• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENGANTAR

B. Diare

Gambar 1. Anatomi dan Fisiologi Saluran Cerna pada Diare

(Anonim, 2009 b; Anonim 2009 c)

1. Definisi

Diare adalah frekuensi buang air besar ≥ 3× per hari disertai perubahan

konsistensi feses (lembek atau cair). Perubahan konsistensi feses karena terjadi

peningkatan volume air dalam feses (Sinuhaji, 2007). Diare dapat akut atau

kronik. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sedang

diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari (Zein, Sagala dan

Ginting, 2004).

Diare merupakan mekanisme pertahanan tubuh, dengan adanya diare,

cairan yang tercurah ke lumen saluran cerna akan membersihkan saluran cerna

dari bahan-bahan patogen (cleansing effect). Bila bahan patogen ini hilang dari

saluran cerna, diare akan sembuh (self limited). Namun di sisi lain diare

menyebabkan kehilangan cairan (air, elektrolit dan basa) dan bahan makanan dari

tubuh (Sinuhaji, 2007).

2. Etiologi

Beberapa hal yang biasa menyebabkan diare adalah :

a. infeksi bakteri.

Beberapa jenis bakteri dapat termakan melalui makanan atau minuman

yang terkontaminasi dan menyebabkan diare, contohnya Campylobacter,

Salmonella, Shigella, dan Escherichia coli.

b. infeksi virus.

c. intoleransi makanan.

Contoh : pada orang yang tidak dapat mencerna komponen makanan

seperti laktosa (gula dalam susu).

d. parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman dan

menetap dalam sistem pencernaan. Contoh : Giardia lamblia, Entamoeba

hystolitica dan Cryptosporidium.

e. reaksi obat

Contoh : antibiotik, obat-obat tekanan darah dan antasida yang

mengandung magnesium.

f. penyakit intestinal seperti penyakit inflamasi usus atau penyakit

abdominal.

g. gangguan fungsi usus seperti sindrom iritasi usus (usus tidak dapat

bekerja secara normal) (Anonim, 2004 a).

3. Patofisiologi

Ada empat mekanisme umum gangguan keseimbangan elektrolit yang

menyebabkan diare yang menjadi dasar dan diagnosis terapi, yaitu pertukaran

transpor ion menjadi tidak aktif karena penurunan absorpsi Na atau peningkatan

sekresi Cl, perubahan motilitas usus, peningkatan osmolaritas luminal, dan

peningkatan tekanan hidrostatik di jaringan. Secara klinis, mekanisme ini

dihubungkan dengan empat jenis diare : sekretori, osmotik, eksudatif, dan

perubahan transit usus/motor (Spruil dan Wade, 2005). Umumnya mekanisme

pada diare akut adalah osmotik dan sekretori, sedangkan motor dan eksudatif

merupakan mekanisme umum pada penyakit diare kronik (Walker, 2005).

Diare sekretori terjadi jika ada salah satu rangsangan substansi yaitu

peningkatan sekresi atau penurunan absorpsi sejumlah besar cairan dan elektrolit.

Substansi yang menyebabkan sekresi secara berlebihan yaitu vasoactive intestinal

peptide (VIP) dari tumor pankreas, lemak makanan yang tidak diabsorbsi dalam

steatorrhea, laksatif, hormon sekretin, toksin bakteri, dan garam empedu yang

berlebih. Sebagian besar agen ini merangsang cyclic adenosine monophosphate

(cAMP) intraseluler yang menyebabkan peningkatan sekresi. Selain itu, mediator

ini juga menghambat absorpsi ion secara bersamaan (Spruil dan Wade, 2005).

Diare osmotik terjadi bila ada bahan yang tidak dapat diserap

meningkatkan osmolaritas dalam lumen yang menarik air dari plasma sehingga

terjadi diare. Penyebab diare osmotik adalah malabsorbsi karbohidrat akibat

defisiensi laktase atau akibat antasida yang mengandung magnesium (Zein et al.,

2004). Secara klinik, diare osmotik dapat dibedakan dari jenis diare yang lain,

misalnya diare berhenti jika pasien dipuasakan (Spruil dan Wade, 2005).

Diare eksudatif umumnya disebabkan karena inflamasi, seperti

inflammatory bowel disease (IBD) atau infeksi bakteri (yaitu disentri) yang

menyebabkan mukosa usus menjadi radang. IBD dan infeksi bakteri

menyebabkan gangguan absorpsi cairan dan keluarnya lendir, darah dan nanah ke

dalam lumen (Walker, 2005). Diare motor terjadi jika waktu transit usus menjadi

lebih cepat, sehingga mengurangi waktu kontak antara isi lumen dengan daerah

absorpsi pada dinding usus (Walker, 2005).

4. Gejala

Diare dapat disertai dengan mual, muntah, nyeri abdominal, dan sakit

kepala. Selain itu, tergantung dari penyebabnya, penderita juga dapat mengalami

demam atau feses yang berdarah (Anonim, 2004 a).

Tabel II. Gejala Klinis Infeksi Diare Patogen (Anonim, 2004 b)

Patogen Tanda dan Gejala

BAKTERI

Enterohemorrhagic E.

coli (E. coli O157:H7)

feses yang berdarah, nyeri abdominal, dan muntah

Campylobacter jejuni feses yang berdarah, nyeri, demam, dan muntah

Salmonella spp. demam, nyeri abdominal, dan muntah

Shigella spp. nyeri abdominal, demam, feses yang berdarah dan berlendir

Vibrio cholerae diare cair, muntah, dapat menimbulkan dehidrasi berat dan

kematian

Yersinia

enterocolytica

muntah, demam dan nyeri abdominal

VIRUS

Norovirus mual, muntah, nyeri abdominal, dan demam

PARASIT

Cryptosporidium diare cair, nyeri abdominal, dan demam

Cyclospora

cayetanensis

diare cair, kehilangan nafsu makan, BB turun, nyeri abdominal,

muntah, mual, dan fatigue

Entamoeba hystolitica feses yang berdarah, pergerakan usus yang sering, dan

nyeri abdominal

Anak-anak dapat terkena diare akut atau diare kronik dan harus dibawa

ke dokter bila menunjukkan gejala-gejala seperti feses mengandung nanah dan

darah atau feses berwarna hitam, suhu badan di atas 38°C, setelah 24 jam tidak

menunjukkan perbaikan, menunjukkan tanda-tanda dehidrasi (Anonim, 2004 a).

Gejala umum dehidrasi antara lain haus, frekuensi buang air kecil

menurun, kulit kering, fatigue, urin berwarna gelap. Gejala dehidrasi pada

anak-anak antara lain lidah dan mulut kering, jika menangis tidak mengeluarkan air

mata, perut, mata dan pipi cekung, demam tinggi, lesu atau mudah marah, kulit

tidak kembali rata jika ditekan dan kemudian dilepaskan (Anonim, 2004 a).

Tabel III. Penilaian Dehidrasi dan Tingkat Keparahan Diare Akut

(Walker, 2005)

Diare ringan

(dapat ditangani

sendiri)

Diare sedang (dapat

ditangani sendiri)

Diare berat

(tidak dapat

ditangani sendiri)

Tingkat

dehidrasi

3%-5% 6%-9% ≥ 10%

Tanda dehidrasi Membran mukosa

mulut agak kering,

rasa haus

meningkat,

pengeluaran urin

sedikit berkurang,

BB turun 3%-5%

Mata cekung, ubun-ubun

cekung, turgor kulit

berkurang, membran

mukosa mulut kering,

volume urin dan air mata

berkurang, gelisah, BB

turun 6%-9%

Sama dengan tanda

diare sedang,

ditambah dehidrasi,

BB turun ≥ 10%,

denyut nadi cepat,

sianosis, menggigil,

nafas cepat, lesu,

koma

Banyaknya feses

yang tidak

berbentuk/hari

<3 4-5 6-9

Tanda/gejala

lain

Tanpa demam atau

demam ringan,

tekanan darah

normal, tidak ada

perbedaan ortostatik

pada tekanan darah

Demam >101°F (38°C),

dalam keadaan baring

tekanan darah normal,

tekanan darah ortostatik

ringan/perubahan denyut

dengan atau tanpa

ortostatik ringan

dihubungkan dengan

gejala

Demam >101°F

(38°C), tekanan

darah rendah,

pusing, daerah

sekitar perut sering

sakit

5. Malabsorpsi lemak

Malabsorpsi lemak diartikan sebagai suatu keadaan terdapatnya

gangguan absorpsi lemak dalam usus sehingga lemak keluar secara berlebihan

dalam feses. Keadaan ini dapat disertai dengan atau tanpa diare. Terdapatnya

lemak dalam feses >7g/hari disebut steatorrhea. Secara makroskopis, steatorrhea

dapat ditandai dengan feses yang berlemak, berbau busuk, pucat, dan bulky,

sedangkan secara mikroskopis tampak tetesan lemak yang memenuhi lebih dari

setengah lapangan pandangan (Suharyono, 2008).

Gambar 2. Steatorrhea/Droplet-droplet Lemak dalam Feses

(Anonim, 2003)

Untuk mengetahui adanya malabsorpsi lemak, dapat dilakukan tes

kualitatif dengan pewarnaan Sudan III. Sampel feses diperiksa secara

mikroskopis. Banyaknya tetesan merah-orange menandakan steatorrhea. False

negatif dapat terjadi jika pasien diet rendah lemak. Tes yang akurat adalah dengan

uji kuantitatif yaitu mengukur lemak yang diabsorpsi. Setelah pasien

mengonsumsi lemak (80-100g/hari) selama ± 3 hari, jumlah total lemak dalam

feses dikumpulkan selama 72 jam untuk diukur. Pada individu yang sehat,

ekskresi lemak dalam feses seharusnya <7 g/hari (Klapproth, 2008). Jika lemak

dalam feses >40 g/hari menandakan ketidaksempurnaan lipolisis misalnya karena

insufisiensi pankreas (Anonim, 2009 d).

Terapi malabsorpsi lemak adalah dengan memperbaiki kekurangan

nutrisi, vitamin dan mengidentifikasi serta mengobati penyebab utama

malabsorpsi lemak misalnya pada insufisiensi pankreas (pankreatitis kronik atau

tumor pankreas), penyakit Celiac, penyakit Crohn’s, dan penyakit Whipples

(Anonim, 2009 d).

6. Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan diagnostik yang akan dilakukan untuk menemukan

penyebab diare adalah :

a. pemeriksaan fisik dan sejarah medis.

Dokter perlu mengetahui kebiasaan makan pasien dan mengenai

obat-obatan yang digunakan.

b. pemeriksaan kultur feses.

Analis laboratorium akan menganalisa sampel feses untuk memeriksa

bakteri, parasit atau tanda-tanda lain dari penyakit.

c. pemeriksaan darah.

d. pemeriksaan saat puasa untuk menentukan penyakit diare tersebut

disebabkan oleh suatu intoleransi terhadap makanan atau alergi makanan.

e. sigmoidoscopy.

Pada pemeriksaan ini, dokter menggunakan suatu peralatan khusus untuk

melihat ke dalam rektum dan bagian bawah kolon.

f. colonoscopy.

Pemeriksaan ini mirip dengan sigmoidoscopy, tetapi yang diperiksa

adalah seluruh bagian colon (Anonim, 2004 a).

Dokumen terkait