• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi drug therapy problems pada pengobatan pasien diare akut anak di instalasi rawat inap rumah sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Evaluasi drug therapy problems pada pengobatan pasien diare akut anak di instalasi rawat inap rumah sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 - USD Repository"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh:

Fanny

NIM : 058114150

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

ii

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh:

Fanny

NIM : 058114150

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)

PAIIA PENGOBATAN PASIEN IIIARE AKTIT ANAI(

DI INSTALASI RAWAT INAP RITMAH SAKIT PAI{TI RINil KALASAN

YOGYAICARTA PARIODE JULI 2OOTJUNI

2IX}t

Oleh:

Fanny

NIM ; 058114150

Skipsi ini telah dimtujui oleh :

Pembimbingl'

^ t /

,#

) t

I

dr, Fenty; I\[.Kesq Sp.PK

Pembinbing tr,

tanggal

i eg}u1' ayg

M, WisnuDonowati;

M,Si,; Apt

tanggal

: &gAuli aoog

(4)

DI INSTALASI RAWAT INAP RIIMAH SAKIT PAI{TI RII\{I KALASAI{

YOGYAKARTA PARIODE JULI IMTJUI{I 2OO8

Oleh:

Fanny

NIM: 058114150

Dtpeftahiiiil&iii di hiidaiidn P.initie Penguji SkripSi

Fakultas Farrnasi

Universitas Sanata

Dharma

pada anggal: 24 lttli 2009

Pembimbingl:

dr. Fenty, M.Kes., SpPK

Pembimbing If I

M. Wisnu Donowati, M.Si., APt.

Penitia Penguji t

l. dr. Fenty, M.Kes., SpPK

?, M, Wisnu Donowati M.Si.; APt.

3. Rita Suhadi, M.si., Apt.

4; Ipang Djunarko; S,Si,, Apt,

#it

(5)

v

Skripsi ini kupersembahkan untuk :

(6)

GBMB4N TENNYATAAN TERSETUJUAN PUBIJI(ASI I(ANYA lt,ilfiAH

TJNTT]K XEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda angur di bawah ini; saya mahasiswa

Universias Sansta Dharma :

Nanra

: Fanny

NomorMahasiswa : 058114150

Demi pengmbflnpn ilmu pen$tahtm; saya m€mberilran k€pads Perplsbkam

Universitas San& Dharrrakarya ilmiah sayayang berjudul :

EVALUASI DNAG T.EENAPY PROBLEMS PADA PENG'OBATAI\I PASIBN

DcIARE AKUT AI{AI( DI II{STALASII RAWAT INAP RUMAH SAKIT

PAITTI RIIrII KALASAN YOGYAKARTA PERIODE JTru 2OO7JI]M 2|NE

b€s€rta perangkat 1ailg diperlukm (bila ada). Dengan demftian sa),a m€mberikan

k€eada Perpustakaan .Universitas Smata Dharma h*

una* menyimparl

mengalitrkan ke dalm b€ntuk modia lain, mengelolanya dalam beNtuk pngkalan

dm, mendisibusikffi secar:a

ffibstas dan mempublikasikmqa di int€rnet atflu

media lain unhrk kepenlingan akademis tanpa perlu merninta izin dari mya

maupun m€mhfikan royalti ke@a saya selama tetap meneantumkan

nama sa),a

sebflgaipenulis

Demikian pernyataan ini sa)ra buat deirym sebmrnya.

Dibrffi di Yogpkarta

Padat nggal : l0 Agustus 2ffi9

Yangme,nyatakan

Tqry

Famy

(7)

vii

Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Evaluasi

Drug Therapy

Problems

pada Pengobatan Pasien Diare Akut Anak di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008. Skripsi

ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana farmasi pada

program studi Ilmu Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta.

Dalam proses penulisan dan penyusunan skripsi ini, penulis menyadari

bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak yang telah memberikan sumbangan

pikiran, waktu, semangat dan tenaga, skripsi ini tidak akan tersusun dengan baik.

Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih

yang tak terhingga kepada :

1.

Direktur Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta yang telah memberikan

ijin bagi penulis untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit Panti Rini.

2.

Rita Suhadi, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi dan dosen penguji

yang telah memberikan saran dan masukan dalam proses penyusunan skripsi

ini.

(8)

viii

5.

Ipang Djunarko, S.Si., Apt. selaku dosen penguji yang telah memberikan

saran dan masukan kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi ini.

6.

Pak Harry selaku Kepala Instalasi

Medical Record

Rumah Sakit Panti Rini

Kalasan Yogyakarta beserta semua staf atas bantuan yang diberikan selama

penulis melakukan pengambilan data penelitian.

7.

Alm. Papa Yohanes Ng Piang Khiam dan Mama Yacinta Ngadi yang telah

merawat, membesarkan dan mendidik penulis, selalu memberikan kasih sayang,

pengorbanan serta doa yang tulus di sepanjang hidup penulis.

8.

Kakak-kakak tersayang, Evie Ng, Merry Ng, dan Yuli Ng serta Kak Daniel,

atas kasih sayang, masukan, semangat, perhatian, doa serta dukungan yang

telah diberikan kepada penulis.

9.

Sahabat penulis (Flora, Sarah, Marlin, Maya, dan Cory), atas saran, semangat,

perhatian, dan doanya. “Teman yang baik tidak selalu memberi ciuman dan

pelukan tapi terkadang juga tamparan agar penulis sadar dan bangkit dari

kesalahan”. Terima kasih untuk persahabatan ini.

10.

Denok, Donald, Erick, Ina, Lia, Lini, Pipit, Presty, Rony, Sephin, Shinta,

Siska, Stella, Suster Detin, Wisely dan teman-teman kelas C serta FKK’05,

atas kebersamaan dan kekompakan selama 4 tahun di farmasi.

11.

Teman-teman kost ‘Pondok Carithas’ atas kebersamaan, keceriaan, dan

dukungan yang diberikan kepada penulis.

(9)

ix

dengan doa dan usaha untuk penulis hingga selesainya proses penyusunan

skripsi ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam

skripsi ini. Karena itu Penulis sangat mengharapkan masukan dan saran dari

pembaca demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi

yang tidak sempurna ini bermanfaat bagi setiap pembaca.

(10)

tidak mcrnuat

lorla atru bagian karya orang lain, kecuali yang telah diseh*kan

dalam kr*ipan dm daftarpustaka

sehgoimana

layaknyaknrJia

ilmiah'

YogFkartq 9lvlci 4009

Penulis

w

(11)

xi

meninggal karena diare bila tidak mendapatkan pertolongan karena mengalami

dehidrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien

berdasarkan usia, jenis kelamin, tempat tinggal pasien, mengetahui pola

pengobatan, evaluasi

drug therapy problems pada pengobatan pasien diare akut

anak serta

outcome selama pasien dirawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit

Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008.

Penelitian ini termasuk jenis penelitian observasional dengan rancangan

penelitian deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Bahan penelitian yang

digunakan adalah lembar medical record pasien diare akut anak.

Jumlah

medical record yang dianalisis sebanyak 54 kasus. Kasus

terbanyak terjadi pada pasien usia 1 tahun-

5 tahun (88,9%), dengan jenis

kelamin paling banyak terjadi pada laki-laki (64,8%) dan daerah tempat tinggal

pasien yang paling banyak menjalani perawatan adalah kecamatan Kalasan

(38,9%). Dalam penelitian ini digunakan 7 kelas terapi obat dengan 3 kelas terapi

terbanyak adalah obat gizi dan darah (100,0%), obat saluran cerna (100,0%) dan

obat sistem saraf pusat (75,9%). Jenis

drug therapy problems yang terjadi yaitu

tidak butuh obat (35,2%), dosis terlalu rendah (13,0%), dan pemakaian obat yang

tidak efektif (38,9%). Semua pasien diare akut anak pulang dengan kondisi klinis

yang membaik (100,0%).

(12)

xii

from diarrhea if they don’t get any help because of dehydration. The goals of this

study are to identify the characteristic of the patients such as the age, the gender,

patient’s address, to determine medical pattern, to evaluate drug therapy problems

in the medication of children acute diarrhea, and clinical condition as the patients

is being treated at the hospitalized unit of Panti Rini Hospital Kalasan Yogyakarta

period July 2007-June 2008.

This study is done in a observational way research plan descriptive

evaluative research which have retrospective characteristic. The instrument of this

study is medical record of acute diarrhea in child.

All case which analized is 54 cases. The most frequency case patients 1-

5 years old (88,9%), the most gender is male (64,8%),) and the location that

plenty of patients had been treatment was on the Kalasan district (38,9%). This

study used 7 drug class therapy which is three most drug class therapy are

nutrition and blood medicine (100%), gastrointestinal system disorder medicine

(100,0%), and central nervous system medicine (75,9%). The type of drug therapy

problems that happened which is unnecessary drug therapy (35,2%), dosage too

low (13,0%), and ineffective drug (38,9%). All of the cases return home with

good clinical condition (100,0%).

(13)

xiii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...

iii

HALAMAN PENGESAHAN ...

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ...

v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS...

vi

PRAKATA ...

vii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...

x

INTISARI ...

xi

ABSTRACT ...

xii

DAFTAR ISI ...

xiii

DAFTAR TABEL ...

xvii

DAFTAR GAMBAR ...

xxi

DAFTAR LAMPIRAN ...

xxii

ABBREVIATIONS ...

xxiii

BAB I PENGANTAR

...

1

A. Latar Belakang ...

1

1. Perumusan masalah ...

3

2. Keaslian penelitian ...

4

3. Manfaat penelitian ...

5

(14)

xiv

A.

Drug Therapy Problems ...

7

B. Diare ...

8

1. Definisi...

9

2. Etiologi...

9

3. Patofisiologi ...

10

4. Gejala ...

12

5. Malabsorpsi lemak...

13

6. Pemeriksaan diagnostik ...

15

C. Penatalaksanaan Terapi Diare Akut ...

15

1. Tujuan terapi ...

15

2. Sasaran terapi ...

16

3. Algoritma terapi ...

16

4. Strategi terapi ...

17

5. Informasi kelas obat antidiare ...

20

D. Keterangan Empiris ...

23

BAB III METODE PENELITIAN

...

24

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ...

24

B. Definisi Operasional ...

24

(15)

xv

2. Tahap pengambilan data ...

27

3. Tahap penyelesaian data ...

28

E. Tata Cara Analisis Hasil ...

29

F. Kesulitan Penelitian ...

30

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

...

32

A. Karakteristik Pasien Diare Akut Anak ...

32

1. Berdasarkan usia...

32

2. Berdasarkan jenis kelamin ...

33

3. Berdasarkan tempat tinggal pasien (kecamatan) ...

34

B. Pola Pengobatan Pasien Diare Akut Anak ...

35

1. Obat yang bekerja pada sistem saluran cerna ...

36

2. Obat yang bekerja pada sistem saluran pernapasan ...

37

3. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat ...

38

4. Obat yang bekerja sebagai analgesik ...

39

5. Obat yang digunakan untuk pengobatan infeksi ...

39

6. Obat yang mempengaruhi gizi dan darah ...

40

7. Obat sistem hepatobilier ...

42

C. Kajian Drug Therapy Problems ...

42

(16)

xvi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

...

52

A. Kesimpulan ...

52

B. Saran ...

53

DAFTAR PUSTAKA ...

54

LAMPIRAN ...

57

(17)

xvii

Tabel II.

Gejala Klinis Infeksi Diare Patogen ...

12

Tabel III

Penilaian Dehidrasi dan Tingkat Keparahan Diare Akut ....

13

Tabel IV

Pengelompokkan Pasien Diare Akut Anak Berdasarkan

Usia di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini

Kalasan Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

33

Tabel V

Pengelompokkan Pasien Diare Akut Anak Berdasarkan

Jenis Kelamin di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta

Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

33

Tabel VI

Pengelompokkan Pasien Diare Akut Anak Berdasarkan

Tempat Tinggal (Kecamatan) di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta

Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

34

Tabel VII

Distribusi Kelas Terapi Obat Pasien Diare Akut Anak

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini

Kalasan Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

35

Tabel VIII

Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat yang

Bekerja pada Sistem Saluran Cerna yang Digunakan pada

Terapi Diare Akut Anak di Instalasi Rawat Inap

(18)

xviii

pada Terapi Diare Akut Anak di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta

Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

37

Tabel X

Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat yang

Bekerja pada Sistem Saraf Pusat yang Digunakan pada

Terapi Diare Akut Anak di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta

Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

38

Tabel XI

Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Analgesik

yang Digunakan pada Terapi Diare Akut Anak

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

39

Tabel XII

Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Infeksi

yang Digunakan pada Terapi Diare Akut Anak

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

39

Tabel XIII

Golongan, Kelompok, Zat Aktif dan Jenis Obat Gizi dan

Darah yang Digunakan pada Terapi Diare Akut Anak

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

(19)

xix

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta

Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

42

Tabel XV

Kelompok Pasien Diare Akut Anak dengan

Drug Therapy Problems Tidak Butuh Obat

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

43

Tabel XVI

Kelompok Pasien Diare Akut Anak dengan

Drug Therapy Problems Dosis Terlalu Rendah

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

44

Tabel XVII

Kelompok Pasien Diare Akut Anak dengan

Drug Therapy Problems Pemakaian Obat yang Tidak Efektif

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

45

Tabel XVIII Contoh Analisis Drug Therapy Problems pada Pasien 3

(Tidak Butuh Obat) di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta

Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

45

Tabel XIX

Contoh Analisis Drug Therapy Problems pada Pasien 38

(20)

xx

(Pemakaian Obat yang Tidak Efektif)

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

48

Tabel XXI

Contoh Analisis Drug Therapy Problems pada Pasien 50

(Pemakaian Obat yang Tidak Efektif, Tidak Butuh Obat)

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

(21)

xxi

Gambar 2

Steatorrhea/Droplet-droplet Lemak dalam Feses ...

14

Gambar 3

Algoritma Terapi Diare Akut ...

16

Gambar 4

Antimikrobia untuk Terapi Diare yang Disebabkan oleh

Agen yang Spesifik ...

18

Gambar 5

Outcome Pasien Diare Akut Anak di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta

(22)

xxii

di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 ...

57

Lampiran 2

Surat Ijin Penelitian di Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

(23)

xxiii

2.

HGB

: hemoglobin

3.

HCT

: hematokrit

4.

LYM%

: % limfosit dalam leukosit

5.

LYM#

: jumlah absolut leukosit dari sel darah

6.

MCV

: mean corpuscular volume (volume rata-rata eritrosit)

7.

MCH

:

mean corpuscular hemoglobin

(kadar hemoglobin

rata-rata)

8.

MCHC

: mean corpuscular hemoglobin concentration (rata-rata

konsentrasi hemoglobin)

9.

MPV

: mean platelet volume

10.

MXD%

: % jumlah basofil, eosinofil dan monosit dalam leukosit

11.

MXD#

: jumlah absolut basofil, eosinofil dan monosit dari sel

darah

12.

NEUT%

: % neutrofil dalam leukosit

13.

NEUT#

: jumlah absolut neutrofil dari sel darah

14.

PDW

: platelet distribution width

(24)

xxiv

23.

tts

: tetes

(25)

1

BAB I

PENGANTAR

A.

Latar Belakang

Di negara berkembang, diare merupakan penyebab utama morbiditas dan

mortalitas pada anak-anak. Pada tahun 2003, diperkirakan 1,87 juta anak-anak di

bawah usia 5 tahun meninggal karena diare. Rata-rata, di negara berkembang,

anak di bawah usia 3 tahun mengalami 3 episode diare setiap tahunnya (Anonim,

2005).

Di Indonesia, walaupun diare sudah dapat dikendalikan dengan adanya

program pemberantasan penyakit diare oleh pemerintah tetapi masih sering

menimbulkan keresahan bagi masyarakat terutama bila terjadi Kejadian Luar

Biasa, diperkirakan 200-400 kejadian diare di antara 1000 penduduk per tahun.

Sebagian besar dari penderita (60-80%) adalah anak usia di bawah 5 tahun dan

±1-2% mengalami dehidrasi. Sebanyak 50-60% penderita ini akan meninggal bila

tidak mendapatkan pertolongan (Sinuhaji, 2007).

Pada tahun 2006, jumlah penderita diare di Indonesia mencapai 26.000

jiwa, sedangkan Oktober 2007 sudah mencapai 23.000 jiwa, sebagian besar

penderita diare tersebut adalah anak-anak (Anonim, 2007). Menurut laporan unit

pencatatan medik Rumah Sakit Panti Rini periode Juli 2007-Juni 2008, kasus

diare akut pada pasien anak rawat inap di Rumah Sakit Panti Rini terjadi sebanyak

(26)

Berdasarkan penelitian Soenarto (2007) menemukan bahwa telah terjadi

penggunaan antibiotika yang tidak rasional dalam terapi diare cair akut di rumah

sakit non pendidikan sebesar 100 %, sedangkan di rumah sakit pendidikan hanya

18%. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat mengganggu keseimbangan

mikroflora dalam usus sehingga menyebabkan

Antibiotic Associated Diarrhea

(AAD). Berdasarkan penelitian, kejadian AAD pada pasien rawat inap sebesar

31%. Selain itu, kecenderungan pemberian antibiotika pada pasien dan penderita

diare secara sembarangan atau berlebihan, dapat membuat resisten penyakit diare

tersebut (Anonim, 2009 a).

Ketidakrasionalan terapi diare seperti peresepan jumlah obat berlebihan,

polifarmasi, peresepan antibiotika dan obat injeksi tidak sesuai indikasi, peresepan

antibiotika dalam dosis subterapeutik, peresepan antidiare, serta semua

ketidakrasionalan lainnya pun menjadikan beban biaya penanganan yang tinggi

(Anonim, 2009 a). Melihat hal tersebut muncul pertanyaan mengenai kerasionalan

terapinya terkait kemungkinan terjadinya

drug therapy problems

dan

outcome

yang dialami pasien, untuk itu perlu dilakukan evaluasi pengobatan pada pasien.

Adapun pemilihan Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta sebagai

tempat penelitian dikarenakan perannya sebagai rumah sakit tipe pratama, rumah

sakit yang memiliki pelayanan dasar, umum dan gigi serta pelayanan medik

spesialistik 4 dasar sesuai dengan standar minimal rumah sakit kelas pratama,

yaitu Spesialis Penyakit Dalam, Kebidanan dan Kandungan, Bedah dan Penyakit

(27)

1.

Perumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut :

a.

seperti apa karakteristik pasien diare akut anak berdasarkan usia, jenis

kelamin dan tempat tinggal (kecamatan) di Instalasi Rawat Inap Rumah

Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008?

b.

seperti apa pola pengobatan pasien diare akut anak di Instalasi Rawat

Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni

2008?

c.

seperti apakah kejadian

drug therapy problems

yang terjadi pada

pengobatan pasien diare akut anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit

Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 yang

meliputi :

1)

tidak butuh obat?

2)

butuh tambahan obat?

3)

pemakaian obat yang tidak efektif?

4)

dosis yang diterima pasien terlalu rendah?

5)

terjadi

adverse drug reaction

?

6)

dosis yang diterima pasien terlalu tinggi?

d.

seperti apa

outcome

pasien diare akut anak di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni

(28)

2.

Keaslian penelitian

Evaluasi

Drug Therapy Problems

pada Pengobatan Pasien Diare Akut

Anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta Periode

Juli 2007-Juni 2008 belum pernah dilakukan. Penelitian-penelitian tentang diare

akut yang pernah dilakukan adalah Pola Peresepan Obat pada Penderita Diare

Akut Anak di Instalasi Rawat Inap RS DR. Sardjito Yogyakarta (Prasetyanti,

2003), Profil Peresepan Antimikroba pada Penderita Diare Akut di Instalasi

Rawat Inap RS Panti Nugroho Yogyakarta tahun 2000 (Nona, 2003), Penggunaan

Antibiotik untuk Terapi Diare pada Pasien Rawat Inap di RS Bethesda

Yogyakarta Periode Januari-Juli tahun 1999 (Rusmiyati, 2003), Pola Peresepan

Diare Akut pada Pasien Pediatri di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih

Yogyakarta periode Juli-Desember 2002 (Lestari, 2004), Pola Pengobatan

Penyakit Diare Akut Anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Bethesda

Yogyakarta Periode Juli-Desember Tahun 2004 (Adesispanti, 2006).

Perbedaan dengan penelitian ini adalah dilakukan evaluasi

drug therapy

problems

pada pengobatan pasien diare akut anak di Instalasi Rawat Inap Rumah

Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008. Evaluasi

drug

therapy problems

akan dijabarkan pada

Assessment

menggunakan metode SOAP

(

Subjective, Objective, Assessment, Plan

) yang kemudian akan dipecahkan

melalui

Plan.

Evaluasi

drug therapy problems

kemudian dirangkum dan

dikelompokkan berdasarkan keenam parameter

drug therapy problems

yang

terjadi beserta zat aktifnya disertai penilaian dan rekomendasi terhadap terjadinya

(29)

3.

Manfaat penelitian

a.

Manfaat praktis

Penelitian ini

dapat digunakan sebagai evaluasi dan bahan pertimbangan

untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Panti

Rini Kalasan Yogyakarta.

b.

Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi

mengenai

drug therapy problems

pada pengobatan diare akut anak di

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta.

B.

Tujuan Penelitian

1.

Tujuan umum

Untuk mengevaluasi

drug therapy problems

pada pengobatan pasien

diare akut anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008.

2.

Tujuan khusus

a.

Mendeskripsikan karakteristik pasien diare akut anak di Instalasi Rawat

Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni

2008 berdasarkan usia, jenis kelamin dan tempat tinggal (kecamatan).

b.

Mendeskripsikan pola pengobatan pasien diare akut anak di Instalasi

Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli

(30)

c.

Mengetahui kajian

drug therapy problems

yang terjadi pada pengobatan

pasien diare akut anak yang meliputi :

1)

tidak butuh obat

2)

butuh tambahan obat

3)

pemakaian obat yang tidak efektif

4)

dosis yang diterima pasien terlalu rendah

5)

adverse drug reaction

6)

dosis yang diterima pasien terlalu tinggi

d.

Mendeskripsikan

outcome

pasien diare akut anak di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni

(31)

7

A.

Drug Therapy Problems

Tabel I. Kategori

Drug Therapy Problems

(Cipolle, Strand, and

Morley,

2004).

Drug therapy problems

Penyebab-penyebab

drug therapy problems

Tidak butuh obat

(

unnecessary drug

therapy

)

Tidak adanya indikasi medis yang valid untuk terapi obat yang

digunakan saat itu, banyak produk obat yang digunakan untuk

kondisi tertentu yang hanya memerlukan terapi obat tunggal,

kondisi medis lebih tepat diobati tanpa terapi obat, terapi obat

digunakan untuk mencegah

adverse reaction

yang berhubungan

dengan pengobatan lain, penyalahgunaan obat, penggunaan

alkohol, atau merokok yang menyebabkan masalah.

Butuh tambahan obat

(

need for additional

drug therapy

)

Kondisi medis yang memerlukan terapi inisiasi obat, terapi

pencegahan obat diperlukan untuk mengurangi resiko

berkembangnya penyakit baru, kondisi medis yang memerlukan

farmakoterapi tambahan untuk memperoleh sinergisme atau

efek tambahan.

Pemakaian obat yang

tidak efektif

(

ineffective drug

)

Obat yang digunakan bukan obat yang paling efektif untuk

masalah medis yang dialami, kondisi medis yang sukar

disembuhkan dengan produk obat, bentuk sediaan produk obat

tidak tepat, produk obat tidak efektif terhadap indikasi yang

dialami.

Dosis terlalu rendah

(

dosage too low

)

Dosis terlalu rendah untuk menghasilkan respon yang

diinginkan, interval dosis yang jarang menghasilkan respon yang

diinginkan, interaksi obat menurunkan jumlah zat aktif yang

tersedia, durasi obat terlalu singkat untuk menghasilkan respon

yang diinginkan.

Adverse drug reaction

Produk obat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan yang

tidak berhubungan dengan dosis, produk obat yang aman

diperlukan karena terkait dengan faktor resiko, interaksi obat

menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan yang tidak

berhubungan dengan dosis, pengaturan dosis yang diberikan

atau diganti dengan sangat cepat, produk obat yang

menyebabkan reaksi alergi, produk obat yang kontraindikasi

terhadap faktor resiko.

Dosis terlalu tinggi

(

dosage too high

)

Dosis terlalu tinggi, frekuensi pemakaian obat terlalu singkat,

durasi obat terlalu lama, interaksi obat terjadi karena hasil

reaksi toksik produk obat, dosis obat diberikan terlalu cepat.

Kepatuhan pasien

(

noncompliance

)

(32)

Drug therapy problems merupakan peristiwa yang tidak diinginkan yang

dialami pasien yang memerlukan atau diduga memerlukan terapi obat dan

berkaitan dengan tercapainya tujuan terapi yang diinginkan. Diketahui ada tujuh

kategori drug therapy problems yang menjelaskan sejumlah masalah yang dapat

disebabkan oleh obat dan/atau yang dapat diselesaikan dengan terapi obat dan

menjadi tanggung jawab dari pharmaceutical care. Jenis

drug therapy problems

tidak butuh obat dan butuh tambahan obat merupakan

drug therapy problems

yang berhubungan dengan indikasi. Pemakaian obat yang tidak efektif dan dosis

terlalu rendah berhubungan dengan masalah keefektifan.

Adverse drug reaction

dan dosis terlalu tinggi berhubungan dengan masalah keamanan, sedangkan jenis

drug therapy problems yang terakhir berhubungan dengan masalah kepatuhan

pasien (Cipolle et al., 2004).

B.

Diare

(33)

1.

Definisi

Diare adalah frekuensi buang air besar

3× per hari disertai perubahan

konsistensi feses (lembek atau cair). Perubahan konsistensi feses karena terjadi

peningkatan volume air dalam feses (Sinuhaji, 2007). Diare dapat akut atau

kronik. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sedang

diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari (Zein, Sagala dan

Ginting, 2004).

Diare merupakan mekanisme pertahanan tubuh, dengan adanya diare,

cairan yang tercurah ke lumen saluran cerna akan membersihkan saluran cerna

dari bahan-bahan patogen (cleansing effect). Bila bahan patogen ini hilang dari

saluran cerna, diare akan sembuh (self limited). Namun di sisi lain diare

menyebabkan kehilangan cairan (air, elektrolit dan basa) dan bahan makanan dari

tubuh (Sinuhaji, 2007).

2.

Etiologi

Beberapa hal yang biasa menyebabkan diare adalah :

a.

infeksi bakteri.

Beberapa jenis bakteri dapat termakan melalui makanan atau minuman

yang terkontaminasi dan menyebabkan diare, contohnya Campylobacter,

Salmonella, Shigella, dan Escherichia coli.

b.

infeksi virus.

(34)

c.

intoleransi makanan.

Contoh : pada orang yang tidak dapat mencerna komponen makanan

seperti laktosa (gula dalam susu).

d.

parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman dan

menetap dalam sistem pencernaan. Contoh : Giardia lamblia, Entamoeba

hystolitica dan Cryptosporidium.

e.

reaksi obat

Contoh : antibiotik, obat-obat tekanan darah dan antasida yang

mengandung magnesium.

f.

penyakit intestinal seperti penyakit inflamasi usus atau penyakit

abdominal.

g.

gangguan fungsi usus seperti sindrom iritasi usus (usus tidak dapat

bekerja secara normal) (Anonim, 2004 a).

3.

Patofisiologi

Ada empat mekanisme umum gangguan keseimbangan elektrolit yang

menyebabkan diare yang menjadi dasar dan diagnosis terapi, yaitu pertukaran

transpor ion menjadi tidak aktif karena penurunan absorpsi Na atau peningkatan

sekresi Cl, perubahan motilitas usus, peningkatan osmolaritas luminal, dan

peningkatan tekanan hidrostatik di jaringan. Secara klinis, mekanisme ini

dihubungkan dengan empat jenis diare : sekretori, osmotik, eksudatif, dan

perubahan transit usus/motor (Spruil dan Wade, 2005). Umumnya mekanisme

pada diare akut adalah osmotik dan sekretori, sedangkan motor dan eksudatif

(35)

Diare sekretori terjadi jika ada salah satu rangsangan substansi yaitu

peningkatan sekresi atau penurunan absorpsi sejumlah besar cairan dan elektrolit.

Substansi yang menyebabkan sekresi secara berlebihan yaitu vasoactive intestinal

peptide (VIP) dari tumor pankreas, lemak makanan yang tidak diabsorbsi dalam

steatorrhea, laksatif, hormon sekretin, toksin bakteri, dan garam empedu yang

berlebih. Sebagian besar agen ini merangsang

cyclic adenosine monophosphate

(cAMP) intraseluler yang menyebabkan peningkatan sekresi. Selain itu, mediator

ini juga menghambat absorpsi ion secara bersamaan (Spruil dan Wade, 2005).

Diare osmotik terjadi bila ada bahan yang tidak dapat diserap

meningkatkan osmolaritas dalam lumen yang menarik air dari plasma sehingga

terjadi diare. Penyebab diare osmotik adalah malabsorbsi karbohidrat akibat

defisiensi laktase atau akibat antasida yang mengandung magnesium (Zein et al.,

2004). Secara klinik, diare osmotik dapat dibedakan dari jenis diare yang lain,

misalnya diare berhenti jika pasien dipuasakan (Spruil dan Wade, 2005).

Diare eksudatif umumnya disebabkan karena inflamasi, seperti

inflammatory bowel disease (IBD) atau infeksi bakteri (yaitu disentri) yang

menyebabkan mukosa usus menjadi radang. IBD dan infeksi bakteri

menyebabkan gangguan absorpsi cairan dan keluarnya lendir, darah dan nanah ke

dalam lumen (Walker, 2005). Diare motor terjadi jika waktu transit usus menjadi

lebih cepat, sehingga mengurangi waktu kontak antara isi lumen dengan daerah

(36)

4.

Gejala

Diare dapat disertai dengan mual, muntah, nyeri abdominal, dan sakit

kepala. Selain itu, tergantung dari penyebabnya, penderita juga dapat mengalami

demam atau feses yang berdarah (Anonim, 2004 a).

Tabel II. Gejala Klinis Infeksi Diare Patogen (Anonim, 2004 b)

Patogen

Tanda dan Gejala

BAKTERI

Enterohemorrhagic E.

coli (E. coli O157:H7)

feses yang berdarah, nyeri abdominal, dan muntah

Campylobacter jejuni

feses yang berdarah, nyeri, demam, dan muntah

Salmonella spp.

demam, nyeri abdominal, dan muntah

Shigella spp.

nyeri abdominal, demam, feses yang berdarah dan berlendir

Vibrio cholerae

diare cair, muntah, dapat menimbulkan dehidrasi berat dan

kematian

Yersinia

enterocolytica

muntah, demam dan nyeri abdominal

VIRUS

Norovirus

mual, muntah, nyeri abdominal, dan demam

PARASIT

Cryptosporidium

diare cair, nyeri abdominal, dan demam

Cyclospora

cayetanensis

diare cair, kehilangan nafsu makan, BB turun, nyeri abdominal,

muntah, mual, dan fatigue

Entamoeba hystolitica

feses yang berdarah, pergerakan usus yang sering, dan

nyeri abdominal

Anak-anak dapat terkena diare akut atau diare kronik dan harus dibawa

ke dokter bila menunjukkan gejala-gejala seperti feses mengandung nanah dan

darah atau feses berwarna hitam, suhu badan di atas 38

°

C, setelah 24 jam tidak

menunjukkan perbaikan, menunjukkan tanda-tanda dehidrasi (Anonim, 2004 a).

Gejala umum dehidrasi antara lain haus, frekuensi buang air kecil

menurun, kulit kering, fatigue, urin berwarna gelap. Gejala dehidrasi pada

(37)

mata, perut, mata dan pipi cekung, demam tinggi, lesu atau mudah marah, kulit

tidak kembali rata jika ditekan dan kemudian dilepaskan (Anonim, 2004 a).

Tabel III. Penilaian Dehidrasi dan Tingkat Keparahan Diare Akut

(Walker, 2005)

Diare ringan

(dapat ditangani

sendiri)

Diare sedang (dapat

ditangani sendiri)

Diare berat

(tidak dapat

ditangani sendiri)

Tingkat

dehidrasi

3%-5%

6%-9%

10%

Tanda dehidrasi

Membran mukosa

mulut agak kering,

rasa haus

meningkat,

pengeluaran urin

sedikit berkurang,

BB turun 3%-5%

Mata cekung, ubun-ubun

cekung, turgor kulit

berkurang, membran

mukosa mulut kering,

volume urin dan air mata

berkurang, gelisah, BB

turun 6%-9%

Sama dengan tanda

diare sedang,

ditambah dehidrasi,

BB turun

10%,

denyut nadi cepat,

sianosis, menggigil,

nafas cepat, lesu,

koma

Banyaknya feses

yang tidak

berbentuk/hari

<3

4-5

6-9

Tanda/gejala

lain

Tanpa demam atau

demam ringan,

tekanan darah

normal, tidak ada

perbedaan ortostatik

pada tekanan darah

Demam >101°F (38°C),

dalam keadaan baring

tekanan darah normal,

tekanan darah ortostatik

ringan/perubahan denyut

dengan atau tanpa

ortostatik ringan

dihubungkan dengan

gejala

Demam >101°F

(38°C), tekanan

darah rendah,

pusing, daerah

sekitar perut sering

sakit

5.

Malabsorpsi lemak

Malabsorpsi lemak diartikan sebagai suatu keadaan terdapatnya

gangguan absorpsi lemak dalam usus sehingga lemak keluar secara berlebihan

dalam feses. Keadaan ini dapat disertai dengan atau tanpa diare. Terdapatnya

lemak dalam feses >7g/hari disebut steatorrhea. Secara makroskopis, steatorrhea

dapat ditandai dengan feses yang berlemak, berbau busuk, pucat, dan

bulky,

sedangkan secara mikroskopis tampak tetesan lemak yang memenuhi lebih dari

(38)

Gambar 2.

Steatorrhea

/Droplet-droplet Lemak dalam Feses

(Anonim, 2003)

Untuk mengetahui adanya malabsorpsi lemak, dapat dilakukan tes

kualitatif dengan pewarnaan Sudan III. Sampel feses diperiksa secara

mikroskopis. Banyaknya tetesan merah-orange menandakan

steatorrhea.

False

negatif dapat terjadi jika pasien diet rendah lemak. Tes yang akurat adalah dengan

uji kuantitatif yaitu mengukur lemak yang diabsorpsi. Setelah pasien

mengonsumsi lemak (80-100g/hari) selama ± 3 hari, jumlah total lemak dalam

feses dikumpulkan selama 72 jam untuk diukur. Pada individu yang sehat,

ekskresi lemak dalam feses seharusnya <7 g/hari (Klapproth, 2008). Jika lemak

dalam feses >40 g/hari menandakan ketidaksempurnaan lipolisis misalnya karena

insufisiensi pankreas (Anonim, 2009 d).

Terapi malabsorpsi lemak adalah dengan memperbaiki kekurangan

nutrisi, vitamin dan mengidentifikasi serta mengobati penyebab utama

malabsorpsi lemak misalnya pada insufisiensi pankreas (pankreatitis kronik atau

tumor pankreas), penyakit Celiac, penyakit Crohn’s, dan penyakit Whipples

(39)

6.

Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan diagnostik yang akan dilakukan untuk menemukan

penyebab diare adalah :

a.

pemeriksaan fisik dan sejarah medis.

Dokter perlu mengetahui kebiasaan makan pasien dan mengenai

obat-obatan yang digunakan.

b.

pemeriksaan kultur feses.

Analis laboratorium akan menganalisa sampel feses untuk memeriksa

bakteri, parasit atau tanda-tanda lain dari penyakit.

c.

pemeriksaan darah.

d.

pemeriksaan saat puasa untuk menentukan penyakit diare tersebut

disebabkan oleh suatu intoleransi terhadap makanan atau alergi makanan.

e.

sigmoidoscopy.

Pada pemeriksaan ini, dokter menggunakan suatu peralatan khusus untuk

melihat ke dalam rektum dan bagian bawah kolon.

f.

colonoscopy.

Pemeriksaan ini mirip dengan

sigmoidoscopy, tetapi yang diperiksa

adalah seluruh bagian colon (Anonim, 2004 a).

C.

Penatalaksanaan Terapi Diare Akut

1.

Tujuan terapi

Tujuan terapi diare akut adalah untuk memperbaiki atau mencegah

(40)

mengobati penyebab diare, serta mencegah morbiditas dan mortalitas diare

(Walker, 2005).

2.

Sasaran terapi

Sasaran terapi diare akut adalah gejala dan penyebab diare.

3.

Algoritma terapi

Gambar 3. Algoritma Terapi Diare Akut (Spruill dan Wade, 2005)

Pengobatan diare yang direkomendasikan oleh WHO :

a.

pemberian oralit formula baru dengan osmolaritas yang rendah untuk

mengurangi durasi diare, mengurangi volume feses, dan mengurangi

pemberian terapi cairan intravena (iv).

Sejarah penyakit & Pemeriksaan fisik

Diare kronis

(> 14 hari)

Diare akut

(< 3 hari)

Demam atau gejala sistemik

Tidak ada demam

atau gejala sistemik

Pemeriksaan feses WBC/RBC dan parasit

Gunakan terapi

simptomatik,

meliputi :

a.

Penggantian

cairan atau

elektrolit

b.

Loperamid,

difenoksilad,

atau adsorben

c.

Diet

Negatif

Positif

Antibiotik yang cocok dan terapi simptomatik

Terapi

simptomatik

(41)

b.

pemberian suplemen

zinc selama dan setelah episode akut diare untuk

mengurangi lama dan keparahan, serta insidensi terjadinya diare dalam

2-3 bulan berikutnya (Anonim, 2006).

4.

Strategi terapi

a.

Terapi non farmakologi.

1)

Pengaturan

pola makan merupakan prioritas utama dalam pengobatan

diare. Sampai diare berhenti, hindari makanan dengan kadar serat yang

tinggi dan berikan buah-buahan seperti pisang karena mengandung

kalium yang tinggi (Anonim, 2004 a).

2)

Cairan dan elektrolit

Rehidrasi dan pemeliharaan cairan dan elektrolit merupakan tujuan

utama sampai diare sembuh. Bisa digunakan rute parenteral maupun

enteral dalam memberikan asupan cairan dan elektrolit, misalnya

dengan oral rehydration solution (ORS) atau oralit (Spruil dan Wade,

2005). Pemberian oralit berguna untuk mencegah terjadinya dehidrasi

pada penderita diare akut yang belum mendapatkan dehidrasi

(preventive). Pemberian oralit juga berguna untuk mengobati dehidrasi

(treatment). Pada penderita yang sudah diobati dehidrasinya,

pemberian oralit terus dilakukan selama diare masih berlangsung untuk

mencegah terjadinya dehidrasi (maintenance) (Sinuhaji, 2007).

b.

Terapi farmakologi.

(42)

Gambar 4. Antimikrobia untuk Terapi Diare yang Disebabkan oleh Agen yang Spesifik

Cholera

Pilihan pertama

Doksisiklin

Dewasa :

300 mg dosis tunggal

atau

Tetrasiklin

Dewasa : 500 mg

4× sehari, 3 hari

(Anonim, 2008 b)

Alternatif

Azitromisin

atau

Siprofloksasin

(Anonim, 2008 b)

Shigellosis

Pilihan pertama

Siprofloksasin

Anak-anak :

15 mg/kg 2× sehari,

3 hari

Dewasa : 500 mg

2× sehari, 3 hari

(Anonim, 2008 b)

TMP-SMX

(Anonim, 2004 b)

Alternatif

Pivmecillinam

Anak-anak :

20 mg/kg 4× sehari,

5 hari

Dewasa : 400 mg

4× sehari, 5 hari

Seftriakson

Anak-anak :

50-100 mg/kg

IM dosis tunggal

2-5 hari

(Anonim, 2008 b)

Amoebiasis

Giardiasis

trofozoit E. histolytica

Metronidazol

Dewasa :

500-750 mg 3× sehari

selama 5-10 hari

atau

2 g setiap hari, selama

3 hari

atau

50 mg/kg, dosis

tunggal

Anak-anak :

35-50 mg/kg/hari

setiap 8 jam selama

10 hari

cysts of E. histolytica

Paromomisin

Dewasa dan

anak-anak :

25-35 mg/kg hari setiap

8 jam selama 7 hari

(Dhawan, 2008)

Metronidazol

Anak-anak : 5 mg/kg

3× sehari, 5 hari

Dewasa : 250 mg

3× sehari, 5 hari

(Anonim, 2008 b)

Campylobacter

(43)

Antimikrobia sebaiknya tidak diberikan secara rutin pada anak yang

mengalami diare karena tidak efektif melawan sebagian besar

mikroorganisme

penyebab

diare,

seperti

rotavirus

atau

Cryptosporidium. Selain itu, untuk memilih antimikrobia yang efektif,

kita harus mengetahui sensitivitas agen penyebab diare. Penggunaan

antimikrobia juga menambah biaya terapi, risiko terjadinya reaksi yang

merugikan, dan meningkatkan resistensi bakteri. Antimikrobia hanya

diberikan untuk anak dengan kasus disentri, kolera dengan dehidrasi

berat, dan giardiasis serta diare dengan infeksi akut (mis. pneumonia,

infeksi saluran kemih) yang memerlukan terapi antimikrobia yang

spesifik (Anonim, 2005).

2)

Obat antidiare

Agen farmakologi yang digunakan untuk terapi diare dapat

diklasifikasikan berdasarkan mekanisme aksinya, yaitu mengubah

motilitas usus, mengubah sekresi, adsorpsi toksin atau cairan, dan

mengubah mikroflora usus. Banyak agen memiliki efek toksik sistemik

yang memperparah penyakit diare pada bayi dan anak-anak; sebagian

besar tidak direkomendasikan untuk digunakan pada anak-anak <2-3

tahun. Sedikit data yang tersedia yang mendukung penggunaan agen

antidiare untuk terapi diare akut, terutama pada anak-anak (Anonim,

(44)

3)

Zinc

Penggunaan zinc dalam terapi diare akut mempengaruhi fungsi

kekebalan atau struktur atau fungsi usus, dan pemulihan epitel selama

terjadi diare (Anonim, 2006). Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa

suplemen

zinc (10-20 mg/hari yang diberikan sampai diare berhenti)

secara signifikan mengurangi keparahan dan durasi terjadinya diare

pada anak di bawah usia 5 tahun. Penelitian lainnya menunjukkan

bahwa penggunaan

zinc (10-20 mg/hari selama 10-14 hari) dapat

mengurangi insidensi terjadinya diare dalam 2-3 bulan berikutnya

(Anonim, 2005). Berdasarkan penelitian-penelitian ini, sekarang

direkomendasikan penggunaan

zinc 20 mg/hari selama 10-14 hari

untuk anak yang mengalami diare dan 10 mg/hari untuk bayi di bawah

usia 6 bulan (Anonim, 2006).

5.

Informasi kelas obat antidiare

a.

Mengubah motilitas usus (antimotilitas).

Yang termasuk obat antimotilitas adalah loperamid hidroklorida,

difenoksilat dengan atropin,

tincture opium, paregorik, dan kodein

(Anonim, 2005). Loperamid merupakan turunan piperadin, yang

mengurangi kecepatan transit dan meningkatkan kemampuan usus

menahan cairan. Loperamid juga menghambat

calmodulin, protein yang

terlibat dalam transpor usus. Loperamid lebih spesifik terhadap reseptor

µ-opioid usus sehingga mempunyai efek yang sangat kecil terhadap

(45)

American Academy of Pediatrics (AAP) tidak merekomendasikan

penggunaan loperamid pada anak <6 tahun karena secara klinis

memberikan efek yang tidak berbeda dalam volume feses dan durasi

penyakit, tapi memiliki risiko efek samping seperti paralitik ileus dan

toksisitas megacolon (Walker, 2005).

b.

Mengubah sekresi (antisekresi).

Yang termasuk obat antisekresi adalah bismuth subsalisilat (BSS). BSS

bereaksi dengan asam hidroklorida dalam lambung membentuk bismuth

oksiklorida dan asam salisilat. Bismuth oksiklorida tidak larut dan

diabsorbsi sangat sedikit dari saluran gastrointestinal. Asam salisilat

dengan mudah diabsorbsi. Kedua zat ini memiliki efek farmakologi

seperti mengurangi frekuensi feses yang tidak berbentuk, meningkatkan

konsistensi feses, meringankan gejala kram abdomen, dan mengurangi

mual serta muntah pada anak dan orang dewasa.

American Academy of

Pediatrics tidak merekomendasikan BSS pada anak. Selain itu, salisilat

dapat menyebabkan efek samping yang tidak tergantung pada dosis,

misalnya sindrom Reye’s (Walker, 2005).

c.

Adsorpsi toksin atau cairan (adsorben).

Yang termasuk adsorben adalah kaolin, attapulgite, smectite, arang aktif,

kombinasi kaolin-pektin (Anonim, 2005; Spruil dan Wade, 2005).

Beberapa senyawa antidiare seperti kaolin-pektin, arang aktif, attapulgite

bekerja dengan mengadsorbsi toksin bakteri dan mengikat air untuk

(46)

konsistensi feses. Tidak ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa agen

ini mengurangi durasi diare, frekuensi BAB, atau hilangnya cairan

melalui feses (Anonim, 1996).

1)

Kaolin

Adsorpsi kaolin tidak selektif. Jika diberikan secara oral, kaolin dapat

mengadsorbsi senyawa dan enzim pencernaan sama baiknya dengan

toksin, bakteri, dan obat di saluran cerna. Penggunaan kaolin tidak

direkomendasikan oleh AAP dan sebaiknya tidak digunakan untuk

anak <12 tahun tanpa rekomendasi dokter (Walker, 2005).

2)

Smectite/dioctahedral smectite

Smectite diketahui dapat mengadsorbsi virus, bakteri, toksin bakteri,

dan melindungi mukosa usus. Berdasarkan penelitian

randomised

controlled trials (Narkeviciute

et al., 2002; Guarino

et al., 2001;

Lexomboon

et al., 1994; Madkour

et al.,1993; Vivatvakin

et al.,

1992), penggunaan smectite dan ORS pada anak yang mengalami diare

akut terbukti efektif mengurangi durasi diare hingga 20-50% yaitu

dengan mengurangi frekuensi BAB, meningkatkan konsistensi feses,

mencegah perpanjangan durasi diare dan tidak ditemukan adanya efek

samping (Anonim, 2009 e).

d. Mengubah mikroflora usus (probiotik).

Probiotik merupakan terapi suportif diare akut pada anak-anak terutama

penyakit karena gangguan terhadap perlindungan mikroflora normal.

(47)

kompleks melawan kolonisasi patogen opportunis yang dapat menyerang

usus setelah penggunaan antibiotik spektrum luas, terapi atau operasi

(McFarland, Elmer, McFarland 2006). Mikroflora yang digolongkan

sebagai probiotik adalah yang memproduksi asam laktat terutama dari

golongan Lactobacilli

dan

Bifidobacteria (Anonim, 2009 f). Probiotik

memiliki

beberapa

mekanisme,

yaitu

memproduksi

substansi

antimikrobia, memodifikasi toksin dan mengganggu pengikatannya

dengan reseptor, merangsang sistem imun atau kombinasi dari beberapa

mekanisme. Berdasarkan penelitian meta-analisis pada diare pediatri

yang dilakukan Huang et al., 2002; Van Niel

et al., 2002 dan Szajewska

and Mrukowicz,

2001 disimpulkan bahwa probiotik dapat mengurangi

durasi diare (McFarland et al., 2006).

D.

Keterangan Empiris

Penelitian mengenai Evaluasi

Drug Therapy Problems pada Pengobatan

Pasien Diare Akut Anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta Periode Juli 2007-Juni 2008 dapat mengurangi kejadian drug therapy

problems pada pengobatan diare akut pada pasien anak di Rumah Sakit Panti Rini

(48)

24

BAB III

METODE PENELITIAN

A.

Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian mengenai Evaluasi

Drug Therapy Problems

pada Pengobatan

Pasien Diare Akut Anak di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 merupakan jenis penelitian observasional

dengan rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif. Penelitian

observasional adalah penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah ciri (variabel)

subyek menurut keadaan apa adanya, tanpa ada manipulasi atau intervensi peneliti

(Pratiknya, 2001). Penelitian merupakan rancangan deskriptif evaluatif karena

data yang diperoleh dari lembar

medical record

dievaluasi berdasarkan studi

pustaka dan dideskripsikan dengan memaparkan fenomena yang terjadi, yang

kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar. Penelitian bersifat

retrospektif karena data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dengan

melakukan penelusuran dokumen terdahulu, yaitu lembar

medical record

pasien

di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rini Juli 2007-Juni 2008.

B.

Definisi Operasional

1.

Lembar

medical record

adalah catatan pengobatan dan perawatan pasien yang

memuat data mengenai karakteristik pasien meliputi identitas, diagnosa,

anamnesis, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, daftar pemberian obat,

(49)

ringkasan pemeriksaan, dan

outcome

pasien diare akut anak yang dirawat di

Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli

2007-Juni 2008.

2.

Diare akut dalam penelitian ini adalah penyakit diare akut (kurang dari 14

hari) tanpa komplikasi penyakit lain yang diketahui dari lembar

medical

record

pasien.

3.

Pola pengobatan adalah penggolongan obat dalam terapi farmakologis yang

digunakan pasien diare akut anak selama berada di instalasi rawat inap Rumah

Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008 menjadi

beberapa kelas terapi berdasarkan referensi Informatorium Obat Nasional

Indonesia (IONI) 2000. Jika tidak tercantum di IONI, penggolongan obat

berdasarkan referensi Informasi Spesialite Obat Indonesia Vol. 43-2008,

dilanjutkan MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 7 2007/2008.

4.

Jenis

drug therapy problems

yang dapat diamati dalam penelitian ini, yaitu

butuh obat (

need

for additional drug therapy

), tidak butuh obat (

unnecessary

drug therapy

), pemakaian obat yang tidak efektif (

ineffective drug

), dosis

terlalu rendah (

dosage too low

),

adverse drug reaction, d

osis terlalu tinggi

(

dosage too high

), sedangkan kepatuhan pasien tidak dapat diamati.

5.

Evaluasi dosis berdasarkan sumber referensi

Informasi Spesialite Obat

Indonesia Vol. 43-2008, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 7

2007/2008,

Handbook of Clinical Drug Data 10

th

edition

dan

Drug Facts and

(50)

6.

Evaluasi

adverse drug reaction

berdasarkan sumber referensi

Drug

Information Handbook

dan

Drug Interaction Facts.

7.

Outcome

adalah kondisi pasien ketika meninggalkan rumah sakit, yaitu

sembuh, membaik, belum sembuh, meninggal <48 jam, meninggal >48 jam.

C.

Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah pasien anak yang menjalani rawat

inap di Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008.

Kriteria inklusi subyek adalah pasien anak berusia 1-11 tahun yang didiagnosa

diare akut, menerima terapi berupa obat antidiare dan dirawat di Rumah Sakit

Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008.

Jumlah subyek pada penelitian ini dapat ditentukan dengan rumus :

=

1 +

(

)

Keterangan : n

= besar sampel yang diambil

N

= besar populasi (119 orang)

d

= tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (10 %)

(Notoatmodjo, 2005).

Perhitungan jumlah sampel yang diambil :

=

119

1 + 119(0,1 )

= 54,34 ≈ 54

Jumlah sampel yang diambil adalah 65 pasien, yang kemudian dieliminasi

berdasarkan kriteria inklusi menjadi 54 pasien (jumlah sampel minimal).

Untuk memperoleh sampel representatif, pemilihan sampel dalam

(51)

sampling

dengan menggunakan tabel random. Prinsip pengambilan sampel

berdasarkan

probability sampling

adalah bahwa setiap subyek dalam populasi

mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih atau untuk tidak terpilih sebagai

sampel (Sastroasmoro, 1995).

D.

Bahan Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar

medical record

pasien anak yang menderita

diare akut di Instalasi Rawat Inap

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008.

E.

Tata Cara Penelitian

Jalannya penelitian meliputi tiga tahap yaitu tahap perencanaan, tahap

pengambilan data dan tahap penyelesaian data.

1.

Tahap perencanaan

Tahap ini dimulai dengan penentuan dan analisis masalah yang akan

dijadikan bahan penelitian kemudian mengurus perijinan untuk melihat lembar

medical record

pasien diare akut anak di Rumah Sakit Panti Rini Kalasan

Yogyakarta periode Juli 2007-Juni 2008.

2.

Tahap pengambilan data

Pada tahap pengambilan data, terlebih dahulu dilakukan penelusuran data

di Instalasi

Medical Record

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta dengan

cara melihat data komputer di bagian

medical record

yang memuat jumlah pasien,

(52)

lama perawatan, serta diagnosa. Dari hasil penelusuran ini diperoleh 395 pasien

yang terdiagnosa diare akut, namun yang memenuhi kriteria inklusi hanya 119

pasien sedangkan data

medical record

yang dikumpulkan oleh penulis adalah 65

pasien.

Enam puluh lima data

medical record

pasien tersebut kemudian ditulis ke

dalam lembar pencatatan. Data yang dikumpulkan meliputi data laboratorium,

daftar pemberian obat, rencana pengelolaan dan catatan perkembangan, rencana

keperawatan serta ringkasan pemeriksaan, dan

outcome

pasien saat meninggalkan

rumah sakit.

3.

Tahap penyelesaian data

a.

Pengolahan data

Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan gambar kemudian

dideskripsikan. Tabel data berisi mengenai karakteristik pasien yang

dikelompokkan berdasarkan usia, jenis kelamin dan tempat tinggal

(kecamatan), pola pengobatan menampilkan distribusi kelas terapi,

golongan obat, kelompok obat, zat aktif, jenis obat dan kajian mengenai

drug therapy problems

yang dijabarkan menggunakan metode SOAP,

dan

outcome

pasien saat meninggalkan rumah sakit.

b.

Evaluasi data

Penggolongan kelas terapi pada pola pengobatan berdasarkan pustaka

acuan Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Informasi Spesialite

Obat Indonesia volume 43-2008, dan MIMS Indonesia Petunjuk

(53)

analisis dalam penelitan ini menggunakan pustaka Informasi Spesialite

Obat Indonesia volume 43-2008, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi

edisi 7 2007/2008,

Handbook of Clinical Drug Data 10

th

edition

dan

Drug Facts and Comparisons Pocket Version Eleventh Edition.

F.

Tata Cara Analisis Hasil

Data disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel :

1.

karakteristik pasien

a.

Persentase usia, dikelompokkan menjadi 2 kelompok usia yaitu balita (>1

tahun-

5 tahun) dan anak (>5 tahun-11 tahun), yang dihitung dengan

cara membagi jumlah pasien pada tiap kelompok usia dengan jumlah

keseluruhan pasien kemudian dikalikan 100%.

b.

Persentase jenis kelamin, dikelompokkan menjadi laki-laki dan

perempuan, dihitung dengan cara membagi antara jumlah pasien pada

tiap kelompok jenis kelamin dengan jumlah keseluruhan pasien

kemudian dikalikan 100%.

c.

Persentase tempat tinggal (kecamatan), dihitung dengan cara jumlah

pasien pada tiap kecamatan dibagi jumlah keseluruhan pasien kemudian

dikalikan 100%.

2.

persentase kelas terapi obat,

dihitung dengan cara membagi jumlah pasien

pada tiap kelas terapi dengan jumlah keseluruhan pasien kemudian dikalikan

(54)

3.

persentase total jenis zat aktif yang digunakan pada masing-masing kelas

terapi dihitung dengan cara membagi antara jumlah pasien pada tiap jenis zat

aktif dengan total pasien yang menerima obat pada masing-masing kelas terapi

kemudian dikalikan 100%.

4.

kajian

drug therapy problems

dijabarkan dengan metode

SOAP. Pada bagian

Subjective

dijabarkan mengenai jenis kelamin, usia, berat badan, keluhan

pasien, diagnosa,

outcome

dan tempat tinggal pasien (kecamatan). Bagian

Objective

digambarkan dengan tabel mengenai data laboratorium yang

dilengkapi dengan pemberian terapi selama perawatan sedangkan

drug

therapy problems

akan dijabarkan pada

Assessment

yang kemudian akan

dipecahkan melalui

Plan

.

5.

kajian

drug therapy problems

kemudian dirangkum dan dikelompokkan

berdasarkan keenam parameter

drug therapy problems

yang terjadi beserta zat

aktifnya disertai penilaian dan rekomendasi terhadap terjadinya

drug therapy

problems.

6.

persentase

outcome

pasien, dihitung dengan cara membagi jumlah pasien saat

meninggalkan rumah sakit dalam kondisi sembuh, membaik, belum sembuh,

meninggal <48 jam, meninggal >48 jam dengan jumlah keseluruhan pasien

kemudian dikalikan 100%.

G.

Kesulitan Penelitian

Dalam pengambilan data penelitian, penulis menemui beberapa

(55)

lembar

medical record

mengenai nama jenis obat yang diterima pasien. Kesulitan

tersebut dapat diatasi dengan bertanya pada perawat yang sedang bertugas jaga di

Rumah Sakit Panti Rini Kalasan Yogyakarta.

Penulis juga mengalami kesulitan dalam proses evaluasi data, yaitu

adanya data yang tidak lengkap terkait dengan pemberian obat kepada pasien pada

lembar

medical record

(beberapa obat tidak dicantumkan dan di

check list

setelah

obat diberikan kepada pasien). Kesulitan tersebut dapat diatasi dengan

membandingkan catatan yang terdapat pada lembar

medical record

pasien

khususnya pada lembar Daftar Pemberian Obat (DPO) dengan Blanko Pemesanan

Obat dan Alkes (BPOA).

Dalam penelitian ini, kepatuhan pasien tidak dapat diamati karena sifat

penelitian retrospektif. Pengamatan penggunaan terapi antibiotik metronidazol

dan paromomisin sulfat tidak dapat dilakukan karena sebagian besar lama

perawatan pasien di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini yang dijadikan

(56)

32

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian mengenai pengobatan pasien diare akut anak di Rumah Sakit

Panti Rini periode Juli 2007-Juni 2008 dilakukan dengan menelusuri

medical

record

pasien anak rawat inap yang terdiagnosa diare akut. Hasil penelitian

mengenai pengobatan pasien diare akut anak di Rumah Sakit Panti Rini periode

Juli 2007-Juni 2008 dibagi menjadi 3 bagian, yaitu karakteristik pasien diare akut

anak, pola pengobatan pasien diare akut anak, dan evaluasi

drug therapy problems

yang selanjutnya akan dirangkum pada akhir pembahasan.

Karakteristik pasien diare akut anak meliputi kelompok usia, jenis

kelamin, dan tempat tinggal (kecamatan). Pola pengobatan pasien diare akut anak

meliputi kelas terapi, golongan dan kelompok obat selama pasien dirawat di

Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini periode Juli 2007-Juni 2008 dan

evaluasi keenam parameter

drug therapy problems

akan diuraikan melalui metode

SOAP serta dirangkum dalam bentuk tabel berdasarkan kategori

drug therapy

problems

yang terjadi pada masing-masing pasien.

A.

Karakteristik Pasien Diare Akut Anak

1.

Berdasarkan usia

Berdasarkan usia, pasien diare akut anak digolongkan menjadi 2

kelompok, yaitu balita (1 tahun-≤5 tahun) dan anak (>5 tahun-11 tahun).

(57)

ya

Gambar

Gambar 1. Anatomi dan Fisiologi Saluran Cerna pada Diare
Tabel II. Gejala Klinis Infeksi Diare Patogen (Anonim, 2004 b)
Tabel III. Penilaian Dehidrasi dan Tingkat Keparahan Diare Akut
Gambar 2. Steatorrhea/Droplet-droplet Lemak dalam Feses
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pola pengobatan pada terapi pasien hepatitis B non-komplikasi yang dirawat di R.S Panti Rapih Yogyakarta periode Januari – Juni 2007 berdasarkan kelas terapi,

Seperti apakah profil terapi pasien rawat jalan yang menerima obat antidiabetes di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta periode Juni – Juli 2009 meliputi jumlah, golongan dan jenis

Penggunaan Obat yang Mempengaruhi Sistem Hormon pada Pasien DM Tipe 2 Non Komplikasi di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode Januari 2009-Maret 2010…38