jaringan yang baru (dengan pemasangan interkoneksi DG yang baru).
7. Membandingkan hasil yang diperoleh saat ini (recent result) dengan hasil yang diperoleh sebelumnya (initial result).
8. Pemilihan dilakukan berdasarkan fungsi objective:
��������� = min(∑ �2�) = min∑(������) (3.1) 9. Untuk percabangan penyulang utama, ditugaskan pencarian bus tersendiri dan
melakukan perhitungan secara berulang.
10.Seluruh hasil perhitungan diseleksi berdasarkan fungsi fitness terbesar sehingga diperoleh hasil yang sesuai dengan fungsi fitness. Dimana fungsi fitness adalah [1]:
�������� = 1+���������1 �������� (3.2)
Perhitungan direpresentasikan dalam bentuk program dengan menggunakan software MATLAB, dan pada tulisan ini akan ditunjukan perhitungan manual.
Adapun diagram alir penelitian ini, dapat digambarkan dalam bentuk flowchart seperti gambar di bawah ini :
27 Gambar 3. 1 Diagram Alir Penelitian
MULAI
Membuat gambar satu garis, serta tabel data penyulang dan tabel data bus
Perhitungan Newton – Raphson
Memperoleh data tegangan dan rugi - rugi
Penentuan Jalur interkoneksi (Jalur Lebah mencari sumber makanan)
Pencarian bus kandidat interkoneksi (Lebah menemukan lokasi sumber makanan)
Penentuan nilai impedansi saluran baru dari bus gardu induk menuju titik interkoneksi
(Lebah memperoleh informasi letak sumber makanan)
Perhitungan newton-raphson dan nilai rugi – rugi jaringan (Lebah memperoleh informasi jumlah nektar) B
A B
28 Lanjutan Gambar 3.1
3.4.1. Pengambilan Data
Pengambilan data yang dibutuhkan dilakukan di P.T. PLN (Persero) untuk data GI Tarutung, serta verifikasi data kabel dari internet.
3.4.2. Persiapan gambar satu garis, data bus jaringan dan data penyulang jaringan.
Data yang diperoleh dari P.T. PLN (Persero) untuk data P.M. 6 Existing, dibuat diagram satu garis seperti gambar di bawah ini :
Display nilai fitness function terbaik dan mendapatkan titik interkoneksi.
�������� = 1
1 +�����������������
Fittness function :
SELESAI Apakah ada kandidat
bus lainnya? A
Membandingkan nilai rugi – rugi berdasarkan fungsi obektif
B YA
TIDAK A
29 Gambar 3. 2. Gambar sistem 42 bus sistem kelistrikan PM 6 Pematangsiantar
30 Gambar diatas dilengkapi dengan data – data seperti data tipe bus, beban atau generator pada bus, serta panjang penyulang serta impedansi saluran. Tabel 3.1 dan Tabel 3.2 di bawah ini akan menunjukan data – data tersebut.
Tabel 3. 1. Tabel bus data PM.6 Existing
Bus Kode Nama V theta GENERATOR LOAD INJECTED
Bus Bus MW MVAR MW MVAR Qmax MVAR
1 1 Slack 1 0 2 3 Bus2 6.418 3.977 3 3 Bus3 5.483 3.398 4 3 Bus4 4.454 2.760 5 3 Bus5 6.401 3.967 6 3 Bus6 5.729 3.551 7 3 Bus7 0.234 0.145 8 3 G. Hubung 9 3 Bus9 1.037 0.643 10 3 G. Hubung 11 3 Bus11 1.106 0.685 12 3 G.Hubung 13 3 Bus13 0.311 0.193 14 3 Bus14 0.515 0.319 15 3 G. Hubung 16 3 Bus16 0.682 0.422 17 3 Bus17 0.467 0.289 18 3 G.Hubung 19 3 Bus19 0.497 0.308 20 3 G.Hubung 21 3 G.Hubung 22 3 Bus22 0.410 0.254 23 2 Tonduhan 1 0.4 24 2 Aek Silo 1 8.5 25 3 G.Hubung 26 3 Bus26 0.220 0.136 27 3 G.Hubung 28 3 Bus28 0.425 0.263 29 3 Bus29 0.377 0.234 30 3 Bus30 0.332 0.206 31 3 G. Hubung 32 3 Bus32 0.298 0.184
31 Lanjutan Tabel 3.1
Bus Kode
Bus
Nama
V theta GENERATOR LOAD INJECTED
Bus MW MVAR MW MVAR Qmax MVAR
33 3 G. Hubung 34 3 Bus 34 0.813 0.504 35 3 G.Hubung 36 3 Bus 36 0.447 0.277 37 3 Bus 37 0.761 0.471 38 3 G.Hubung 39 3 Bus 39 0.213 0.132 40 3 G.Hubung 41 3 Bus41 1.210 0.750 42 3 Bus42 0.459 0.284
Pada tabel di atas, terdapat 10 kolom yang terdiri dari bus, kode bus, V, theta, MW(Generator), MVAR (Generator), MW(Load), MVAR (Load), Qmax (Injected), MVAR (Injected). Kolom bus menyatakan nomor bus sesuai dengan Gambar 3.2. Kolom Kode menyatakan kode bus seperti yang telah dijelaskan pada Tabel 2.1. V dan theta secara berturut – turut menjelaskan mengenai besar tegangan dan sudut tegangan pada tiap – tiap bus. Kolom MW dan MVAR pada Generator menunjukan besar kapasitas daya aktif dan reaktif yang dihasilkan oleh sebuah pembangkit. Kolom MW dan MVAR pada Load, menunjukan besar kapasitas MW dan MVAR dari beban terpasang pada masing – masing bus. Sedangkan Qmax dan MVAR pada kolom Injected biasanya diisi untuk menunjukan penggunaan kapasitor bank pada jaringan.
Namun, untuk kebutuhan proses perhitungan, pada kolom tegangan dan sudut fasa harus diisi secara lengkap. Maka pada kolom tegangan, pada awal perhitungan dianggap semuanya bernilai satu (pu), dan sudut tegangan dianggap semuanya bernilai nol. Selain itu, pada kolom – kolom tabel yang kosong, diisikan dengan angka nol. Dengan begitu tabel data bus siap untuk diproses dalam program. Di bawah ini akan ditunjukan informasi mengenai data saluran.
32 Tabel 3. 2. Tabel impedansi penyulang
From
Bus To Bus R X B/2 Tap
1 2 0.00236 0.00306 0 1 1 3 0.00236 0.00306 0 1 1 4 0.00236 0.00306 0 1 1 5 0.00236 0.00306 0 1 1 6 0.00236 0.00306 0 1 1 7 0.42525 0.55125 0 1 7 8 0.42525 0.55125 0 1 8 9 0.10868 0.14088 0 1 8 10 0.14175 0.18375 0 1 10 11 0.90963 0.64600 0 1 10 12 0.20318 0.26338 0 1 12 13 0.06703 0.04760 0 1 12 14 0.24098 0.31238 0 1 12 15 0.17010 0.22050 0 1 15 16 0.33513 0.23800 0 1 15 17 0.18900 0.24500 0 1 17 18 0.18900 0.24500 0 1 18 19 0.86468 1.12088 0 1 18 20 0.14175 0.18375 0 1 20 21 0.24098 0.31238 0 1 21 22 3.58800 1.71000 0 1 21 23 0.24098 0.31238 0 1 20 24 0.85050 1.10250 0 1 20 25 0.24098 0.31238 0 1 25 26 0.84260 0.59840 0 1 25 27 1.34663 1.74563 0 1 27 28 0.51540 0.17760 0 1 27 29 1.95423 0.67340 0 1 27 30 2.29800 1.63200 0 1 15 31 0.11813 0.15313 0 1 31 32 0.64260 0.83300 0 1 31 33 0.37800 0.49000 0 1 33 34 1.99718 0.68820 0 1 33 35 0.33075 0.42875 0 1 35 36 1.03080 0.35520 0 1 35 37 4.08025 1.40600 0 1 35 38 0.10395 0.13475 0 1 38 39 1.24085 0.59138 0 1
33
From
Bus To Bus R X B/2 Tap
38 40 0.73710 0.95550 0 1
40 41 3.86550 1.33200 0 1
40 42 0.61898 0.80238 0 1
Tabel di atas terdiri dari lima buah kolom yang berisikan From Bus, To Bus, R, X, B/2, dan Tap. Kolom From Bus dan To Bus menunjukan saluran dari sebuah bus “From Buss” ke bus “To bus”. Kolom R dan X menunjukan nilai resistansi dan reaktansi dari saluran tersebut. Kolom B/2 merupakan nilai suseptance dibagi 2, namun dapat diisikan dengan nilai nol. Kolom Tap adalah kolom tapping dari transformer, namun untuk sebuah saluran yang tidak mengalami taping transformer di salah satu ujung busnya, pada kolom tersebut diisikan angka satu.
3.4.3 Pembuatan Program
Pembuatan Program dimulai dengan membuat program perhitungan aliran daya dengan menggunakan metode Newton – Raphson. Adapun urutan perhitungan yang dilakukan sehingga menghasilkan program perhitungan aliran daya dengan metode newton raphson adalah sebagai berikut :
34 MULAI
Menghitung admitansi bus dan admitansi penyulang, serta membentuk matriks impedansi
Menghitung daya mula – mula yang dihasilkan masing – masing bus
(Pawal dan Qawal)
Menghitung perubahan nilai P dan Q akibat aliran daya jaringan dengan Persamaan 2.7 dan 2.8
Menghitung nilai ΔPi dan ΔQi ΔPi = Pawal – Pi
ΔQi = Pawal – Qi
Menurunkan Persamaan 2.11 dan 2.12 terhadap δi, Vi, δj, dan Vj.(J1, J2, J3, J4) Kemudian menghitung nilai jacobian matrix
dengan Persamaan - Persamaan tersebut Menyiapkan matriks ΔPi dan ΔQi
A
Membuat tabel data bus dan data saluran
35 Gambar 3. 3. Diagram Alir Perhitungan Aliran Daya Newton Raphson
Persiapan data bus dan data line dapat dilihat dari Tabel 3.1 dan Tabel 3.2. Perhitungan admitansi didasarkan pada Persamaan 2.1 dan dibentuk dalam sebuah matriks admitansi. Dalam perumusan matrik admitansi, terdapat keunikan saat mencari nilai admitansi pada sebuah bus. Dimana nilai admitansi pada sebuah bus merupakan penjumlahan admitansi dari seluruh penyulang yang terhubung melalui bus tersebut. Dimisalkan sebuah diagram admitansi potongan sistem bus 42 sebagai berikut :
TIDAK
YA
Apakah ΔPi dan ΔQi bernilai kurang dari nilai toleransi? (ε≤ 0,0001) Menyiapkan matriks J1, J2, J3, dan J4
Menghitung nilai Δδidan ΔVi berdasarkan Persamaan 2.19
Menghitung nilai tegangan dan sudut fasa yang baru δi = δawal – |Δδi|
Vi = δawal – |ΔVi|
Tampilkan nilai tegangan, sudut, serta aliran daya
SELESAII A
36 Gambar 3. 4. Gambar sistem bus 42 dari bus 1 hingga bus 7
Dari rangkaian di atas, dapat diperoleh :
�1 = �2 +�3+�4+�5 +�6+�7+�10�1 �1 =�12(�1− �2) +�13(�1− �3) +�14(�1− �4) +�15(�1− �5) + �16(�1− �6) +�17(�1− �7) +�10�1 �1 = �1(�12 +�13 +�14 +�15 +�16 +�17)− �2�12− �3�13− �4�14 − �5�15 − �6�16 − �7�17 �11 = (�12 +�13 +�14+�15+�16+�17) = 805,57− � 861,12 �12 = −�12 = −(160,93− � 172,03) �13 = −�13 = −(160,93− � 172,03) �14 = −�14 = −(160,93− � 172,03) �15 = −�15 = −(160,93− � 172,03) �16 = −�16 = −(160,93− � 172,03) �17 =−�17 = −(0,91− � 0,96)
Dapat kita saksikan, bahwa nilai Y11 merupakan admitansi untuk bus satu, demikian pula admitansi pada bus dua disebut sebagai Y22, begitu seterusnya. Sedangkan admitansi yang dinyatakan sebagai penghubung antar bus, bersifat negative dari nilai admitansi yang ada. Oleh karena itu untuk membuat matriks
37 impedansi dalam bahasa pemograman, dibagi dua buah komponen matriks tiap fungsi, yaitu komponen diagonal matriks dan komponen off diagonal matriks. Seperti yang ditampilkan berikut ini :
for k = 1:nbr #matriks diagonal
if n1(k)>0 & nr(k)>0
Y(n1(k), nr(k)) = Y(n1(k), nr(k))-y(k); Y(nr(k), n1(k)) = Y(n1(k), nr(k));
end end
for n = 1:nbus #matriks off diagonal
for k = 1:nbr
if n1(k) == n | nr(k) == n
Y(n,n) = Y(n,n) + y(k);
else, end
end end
Setelah memperoleh nilai admitansi dalam bentuk matriks, sekarang menghitung daya awal pada tiap – tiap bus. Dengan menganggap hanya terdapat sebuah bus dengan sebuah generator dan sebuah beban pada bus tersebut, seperti gambar di bawah ini :
Gambar 3. 5. Gambar sebuah bus dengan sebuah pembangkit dan sebuah beban Dari gambar di atas dapat kita lihat bahwa daya yang mengalir dari bus tersebut adalah daya yang dihasilkan dari generator dikurang daya yang dibutuhkan oleh beban. Maka pada bahasa pemrograman, hal ini ditulis seperti berikut :
P = Pg - Pl; % Pi = PGi - PLi..
Q = Qg - Ql; % Qi = QGi - QLi..
Psp = P; % P Specified..
38 Pada Persamaan di atas, daya awal disimpan dalam variabel Psp dan Qsp. Hal ini dikarenakan variabel P dan Q akan digunakan kembali untuk perhitungan aliran daya berikutnya.
Setelah memperoleh nilai awal, perhitungan berikutnya adalah menghitung aliran daya pada jaringan. Perhitungan ini dilakukan hanya untuk seluruh bus yang terdapat pada jaringan. Rumus perhitungan diperoleh dari Persamaan 2.7 dan 2.8. Perhitungan P dan Q secara bahasa pemrograman dapat ditulis sebagai berikut P = zeros(nbus,1);
Q = zeros(nbus,1);
% Calculate P and Q
for i = 1:nbus
for k = 1:nbus
P(i) = P(i) + V(i)* V(k)*(G(i,k)*cos(del(i)-del(k)) +
. B(i,k)*sin(del(i)-del(k)));
Q(i) = Q(i) + V(i)* V(k)*(G(i,k)*sin(del(i)-del(k)) -
. B(i,k)*cos(del(i)-del(k)));
end end
Langkah berikutnya adalah menghitung nilai perubahan daya yang terjadi pada jaringan. Dalam hal ini dapat dinyatakan sebagai selisih daya awal dikurangi dengan daya yang diperoleh dari Persamaan 2.7 dan 2.8 di atas, seperti yang tertulis pada Persamaan 2.13 dan 2.14. Dalam bahasa pemrograman, rumus ΔP = Psp(i) - P(i) dan ΔQ = Qsp(i) - Q(i) dituliskan sebagai berikut :
% Calculate change from specified value
dPa = Psp-P; dQa = Qsp-Q;
Setelah diperoleh selisih daya, maka selisih daya tersebut akan dibentuk dalam
sebuah matriks �∆�∆�((��))� seperti pada Persamaan 2.16. Dalam hal ini perlu diingat, seperti yang telah dijelaskan pada landasan teori di atas bahwa terdapat tiga jenis bus yang berbeda – beda variabel yang dapat diatur dan variabel yang di cari. Untuk bus slack, variabel yang dapat diatur adalah tegangan (V) dan sudut fasa
39 (δ), sedangkan yang perlu dicari adalah daya aktif (P) dan daya reaktif (Q). Untuk bus generator, yang dapat diatur adalah daya aktif (P) dan tegangan (V), sedangkan yang perlu dicari adalah sudut fasa (δ) dan daya reaktif (Q). Untuk bus beban, yang dapat diatur adalah daya aktif (P) dan daya reaktif (Q), sedangkan yang perlu dicari adalah tegangan (V), dan sudut fasa (δ). Oleh karena itu, dalam membuat matriks selisih daya ini, kita harus melihat bus mana yang dapat masuk dalam matriks ini. Parameter yang digunakan untuk melihat hal ini adalah variabel yang dapat diatur pada bus. Oleh karena P dan Q dapat diatur pada bus beban dan bus generator, maka komponen matriks yang dibentuk terdiri dari : nilai P untuk bus beban dan bus generator, serta nilai Q untuk bus beban saja. Dalam bahasa pemrograman, dapat ditulis sebagai berikut :
k = 1; dQ = zeros(npq,1); for i = 1:nbus if type(i) == 3 dQ(k,1) = dQa(i); k = k+1; end end dP = dPa(2:nbus); M = [dP; dQ];
Npq adalah jumlah bus yang memiliki variabel P dan Q (bus beban), sedangkan nbus adalah seluruh bus yang ada (slack, generator, dan beban). Dengan begitu, maka kumpulan matriks selisih daya aktif (ΔP) dan selisih daya reaktif (ΔQ) akan dikemas dalam sebuah matriks M.
Setelah memperoleh matriks M, untuk dapat menjalankan Persamaan 2.19, diperlukan sebuah matriks invers Jacobian. Untuk itu, diperlukan Persamaan – Persamaan untuk mendapatkan nilai matriks Jacobian. Adapun Persamaan – Persamaan matriks Jacobian tersebut, diperoleh dari turunan parsial Persamaan
40 2.7 dan 2.8 terhadap sudut tegangan dan tegangan. Secara lebih rinci dituliskan sebagai berikut ini :
• Jacobian “J1”
o Komponen Matrix diagonal :
���
��� =∑��=1����
� ≠� �−���sin(��− ��) + ���cos(�� − ��)� (3.1)
o Komponen Matrix off diagonal :
���
��� = −��������sin��� − ��� − ���cos���− ���� (3.2)
• Jacobian “J2”
o Komponen Matrix diagonal :
���
��� = ∑��=1��
�≠� ����cos(�� − ��) + ��� sin(�� − ��)� (3.3)
o Komponen Matrix off diagonal :
���
��� = ������ cos(��− ��) + ��� sin(�� − ��)� (3.4)
• Jacobian “J3”
o Komponen Matrix diagonal :
���
��� =∑��=1����
�≠� ����cos(�� − ��) + ��� sin(�� − ��)� (3.5)
o Komponen Matrix off diagonal :
���
��� =∑ �����−���cos(��− ��)− ���sin(��− ��)� (3.6)
• Jacobian “J4”
o Komponen Matrix diagonal :
���
41
o Komponen Matrix off diagonal :
���
��� = ������ sin(�� − ��)− ��� cos(�� − ��)� (3.8) Dengan rumus di atas, dalam bahasa pemrograman dapat ditulis sebagai berikut : J1 = zeros(nbus-1,nbus-1); for i = 1:(nbus-1) m = i+1; for k = 1:(nbus-1) n = k+1; if n == m for n = 1:nbus J1(i,k) = J1(i,k) + V(m)* V(n)*( G(m,n)*sin(del(m)-del(n)) + B(m,n)*cos(del(m)-del(n))); end J1(i,k) = J1(i,k) - V(m)^2*B(m,m); else J1(i,k) = V(m)* V(n)*(G(m,n)*sin(del(m)-del(n)) - B(m,n)*cos(del(m)-del(n))); end end end
% J2 - Derivative of Real Power Injections with V..
J2 = zeros(nbus-1,npq); for i = 1:(nbus-1) m = i+1; for k = 1:npq n = pq(k); if n == m for n = 1:nbus
J2(i,k) = J2(i,k) + V(n)*(G(m,n)*cos(del(m)-del(n)) + B(m,n)*sin(del(m)-V(n)*(G(m,n)*cos(del(m)-del(n))); end J2(i,k) = J2(i,k) + V(m)*G(m,m); else J2(i,k) = V(m)*(G(m,n)*cos(del(m)-del(n)) + B(m,n)*sin(del(m)-del(n))); end end end
% J3 - Derivative of Reactive Power Injections with Angles..
J3 = zeros(npq,nbus-1); for i = 1:npq m = pq(i); for k = 1:(nbus-1) n = k+1; if n == m for n = 1:nbus
J3(i,k) = J3(i,k) + V(m)* V(n)*(G(m,n)*cos(del(m)-del(n)) + B(m,n)*sin(del(m)-V(n)*(G(m,n)*cos(del(m)-del(n)));
42 J3(i,k) = J3(i,k) - V(m)^2*G(m,m); else J3(i,k) = V(m)* V(n)*(-G(m,n)*cos(del(m)-del(n)) - B(m,n)*sin(del(m)-del(n))); end end end
% J4 - Derivative of Reactive Power Injections with V..
J4 = zeros(npq,npq); for i = 1:npq m = pq(i); for k = 1:npq n = pq(k); if n == m for n = 1:nbus
J4(i,k) = J4(i,k) + V(n)*(G(m,n)*sin(del(m)-del(n)) - B(m,n)*cos(del(m)-V(n)*(G(m,n)*sin(del(m)-del(n))); end J4(i,k) = J4(i,k) - V(m)*B(m,m); else J4(i,k) = V(m)*(G(m,n)*sin(del(m)-del(n)) - B(m,n)*cos(del(m)-del(n))); end end end J = [J1 J2; J3 J4];
Dengan begitu maka, diperoleh matriks Jacobian dengan formasi
�= ��1 �3
�2 �4�
Setelah diperoleh nilai dari matriks J, maka Persamaan 2.19 dapat dijalankan dengan terlebih dahulu meng-inevrs matriks Jacobian tersebut. Sehingga dapat diperoleh nilai perubahan sudut tegangan (Δδ) dan nilai perubahan tegangan (ΔV) dengan Persamaan 2.19. Dalam bahasa pemrograman dapat ditulis sebagai berikut X = inv(J)*M;
dTh = X(1:nbus-1); % Voltage Angle..
dV = X(nbus:end); % Voltage value..
Dengan didapatnya nilai perubahan sudut tegangan dan perubahan tegangan, maka dapat dihitung berapa nilai sudut tegangan dan tegangan pada saat ini. Di mana pada mulanya nilai tegangan dianggap semuanya adalah satu, dan seluruh nilai sudut tegangan dianggap nol. Dalam hal ini, tegangan slack bus tidak
43 diikutsertakan karena parameter tegangan dan sudut tegangan pada slack bus merupakan parameter yang yang ditentukan di awal. Nilai sudut tegangan diberikan kepada bus generator dan bus beban. Sedangkan nilai tegangan hanya diberikan kepada bus beban, karena tegangan pada bus generator telah ditentukan di awal. Maka nilai tegangan dan sudut tegangan saat ini ditentukan dengan Persamaan 2.20 dan 2.21, dimana dalam bahasa pemrograman ditulis sebagai berikut :
% Updating State Vectors..
del(2:nbus) = dTh + del(2:nbus); % Voltage Angle..
k = 1;
for i = 2:nbus
if type(i) == 3
V(i) = dV(k) + V(i); % Voltage Magnitude..
k = k+1;
end end
Dengan begitu, tegangan yang baru akan diperoleh. Namun nilai tegangan dan sudut tegangan yang diperoleh saat ini bukan merupakan nilai tegangan dan sudut tegangan yang sudah stabil. Nilai sudut tegangan dan nilai tegangan sudah dapat dikatakan stabil apabila seluruh nilai ΔP dan ΔQ mencapai nilai yang paling minimal yang ditentukan dari awal. Pada saat ini, nilai ΔP dan ΔQ minimal yang ditentukan adalah 0,0001 atau 10-4. Jadi, selama nilai ΔP dan ΔQ masih berada di atas 0,0001 maka perhitungan harus diiterasi seperti pada diagram alir yang ditampilkan pada Gambar 3.3.
Setelah diperoleh nilai tegangan dan sudut tegangan yang telah stabil, dicari nilai rugi – rugi dari penyulang, dimana sesuai dengan Persamaan 2.22 dan 2.23 ditentukan terlebih dahulu berapa nilai arus yang mengalir pada peyulang. Dalam bahasa pemrograman, nilai arus yang mengalir pada jaringan dapat ditulis sebagai berikut :
44
%Line Current Flows..
for m = 1:nl
p = fb(m); q = tb(m);
Iij(p,q) = -(Vm(p) - Vm(q))*Y(p,q); % Y(m,n) = -y(m,n)..
Iij(q,p) = -Iij(p,q); % Y(m,n) = Y(n,m)..
End
Setelah ditentukan besar arus yang mengalir di penyulang, sekarang dapat ditentukan besar daya yang mengalir pada penyulang seperti pada Persamaan 2.24 dan Persamaan 2.25. Sehingga dengan bahasa pemrograman dapat ditulis sebagai berikut
% Line Power Flows..
for m = 1:nb for n = 1:nb if m ~= n Sij(m,n) = Vm(m)*conj(Iij(m,n))*BMva; end end end
Dengan diperolehnya nilai aliran daya pada jaringan, nilai loses pada jaringan dapat diketahui dengan menggunakan Persamaan 2.26. Dimana, bahasa pemrogramannya dapat ditulis sebagai berikut :
% Line Losses..
Lij = zeros(nl,1);
for m = 1:nl
p = fb(m); q = tb(m);
Lij(m) = Sij(p,q) + Sij(q,p);
end
Lpij = real(Lij); Lqij = imag(Lij);
Setelah diperoleh nilai losses, nilai losses ditampilkan kembali pada layar untuk dapat dilihat berapa nilai losses total pada jaringan.
Metode Algorithm Bee Colony digunakan dengan menggunakan fungsi objective minimum dari nilai rugi – rugi seperti pada Persamaan 2.27. Berdasarkan diagram satu garis 42 bus pada Gambar 3.2, program ini dijalankan berdasarkan jalur lebah yang dibuat seperti Gambar 3.6. di bawah ini :
45 Gambar 3.6. Jalur kandidat bus interkoneksi
Tugas lebah yang mencari sumber makanan terdekat disebut lebah scout. Maka dalam hal ini, setiap jalur dinamakan scout. Jalur merah disebut scout1, jalur hijau dsebut scout2, dan jalur merah biru disebut scout3. Setiap kali lebah scout memeperoleh sebuah sumber makanan baru, lebah pekerja dipanggil untuk mengambil data – data yang ada pada sumber makanan tersebut. Dalam hal ini, data – data yang dimaksud adalah data impedansi saluran baru dari tempat awal
46 Distributed Generation terletak hingga posisi interkoneksi pada bus terpilih, aliran daya dan rugi – rugi total jaringan. Jadi, setelah kandidat bus baru telah ditemukan, langkah berikutnya adalah menentukan impedansi saluran baru yang harus dibangun untuk menghubungkan letak awal DG dengan titik interkoneksi DG yang baru.
R
new= R
sebelumnya+
panjang ineterkoneksi sebelumnya ke interkoneksi barupanjang interkoneksi ke bus sebelumnya
x R
awalPerubahan Data impedansi
Setiap pemindahan interkoneksi dari bus satu ke bus lannya, perubahan impedansi harus dilakukan pada saluran dari awal bus mencapai titik interkoneksi bus. Perubahan data dilakukan pada Tabel C.2 kolom 1 (from bus) dan kolom 2 (to bus). Perubahan terjadi pada baris dimana bus terhubung dengan bus generator. Perubahan panjang penyulang dari sumber interkoneksi awal menuju ke titik interkoneksi baru, dapat dirumuskan sebagai berikut ini :