• Tidak ada hasil yang ditemukan

DiagramPerilaku Pengunjung

BAB VI. HASIL PERANCANGAN

Diagram 4.2. DiagramPerilaku Pengunjung

parkir

pengunjung lobby resepsionist

Guest room Room service Kitchen bar storage Front office Shop & souvenire

pengelola Staff facilities

service Layanan umum Datang Penerima Parkir Istirahat Penerima Pulang Kerja Kantor

d. Analisa Bentuk

Adapun beberapa bentuk yang dapat dipakai pada bangunan hotel antara lain:

Doubled loaded L plan Square plan

Circular plan Triangular plan

Single loaded plan

Doubled loaded plan

BAB V

KONSEP PERANCANGAN

V.1. Konsep Massa Bangunan

V.1.1. Konsep Bentukan Massa

Bangunan Hotel yang dirancang mengambil bentuk dasar dari persegi dan setengah lingkaran, dengan pertimbangan sebagai berikut :

KRITERIA BENTUK DASAR MASA BANGUNAN

Adalah sebuah bidang datar yang mempunyai 4

buah sisi sama panjang dan 4 buah sudut 90’

Sederetan titik-titik yang disusun dengan jarak

yang sama dengan seimbang terhadap suatu

titik.

Sebuah bidang datar yang dibatasi oleh 3 sisi

dan mempunyai 3 buah sudut.

Kesesuaian Bentuk

Baik Baik Kurang Baik

Orientasi Bangunan

Baik, Orientasi Jelas Baik, Orientasi ke segala Arah

Tidak Jelas

Efisiensi Ruang Efisien Kurang Efisien Tidak Efisien Sistem Struktur

dan Konstruksi Bangunan

Lebih Mudah Cukup Sulit Mudah

Kesan yang Dicapai

Baik Baik Kurang Baik

Ekonomi Bangunan

Lebih Hemat Hemat Tidak Ekonomis

Tabel 5.1 Keterangan Konsep Bentukan Masa Sumber: Arsitektur: Bentuk Ruang dan Susunannya

Gambar 5.1. Konsep bentukan massa

Bentukan awal berasal dari bentuk persegi panjang dan lingkaran, yang mana bentuk lingkaran sangat fleksibel dan tidak kaku, terkesan lebih santai. Sementara bentuk persegi panjang tipis merupakan bentuk yang ekologis. Yang mana bentuk pipih pada bangunan sangat baik untuk pengkondisian udara dan pencahayaan alami didalam ruangan karena udara dan cahaya yang masuk bisa mencapai seluruh ruangan.

V.1.2. Konsep Tapak

Gambar 5.2. Konsep Tapak V.1.3. Konsep Struktur

Untuk pondasi, bangunan ini menggunakan pondasi tiang pacang dengan bahan beton bertulang, sehingga dapat menahan beban bangunan dengan baik.

Bangunan menggunakan structure rigid frame, yang memiliki kemampuan untuk menahan gaya pada arah vertikal dan horizontal. Sistem struktur ini dipilih karena ideal untuk bangunan 20 lantai ke bawah. Dengan struktur ini maka dapat disusun layout ruang-ruang dalam yang lebih efisien. Struktur rigid bereaksi terhadap beban lateral, terutama melalui lentur balok dan kolom. Dan pada inti bangunan memuat sistem-sistem mekanis dan transportasi secara vertikal .

Keuntungan : • Mudah pelaksanaan • Tahan gempa • Ekonomis Keterangan: Bangunan Area Parkir Open Space Sirkulasi Kendaraan

• Bukaan dan pembagian ruang lebih bebas karena dinding hanya sebagai struktur pengisi.

V.1.3. Konsep Utilitas

a. Konsep Sistem Pengkondisian Udara

Sistem ini terbagi atas 2 :

• Pengkondisian alami

- Pemanfaatan udara luar yang masuk ke dalam bangunan secara

alami dengan yaitu dengan konsep ruang terbuka pada podium. Pengkondisian alami dapat melayani area makan hingga ke lobby.

- Pengkondisian udara buatan, yang digunakan pada ruang-ruang

tertutup yang menuntut kondisi udara yang stabil dan nyaman, yaitu pada ruang hunian, lift, juga area kantor pengelola.

- Pemanfaatan cahaya secara alami yang masuk kedalam

bangunan dengan inner court.

b. Konsep Sistem Elektrikal

Sumber arus listrik pada bangunan berasal dari 3 sumber, yaitu:

• Arus PLN

• Generator (tenaga cadangan)

• Panel Surya (photovoltaic)

V.2. Konsep Ekologis

Beberapa konsep ekologis yang diterapkan pada bangunan, antara lain:

1. Orientasi Bangunan

Gambar 5.5. Konsep orientasi bangunan

Orientasi bangunan menghadap tenggara, entrance bangunan menghadap timur, sehingga ruang-ruang publik tidak mengalami panas matahari siang hingga sore, sementara orientasi unit hunian menghadap barat daya dan timur laut dimana arah angin berhembus sepanjang hari, sehingga kondisi kamar tetap sejuk sehingga dapat mengurangi penggunaan pengkondisian udara buatan.

2. Pencahayaan Alami

Potensi cahaya alami pada bangunan hotel ini diwujudkan berupa penggunaan ruang terbuka untuk sinar matahari masuk kedalam bangunan, yang diterapkan pada pembukaan ruang pada bagian podium bangunan.

3. Pengkondisian Udara alami

Gambar 5.7. Konsep pengkondisian udara alami

Penggunaan ruang terbuka pada bagian podium bertujuan agar penghawaan alami dapat masuk kedalam bangunan yang dapat melayani area lobby dan ruang-ruang pada lantai dasar lainnya.

V.3. Fitur Ekologis

1. Green Roof

Taman diatas atap dapat menyerap panas matahari yang jatuh diatas dak beton bangunan. Taman ini juga menyerap gas beracun disekeliling bangunan, menyaring udara kota yang berpolusi dan berdebu, serta menyerap sinar ultraviolet sebelum masuk atau memantul dalam bangunan, sehingga bangunan lebih sejuk.

a. Struktur Taman Atap.

Atap dak didesain sedemikian rupa dengan kedalaman antara 30-50 cm dengan dibatasi dinding sesuai dengan kedalamannya. Setelah siap semua berikut ini adalah beberapa lapisan yang dibutuhkan untuk melindungi ruang di dalam bangunan dan sebagai media tanam untuk tanaman yang akan letakkan pada bagian atas bangunan.

Lapisan dak

Lapisan yang paling bawah atau tepat di atas dak adalah lapisan pelindung utama.

Waterproofing

Lapisan kedua adalah waterproofing. Waterproofing terdiri dari 2 jenis, yaitu jenis membrane atau lembaran dan screed yang berupa cairan layaknya kita mengecat dinding.

Protection layer

Protection layer adalah lapisan pelindung ketiga dari dak yang ada di atas ruang bangunan kita.

Drainage layer

Drainage layer merupakan lapisan drainase untuk aliran air yang ada di area tanam

Filter Fabric

Filter fabric atau geotextile adalah lapisan penyaring dari air. Untuk di kolam lapisan ini diperuntukkan sebagai penyaring kotoran tanah agar tidak naik ke permukaan air dan membuat keruh air yang ada di kolam.

Media tanam

Lapisan terakhir adalah lapisan media tanam. Lapisan ini penting untuk pertumbuhan tanaman.

Penerapan Kedalam Bangunan

Gambar 5.9. Penerapan sistem green roof pada bangunan

Jenis tanaman yang dapat ditanam dengan perawatan minimal dan sesuai dengan iklim setempat yang juga berfungsi sebagai estetika :

1. Bright sunny flower

Gambar 5.8. Ketebalan dan tinggi tumbuhan yang diterapkan pada bangunan

* Nama Botani: Allamanda cathartica (sinonim: Allamanda nobilis, Allamanda

grandiflora)

* Nama Umum: Allamanda Kuning, Yellow Bell, Golden Trumpet, Bunga Buttercup * Nama Keluarga: Apocynaceae

* Jenis Tanaman: semak hias atau kuasi-pohon anggur, asli Brazil tetapi

dibudidayakan

secara luas di daerah tropis.

* Budaya (Perawatan): cathartica A. dapat dengan mudah tumbuh dengan

pemeliharaan minimal di negara-negara tropis dan sub-tropis.

Light: tumbuh dengan baik di bawah sinar matahari penuh. Moisture: kebutuhan air Menengah dan toleran kekeringan.

Tanah: lembab dan dikeringkan dengan baik-tanah berpasir humus-diperkaya.

Dapat beradaptasi dengan berbagai jenis tanah tetapi tidak toleran terhadap garam atau es.

2. Gomphrena globosa

- Nama Botani: Gomphrena globosa

- Nama Umum: Tombol Bachelor's, Globe Amaranth, Gomphrena

- Nama Keluarga: Amaranthaceae

- Tanaman jenis: tanaman herba tahunan tropis.

- Budaya (Perawatan): Globe Amaranth merupakan tanaman mudah tumbuh,

memerlukan perhatian minimal.

Gbr.5.10. Bright Sunny Flower

- Light: Purna naungan cahaya matahari

- Moisture: Sedang kebutuhan air. Meski kekeringan dan toleran panas,

pertumbuhan terbaik adalah dicapai dengan penyiraman rutin, terutama saat cuaca panas dan kering.

- Tanah: Adaptable untuk semua jenis tanah, bahkan mentolerir miskin atau tanah

liat. Campuran tanah pot dari 2 bagian gambut untuk masing-masing 1 bagian tanah liat dan pasir lebih disukai untuk menahan kelembaban dan tetap baik dikeringkan.

3. Barbados Lily

- Botani Nama: Hippeastrum

- Nama Umum: Amaryllis (populer dan keliru dinamai Hippeastrum dan tidak boleh

salah untuk Amaryllis belladonna, sebuah genus Afrika dalam keluarga yang sama), Hippeastrums, Hippie, Barbados Lily.

- Keluarga Nama: Amaryllidaceae

- Tanaman jenis: bulat tanaman bunga abadi yang berasal dari daerah tropis dan

subtropis.

- Cahaya: tumbuh terbaik di luar sinar matahari disaring. Jika tumbuh di dalam

ruangan, memberikan dengan cahaya terang tidak langsung.

- Moisture: Memerlukan media air secara teratur selama musim tanam, tetapi hemat

air selama periode istirahat yang kecuali selama musim sangat panas. - Tanah: Well-dikeringkan dan menengah subur tanah.

- Perawatan: Hippeastrums mudah tumbuh, membutuhkan sedikit pemeliharaan.

4. Nerilium Oleander

- Nama Botani: Ozeander Nerium

- Nama Umum: Ozeander

- Keluarga Nama: Apocynaceae

- Tanaman jenis: Multi-berasal semak berbunga atau pohon (6-15 meter dan lebar),

berasal dari daerah Mediterania

- Cahaya: lebih suka matahari penuh walaupun dapat mentoleransi bayangan terang

- Perawatan: Cukup mudah dipelihara dengan perawatan yang minimal! Semua itu

butuh banyak sinar matahari dan air yang cukup sesuai kebutuhan.

2. Vertikal Garden

Aplikasi vertical garden pada dinding podium untuk menciptakan iklim mikro yang lebih menyejukkan. Lapisan tanaman bisa mereduksi penyerapan panas secara langsung sekaligus mengurangi pemakaian AC karena ruang menjadi tidak cepat panas.

3. Rainwater Harvesting (Pemanen Air Hujan) & Graywater System

Mengumpulkan tetesan air hujan. Dalam hal ini digunakan atap untuk mengumpulkan air hujan. Air hujan kemudian mengalir sepanjang talang (gutter), dan masuk kedalam suatu tangki pengumpul.

Ukuran tangki tergantung jumlah dan tujuan air digunakan tetapi perlu juga mempertimbangkan curah hujan tahunan dan ukuran atap. Ukuran normal suatu tangki untuk atap 20-40 m² adalah 10 m³. air yang dikumpulkan dapat digunakan untuk irigasi skala kecil seperti berkebun dan kebutuhan toilet.

Secara garis besar, ada tiga komponen dalam alat pemanen air hujan ini,

collector berupa atap bangunan, conveyor sebagai saluran air, dan storage berupa

tangki penyimpanan air. Mulanya air hujan akan menerpa atap bangunan dan terkumpul melalui talang (gutter) disekeliling bangunan. Agar terhindar dari pencemaran, dinding atap tidak boleh menggunakan bahan asbes serta jangan mengalami pengecatan yang mengandung unsure yang mungkin mnecemari air, seperti chrome, besi atau metal. Atap sebaiknya juga tidak terganggu oleh pepohonan, sehingga tidak ada dedaunan atau kotoran hewan yang ikut mengalir ketangki penyimpanan. (Aryanti,

Graywater System, memanfaatkan kembali air dari limbah hotel setelah melalui

proses pengelolaan terlebih dahulu, air yang telah diolah dimanfaatkan kembali ke dalam gedung sebagai air flush pada toilet, untuk pengairan pada area green roof, dan water fall di beberapa area guna membentuk iklim mikro.

2004).

Gambar 5.15. Graywater System

2.1.Perhitungan Bak Penampungan Air Hujan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan bak penampungan air hujan adalah :

a. Konsumsi air b. Volume bak c. Luas atap

d. Menentukan lokasi bak penampungan

a. Konsumsi air

Konsumsi air adalah jumlah air yang dibutuhkan oleh seseorang dalam sehari. Berdasarkan laporan penelitian Yayasan Dian Desa, konsumsi air penduduk yang mengandalkan air hujan sebagai sumber utama, ada perbedaan mencolok antara musim hujan dan kemarau. Contoh di beberapa tempat di wilayah Gunungkidul Yogyakarta dan Madura. Pada musim hujan mereka mengkonsumsi air sekitar 30 liter/jiwa/hari. Sedangkan pada musim kemarau konsumsi air mereka bisa merosot sampai 5-8 liter/jiwa/hari.

b. Volume bak

Berdasarkan kebutuhan air tersebut maka dapat diperhitungkan volume bak penampung air yang dibutuhkan. Walaupun menurut data di muka konsumsi air di musim kemarau bisa hanya 5 liter/jiwa/hari, namun untuk dasar perhitungan bak disarankan menggunakan angka 10 liter.

Rumus yang digunakan untuk menghitung volume bak penampung air hujan adalah sebagai berikut

Vb =. 1000

n*hk*k

Keterangan :

Vb = Volume bak penampungan air hujan(m³) n = Jumlah jiwa pemakai air

hk = Jumlah hari saat bulan kemarau hh = Jumlah hari saat musim hujan

k = Konsumsi air di musim kemarau (lt/jiwa/hari) h = Konsumsi air di musim hujan (lt/jiwa/hari)

sebagai contoh perhitungan dalam suatu keluarga terdiri dari 5 orang, konsumsi air adalah 10 lt/jiwa/hari di musim kemarau. Daerah tersebut umumnya terdapat 4 bulan kering atau 120 hari. Maka volume bak yang diperlukan adalah : Vb = 1000 n * hk * k Vb = 1000 5*120*10 Vb = 6 m³ c. Luas atap

Luas atap (catchment area) perlu diketahui, sebab jika besarnya tidak memadai dengan volume bak yang dibangun maka akan sia-sia. Akibatnya bak tidak pernah terisi penuh, terutama pada awal bulan kering. Perhitungan ini melibatkan jumlah akumulasi curah hujan selama musim penghujan. Data ini tiap daerah berlainan dan dapat diperoleh pada stasiun curah hujan setempat. Perhitungan luas atap juga dipengaruhi oleh kondisi air selama musim hujan sebab pada praktiknya air bak juga dimanfaatkan guna memenuhi keperluan air sehari- hari di musim hujan. Maka luas atap selain bisa memenuhi kebutuhan air sehari- hari dimusim hujan juga harus masih bisa mencakupi untuk memenuhi bak penampungan.

Untuk menghitung luas atap yang diperlukan dapat dipakai rumus sebagai berikut : A = Va +Vb

R

* 1000

A = Luas atap (m²)

Va = Volume akumulasi air yang dikonsumsi selama musim hujan (m³) Vb = Volume bak penampungan air hujan (m³)

R = Jumlah akumulasi curah hujan selama musim hujan (mm)

Sebagai contoh perhitungan, misalnya suatu keluarga di daerah Hargosari terdiri dari 5 orang. Akumulasi curah hujan basah November-mei adalah 1.351 mm (8 bulan atau 240 hari). Konsumsi air di musim hujan 30 lt/jiwa/hari. Volume bak yang dibuat 6 m³. Maka luas atap yang diperlukan dapat dihitung sebagai berikut : Va = 1000 n * hh * h Va = 1000 5* 240*30 m³ Va = 36 m³

Maka luas atapnya adalah : A = Va +Vb R *1000m² A = 36 + 6 1.351 * 1000 m² A = 31,088 m ²

Dengan perhitungan diatas, luas atap yang dibutuhkan adalah sekitar 32 m². Jadi, jika luas atap yang telah ada kurang dari angka tersebut dilakukan penambahan luas. Tapi jika lebih besar dari angka perhitungan tidak jadi masalah. Tapi ingat, yang dimaksud luas atap adalah penampang datarnya, maka kemiringannya tidak mempengaruhi.

d. Menentukan lokasi bak

Untuk menentukan lokasi bak penampung air hujan perlu diperhitungkan segi kepraktisan dan pengisian air, kesehatan lingkungan serta ketinggian talang rumah. Maka bila memungkinan sebaiknya bak penampung air hujan dibangun dekat dapur, namun dijauhkan dari kandang ternak atau comberan. (Haryoto, 1995).

Penerapan Pada Bangunan

Gambar 5.16. Skematik Rainwater Harvesting pada bangunan hotel

4. Solar Photovoltaic System

Solar photovoltaic sistem merupakan suatu pengembangan teknologi tentang solar cells. Dengan konsep photovoltaics, kita dapat mengumpulkan energi dari panel matahari sebagai pengganti energi yang telah ada.

Sel Photovoltaic mengumpulkan dan menyimpan energy matahari. energynya dapat digunakan kapan saja pada saat diperlukan. Matahari dapat tak dapat diramalkan, kadang cerah kadang hujan. Tetapi hal itu tidak membuat kemampuan solar photovoltaic sebagai pengumpul energi hilang. Menginvestasikan energi ini baik untuk melindungi bumi.

Gambar 5.17. Solar Photovoltaic lasti

Sel PV dibuat dari silicon yang sangat mumi sehingga ketepatannya mengalahkan material lain.Inti dan silicon yang sangat mumi yang dipakai pada set PV sangat mahal.Biar bagaimanapun juga , jumlah yang sama dan silicon murni yang dipakai dalam modul layer PV single 50 W dapat mencukupi 2000 sirkuit lastic yang terintegrasi.Material lain yang dipakai sebagai sel PV adalah aluminium , kaca dan lastic –semua tidak mahal dan dapat didaur ulang.

Keuntungan

• Daya tahan cukup lama

PV Cell yang energinya bersumber dan matahani , secara vertical tidak perlu perawatan pada saat pengambilan energi

• Biaya pengoperasian murah

Karena tidak ada partikel. Yang bergerak maka biaya perawataan

murah.Biaya efektif system PV sangat ideal untuk mensuplai tenaga path Stasiun Telekomunikasi path puncak gunung, kapal navigasi di taut , atau rumah yang jauh dan suplai listrik

• Tidak menghasilkan polusi

Karena mereka tidak ada proses pembakaran dan tidak ada partikel yang bergerak, system PV bersih dan tidak nibut.Kedua alasan diatas adalah alasan utama memilih energi mi daripada generator diesel dan minyak tanah.

• Modular

Cara menentukan ukuran Sistem PV

1. Mengetahui berapa besar kebutuhan listnik I han .Beberapa peralatan elektronik seperti pendingin membutuhkan tenaga sepanjang waktu , dan beberapa peralatan seperti lampu penerangan tidak setiap saat

2. Tentukan berapa besar cahaya matahani di tapak bangunan

Sistem PV dirata-ratakan dengan daya per volt , dimana jumlah tenaga produksi ketika setiap modul menerima 1000 watt per m2 yang diambil dan matahari.

Sistem PV dapat dibentuk dalam beberapa ukuran Dan bila kebutuhan energi meningkat dapat dengan mudah ditambah.

Gambar 5.18. Penerapan Solar Photovoltaic system pada bangunan.

5. Sun Shading

Pemberian Sun shading pada fasade hunian dapat menghalangi sinar cahaya matahari langsung yang masuk kedalam kamar, sehingga kamar tetap sejuk yang akhirnya akan

mengurangi penggunaan

pengkondisian udara buatan.

BAB VI

PERANCANGAN ARSITEKTUR

VI.9. Tampak Depan

VI.11. Tampak Samping Kiri

VI.13. Potongan A-A

VI.22. Perspektif Interior

LOBBY HOTEL DELUXE ROOM

DAFTAR PUSTAKA

Neufert, Ernst dan Sjamsu Amril, (1995), Data Arsitek, Jilid 2 Edisi Kedua, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Neufert, Ernst dan Sunarto Tjahjadi, (1997), Data Arsitek, Jilid 1 Edisi 33, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Badan Pusat Statistik Medan (2008) Medan Dalam Angka.

De Chiara.Joseph,and John Calender.1981.Time Saver Standart for Building Types.Mcgraw Hill Book Company.New York.

Brenda & Vale R. Green Architecture – Design For Sustainable Future. Thames & Hudson. London. 1991.

The Cycle of Material from : The Ecology of Building Materials. Bjirn Berge.pdf. Ch.1 (6) Sistem Bangunan Tinggi.

Poerwadaminta, WJS. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka.

Majalah I-Arch. Twentieth Issue 2008. Pemanfaatan Potensi Alami Dalam Bangunan dan Landmark Kawasan Bandung Barat.

jiunkpe/s1/hotl/2009/jiunkpe-ns-s1-2009-33404098-12091-airport_hotel-chapter2.pdf

Tugas akhir_Danang P Setiawan_Pdf

/jiunkpe/s1/jdkv/2005/jiunkpe-ns-s1-2005-42401096-7837-gajahmada_graha-chapter1.pdf

Dokumen terkait