Adapun Diagram Alir pada praktikum tentang pengolahan data 2D adalah sebagai berikut; MULAI Processing Tahapan Persiapan Permodelan 2D Penampang Horizontal dan vertikal Surfer Res2dinv Interpretasi Analisa SELESAI Korelasi 29
V. HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN
A. Data Praktikum
Adapun Data praktikum geolistrik pada pengolahan data 2D merupakan data yang memiliki nilai x (Offset data), A (Spasial data), K (Faktor Geometri), I (Arus) dan V (Potensial), terdapat pada lampiran. Selain itu terdapat data hasil inversi 2D hasil pengolahan faktor-faktor terukur tersebut dengan menggunakan software Res2dinv masing-masing lintasan, antara lain sebagai berikut;
Gambar 5.1 Hasil Inversi 2D Lintasan 1
Gambar 5.3 Hasil Inversi 2D Lintasan 3
Gambar 5.4 Hasil Inversi 2D Lintasan 4
Gambar 5.5 Hasil Inversi 2D Lintasan 5
Gambar 5.6 Hasil Inversi 2D Lintasan 6
Gambar 5.7 Hasil Inversi 2D Lintasan 7
Gambar 5.8 Hasil Inversi 2D Lintasan 8
Gambar 5.9 Hasil Inversi 2D Lintasan 9
B. Pembahasan
Pada praktikum yang telah dilakukan, yaitu pengolahan data 2D dengan mengunakan software Res2Dinv. Data tersebut terdiri dari 10 data dari 10 line dengan konfigurasi yang berbeda. Tiga diantaranya yaitu line 2, line 3, dan line 8 merupakan konfigurasi dipole-dipole. Selain itu juga menggunakan konfigurasi wenner. Perbedaan pengolahan kedua konfigurasi tersebut terdapat pada faktor-faktor yang akan diolah pada software Res2dinv. Jika menggunakan konfigurasi wenner maka satuan yang diinput adalah nilai offset data, hasil perkalian antara banyaknya faktor (n) dan spasial data serta nilai rho. Sedangkan jika konfigurasi yang akan diolah menjadi inversi 2D adalah dipole dipole maka satuan yang akan diolah meliputi nilai offset data, spasial data, faktor (n) serta nilai tahanan jenisnya.
Data yang diperoleh merupakan data yang diambil dari keupalauan mentawai dengan lokasi pada lembar geologi terletak di pulau, pagai, sipora dan siberut. Pada masing-masing line yang akan di interpretasi meliputi kedalaman dan ketebalan lapisan dengan nilai rho tertentu terhadap resistivitas secara vertikal, serta mengorelasi dan menganalisa permodelan sounding 2D dengan penamapang horizontal. Nilai resistivitas lapisan yang terdiri dari lapisan batuan dapat dianalisa berdasarkan referensi tabel resistivitas batuan sebagai berikut;
Tabel 4.1 Tabel Resistivitas Batuan 1
Material Resistivitas (Ohm.m)
Air (Udara) 0
Sandstone (Batu pasir) 200-800 Sand (Pasir) 1-1000 Clay (Lempung) 1-100 Ground Water (Airtanah) 0.5-300 Sea water (Air asin) 0.2
Dry Gravel (Kerikil Kering) 600-10000
Alluvium (Aluvium) 10-800 Gravel (Kerikil) 100-600 Air meteoric, 30-1000 Air Permukaan. Dalam bataun beku 30-500 Air permukaan, dalam sedimen 10-100 Air tanah, dalam batuan beku 30-150 Air tanah, dalam batuan sedimen ≥ 1
Air untuk rumah tangga Sekitar 0,2
Air laut ≥ 1,8
Air irigasi ≥ 0.65 (Kolert, 1969)
Tabel 4.2 Tabel Resistivitas Batuan 2
Halliday, David; Resnick, Robert; Walker, Jearl.1991.Fundamentals of Physics (edisi ke-6th). John Wiley & Sons, Inc
Pada line pertama merupakan daerah pengukuran berupa tinggian dan rendahan dengan perbedaan litologi yang jelas. Dari hasil analisa nilai sounding 2D diperoleh kejelasan bahwa terdapat anomali perbedaan nilai reistivitas batuan yang cukup jelas. Pada lapisan batuan atas dengan kedalaman antara 0-1,5 meter memiliki nilai resitivitas tinggi sekitar 213 Ω.m sebagai top soil merupakan jenis batuan krikil (gravel). Lapisan batuan didominasi oleh nilai dengan reisitivitas 2.18 Ω.m. Nampak pada gambar 5.1 hasil inversi 2D lintasan 1, jika ditinjau dari aspek geologi kemungkinan lapisan batuan tersebut merupakan cebakan air tanah hingga kedlaman 19,1 meter pada iterasi kedua mulai dari 48.0 m hingga 96.0 m. Selain itu pada iterasi 96.0 m hingga 144 m lapisan tersebut lebih dangkal dan berada pada kedalaman 14,9 hingga 19,1 meter. Lapisan yang menyelubungi nilai reistivitas batuan rendah yang di perkirakan air tersebut memiliki nilai rho 21.5 Ω.m yang diperkirakan lempung dengan sifat immpermeabel tinggi sehingga air dapat terperangkap pada lapisan itu. Lapisan pada kedalaman yang paling dalam pada sounding menggunakan konfigurasi wanner ini memiliki nilai rho yang semakin tinggi hingga 456 Ω.m pada kedalaman 28.8 meter pada iterasi kedua. Dari data lintasan pertama ini diperoleh error yang cukup besar mencapai 63.3 persen sehingga data yang dapat ditampilkan tidak cukup valid, namun tetap bisa diinterpretasi pada perbedaan nilai rho masing-masing lapisan. Pada daerah pengukuran dapat diketahui lokasi topografi permukaan setelah dibuat penamang horizontal dan slicing serta 3D veiw dari data koordinat x, y serta elevasi. Daerah pengukuran meliputi daerah tinggian dan rendahan mulai dari koordinat x=563500, y=9772560 hingga x=563620 dan y=9772560. Adapun hasil pembuatan penampang horizontal adalah sebagai berikut;
Gambar 5.11 Penampang Horizontal daerah Pengukuran Line 1
Selain itu dilakukan juga pembuatan slice untuk memperjelas topografi permukaan daerah pengukuran beserta daerah pengukuran pada gambar 5.12 dan gambar 5.13
Gambar 5.12 Grafik Slice Jarak terhadap elevasi line 1
Gambar 5.13 Penampang 3D daerah Pengukuran Line 1
0 10 20 30 40 50 0 50 100 150 200
Elevasi
ElevasiDaerah pengukuran selanjutnya adalah pada lintasan kedua pengukuran dilakukan pada luasan daerah dengan koordinat x mulai dari 563540 hingga 563580 dan y 9772500 hingga 9772560. Daerah pengukuran terdapat perbedaan puncak elevasi tertinggi 46 dan terendah 28 meter. Dari hasil inversi sounding 2D dengan konfigurasi dipole-dipole diperoleh inversi dengan sekaligus variasi topografi yang dapat dianalisa. Elektroda maksimal yang ditancapkan mksimal dari elektroda pertama berjarak 186 meter. Berdasarkan data yang terdapat pada gambar 5.2 iterasi sebanyak 5 . Hasil interpretasi lapisan batuan menunjukkan bahwa lapisan top soil memiliki nilai reistivitas berkisar antara 10.5 Ω.menunjukkan lempung berpasir. Pada lapisan berikutnya pada elevasi 20.0 hingga -10 meter memiliki nilai resistivitas yang tinggi pada lapisan tersebut yaitu meningkat secara gradual mulai dari lebih dari 385 Ω.m hingga lebih dari 1280 Ω.m mulai dari elevasi 20 meter dan lebih dalam lagi. Jika ditinjau dari tabel reistivitas batuan pada nilai tahanan jenis tersebut jenis batuan yang mungkin adalah gravel maupun fresh granite. Lapisan tersebut memiliki dua segmen pada iterasi 0 hingga 96 dengan ketebalan rata-rata 30 meter dan segmen kedua pada iterasi 96.0 hingga iterasi terakhir dengan ketebalan rata-rata 14 meter. Pada data hasil inversi 2D ini memiliki error sebesar 90, cukup besar sehingga data yang diinterpretasi memiliki kemungkinan kesalahan yang besar.
Adapun topgrafi dari lintasan kedua dengan konfigurasi dipole-dipole jika ditampilkan secara horizontal, slice dan 3 Dimensi adalah sebagai berikut pada gambar 5.14, gambar 5.15 dan gambar 5.16;
Gambar 5.14 Penampang Horizontal daerah Pengukuran Line 2
Gambar 5.15 Grafik Slice Jarak terhadap elevasi line 2
0 10 20 30 40 50 0 50 100 150
Elevasi
ElevasiGambar 5.16 Penampang 3D daerah Pengukuran Line 2
Daerah pengukuran selanjutnya yaitu lintasan 3 dengan konfigurasi dipole-dipole. Dapat dilihat topografi daerah pengukuran pada penampang horizontal besarta hasil slice serta 3D view adalah sebagai berikut
Gambar 5.17 Penampang Horizontal daerah Pengukuran Line 3
Gambar 5.18 Grafik Slice Jarak terhadap elevasi line 3
Gambar 5.19 Penampang 3D daerah Pengukuran Line 3
Daerah pengukuran menunjukkan adanya daerah tinggiaan dan rendahan, dimana pengukuran diperkirakan dilakukan di tepi tinggian. Dari hasil inversi Sounding mapping menggunkan konfigurasi dipole-dipole diperoleh beberapa anomaly mengenai lapisan yang teridentifikasi. Lapisan paling atas atau top soil memiliki nilai resistivitas yang rendah berkisar antara 14 Ω.m diperkirakan merupakaan lapisan lempung yang lebih tebal pada iterasi pertama hingga 48.0 serta iterasi keempat nampak hingga 14.0 pada gambar 5.3. lapisan tersebut diperkirakan merupakan lapisan lempung sebagai top soil. Semakin dalam sounding semakin dalam pula resistivitas yang didapat. Lapisan selanjutnya terletak pada semua iterasi memiliki litologi krikil dengan
0 10 20 30 40 50 60 0 50 100 150
Elevasi
Elevasinilai resistivity 186 Ω.m hingga 679 Ω.m dengan ketebalan 10 meter. Setelah itu pada iterasi kedua dengan kedlamaan 48.0 hingga 96.0 mulai dari kedalaaman 7.6 meter hingga 37 meter memiliki nilai resistivitas tinggi, dan naik secara gradual hingga miulai lebih dari 9002 Ω.m hingga 32785 Ω.m. Dapat disimpulkan batuan ini tidak sama sekali konduktif karena nilai reistivitas tinggi. Jika dibandingkan dengan tabel resistivitas batuan segmen lapisan ini merupakan batuan basal, granit maaupun quarsit. Namun pada litologi ini kemungkinan adalah batuan basalt karena nilai batuan yang tinggi reistivitasnya. Nampak pada gambar 5.3, pada segmen kedua juga naik secara gradual namun maksimal hanya sekitar 9002 Ω.m. Jenis batuan ini merupakan batuan fresh basalt terletak diawal iterasi keempat 96.0 meter dengan kedalaman antara 13.1 hingga 19.7 meter. Dari hasil inversi 2D sounding mapping menggunakan konfigurasi dipole-dipole ini diperolah RMS error sebesar 85.6 % dengan 5 iterasi. Sehingga data yang dihasilkan tidak begitu baik menginat besarnya error yang didapat.
Data selanjutnya adalah lintasan 4 dengan konfigurasi wenner. Topografi daerah pengukuran lintasan keempat menyerupai daerah subduction beberapa tinggian yang terletak ditengah dan di kanan-kirinya merupakan rendahan. Titik tertinggi berada pada elevasi 92.5 m dan titik terendah berada di ketinggian 79, dengan penurunan yang landai. Adapun hasil permodelan topografi daerah pengukuran , penampang horizontal serta hasil slice antara lain sebagai berikut;
Gambar 5.20 Penampang Horizontal daerah Pengukuran Line 4
Gambar 5.21 Grafik Slice Jarak terhadap elevasi line 4
Gambar 5.22 Penampang 3D daerah Pengukuran Line 4
75 80 85 90 95 0 50 100 150 200
Elevasi
ElevasiBerdasarkan hasil inversi 2D dengan konfigurasi wenner daerah tersebut mayoritas memiliki nilai reistrivitas yang tinggi berada di atas 921 Ω.m pada bagian top soil. Diperkirakan terdapat singkapan granit dipermukaan . Nilai reistivitas tertinggi berada pada jerak 40 meter titik awal elektroda antara 921 Ω.m hingga 3579 Ω.m diperkirakan batuan basalt. Hingga jarak pengukuran terakhir penancapan elektroda hingga 186 m nilai reistivitasnya berkisar antara 921Ω.m merupakan batuan granit yang kemungkinan nampak di permukaan hingga kedalaman 60 meter pada jarak 48 hingga 186 meter nampak pada gambar 5.4. Pada kedalaman 80 meter mualai dari jarak 50 meter permukaan hingga sounding yang paling dalam diperoleh resitivitas yang semakin rendah mulai dari 230 Ω.m hingga 57.7 Ω.m diuperkirakan memiliki litologi batuan pasir hingga lempung berpasir pada resistivitas rendah. Data hasil inversi 2D ini memiliki error 49.2.
Data pengukuran selanjutnya yaitu data lintasan 5 yang dikur pada koordinat luasan mulai dari x=56650 hingga x=566620 dan y=9771580 hingga y=9771650. Daerah pengukuran berdasarkan permodelan 3D yang telah dibuat memiliki variasi elevasi maksimal mulai dari 70 meter hingga minimal 59.5 meter. Dapat dilihat pada penampang horizontal, hasil slice serta hasil permodelan 3D, sebagai berikut;
Gambar 5.23 Penampang Horizontal daerah Pengukuran Line 5
Gambar 5.24 Grafik Slice Jarak terhadap elevasi line 5
Gambar 5.25 Penampang 3D daerah Pengukuran Line 5
Hasil inversi 2D daerah pengukuran kelima dengan menggunakan konfigurasi wenner menunjukkan beberapa anomaly yang menunjukkan perbedaan jenis batuan pada daerah pengukuran ini. Nilai resistivitas tertinggi terletak pada jarak elektroda 48 hingga 96 meter dengan nilai reistivitas rata-rata 9451 Ω.m. Dengan nilai reistivitas ini menunjukkan litologi batuan basal ataupun granit. Pada daerah pengukuran ini terdapat anomaly yang sangat jelas terhadap resistivitas batuan. Nampak pada gambar pengamatan 5.5 terdapat segmen dengan nilai rsistivitas yang rendah antara 3.0 Ω.m dan kedalaman 35 hingga 55 meter. Kemungkinan air yang terdapat pada daerah rendahan pada daerah pengukuran lintasan kelima ini. Daerah dengan dengan resistivitas
58 60 62 64 66 68 70 72 0 50 100 150 200
Elevasi
Elevasirendah lainya terletak pada lapisan paling bawah yang terukur sounding pada jarak mulai dari 100 hingga 186 meter pada kedalaman 30 meter. Selain itu juga terdapat daerah dengan resistivitas tinggi pada jarak 144 m hingga 168 meter pada ketebalan 5 meter, kemungkinan ini merupakan segmen batuan fresh granite lainya. Data inversi 2D dengan konfigurasi wenner ini memiliki error sebesar 45.4%.
Data pengukuran selanjutnya adalah lintasan 6 dengan konfigurasi wenner. Dari hasil permodelan 3D serta penampang horizontal daerah penelitian melewati daerah tinggian ditengah titik pengukuran seperti bukit. Adapun hasil permodelen berupa penampang horizontal, slice maupun penampang 3D dapat ditampilkan pada gamba berikut;
Gambar 5.26 Penampang Horizontal daerah Pengukuran Line 6
Gambar 5.27 Grafik Slice Jarak terhadap elevasi line 6
0 10 20 30 40 50 60 0 50 100
Elevasi
Elevasi 45Gambar 5.28 Penampang 3D daerah Pengukuran Line 6
Pada dearah pengukuran 6 berdasarkan data lintasan yang diperoleh, hasil inversi 2D mennjukkan kenampakan daerah pengukuran ini merupakan singkapan batuan dengan nilai reistivitas batuan yang tinggi berkisar antara 1889 Ω.m. kemungkinan perbukitan ini merupakan daerah singkapan batuan fresh granite. Pada titik tertinggi daerah pengukuran hingga kedalaman yang terukur memiliki perbedaan nilai reistivitas yang tidak terlalu segnifikan dan masih menunjukkan daerah dengan litologi fresh granite. Pada gambar 5.6 Segmen sebelah kanan dari batuan tersbut menunjukkan resistivitas yang lebih rendah bahkan menurun secara gradual hingga rata-rata 24.2 Ω.m, kemungkinan ini merupkaan batuan lempung berpasir hingga kedalaman 20 meter dari permukaan. Segmen batuan sebelah kiri dari titik pengukuran terendah hingga tinggi yang berada di titik pengukuran, memiliki nilai yang bervariasi mulai dari bernilai 138 Ω.m hingga 330 Ω.m, yang masih menunjukkan jenis batuan kompak lainya seperti batu pasir dengan sedikit kandungan batuan lempung. Hasil Inversi pada lintasan ke enam menunjukan nilai yang bervariatif, namun tetap didominasi oleh batuan dengan nilai reistivitas yang relatif tinggi pada lapisan top soil yang dalam hal ini tersingkap. Hasil inversi 2D pada data lintasan ini menunjukkan error sebesar 78.2.
Data pengukuran selanjutnya adalah line 7. Dari hasil permodelan 3D serta hasil pembuatan penampang horizontal serta hasil slice nampak pada daerah pengukuran ke tujuh ini medannya memiliki jarak perbedaan elevasi yang tidak terlalu tinggi. Nampak pada gambar 5.29, Gambar 5.30, serta gambar 5.31.
Gambar 5.29 Penampang Horizontal daerah Pengukuran Line 7
Gambar 5.30 Grafik Slice Jarak terhadap elevasi line 7
0 10 20 30 40 50 60 0 20 40 60 80 100
Elevasi
Elevasi 47Gambar 5.31 Penampang 3D daerah Pengukuran Line 7
Data hasil inversi menunjukkan pada lapisan top sol batuan telah tersegmentasi dengan nilai tahanan jenis yang terulang pada rentang beberapa meter dari mulai elektroda pertama hingga elektroda terakhir. Dapat dilihat pada gambar 5.7. Nilai resistivitas batuan di permukaan cukup tinggi berkiasr antara 5000 Ω.m menunjukkan jenis batuan basalt ataupun granite. Namun pada jarak 144 meter dari jarak elektroda terakhir 186 meter nilai reistivitas batuan dibawahnya mulai menunjukkan nilai yang rendah. Nilai batuan dengan reistivitas batuan tinggi mulai dari permukaan hingga kedalaman 0 hingga 12 meter. Pada segmen bagian kiri dari jarak elektroda 96 meter. Nilai resistivitas batuan menurun secara gradual hingga yang terendah sekitar 34.9 Ω.m kemungkinan adalah litologi lempung. Sdangkan segmen sebelah kiri menunjukkan nilai yang bervariasi dan mulai rendah pada kedalaman 35 meter. Lapisan diatasnya hingga kedalaman 25 meter menunjukan nilai tahanan jenis sekitar 212 Ω.m, kemungkinan merupakan litologi pasir. Dari data hasil inversi lintasan 8 memiliki kesalahan RMS error 73.3, cukup besar dan syarat kesalahan inerpretasi.
Data hasil pengukuran selanjutnya adalah lintasan delapan dengan konfigurasi sounding mapping dipole-dipole. Daerah pengukuran berdasarkan hasil pembuatan permodelan mengguunakan surfer dengan contour horizontal dan 3D view juga slice menunjukkan bagian topsoil membentuk lapisan seperti
endapan perbukitan dengan perbedaan elevasi antara 105 meter hingga 87 meter. Hail itu teramati pada hasil permodelan menggunakan surfer sebagai berikut;
Gambar 5.32 Penampang Horizontal daerah Pengukuran Line 8
Gambar 5.33 Grafik Slice Jarak terhadap elevasi line 8
85 90 95 100 105 0 50 100 150 200
Elevasi
Elevasi 49Gambar 5.34 Penampang 3D daerah Pengukuran Line 8
Berdasarkan hasil inversi 2D menggunakan software Res2dinv lapisan top soil mayortas memiliki nilai resistivitas 238 Ω.m menunjukkan litologi daerah lempung berpasir. Pada kedalaman mulai dari 3 hingga 30 meter dari jarak pengukuran 50 hingga 130 memiliki nilai reistivitas yang rendah dengan nilai yang menurun mulai dari 65.4 Ω.m hingga 18.0 Ω.m. Hal ini kemungkinan menunjukkan adanya lapisan air tanah. Nampak pada gambar 5.8, pada kedalalaman 5 meter hingga lapisan dibawah segmen lapisan bernilai resistivitas tersebut tersebar lapisan dengan nilai reistivity yang merata yaitu 3158 Ω.m. Lapisan ini merupkana lapisan batuan fresh granite dengan nilai maksimum di iterasi terakhir pada kedalaman 30 meter dengan nilai reistivitas lebih dari 3158 Ω.m. Pada data ini elektroda dipasang dengan jarak 6.00 m dan jarak maksimal pemasngan elektroda terjauh 168 meter. Data hasil inversi ini memiliki nilai error yang relatif sangat besar 121.1, sehingga data yang diperoleh memiliki kevalidan yang tidak menentu.
Hasil inversi data berikutnya adalah data pengukuran lintasan kesembilan dengan oknfigurasi wenner. Berdasarkan hasil permodelan litologi yang didapatkan memiliki daerah perbandingan tinggian dan rendahan yang membentuk endapan nampak pada hasil penampang horiziontal dan hasil slice, serta tampila 3D sebagai berikut;
Gambar 5.35 Penampang Horizontal daerah Pengukuran Line 9
Gambar 5.36 Grafik Slice Jarak terhadap elevasi line 9
Gambar 5.37 Penampang 3D daerah Pengukuran Line 9
0 10 20 30 40 50 0 50 100 150
Elevasi
Elevasi 51Dari hasil inversi pada lintasan 9 dengan konfigurasi wenner menunjukkan persebaran litologi pada topsoil dengn resistivitas dengan nilai 233 Ω.m. Pada gambar 5.9, dari hasil analisa menunjukkan kemungkinan batuan pasir hingga kedalaman 8 meter pada jarak pengukuran 50 meter, namun pada jarak 50 meter hingga 186 mennjukkan nilai reistivitas yang relatif naik. Kemungkinan pada jarak pengukuran lebih dari 144 meter merupakan batuan basalt hingga lapisan terdalam yang terukur dengan sounding mapping hingga kedalaman 40 meter. Dari jarak pengukuran 50 meter, mulai dari kedalaman 10 meter hingga 40 meter menunjukkan nilai resistivitas yang rendah hingga 0.28 Ω.m. hal ini merujuk tentang adanya lapisan air tanah yang potensial pada lintasan 9 ini. Data hasil inversi 2D menunjukkan nilai RMS erro 72.5 Data diambil dengan jarak spasi elektroda 6 mater dan peletakan elektroda terakhir sejauh 168 meter.
Data pengukuran terakhir adalah data lintasan 10 dengan konfigurasi wenner. Dilihat dari hasil permodelan penampang horizontal menunjukkan litologi yang memiliki variasi litologi tinggian dan rendahan dengan range 10 meter hingga 15 meter. Adapun gambarnya adalah sebagai berikut;
Gambar 5.39 Grafik Slice Jarak terhadap elevasi line 10
Gambar 5.40 Penampang 3D daerah Pengukuran Line 10
Data hasil inversi 2D menunjukkan lokasi yang mirip dengan lokasi pengukuran sebelumnya pada lintasan kesembilan. Dari Gambar 5.10 dapat terlihat persebaran nilai resistivitas di permukaan sebagai laposan top soil memiliki nilai yang tinggi hingga 1171 Ω.m pada jarak pengukuran hingga jarak 80 meter, setelah 80 meter hingga 186 memiliki nilai reistivitas lebih dari 542 Ω.m yang menunjukkan lapisan batuan granit. Pada kedalaman10 meter dari jjarak pengukuran 48 meter hingga lapisan terbawah yang terukur memiliki nilai reistivitas yang rendah hingga 5.1 Ω.m. hal ini dapat diperkirakan bahwa lapisan air tanah. Sedangkan pada jarak pengukuran 96
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 0 50 100 150
Elevasi
Elevasi 53hingga pemasangan elektroda terakhir 186 memiliki nilai resistivitas yang bervariatif namun tinggi pada lapisan terbawah hingga kedalaman 40 meter dengan nilai reistivity rata-rata 1175 Ω.m. Hasil inversi 2D pada lintasan ini memiliki error 74.1. Data didapatkan dengan pengukuran konfigurasi wenner jarak spasi 6 dan titik pemasangan elektroda terjauh sejauh 168 meter.
V. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum tentang pengolahan data 2D yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Pada teknik sounding mapping sering kali konfigurasi yang digunakan adalah konfigurasi dipole-dipole dan wenner dengan penentuan distribusi tahanan jenis semu secara vertikal per kedalaman
2. Berdasarkan nilai reisitivitas batuan, seluruh data pengamatan didominasi oleh batuan dengan nilai resistivitas tinggi kemungkinan granit ataupun basalt.
3. Perbedaan pengolahan data, jika menggunakan konfigurasi wenner maka satuan yang diinput adalah nilai offset data, hasil perkalian antara banyaknya faktor (n) dan spasial data serta nilai rho. Sedangkan jika konfigurasi yang akan diolah menjadi inversi 2D adalah dipole dipole maka satuan yang akan diolah meliputi nilai offset data, spasial data, faktor (n) serta nilai tahanan jenisnya.
4. Untuk setiap posisi elektroda akan didapatkan harga tahanan jenis semu . Semakin panjang bentangan lektroda yang digunakan, makan akan semakin dalma resistivitas yang terukur.
5. Variasi nilai resistivitas batuan yang terukur bervariasi mulai dari kurang dari 1 ohm m yang merupakan litologi lempung basah hingga diatas 1000 ohm m yang merupakan litologi basalt, quarsit maupun granit.
6. Dari kespuluh data lintasan pengukuran Nilai RMS error yang diperoleh mayoritas lebih dari 50% sehingga data hasil inversi 2D kurang akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Badawi, Ahmad. 2014. Metode Geolistrik Tahanan Jenis. http:// mineritysriwijaya. blogspot.com/ 2014/ 03/ metode-geolistrik-tahanan-jenis.html. Diakses pada 5 juni 2014 pukul 20.00 WIB
Hardiasyah, Irwan. Naniura Resistivitymeter. https:/ /www. academia. edu/ 4404137/ Reng. Diakses pada 20 juni 2014 pukul 21.00 WIB
Forturozy, Varian. 2014. Sejarah Geologi Peta Lembar Pagai – Sipora, Sumatera. Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti;Jakarta
Geotomo Software. 2010. Manual Res2dinv ver 3.59. Cangkat Minden : Malaysia Hendrajaya, Lilik dan Idam Arif. 1985. Geolistrik Tahanan Jenis. Laboratorium
Fisika Bumi Jurusan Fisika FMIPA. ITB : Bandung
Oktara, Tri Tofan. 2007. Laporan Laboratorium Lanjut GEOFISIKA. ITS : Surabaya
Qurnia. 2010. Geolistrik Zone.http:// qurniaslife. blogspot. com/2010/ 02/modul-geolistrik.html. Diakses pada 5 juni 2014 pukul 21.00 WIB
Setiawan, Tri Susanto. 2011. Metode Geolistrik Resistivitas.
http://trisusantosetiawan.wordpress.com/2011/01/04/metode-geolistrik-resistivitas/. Diakses pada 5 juni 2014 pukul 20.00 WIB
Telford, W.M, L.P Geldart, R.E. Sheriff. 1990. Applied Geophysics Second Edition. Cambridge University Press; New York
Simaepa, darmanto. 2011. Laboratorium Alam bernama Siberut. http:// darmantasimaepa. wordpress.com/2011/01/04/laboratorium-alam-bernama-siberut/. Diakses pada 10 juni 2014 pukul 20.00 WIB
Satya, Yuliu. 2011. Taman Nasiunal Siberut. http:// yulliussatya. wordpress.com/2011/01/04/taman-nasional-siberut. Diakses pada 10 juni 2014 pukul 20.00 WIB
21.00 WIB
Yuza. 2012. Sesar Lampung. http://duniayuza.blogspot.com/2012/10/penelitian-mengenai-sesar-lampung.html. Diakses pada 5 juni 2014 pukul 21.00 WIB Zaenudin, Ahmad. 2014. Penuntun Praktikum Eksplorasi Geolistrik. Teknik