BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.4 Diagram Penelitian
Alur penelitian secara garis besar adalah : mulai identifikasi masalah dan tujuan penelitian studi awal pengumpulan data persiapan simulasi perhitungan simulasi analisis hasil simulasi kesimpulan selesai. Jika digambarkan kedalam diagaram alur ditunjukan pada gambar 3.4 Untuk memaksimalkan ketelitian hasil simulasi dibuat dua buah titik balik pada alur penelitian. Seperti yang terlihat, yang pertama adalah pada perhitungan simulasi.
Pada bagian ini error akan sering muncul baik itu berupa kegagalan perhitungan atau kesalahan hasil. Jika error terjadi maka kita harus kembali ke memeriksa data yang dikumpulkan dan juga perhitungan data yang telah dilakukan. Pada bagian analisa data kita akan membandingkan data simulasi dengan eksperimental.
Rincian dari diagram alir tersebut dijelaskan pada poin-poin dibawah ini : 1. Identifikasi Masalah dan Tujuan Penelitian
Pada bagian ini masalah utama dari topik APK dipilih untuk menjadi topik penelitian. Untuk penjelasan semua topik masalah dan tujuan penelitian sudah dijelaskan ada BAB I.
2. Studi Awal
Sebelum melakukan penelitian diperlukan untuk memplelajari berbagai disiplin ilmu yang berhubungan topik masalah. Berbagai sumber pengetahuan harus dimanfaatkan untuk dijadikan berbagai macam pertimbangan nantinya. Sumber-sumber tersebut adalah jurnal, text book, diskusi dengan dosen pembimbing, dan sumber internet yang bisa dipercaya.
3. Pengumpulan Data
Pada tahap ini semua data primer yang dibutuhkan untuk melakukan simulasi dikumpulkan. Seperti pengukuran dimensi alat yang diperlukan untuk menggambar ulang geometri 3D untuk melakukan simulasi. Pengumpulan data suhumasukmasing-masingfluidasertakecepatanalirandiperlukanuntukmelakukansimulasimenggunakan software.
4. Persiapan Simulasi.
Setelah semua data primer diperoleh, persiapan simulasi dapat dilakukan. Dari dimensi yang telah terukur akan digambar geometri 3D tabung dan cangkang sesuai dimensi alatnya. Perhitungan beberapa data yang diperlukan akan dilakukan menggunakan data-data yang telah didapat yang nantinya akan dijadikan kondisi awal untuk simulasi.
5. Perhitungan Simulasi.
Setelah semua persiapan selesai, seperti memasukkan data kondisi perhitungan dan pemilihan metode perhitungan, perhitungan simulasi dapat dimulaidenganmengaturjumlah iterasi yang ingin dilakukan. Proses ini adalah proses yang paling rentan untuk terjadi error, karenanya setiap tahap sebelumnya harus dilakukan dengan teliti. Jika terjadi error pada perhitungan maka harus kembali ke tahap pengumpulan data untuk melakukan pengecekan ulang data yang diperoleh lalu pemeriksaan perhitungan apakah ada kemungkinan kesalahan.
6. Analisis Hasil Simulasi.
Jika sudah masuk tahap ini berarti seluruh perhitungan iterasi simulasi telah selesai. Pada tahap ini dapat diambil data berupa gambar, grafik, dan tabel yang dapat dianalisis dan dibandingkan dengan data pembanding tertentu.
7. Kesimpulan
Gambar 3.5 Diagram penelitian MULAI
Identifikasi Masalah dan Tujuan
Studi Awal
Pengumpulan Data : Dimensi APK Lajualiranfluida Temperaturfluida
Persiapan Simulasi
Perhitungan Simulasi Simulasi
Analisis Hasil Simulasi
YA
YA
Kesimpulan
SELESAI
TIDAK
TIDAK
3.5 Persiapan Perhitungan Simulasi
Terdapat beberapa tahap persiapan yang perlu dilakukan untuk melakukan perhitungan simulasi. Secara garis besar langkah-langkah tersebut adalah penggambaran geometri 3D APK tiga lapis tabungkonsentris, pembentukan mesh pada setiap bagian geometri, persiapan kondisi dasar dan metode perhitungan, dan akhirnya iterasi perhitungan. Semua proses itu diperlihatkan pada gambar 3.5 diiringi dengan perangkat lunak yang digunakan.
Gambar 3.6 Alur Proses Persiapan Simulasi
3.5.1 Penggambaran Geometri 3D
Dimensi alat penukar kalor yang digunakan saat pengujian di ukur lalu di gambar geometri 3D,alatpenukarkalorinipun bisa dibuat menggunakan perangkat desain modeler yang langsung dimiliki ansys. Adapun bentuk geometri yang telah digambar dapat dilihat pada gambar 3.8.
Berikuttabel 3.2 adalahspesifikasialatpenukarkaloryang di gunakansaatpengujiandilapangan.
Tabel 3.2Spesifikasialatpenukarkalor[21]
Tabung Spesifikasi (mm)
Panjangtabung 2570
1
Di-1 0.0127Do-1 0.0143
Panjangtabung 2220
2
Di-2 0.0254Do-2 0.02728
Panjangtabung 1740
3
Di-3 0.04Do-3 0.0425
Gambar 3.7 Geometri 3D Alat Penukar kalor[20]
Gambar 3.8Pandangansampinggeometri[20]
Geometri ini selanjut nya akan dipecah sesuai dengan pemilihan area yang ingin di simulasikan.
3.5.2 Pembentukan Mesh
Ansys Meshing digunakan untuk membentuk mesh pada tiap bagian geometri.
Proses meshing pada gambar3.9 (membagi volume menjadi bagian-bagian kecil) supaya dapat dianalisis pada program CFD. Ukuran mesh yang terdapat pada suatu obyek akan mempengaruhi ketelitian dan daya komputasi analisis CFD. Semakin kecil/halus mesh yang dibuat, maka hasil yang didapatkan
akan semakin teliti, namun dibutuhkan daya komputasi yang makin besar pula.
Setelah proses pembuatan meshing selesai, kemudian dilakukan pengecekan kualitas mesh dengan report quality.
Gambar 3.9 Proses Meshing Ansys[20]
Setelah ansys meshing dilakukan maka secara otomatis jumlah statistic node ditentukan oleh ansys, untuk jumlah node sebanyak 270173 dan jumlah element adalah 1058097 seperti terlihat pada tabel 3.3 berikut.
Tabel3.1 Statistik meshing[20]
3.5.3 Persiapan Kondisi dan Metode Perhitungan
Pada tahap ini semua kondisi dan metode perhitungan dipersiapkan dan dipilih sesuai dengan jenis simulasi yang diinginkan. Agar mendapatkan hasil yang memuaskan kondisi perhitungan yang dimasukkan dan metode perhitungan yang dipilih harus sesuai. Persiapan ini berupa pengaturan jenis material fan fluida yang digunakan serta sifat-sifatnya lalu di atur kondisi batas(boundary layer) pada ansys sesuai dengan kondisi pada saat eksperimental.
a) Pengaturan material APK.
Pada tahap ini Ansys Worbench akan membantu proses persiapan jenis material simulasi baik solid maupun fluida serta sifat-sifat yang dimiliki material tersebut diperlihatkan gambar 3.11 dibawah.
Gambar 3.11 Data material simulasi[20]
b) Persiapan kondisi batas (boundary layer)
Persiapan ini meliputi pengisian variabel pengumpulan data pada saat pengujian alat penukar kalor dilakukan secara eksperimental. Berikut adalah tabel 3.4 variable kondisi yang dilakukan pada saat eksperimental.
Tabel 3.4Variabelpengumpulan data Pengujian Debit air
panas
Debit air dingin 1&2
Temperatur air panas (°C)
Temperatur air dingin
(LPM) (LPM) 1&2 (°C)
1 50
2 1,5 55
3 60
4 50
5 2.0 1,5 55 25
6 60
7 50
8 2,5 55
9 60
Tabel diatas selanjutnya digunakan pada pengisian kondisi batas pada ansys fluent mulai dari temperatur masuk awal yang di inginkan yang ditunjukan pada gambar 3.12 dan 3.13 dibawah.
Gambar 3.12Kondisi batas temperature masuk awal[20]
Gambar 3.13 Kondisi batas laju aliran fluida [20]
Pengisian masing-masing kondisi batas ini satuan yang di gunakan agar harap disesuaikan dengan ansys fluent.
3.5.4 Perhitungan Simulasi
Setelah semua kondisi perhitungan terpenuhi dan metode perhitungan telah dipilih, perhitungan simulasi dapat dimulai. Pada tahap ini ditentukan berapa banyak iterasi yang akan dilakukan untuk menyelesaikan perhitungan sesuai data yang telah dimasukan pada objek penelitian seperti yang dijelaskan bada bagian sebelumnya.
Proses perhitungan akan dilakukan oleh perangkat lunak sesuai dengan jumlah iterasi yang diperlukan.
3.5.5 Pengolahan Hasil Perhitungan
Jika seluruh iterasi perhitungan sudah selesai maka dapat dilakukan pengolahan data dari perhitungan. Data berupa gambar, grafik, ataupun tabel dapat diambil.
BAB IV
HASIL ANALISA DAN PEMBAHASAN
Bab ini akan membahas hasil dari simulasi alat penukar kalor tiga lapis tabung konsentris dengan menggunakan ansys fluent 18.1. Simulasi dilakukan dengan kondisi variasi temperatur dan variasi debit tabel 4.1 aliran fluida panas yang masuk pada tabung 2 secara eksperimen. Sementara untuk temperatur masuk fluida dingin pada tabung 1 dan 3 yaitu 25°C dengan debit aliran yang sama 1,5 LPM
Tabel 4.1 Tabel kondisi variasi percobaan Variasi temperatur Variasi debit aliran
Temperatur 50°C 1,5 LPM
Temperatur 55°C 2,0 LPM
Temperatur 60°C 2,5 LPM
Pembahasan akan dibagi menjadi dua bagian. Pertama akan menunjukan hasil simulasi yang memperlihatkan perkembangan pada setiap fluida yang ada didalam tabung saat alat penukar kalor tiga lapis tabung konsentris bekerja pada setiap variasi temperatur dan debit aliran yang berbeda serta beberapa grafik yang diplot oleh ansys fluent 18.1 selama menghitung simulasi. Dan yang kedua adalah pengolahan data yang ditunjukan pada bagian pertama dan membandingkannya dengan hasil eksperimental.
4.1 Hasil Perhitungan Simulasi
Berikut ini akan ditampilkan beberapa hasil analisa berupa tampilan distribusi temperatur. Masing-masing hasil akan ditampilkan dengan 3 temperatur masuk fluida panas untuk setiap debit aliran yang telah ditentukan pada saat eksperimental
dilakukan. Tampilan distribusi temperatur oleh ansys fluent 18.1 pada APK yang ditunjukan yaitu berupa tampilan kontur pandangan 3D isometrik dan pandangan potongan. Dengan demikian kita dapat sedikit melihat perkembangan fluida yang terjadi pada APK sewaktu bekerja dengan visualisasi yang ditunjukan oleh simulasi ansys fluent 18.1.
A. Distribusi temperatur untuk fluida panas masuk sebesar 500C
Gambar 4.1 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas 1,5 LPM pandangan potongan
Gambar 4.2 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas 1,5 LPM Pandangan 3D isometric
Dari gambar di atas dapat kita liat adanya gradasi warna penyebaran temperatur fluida panas mau pun fluida dingin pada semua tabung APK. Fluida panas air pada tabung 2 terjadi penurunan temperatur namun pada fluida dingin yang ada di tabung 1 dan 3 terjadi kenaikan temperatur. Masing-masing temperatur fluida panas dandingin yang dihasil kan adalah untuk fluida panas sebesar 33,44°C dan untuk fluida dingin pada tabung 1 sebesar 32,79°C dan fluida dingin pada tabung 3 sebesar 31,02°C.
(a) (b)
Gambar 4.3 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas 2,0 LPM dengan (a)pandangan 3D isometrik dan (b) pandangan potongan
(a) (b)
Gambar 4.4 Distribusi temperatur untuk fluida panas debit 2,5 LPM dengan (a) pandangan 3D isometrik dan (b) pandangan potongan
Dapat dilihat dari ketiga gambar di atas, sedikit perbedaan yang diakibatkan perbedaan debit fluida panas yang masuk pada APK. Sekilas tampak bahwa tidak banyak perbedaan yang signifikan, namun bila diperhatikan, titik awal perubahan warna pada sisi fluida panas masuk sepanjang tabung semakin sedikit lebih tersebar seiring perubanhan debit aliran fluida panas tersebut. Untuk debit 2,0 LPM temperatur keluar fluida panas pada tabung 2 yaitu 35,06°C fluida dingin tabung 1 32,97°Cdan tabung 3 sebesar 30,27°C. Sementara untuk debit fluida panas masuk sebesar 2,5 LPM temperatur fluida panas keluar pada tabung 2 yaitu sebesar 36,81°C dan untuk fluida dingin pada tabung 1 sebesar 34,11°C 5 dan tabung 3 sebesar 32,36°C.
B. Distribusi temperatur fluida panas masuk sebesar 550C
Gambar 4.5 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas 1,5 LPM pandangan potongan
Gambar 4.6 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas 1,5 LPM pandangan 3D isometrik
Pada gambar distribusi temperatur untuk debit aliran fluida panas 1,5 LPM tersebut diatas distribusitemperatur fluida panaspada tabung 2 lebih merata pada sepanjang tabung dibandingkan dengan debit fluida yang sama untuk variasi suhu sebelum nya karena ada perubahan suhu variasi yaitu 55°C. Sementara untuk Suhu keluar fluida panas tabung 2 yaitu sebesar 35,13°Cdan untuk fluida dingin tabung 1 sebesar 33,81°C sementara untuk fluida dingin tabung 3 sebesar 32,78°C.
(a) (b)
Gambar 4.7 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas 2,0 LPM dengan (a) pandangan 3D isometrik dan (b) pandangan potongan
Untuk debit fluida panas masuk sebesar 2,0 LPM temperatur keluar fluida panas yang dihasilkan pada tabung 2 yaitu 38,02°Cdan temperatur keluar fluida dingin pada tabung 1 yaitu sebesar 34,69°Csementara untuk fluida dingin pada tabung 3 sebesar 32,19°C
(a) (b)
Gambar 4.8 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas 2,5 LPM dengan (a) pandangan 3D isometrik dan (b) pandangan potongan
Dari gambar distribusi temperatur untuk debit aliran fluida panas masuk sebesar 2,5 LPM ini dihasilkan temperatur keluar fluida panas pada tabung 2 yaitu sebesar 40,22°C. Sementara itu pada fluida dingintabung 1 temperatur keluar yang dihasilkan adalah sebesar 37,88°C dan untuk fluida dingin pada tabung 3 dihasilkan temperatur keluar sebesar 34,08°C.
C. Distribusi fluida panas masuk sebesar 600C
Gambar 4.9 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas 1,5 LPM pandangan potongan
Gambar 4.10 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas 1,5 LPM pandangan 3D isometric
Pada gambar 4.10 di atas untuk debit fluida panas masuk 600C fenomena yang terjadi pada variasi tersebut tidak berbeda jauh dari variasi sebelum nya, perubahan terjadi pada penyebaran temperature fluida pada APK sejalan dengan debit aliran fluida panas yang masuk begitu juga pada gambar 4.11.
(a) (b)
Gambar 4.11 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas 2,0LPM dengan (a) pandangan 3D isometrik dan (b) pandangan potongan
(a) (b)
Gambar 4.12 Distribusi temperatur untuk debit fluida panas masuk 2,5 LPM dengan (a) pandangan 3D isometrik dan (b) pandangan potongan
Sementara untuk variasi debit 2,5 LPM pada gambar 4.12 penyebaran temperature cukup merata di sepanjang tabung suhu fluida panas masuk, karena percobaan ini memiliki suhu fluida panas masuk paling tinggi dan juga debit fluida yang paling besar juga . Untuk temperatur masuk fluida panas 600C dengan debit aliran yang berbeda, temperatur keluar fluida panas padatabung 2 dengan debit 1,5LPM, 2LPM, 2,5LPM berturut-turut adalah sebesar 40,59°C, 42,17°C, 43,96°C. Dan untuk temperatur keluar fluida dinginnya untuk tabung 1 berturut-turut 38,440C, 38,710C , dan 39,060C. Sementara fluida dingin tabung 3 sebesar 36,77°C, 36,24°C, 36,04°C.
Tabel 4.2Temperatur kerja fluida pada simulasi numerik
𝑇ℎ 𝑇𝑐
4.2 Perhitungan Eksperimental
Sebagai tolak ukur keakuratan hasil simulasi, diperlukan perbandingan dengan perhitungan eksperimental. Data pembanding dapat berupa perhitungan teoritis ataupun perhitungan hasil ekperimen. Pada penelitian ini, validasi yang digunakan adalah perhitungan ekperimental terlihat pada tabel 4.4. Data yang diperoleh adalah rata-rata temperatur keluar masing-masing fluida dengan debit fluida panas yang berbeda namun untuk fluida dingin semua variasi memiliki debit fluida yang tetap yaitu 1,5LPM, yang ditampilkan pada tabel 4.3 di bawah ini. Temperatur-temperatur tersebut digunakan untuk menentukan laju perpindahan panas serta efektifitas alat, dengan menggunakan metode LMTD dan untuk efektifitas dihitung berdasarkan batasan masalah yang disebut.
Tabel 4.3 Temperatur kerja fluida pada uji eksperimental
DEBIT
4.2.1 Perhitungan Laju Perpindahan Panas
Berikut adalah perhitungan laju perpindahan panas dan efektifitas untuk percobaan No.1 pada Tabel 4.3 saat eksperimental sebagai tolak ukur pada simulasi numeric yang telah dilakukan.
A. Analisa perpindahan panas pada sisi tabung 1 Sifat-sifat air berdasarkan temperatur, 𝑇̅𝑐1 = 26,38+32,05
2 = 29,2150C = 302,215 K
ρ = 996,13kg/m3 Cp,c1 = 4178,557 J/kg.K
µ = 0,000817 kg/m.s k = 0,6161 W/m.K
Pr = 5,551
Dengan kapasitas aliran fluida panas sebesar 1,5 LPM dapat ditentukan jenis aliran yang terbentuk di dalam tabung melalui bilangan Reynold.
Re
=
𝜌 𝑣 𝑑𝑖 maka, bil. Reynold menjadi :Re =
Karena, bilangan Reynold sebesar 2300<Re<4000 dan dialirkan di dalam tabung maka sesuai sesuai pers. (2.17), koefisien perpindahan panas pada sisi tabung menjadi : Nu=ℎ𝑐1𝑑𝑖
𝑘 = 2,718 x 𝑅𝑒0,597x 𝑃𝑟1/3 x ( 𝑑𝑖
1,193)2/3 ℎ𝑖(0.0127𝑚)
0,6161W/m.K=2,718x(3057,1236) 0,597x(5,551)1/3x (0,0127
1,193)2/3 hi1= 1391,81 W/m2.K
B. Analisa perpindahan panas pada tabung 2 atau annulus 1 Sifat-sifat air berdasarkan temperatur, 𝑇̅ℎ = 49,43+34,69
2 = 42,060C = 315,06 K
ρ = 990,84kg/m3 Cp,h = 4179,12 J/kg.K
µ = 0,0006245 kg/m.s k = 0,63472 W/m.K Pr = 4,1132
Dengan kapasitas aliran fluida panas sebesar 1.5 LPM dapat ditentukan jenis aliran yang terbentuk di dalam tabung melalui bilangan Reynold.
Re
=
𝜌 𝑣 𝑑ℎ1 Maka, bil. Reynold menjadi :Re =
(0,0248𝑘𝑔
𝑠)(0,0254𝑚−0,0143 𝑚) (0,000346𝑚2)(0,0006245 kg
m.s)
= 1261,23
Karena, bilangan Reynold air, Re<2300 dan dialirkan di dalam tabung maka sesuai sesuai pers. (2.16), koefisien perpindahan panas pada sisi tabung menjadi :
Nu = ℎ𝑖𝑑ℎ
𝑘 = 0,51 x 𝑅𝑒0,5 x 𝑃𝑟1/3
ℎ𝑖(0,0111𝑚)
0,64372 W/m.K = 0,51 x (1273,99)0,5 x (4,1132)1/3 hi2= 1663,35 W/m2.
C. Analisa perpindahan panas pada tabung 3 atau annulus 2 Sifat-sifat air berdasarkan temperatur𝑇̅𝑐2 = 26,41+30,40
2 =28,4050C = 301,4 K ρ = 996,452 kg/m3 Cp,c2 = 4178,72 J/kg.K
µ = 0,000831 kg/m.s k = 0,615 W/m.K
Pr = 5,6536
Dengan kapasitas aliran fluida panas sebesar 1,5 LPM dapat ditentukan jenis aliran yang terbentuk di dalam tabung melalui bilangan Reynold.
Re
=
𝜌 𝑣 𝑑ℎ2 Maka, bil. Reynold menjadi :Re =
(2.16) dengan Re<2300, sehingga : Nu = ℎ𝑖𝑑ℎ2
𝑘 = 0,51 x 𝑅𝑒0,5 x 𝑃𝑟1/3
ℎ𝑖(0,01272𝑚)
0,64372 W/m.K = 0,51 x (445,568)0,5 x (5,6536)1/3 hi3=1046,8 W/m2.K
D. Koefisien dan laju perpindahan panas menyeluruh
Dengan nilai koefisien perpindahan panas masing-masing fluida, untuk koefisien perpindahan panas menyeluruh pada APK tiga lapis tabung konsentris ini terbagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Koefesien perpindahan panas menyeluruh dibagian anullus 1 ke tabung 1.
1
Sehingga, koefisien perpindahan panas menyeluruh menjadi:
1
2 Koefesien perpindahan panas menyeluruh dibagian anullus 1 ke annulus 2
Ao2= 0.1901 m2
Sehingga, koefisien perpindahan panas menyeluruh menjadi:
1
dengan demikian, dapat diperoleh laju perpindahan panas sebesar :
Q = U A ∆Tmenyeluruh
4.2.2 Perhitungan Efektifitas
Dalam menentukan efektifitas APK terdapat beberapa parameter yang harus dicari terlebih dahulu yaitu :
Pada debit 1,5 LPM masing-masing fluida berdasarkan analisa yang kita peroleh dari perhitungan sebelum nya maka :
𝑚̇𝑐1 = 0,0249 kg/s 𝑚̇ℎ = 0,0248 kg/s 𝑚̇𝑐2 = 0,0249 kg/s
Lalu untuk menentukan kapasitas panas pada masing masing tabung dapat di peroleh dengan menggunakan :
C=ṁ𝐶𝑝 Sehingga kapasitas panas
𝐶1 = ṁ𝐶𝑝,𝑐1 = 0,0249 kg/s x 4178,557 J/kg.K = 104,04 W/k 𝐶2 = ṁ𝐶𝑝,ℎ = 0,0248 kg/s x 4179,12 J/kg.K = 103,64 W/k 𝐶3 = ṁ𝐶𝑝,𝑐2 = 0,0249 kg/s x 4178,72 J/kg.K = 104,05 W/k
Maka laju total kapasitas aliran panas fluida dingin sebagai berikut : 𝐶𝑠 = 𝐶1 + 𝐶3
= 104,04 W/k + 104,05 W/k = 208,09 W/k
Diantara Cs dan 𝐶2 kita tentukan nilai 𝐶𝑚𝑖𝑛yang mana bernilai lebih kecil maka nilai tersebut sebagai rasio minimum kapasitas aliran panas 𝐶𝑚𝑖𝑛.
Maka nilai C minimum = 𝐶2 = 103,64 W/k
Maka dengan menggunakan persamaan pada bab 2 dengan Tsin adalah temperatur rata rata fluida dingin masuk, sehingga efektifitas APK dapat dihitung dengan rumus :
Efektifitas = ε = Laju perpindahan panas aktual
Laju perpindahan panas yang mungkin = 𝑄𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙
𝑄𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 bawah ini dirangkum seluruh laju dan efektifitas perpindahan panas yang diperoleh dari uji eksperimental.
Tabel 4.4 Analisa data eksperimental No DEBIT 𝑇̅ℎ 𝑖𝑛(K) Laju perpindahan panas
7 1,5LPM 334.2 1367.46 894.269 54.66
8 2,0LPM 333.17 1441.60 1286.148 48.95
9 2,5LPM 334.11 1128.95 861.2678 45.74
4.3 Perhitungan Hasil Simulasi
4.3.1 Perhitungan Laju Perpindahan Panas dan Efektifitas
Temperatur masuk maupun temperatur keluar yang dihasilkan dari simulasi numeric diuraikan pada Tabel 4.5 di bawah ini. Selanjutnya dengan metode yang sama dilakukan perhitungan untuk semua hasil simulasi pada tabel 4.6.
Tabel 4.5 Temperatur kerja fluida pada simulasi numerik
𝑇ℎ 𝑇𝑐
Tabel 4.6 Analisa data simulasi
4.3.2 Perbandingan Hasil Simulasi dengan Eksperimen
Dengan telah dilakukan nya percobaan eksperimental dan simulasi dapat kita cari selisih persen ralat yang terjadi pada percobaan eksperimental dan simulasi berikut beberapa perbandingan persen ralat pada percobaan No.1.
Persen ralat laju perpindahan panas
%Q = |𝑄𝑠𝑖𝑚−𝑄𝑒𝑘𝑠𝑝
= 3,5324 %
Untuk variasi lain ditunjukan pada tabel 4.7 berikut ini.
Tabel 4.7 Nilai ralat hasil simulasi terhadap eksperimen
No DEBIT 𝑇̅ℎ 𝑖𝑛(K) Persentase Ralat (%)
Berikut ini adalah gambar grafik yang menunjukan perbandingan nilai efektifitas simulasi dan eksperimen terhadap debit fluida panas masuk.
Gambar 4.12 Grafik perbandingan simulasi dan eksperimen Thin=500C
0
Gambar 4.13 Grafik perbandingan simulasi dan eksperimen Thin=550C
Gambar 4.14 Grafik perbandingan simulasi dan eksperimen Thin=600C
Dari ketiga grafik diatas diperoleh bahwa dari simulasi yang dilakukan dengan pendekatan numeric memberikan hasil yang lebih tinggi dalam hal efektifitas alat penukar kalor dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari uji eksperimental. Hal ini merupakan pengaruh dari asumsi-asumsi yang diberikan pada simulasi diproses dengan sempurna dan memberikan hasil yang baik pula. Sementara pada uji eksperimental perpindahan panas yang terjadi dipengaruhi oleh keadaan yang sebenarnya dan sedikit jauh dari asumsi dalam penelitian ini. Demikian hal ini mempengaruhi perubahan suhu yang terjadi pada setiap fluida yang mengalir pada APK.
Selain itu, melalui gambar grafik tersebut juga dapat kita ketahui hasil yang seragam dalam hal kenaikan atau penurunan efektifitas alat penukar kalor, baik dari hasil uji eksperimental maupun hasil simulasi. Semakin besar debit fluida panas
0 20 40 60 80
1.5 2 2.5
Grafik ε vs debit
Eksperimen Simulasi
0 20 40 60
1.5 2 2.5
Grafik ε vs debit
Eksperimen Simulasi
masuk untuk efektifitas alat penukar kalor akan sedikit menurun namun berbanding terbalik apa bila debit fluida panas masuk kecil maka untuk efektiftas akan semakin membaik atau mengalami kenaikan. Hal ini ditunjukan dengan hasil efektifitas tertinggi untuk hasil simulasi yaitu pada debit fluida panas masuk 1.5LPM dengan persentase 66.24% pada percobaan 1 dengan suhu fluida panas masuk sebesar 500C sementara pada uji eksperimental di percobaan yang sama dengan efektifitas sebesar 63.98%. Pada gambar 4.14 dibawah adalah grafik analisa prediksi regresi dan hasil report pengaruh debit terhadap efektifitas untuk data simulasi.
Gambar 4.14 Analisa Regresi
Untuk perihal pengaruh debit fluida panas masuk terhadap efektifitas alat penukar kalor pada hasil simulasi ini apabila ditinjau dari analisa regresi didapat nilai R square 0,6542 yang berarti apabila dipersentase kan menjadi 65,42%. Persentase hasil regresi ini menunjukan begitu terkait nya variable debit terhadap kenaikan efektifitas alat penukar kalor disamping variable-variabel lain nya.
0 10 20 30 40 50 60 70
0 1 2 3
Efektifitas
DEBIT
Analisa Regresi ε vs debit
Efektifitas
Predicted Efektifitas
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Proses pengkajian yang dilakukan pada alat penukar kalor dilakukan untuk melihat perkembangan fluida yang terjadi selama proses kerja didalam APK tiga tabung konsentris serta suhu akhir dari fluida panas yang dihasilkan.
Suhu akhir fluida panas untuk debit aliran 1,5LPM ,2,0LPM dan 2,5 LPM berturut-turut sebesar :
1. Dengan temperature masuk fluida panas 50°C, yaitu sebesar 33,44°C, 35,06°C, dan 36,81°C.
2. Dengan temperature masuk fluida panas sebesar 55°C, yaitu sebesar 35,13°C, 38,02°C, dan 40,22°C,
3. Dengan temperature masuk fluida panas sebesar 60°C, yaitu sebesar 40,59°C, 42,17°C, dan 43,19°C.
2. Laju perpindahan panas tertinggi dari hasil eksperimental sebesar 1535,48 W pada percobaan ke 5. Sementara laju perpindahan panas tertinggi hasil simulasi diperoleh sebesar 1244,77 W pada percobaan ke 5 juga. Perbedaan ini disebabkan akibat asumsi yang diberikan pada simulasi bersifat sempurna dan untuk kedua percobaan ini diperoleh persen ralat sebesar 18,93%.
3. Efektifitas maksimum hasil eksperimental alat penukar kalor di peroleh sebesar 63,98%, sementara efektifitas maksimum hasil simulasi sebesar 66,24%, dengan total persen ralat antara eksperimental dengan simulasi sebesar 3.51%. Untuk efektifitas minimum hasil eksperimental diperoleh 42,95% dan hasil simulasi sebesar 45,82% dengan total persen ralat percobaan sebesar 37,36%.
5.2 Saran
1. Karena pada proses simulasi semua asumsi yang diberikan dalam kondisi terbaik, maka, pada proses penelitian alat penukar kalor tiga lapis tabung konsentris ini, disarankan untuk meminimalisir sumber-sumber kerugian yang mungkin terjadi pada saat uji ekperimental.
2. Untuk perhitungan yang lebih akurat, disarankan untuk meningkatkan jumlah iterasi serta mempelajari pengaturan kriteria convergence pada perangkat lunak Fluent.
3. Bila memungkinkan, disarankan untuk menggunakan perangkat keras dengan sistem parallel processor agar dapat menganalisa kasus dengan mesh yang lebih rumit sehingga hasil yang diperoleh lebih baik.
4. Pada peneletian selanjutnya diharapkan untuk menggunakan fluida yang berbeda sesuai dengan kebutuhan industri dan juga untuk formasi aliran fluida mengalir diharapkan variasi yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
[1]Kakac, SadikdanHongtan Liu. 2002. Heat Exchangers Selection, Rating, and Thermal Design. Second Edition. Washington DC : CRC Press LLC.
[2]Frank, Kreith. 1877. Principles of Heat Transfer. Fourth Edition. New York : Harper and Row.
[3]Holman, J.P. 2010. Heat Transfer. Tenth Edition. New York : McGraw-Hill Companies, Inc.
[4]Incropera, Frank P., et al. Fundamentals of Heat and Mass Transfer. Seventh Edition. New York : John Wiley & Sons, Inc.
[5]Cengel, Yunus A. 2003. Heat Transfer: A Practical Approach. Second Edition.
New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
[6] Sitompul, Tunggul. 1993. AlatPenukarKalor. Jakarta :Erlangga
[6] Sitompul, Tunggul. 1993. AlatPenukarKalor. Jakarta :Erlangga