TINJAUAN PUSTAKA
E. Diagram Alir Penelitian
Gambar 3.6 Diagram alir (flow chart) penelitian Mulai
Pengujian tema penelitian dan penulusuran literatur
Survey ketersediaan alat :
• Mesin Frais
• Mikroskop USB
Penyediaan bahan :
• Magnesium
• Pahat
Proses pengefraisan dengan kondisi kering
Foto pengujian pengefraisan Magnesium AZ31
Pengambilan data keausan pahat Pengamatan struktur mikro benda kerja Magnesium AZ31
Data hasil pengujian
Analisa data dan Pembahasan
Simpulan dan Saran
Tabel 3.4 Hasil Pengukuran Keausan Pahat No Kecepatan Potong (Vc), m/menit Gerak Makan (f), m/rev Kedalaman Potong (d), mm Waktu Pemakanan, Menit Nilai Keausan Pahat (Vb) Nilai Keausan Pahat Vb (menit) 1 1280 256 2 2 1280 256 2 3 1280 137 2 4 1700 137 3 5 910 137 1 6 1700 425 3 7 1280 256 2 8 1700 425 1 9 1700 137 1 10 1280 256 2 11 910 137 3 12 1280 256 1 13 1280 425 2 14 910 425 3 15 910 256 2 16 910 425 1 17 1280 256 2 18 1700 256 2 19 1280 256 2 20 1280 256 3
A. Simpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1. Dari ketiga parameter pemotongan (v, f, dan d) berpengaruh terhadap laju keausan pahat, tetapi pada parameter kecepatan potong (v) tinggi yang dapat menimbulkan laju keausan pahat yang tinggi.
2. Pada kecepatan potong yang tinggi, pahat mengalami keausan yang disebabkan proses deformasi plastik karena pahat menerima tekanan yang besar dan temperatur yang tinggi.
3. Pada parameter kecepatan potong tinggi yang bernilai 42,7 m/min didapat umur pahat yang paling cepat dari pada parameter pemotongan yang lainnya yaitu dengan umur pahat selama 5 menit.
4. Pada proses pengefraisan aus pahat terlebih dahulu terjadi pada bagian ujung pahat yang dikarenakan bagian ujung pahat yang mengalami kontak lebih dulu dengan benda kerja.
5. Pada proses pemesinan frais magnesium AZ31 tidak ditemukan adanya perubahan struktur mikro magnesium AZ31.
B. Saran
Untuk membantu keberhasilan penelitian selanjutnya, makan penulis menyarankan sebagai berikut :
1. Sebaiknya melakukan pengukuran temperatur yang dihasilkan pada saat proses pemesinan, agar dapat diketahui temperatur yang dihasilkan saat proses pemesinan mencapai atau mendekati temperatur austenit material magnesium.
2. Sebaiknya dilakukan pengujian SEM (Scanning Electron Microscope) agar dapat terlihat jelas perubahan struktur mikro dan batas butir dari material magnesium.
3. Sebaiknya dilakukan pengujian kekerasan terhadap permukaan magnesium yang belum dikenai proses pemesinan dan setelah diuji perubahan struktur mikronya agar dapat terlihat perubahan kekerasan permukaan magnesium yang telah dikenai proses pemesinan.
4. Sebaiknya melakukan pengukuranSurface Integritypermukaan agar dapat dilihat keterkaitan integritas permukaan dengan perubahan struktur mikro.
Afdlolludin. 2014. Mesin bubut, Mesin Sekrap, Mesin Frais. Blogspot.co.id (diakses 01 Agustus 2014)
Anonim. Magnesium. http://en.wikipedia.org/wiki/Magnesium (diakses 01 Agustus 2014)
Anonim.Sifat Fisik Magnesium. http://en.wikipedia.org/wiki/Magnesium (diakses 03 Agustus 2014)
Andriansyah. 2013. Pengaruh pemotongan Terhadap Kekasaran Permukaan Dalam Pengefraisan Magnesium Tersuplai Udara Dingin. Universitas Lampung.
Ansyori, A. 2015. Pengaruh Kecepatan Potong dan Makan Terhadap Umur Pahat pada Pemesinan Freis Paduan Magnesium. Universitas Malahayati Lampung. Bandar Lampung.
Kekasaran Permukaan Proses Bubut Untuk Material ST37. Politeknik Negeri Padang.
B. Trevor, Abbott dan Mark A. Easton. 2004. Designing With Magnesium : Alloys, Properties, and Casting Processes. Monash University, Clayton, Victoria, Australia.
Budiman, Hendri, dan Richard. 2007.Analisis Umur dan Keausan Pahat Karbida untuk Membubut Baja Paduan(ASSAB 760) dengan Metoda Variable speed Machining Test,JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 9, No. 1, Universitas Bung Hatta, Padang.
Buldum, Berat Baris. Aydin SIK., Iskander Ozkul. 2011. Infestigation of Magnesium Alloys Machinability. International Journal of Electronics, Mechanical and Mechatronic Engineering Vol 3 Num 3 (361-368).
C. Bruni, A. Forcellese, F. Gabrielli, M. Simoncini. 2004. Effect of Temperature, Strain Rate and Fibre Orientation On The Plastic Flow Behaviour and Formabilitym of AZ31 Magnesium Alloy. Departement of Mechanics, Universita Politecnica Delle Marche, Via Brecce Bianche, Ancona 60131. Italy.
Fadlybachtiar. 2011. Mesin Frais. Blogspot.co.id (diakses 01 Agustus 2014)
Fang, F. Zlee L.C., Liu, X.D,. 2002, “Mean flank temperaturemeasurement in
high speed dry cutting of magnesium alloy”, Singapore Insitute of
Manufacturing Technology.
G. Padmanaban, V. Balasubramanian,, G. Madhusudhan Redd. 2011. Fatigue Crack Growth Behaviourof Pulsed Current Gas Tungsten arc, Friction Stir and Laser Beam Welded AZ31B Magnesium Alloy Joints. Centre of Materials Joining & Research (CEMAJOR), Departement of Manufacturing Engineering, Annamalai University, Annamalai Nagar 608002, India.
Gao, L, F. 2005. Introduction to Manufacturing Process.3rdEd. Mc/Graw–Hill Book Co.
Groover, P, Mikell, 1999, “ Fundamental of Modern Manufacturing Materials,
Proses, and Systems”,Jhon Wiley & Sons Inc, New York.
Udara Dingin Vortex Tube pada Pembubutan Baja ST 41 Menggunakan Pahat HSS,Jurnal FEMA Vol 2 No. 2. Universitas Lampung.
Kalpakjian, Serope. 1992. Manufacturing Engineering and Technology 2nd Edition.Addison Publishing Companya Inc. California.
Kalpakjian, S. Manufacturing Engineering and Technology, 3rd Ed. Addison –
Wesley Publishing Company, 1995.
Lukman. 2008. Automotive Application of Magnesium and Its Alloys. Trans. Indian Inst.
M. Cusick, F. Abu-Fartha, P. Lours, Y. Maoult, G. Bernhart and M. Khraisheh. 2012. Superplastic forming of AZ31 Magnesium Alloy with Controlled Microstructure.
N. Winzer, A.Atrens, G.Song, E.Ghali, W.Dietzel, K.U.Kainer, N.Hort and C.Blawert:Adv. Eng. Mater.,2005, 7(8), 659.
Nurhadiyanto, Didik. 2002. Pengaruh parameter Pemotongan terhadap keausan pahat,Skripsi. Online.http://www.slideshare.net/wijayoa/prosiding/seminar-nasional-jptm-uny-th2012
Rochim, Taufiq. 1993. Proses pemesinan. Higher Education Deveploment Support Project.Jakarta.
Rundman, Karl B. “Heat Treating of Ductle Irons” ASM Handbook. Vol 4. Park Ohio. 1989.
Schuman. 1983. Metallographe. VEB Deutcche Verlag fur Grundst of Industrie Leipzig.
Shaw, Milton. C. 1984.Metal Cutting Principle. Oxford. Newyork.
Skubisz, Piotr Tadeusz Skowronek, Jan Sinczak. Microstructure of Magnesium Alloy AZ31 After Low-Speed Extrusion. Mettalurgy and Foundry Engineering – Vol 33, 2007, No 2. AGH University of Science and Technology, Cracow, Poland.
Suhairi. 2010. Pengaruh Variabel Pemotongan Terhadap Kualitas Permukaan Produk dalam Meningkatkan Produktifitas, Jurnal Teknik Mesin Politeknik Negeri Padang.
HSS end mill pada machining center MC-520 stama dengan mengaplikasikan MQL dan dry machining untuk high speed machining,
Skripsi Online.
Wijanarko, Bambang. 2012. Study Eksperimental Terjadinya Keausan Pahat Pada Proses Pemotongan And Milling Pada Lingkungan Cairan Pendingin.
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Yani, Rina Dwi, Tri Pratomo dan Hendro Cahyono. 2008. Pengaruh Perlakuan Panas Terhadap Struktur Mikro Logam ST60, Jurnal semesta Teknika Vol 11 No. 1Politeknik Negeri Pontianak.
Yunus, M. 2012. Magnesium en. Wikipedia.org (Diakses 12 Oktober 2012)
Zubaidi, A. 2012. Analisis Pengaruh Kecepatan Putar dan Kecepatan Pemakanan Terhadap Kekasaran Permukaan Material FCD 40 Pada Mesin Bubut CNC.Jurnal Unwahas. Semarang.